
Hari sudah petang, Mika mulai membuka mata untuk bangun dari tidurnya. Kemudian, sejenak dia memandang kosong ke arah langit-langit kamarnya dan tersenyum kecil.
Tiba-tiba rasa laparnya pun mulai mengganggunya lagi, sedikit perih hingga dia menahannya dengan kedua tangannya.
Mika keluar kamar dan perlahan demi perlahan menuruni tangga dengan tubuh yang gemetaran. Mika berjalan menuju dapur untuk mencari makanan yang bisa memenuhi rasa laparnya tersebut.
“Aku lapar”, ucapnya mengarah kepada "suami" yang membelakanginya karena sedang memasak sup di atas kompor.
“Duduklah”, jawabnya singkat.
Pria yang menjadi suami Mika terlihat sangat keren dan keibuan saat memakai epron dan memasak tepat di hadapannya. Mika sendiri sebagai istrinya sedikit bisa menunjukkan senyum kecilnya lagi.
“Sebelum kamu makan, makanlah ini”, pinta Aruto memberikan sebiji obat mag untuk istrinya.
Mika sedikit kaget dan ingin menolak, “Untuk apa?”, tanyanya sambil duduk manis dan melipat tangan di atas meja.
“Supaya perutmu tidak kaget dan tiba-tiba kesakitan”, jawab Aruto
“Tidak usah. Aku sudah terbiasa seperti ini. Jadi, itu tidak masalah bagiku”
“Ceklek”. Sejenak Aruto mematikan kompor dan menyelesaikan acara memasaknya.
Dia menata beberapa makanan di atas meja, kemudian melepas epron dan menaruhnya di tempatnya semula. Perlahan mendekati Mika dan menatap serius untuk mensejajarkan mukanya kepadanya.
“Minumlah. Ato aku yang akan meminumkan obat ini untukmu, Mika”, ucap Aruto serius.
“Gak mau!”
Mata kanan Aruto bergetar lagi.
“A MI KAA!!” bentak Aruto tepat di wajah istrinya. Sedikit menyesal namun terpaksa karena harus membentaknya lagi.
"Haa ah.. Apa kamu masih belum bisa mempercayaiku?", tanya Aruto sambil menarik kembali kepalanya dan menyandarkan tubuhnya di meja makan dengan melipat tangan.
"Aku tidak akan pernah mempercayai seorang pria pun di dalam hidupku!", jawab Mika yakin.
"Kenapa begitu?"
"Ayah saja telah menghancurkan sendiri keluarganya, kakakku juga adalah pria lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dan kamu"
"Aku? Apa yang bisa kamu katakan tentang diriku Amika?"
"Kamu hanya akan terus menikahi wanita dan menjualnya begitu saja", balas Mika gampang.
Dahi Aruto mulai kesal. Giginya gemeretak dan jari jemarinya bergerak kaku tak menentu. Dia pun menghela nafas sabar.
"Lalu, cowokmu itu?", ucapnya samar.
"Maksudnya?"
"Cowokmu itu, Mika.. Kamu masih punya pacar sedangkan kamu sudah punya suami sekarang, Hah?! Apa kamu lebih mempercayainya daripada aku?"
Mika yang berganti kesal. Dahinya ikut bergetar dan hidungnya kembang kempis menahan rasa malu dan kesal.
"Iya! Aku masih punya pacar. Apa itu masalah buat lo?! Percaya atau tidaknya itu terserah gue!"
"Amika!! Jaga bicaramu! Kita suami istri tidak boleh saling memanggil dengan Elo ataupun gue, mengerti?!"
__ADS_1
"Suami Istri? Aku aja masih tidak percaya dengan sandiwaramu itu. Kenapa kamu harus repot-repot mencoba serius dengan hubungan kita ini"
"AMIKA!!"
"Dasar Pria jahat! Hemph!!"
"P-p-pria jahat? Katamu?"
"AMIKA!!", seketika Aruto langsung mencium mulut Mika lagi dengan paksa.
"Chuuph!"
Semakin erat saat Mika akan memberontak lagi. Aruto memegangi kepala Mika dengan kedua tangannya dan menciumnya lebih dalam.
"He-hentikan itu!!", bantah Mika terengah-engah dengan wajah sangat merah dan mata berkunang-kunang.
"Muka mulutmu"
"Gak mau.."
"Buka mulutmu! Amika!!"
Mika memejamkan mata karena kaget dengan bentakan Aruto lagi. Dia pun membuka mulutnya dan Aruto pun memasukkan obat tersebut ke dalam mulut Mika dengan kedua jarinya. Mika yang usil, langsung menggigit jari Aruto hingga dia sedikit melonjak menahan kesakitan.
"Sakit", ucap Aruto
"Rasain", ucap Mika masih menggigit jari Aruto.
“Le-paskan Mika..”, pinta Aruto berusaha sabar.
Mika pun melepaskan gigitannya, sontak bekas gigitan Mika menempel di jari Aruto. Mika menghela napas puas sambil mengemut habis obat mag tersebut.
“Tahan 30 menit sebelum kamu makan”, pinta Aruto.
“Eh?”, seketika Mika pun kaget, dia juga baru sadar bahwa setelah minum obat mag harus menahan waktu beberapa menit sebelum makan. Dia mulai sedikit merengek karena sudah merasa kelaparan akut.
“Gak mauu.. aku sudah lapar.. aku sudah kelaparan”, gerutu Mika sambil menyandarkan kepalanya di atas meja dengan air mata buayanya.
"Ceramahmu semakin membuat perutku semakin sakit saja", gerutu Mika.
"Bilang apa lagi kamu?!"
Tiba-tiba Aruto mendapat panggilan melalui earphonenya.
“Bos?”
“Ada apa?”
“Ki-kita kedatangan tamu”
“Siapa?”
“Dua orang gadis bos. Sangat manis dan cantik”
“Dua orang?”
“Katanya, mereka adalah sahabat dekatnya Nona Mika”
__ADS_1
“Sa-ha-bat dekatnya?”, ucap Aruto merendahkan suaranya sambil melirik Mika yang masih menyandarkan kepalanya di atas meja.
“Baiklah. Antar mereka berdua masuk”, pungkas Aruto.
Joya mengantarkan dua sahabat Mika masuk ke dalam rumah, berjalan dan menemui sebuah ruangan luas yaitu ruang tengah keluarga Aruto.
“Mika.. Kami datang”, ucap Fanya. Suaranya menggema ke seluruh ruangan.
"Sugooii..", puji Astha.
Seketika Mika kaget dan mengangkat kepalanya, “Fanya?”
“Apa, teman-temanku datang ke sini?”, tanya Mika kepada Aruto
“Tuh”, jawab Aruto mengangkat dagunya mengarah ke kedatangan Fanya dan Astha.
Seketika Mika beranjak dan hendak berlari menemui mereka berdua, tapi Aruto langsung menarik kerah baju belakang Mika hingga Mika sedikit tercekik.
“Makanlah dulu. Biar aku yang akan temui mereka”, pinta Aruto
"Yahaa.. akhirnya aku bisa makan juga”, balas Mika lebih fokus kepada makanannya daripada kedua sahabatnya.
“Bos?”, ucap Joya menoleh kepada Aruto yang datang dari arah dapur.
“B-bos?”, gumam Astha sedikit ngeri.
Fanya dan Astha terpaku sejenak melihat kedatangan pria yang menjadi suami Mika sekaligus Bos bagi dua ajudannya. Auranya sungguh berkilau dan berwibawa.
Rambut belah miring dengan disilakan ke atas menambah ketampanan dan memikat hati bagi yang melihatnya.
Joya pun meninggalkan tempat dan Aruto menyambut kedatangan Fanya dan Astha dengan sikap dingin dan angkuh. Tapi, mereka berdua harus terus bisa menahan rasa ketakutannya demi bisa bertemu dengan Mika.
Aruto melipat tangannya dan menatap tajam ke arah mereka berdua. Keringat dingin membuat Fanya dan Astha berdiri tak berkutik karena merasa banyak aura hitam mengelilingi mereka.
“Bobobobobo..”, ucap Fanya terbata-bata.
Astha pun langsung menepuk pundaknya.
“Boleh kami bertemu dengan Mika?”, ucap Fanya seketika.
“Dia sedang makan”, balas Aruto
“Ooo.. I iya.. iya, kami akan tunggu”, ucap Fanya
“Kalo kalian ingin makan juga boleh kok, silahkan saja", ucap Aruto santai.
"Bebebebebe", Fanya kembali terbata-bata.
Astha menepuk kembali pundaknya.
"Benarkah kami boleh makan bersama Mika?", tanya Fanya berani.
"Fanya.. Jangan membuatnya semakin marah. Dia itu kan tidak punya hati. Wajahnya aja malaikat tapi hatinya Iblis", bisik Astha.
"Gadis-gadis zaman sekarang gampang sekali bicara seenak jidatnya", batin Aruto mendengar bisikan Astha.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Hah?!"
__ADS_1
"Hooweeee eee", Fanya dan Astha semakin merunduk ketakutan.