Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Karaokean bersama Suami


__ADS_3

Ricky meninggalkan Mika. Dia tidak ingin jika dua sahabat Mika melihatnya. Kenapa? Karena, Ricky tidak ingin kisah cintanya bersama Mika diketahui oleh banyak orang.


Mika dan Ricky adalah dua insan yang melakukan pacaran secara sembunyi-sembunyi. Meskipun Mika menceritakan hubungannya kepada dua sahabatnya, tapi Ricky lebih tertutup daripada Mika.


Ricky tidak percaya diri menjalin hubungan cintanya kepada Mika, sehingga membuatnya menjadi tidak yakin akan akhir dari kisah cintanya.


Mika juga tidak percaya diri menjalin hubungan cintanya kepada Ricky, tapi dia sangat berharap bisa menikah dengan Ricky suatu saat nanti.


Sekarang, Mika akhirnya tahu ending apa yang akan dia dapatkan setelah pernyataan yang diucapkan Ricky. Ketulusan cintanya kepada Ricky akan mulai luntur.


Mika sudah tidak berselera lagi untuk kembali ke komunitas dan menemui kedua sahabatnya. Dia terus berjalan menyurusi pinggir jalan dan membiarkan kakinya melangkah entah kemana.


Aruto yang sejak awal berencana membuntuti kemana Mika pergi, dia langsung berhasil menemukannya setelah menyelesaikan secepat mungkin urusannya dengan Shelin.


"Mika?", ucap Aruto yang telah menghentikan mobilnya di depan Mika dan menyapanya.


"Kamu?", sahut Mika.


"Kamu?", gumam Aruto. "Dia masih belum tahu siapa namaku", batinnya.


"Masuklah. Ayo kita pulang", ajak Aruto.


"Gak mau"


"Kamu mau kemana?"


"Gak tau"


"Haish! Mulai lagi", gerutu Aruto di dalam hati.


"Ikutlah denganku, aku akan membawamu ke suatu tempat. Kamu pasti suka"


"Kemana?"


"Ikut aja!", pinta Aruto mencoba meraih tangan Mika, namun seketika Mika menolak.


Aruto akan mengajak Mika ke karaoke. Meskipun Mika menolak, akhirnya Aruto mengangkat tubuh Mika dengan paksa dan memasukkannya ke dalam mobil.


Mika terdiam dan tertunduk sedangkan Aruto terus fokus dalam mengemudi mobil civicnya.


Perjalanan terlihat hening hingga mereka berdua telah sampai di sebuah gedung karaoke. Karaoke keluarga tepatnya.


Aruto berjalan memandu Mika melewati lorong karaoke kemudian masuk ke dalam salah satu room karaoke yang cukup untuk mereka berdua.


"Apa kamu pernah main ke karaoke?" tanya Aruto sembari menyalakan model lampu yang cocok untuk dirinya dan Mika.


"Pernah", jawab Mika singkat.


"Ooh.. Tidak takut main ke karaoke?"


"Emang ada apanya? Aku biasa main ke karaoke sama Fanya dan Astha. Gak ada yang aneh tuh", jawab Mika mulai panjang.


"Ooh.."


"Berikan microfonnya", pinta Mika langsung.

__ADS_1


"Eh?", Aruto bingung.


"Berikan microfonnya!", ucap Mika lagi.


Aruto pun memberikan microfon kepada Mika dan layar sentuh untuk memilih lagu.


"Menyanyilah apapun yang kamu suka. Aku akan menunggumu disini". Sahut Aruto.


"Hah! Menyanyi adalah kesukaanku. Aku akan terus menyanyi di sini apapun yang akan terjadi!"


Mika mulai mengatur nafas dan mulai bernyanyi sesuka hatinya. Tidak peduli Aruto akan mengomentarinya ataupun mengomel-omel tidak jelas.


Aruto sendiri juga tidak akan mempermasalahkannya, dia melakukannya hanya untuk Mika dan membiarkannya.


Benar-benar nada lagu yang dinyanyikan Mika campur aduk. Mika tidak bisa mengimbangi nada lagu dengan perasaannya yang tertekan.


"Terserah kamulah, Mika", keluh Aruto membiarkannya.


Lagu-lagu anime yang selalu Mika nyanyikan. Dia terus mengeluarkan emosi yang tertahan tapi tidak bisa merasa puas. Dia mencoba untuk menyanyi lagi, tapi tidak bisa membuatnya lega.


Mika kesal dan semakin kesal. Saat dia menanyikan lagu owaranai melody dari anime kamisama no inai nichiyoubi dan sampai pada reff dia langsung menangis keras.


Melengung panjang untuk mengeluarkan tangisannya yang sangat menyiksa hati. Terus menangis diiringi nyanyian yang terus dia lanjutkan.


Aruto tersentuh tapi dia tetap bertahan untuk membiarkan Mika mengeluarkan semua yang menyiksa hatinya.


Mika melaungkan tangisannya hingga benar-benar menggema di dalam ruangan. Pada akhirnya dia menjatuhkan lututnya untuk kemudian menangis terisak-isak, menyerah kepada semua keadaan.


Lagu pun selesai, suasana menjadi hening hanya tinggal isakan tangis Mika yang masih tersisa. Dia mulai membenci dirinya dan menggerutu tidak jelas.


"Amika"


Panggil Aruto bertekuk lutut tepat di hadapan Mika yang masih menundukkan kepala karena batu besar masih menimpa kepalanya.


"Kenapa kamu harus menangis sampai seperti ini? Kamu mau menghancurkan dirimu sendiri?"


"Umm.."


"Banyak hal yang memang perlu disesali, tapi tetap carilah sesuatu yang dapat memuaskan hatimu. Supaya kamu bisa terus menjalani hidup dengan baik"


"Aku tidak peduli"


"AMIKA!!"


"AKU TIDAK PEDULI!!"


Seketika Mika mendorong pundak Aruto hingga Aruto terjatuh. Mika menindih tubuh Aruto dan hendak mencekik lehernya.


Aruto hanya bisa menatap yakin ke wajah Mika yang sangat kacau dan berantakan.


"Aku tidak peduli Aku tidak peduli Aku tidak peduli", ucap Mika semakin mencekik leher Aruto hingga membuat Aruto menahan diri dan sedikit terbatuk-batuk.


Namun, perlahan kekuatan Mika melemah karena diiringi tangisan lagi. Tetesan air mata jatuh tepat di wajah Aruto seperti air hujan.


"Asin"

__ADS_1


"Hik hik hiks"


"Geli"


"Hik hik hiks"


"Asin. Air matamu itu asin, Mika", keluh Aruto.


"Eheh.. He he.. He he", tangisan Mika mulai diiringi tawa kecil, gigi taringnya yang kecil mulai terlihat lucu saat Mika menyeringai.


"Berhentilah menangis karena wajahku mulai gatal", gerutu Aruto mengalihkan perhatian.


"Ehehe hehe hehe"


"Mika! Aku bisa mati geli kalo kamu gak berhenti menangis. Kamu tau, perawatan wajahku ini sangat mahal!"


"Ahahahaha"


"Ahahahaha"


"Matilah sekarang kalo kamu bisa", canda Mika dengan semakin berani menjilat air matanya yang menetes di wajah Aruto.


"AMIKA!!"


Akhirnya Aruto mendorong pundak Mika sehingga Mika kembali duduk dengan posisi W. Aruto pun menirunya.


Mika manyun dan merasa malu karena telah selesai menangis. Hatinya sudah merasa sangat lega.


"Sudah lebih baik?", tanya Aruto.


"Kenapa kamu peduli?"


"Apa? Umm.. Karna aku suamimu", jawab Aruto merendah. Merasa dirinya kurang percaya diri untuk mengucapkannya, akhirnya dia mengulanginya dengan lebih tegas.


"Karna aku suamimu, Mika", ucapnya tegas namun lebih lemah lembut.


"Suami?", Mika masih mempertanyakannya.


"Kamu adalah istriku. Aku akan menjagamu dan lebih melindungimu. Setidaknya untuk sekarang. Tapi, akan aku pastikan bahwa aku akan menjadi pelengkap hidupnya hingga akhir yang tidak diketahui"


"Bisakah aku mempercayaimu?"


"Tentu saja. Percayalah kepadaku"


"Apa kamu bisa dipercaya?"


"Yup!", balas Aruto tersenyum


"Gyaha.. Aku mencintaimu!", ucap Mika spontan dan langsung memeluk Aruto.


"Apa? Kamu mengatakan apa tadi?", tanya Aruto seolah tidak percaya apa yang baru saja dia dengar.


Mika kemudian membalasnya dengan menggeleng-gelengkan kepala. Mengusap-usap kepalanya di leher dan pundak suaminya.


"Mika, katakan. Kamu tadi bicara apa?"

__ADS_1


Mika tetap tidak ingin mengakuinya. Dia hanya terus memeluk gemas kepada suaminya tersebut.


__ADS_2