Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Tersenyum dengan Sangat Manis


__ADS_3

Meja ruang tengah telah disingkirkan, Aruto bersama Mika sedang terkurap berdampingan dengan sebuah layar ipad menyala menghadap ke mata Mika dan sebuah stylus pen di tangan Aruto.


“Aku tidak menyangka kamu bisa bermain biola, Aruto”, ucap Mika.


“Menggemaskan sekali. Akhirnya kamu memanggil namaku dengan sangat mudah” balas Aruto diselingi tawa kecil yang menyenangkan.


“Apa aku bisa menggambar menggunakan ipad ini?”, gumam Mika mengalihkan perhatian seraya menggerakkan jarinya di ipad tersebut.


“Jangan gunakan jarimu, gunakan pensil ini”, balas Aruto gampang.


“Ooo.. semudah itu?”


“Yup. Coba gambarlah sesuatu”, pinta Aruto.


“Eeeh.. meski terlihat mudah untuk dicoba, tapi aku belum tahu tekniknya”


Aruto pun menjelaskan beberapa tool yang harus Mika ketahui di aplikasi sketch gambarnya. Beberapa tool pencil, erase, brush, cat dll serta layer yang paling penting. Layer sangat penting untuk menumpang tindihkan gambar sesuai yang dinginkan. Jika semua gambar hanya ada di layer satu, itu akan mempersulit pengeditan. Sehingga, dalam menggambar memang sangat perlu menggunakan banyak layer.


“Baiklah, aku bisa menggambar wajahmu itu dengan sangat mudah”, lanjut Mika merasa telah mengerti atas penjelasan dari Aruto.


“JIka kamu pandai menggambar, itu sangat mudah bagimu, Mika”, puji Aruto memberi motivasi.


Mika mulai menggambar wajah Aruto dengan membuat bentuk lingkaran dan garis bantuan berupa garis vertikal dan horizontal. Mulai membuat garis wajah dan sedikit demi sedikit menyempurnakan. Beberapa helaian rambut pun sudah mulai terlihat.


Kini saatnya menggambar mata dan ekspresi wajah. Mika terhenti sejenak, sedangkan Aruto tersenyum bangga dengan wajah tampannya. Hatinya akan semakin berbunga-bunga jika Mika berhasil menggambar wajah tampannya tersebut.


“Tidak, aku tidak bisa menggambar wajahnya”, batin Mika tiba-tiba terpana memandang sejenak wajah Aruto untuk memastikannya kembali.


“Mika, kenapa? Apa wajahku begitu tampan?”, canda Aruto.


“Bukan, bukan seperti itu”, Mika langsung mendorong muka Aruto dengan tangan kanannya.


“Kenapa kamu mendorong wajahku, hah?!”, seketika Aruto menampakkan wajah kesalnya lagi. 


“Benar! Seperti itulah wajahnya, seperti itulah ekspresi wajahnya”, balas Mika di dalam hati, bibirnya pun menyeringai sadis.


Akhirnya Mika bisa menggambar wajah kesalnya Aruto, ekspresi wajah dingin yang suka menggerutu seenak hatinya. Dia bahkan menambahkan tanda kesal dan marah di dahi Aruto.


“Apa seperti ini wajahku, Hei Amika?!”


“Iyes. Kamu itu seperti mbah galak di kampung halaman nenekku”, balas Mika santai 


“Mb-mbah galak katamu?!”


“Hish hish, makanya jangan sering marah-marah mbah galak. Tuh, mirip banget dengan karakter-karakter komik yang memiliki sikap pemarah dan suka ngomel-ngomel”, balas Mika semakin mengejek. Dia sudah terbiasa bertengkar mulut dengan Aruto dan menanggapinya dengan santai. Sedangkan, Aruto sendiri yang mudah terpancing.


“Amika! Seburuk itukah aku dimatamu?”

__ADS_1


“Tidak. Jika kamu bisa menurunkan kadar amarahmu dan wajah setanmu itu aku rasa kamu sudah tidak menakutkan lagi”, balas Mika seraya membenarkan alis Arutonya yang tajam ke bawah.


“Jadi, angkat alismu seperti ini, kan?”, lanjutnya.


“Eh?”, Aruto terkejut dengan perlakukan Mika kepadanya.


Dia merasa, Mika mulai bisa menunjukkan rasa kepeduliannya daripada bersikap acuh seperti biasa. Padahal, Mika pun tidak sadar melakukannya. Hatinya tergerak dengan sangat tulus dan murni.


“Amika?!”


“Ke-kenapa?”, Mika menjadi kaget.


“A, iya, tidak. Kamu, membuatku canggung”, balas Aruto mengalihkan muka.


“Canggung?”, tanya Mika heran.


“Mika.. itu.. aku.. umm.. itu..”, ucap Aruto latah sambil menggaruk pipi dengan ujung jarinya.


“Whats wrong?”


“Aku.. aku..”


“Hum?”


“Bo bo bo bo bo bo, bolehkah aku, me me menciummu?”


“Apa? me me me me, apa?”


“Iya”, Mika pun langsung menahannya.


“Tidak apa-apa, hanya, ciuman kan? Aku, bersedia”, Mika mencoba menatap yakin tapi bola matanya masih bergerak kesana kemari. Kemudian memejamkan mata dengan erat diiringi bibir yang sedikit mengerucut ke depan.


Aruto pun kembali mendekat dan mulai meraih kepala Mika, mengarahkan ciuman bibirnya kepada bibir Mika yang tipis dengan sedikit merona di sana.


“Chuph”


Debaran hati mulai menyelimuti diri Mika, ketakutan dan kekhawatiran yang dia rasakan saat mendapat ciuman paksaan dari Aruto kini berubah menjadi kelegaan, seperti sebuah bunga merekah dari kuncupnya. Segaris air mata pun mengalir.


Aruto tersenyum, Mika pun tersipu malu. Aruto hendak mengulanginya lagi, tapi Mika menolak. Membuat nyali Aruto terasa jatuh, tapi dia mencoba menghargai.


“Mika? Ada apa?”


“Tidak. Satu kali aja ya”, ucap Mika merendahkan suaranya dan tertunduk.


Perasaan yang menyentuh itu membuat Mika menahannya kembali, dia menarik kebahagiaan yang dihadirkan dari ciuman Aruto. Mika tidak ingin mulai terbuai dan merasakan kehadiran cinta secepat itu.


“Kenalan dulu ya? Baiklah”, balas Aruto menghargai.

__ADS_1


“Umm.. Aku.. perbaiki gambarnya lagi kalo gitu”, Mika kembali menatap ke arah ipadnya.


Setidaknya, Aruto telah banyak menarik nafas lega melihat perubahan Mika yang sedikit demi sedikit membuka hati dan tersenyum. Kehadirannya mulai bisa memberikan rasa nyaman bagi Mika.


Aruto kembali tengkurap sambil memperhatikan Mika yang sedang menyelesaikan sketsanya. Kaki Mika bergerak ke atas dan ke bawah memberikan tanda bahwa Mika sedang menikmati kegiatannya tersebut.


“Ngomong-ngomong, Shelin itu siapa?”, tanya Mika tanpa beban.


“Shelin? Dari mana kamu tau nama itu?”


“Saat.. kamu bertemu dengan Ricky di taman itu”


“Oh, dia teman masa kecilku”


“Apa kalian suatu saat akan menikah bersama?”


“Apa?”, tanya Aruto bingung.


“Iya. Apa kalian suatu saat akan punya rencana untuk menikah bersama?”


“Amika, aku kan sudah menikah denganmu, bagaimana bisa aku menikahi Shelin?”


“Bukankah menikahiku hanya sebuah rencana, bukan sebuah kepastian?”


“Amika?!”, ucap Aruto dengan nada tegas di dalam dada namun tidak meninggikan suara.


“Umm..”


“Aku sudah bisa melihat senyuman di wajahmu, aku sudah bisa merasakan kebahagiaan di dalam hatimu dan aku sudah bisa melihat rasa senangmu saat bersamaku. Tapi, kenapa kamu malah mempertanyakan sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu?”


Amika masih terus melanjutkan sketsanya dengan ekspresi acuhnya.


“Haa aah.. kamu memang gadis iblis, tapi sangat imut. Aku tidak akan memberikanmu kepada siapapun, kamu adalah milikku Amika. Jika kamu tidak mengizinkanku pun aku akan tetap merebutmu dari Ricky”


“Jahat”, gerutu Mika dan mendorong pundak Aruto.


“Jahat katamu?”, Aruto balik mendorong pundak Mika namun lebih lembut.


“Jahat tapi aku suka”, balasnya tersenyum manis.


“Amikaaa!! Kau ini, suka sekali mengacak-acak suasana hatiku ya”, balas Aruto dengan berani menggelitik ketiak Mika.


“Ahaha.. geli tau!! hentikan!!”


“Pertengkaran ini akan semakin membuatku suka, Amika”


“Jangan.. jangan.. Aku tidak ingin jatuh cinta kepadamu!!”, balas Mika diiringi tawa geli karena gelitikan dari Aruto.

__ADS_1


“Dasar Amika tengil”


Mika telah berhasil memperbaiki gambar Aruto yang seperti angry bird itu menjadi seorang pria yang keren dan tersenyum dengan sangat tulus.


__ADS_2