Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Percaya dengan Ragu-ragu


__ADS_3

"Gals, kalian duluan aja ya. Aku, mau pergi sebentar", ucap Mika setelah mereka sampai di alun-alun.


"Kamu mau ke mana dulu Mika?"


"Udah, nanti aku nyusul kok", balas Mika cepat seraya pergi meninggalkan Fanya dan Astha.


"Gak papa kita gak ngikutin dia?", tanya Fanya khawatir.


"Haish! Loe kurang respect Fanya, dia itu mau ketemuan sama pacarnya. Biarin aja dulu", balas Astha santai.


"Whats?!"


"Udah-udah, ayo jalan", ajak Astha sambil menarik tangan Fanya.


Mika berlari dan menuju tempat di mana dia dan pacarnya akan bertemu. Melihat si pacar sudah duduk di tangga sebuah bangunan air mancur, Mika langsung menghampirinya.


"Hai Ricky", sapa Mika.


"Kok lari sih, kesandung lho nanti", balas Ricky.


"Hehe.. reflek tadi. Maaf ya kalo telat"


"Gakpapa"


Ricky, terlihat sangat tampan. Senyumannya sangat manis berbarengan dengan matanya yang sipit. Meskipun Mika dan Ricky seumuran, tapi Ricky sedang menjalani kuliahnya dan juga kerja sampingan. Berbeda dengan Mika yang masih saja menganggur.


Mika dan Ricky berjalan-jalan sebentar untuk menikmati suasana alun-alun. Berjalan berdampingan dengan sedikit menjaga jarak.


Jujur, Mika masih selalu berdebar-debar jika bertemu dengan Ricky, apalagi melakukan kencan. Karena, mereka sangat jarang bertemu, sehingga Mika belum bisa membiasakan diri.


"Kamu, sudah makan, Ami?"


"Eh? Iya, udah. Maaf.."


"Haha gakpapa. Kirain belum, kalo belum kita bisa sarapan dulu tuh di sana", ucap Ricky sambil menunjuk sebuah stand makanan lesehan.


"Kalo kamu mau sarapan gakpapa Ricky, nanti aku temenin kok"


"Gak usah. Kalo gitu, kita jajan aja ya"


"Baiklah.."


Ricky adalah cowok yang sangat baik. Dia sangat setia kepada Mika, hanya saja dia tidak bisa memiliki pendirian yang teguh. Ia hanya membiarkan takdir membawanya seperti air yang mengalir begitu saja.


"Syukurlah. Kita masih bisa bertemu ya Ami"


"Iya"


"Apa ada yang ingin kamu ceritain?"


"Gak ada, hehe.. gak ada. Umm.. kita kan udah cerita banyak lewat WA jadi saat ketemuan gini aku jadi bingung", balas Mika sambil melet.


"Sama, aku juga bingung kok"

__ADS_1


"Gi-gimana kuliahmu?"


"Baik-baik aja tuh"


"Umm.. gitu ya"


"Eh, Ami lihat! Ada stand menjual aksesoris anime. Kamu sangat suka itu kan?"


"Iya bener. Ke sana yuk", Mika menyetujuinya.


Ricky dan Mika melihat-lihat benda-benda yang dijual stand tersebut. Dia kaget saat mendapati yang menjaga stand tersebut adalah teman kuliahnya.


"Weh Ricky? Wah! Bawa pacar nih?", sindir Boy


"Haha bisa aja lo Bro! Kalo gue kesini bawa pacar belinya gratis ya", balas Ricky santai.


Mika menundukkan kepalanya karena malu.


"Iya.. Nanti gue rugi donk", canda Boy.


Ricky membelikan dua gantungan kunci untuk dirinya dan Mika. Kemudian, mereka kembali melanjutkan jalan-jalan mereka.


Alun-alun terlihat sangat ramai dengan orang-orang yang lalu lalang lewat. Tapi, Ricky dan Mika sangat santai berjalan. Kecanggungan membuat suasana menjadi sangat garing


"Ricky, aku mau bicara sesuatu"


Mika sangat canggung berhadapan dengan Ricky, jari jemarinya terus bergerak tak menentu untuk mengimbangi perasaannya yang selalu deg-degan.


Aku juga mau bicara sesuatu", lanjutnya.


"Hehe, siapa dulu kalo gitu?", tanya Mika.


Ricky tersenyum manis melihat Mika. Ami, adalah panggilan sayang darinya untuk Mika. Ricky akan mengakui sesuatu kepadanya.


"Ami, kamu sangat cantik hari ini. Tumben rambutmu sedikit bergaya"


"Ucapan apa itu?", ketus Mika.


"Ami, jika suatu saat ada cowok lain yang hendak melamarmu, tolong terima aja ya lamaran itu?"


"Apa? Ma-maksudnya?"


"Iya.. itu.. Kalo kamu ingin segera menikah, menikahlah Ami. Aku tidak akan membiarkanmu menungguku terlalu lama karna aku. Karna aku masih belum siap menikah"


"Te-tenang saja Ricky. Aku setia kok. Aku tetap ingin menikah denganmu. Aku ingin menikah denganmu, Ricky. Aku ingin kita bisa bersama"


"Tapi Ami, aku belum siap menikah. Mungkin bisa jadi, satu tahun, dua tahun bahkan tiga atau empat tahun aku belum tau itu kalo aku masih belum berani menikah"


"Gakpapa", jawab Mika menurunkan nada suaranya.


"Jangan bilang seperti itu. Aku tidak ingin kamu jadi terkekang olehku"


"Ta-tapi kan kita saling suka. Kita harus bisa bersama, Ricky"

__ADS_1


"Maafkan aku Ami"


"Apa? Kenapa Ricky seperti itu", batin Mika sedih.


"Eh, gak usah sedih Ami. Ayo, kita jalan lagi", ajak Ricky santai.


"Aku, tidak mengerti dengan ucapan Ricky. Dia sangat santai sekali mengucapkannya, sedangkan hatiku langsung kecewa mendengarnya"


Mika berjalan dengan menundukkan kepala. Rasanya, kakinya sangat lemah untuk dia ajak berjalan.


Ricky yang menahan hati hanya tetap mengacuhkannya. Dia tidak ingin memberikan perhatian lebih kepada Mika lagi, dia tidak ingin Mika berharap besar kepada dirinya.


Mika kecewa, Ricky, pacar yang dia sayang akhirnya menghancurkan kepercayaannya. Dia tidak habis pikir bahwa dia akan melepas Mika begitu saja.


Saat Mika berjalan sempoyongan, dia menabrak dua orang berbaju serba hitam dengan kaca mata hitam. Seorang wanita sedang menata beberapa brosur di meja standnya.


Mika seketika melonjak kaget bahwa dia menabrak dua ajudan Shelin. Shelin, wanita yang Mika belum mengenalnya. Wanita pemilik lembaga penyalur tenaga kerja, tempat Aruto menyerahkan para istrinya.


Mika bertemu lagi dengan dua orang yang membawanya untuk dibawa ke lembaga. Sikap kagetnya sedikit membuat dua pria itu mencurigainya tapi Ricky langsung melindunginya.


"Ma-maaf pak. Kamu gakpapa, Ami?" tanya Ricky setelah meminta maaf kepada dua ajudan Shelin, si Roy dan Davin.


Beruntung dua pria hitam itu tidak mengenal Mika, karena waktu dulu Mika memakai masker kemudian berhasil melarikan diri.


Shelin yang tidak tahu itu, langsung menawarkan sebuah brosur miliknya tentang lembaga penyalur tenaga kerja. Dia begitu ramah memberikan informasi dan arahan-arahan sehingga cukup bisa membuat Ricky sejenak mendengarkannya.


Mika masih tertunduk. Shelin yang melihatnya jadi merasa iba dan ingin memberikan perhatiannya supaya dia mendapatkan kepercayaan lebih.


"Nona, apa Anda sakit?", tanya Shelin.


"Eh, ti-tidak kok. Gakpapa", balas Mika spontan kemudian mengarahkan pandangannya kepada Shelin.


"Astaga.. Cantik banget kamu Nona. Mau gak ikut kerjasama dengan kita dengan join ke penyalur kami?"


Mika hanya bisa menggelengkan kepala.


"Gak usah takut, jangan khawatir. Lembaga kami sudah terjamin kok. Kami akan mentraining Nona hingga Nona benar-benar berhasil"


Segala ucapan manis selalu Shelin ucapkan untuk menarik perhatian konsumen.


"Kita pergi aja, Ami", ajak Ricky memotong membicaraan Shelin.


Ricky mengajak pergi Ami untuk menjauh dari Shelin, membuat Shelin menggerutu kesal.


"Ami, jangan dipikirkan terlalu dalam", pinta Ricky mencoba menggandeng tangan Mika. Namun, seketika Mika menghindarinya.


"Kamu membuatku kecewa", lirih Mika.


"Ami?"


"Kau membuatku kecewa Ricky!!", bentak Mika seraya berlari meninggalkan Ricky.


"Ami?!"

__ADS_1


__ADS_2