Kenalan Dulu Baru Sayang

Kenalan Dulu Baru Sayang
Panggilan dengan Seseorang


__ADS_3

Malam semakin larut, tapi lampu rumah Aruto tidak pernah padam. Di setiap sudut ruang selalu terang dan bercahaya, bahkan meski di siang hari pun. Semua insan sudah terlelah dengan mimpinya masing-masing.


Mika tertidur di sofa ruang tengah. Fanya dan Astha tidur di kamar Mika. Sedangkan, Aruto juga sudah terlelap di kamarnya sendiri. Hening dan sangat sepi.


Pukul lima pagi, Fanya terbangun dari tidurnya. Dia langsung membangunkan Astha untuk mengajaknya melakukan suatu hal. Astha sedikit menolak tapi paksaan Fanya membuat Astha akhirnya mengangkat tubuhnya yang masih lunglai.


“Astha! Kita harus segera bangun dan menyibukkan diri di dapur”, ucap Fanya.


“Kenapa Fanya?”, tanya Astha dengan mata masih terpejam.


Fanya berniat akan melakukan kebaikan dengan memasakkan sarapan di dapur, setelah apa yang mereka berdua lakukan kepada Mika tadi malam. Setidaknya, Fanya menunjukkan kebaikannya sebagai rasa tanggung jawabnya karena bersalah kepada Mika dan sebelum mendapat amarah dari suami Mika.


“Baiklah.. aku cuci muka dulu”, balas Astha.


Fanya dan Astha mulai menuruni tangga namun langsung mendapati Aruto sudah berdiri di bawah tangga menatap tajam ke arah mereka berdua. Keringat dingin dan jantung berdebar-debar mulai menyelimuti diri Fanya dan Astha.


“Gawat Astha, kita akan kena omel”, bisik Fanya.


“Sabar.. sabar..”, balas Astha.


“Kalian berdua, jam segini ngapain turun? Mau kabur ya?!”, tanya Aruto dingin.


“Ka ka ka ka ka ka”


Astha langsung menepuk pundak Fanya.


“Kami mau memasak di dapur”, ucap Fanya jujur.


“Untuk apa?”


“Ma! Maafkan Kami! Jangan marahi kami”, ucap Fanya dan Astha bersamaan.


Fanya dan Astha sangat ketakutan menghadapi Aruto, seketika mereka berdua langsung meminta maaf atas perbuatannya yang cukup keterlaluan tersebut. Mereka terus membungkukkan badan dan tidak akan bangun sebelum Aruto memaafkan mereka.


“Cerdas sekali kalian. Kalian tau itu salah masih saja berniat melakukannya. Apa itu pantas dilakukan untuk sahabat sendiri?”, Aruto mulai mengomel.


“Maafkan kami”, ucap Fanya dan Astha sekali lagi dan bersamaan.


“Sudahlah. Kalian aku maafkan, tapi buatkan sarapan untuk kita berdua”, pinta Aruto.

__ADS_1


“Berdua?”, Fanya heran dan langsung mengangkat tubuhnya.


Melihat mata Aruto semakin tajam, Fanya langsung menuruti kemauan Aruto tanpa beralasan lagi. Dia menarik tangan Astha dan mengajaknya untuk lebih cepat melangkahkan kakinya menuju dapur.


Aruto mendatangi Mika yang masih tertidur di sofa miliknya. Melihat Mika tidur sendiri dan tanpa sebuah selimut yang menghangatkannya, Aruto langsung mengangkat tubuh Mika dan membawanya ke kamar. Menaiki tangga dan mulai menidurkan kembali Mika di kasurnya yang empuk, tidak lupa menyelimutinya dengan sangat rapi.


"Ddrrdd.. Drrdd..", Ponsel Mika menyala.


“Pacarnya mengirim pesan lagi”, gumam Aruto hanya dengan melihat layar ponsel Mika yang menyala dan muncul notifikasi di depan layar.


Aruto memandangi seluruh sudut ruang kamar Mika. Kamar yang beberapa sudah berbeda dari tampilan yang Aruto berikan kepadanya. Ada tambahan benda berupa buku-buku, boneka, action figure dan hiasan dinding.


“Ternyata dia juga pandai dalam menata ruangan, cukup menyenangkan untuk dilihat. Aku bisa yakin bahwa dia ingin tinggal selamanya disini”


Segaris senyum terlukis di bibir Aruto, dia berjalan perlahan dan menyentuh barang-barang milik Mika. Ada sebuah benda yang menarik perhatiannya, yaitu buku sketsa yang bertumpuk rapi di rak dekat laptop pemberiannya.


“Bukankah dia belum pernah kuliah? Project apa ini? Banyak banget"


Aruto mulai mengambil satu buku sketsa berukuran A4 dan membuka lembar demi lembar. Seketika dia takjub melihat hasil sketsa dari Mika. Satu persatu tokoh kartun dan anime tergambar dengan sangat artistik, imajinatif dan profesional.


Mika memiliki bakat menggambar sejak dia duduk dibangku kelas 4 SD. Kesukaannya menonton film kartun dan anime, menumbuhkan imajinasinya dan membuatnya tertarik untuk menggambar dan mengimajinasikannya sendiri dalam bentuk sketsa.


Bukan hanya ada satu buku sketsa yang penuh dengan gambaran Mika, tapi lebih dan bertumpuk rapi hingga puluhan tumpukan. Kondisi buku sketsa yang sudah terlihat usang dan sedikit koyak menandakan dia telah membuatnya di tahun yang sudah cukup berlalu.


“Cekrek!”


“Cekrek. Cekrek!”


Dia mengambil beberapa foto dan akan menyimpannya di galeri ponselnya. Aruto pun merapikan kembali buku-buku sketsa tersebut kemudian melakukan sebuah panggilan kepada salah satu temannya.


“Halo..”


“Bro, Gue punya sesuatu buat loe, gambarnya akan gue kirim lewat WA. Kira-kira apa yang bisa gue lakukan dengan gambar itu?”


“.....”


Aruto melakukan panggilan dengan temannya untuk meminta bantuan tentang sketsa buatan Mika. Dia berencana akan mengembangkan bakat Mika dan menyalurkannya kepada bisnis yang cocok dengan itu.


Jawaban dari teman Aruto cukup membuatnya puas hati, sehingga dia akan membuatkan rencana agenda pertemuan dirinya, temannya dan juga Mika.

__ADS_1


Obrolan Aruto samar-samar membuat Mika terbangun dari tidurnya. Mika perlahan membuka matanya dan melihat Aruto sedang serius melakukan panggilan dengan seseorang. Mika mencurigainya.


“Baiklah, aku akan membawanya kepadamu segera”, pungkas Aruto


"Mem-bawanya? Membawaku?", batin Mika.


Ucapan terakhir Aruto membuat Mika langsung deg-degan bercampur ketakutan. Saat Aruto menoleh kepada dirinya, Mika kembali memejamkan matanya untuk pura-pura tidur kembali.


Selesai melakukan panggilan, Aruto menoleh sejenak ke arah Mika yang masih tertidur pulas, kemudian dia berjalan keluar kamar untuk meninggalkan Mika melanjutkan tidurnya.


Di samping itu, Fanya dan Astha kembali membicarakan Mika dan suaminya. Perasaan takut dan penyesalannya seolah telah hilang begitu saja.


Mereka terheran-heran dengan hubungan suami istri Mika dengan Suaminya. Meskipun mereka sedikit menyangkal dan memahami tentang keterasingan tersebut tapi tetap saja Fanya dan Astha terus saja Kepo.


"Gagal deh kita Astha. Kenapa mereka tadi malam tidak tidur satu kamar sih?!", gerutu Fanya.


"Iya, kupikir Mika akan memakai baju itu juga, hihi", canda Astha.


"Ppff.. Mana mungkin", Fanya menyerah.


"Iya, Mana mungkin", Astha ikut menyerah


"Padahal kan ya, Sudah enam hari, tapi mereka kok masih belum akur juga?", ucap Fanya sambil mencuci beras.


"Iya.. Baru enam hari kali. Biarin aja, yang penting suaminya enggak ngelakuin KDRT", tandas Astha.


"Uiii.. Ngeri deh ucapanmu, Astha"


"Hehe, iya kah?"


"Kita harus buat rencana apalagi ya buat bisa deketin mereka berdua?", tanya Fanya berfikir.


"Rencana apa?" Tanya Aruto tiba-tiba datang.


"Re re re re re re-"


"Rencana makan berdua, hihi", ucap Fanya setelah Astha menepuk pundaknya lagi.


"Rencana? Itukan keputusan gue. Ingatnya, itu makanan harus cukup untuk gue dan Mika. Kalian harus masak sendiri nanti setelah kami berdua makan", ucap Aruto sadis.

__ADS_1


"Sadis bener, emang kita babu", sindir Astha.


"Kaliaannn!!!!"


__ADS_2