Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Bersenandung bersama Hujan


__ADS_3

Mika dan Aruto melakukan perjalanan pulang ke rumah setelah pertemuan mereka dengan Vio di Food court Mall. Dalam perjalanan berlangsung, Aruto yang menyetir mobil civic type R warna merah masih tidak percaya bahwa Mika akan mengetahui namanya langsung dari Vio.


Dia khawatir itu akan mempengaruhi emosi Mika lagi, tapi ternyata Mika cukup tenang menerima pernyataan tersebut dan obrolan dengan Vio pun masih bisa berjalan dengan lancar.


"Aku tidak menyangka kalo kamu bakalan tau namaku dari Vio, Mika. Maaf jika itu membuatmu terkejut tiba-tiba"


"Iya, tidak apa-apa", balas Mika menatap ke arah jalan.


"Jadi, kamu sudah bisa memanggil namaku donk"


"Tidak. Aku tetap tidak akan memanggil namamu"


"Kenapa kamu masih keras kepala sih? Apa aku perlu memperkenalkan diri dengan baik kepadamu?"


"Tidak perlu"


Dari apa yang dilihat Aruto, Mika terlihat sangat acuh dan tidak peduli. Tapi, hati Mika berdebar-debar. Itu sebabnya, dia tidak mengarahkan pandangannya kepada Aruto.


Pada akhirnya, Mika telah mengetahui nama suaminya. Jika dia telah mengetahui namanya, itu berarti dia akan mulai mengenalnya dan terlibat hati dengannya. Padahal, jika dia suatu saat berpisah dengannya tanpa mengetahui namanya, Mika tidak akan menyesal terlalu dalam.


"Ayolah Mika, panggil namaku! Setidaknya berikanlah aku alasannya supaya aku bisa mengerti dan bisa mengikuti apa saja yang kamu inginkan. Mika! Amika Amika Mika. Mika Mika Mika Mika Amika", ucap Aruto tidak berhenti bicara meskipun dia fokus menyetir.


Mendengar Aruto terus nyerocos, Mika menyela Aruto yang masih saja tidak berhenti bicara, "Enggak mau?! Gak semudah itu memanggil nama orang yang pada akhirnya akan membuatmu jatuh cinta!! Paham?! Jadi, berhentilah bicara!"


"Apa? Kamu tadi bilang apa?"


"Ngeeng.. Whuuss.." Suara keramaian jalan mengiringi pembicaraan mereka. Cukup menganggu karena tidak bisa fokus mendengarkan satu sama lain.


"Nggeengg.."


"Tin tiin.. whusss"


"Kata yang sudah diucapkan tidak bisa diulangi lagi!!" Lanjut Mika diiringi suara kendaraan di luar sana.


"Amika?"


"Sudah. Jangan bicara lagi. Memanggil namamu, itu berarti akan membuatku jatuh cinta kepadamu", ucap Mika merendahkan suaranya.


"Coba ulangi lagi, Amika"


"Berhentilah bicara, Aru-", Ucap Mika spontan dan hampir saja dia memanggil nama Aruto dengan sangat mudah.


Kekesalannya membuatnya berani menutup mulut suaminya dengan kedua tangannya. Gangguan Mika yang tiba-tiba membuat Aruto sedikit banting setir dan hampir saja oleng.


"Duarrr!!", terlihat kilat menyambar di langit. Memotong omelan yang akan diucapkan Aruto lagi kepada Mika.


Kemudian, Aruto menghentikan sejenak mobilnya di pinggir jalan, "Sepertinya akan turun hujan", ujarnya sambil melihat ke arah langit.

__ADS_1


"Tletik tletik tletik.."


"Brrr brrr brresss..." hujan turun dengan cepatnya. Sangat deras hingga membuat para pengendara sepeda motor kalang kabut hendak berhenti untuk segera memakai mantol.


Cuaca tiba-tiba berubah saat langit hanya menampakkan awan kelabu tapi cahaya matahari masih bersinar terang. Hujan lebat jatuh ke bumi dan membasahi segalanya.


Aruto pun menyalakan wiser mobilnya.


"Keclap keclap, duaar"


"Kenapa tiba-tiba banyak petir menyambar? Apa akan ada bencana alam? Gimana nantinya kalo kita kesambar petir disini?", gumam Aruto.


"Jangan menakutiku donk", balas Mika.


"Haha, kamu takut ya Amika?"


"Tidak", Elak Mika.


"Duaarr!!", seketika mengagetkan Aruto yang mencoba menggoda Mika. Dia sendiri tiba-tiba merunduk ketakutan akan kehadiran suara petir tersebut.


"Ayo jalankan mobilnya"


"Sebentar Mika, hujan sangat deras di sana. Aku tidak bisa menyetir dalam keadaan seperti ini", ucap Aruto yang sedang menutup kedua telinganya.


"Baiklah"


Terdiam sesaat hingga Mika menemukan sebuah buku di dashboard mobil, "buku apa ini?", sahut Mika karena melihat covernya terselipkan sebuah brosur penyaluran imigran.


Canggung.


Mereka kembali duduk dan Mika akan membacanya. Sedikit ada kesempatan, Aruto berhasil merebutnya. Mika kesal, dia terus berusaha menggapainya saat Aruto menariknya ke belakang seperti yang Mika lakukan.


"Duaarr!", Sang petir langsung mengagetkan mereka berdua. Sehingga, Mika langsung jatuh ke pelukan suaminya dan sedikit menindih tubuhnya.


Mika menatap tajam ke arahnya dan tidak ingin beranjak. Kegigihannya untuk mendapatkan buku tersebut membuatnya tetap santai dengan kondisinya yang berada di atas Aruto.


"Mika, angkat tubuhmu itu atau kamu akan membuat jantungku meledak!!", gerutu Aruto dan membuang buku tersebut di bawah kursi.


Maksud Aruto dia tidak ingin hatinya menjadi berdebar-debar merasakan kedekatannya dengan Mika. Kontak fisik yang sedikit itu membuatnya cukup kesulitan menahan diri.


"Duaarr!!", gelegar petir langsung mengagetkan Aruto lagi. Mika yang akan bangun langsung ditarik Aruto. Seketika dia reflek memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Matanya terpejam dengan hati yang semakin berdegup kencang.


"K-k-kyaaaaa!!", Mika akhirnya sadar dan langsung menjerit histeris mendapat perlakuan tak sengaja dari suaminya.


"Lepaskan tanganmu itu", sedikit memberontak tapi Aruto begitu erat memeluknya.


"Lindungi aku dari petir itu, Amika", ucap Aruto merintih.

__ADS_1


"Eh? Ada apa? Apa kamu punya pengalaman buruk dengan petir?"


"Iya"


Aruto mulai bisa tenang karena Mika pun menurunkan kadar kehisterisnya. Dia menceritakan kepada Mika tentang ketakutannya terhadap petir.


"Petir telah merenggut nyawa ayahku saat kami sedang berlibur di pegunungan. Aku melihatnya langsung dia tersambar petir ketika hendak mencariku yang berlindung di bawah pohon"


"Kenangan yang sangat buruk" ujar Mika iba.


"Trutuk trutuk trutuk.." Suara hujan yang menimpa body dan kaca mobil memberikan nada yang tidak menentramkan.


"Duaarr!!"


"Umm.. Semoga pelukanku bisa membuatmu tenang, Aruto", ucap Mika tulus seraya mengelus pundak suaminya dengan lembut.


"Kamu, memanggil namaku?"


"Hehe.."


"Apa karna kamu tersentuh dengan ceritaku sehingga kamu memanggilku supaya aku bisa merasa tenang?"


"Umm.. bisa jadi", ucap Mika memalingkan muka.


"Ahahaha.. kebiasaanmu tidak pernah berubah ya?"


"Kebiasaan apa?"


"Memalingkan muka"


"Kenapa dengan itu? Setiap orang juga terbiasa memalingkan muka"


"Kamu berbeda Mika"


"Umm..", Mika tersipu malu.


Aruto mengelus lembut rambut wolfcutnya, membuat Mika merasa nyaman.


"Tidurlah, Mika. Hujan akan menjebak kita di sini untuk beberapa jam ke depan. Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan jika hujan tidak benar-benar berhenti"


"Apa kamu hendak mencuri kesempatan saat aku sedang tidur?"


"Ack? Ma-mana mungkin. Emang aku pria apaan?!"


"Kamu tidak ingat, kamu berani mengganti bajuku saat aku sedang tidur"


"Eeehh.. Ahahahaha.. Kamu mengingatnya ya Mika. Padahal aku merasa biasa-biasa saja saat menggantikan bajumu"

__ADS_1


"Jangan bicara semudah itu!!", elak Mika dengan menggigit pundak Aruto.


Seketika Aruto melonjak kaget. Dia melepas pelukannya dan menawarkan pahanya untuk menjadi bantal bagi Mika. Mika menerimanya dan sejenak bersenandung.


__ADS_2