Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Pergi tanpa Meninggalkan Pesan


__ADS_3

Pagi hari setelah Mika disibukkan dengan video call bersama Fanya dan Astha, dia mandi dan mengubah sedikit penampilannya. Dia ingin terlihat cantik di hadapan suaminya.


Mika memandang sendiri wajahnya dari pantulan cermin riasnya. Dia menatap wajahnya dengan gaya foto 3x4, ternyata begitu datar. Mulai menarik bibir untuk tersenyum dan bisa sedikit menambah suasana hati.


"Bolehkah aku bahagia, Tuhan?"


Kemudian, dia pijit-pijit matanya untuk memperbaiki cara pandangnya kepada dunia, terhadap dirinya sendiri. Ternyata semakin melegakan. Menambahnya dengan merapikan poni dan menyisir rambut dengan jari jemarinya.


Wajah cantik nan ayu itu, kenapa Mika begitu mudah mengabaikannya? Padahal ada orang lain yang terpesona olehnya. Tidak sekedar wajahnya, namun kepribadian Mika yang keras dan beku, kenapa ada yang menyukainya?


"Setidak sadarkah diriku ini?"


"Sebenarnya, apa yang baik dari diriku? Kenapa dia jadi menyukaiku?", Mika tidak kuasa melanjutkan ucapannya. Matanya bergerak kesana kemari dengan bibir yang manyun-manyun manja.


Pipinya merona, hatinya berdebar. Dia masih tidak percaya suami yang tidak dia kenal sama sekali bakal menyukainya. Dia sendiri yang pernah merasakan mencintai, yaitu mencintai pacarnya, kini merasakan bagaimana rasanya dicintai. Dicintai oleh seseorang yang mencintainya, yaitu suaminya.


"Rasanya sangat senang dicintai oleh suami sendiri, tapi aku juga akan mencintainya. Aku, tidak ingin mengecewakannya lagi"


"Ibu, akhirnya suamiku telah mencintaiku. Aku yang bersikukuh menutup hati darinya, akhirnya bisa dia luluhkan sendiri. Dia sekarang terlihat sangat baik, namun.. aku masih belum tahu kedepannya bagaimana?"


"Terima kasih Aru, to" Hehe.. Mika malu-malu kucing menyebut nama suaminya sendiri. Sebegitu bermaknanya nama pria itu di dalam hatinya.


Mika keluar kamar dengan telah selesai mandi, dia mengepang rambut wolfcutnya tepat ditengah dan disilakan di leher kirinya. Terlihat sangat cantik dan cocok menjadi seorang istri.


"Kakiku gemeteran"


Betapa canggungnya Mika hendak menunjukkan penampilannya kepada Aruto. Rasanya seperti menjadi pengantin baru. Selama ini, ke mana dia pergi? Kenapa baru sekarang dia bisa merasakan hati yang berbunga-bunga? Memang seperti itulah kata sang pepatah "tak kenal maka tak sayang"


Namun, jika hati sudah ada cinta, tak mengenal pun akan tumbuh rasa sayang. Rasa sayang akan terus menuntunnya untuk mengenal sang terkasih. Aruto kepada Amika.


Mika menuju dapur dan tidak mendapati Aruto di sana, dia bertanya-tanya kemana suaminya berada. Dia bahkan melangkah lagi menuju kamarnya, langkah pertamanya menuju kamar suaminya. Namun, saat dia mengetuk pintu tidak ada jawaban.


"Kemana dia pergi?", Gumamnya sembari berjalan keluar rumah. Dia pun juga tidak melihat Joya dan Moya. Mobil expander putih dan civic merah Aruto juga tidak ada di rumah. Aruto sedang pergi bersama dua ajudan kesayangannya.


Mika menjadi sendiri di rumah. Tanpa pesan dan pemberitahuan sebelumnya, membuat Mika terus bertanya-tanya kemana suaminya pergi.


Akhirnya, Mika berencana untuk menyibukkan diri melihat tanaman dan bunga-bunga di halaman. Rumah yang sangat tertutup, dengan bangunan pagar yang menjulang tinggi. Hanya pintu gerbang yang bisa menjadi kaca mata untuk melihat dunia luar.

__ADS_1


"Rumah sebesar ini, bagaimana dia tidak punya pembantu?"


"Tapi, rumahnya sangat rapi dan indah. Tidak mungkin kalo hanya dia yang merawatnya sendiri. Bagaimana bisa?"


Mika mengambil ipad dan melanjutkan kembali sketsanya. Masih ada banyak waktu untuk menuju deadline tapi dia akan menyelesaikannya saat ada kesempatan.


Sketsa komik sebanyak 10 halaman, cukup cepat untuk membuat sketsa dasar sebanyak itu. Namun, dia mulai fokus dan hati-hati ketika mempertegas garis dan menambah pewarnaan. Pewarnaan masih menjadi kelemahannya.


Mika tidak bisa membuat warna indah maupun gradasi warna yang bagus, dia berusaha untuk berhati-hati dan tenang namun hasilnya masih saja kurang memuaskan.


Waktu pun terus berjalan, tanpa sadar dia menghabiskan waktu beberapa jam dengan menyelesaikan komiknya. Dia kembali mempertanyakan keberadaan suaminya, "Kemana Aruto Dhiswa pergi, wahai spoiler?"


Amika mulai malas dan meninggalkannya. Berjalan menuju teras samping rumah. Teras berpintu geser penuh dengan kaca. Berlantai vinyl corak kayu jati. Dipojok dinding terdapat kipas angin kecil yang sangat cocok untuk mengipasi saat sedang berbaring.


Mika membaringkan diri di atas lantai tersebut dan sejenak bersenandung, "Dia akan pulang jam berapa? Kecantikanku akan luntur kalo dia tidak segera pulang", keluhnya.


"Jangan sampai kamu mengecewakanku, Aruto? Kamu tahu, aku sudah mulai membuka hati untukmu"


Semilir angin hadir berhembus ke arah Mika yang sedang berbaring. Pohon besar di halaman pun mulai melepas dedaunan keringnya dan jatuh beberapa ke teras rumah.


"mager mager mager mager, rasanya manger mager mager banget", Mika berguling-guling sendiri tidak jelas.


Kepang rambutnya mulai berantakan dan terlepas. Dia menggurutu dan kembali kesal, kesabarannya sedang diuji sekarang. Padahal setengah hari belum berlalu tapi dia sudah sangat merindukan kehadiran Aruto.


"Tau gini, aku tidur aja di kamar!"


Dia bangun dan mengacak-acak rambut indahnya kemudian kembali menjatuhkan tubuh untuk berbaring lagi. Menghentak-hentakkan kaki untuk menambah suara kekesalan.


Menatap ke arah langit-langit ruangan, melamun dan mulai melamun.


"Apakah ini rencana liciknya? Mengubahku menjadi baik supaya aku mau dan patuh untuk dia bawa ke lembaga penyalur tenaga kerja?", pikiran buruknya mulai menghantuinya lagi. Hingga ke alam bawah sadarnya.


"Amika! Setelah aku mendapatkan hatimu, bisakah aku menikah dengan Shelin?"


"Apa? Apa maksudmu?" tanya Mika terperanga.


"Bukankah kamu ingin aku untuk menikah dengan Shelin?"

__ADS_1


"Tidak. Bukan seperti itu", elak Mika.


"Tenang saja Mika, kamu boleh kok kembali lagi kepada Ricky. Kekasihmu itu"


"Tidak. Aku, aku sudah tidak menyukainya lagi. Dia telah mengecewakanku jadi aku ingin meninggalkannya"


"Oh? Jadi, kamu jadikan aku sebagai pelampiasan?"


"Bukan! Bukan seperti itu.."


Suara mobil akhirnya hadir di telinga Mika. Mika terperanjat bangun dan berlari menghampiri kepulangan suaminya.


Namun, apa daya. Apa yang dia lihat sangat menusuk hati dan memukul kepalanya dengan tiba-tiba.


Aruto pulang dengan membawa seorang wanita, "Apakah dia Shelin?", gumamnya tidak tahu.


Aruto berjalan dan menghampiri Mika yang menyambut kepulangannya, tapi ekspresi Mika sudah sangat menyedihkan untuk dilihat.


"Mika, kamu kok terlihat sedih? Kenapa?", tanya Aruto kasihan dan membelai rambut Mika.


"Kenapa kamu membawa pulang wanita lain?", tanya Mika merendahkan suaranya.


"Inikan pekerjaanku, Mika. Tenang saja, kamu masih menjadi istri sahku kok"


"Apa?"


"Yuk kita masuk", Ajak Aruto tanpa beban


"Gampang sekali kamu bicara seperti itu?", gerutu Mika dengan tangan mengepal.


"Mika?"


"Gampang sekali kau bicara seperti itu, hah?!", ucapnya sekali lagi dengan nada lebih kasar.


Mika tidak segan-segan langsung melayangkan pukulannya kepada Aruto, menonjokkannya dengan sangat keras.


"Punch!!! Bug!!"

__ADS_1


__ADS_2