Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Menjalin Hubungan dengan Keluarga


__ADS_3

Apa yang Aruto katakan, ternyata benar dia lakukan. Dia memberikan waktu tiga hari untuk Mika menyelesaikan komiknya, baru mereka bisa saling bertemu lagi. Aruto sendiri juga akan konsisten untuk menjaga jarak dari Mika. Hanya di waktu makan saja mereka masih bisa bertatap muka.


Aruto sedang melakukan suatu perjalanan yang entah kemana dia akan pergi. Pergi sendiri tanpa ditemani dua ajudan kesayangannya. Hingga beberapa saat kemudian, perjalanannya berhenti pada sebuah proyek bangunan, proyek bangunan perumahan.


Selesai memarkirkan mobilnya dengan aman, dia mendatangi seorang pria paruh baya yang sedang mengaci dinding proyek. Perumahan yang hampir selesai karena sudah tiga bulan berjalan.


“Bagaimana kabar Anda, Pak Sudiro?”, sapa Aruto berjalan mendekat.


Sejenak pria itu memandang, lalu memorinya pun mengingatkannya, “Nak, Dhiswa?”


“Rumah ini sudah hampir selesai ya pak? setelah ini, apa Bapak masih mendapatkan job bangunan lagi?, tanya Aruto.


“Masih lah Nak Dhiswa, pemborong kami telah berencana akan membangun lagi di pojok sebelah sana”, jawab Pak Sudiro yang tidak lain adalah ayahnya Mika.


“Syukurlah”


“Bapak bersyukur masih bisa bertemu dengan Anda, Nak Dhiswa. Bisakan Bapak menanyakan sesuatu?”


“Silahkan, apa itu?”


Terlihat sangat sungkan dan malu terlukis dengan sangat jelas di raut wajah pak Sudiro. Wajah seorang ayah yang dulunya gagah sekarang terlihat sangat pucat dan lemah.


“Semenjak kegagalan Bapak menjadi lurah, rasa penyesalan Bapak seperti tidak pernah berakhir. Lalu, Anda datang untuk memberikan bantuan dengan syarat menikahi putri Bapak. Apakah benar kami sebagai keluarganya sudah tidak bisa menghubunginya lagi?”


Sejenak, Sudiro dan Aruto sama-sama memandang proses pembangunan rumah tersebut dari arah depan. Suara pekerja menjadi instrumen pembawa suasana.


“Awalnya, itu memang keputusan saya Pak, karena sebenarnya saya bukan pria baik-baik. Namun, setelah saya mengenal putri Bapak, saya akan memperkenankannya bisa bertemu kembali dengan keluarganya tapi kenyataannya Mika menolaknya sendiri”


Sekejap, tubuh seorang ayah tersebut langsung bergetar hingga kakinya tidak mampu menopang tubuhnya yang setengah gemuk itu. Lututnya terjatuh dan dia bersimpuh dengan menutup kedua mukanya. Menangisi penyesalan yang dirasa tidak akan pernah berakhir.


“Pak Sudiro?! Anda kenapa?”, Aruto pun terkejut dan merasa cemas.


Aruto yang mengimbangi dengan ikut berlutut di hadapannya, pak Sudiro langsung mencengkeram erat kedua pundak Aruto. Cukup kuat hingga membuat Aruto sedikit kesulitan.


“Bapak memang seorang ayah yang tidak berguna”, keluh Sudiro bergetar.


“Apa?”, Aruto kaget sekaligus tercengang.

__ADS_1


Rasanya jantungnya hampir saja menyempit sehingga membuat Sudiro kesulitan untuk bernafas dan mengatur keseimbangan tubuhnya, tapi Aruto langsung menyelanya lagi.


“Tidak. Jangan mengatakan hal yang buruk, Pak Sudiro. Anda seorang Ayah, kepala keluarga dan tulang punggung keluarga. Meski batu nan terjal sering memberikan masalah, tapi tetaplah menjadi seorang Ayah yang teguh”


Rasa lega cukup melonggarkan kembali nafas Sudiro. Beliau tertunduk dan masih menitikkan air mata.


“Kenapa Anda masih diselimuti perasaan sedih dan kesusahan, Pak?”, tanya Aruto heran.


“Saya bersyukur Anda telah datang untuk menolong Bapak yang sedang kesusahan ini, tapi kesedihan bapak malah semakin bertambah semenjak Mika meninggalkan Bapak”


“Bukankah Anda telah merelakannya?”


“Meskipun Bapak merelakannya, tapi hati Bapak membohongi Bapak sendiri. Bapak benar-benar merindukan Mika”, lirih Sudiro.


“Baiklah Pak Sudiro, saya akan membujuk Mika untuk menemui keluarganya kembali”, balas Aruto mencoba menenangkannya meskipun keyakinannya tidak bisa seratus persen.


“Terima kasih, Nak Dhiswa. Bapak benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan Anda”


“Mungkin takdir yang telah menuntun kita, sehingga saya bisa bertemu dengan Bapak dan bisa mengenal putri bapak dengan sangat baik”, balas Aruto ramah.


“Beda sekali dengan Mika, kenapa dia tidak jago masak padahal ibunya sendiri seorang chef”, batin Aruto menggerutu namun memuji Ibu dengan sangat baik.


“Saya harap, kedatangan saya kemari telah melegakan hati bapak, meskipun saya sendiri belum bisa menemui ibu dan keluarga di rumah”, balas Aruto.


“Terima kasih Nak Dhiswa. Terima kasih”, Pak Sudiro masih menitikkan air mata karena melihat kebesaran hati Aruto yang tidak dia sangka-sangka.


“Dan ini sedikit dari saya, semoga bisa membantu kembali”, balas Aruto seraya memberikan amplop berisi sejumlah uang yang tidak diketahui.


Aruto pun pamit. Setidaknya, dia telah memberikan kabar baik kepada ayah Mika meskipun Mika masih keukeh menjauhi keluarganya sendiri. Kedatangan Aruto pun juga tidak lain ingin menjalin hubungan yang lebih baik lagi terhadap keluarga Mika, walaupun baru ayahnya.


Aruto menjumpai kembali temannya yang bernama Vio. Mendatangi rumahnya yang disulap menjadi studio kantor. Studio illustrator art dengan Vio sendiri yang menjadi CEOnya. 


“Om Atto!!”, sapa Mayu berlari kemudian memeluk kedua kaki jenjangnya Aruto.


“Mayuchan.. Sudah lama ya kita gak ketemu lagi”, balas Aruto ramah.


“Om Atto sibuk ya? Jadi lupain Mayu. Apa ada wanita lain yang mengurungmu di rumah?”

__ADS_1


“Apa?”, Aruto tercengang penuh keheranan.


“Dasar! Naluri wanita itu sama saja. Enggak kecil gak dewasa, mudah banget cemburu dan curiga”, Aruto geleng-geleng kepala mendengar tanggapan gadis berusia lima tahun itu.


“Mayu.. gak boleh ngomong gitu”, sanggah Vio, ayahnya yang mulai mendekatinya.


“Instingmu memang selalu kuat ya Aruto. Kau datang disaat job sedang banyak, apa kau kemari hendak meminta pekerjaan dariku?”, sindir Vio.


“Meminta pekerjaan katamu?, cih! Siapa yang lebih tinggi tahtanya disini, hah?!”, balas Aruto semakin menyombong.


“Asetmu itu tidak akan bisa melejit jika tidak menggunakan tangan dewa Aruto”, lanjutnya.


“Oke-oke, sihir tanganmu itu memang sangat hebat. Tapi, tanpa pemasaran dari gue, desainmu hanya akan terus ngandang di kandang singa”, balas Vio.


“Haha.. kau benar-benar sebelas dua belas dengan istri gue!!”, gerutu Aruto seraya masuk begitu saja ke dalam kantor Vio.


“Gimana kabar istrimu? Kelihatannya kalian sudah rukun satu sama lain”


“Mika sedang sibuk menyelesaikan komiknya”


“Apa? Kenapa kau membiarkannya menyibukkan diri dengan komiknya? Dasar singa cemen!”, balas Vio tidak habis pikir.


“Apa boleh buat, dia memang lebih memilih komiknya daripada gue sendiri”


(Aruto, kok kamu nyalahin Amika sih? Bukannya kau sendiri yang menyuruhnya menyibukkan diri dengan komiknya?) 


“Astaga.. Baru tau gue kalo Singa Aruto bisa kalah gitu aja dengan komik. Istrimu benar-benar seorang malaikat”


“Akhirnya, Kau sudah mendapatkan cinta sejatimu ya, Aruto?”, tanya Amalia, istri Vio sembari meletakkan secangkir minuman untuk suami dan temannya.


“Setelah pengembaraanmu menikahi banyak gadis dan hatimu bisa juga tertuju pada satu gadis yang membuatmu tidak bisa berpaling lagi”, lanjutnya.


“Meski begitu, aku masih belum sempurna dalam memikat hatinya”, balas Aruto pesimis.


“Ahaha.. jangan pesimis gitu. Gue aja yang sama Amalia sudah tujuh tahun ini berjalan juga masih merasakan asam manis asinnya rumah tangga. Jadi, tetaplah perjuangkan cintamu dan kokohkan rumah tanggamu itu, Aruto”, sahut Vio menepuk pundak Aruto.


"Jadi, Om Atto udah punya istri?", tanya Mayu menyela dengan cemberut.

__ADS_1


__ADS_2