
"Pyar!!", suara piring pecah.
Aruto tanpa sengaja menjatuhkan dua piring yang akan dia taruh di meja makan.
"Terjadi lagi", keluhnya.
"Tangan ini, ada apa sebenarnya?"
Aruto sejenak mengingat kembali beberapa memori mengenai gejala gerak tangannya yang tiba-tiba berhenti. Saat dia sedang menyelesaikan sketsanya dengan ipadnya di ruang kerjanya, tiba-tiba gerak jari jemarinya berhenti.
Sekitar lima detik, gerak itu normal kembali namun keadaan otot di jemarinya melemah sesaat, kemudian kembali normal.
Kejadian itu kembali terjadi saat baru saja dia membersihkan kamar Mika, tangannya selalu terpeleset saat hendak memegang suatu benda, menjatuhkannya hingga beberapa kali.
Sekarang, terjadi lagi saat dia membawa piring tersebut. Tangannya terhenti sementara untuk beberapa detik kemudian melemah.
Setelah kembali normal, Aruto mulai membersihkan pecahan piring tersebut. Amika datang setelah menenangkan diri.
"Aru, ada apa?"
"Ke-kenapa piringnya bisa pecah?"
"Kamu, gakpapa?"
Mika langsung ikut membersihkan pecahan piring tersebut. Tidak ada rasa takut dalam diri Mika saat membantu mengambil pecahan-pecahan itu. Sedangkan, Aruto masih belum sadar sepenuhnya.
"Aru?", panggil Mika heran melihat Aruto sedikit melamun saat mengambil pecahan kaca tersebut.
Tangan Aruto kembali berhenti saat hendak memungut. Rasa kesal bercampur cemas membuat giginya sedikit gemeretak. Dia mulai memaksa tangannya untuk bisa kembali bergerak hingga tanpa sadar dia bisa menggenggam pecahan kaca itu hingga membuat tangannya berdarah.
"Aruto?!", Panggil Mika semakin cemas.
"Apa?", akhirnya Aruto sadar.
"Kamu ini kenapa? Marah?", tanya Mika.
Aruto melihat tangannya berdarah dan membuatnya mulai panik, "Ta-tanganku berdarah!".
"Bodoh! Kau ini bodoh atau kenapa, hah?!", bentak Mika.
"Bodoh?", Aruto bingung.
"Mmoo.. Kemarilah!", ajak Mika mulai menarik tangan Aruto dan membawanya duduk di kursi meja makan.
"Ya ampun, lukanya dalam banget. Apa kamu gak merasa sakit dengan ini Aru?, haruskah kita ke rumah sakit?"
"Sakit, tapi entah kenapa aku tidak bisa merasakannya"
"Aruto! Sadarlah! Kamu ini kenapa, nyawamu sedang pergi kemana hah? Jangan membuatku takut deh"
"Apa?"
"Iya benar. Aku terlalu memikirkan gejala tanganku ini sehingga membuatku masih kepikiran. Aku, jadi mengabaikan kepedulian Mika", batin Aruto.
"Aru, apa kamu marah karna aku?"
"Eh? Umm.. Ehehe, enggak", jawab Aruto bingung hendak memulainya bagaimana. Dia hanya terus menggaruk kepalanya karena bingung.
"Bisakah kamu ambilkan ponselku di saku celanaku, Amika", lanjutnya.
"Sa-saku celana?"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Iya-iya akan aku ambilkan", meski benar-benar tersipu malu, Mika bertekad mengambil ponsel itu kemudian memberikannya kepada Aruto.
Aruto menerimanya dengan tangan kiri sedangkan darah di telapak tangan kanannya masih saja mengalir.
"Maaf ya, menerimanya dengan tangan kiri", ucap Aruto.
"Um", balas Mika singkat.
"Aru, tanganmu masih terus mengeluarkan darah. Apa yang bisa aku lakukan?", keluh Mika.
"Sabarlah. Aku akan meminta Joya untuk membelikan P3K untuk luka ini. Dan pecahan itu biar Moya yang membersihkannya"
Mika mulai mengelap darah yang terlihat di telapak tangan Aruto dengan tissu yang ada di meja makan. Hanya itu yang baru bisa dia lakukan.
"Aku sedang tidak marah kepadamu, Amika. Hanya saja, tanganku terasa aneh akhir-akhir ini", ucap Aruto.
"Aneh? Kenapa?"
"Aku juga belum tau pasti, tapi kadang-kadang tanganku berhenti bergerak untuk beberapa saat. Jadi, itu sedikit mengganggu pikiranku"
"Aru, Apa kamu jadi sedih akan hal itu?", tanya Mika.
Melihat Mika berhenti sejenak membersihkan tangannya, Aruto tersenyum. Istrinya, sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Ahaha.. Kupikir kamu akan melow melihat keadaanku dan panik sejadi-jadinya saat melihat darah di tanganku mengalir. tapi, kamu ternyata cukup tenang menghadapinya. Aku kagum kepadamu, Mika" , ucap Aruto menghibur.
"Aku bukanlah gadis lemah, tau!", balas Mika bangga.
"Iya aku tau, bahkan kamu bisa jadi serigala itu menandakan kamu memiliki kekuatan yang luar biasa", ejek Aruto.
Joya dan Moya datang. Joya membawakan P3K pesanan majikannya. Mika segera menerimanya dan mereka berdua mulai membersihkan pecahan piring yang berserakan.
"Baik Bu Dokter", balas Aruto ramah.
Senyum ramahnya langsung melelehkan hati Mika, gadis itu menjadi tersipu-sipu dengan sindirin ramah dari suaminya. Untuk menghindari ekspresi itu, Mika langsung menendang kaki Aruto.
"Au, sakit Mika!!"
"Tahan dikit napa sih!"
"Bu-bukan itu. Tapi, kakiku kenapa kamu tendang? Ini lebih sakit dari luka di tanganku, Amika!!"
"Bodo"
"Bos sama Nona Mika masih saja suka bertengkar", bisik Moya kepada Joya.
"Mereka itu memang gak bisa akur. Tapi, mereka sangat cocok jika bersama"
Setelah selesai membersihkan darah dan memberikan obat luka, Mika mulai membalutnya dengan perban. Tidak ada komunikasi saat itu. Mika terlihat serius dengan apa yang dia lakukan, sedangkan Aruto memperhatikannya dengan seksama.
"Gadis ini, selalu serius dengan apa yang dia lakukan. Dia selalu bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu hal. Sangat baik dan peduli", batin Aruto.
"Yes. Udah selesai, semoga lekas sembuh ya Aru"
"Makasih ya Mika, kamu sudah mau merawat luka ini"
"Umm.. Jangan ceroboh lagi ya", balas Mika seraya perlahan menarik tangan itu dan memberikan kecupan di punggung tangan yang telah berbalut perban.
"Bos, kami sudah selesai membersihkan", ucap Joya.
__ADS_1
"Okei, sankyu", balas Aruto.
"Aku akan membantu mengambil piring kalo gitu. Jika kamu gak bisa makan, aku bisa menyuapimu, Aru", ucap Mika berjalan mengambil piring.
"Eee.. Haruskah disuapi", batin Aruto.
"Untung kamu sudah selesai masak. Jadi, kita bisa mulai makan sekarang", ucap Mika.
Mika mulai mengambil nasi dan sayur untuk Aruto, melayani suaminya dengan sebaik mungkin.
"Amika itu, jika sudah peduli, sikapnya begitu anggun dan sangat tulus", puji Aruto di dalam hati.
"Jangan sungkan ya Aru jika aku menyuapimu"
"A-apa? Kamu, mengejekku?", balas Aruto sedikit malu.
"Ahihihi", cengir Mika.
"Sekarang bilang aaaa", pinta Mika.
Dengan sedikit berdehem, Aruto membuka mulutnya untuk menerima suapan dari istrinya.
"Bilang aaa dulu"
"Haruskah begitu?"
"Iyalah", jawab Mika keukeh.
"Aaaa", ucap Aruto.
"Lucu sekali", ejek Mika.
Wajah Aruto benar-benar semakin merah mendapat perlakuan dari Mika. Tapi apa boleh buat, dia harus kuat menerima itu.
"Hanya karna tangan kananmu terluka, kamu langsung berubah menjadi bayi, Aru", ejek Mika lagi.
"Apa? Bayi katamu?!"
"Sudah-sudah, jangan marah", balas Mika santai.
"Lempeng sekali dia menghadapiku. Sedangkan, aku selalu dibuat acak-acakan olehnya", geram Aruto di dalam hati.
"Ayo bilang aaa lagi"
"Amika?! Aku akan membalasmu jika kamu sengaja bermain-main denganku!"
"Jangan gitu Aru"
"Aku ingin minum", pinta Aruto.
"Nih. Untung aku sudah siapin air minum"
"Enggak. Aku gak mau air putih"
"Lalu?"
"Buatin aku coklat"
"Apa?"
"Buatin aku coklat, Amika"
__ADS_1
"Coklat?, Kenapa harus minta coklat sih?"