Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Ada Apa dengan Amika?


__ADS_3

"Kerling kerling"


Ada panggilan masuk di ponsel Aruto. Dia sedikit kesulitan karena gangguan dari Mayu. Panggilan dari Joya pun berhasil dia angkat.


"Joya, Ada apa?"


"Bos, ada yang aneh dengan Nona Mika"


"Aneh, gimana?"


"Om Atto, Mayu ingin lihat istri Om, Mayu ingin lihat istri Om", sahut Mayu menganggu.


"Sini dulu Mayu, Om kan lagi ada panggilan", pinta Amalia, ibunya membujuk.


"Maaf ya Mayu, sebentar", balas Aruto kepada Mayu yang semakin erat memegangi kakinya.


"Sudah beberapa hari ini Nona Mika sering minta dibelikan jajanan", sahut Joya kembali.


"Hah? Dia gak bilang ke gue kalo minta dibeliin jajanan ke kalian"


"Maka dari itu Bos, ini sudah kelima kalinya dia minta dibelikan jajanan terus"


"Emang habis berapa untuk sekali jajan?"


"Li-lima ratus ribu bos"


"Apa? Dia mau buat toko apa dikamarnya?"


"Tolong kami Bos, ini Nona Mika minta dibelikan jajanan lagi", keluh Joya.


"Baiklah, gue akan pulang segera"


"Om Atto! Jangan pulang", pinta Mayu mulai merengek. Vio tergelitik mendengar obrolan Aruto dan gangguan Mayu.


"Ada apa? Sepertinya istrimu sedang merajuk", canda Vio diiringi gelak tawa.


"Gue gak tau. Gue harus pulang untuk memastikan ini semua", pungkas Aruto.


Aruto berjalan keluar rumah Vio dan mulai mengendarai mobilnya untuk segera pulang.


Sesampainya di rumah, Aruto melihat Moya sedang membawa barang penuh jajanan yang akan dia bawa masuk dan menuju kamar Mika.


"Moya! Ada apa ini sebenarnya?"


"Bos, tolongin kita", Moya menunjukkan wajah lemah dan tidak berdaya.


"Sudah habis berapa kalian membeli ini semua?", tanya Aruto prihatin.


"Ti-tiga juta"

__ADS_1


"What the hell?! Amsyong!!"


Setelah kehisterisnya Aruto mereda, dia mengganti uang Joya dan Moya dan segera menuju kamar Mika, tidak lupa jajanannya dia bawa sendiri.


"Ada apa dengan gadis itu? Kupikir dia baik-baik saja hanya dengan naik turun untuk makan. Ternyata masih kurang untuk memuaskan nafsu perutnya itu", gerutu Aruto.


"Hauuunn", terdengar suara dari dalam kamar Mika. Mika mengaum layaknya serigala.


"Dia sudah jadi serigala rupanya"


"Tok tok tok", Aruto mengetuk pintu.


"Ceklek! Ngeekk", Mika membuka sedikit pintu rumahnya. Dia pikir Moya datang membawakan permintaannya, namun ternyata suaminya sendiri yang datang.


Aruto yang melihat itu langsung memaksa pintu untuk terbuka lebih lebar, "Apa yang sedang terjadi Amika?", tanyanya heran.


Mika baru akan menjawab pertanyaan itu, seketika Aruto berteriak heboh, "A-apa yang terjadi dengan kamarmu Amika?!"


"i i i i i i i itu..", jawab Mika grogi.


"Kamu ini?! Kamu juga, rambutmu, matamu, wajahmu, apa yang terjadi dengan dirimu? Hah?!", Aruto semakin kesal.


"Tu tu tu tunggu dulu. A a aku bisa jelasin"


Kegaduhan terjadi ketika Aruto melihat kamar Mika tampak berantakan. Iya, berantakan penuh sampah jajanan Mika sendiri.


"Bersihkan ini semua!!", teriak Aruto.


"Gak mau gak mau, pekerjaanku masih belum selesai. Ini membuatku sangat tertekan", keluh Mika dengan raut wajah yang menghitam.


Rambutnya benar-benar mengembang hingga tidak bisa disisir dan mata panda dengan pipi yang semakin tirus.


"Kamu ini telah menghabisnya banyak uang Joya dan Moya tapi tubuhmu kenapa semakin kurus?"


"Aku tidak bisa merasa kenyang"


"Apa kamu setan, hah?"


"Ini gara-gara kamu Aru!! Aku telah sibuk selama tiga hari dan aku merasa sangat tertekan dengan komik ini!!", balas Mika sambil menggaruk rambutnya yang semakin gatal.


"Apa?", Aruto hanya heran dan semakin memicingkan bibirnya.


"Sekarang kamu mandi dan akan aku bersihkan ini semua", pinta Aruto seraya mendorong Mika masuk kamar mandi.


Aruto segera membersihkan dan membereskan kamar Mika untuk mengembalikan kerapian dan keindahan kamar istrinya tersebut.


Dia masih terheran-heran kenapa istrinya jadi seperti itu, "Baru juga tiga hari. Gimana coba kalo satu minggu, bisa-bisa dia jadi serigala beneran?", gumamnya.


Aruto segera langsung menyahut semua sampah dan memasukkannya ke dalam plastik. Hingga beberapa buntal plastik. Tidak lupa dia juga menggunakan vacuum cleaning dan semprotan pengharum ruangan.

__ADS_1


Setengah jam akhirnya Aruto selesai membersihkan kamar Mika. Peluhnya melembabkan kulitnya yang tampan itu.


Setelah dibantu Joya Moya membuang sampah ke tempat sampah luar rumah, Aruto kembali mengecek keadaan Mika di dalam kamar mandi.


"Sudah kuduga, dia masih belum mau bergerak", sahut Aruto semakin menarik nafas berat.


"Amika, bersihkan tubuhmu sekarang juga!", perintahnya sambil mengambil shower dan mulai menghujani kepala Mika.


"Tiiidaaakkk!!", teriak Mika.


Aruto memandikan Mika layaknya memandikan seekor kucing. Mereka berdua pun keluar kamar mandi. Mika masih cemberut sedangkan Aruto semakin mengeluh.


"Ada angin apa tiba-tiba gue begini"


"Amika, ceritakan padaku kenapa kamu jadi seperti ini?", tanya Aruto sambil menghair dryer rambut istrinya.


"Hmph!", Mika masih manyun.


"Aku bisa marah kalo kamu gak bicara", ucap Aruto merendahkan intonasinya.


"Aru, aku telah berusaha menyelesaikan komik itu tapi aku selalu kesulitan sendiri. Banyak referensi yang aku cari, mulai dari youtuub, pinterst, mencoba dan mencoba untuk memperindah warna tapi aku tidak berhasil"


"Seperti itukah kamu memaksakan diri?"


"Umm.."


"Haa ah", Aruto menghela nafas dan selesai mengeringkan rambut istrinya.


"Tidak kusangka kamu akan seserius ini Mika, kupikir kamu akan bermalas-malas dan mengabaikan perintahku", kata Aruto diiringi tawa kecil.


"Apa kamu sedang mempermainkaku, Aru?", tanya Mika curiga.


"Tidak, siapa bilang aku mempermainkanmu? Aku salut kamu begitu serius dan patuh dengan perintahku. Ahaha, kalo begini aku bisa melepasmu dengan sangat mudah", candanya.


"Kamu itu masih membuatku bingung ya Aru, Sebenarnya kamu itu gimana sih orangnya?", tanya Mika menoleh karena penasaran.


"Jadilah dirimu sendiri Mika", balas Aruto tersenyum ramah.


"Hm.. Maksudnya gimana sih?", tanya Mika semakin memanyunkan bibirnya.


"Kamu membuatku semakin suka. Kamu adalah gadis paling aneh yang aku jumpai, Amika", sahut Aruto.


"Ayo, turun! Aku akan buatkan makanan untukmu", ajak Aruto seraya bergegas dan berjalan keluar kamar.


Mika tersenyum melihat kamarnya kembali bersih dan indah, sudah jauh dari tumpukan sampahnya sendiri. Dia pun ikut bergegas dan turun menuju dapur.


Malam pun tiba. Aruto mengajari Mika menggambar dan mewarnai melalui ipadnya. Memang tidak semudah membalikkan tangan dan tidak semudah yang Aruto katakan. Untuk menjadi seorang ilustrator digital art memang harus terus belajar dan terus belajar dengan tekun.


Aruto akan membimbing Mika dengan sabar dan telaten. Tapi, Mika tipe gadis yang tidak bisa belajar dengan serius. Jika dia terlalu serius dia akan menjadi tertekan sehingga menjadikannya gadis aneh seperti tadi. Apakah pengajaran Aruto bisa diterima Mika dengan baik? >,/

__ADS_1


__ADS_2