
“Lepaskan..”, ucap Mika dengan nada bergetar, sebab dia sudah tidak bisa menahan lagi perutnya yang lapar.
“Le-pas-kan dia!!”, teriak Aruto.
Tepat setelah itu, Aruto datang dengan tinjunya mengarah langsung ke muka pria yang memegang tangan Mika dengan paksa. Seketika pria itu melayang dan terjatuh.
“Dashh!! Bruk!!”
“Dasar bengee**!!” Pria satu lagi bersiap memukul Aruto dari arah belakang. Tapi Aruto segera memberikan tendangan memutarnya dan berhasil mengenai tengkuk leher pria tersebut hingga dia menggelundung di tanah.
“Kick!! Dashh! Brukk!”
“Heh! Dasar brandal teri! Berani sekali kalian menyentuh istri gue!!”, bentak Aruto dengan gaya angkuhnya yang ditambahi bumbu-bumbu kecerewetannya.
"Jangan berani lagi kalian berkeliaran di taman ini! Mengerti?!"
"Me me mengerti.. Maafkan kami.."
Aruto terus berkacak pinggang serta tidak henti-hentinya mengomel dan menceramahi dua brandal teri tersebut.
Akhirnya, dua pria yang telah kalah dari Aruto langsung melarikan diri. Namun, kejadian tersebut ternyata menarik perhatian para pasang mata. Pengunjung saling memberikan tatapan tajam dan bisikan-bisikan semu.
“Benarkah dia suaminya? Kenapa garang sekali?”
“Iya. Ganteng banget sih, tapi sadis!”
“Kak, kamu gakpapa?”, tanya seorang remaja yang mencoba membantu Mika menegakkan tubuhnya yang mulai lemah.
“I-iyaa..”, jawab Mika lelah.
Aruto pun langsung memberikan tatapan tajam ke arah remaja tersebut. Nyalinya pun langsung menciut, “K-Kak.. apa pria tersebut beneran suamimu?”, tanya dia.
“Uumm..”, respon Mika menundukkan kepala dan memalingkan mata.
“Gadis itu, masih acuh saja sama gue”, gumam Aruto.
“Kakak, kalo pria itu juga pria jahat, kami siap melindungimu kok. Jadi, katakan yang sebenarnya kak, jangan takut. Iya gak para warga?”, ucap remaja tersebut.
“Te-terima kasih”, balas Mika lirih.
“Apa? Di-dia malah berterima kasih. Dasar kau ya AMIKA! Akan kubalas kau nanti di rumah!”, batin Aruto kesal.
“Tuan, sebenarnya Anda siapanya gadis ini?”, tanya seorang nenek.
“Aku? Ehhem!! Saya?, Sa-saya suaminya lah Nek! Eh, Neek..”, ucap Aruto mencoba sopan.
__ADS_1
“Nona, sebenarnya pria ini siapanya nona?”, tanya nenek itu balik.
“Su- su..”, Mika sangat berat mengatakannya.
“Amika!! Katakan dengan jelas kalo aku ini suamimu! SU A MI MU!”
“Di-dia suami saya Nek..”, akhirnya Mika mengungkapkannya dengan sangat berat hati. Para warga pun langsung membuang nafas tegangnya.
“Ooh.. suaminya.. mau ngakuin aja kok susah”, sindir seorang warga.
“Karna suaminya galak mungkin dia jadi takut”
“Iya. Aku khawatir, nanti saat di rumah gadis itu akan mengalami KDRT”
“Iiiddiih.. gadisnya imut gitu masa tega sih suami gantengnya KDRT in dia”
“Udah-udah.. kita pergi aja”
Warga pun mulai melanjutkan aktifitasnya masing-masing. Aruto masih berdiri tegak di tempatnya berada sedangkan Amika terduduk lemas dan sudah hampir menutup matanya karena kelaparan.
“Apa kamu ingin pulang? Amika?”, tanya Aruto mencoba lembut.
“Um”, balas Mika menunduk patuh.
Dua ajudan kesayangannya berlari menghampiri mereka berdua, “Bos?”
“Kukira kalian pulang? Ternyata, Kalian memang sangat setia kepadaku”, puji Aruto
Joya dan Moya hanya merengeh bangga.
Di dalam mobil, Mika tertidur di pangkuan Aruto. Wajahnya sangat pucat dan hampir saja rasa kelaparannya membunuhnya di taman. Beruntung Aruto telah menyelamatkannya. Kini, mereka berdua bisa kembali pulang ke rumah kesayangannya.
Sampai di rumah, Aruto menggendong Mika dan membawanya ke kamar. Membaringkannya kembali di kasur idaman Mika.
“Kamar ini, akan menjadi kamar kesayanganmu selamanya, Mika”, ucap Aruto
Melihat kondisi Mika yang berantakan, Aruto dengan tulus membenahkannya. Dia mulai membersihkan perlahan-lahan telapak kaki Mika yang sedari tadi berjalan tanpa alas kaki.
Mika memang sudah menahan lapar cukup lama sehingga badannya kehilangan energi. Jika sudah kehilangan energi cukup banyak, Mika hanya akan mengantuk dan tidur untuk menyimpan sisa energinya tersebut.
Pria tanpa perasaan itu pun tidak merasa malu untuk mengganti pakaian Mika. Dia melepas kaos hitam yang melekat di tubuh Mika dan menggantinya dengan pakaian yang telah dia ambil dari lemari pakaian.
Setelah itu, Aruto begitu detail membersihkan kulit-kulit lembab Mika menggunakan tisu. Tapi, dia mulai menggerutu lagi karena melihat model rambut Mika yang acak-acakan, model rambut wolfcutnya.
“Model rambut apaan ini?! Sampe poninya menutupi mata. Dia ini gak seperti gadis tapi seperti pria gondrong yang tidak menarik sama sekali!”
__ADS_1
“Tapi, ini sangat cocok dan imut. Imut sekali”, Aruto tanpa sadar terbuai dan terus merapikan rambut Mika.
“Imut sekali.. Imut.. imut.. imut.. imut.. imut..”
Lama-lama Aruto dihantui oleh hatinya yang paling dalam. Dia pun langsung mengomel lagi, “Keterlaluan! Gue ini kenapa!! Gue ini kenapa sebenarnya!! Hah! Hah! Haaah!!”, gerutu Aruto sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Berjalan keluar dengan kaki terus melangkah kesal seperti seekor badak. Hidungnya terus kembang kempis seperti seekor banteng.
“Setelah dia sadar, gue tetep akan buat perhitungan sama dia!!”
“Kerling-kerling”, suara ponsel Mika.
“Suara apa itu? Suara ponsel Mika?”
Aruto penasaran dan mendekati ponsel Mika yang berada di atas meja belajarnya. Dia semakin penasaran karena layar ponsel tersebut menyala dan bergambar sebuah sketsa anime.
“Apa dia pandai menggambar?”, gumam Aruto sambil melirik ke Mika.
Aruto mengambil ponsel Mika dengan santai, mengusap kunci dan layar pun seketika terbuka, “Eh? Tidak dikunci? Hm.. sembrono sekali..”
“Banyak sekali pesan WA nya, ya ampun. Dia memiliki dua sahabat yang sangat merepotkan”,
“Eh, tunggu.. ini siapa ini..”
Sebuah panggilan telepon pun langsung mengagetkan tangan Aruto, beruntung ponsel tidak jatuh dan merusak keadaan. Aruto pun langsung mengubahnya menjadi silent mode.
Aruto mencoba tenang dan menebak-nebak, “Nama seorang cowok? Kan?”
Aruto membaca nama kontak yang menelepon Mika, dia seorang cowok bernama Ricky. Dia terus menunggu hingga panggilan berhenti. Tapi, panggilan itu muncul lagi, hingga beberapa kali.
Setelah selesai dan cukup menguji ketenangan Aruto, Aruto mulai menarik notifikasi untuk mencari tahu, bahwa Ricky kemudian mengirim sebuah pesan.
“Mika? Kamu dimana sih? Kok WA ku gak kamu balas-balas. Aku kangen nih”
“Bbh?, Ka-kangen? Co-cowoknya kah?”
Aruto mengalihkan pandangannya karena pipinya sedikit tersipu malu dan tidak percaya bahwa Mika memilliki seorang pacar.
Aruto mulai kesal kembali, perasaannya tergugah dan semakin penasaran dengan rahasia Mika.
“Okei.. Mika, teruslah membuatku kecewa. Dan, sentuhlah hatiku dengan emosi-emosi beragammu itu. Karna aku akan terus mengurungmu di sini. Di kamar kesayanganmu sendiri”, pungkas Aruto.
Aruto menyibukkan diri di ruang kerjanya dengan melanjutkan project desain arsiteknya. Dia sebenarnya juga masih ada PR dari clien untuk membuatkan desain arsitektur rumah, rumah mewah berlantai dua dengan gaya minimalis.
Projectnya sudah dia selesaikan 80%, dan dia akan menyelesaikannya secepat mungkin untuk kembali menyibukkan dirinya berurusan dengan Mika.
__ADS_1