
Dikeheningan malam, seorang gadis sedang sibuk di meja belajarnya untuk membuat sketsa komik yang akan dia ikutsertakan pada sebuah lomba. Mika, sedang memenuhi janjinya kepada Fanya, sahabatnya.
Dia akan membuat komik strip berjudul "love story twin vampire", kisah fiktif namun penuh dengan nuansa sihir nan imajinatif. Latar yang penuh dengan keajaiban akan memberikan nilai plus di dalamnya. Mika menyeringai dengan bangga.
"Tunggu ya Fanya. Kamu pasti terkejut!"
Lalu, terlihat seseorang di ruang tengah hendak memainkan sesuatu untuk gadis yang dia tuju tepat di hadapannya mengarah ke atas di lantai dua. Mengarah kamar gadis yang dia cintai, Amika.
Seorang pria sedang mengangkat sebuah biola dan menaruh lembut di ujung dagunya yang runcing.
Dia menjulurkan penggerak dan mulai menariknya di sepanjang dawai. Not berirama jernih pun terlantun. Itulah musik. Dia memainkan komposisi dari lagu Naruto berjudul Michi to you all.
Nadanya sangat menyentuh dan indah, mampu menggetarkan jiwa, menyisir hati dan mendesir ke seluruh tubuh.
Dia bermain dan bermain, untuk mengekspresikan sebuah perasaan kepada seorang yang terkasih. Iramanya terus melompat dan menggeliat di senar.
Musik pun menjulang di tangga dan mengetuk pintu kamar seorang gadis. Bunyinya tak asing bagi dia namun sangat menarik perhatian. Sang penerima pesan pun akhirnya mendekati pintu kamarnya.
"Aluto?"
Semakin musik dimainkan semakin secercah cahaya mulai bersinar dan memberikan letupan glitter yang indah. Terdengar sedih namun ada harapan yang kuat di sana.
Pria yang kehilangan arah, akhirnya menemukan secercah cahaya. Dia mulai membuat kepastian tanpa rasa takut. Segala tentang gadis itu membuatnya yakin melangkah.
Jalan yang akan dia langkahi akan terus bertambah terang. Di mana pun gadis itu berada akan terus memberikan cahaya bagi Aruto.
"Kamu mengerti maksudku, kan Amika? Kamu mengerti maksudku, kan?" ucapnya yang masih terus menggesek dawai hingga akhir.
"Jika kamu kehilangan arah, aku akan menjadi penunjuk arah bagimu. Jika saja kamu percaya", lanjutnya.
"Aku sepenuhnya memang kehilangan arah. Dan tak dapat berbuat apa-apa", ucap Amika, seolah dia mampu mendengar pesan Aruto yang dia sampaikan kepadanya.
Mika membuka pintu, tepat saat dia mengarahkan pandangannya pada suara itu berada, tepat si Aruto menatap ke arahnya.
__ADS_1
Suara dawai terus terlantun merdu. Aruto memberikan sebuah senyuman. Mika hanya bisa terus terpana.
"Bagaimana bisa dia bermain biola seindah itu? Dan, bagaimana dia tahu tentang lagunya Aluto? Mereka, memiliki nama yang sama"
Mata Mika berkaca-kaca. Dia terus menatap yakin ke arah suaminya. Tapi, dia mulai menggigit bibir bawahnya dan kembali menurunkan pandangannya.
"Yakinlah, Amika. Berikan aku senyumanmu", batin Aruto sungguh-sungguh.
"Berikan aku senyumanmu. Berikan aku senyumanmu, Amika", pinta Aruto di dalam hati dengan terus melantunkan dawai yang akan segera berakhir.
"Jika bukan senyuman, setidaknya berikan aku suaramu. Bersuaralah Amika", pungkasnya semakin lirih. Dan musik pun berakhir.
ARUTO!!"
"Kheh, berakhir juga musik yang aku mainkan. Itulah yang ingin aku dengar", sahut Aruto merasa bangga dan menurunkan biolanya.
...****************...
"Gadis ini, kenapa dia menghapusnya dari galeriku? Untung saja di ponsel Roy masih ada. Akan kupastikan kenapa Aruto menghapus foto ini?", ucap Shelin.
Wanita seksi nan cantik, berbalut gaun slimsuit warna merah dan di tangannya ia pegang secangkir berisi anggur merah.
Shelin adalah teman masa kecil Aruto. Kehidupan bebasnya membuatnya tumbuh menjadi wanita berani yang tidak takut dengan apapun.
Seperti Aruto, dia juga memiliki masa lalu kelam yang tidak bisa diceritakan secara singkat. Tidak bisa diungkapkan begitu saja.
Dia dan Aruto memiliki komitmen bersama untuk menjalankan sebuah bisnis yang menghasilkan banyak uang.
Aruto sendiri yang memiliki bisnis paten di properti dan jasa arsitektur harus menghargai bisnis yang dijalankan Shelin, yaitu mempekerjakan para tenaga kerja. Dia pun rela untuk membantunya.
Meski tidak langsung lewat Aruto, Shelin masih bisa mendapatkan para calon itu dengan tangannya sendiri.
Banyak gadis dan wanita yang suka rela ingin bergabung ke lembaga penyalur miliknya. Karena janji dan gaji yang memastikan.
__ADS_1
Namun Shelin, tidak bermain sendiri di sana. Bersama penguasa-penguasa, Shelin selalu bisa menjalankan bisnisnya tersebut dengan sangat mudah.
"Di usiaku sekarang, aku sudah bisa menikmati kekayaan yang telah aku punya. Apakah aku akan terus seperti ini?", keluhnya.
"Hidup bergelimang harta memang sangat menyenangkan. Dan wanita mandiri, harus hidup dengan itu. Dia tidak perlu cinta ataupun kasih sayang dari orang lain"
"Banyak keluarga harmonis namun akhirnya kandas hanya karena tidak adanya harta yang mencukupi. Apalagi hidup di zaman sekarang, uang sangatlah penting"
"Akan kujaga bisnisku ini, supaya para imigranku aman dan jauh dari kemiskinan"
Shelin begitu berani mencampuradukan kebenaran dengan kebatilan. Dia memahami bisnisnya tapi niat yang dia bangun hanyalah ingin mengeluarkan manusia dari kemiskinan.
Begitu pula Aruto, dia juga mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Kebaikannya untuk menikahi gadis dari keluarga miskin dan memperbaiki ekonomi keluarganya, namun setelah gadis itu menjadi istrinya, dia berikan kepada Shelin. Sangat buruk perbuatannya tersebut.
Dengan cara itulah, dia bisa membantu dan mendukung bisnis Shelin, tanpa harus membantu mempromosikannya. Hatinya yang beku dan hidup tanpa kasih sayang, membuatnya berani melakukan perbuatannya tersebut.
"dingin", keluh Shelin karena pakaian tanpa lengannya.
"jika ada sebuah pelukan, pasti akan bisa menghangatkanku, kurasa", lanjutnya terkekeh geli.
"Lagipula, pelukan siapa yang aku inginkan? Tidak ada pelukan yang aku inginkan selain pelukan dari orang tua. Bodoh! Aku, tidak membutuhkan semua itu", pungkasnya seraya menjatuhkan gelas kosongnya ke bawah balkon. Meluncur jauh ke lantai bawah hingga tidak terlihat dan terdengar suaranya.
Shelin pun berjalan memasuki ruangannya. Melepas ujung lengan yang menyangkut di kedua pundak hingga terlepas dan jatuh ke bawah lantai.
Begitu mulus, sangat mulus kulit cantiknya. Perlahan dia berjalan menuju kamar mandi dan menyalakan shower.
Air hujan buatan pun turun membasahi rambut hitamnya yang lurus sepunggung. Gemericik air menemani suasana mandi.
"nyeesss", diiringi suara uap air hangat yang mengembun di sekujur tubuhnya dan sekitaran.
"Aku tidak membutuhkan sebuah pelukan, karna, air hangat pun sudah bisa menghangatkanku", ucap Shelin dengan hati yang mendesir. Ekspresi getir memberikan pemandangan pilu ditambah lagi rasa kesalnya terlihat saat dia menggigit bibir bawahnya.
Ruangan apartemen yang sangat luar dan mewah namun sepi tanpa kehidupan. Shelin tinggal sendiri di dalamnya. Foto-foto yang menyisakan kenangan pahit dia tengkurepkan begitu saja di atas meja.
__ADS_1
Dia masih menghargainya dengan tidak membuangnya atau menyimpannya di laci.