Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Teringat dengan Masa Lalu


__ADS_3

Aruto mengunjungi makam ayahnya yang tidak pernah dia kunjungi sama sekali semasa hidup barunya di kota. Niat tulusnya ingin berkirim doa dan memperkenalkan istrinya kepada sang ayah. Namun, kedatangannya mengingatkan kembali dengan masa lalunya yang sangat menyedihkan.


Ayahnya seorang memborong bangunan yang sangat sibuk, sehingga membuat Aruto kecil tidak bisa dekat dengannya, ditambah lagi kesibukan ayahnya menimbulkan prasangka buruk bagi istrinya sendiri.


Istrinya selalu berfikir bahwa suaminya hanya sibuk main mata dengan wanita lain dan lebih asik dengan dunianya sendiri. Padahal, suaminya memang benar-benar tulus dan bekerja keras terhadap pekerjaannya tersebut.


Semenjak kepergian sang ayah, Aruto yang duduk dibangku kelas 5 SD harus hidup sendiri bersama Ibu. Kepergiaan ayahnya menyisakan kesedihan dan kepedihan yang amat mendalam di kehidupannya waktu itu.


Apalagi Aruto melihat dengan mata kepalanya sendiri saat malaikat maut mengambil nyawanya melalui sebuah sambaran petir. Hatinya semakin teriris diiringi kesalahannya yang harus membenci ayahnya karena prasangkaan buruk ibunya sendiri. Semakin menyakiti hatinya saat harus merelakan ibunya bekerja menjadi kupu-kupu malam demi melanjutkan roda perekonomian keluarga.


Setelah Aruto lulus SD, mereka pindah rumah. Ibu rela menjual rumah hasil jerih payah suaminya untuk mencari rumah yang lebih kecil dan sisa uang bisa ditabung untuk masa depan. Ibu semakin sibuk sehingga Aruto harus bisa mandiri mengurus dirinya sendiri.


"Itulah awal mulamu bertemu dengan Shelin?", tanya Amika memotong sejenak cerita sedih dari suaminya.


"Iya", jawabnya singkat


"Terus, ibumu sekarang dimana?"


"Dia, mencari sendiri kesenangan hidupnya", balas Aruto gampang.


"Apa? Umm..", meskipun Mika ingin mendengar kisahnya lagi, tapi sepertinya Aruto enggan menceritakan ibunya.


Aruto dan Mika sudah berada di luar makam, mengobrol sejenak sambil bersandar di mobil kerennya.


"Shelin juga ternyata tumbuh di keluarga broken home. Jadi, untuk mengisi kesenangan sendiri kami berdua menjadi teman dekat dan saling berbagi kebahagian"


"Hmph!!", Mika menggembungkan pipinya.


"Jangan salah paham", sinis Aruto.


"Aku tidak salah paham, aku hanya menggembungkan pipi"


Aruto hanya bisa menyipitkan mata dan tersenyum kecut, "lagi pula, dia lebih aku anggap seperti kakak daripada sebagai teman bermain", lanjutnya.


"Eh?"


"Iya. Karna dia lebih tua dua tahun dariku dan sikapnya waktu itu sudah lebih dewasa daripada aku sendiri. Aku yang seorang lelaki pada waktu itu sangat cengeng sekali dan Shelin yang selalu bisa membelaku"


"Kamu tau Aru, di masa kecil seorang gadis itu lebih dewasa dan pinter daripada laki-laki. Tapi, kalo mereka telah beranjak dewasa, sikap wanita akan berubah menjadi rapuh dan sangat sensitif. Sedangkan, pria itu sendiri akan lebih dewasa dan mawas diri. Seperti itulah kebalikannya"


"Tapi, Shelin masih sama seperti waktu dia kecil. Dia yang pemberani dan tidak takut dengan apapun"


"Aku tidak yakin itu, pasti hatinya sedang rapuh saat ini", timpal Mika.


"Kamu mencoba peduli padanya atau ingin menyamakan keadaan dirinya dengan keadaanmu saat ini, Amika?"


"Aru! Jahat banget kamu mikirin aku kayak gitu"


"Iya, maaf. Dan sekali lagi ya Amika, aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Kamu tidak perlu curiga. Lagi pula, hubunganmu dengan Ricky lah yang perlu aku curigai"


"Kamu bisa bilang tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Shelin, tapi mungkin Shelin sudah punya perasaan apa-apa denganmu", batin Mika cemburu.

__ADS_1


"Jadi, apa kamu masih belum ingin menemui keluargamu?" tanya Aruto memastikan lagi.


"Hm?", Amika malah kurang fokus.


"Kamu melamun lagi?"


"Tidak", seketika Mika menggeleng.


"Masih menyesali pernikahan paksa ini, Mika?"


"Maafkan aku, Aru"


"Aku bisa mengembalikanmu kepada kedua orang tuamu jika itu bisa mengembalikan lagi kebahagiaan dan kehidupanmu yang semula"


"Tidak. Bukan itu", seketika Mika memeluk tubuh suaminya. "Waktu itu, melepaskan diri dari keluarga membuatku lebih nyaman meskipun setelah itu aku harus sering bertengkar denganmu. Aku masih bingung, kenapa aku begitu kecewa dengan ibu dan ayah karna telah memaksaku menikah demi hutang-hutangnya padahal sekarang aku sudah bisa bahagia bersamamu"


Aruto pun sedikit tersenyum dan mendengarkan.


"Aku tau ini tidak pantas. Tapi, yang namanya kecewa ya tetap kecewa", lanjut Mika dengan lebih erat memeluk tubuh suaminya.


"Kekecewaan lebih menyakitkan ya dari pada kesedihan itu sendiri?"


"Umm.. Rasanya sakit banget karena seperti dikhianati tapi kalo sedih masih bisa disembuhkan"


"Seperti ini?", tanya Aruto seraya menarik lembut kedua pipi Mika untuk mengarahkan pandangannya kepada dirinya. Kemudian kecupan manis di bibir mendarat dengan sangat mulus.


"Bagaimana?", tanya Aruto. Kemudian mengecup pipi kanan Mika.


"Mau yang banyak?", cup cup cup cup beberapa kecupan pun menari-nari di kening Mika.


"Sudah lebih baik?", tanya Aruto berbisik mesra di telinga Mika. Mika yang mulai mabuk mendapat banyak ciuman dari suaminya seketika menggeliat geli dan menyadarkan buaiannya.


"Ciuman adalah jurus utama untuk mengembalikan mood dan mengawali kemesraan", lanjutnya.


Wajah merah dan asap yang semakin kemebul di kepalanya pun membuat Mika langsung menendang kaki Aruto tanpa permisi.


"Sa-sakit Amikaaa?!!"


"Jangan mencari kesempatan", gerutu Mika.


"Kesempatan apa?", Aruto bingung.


"Kesempatan ya kesempatan. Kamu gak malu apa kita ini sedang di pemakaman, seenaknya saja memberiku ciuman sana sini"


"Se-seenaknya katamu?!!"


"Amika! Mulutmu itu masih saja pedas ya!!"


"iii hihihi hihihi.."


"Su-suara apa itu?"

__ADS_1


"iihhii hihi hihihi"


"ii i-yyyaaaaa!!!", seketika Mika merunduk jongkok ketakutan sambil menutup telinga.


"Maaf Amika, ini suara HPku", balas Aruto santai tanpa peduli.


"Apa?"


"Sebentar, ada panggilan dari Clien"


"Kamu menggunakan suara hantu sebagai nada dering?" tanya Mika tidak habis pikir.


"Sebentar Mika.."


Aruto mengabaikan kekesalan Mika dan fokus menerima panggilan dari Clien. Ada yang sedang Clien sampaikan kepadanya tentang beberapa perubahan pada projectnya, namun tidak diketahui itu apa.


Setelah selesai dengan panggilannya. Aruto masuk mobil dan mengajak Mika yang masih merunduk ketakutan untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Mika, ayo masuk"


"Gak mau"


"Kenapa?"


"Hilangkan dulu suara hantu itu di ponselmu"


"Tidak mau, Amika. Ini lucu suaranya. Karena, Selalu mengingatkanku pada gadisku waktu itu"


"Waktu itu?"


"Amika, cepatlah. Aku tinggal ya"


"Tinggal saja!!"


"iiihihi hihi hiii"


"iiyyaaaa!!!!", Mika semakin menjerit ketakutan.


"Ahaha, lucu sekali. Hanya suara hantu saja takutnya minta ampun, untung saja kita ke pemakaman disaat matahari masih ada"


Aruto mulai menyalakan mesin mobil dan bermain-main dengan gasnya. Mika masih dengan ketakutannya.


"Kamu sama jahatnya dengan Fanya dan Astha, memanfaatkan kelemahanku demi kesenangan semata", keluh Mika.


"Baiklah baik, maafin aku ya", Aruto pun mengganti nada ponselnya ke sedia kala.


"Padahal itu memberiku kenangan manis. Terpaksa aku harus melupakannya", balas Aruto manyun.


Mika mulai bisa berdiri dan masuk ke dalam mobil. Dia merasa bersalah karena harus setakut itu menerima candaan dari suaminya.


"Cup!", Mika pun menggantinya dengan senyuman tulus di pipi kiri Aruto.

__ADS_1


__ADS_2