Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Kecewa dengan Bersikap Dingin


__ADS_3

"Mika! Bangun!", pinta Fanya seraya langsung melompat ke atas kasur, membuat Mika seketika melonjak kaget.


"Uwa!"


"A-ada apa ini?", tanya Mika setengah tidur dengan gelembung-gelembung ngantuknya masih meletup-letup di atas kepalanya.


Fanya sengaja membangunkan Mika untuk segera sarapan bersama suaminya. Astha sibuk mencarikan baju yang cocok untuk dirinya.


"Kalian mau apa?", Mika masih menggaruk-garuk kepala dan mengucek-ucek matanya.


"Udah ayo bangun"


Fanya menarik kedua tangan Mika untuk bangun dan turun dari kasur. Mika masih belum bisa mengendalikan dirinya. Kemudian, Astha membantu dengan mendorongnya segera masuk ke kamar mandi.


"Kalian mau apa sih?"


Kedua gadis itu benar-benar menyibukkan dirinya untuk Mika. Saat mereka bertiga sudah masuk ke dalam kamar mandi, Fanya mencoba melepas pakaian Mika dan Astha yang akan melepas celananya.


Perbuatan mereka seketika membuat Mika menjerit kaget dan menolak perbuatan Fanya dan Astha. Namun, Fanya dan Astha terus memaksa hingga Mika benar-benar telah mereka selesai mandikan.


"Keterlaluan kalian, berani banget menyentuhku seenaknya saja!", ketus Mika mengunci dirinya menggunakan handuk.


"Ini bajunya Sang Ratu", canda Astha tidak mempedulikan amarah Mika.


"Hff. Gue akan pake sendiri!", Mika langsung menarik paksa pemberian baju Astha.


Aruto sudah menunggu Mika di meja makan, sebelum Mika datang dia sedang serius dengan ponsel dan ipadnya.


Tangannya begitu lihai menggerakkan stylus pen. Sepertinya dia sedang sibuk menyelesaikan projeknya lagi. Saat sendiri, Aruto memang sangat suka menyibukkan dirinya dengan projek di ipadnya.


Mika datang dengan pakaian rapi, sehelai kepang dan jepit rambut mempercantik rambutnya.


Namun semua itu, entah kenapa tidak menarik perhatian bagi Aruto. Aruto menjadi dingin dan bersikap acuh kepadanya.


"Rapi banget, mau kemana?", tanya Aruto menghentikan projeknya.


"Gak kemana-mana, cuma mau makan", jawab Mika mengalihkan matanya.


"Ya sudah. Duduklah, sebelum sarapannya keburu dingin"


"Umm.."


Suasana sarapan suami istri tersebut tidak terlihat romantis satu sama lain. Mika canggung dan Aruto terlihat dingin. Penampilan Mika pun, Aruto tidak memujinya. Namun, apa untungnya bagi Mika, Mika tidak mengharapkan itu. Hanya saja, dia sedikit tersinggung melihat sikap Aruto yang tiba-tiba dingin.


"Boleh makan sekarang?"


"Makanlah"


Aruto mulai mengambil suapan pertama untuk dirinya sendiri. Dia terus makan sendiri seolah tidak menghiraukan Mika yang masih bingung melihat makanannya sendiri.


"Hm, dia kenapa?", batin Mika.


"Dia memang sangat hebat dan serius dengan pekerjaannya. Aku, tidak pantas untuk menyukainya. Mungkin, takdirku sekarang memang begini. Gak tau besok akan gimana", keluh Mika merasa sedih hingga dia tidak kuasa menelan makanannya sendiri.


"Aku yakin, suaminya pasti terpesona melihat kecantikan Mika", bisik Fanya mengintip bersama Astha.

__ADS_1


"Tapi, dia terlihat dingin gitu", balas Astha.


"Iya juga sih. Whats wrong about him? Kenapa suasananya jadi garing gitu?", ketus Fanya.


"Kapan dua sahabatmu itu akan pulang?", tanya Aruto.


"Eh? Umm.. gak tau"


"Huuff", Aruto menghela nafas kemudian tiba-tiba sarapannya pun telah selesai. Dia berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Mika.


Mika masih tertunduk fokus menikmati makanannya, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Aruto. Aruto melirik tapi Mika masih diam saja.


Mika menggigit bibir bawahnya karena merasakan sesak hati, sedikit kecewa dan merasa terabaikan.


"Seperti inikah rasanya? Diabaikan", keluh Mika.


"Mika, ada apa dengan suamimu?", tanya Fanya heran berjalan menghampirinya di meja makan.


"Entahlah"


"Mika, setelah ini apa kita bisa pergi ke alun-alun bersama?"


"Alun-alun?"


"Iya! Hari ini komunitas jepang kita sedang mengadakan pertemuan, kita datang yuk", lanjut Fanya dengan nada lebih ceria.


"Baiklah"


"Okei. Aku akan pesankan car online kalo gitu"


"Bagaimana dengan suamimu, Mika?"


"Umm.."


"Iya bener. Kamu harus minta izin dulu sama suamimu, Mika. Biar dapat ridho"


"Kalian.. Jangan terus memprovokasiku dengan kata-kata suami deh. Aku gak nyaman dengernya!", keluh Mika.


"Apa? Mika..", Fanya pun menjadi tersinggung atas tanggapan Mika sendiri.


"Ya sudah. Kita tunggu diluar aja yah. Kamu, selesaikan aja dulu sarapannya. Ayo, Astha"


Fanya bingung menghadapi Mika yang masih keras kepala dan terus menghindarkan diri. Dia akhirnya menyerah dan sejenak membiarkan Mika menghadapi masalahnya sendiri.


"Gimana ini, Mika semakin rumit saja buat kita", keluh Astha.


"Aku juga bingung, kenapa dia punya sikap keras kepala seperti itu ya? Padahal dulu sebelum dia nikah, persahabatan kita enjoy-enjoy aja"


"Terus kita jadi ke alun-alun sama Mika gak Fanya?"


"Gak tau. Kita tunggu aja dulu untuk beberapa menit. Kalo dia tidak keluar, terpaksa kita berangkat sendiri"


"Kalian mau kemana?", tiba-tiba Aruto mengagetkan Fanya dan Astha dari balik pilar rumahnya.


"Omo! Oppa?! Ki ki ki ki ki ki"

__ADS_1


"Kita mau ke alun-alun", jawab Astha mengganti ucapan Fanya.


"Ada apa di alun-alun?"


"Itu.. umm.. ada pertemuan komunitas jejepangan kita"


"Apa pacarnya akan ada di sana juga?"


"Apa?!", sontak Fanya kaget dengan histeris dan langsung menutup mulutnya.


"Maafkan kami, Oppa. Kami.. tidak tahu soal itu", balas Fanya memalingkan mukanya.


"Cih! Kenapa gue harus bertemu dengan gadis-gadis menyebalkan seperti ini?", gerutu Aruto di dalam hati.


"Oppa, apa kamu akan mengizinkan Mika ikut dengan kami?"


"Pergilah", pungkas Aruto kemudian meninggalkan mereka semua.


Mika kemudian keluar dengan menggendong tas ranselnya, ekspresinya tiba-tiba sudah cukup melegakan untuk dilihat.


"Gals! Ayo!", ajak Mika.


"Tidak apa-apa? Kalo kamu gak izin sama suamimu, Mika?", tanya Fanya berat hati.


"Ayo Gals, ini udah jam berapa?!"


Mika mengacuhkan ucapan Fanya dan berjalan mendahului mereka. Fanya dan Astha hanya bisa pasrah.


Setelah mereka berada di pinggir jalan, Astha baru sadar bahwa dia belum memesan car onlinenya. Sehingga, mereka menunggu cukup lama untuk itu.


Fanya dan Astha menjadi canggung hendak mengajak Mika berbincang. Tapi, Mika langsung menyela.


"Ada agenda apa aja nanti yang akan dibahas komunitas?"


"Eh.. Itu.. Sebentar-sebentar, aku ingat-ingat dulu, hehe"


"Lumayan sih. Beberapa hari ke depan akan ada J-fest jadi kita akan sibuk untuk ikut serta. Seperti bikin cosplay, bikin aksesoris buat dijual di stand gitu sama persiapan perform bila perlu"


"Wah, banyak juga yah"


"Apa kamu mau nyumbang lagu, Mika?"


"Ide bagus itu. Mau donk gue"


"Dasar Mika! Elo tuh bikin kita khawatir tau. Tapi, kamu malah asik diajak ngobrol tentang jejepangan gini"


"Ahaha sudahlah. Eh, itu mobilnya kah Astha?"


"O iya bener. Platnya bener kok"


Mereka bertiga pun menaiki car online. Segaris senyum terlukis dibibir Mika karena dia telah mendapat pesan dari pacarnya bahwa mereka berdua akan ketemuan di alun-alun juga.


Fanya dan Astha tersenyum lega melihat ekspresi Mika yang sudah terlihat gembira seperti biasanya, padahal mereka tidak tau maksud dari perilaku Mika.


Di samping itu, Aruto selalu saja kesal menghadapi tingkah dan keras kepalanya Mika, tapi hatinya sudah tidak bisa dia bohongi sendiri.

__ADS_1


..."Seberapa keras kamu mencoba itu tidak akan berpengaruh padaku!"...


Menjadi tertekan dan sesak hati jika dia akan mengalami cinta bertepuk sebelah tangan.


__ADS_2