
“Kerling kerling”
“Kerling kerling”
Suara handphone Aruto berbunyi. Dia mengambil di dalam saku celananya dan mulai mengangkatnya.
“Suara handphonemu itu tidak bisakah kamu silent?”, pinta Mika.
“Gak bisa, Amika”, balas Aruto tenang kemudian beralih duduk di sofa. Mulai menanggapi panggilan yang dia terima.
“Amika, eh”, Gumam Mika tersenyum kecil. Hati Mika sedikit melting karena panggilan dari suaminya. Panggilan yang semakin hari semakin dirindu dan bikin candu.
Seorang temannya mengajak Aruto untuk bertemu di Mall. Jika Aruto berkenan, dia memintanya segera datang untuk membahas pesan gambar yang Aruto kirim kepadanya. Tanpa pikir panjang pun, Aruto mengajak Mika untuk meninggalkan tempat karaoke.
Mika dan Aruto keluar gedung karaoke dan masuk ke dalam mobil. Aruto memberitahu Mika bahwa dia akan mengajak istrinya tersebut bertemu dengan temannya di Mall. Mika sedikit khawatir tapi dia mencoba untuk acuh kembali.
Suasana sudah cukup tenang untuk mereka berdua. Mika mencoba santai dan mulai bersenandung dengan menyanyikan lagu fortune cookies dari JKT48.
“Mika, ceritakan segalanya padaku apa saja yang membuatmu selalu tertekan?”
“Eh? Um.. Kamu bukan sahabatku, jadi aku tidak perlu curhat panjang lebar kepadamu”
“Jlep!” Seolah tombak besar menusuk punggung Aruto dengan tiba-tiba hingga menembus jantungnya. Respon yang diberikan Amika kepadanya selalu saja menguji nyalinya.
“Tapi kan aku suamimu, Mika. Aku siap menerima segala keluh kesahmu”, ucap Aruto mencoba mencari alternatif lagi. Kadar emosinya harus selalu dia turunkan supaya dia menjadi pria yang benar-benar baik bagi Mika.
“Keluh kesah seorang istri hanya akan menjadi beban pikiran suami saja”
“Astaga”, Aruto menyentil dahi istrinya, membuat Mika seketika terbelalak kaget saat sedang menikmati nyanyiannya. “Kenapa kamu menyentil dahiku?!”, Sadar Mika.
“Ahahaha.. sadar juga akhirnya”
Aruto paham betul kondisi yang sedang dialami Mika. Karena dia sendiri telah terbiasa menikahi para gadis, sehingga baginya sangat mudah membaca hati dan pikiran mereka. Namun, segala yang dia ketahui dari Mika sangat berbeda dari gadis yang lain.
“Sebenarnya, apa yang membuatku tertarik dengan gadis ini? Kenapa aku selalu ingin melibatkan diri dengan kehidupannya?”, batin Aruto.
Hanya karena pertengkaran pertama mereka, Aruto jadi sering melibatkan diri dalam kehidupan Mika. Kehadiran Mika memberikan banyak ekspresi dan emosi baru bagi Aruto. Sedangkan, Mika sendiri belum bisa membuka hatinya.
“Mika, pacarmu itu, apakah pernah mengajakmu berkencan?”
“Bukan kencan, tapi jalan”, jawab Mika jujur
“Kalo begitu, maukah aku mengajakmu berkencan?”
__ADS_1
“Bbuubu.. Orang sibuk sepertimu apa gak buang-buang waktu saja?”
“Enggak kalo itu bersamamu”
“Ack! Dia ini, berniat tulus mendekatiku atau ada udang di balik bakwan sih”, batin Mika. Lalu dia melanjutkan, “Jangan merasa iba padaku hanya karna aku sedang kecewa dengan Ricky”.
“Ricky?, O iya.. pacarmu namanya Ricky ya.. Bagaimana dengan suamimu? Siapa namanya?”, tanya Aruto menguji dengan senyum yang terpaksa.
“Senyummu menakutkan. Seramah apapun kamu, kamu masih saja mencurigakan”
“Haa ah..” Aruto menghela nafas. Kemudian melanjutkan, “Mika, aku akan membawamu bertemu dengan temanku. Aku harap kamu bisa menerimanya dengan baik”
Seketika perasaan cemas Mika hadir lagi, “Membawanya? Membawaku?”, batin Mika mengingat ucapan terakhir Aruto saat menerima panggilan di kamarnya.
“Kamu mau apakan aku?”, tanya Mika merendah.
“Tenanglah Mika, pikiranmu itu selalu saja buruk. Itulah sebabnya pikiran-pikiran burukmu itu sering merusak suasana hatimu. Nikmatilah perjalanan kita ini, okei?”, ucap Aruto seraya mengelus rambut Mika.
Sampai di Mall, Aruto memarkirkan mobil dan keluar bersama Mika untuk berjalan masuk ke dalam Mall. Berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih, namun tanpa bergandengan tangan.
Cahaya begitu terang, dan toko-toko tampak bersinar menarik perhatian. Barang-barang fashion dan mewah mencuri perhatian mata. Aruto tampak tenang berjalan sedangkan mata Mika mulai mencuri pandang kesana kemari.
“Hooeee.. barang-barang Mall memang sangat menggoda”, gumam Mika.
“Ya ampun.. jika aku sedang bersama Fanya dan Astha, kita bertiga bisa hilang kendali di sini”
“Mika, lewat sini”, seketika Aruto meraih lengan Mika yang tanpa sadar tidak melihat arah jalan.
Arah pandang Mika tidak sinkron dengan langkah kakinya. Aruto menuntun Mika menuju lift. Kemudian membuka pintu lift dan masuk ke dalam.
Beberapa orang juga masuk ke dalam lift. Aruto yang terlihat sangat tinggi menarik hati mereka. Mika memicingkan mata melihat keanehan tersebut. Mika sendiri tidak merasa cemburu tapi Aruto terlihat sangat posesif. Dia langsung menggenggam tangan Mika dengan tatapan yakin mengarah ke depan.
“Dia kenapa?”, batin Mika tidak mengerti.
“Ternyata dia sudah punya pacar. Iri deh gue bisa kencan mesra gitu”, bisik beberapa penumpang lift.
“Pacar? kencan? Siapa?”, Mika masih bingung.
Setelah mereka keluar dari lift, Aruto mencari keberadaan temannya di area food court. Dia masih menggenggam erat tangan Mika, membuat Mika juga tidak menyadarinya.
“Ack! Itu dia”, gumam Aruto mulai mendekatinya.
Terlihat dari belakang, seseorang berambut gondrong dengan kuncir tikus menyamping di leher. Gaya rambut seperti Mika namun lebih cantik Mika daripada dia.
__ADS_1
“Vio!”, panggil Aruto.
“Vio? Viona?”, Mika bertanya-tanya.
“Ayo Mika”, ajak Aruto untuk berjalan lebih cepat.
Seorang pria jangkung duduk di kursi food court yang tidak cukup cocok ia duduki. Tapi, apa daya, semua kursi area tersebut satu sama dengan yang lainnya.
Aruto yang sudah tinggi bagi Mika, dia harus bertemu dengan pria yang lebih tinggi lagi darinya. Memang Ricky lah yang mampu mengimbangi tinggi badan Mika yang satu setengah meter tersebut.
“Aru-”, belum selesai pria tersebut menyapa, Aruto langsung membungkam mulutnya.
“Eh?”, Mika terkejut sendiri.
“Elo kenapa datang-datang langsung membungkam mulut gue, heh?!”, ketus Vio.
Vio adalah seorang artist art yang sangat berbakat. Kemampuan seninya sudah di atas rata-rata dan sangat profesional. Karyanya telah dipakai oleh banyak perusahaan dan studio art termuka.
“Gue pesankan minum dulu kalo gitu”, ucap Vio seraya beranjak.
“Untuk apa kamu membawaku kepadanya?”
“Untuk apa? Untuk menjualmu, Amika”, jawab Aruto santai.
“Gampang banget ngomong menjual, emang gue barang apa”, gerutu Mika.
“Mulutmu itu memang perlu aku cubit yah!”, timpal Aruto kesal dengan berani menciutkan kedua bibir Mika dengan satu tangannya.
“Jangan menyentuhku seenaknya! Tadi pegang-pegang tangan seenaknya, sekarang pegang-pegang pipiku seenaknya”, ucap Mika lucu.
“Itu karna kamu adalah milikku. Milikku seutuhnya”, balas Aruto melepas cubitannya kemudian melipat tangannya di atas meja sambil melihat ke sekeliling.
“Memang benar aku dianggap barang bagimu. Kalo aku sebuah boneka, tidak apa-apa sih. Tapi kan aku manusia", sahut Mika.
“Haa ah..” Aruto hanya menghela nafas.
“Maaf menunggu lama”, ucap Vio sambil meletakkan satu nampan berisi tiga orange jus dan beberapa camilan.
“Kamu Amika kan? Istri Aruto? Theh hee..” sapa Vio spontan kemudian tersenyum jahil.
Aruto yang tidak tahu apa yang akan Vio ucapkan akhirnya tidak bisa menghentikannya karena ucapan yang tiba-tiba tersebut. Dia ikut merasa cemas saat melihat Mika memperlihatkan ekspresi terkejutnya.
“A-ru-to?”, sahut Mika terbata-bata dengan hati menjadi berdebar-debar.
__ADS_1