
"Arutooo!!"
Seketika Mika terperanjat bangun. Lamunannya membuatnya terbuai dan tertidur. Tidur hingga menghadirkan mimpi buruk di siang bolong.
Perasaan tidak tenangnya menghadirkan pikiran buruk di dalam kepala. Dia mulai pusing sembari menahan rasa lapar di perut. Menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Tidak mungkin dia seperti itu. Ini karna pikiran-pikiran burukku yang suka sekali mengangguku", batin Mika sedih.
Mika menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua lututnya yang menekuk.
Jam setengah dua belas, sebuah mobil civic merah telah pulang dengan dikemudikan Joya dan Moya di sampingnya, sedangkan Aruto duduk tenang di belakang.
Moya turun dan segera membukakan pintu gerbang. Setelah mereka turun dari mobil, Aruto berjalan sendiri memasuki rumah.
"Bos", panggil Moya.
"Hm?!", Aruto pun menoleh.
"Tidak apa-apa Bos memberikan mobil expander putih Bos kepada Nona Shelin?"
"Sudahlah, kalian tidak perlu mempertanyakannya lagi"
"Tapi Bos, kami sangat menyayangkan itu"
"Kalian ini!!" Aruto mulai mengepal kesal.
"Iya iya Bos, kami mengerti. Ini semua demi Nona Mika, kan?"
"Kalo kalian mulai lelah dengan sikap gue, kalian bisa cari majikan lain!", gerutunya masih tidak habis.
"Dia masih seperti biasanya", sindir Joya membisik kepada Moya. Namun, mereka berdua malah terkikik geli melihat kebiasaan majikannya. Mereka senang karena Aruto tidak merasa terbebani setelah memberikan mobil expander putihnya kepada Shelin.
"Apa yang kalian bisikkan?!"
"Ti-tidak ada Bos"
"Bagus!! Jangan sampai gue turunin tahta kalian menjadi juru masak dan tukang bersih-bersih rumah!!"
"Jangan dong Bos"
"Makanya, jangan suka memancing emosi gue. Yang boleh memancing emosi gue hanya Mika. Kalian tau itu?!"
"I-iya Bos"
Aruto kembali melanjutkan langkahnya dengan hentakan kakinya yang tidak enak didengar. Ruang tengah pun terlihat dan dia mulai mencari Mika di kamar.
"tok tok tok"
"ceklek", Aruto menarik turun pegangan pintu.
Pintu dia buka dan tidak melihat Mika di dalam kamar. Kemudian kembali turun dan melihat ipad tergeletak di meja ruang tengah. Dia pun menghampirinya.
Melihat sejenak dan bergumam sebentar, "Kenapa mewarnainya masih seperti anak TK? Huh? Membuatku harus mengajarinya lagi", keluhnya sambil senyuman kecil terlukis miring dibibirnya.
"Kemana dia? Dimana dia?"
Aruto terus berjalan mencari keberadaan Mika, "Oh, ternyata di sini?", batinnya tersenyum lega.
"Amika?", panggilnya. Suara yang membuat candu dan rindu pun akhirnya hadir di telinga Mika yang masih menyembunyikan wajahnya.
"Kamu tidak dingin kah duduk lesehan disini?", tanyanya yang mulai mendekat.
"Syukurlah, dia pulang", batin Mika lega.
"Amika?!"
"Aru..", seketika Mika meluncurkan tubuhnya langsung memeluk Aruto yang sudah dihadapannya.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kamu kelaparan lagi?"
"Kamu tidak membawa pulang wanita lain, bukan?", tanya Mika mengabaikan pertanyaan Suaminya.
"Wanita lain, Siapa?"
"Tidak tauu.."
"Ahahaha.. Tidak tau kok tanya. Sotoy sekali kamu Amika tengil"
"Mmoo.. Aku menunggumu sangat lama. Sampai aku mimpi kamu pulang bawa wanita lain"
"Apa? Ahaha-", Aruto jadi melanjutkan tawanya lagi tapi langsung dibungkam oleh Mika dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan tertawa!", pinta Mika yang sudah menindih tubuh Aruto.
"Lepaskan tanganmu, Mika", pinta Aruto dengan suara yang tidak jelas didengar.
"Kamu ini, tidak menyambut kepulangan suami dengan baik malah mimpiin suami yang enggak-enggak", balas Aruto tidak habis pikir.
"Habisnya, kamu pergi tanpa memberitahuku dan sangat lama lagi"
"Itu karna ada beberapa yang harus aku urus segera, jadi aku tidak memberitahumu, Amikaku sayang"
"Sepenting itu kah?"
"Iyes", Aruto mengangguk pasti.
"Umm.. Kemana kamu pergi?", tanya Mika menundukkan kepala.
"Sangat imut", batin Aruto. "Dia sekarang tidak acuh tapi malah malu-malu kucing. Seperti inikah cara dia peduli?"
"Kamu pasti syok kalo aku memberitahumu"
"Siapa?"
"Tuh kan benerrr.. Ini masih tentang Shelin, apa mimpi burukku akan benar-benar jadi kenyataan? Hah?!", gerutu Mika dengan semakin menindih perut Aruto.
"Sa-sakit, Amikaaa?! Kamu ini kenapa?"
"Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku. Pikiranku selalu buruk mengenaimu, Aru"
"Aru?"
"Maafkan aku, maafkan aku kalau aku belum bisa mempercayaimu"
"Jangan meminta maaf. Aku sendiri yang akan membuatmu percaya kepadaku, jadi jangan paksakan dirimu ya, istriku"
Mika sudah kehabisan kata-kata untuk berucap lagi, namun Aruto yang akan selalu mengimbanginya.
"Apa kamu sudah makan?"
Mika menggeleng.
"Kasihan sekali. Kalo gitu, kita cari makan diluar ya, sekalian jalan-jalan"
"kemana?"
"Haish, pake tanya kemana segala. Ayo aku rapikan dulu rambutmu itu"
"gimana?"
"Duduklah. Aku bisa mengepang rambutmu menjadi dua"
"Kenapa dua? Enggak satu aja?"
"Janganlah. Kepang satu akan membuatmu menjadi sangat cantik dan itu bisa meledakkan jantungku. Jadi, yang standar-standar saja."
__ADS_1
"Tapi, aku bisa terlihat cupu kalo kepang dua"
"Nah tu pinter"
"Aruu!!" gerutu Mika kesal.
"Astaga.. Lucu sekali cara dia memanggil namaku", batin Aruto merasa gemas.
Setelah memperbaiki penampilan, mereka berdua akan melakukan kencan di siang bolong nan terik ini.
Aruto mulai menyetir mobil dan Mika duduk di sampingnya. Matahari cukup menyilaukan mata namun tidak membuat Aruto mengeluh.
Dia memasang sunvisor mobil untuk melindungi Mika supaya tidak kepanasan. Aruto sendiri memakai sunglassesnya.
"Dia menjadi keren dengan kaca mata hitamnya itu. Kenapa? Kenapa dia?", batin Mika terpana.
"Kamu melihat apa?"
"Aku, aku tidak melihatmu"
"Ohh.. Kamu melihatku?"
"Bukan, aku bukan melihatmu. Aku melihat jalan. Aku melihat ke arah jalan", balas Mika salah tingkah.
"Dia salah tingkah", batin Aruto semakin gemas.
Aruto membiarkan Mika salah tingkah sendiri. Dia fokus menyetir mobil dan mengajak Mika hendak ke mana.
"Tadi, dia belum menjelaskan tentang kenapa dia menemui Shelin. Sebenarnya, seperti apa itu Shelin?", batin Mika bertanya-tanya.
"Aku ingin menanyakannya lagi, tapi aku khawatir akan mengubah moodnya"
"Mika, ada apa?"
"Tidak, tidak apa-apa"
"Matamu mulai melamun lagi. Jika seperti itu terus, aku bisa menebak isi hatimu hlo"
"Jangan donk. Isi hati itu kan rahasia"
"Makanya jangan melamun", Aruto mencubit pipi kanan istrinya.
"iya iya, sakit tau"
"Setelah makan, kamu mau pergi kemana Mika?", tanya Aruto sengaja meminta pilihan.
"Aku manut aja"
"Hmm.. Apa.. Apa kamu ingin pulang?"
"Apa?"
"Kamu pasti sangat merindukan keluargamu. Kita akan berkunjung ke sana jika kamu mau"
"Tidak! Anu.. Aku.. Aku Masih belum bisa menemui mereka", balas Mika.
"Baiklah. Lalu, kita akan kemana?"
"Aku manut aja, Aruu"
"Ahaha.. Kalo aku berkendara sampai masuk jurang pun emang kamu masih manut?"
"Iya jangan segitunya kali", balas Mika menggembung dan manyun.
"Sabar ya perut, habis ini kamu akan diisi banyak makanan sama pemilikmu kok", sahut Aruto dengan sengaja mengelus perut istrinya.
Seketika Mika melonjak kaget dan tersipu malu. Perlakuan Aruto yang tiba-tiba membuat Mika bertanya-tanya yang tidak-tidak.
__ADS_1