Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Tak Kenal maka Tak Sayang


__ADS_3

"Gue serius! Apa elo gak lihat gimana gue berdandan? Gue ingin elo bisa melihat gue sebagai seorang wanita, Aruto", ucap Shelin dengan sesekali menyilakan rambut.


"Iya memang elo seorang wanita"


"Padahal kita sama-sama singa, tapi kenapa kita tidak bisa bersama?”


"Entahlah!”, balas Aruto singkat. Sejenak dia mengambil nafas dan terpejam. Telapak tangannya terus bermain-main di belakang leher karena merasa tidak nyaman menjamu teman masa kecil tersebut.


"Walaupun gue bisa menikahimu, tapi gue juga bisa melepasmu, Shelin. Jadi, elo tidak usah membebani pikiranmu untuk terus memintaku menikahimu. Entah kenapa, gue tidak bisa menganggapmu lebih dari teman masa kecil”, lanjutnya.


"Apa? Serendah itukah diriku dihadapanmu?", Shelin mulai berdiri dan mendekati Aruto.


"Shelin, berhentilah bicara tentang-”, belum selesai melanjutkan ucapannya, Aruto tersentak kaget mendapati Shelin sudah mendekap tubuhnya.


"Gue hanya ingin, kita bisa selalu bersama", balas Shelin merendah.


“Eh?”


"Tidakkah kau ingat? Masa lalu kita? Kita selalu menghadapi apapun bersama hingga sekarang kita bisa sukses bersama. Apa cinta tidak tumbuh di dalam hatimu tentang kebersamaan kita ini, Aruto?"


Aruto membiarkan Shelin memeluk tubuhnya, karena sebentar lagi dia akan mengucapkan suatu kalimat yang akan membuat Shelin melepas sendiri pelukannya.


"Aku sudah memiliki Amika, dan sedikit pun aku tidak pernah berfikir kita akan bisa hidup bersama, Shelin. Aku ingin, kau bisa menemukan kebahagiaanmu tanpa diriku. Dan aku sendiri telah menemukan kebahagiaanku sendiri"


"Haa ah.. padahal kita sudah lama saling mengenal tapi tetap saja sedikitpun tidak ada rasa cinta tumbuh di dalam hatimu. Sebuah paksaan pun juga tidak akan bisa. Pepatah “Tak kenal maka tak sayang” ternyata hanya sebuah bualan belaka”


Shelin melepas sendiri pelukannya dan perlahan berjalan memasuki ruang tengah.


"Apa, maksudmu?"


"Gue sudah susah payah menyela ucapanmu tapi akhirnya elo masih bisa bersikukuh mengatakan yang sejujurnya. Ternyata, memang benar. Ada gadis lain yang telah berhasil mencuri hatimu”


“Elo mau kemana?”


“Gue ingin melihatnya”, balas Shelin santai dan ramah. Keramahannya menyimpan beribu maksud yang mencurigakan. Aruto sedikit khawatir.


Tidak disangka, Mika sudah berdiri di anak tangga pertama untuk menyambut kedatangan Shelin kepadanya. Pendiriannya sangat teguh, sehingga membuatnya tidak takut untuk menghadapi wanita yang selalu dimaksudkan oleh suaminya tersebut.


“Andakah Shelin?”, sapa Mika.


“Ahaha..”, seketika Shelin tergelitik dan memunculkan gelak tawa yang aneh.”Kamu mengenalku dengan baik ternyata? Tidak kusangka suamimu berani menceritakan diriku dihadapan istrinya sendiri. Mencurigakan”, lirik Shelin kepada Aruto.


“Meski begitu, saya menghargai Anda sebagai teman masa kecil suami saya, Nona Shelin”, balas Mika telak dan tersenyum ramah.


“Mika”, lirih Aruto mulai khawatir.

__ADS_1


“Dia gadis di dalam foto itu yang Aruto telah menghapusnya. Ternyata memang benar, gadis itu adalah istrinya sendiri. Keberadaannya langsung merenggut kebahagiaanmu”, batin Shelin kesal.


“Kau gadis yang seperti apa? Hah? Hingga Aruto pun bisa jatuh hati kepadamu”, Shelin mulai kasar dan menarik ujung kerah baju Mika sehingga Mika sedikit kesulitan.


“Shelin, hentikan perbuatanmu”, pinta Aruto.


“Namamu Amika, kan? Dengar ya, Amika. Kau tidak akan bisa tenang hidup bersama Aruto. Gue tidak akan membiarkan kasih sayang tumbuh di antara kalian berdua, selama masih ada gue ditengahnya”, pungkas Shelin.


“Lepaskan!”, tolak Mika dengan berani menarik lepas tangan Shelin.


“Sudah! Hentikan itu Shelin!”, Aruto pun juga langsung menarik paksa tangan Shelin dan menuntunnya keluar dengan paksa. “Pulanglah. Jika elo gak bisa pulang sendiri, biar Joya yang akan mengantarkanmu pulang”, tambahnya.


“Aruto! Apa yang kau lakukan?! Kau benar-benar merendahkanku dihadapan gadis siluman itu, Hah!!”


“Jaga ucapanmu! Kaulah gadis siluman, dan Mika bukanlah gadis yang seburuk itu. Joya! Antarkan Shelin pulang”, tandas Aruto kemudian menyuruh Joya untuk mengantarkan Shelin pulang.


“Aruto! Awas ya! Akan gue balas kalian berdua!!”


Acara ramah tamah Shelin akhirnya berujung pertengkaran. Memang sejak awal dia hendak membuat masalah di sana dan akhirnya dia sendiri yang menerima akibatnya.


Mika kembali masuk ke dalam kamarnya dan mencoba menyibukkan diri dengan ipadnya. Dia bermaksud akan mengalihkan kondisi jikalau Aruto akan membahasnya kembali bersama dirinya.


Aruto kembali untuk menghampiri istrinya, ingin melihat keadaannya dan menanyakan tentang kondisi perasaannya saat ini. Tapi, melihat Mika sudah sibuk dengan ipadnya dia malah semakin cemas.


“Amika?”


“Lumayan”, balas Aruto mengangguk.


“Kenapa hanya lumayan? Puji aku supaya aku bisa lebih semangat”


“Semangat apanya? Melihat hasilnya saja sudah bisa aku tebak bahwa kamu mengerjakannya dengan perasaan yang sedang tidak baik-baik saja”


“Hehe”, Mika hanya nyengir.


“Hehe hehe? Kamu membuatku khawatir tau”, balas Aruto dengan menjewar kedua pipi Mika sampai melar. “Wajahmu semakin jelek jika aku terus menarik pipimu ini, Amika”, ejeknya.


“Sakit, b0d0h!”


“Bo-b0d0h katamu?!”


“Aruto b0d0h, wek!”


“Amika!!”, gertak Aruto dengan menggoyang pelan kedua pundak Mika.


Seketika Mika fokus dan menatap lurus ke arah suaminya. Aruto pun jadi ikut menatap lurus ke arah istrinya. Pandangan pun mulai beradu dengan sedikit irama detak jantung masing-masing.

__ADS_1


“Deg deg deg deg”


“Deg deg deg deg”


“Mika?”, ucap Aruto.


Mika langsung menggeleng.


“Zahira Amika?”


“Tidak”, Mika semakin menggeleng pasti. Entah tidak tau apa maksudnya, tapi membuat jantung Mika semakin meloncat kesana kemari.


“Tidak! Gak mau!”, lanjutnya hingga dia ingin sekali beranjak dari tempat duduknya.


“Eh?” Aruto sendiri bingung.


“Tidak.. tidak”


Mika mulai memundurkan langkahnya dan berencana untuk melarikan diri. Melihat pintu kamarnya yang masih terbuka, membuatnya ingin keluar dan berlari menghindari keinginan suaminya. Padahal, apa?


Mika menuruni tangga dengan hatinya yang terus berdegup kencang. Perasaannya membuat langkah kakinya tidak seimbang, sehingga kecerobohannya pun membuatnya langsung jatuh tersungkur di lantai  bawah karena melewati satu anak tangga di bawahnya.


“Gedebug, bugg”


“Auu.. sakitt”, keluhnya.


“Mika, kamu tidak apa-apa?”, tanya Aruto cemas.


“Sakit, Aru..”


“Kamu ini kenapa? Lari-lari gak jelas akhirnya tersungkur jatuh”


“Itu karna.. karna..”, Mika semakin kebingungan karena masih terpojok dengan tanggapan Aruto.


“Karna apa?”, Aruto semakin mempertanyakannya.


“Berhentilah bertanya! Tolong bantu aku berdiri”


“Haish.. Kenapa kamu ceroboh sekali. Untung sudah sampai di lantai dasar. Jadi gak bikin kaki kamu patahkan?”, balas Aruto seraya memapah Mika menuju sofa dua seaternya.


“Kok jadi gini sih”, gerutu Mika 


“Ada apa? Masih mikirin yang aneh-aneh?”, canda Aruto sadis.


“Sudah, cukup!”, Mika tanpa sengaja mendorong pundak Aruto hingga terjatuh. Reflek dan salah tingkahnya masih belum bisa dia kendalikan sendiri.

__ADS_1


“Baiklah kalo itu maumu. Aku tidak akan mendekatimu untuk beberapa hari kedepan”, balas Aruto tidak mau kalah. “Aku beri waktu tiga hari untuk kamu selesaikan komikmu itu. Jadi, jangan cari aku jika komikmu belum selesai. Mengerti?", pungkasnya.


“Eh?”


__ADS_2