
Shelin telah mendapatkan kiriman shareloc dari Roy kemudian meneruskannya kepada Aruto. Aruto pun segera berkemas dan berangkat menuju alamat yang sudah diberikan oleh Shelin.
“Benar, tempat ini sesuai apa yang aku minta kepada Mika untuk dia bisa kabur dari mereka berdua”, gumam Aruto, melihat peta di map ponselnya.
Shelin sudah sampai di lokasi yang dituju, dia berjalan dan bertemu Roy dan Davin kembali. Roy melaporkan kejadiannya kepada Shelin. Kemudian Aruto datang bersama Joya dan Moya, dua ajudan kesayangannya.
“Aruto, bagaimana ini bisa terjadi?”, tanya Shelin.
“Gue juga kaget kenapa bisa begini”, balas Aruto.
"Roy! Davin! Kenapa gadis itu bisa sampai kabur segala heh?!", gerutu Shelin.
"Ma-maafkan kami Nona Bos, kami benar-benar lengah", balas Roy.
"Gue juga gak menyangka bahwa gadis itu punya rencana untuk kabur dari kedua ikan teri itu?", ucap Aruto.
"I-ikan teri?", Roy sedikit tersindir.
“Aruto, berikan foto gadis itu kepada gue”, pinta Shelin dengan cepat.
“Kau lupa ya! Gue kan gak pernah nyimpen itu foto-foto gadis”
“Kalo begitu, kembalikan uang gue!”, gertak Shelin.
“Eits! Mana bisa!, Itu kan karna paksaanmu sendiri, sehingga kau harus membayar atas perbuatanmu itu. Seenaknya saja menyuruhku begitu saja. Gue akan melepaskan diri dari elo jika elo berani menggerakkan gue!! Jika bisnismu menjadi kotor seperti ini, gue akan bawa ke ranah hukum", bantah Aruto.
“Kejam kau Aruto!!”
“Kejam? Siapa yang lebih kejam? Bukankah Elo sudah menyatakannya sendiri bahwa diriku ini budakmu? Jadi, siapa yang telah menjadi budak disini?”
“Kalo begitu, cari gadis itu! dan berikan lagi ke gue, Aruto!”
“Gue? Harus cari dia? Di tempat seperti ini? Berani bayar berapa Elo nanti?”
“Kau itu!! Seorang lelaki tapi matre sekali”, ejek Shelin.
“Itu kan hidup gue”
“Trus gimana ini?”
“Ya sudah, urusan kita selesai sampai di sini”, balas Aruto santai
“Kalian benar-benar tidak bisa menemukannya ya Hei Roy Davin?!”
“Maaf Nona Bos”
“Kalian berdua harus tanggung jawab!”, pungkas Shelin kemudian pergi untuk tidak ingin berlama-lama mengurusinya lagi.
Roy dan Davin kembali ke mobil dan mengikuti kepergian mobil Shelin. Aruto berdiam sejenak untuk mengatur rencana bersama Joya dan Moya mencari keberadaan Mika.
__ADS_1
“Gimana bisa gue mencari Mika di tempat serame ini? Gue harus berusaha”
“Joya Moya, temukan Mika sampai ketemu!”
“Baik bos!”
Aruto dan Joya Moya berpencar dan mencari Mika di setiap mata memandang. Banyak sekali orang berkerumun di jam segini. Bahkan, Aruto sendiri yang sudah mengenali wajah Mika juga sangat kesulitan mencari keberadaannya di tempat seluas itu.
“Jika kamu terus berjalan, aku akan semakin kesulitan untuk mencarimu Mika? Sebenarnya, kamu sembunyi dimana? Kamu sudah aman, karena mereka berdua sudah tidak ada”, gumam Aruto.
Sekitar satu jam Aruto mencari juga tidak ketemu. Joya dan Moya juga tidak bisa menemukannya. Aruto sendiri kelelahan karena harus terus memperhatikan wajah-wajah yang dia lewati.
“Bos, kami tidak bisa menemukan keberadaan Nona Mika”
“Kemana dia bersembunyi?”, gerutu Aruto.
“Apa aku harus menunggu hingga tempat ini benar-benar sepi? Tapi, gimana kalo Mika ternyata melarikan diri dari aku? Sial!!”
“Bos??”
“Joya Moya, gue mau tanya. Kira-kira apa yang akan terjadi dengan Mika sekarang? Menunggu kedatanganku atau dia pun juga melarikan diri dari aku?”
“Melarikan diri!”, jawab Joya Moya bersamaan.
“Kaliaaan!!”, Aruto semakin kesal.
“Trus, gimana ini bos. Kami sudah tidak mampu untuk mencarinya kembali”
“Tapi Bos?”
“Pulang aja saja! Kalian telah mematahkan semangat gue!!”
“Bos?”
“Pulang!!”
“Ba-baik bos”
Akhirnya Joya dan Moya dengan terpaksa pulang atas perintah Aruto kepada mereka. Aruto sejenak mengistirahatkan dirinya dengan duduk di pinggir taman. Melihat lalu lalang orang-orang yang melewatinya.
“Kruuk..krueeek”, suara perut Aruto
“Jezzz.. perutku sampai kelaparan”
“Apa yang bisa gue makan disini?”, Aruto mencari-cari penjual makanan yang cocok dengan selera perutnya.
Tidak ada penjual makanan mewah di sekitar bukit dan taman. Warung ataupun restoran berada jauh di seberang jalan sana. Sedangkan, Aruto sudah sangat kelelahan dan kelaparan. Akhirnya, dia mendekati penjual bakpao.
Di samping itu, Mika juga menunggu kedatangan Aruto di suatu tempat. Bukan sebuah tempat strategis karena Mika sendiri tidak tau area tempat tersebut. Dia hanya terus berada di antara banyak orang, supaya mendapat perlindungan.
__ADS_1
“Kruuk.. krueeek”, suara perut Mika
“Aku sudah sangat kelaparan”, keluh Mika.
Mika telah menyiksa dirinya sendiri, tadi malam dia tidak makan malam dan tadi pagi juga tidak sarapan. Sekarang dia harus melarikan diri dan mencari perlindungan untuk dirinya sendiri. Hanya kelelahan dan rasa semakin kelaparan yang terus menyiksa dirinya.
Mika ingin meminta tolong kepada orang-orang disekitarnya, tapi dia tidak ingin dikira pengemis oleh orang-orang di sekitarnya. Penampilannya saja sudah memperlihatkan bahwa Mika terlihat memprihatinkan. Mika mencoba menyembunyikannya dengan terus memperlihatkan wajah yang baik-baik saja.
“Apa kakak mau?”, seorang gadis kecil menghampirinya dan menawarkan separuh rotinya.
“Eh? Apakah boleh?”
“Mika, jangan mudah sekali untuk berbuat baik kepada orang yang belum kamu kenal”, ucap Ibu gadis tersebut.
“Ma-maaf ibu..”
Mika sedikit tersentak kaget bahwa nama gadis kecil tersebut sama dengan namanya, Mika. Dan gadis itu juga sedang bersama ibunya. Mika pun jadi merindukan ibunya.
Gadis kecil itu pun pergi bersama ibunya dan meninggalkan Mika tanpa bantuan sedikit pun.
“Menjadi orang yang tidak dikenal memang membuat orang mudah untuk saling mencurigai”, keluh Mika.
Seorang petugas jaga-jaga di sekitar taman menghampiri Mika karena melihat penampilan Mika yang cukup terbuka dan tanpa alas kaki.
"Nona, apa Nona pengemis di sini?"
"Eh? Apa wajahku memperlihatkan diriku seperti pengemis pak?", tanya Mika heran sendiri.
"Kalo bukan pengemis ya sudah. Tapi, tolong perhatikan penampilanmu itu ya Nona. Jika kamu bertemu dengan orang jahat, kamu bisa langsung dilahap oleh mereka", ucap petugas.
"Apa?", sinis Mika. Mika pun juga tidak mempedulikannya.
Akhirnya Mika berniat untuk kembali menyusuri jalan yang dia lalui, supaya bisa mengambil lagi pakaian dan sepatunya yang telah dia buang di tempat sampah.
"Aku tidak mengenali tempat ini.. Seriusss!!", gerutu Mika
"Bukit dan taman ini sangat luas, apa ini daerah gunung?", gumam Mika.
Mika terus berjalan sambil menebak-nebak tempat sampah yang baru saja dia gunakan untuk membuang pakaiannya, tapi juga tidak ketemu.
Mika semakin kelaparan dan kelelahan. Membuat tubuhnya semakin lemah dan memusingkan kepalanya.
Dua pria aneh tiba-tiba menghadap Mika yang berjalan tertunduk karena kelelahan.
"Hai, Nona manis.. Sendirian aja nih?", goda salah satu pria aneh tersebut.
"Gue kelaparan, bisa tidak kalian memberiku makan?"
"Oh, makan ya? Gampang itu.. Kalo gitu, yuk ikut kami", balas pria tersebut sambil memegang tangan Mika dengan paksa dan sengaja.
__ADS_1
"Ka-kalian mau apa?", seketika Mika pun sadar, bahwa dia sedang bertemu dengan orang yang hendak berbuat jahat kepadanya.