Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Takut dengan Suara Hantu


__ADS_3

"Astha, saatnya kita jalankan rencana kedua kita. Ayo cepet nyalakan suaranya sebelum Mika marah-marah", pinta Fanya.


"Fanya, tolong buka pintunya"


Mika terus mengetuk pintu kamarnya sendiri untuk meminta Fanya membukanya kembali. Tapi, dia diabaikan. Tiba-tiba terdengar suara yang mambuat Mika bergidik ngeri.


"Su su su suara apa itu?", keluh Mika.


"Suara apa itu?!"


Garis-garis hitam mulai muncul di atas kepalanya, tanda Mika mulai ketakutan. Rencana jahil Fanya akan memberikan keberhasilan. Fanya dan Astha terus melakukannya tanpa rasa bersalah.


"Iii hihihi.."


"Aauuuu.."


"i--- iyyaaaaa!!", teriak Mika.


Berbagai suara hantu disetel Astha dari ponselnya. Dia menempelkannya di pintu kamar dan mengeraskan volume. Semakin terdengar jelas di telinga Mika semakin membuatnya tidak bisa berdiri dengan tegak.


"Ada apa?", tanya Aruto heran.


"Aku takut.. aku takut..", lirih Mika sambil menundukkan kepalanya di depan pintu.


"Itu kan hanya suara-", belum selesai bicara, Mika langsung menyela.


"Itu hantu. Itu suara hantu!!" Ucap Mika menghadap Aruto sambil merremas erat kedua lengan Aruto.


"Iiihihi hihiii.."


"Aauuu.."


"i--yyaaaaaa!!", teriaknya lagi


"Aku takut.. aku takut.. tolong hentikaann!!"


Mika semakin menjerit ketakutan dengan geliat tubuh yang tidak bisa tenang, bahkan air matanya akan keluar.


"Kamu takut hantu?"


"Tidaakk!! Tolong aku, aku sangat takut hantu"


"Iiihihihi.."


"Aauuu.."


"To-tolongin aku tolongin aku", ucap Mika terus terusan merunduk ketakutan di pelukan Aruto.


"Dia.. benar-benar ketakutan", batin Aruto.


"Kalian berdua, hentikan itu!", bentak Aruto dengan menggedor pintu dengan lebih keras tapi tetap tidak dipedulikan.


"iiihihihi"


"Dasar! Gadis-gadis itu terlalu kejam mengerjai Mika, sahabatnya sendiri"


"Maafkan kami ya Mika, kami benar-benar sengaja melakukan ini supaya kamu bisa lebih dekat dengan suamimu, hihi", sahut Fanya bersama Astha.

__ADS_1


"Mika sangat phobia dengan hantu. Kita harus dihukum karena ini", Astha merasa sangat bersalah dan tidak tega.


"Sebaiknya kita menjauh dari sini, Mika", ajak Aruto melihat lekat ke arah istrinya.


"Kemana?", tanya Mika dengan suara bergetar.


Aruto menggandeng tangan Mika dan mengajaknya turun tangga menuju sofa ruang tengah. Kecemasannya membuatnya tidak bertenaga dan hampir-hampir saja dia sering tersandung saat menuruni tangga.


"Aku takut aku takut aku takut.."


"Tenangkan dirimu, perhatikan langkahmu", pinta Aruto.


"Aku takut aku takut aku takut"


"Kasihan sekali" gerutu Aruto sambil memicingkan matanya.


Aruto mendudukkan Mika di sofa dua seaternya, di singgasananya yang tidak pernah ada seorang pun yang berani mendudukinya.


"Bagaimana cara menenangkannya? Tangannya bergetar hebat bahkan aku hampir bisa mendengar detak jantungnya yang berdebar kencang", gumam Aruto


"Aku takut aku takut aku takut"


Mika terus saja mendumel ketakutan dengan tangan mengepal erat didepan dadanya. Garis hitam masih menghantui di atas kepala.


"Jangan takut, suara itu sudah tidak ada Mika"


"Aku takut aku takut aku takut"


"Mika", ucap Aruto lembut seraya menutup kedua telinga Mika dengan kedua tangannya dan mengangkat kepalanya yang tertunduk.


Raut wajah ketakutan Mika benar-benar terlihat jelas. Tatapannya pun bergetar dan tidak bisa fokus.


"Tenanglah.. tenangkan dirimu. Jika kamu takut, tutup telingamu seperti ini", ucap Aruto melihat lembut ke wajah istrinya.


"Itu.. Sama saja", balas Mika menaikkan matanya melihat ke arah Aruto.


"Ahahaha", Aruto jadi tertawa kecil karenanya.


"Tidak apa-apa kamu takut, tapi setidaknya ketakutan itu perlahan-lahan akan hilang jika kamu menghindarinya, bukan? Jangan penuhi pikiranmu dengan rasa takut, tapi dengarkan hatimu karena suara hati lebih menenangkan daripada apapun"


"Tenanglah, Amika.."


Perlahan rasa cemas dan gelisah di hati Mika sedikit mereda dan berganti dengan perasaan tenang.


"Tarik nafasmu yang panjang kemudian hembuskan"


Mika pun menarik nafas dan menghembuskannya perlahan untuk beberapa kali.


Setelah melihat keadaan Mika sudah cukup tenang, Aruto beranjak ingin mengambilkan minum untuk Mika.


"Mau kemana?", tanya Mika menahan tangan Aruto yang masih menempel di kedua telinganya.


"Aku akan ambilkan kamu minum"


"Umm..", respon Mika


"Bagaimana pun juga dia tetaplah seorang wanita, yang memiliki kelemahan dan ketidakberdayaan", batin Aruto.

__ADS_1


"Fanya, kamu tega banget membuatku langsung ketakutan. Phobiaku ini benar-benar sangat menganggu. Kalian kan tau aku sangat takut dengan hantu. Apa.. jangan-jangan mereka sengaja?", gumam Mika meneteskan air mata.


Aruto datang dengan membawakan segelas air putih, "Kamu ternyata gadis yang cengeng yah", sindir Aruto.


Seketika Mika langsung menghapus air matanya, dan berusaha untuk bersikap acuh kembali.


"Jangan terus seperti itu. Aku sudah sangat bisa memahamimu, Amika", ucap Aruto seraya memberikan segelas air putih kepadanya.


"Jual saja aku, kalo itu yang akan kamu lakukan. Kenapa waktu itu kamu memintaku untuk melarikan diri?"


"Aku tidak menyuruhmu untuk melarikan diri. Itu keputusanmu sendiri Amika. Lalu, setelah kamu benar-benar kembali lagi kepadaku, aku jadi yakin meskipun hanya sedikit, bahwa kamu sudah menaruh hati padaku"


Mika semakin tidak bisa berkutik. Dia ingin sekali memalingkan wajahnya tapi kebiasaan itu sudah sangat dipahami oleh Aruto.


"Dan buang jauh-jauh pikiranmu tentang menjualmu. Aku tidak akan melakukannya. Tapi, aku masih akan melakukannya kepada gadis lain", lanjut Aruto kemudian menyeringai jahil.


"Jangan sentuh kedua sahabatku", pinta Mika.


"Kamu sangat berharga bagiku, Mika. Apa saja yang kamu punya aku akan melindunginya", ucap Aruto tulus.


"Kenapa dia jadi seperti itu?", batin Mika semakin mewek.


"Ngomong-ngomong apa isi dari paper bag ini?", tanya Aruto kemudian duduk di samping Mika dan hendak membuka isinya.


"Ja-jangan buka itu!", Mika langsung merebutnya dengan paksa.


"Kenapa?", tanya Aruto heran


"I-ini tidak pantas untuk dilihat"


"Kenapa?! Kamu masih suka melarangku ya Amika!!", tanda kesal mulai muncul lagi di kepala Aruto.


"Jangan terus mengomel"


"Me-mengomel katamu?! AMIKA!! Kamu tidak bisa menghargaiku telah banyak berkata halus kepadamu tadi? Hah?!"


"Tidak"


Alis Mata Aruto bergetar.


"Berikan padaku"


"Tidak!"


"Berikan padaku!!"


Mika semakin memeluk erat paper bag itu. Membuat Aruto semakin kesal.


"Mika, itu hadiah punya aku. Aku yang berhak mengambilnya, kenapa kamu melarangku"


"Ini bukan punyamu, ini punyaku"


"Jangan membuatku semakin bingung, mika..", Nafas Aruto semakin kembang kempis menahan rasa geram terhadap Amika.


"Ah! Sudahlah! Aku gak mau ribut", pungkas Aruto seraya berjalan meninggalkan Mika sendirian duduk di sofa ruang tengah.


"Dia.. Pergi", gumam Mika merasa sedikit bersalah. Tapi, dia tetap teguh pada pendiriannya.

__ADS_1


Mika akan terus mengunci hatinya supaya tidak luluh terhadap kebaikan Aruto. Sikap-sikap bertentangan di dalam hatinya akan semakin membuatnya tertekan suatu saat nanti. Mika sedang menghancurkan sendiri perasaannya.


__ADS_2