Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Kembali Lagi ke Masa Seribu Tahun Silam


__ADS_3

"Rinaya! Rinaya!"


Rinaya membuka matanya, keringat dingin berembun di dahinya. Dia terduduk di sebuah kursi di ruang karyawan tempat dia bekerja. Panggilan itu membuatnya terbangun dari tidur.


"Rinaya, kamu sakit?" Ratih, seorang teman kerja nya sedari tadi memperhatikan.


"ah, aku gapapa ko " jawab Rinaya


"kamu pucet banget Rin, mending kamu pulang aja."


"berarti kamu lembur lagi?"


"Ga apa apa, aku banyak waktu luang, lagian kamu keliatan berantakan banget. Jangan maksain diri. Besok kamu juga kan ada ujian"


"Benar ga apa apa?"


"Hmm" Ratin Mengangguk setuju


Detak jam di dinding menggema di penjuru ruangan, samar samar masih terdengar burung berciutan, namun senja yang indah ini seakan tidak dirasakan olehnya. Rinaya, seorang perempuan 24 tahun, barusaja pulang dari aktifitasnya, bekerja. Hari itu dia merasa aneh, pandangannya selalu berputar, halusinasi kadang datang, bisikan bisikan seakan memanggil. dia pulang lebih awal dari jadwal biasanya. Semakin lama pandangannya semakin berkunang kunang. Dia menghela nafas panjang panjang, segera masuk kamar untuk merebahkan diri. Pikirnya, ini akan hilang setelah tidur sebentar. Baru saja duduk di tempat tidur, tanah seakan bergetar, gelas di atas meja belajarnya pun ikut bergetar. Gempa? pikirnya. Semakin lama suara suara bisikan semakin terdengar jelas


"Putri..."


"Nirmala..."


"Putri.."


"Nirmala, kembalilah, datanglah."


Suara suara itu seakan berbisik di pikirannya, membuat kepalanya terasa pening,


Putri? Nirmala? siapa itu? Dia memejamkan mata menahan rasa pusing di kepalanya. Hingga seseorang seakan berteriak di samping telinganya


"Rinaya!! "


Seketika itu juga dia terbelalak membukakan matanya, dia teringat sebuah mimpi yang amat sangat panjang. Mimpi yang seakan seperti kenyataan. Mimpi yang begitu pedih. Matanya mulai memanas, nafasnya mulai terengah, masih tidak percaya apakah ini nyata atau hanya mimpi saja.


Tanah semakin bergetar keras, barang barang mulai berjatuhan, tertiup hembusan angin yang entah darimana asalnya perlahan mengelilingi tempat dia berdiri. Semakin lama semakin kencang. Dia kini merasa takut. Ini hal yang tidak masuk akal. Di sebuah ruangan kecil ini darimana asalnya angin ini berhembus. Semakin lama seperti tornado, menghancurkan semua barang yang di sentuhnya.


"Putri! Nirmala!"


Suara itu semakin lama semakin keras, semakin berisik. Dia memejamkan mata dan menutupi telinganya dengan tangannya. Airmata mengalir, dia merasa takut. Sebenarnya ada apa ini. Guncangan tanah pun semakin mengacaukan keseimbangannya, hingga dia oleng, dia merasa tubuhnya terangkat oleh angin itu. Terombang ambing, bersama suara suara itu. Entah berapa lama itu berlangsung. Suara itu berdengung memekik di telinganya. Pusing, benar benar terasa pusing.


Brukk!! tubuhnya menghantam tanah. Dia masih memejamkan mata, masih menutupi telinganya. Perlahan dia mengatur nafasnya. Tubuhnya masih tertelungkup di tanah. Perlahan membuka telinganya. Sudah tidak terdengar apapun. Bahkan suara burung lebih terdengar jelas kali ini. Perlahan membuka matanya. Sudah tidak ada angin aneh itu, tapi, dia berada di ruangan berbeda. Perlahan dia angkat kepalanya, mengamati dan melihat sekeliling. Perlahan dia berdiri dari tempatnya. Bergidik ngeri dengan apa yang kini di hadapannya. Dia memutar mata mengamati sekeliling.


"Astaga! Ada dimana aku?"


Dia berdiri tepat di tengah sebuah hexagram yang tergambar di lantai batu. Bertinta merah. Berisi simbol simbol yang tidak di mengertinya. Hal yang lebih mengerikan adalah, banyak tubuh tubuh terbaring mengelilingi hexagram itu. Penuh darah dan luka. hanya dia satu satunya berdiri di ruangan besar itu.


Sebuah patung dewi seakaan mengamatinya, patung yang amat besar, patung yang di pahat dari batu, senyumnya, sedikit terlihat mengerikan. Apalagi pemandangan dengan di ruangan yang penuh mayat, segala perabotan pun hancur bak di terpa angin puyuh.


beberapa detik dia mematung disana. masih tidak mengerti apa yang terjadi. Sekali lagi dia mengamati sekelilingnya, pakaian orang orang itu begitu kuno, interiornya sangat tradisional, tidak ada lampu, hanya lilin yang berserakan disana, dilihatnya alas patung dewi itu. hurufnya tidak asing, tapi dia tidak mengerti. Huruf kawi? pikirnya.


"A-Aku.. benar benar kembali lagi....???"


Terdengar suara keributan di luar ruangan itu. Rinaya segera berlari dan bersembunyi di balik patung dewi.


"ada apa?"


"sesuatu terjadi di dalam, kami tidak tau ada apa, pintu tiba tiba terbanting, dan tidak bisa di buka. Terdengar suara teriakan beberapa saat lalu. Lalu tiba tiba lenyap tanpa suara apapun.."


"Kami belum bisa membuka pintunya."


"Dobrak saja hingga rusak. Aku harus tau apakah ritualnya berhasil atau tidak."


Ritual? Rinaya mendengar percakapan itu merasa yakin, ada yang tidak beres dari kejadian ini. Segera dia melompat keluar melalui jendela yang berada tepat di belakang patung dewi itu. Sayangnya seseorang yang berjaga di luar telah melihatnya.


"Siapa itu! Berhenti disana!"


Rinaya berlari menjauh dari bangunan itu. Berlari sekuat tenaga, beberapa orang mengejarnya.


Mereka masih mengejar meski jaraknya cukup jauh. Dia bersembunyi di balik bebatuan yang tertutupi semak. Mereka terus mencarinya. Langkah kaki mereka masih terdengar. Dia mengatur nafasnya. Mencoba untuk tidak panik. Mencoba mencerna hal hal yang baru saja dia alami beberapa saat lalu. Dia pejamkan mata.


Rinaya terbangun di pagi hari, matahari sudah menampakan diri. Dia keluar dari persembunyiannya setelah dirasa aman.


"Apa aku enggak lagi mimpi ya?"


"Masa aku balik lagi ke masa ini sih,"


"Gak mungkin ah, pasti waktu itu juga aku lagi mimpi."


"Trus sekarang sebentar lagi pasti bangun."


Dia cubit cubit pipi dan tangannya, memanglah terasa sakit. "Ahh. ini mimpi yang sangat nyata" ujarnya. Dia menghela nafas. Meratapi nasib memang bukanlah sifatnya. Dia sadar itu. Daripada terus termenung memikirkan hal yang membuatnya bingung. Lebih baik dia berkeliling, mencari informasi atau semacamnya. Karena pasti ada alasan mengapa dia kembali lagi ke masa seribu tahun silam.


Ini kali kedua dia terseret kemasa masa lampau. Hanya saja kali ini sedikit lebih berbeda. Dia ingat siapa dirinya, dia ingat darimana asalnya, bahkan kali ini dia masih mengenakan seragam kerjanya. Masih lengkap dengan sepatu sneakers, ransel kecil dan nametag menggantung di lehernya. Bahkan dia membawa ponsel di saku celananya. Dilihatnya ponsel itu "Tidak ada sinyal! Tentu saja! Tidak mungkin ada!" Dia berjalan keluar hutan, menuju sebuah jalan cukup besar, tapi dia tidak berjalan pada jalur itu. Dia hanya berjalan jauh dari tepi. Dilihatnya dari kejauhan, ada dua orang perempuan mengenakan kebaya polos, dengan rambut tersanggul, rok batik, dan membawa nampan besar di atas kepalanya, berbincang satu sama lain dengan menggunakan bahasa sunda, dia sembunyi di balik rerumputan tinggi. Dia sedikit mengerti apa yang mereka bicarakan, tidak lain tidak bukan mengenai banyaknya orang yang mati di bangunan tua. Tanpa mendengar lebih jauh dia juga mengerti bangunan apa yang di maksud. Melihat pakaian mereka dia benar benar berpikir bahwa dia benar benar telah kembali. "sangat tradisional, sekarang tinggal mencari tau aku terjebak di tahun berapa."


Sebuah pemukiman kecil, di kaki bukit, di sebuah rumah panggung paling ujung, paling dekat dengan posisinya sekarang ini, berjejer beberapa pakaian setengah basah, dan beberapa tanaman sayuran yang sengaja di jemur, di keringkan. Tanpa berpikir panjang lagi, Rinaya mengambil beberapa potong pakaian lengkap dengan sepatunya. Kebetulan sekali, tidak ada orang yang terlihat dari rumah itu. Rinaya masuk kembali ke dalam hutan, memastikan tidak ada yang melihatnya, mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru saja dia curi. Kali ini aku harus berhati hati pikirnya. Dia mengikat seluruh rambutnya, ekor kuda, hanya menyisakan bagian depan yang tidak terlalu panjang hingga tidak terikat seluruhnya. Dia juga memasangkan ikat kepala di dahinya. Kini penampilannya seperti remaja laki laki.


Dia mengeluarkan sebuah plastik hitam dari dalam tasnya, memasukan seragam kerjanya dan tasnya ke dalam plastik itu, ponselnya, tentu saja dia bawa, mungkin akan sangat berguna nanti. Dia menggali tanah di bawah pohon dengan menggunakan batang kayu dan batu. Dia masukan seisi plastik itu ke dalam lobang, dan menutupnya kembali dengan tanah. Kini bola matanya memutar mengelilingi tempatnya berdiri. Ah, itu dia, pikirnya, di ambilnya sebuah bongkahan kayu cukup besar, di simpannya di atas gundukan itu. "Aku akan ambil kembali jika keadaan memang aman, semoga barang barang ku aman." Dia tepukan kedua tangannya, membersihkan sisa sisa tanah yang masih menempel. Beberapa langkah mundur menjauh, dan memfoto pohon beserta bongkahan kayu itu dengan ponsel nya. Tentu saja, supaya dia bisa ingat letak barangnya di kubur.


Setelah semua dirasa selesai, kali ini dia berencana untuk mencari informasi, seperti..... kota apa yang sedang dia datangi, atau tahun berapa saat ini. Sangat penting mengetahu berbagai macam informasi. Dia tidak ingin kedatangannya kali ini menimbulkan lebih banyak lagi masalah. Lagipula, pasti ada tujuan mengapa dia bisa berada di sana lagi.


Sebenarnya dia juga berpikir akan lebih mudah jika bertanya kepada orang orang yang terlibat dalam ritual itu, namun, dengan kondisi saat itu, terutama banyak orang yang tewas, itu mengingatkannya pada masa lalunya. Ritual yang memakan nyawa, bukan lah ritual yang aman. Lagi pula, dia juga takut kedatangannya malah akan di salahkan atau hal hal buruk lainnya. Maka, mencari informasi secara diam diam tidak ada salahnya juga. Jika memang ritual itu dilakukan untuk hal baik, mungkin dia akan pergi sendiri menemui mereka. Untuk sekarang ini, karena sudah terlanjur datang, nikmati saja dulu tanah Indonesia yang masih sangat tradisioal ini.


----


Rinaya berjalan kaki entah sudah berapa lama, sangat sepi, seperti jalan diluar pemukiman, dia berpapasan dengan beberapa orang warga, dua orang perempuan mengenakan kebaya polos, dan memakai selop kayu polos, menggendong bawaannya dengan menggunakan selendang, dan seorang lelaki paruh baya dengan baju Salontreng, membawa keranjang menggunakan tanggungan.


"Punten, bade tumaros, upami jalan ka palih ditu, teras kamana nya?" sungguh Bahasa sunda nya amat seadanya, tidak ada kemajuan sama sekali,


(Permisi, mau tanya, kalau jalan ke arah sana, terus kemana ya?)


"Oh, eta teras ka kampung kulon jang, mung tebih keneh, aya panginten sajam atanapi dua jam papah."


(Oh, itu terus ke kampung Kulon, nak, hanya masih jauh, mungkin sejam atau dua jam jalan kaki)


"Ah, dua jam, kampung ageung?"


(ah, dua jam, kampung besar?)


"Atos siga kota weh eta mah, mung namina weh kampung teh, da tos maju"


(Sudah seperti kota, hanya namanya saja kampung, padahal sudah maju)


"Oh, hatur nuhun atuh, abdi bade teras kaditu, manga bu"


(Oh, terimakasih, saya mau lanjut kesana, permisi bu)


"Manga, manga"


(Silahkan)


*Jang/Ujang \= Panggilan kepada anak laki laki usia di bawahnya

__ADS_1


*Kebaya \= Baju Khas tradisional di beberapa suku di Indonesia, di pakai oleh perempuan


*Baju Salontreng \= Baju Khas tradisional suku Sunda, di pakai oleh laki laki, biasanya lebih di pakai oleh kalangan bawah dan petani.


----


Setelah berjalan ckup jauh akhirnya sampai juga di kampung kulon, dia mendengar sesuatu dari perutnya, bernyanyi sejak sepuluh menit lalu. Sejak kemarin siang dia hanya makan sepotong kue di tokonya, dan belum makan apapun lagi. Ini kota yang ramai, banyak yang berjualan, seperti sebuah pusat kota atau alun alun. Dia cukup terkesan. Mengingatkannya dengan masa lalunya. Dia merasa pergi ke tempat yang tepat, "Lapar", gumamnya. Dia berjalan melirik sana sini mencari sesuatu yang bisa dia makan, tentu saja, kalau tidak memintanya, mungkin bisa mencurinya juga, namun dia berhenti di sebuah lapak penjual cermin, dia melihat pantulan dirinya pada sebuah cermin besar seukuran tinggi tubuhnya, bukankah aku terlihat seperti anak laki laki, gumamnya dalam hati,


"Silahkan Jang kasep dilihat lihat, cerminnya yang besar, yang kecil juga ada, harga mah mirah mirah semua, manga Jang"


Dia hanya mengangguk tersenyum saja, dalam hati dia merasa sangat puas, semua yang di temuinya menyebutnya dengan "Jang/Ujang" berarti dia bisa berhasil mengelabui semua orang kalau dia adalah laki laki,


Secara tiba tiba dia di tabrak dari belakang, oleh seorang laki laki. Namun dia terburu buru dan kembali berlari. Dia menjatuhkan barangnya, sebuah gelang emas bermata biru tua, mengkilat dengan sangat indahnya. Dia lalu ikut berlari mengejar laki laki itu, "hei, abang, tunggu, barangnya terjatuh." Hanya beberapa langkah saja berlari, seseorang, mencengkram lengannya dengan kuat, "kena kau" seorang laki laki dewasa tinggi nan gagah membawa serta kelompoknya ramai ramai menghadangnya, menendang salah satu kakinya hingga dia terjatuh dan berlutut. Seseorang menekan punggungnya ke tanah, dia benar benar tidak bisa bergerak. Seluruh warga di sana mengerumuni, membuatnya jadi tontonan, "ah, aduh, sakit, tanganku, kenapa tiba tiba menyerangku, "


"Dasar pencuri licin, masih saja membuat omong kosong meski sudah tertangkap,"


Pencuri? apa aku ketahuan mencuri pakaian, Pikirnya


"eh, eh, tunggu , kalian salah paham"


Salah satu dari mereka mengambil gelang itu dan menodongkannya di depan muka,


"Ini adalah buktinya, kau mencuri benda warisan turun temurun keluarga, tidak ada gunanya kau mengelak"


Ah, ternyata itu pikirnya tenang "eh, tunggu, aku tidak mencuri itu, pasti dia yang tadi menabrakku, kalian seharusnya mengejar Dia, "


"Bawa paksa Dia ", seru salah seorang itu.


Seberapa pun usahanya untuk melepaskan diri, gadis mungil lemah sepertinya tidak mungkin bisa melawan beberapa pria kuat saat ini. Dia di seret paksa menuju sebuah tempat. Seperti tempat orang berkuasa, atau semacam pemerintahan, kalau di dunianya mungkin ke tempat polisi.


Rinaya tersungkur dengan tangan terikat di belakang, di lihatnya di dihadapannya seorang pria paruh baya mengenakan pakaian yang terlihat elegan, sepertinya dia adalah pemimpinnya, pimpinan petugas keamanan.


Orang itu membaca sebuah kertas, layaknya hakim membaca tuntutannya


"Tertangkap basah mencuri perhiasan milik keluarga terpandang, dapat dijatuhi hukuman pukulan sebanyak 100x dan di kurung selama tiga tahun. Jika kamu mengakuinya, hukuman bisa lebih ringan"


Rinaya menganga tidak percaya, "Tunggu, aku tidak mencuri itu, kalian salah menangkap orang,"


Hakim itu memotong "Mengelak dan beralasan akan membuat hukumanmu lebih berat"


"Sudah jelas kalian salah menangkap orang"


"Kalau begitu kita dengar kesaksian dari korban"


Seseorang perempuan remaja datang dari balik pintu, matanya berkaca kaca, sembab seperti seharian menangis.


"Neng Ayu silahkan bicara bagaimana ciri ciri si pen curi" cara bicaranya seperti sangat menghormati orang itu, sedangkan kepada Rinaya dia sangat angkuh dan menyebalkan


"Dia laki laki berpakaian serba hitam memakai ikat kepala hijau, dan rambutnya diikat seluruhnya di belakang. Percis seperti itu" dia menunjuk ke arah Rinaya


"Haah,, teteh pasti salah lihat, bukan aku sungguh"


"Sudah ada bukti dan saksi, kesalahan kamu tidak bisa lagi di bantah"


Rinaya tertawa pahit, "Hukum macam apa ini, dengar ya, jika hukum disini sangat lembek seperti ini, aku yakin beberapa tahun kedepan bakal banyak penghianat berkeliaran, kalian terlalu gampang menjatuhkan vonis"


Hakim itu memerah merasa di rendahkan. Lagipula nada bicara Rinaya yang di nilai terlalu sombong itu tidak pantas untuk seorang rendahan sepertinya.


"Pengawal, lakukan hukuman pukulan sekarang juga"


Rinaya semakin berwajah panik. Bagaimana bisa dia menerima hukuman yang tidak dia lakukan. Seratus pukulan, dengan badan mungilnya, mungkin belum selesai bakal mati duluan, sial sial, dia terus berpikir bagaimana cara melarikan diri.


Dag, satu pukulan menghujam punggungnya hingga tersungkur. "Aaahh,," Rinaya mengerut memejamkan matanya, menahan sakit di punggungnya,


Seseorang diantaranya terlihat berbeda, lebih gagah, meski raut wajahnya sangat terlihat datar, dingin dan tenang.


"Bocah itu mengaku tidak mencuri, maka cari lah pencuri sebenarnya, bukan dengan memaksanya mengakui hal yang tidak dilakukannya."


"b-b-Balapati, kenapa tiba tiba anda datang kemari" Hakim itu meski paruh baya dan terlihat berwibawa, langsung menurunkan pandangannya begitu orang ini muncul. Tidak disangka nasib baik masih memihak pada Rinaya, dia pun tersenyum lega.


"Sudah ku bilang kau salah orang,, ah, punggungku sakit, hei kau cepat buka ikatanku" Rinaya berseru kepada salah satu pengawal yang menyeretnya kemari.


"Lepaskan saja dia, kau berhutang satu pukulan kepadanya, menghukum orang yang tidak bersalah adalah kesalahan fatal bagi seorang hakim"


Balapati adalah sebutan untuk seorang pemimpin pasukan pada peperangan, dia terlihat sangat gagah, wajahnya yang datar, alisnya yang tajam, membuat semua orang merasa segan dan takut hanya dengan melihatnya, dijinjingnya sebuah pedang bersarung warna putih, berhias ukiran berwarna emas kecoklatan sangat indah dan gagah seperti pemiliknya.


Rinaya berdiri dan sesekali menyentuh punggungnya yang sakit, "Aku sedang terburu buru kali ini, lain kali aku tidak akan memaafkan mu" dia menunjuk hakim itu, hakim itu merasa marah tapi dia tidak bisa melakukan apapun, dia memang salah.


Rinaya melangkahkan kakinya, mendekati sang balapati itu. Rinaya tidak berani menatapnya. Bagaimanapun juga seorang Balapati pastilah orang yang terpandang, sedangkan dia hanya orang asing, haruslah menjaga sikap. Rinaya menundukan kepalanya "Terimakasih banyak", dan kembali melangkahkan kakinya.


Langkahnya terhenti, Balapati itu menghalanginya dengan tangan yang menggengam pedang.


Rinaya melihat lekat lekat pedang itu, seakan pernah melihatnya di suatu tempat.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Balapati itu bertanya namun Rinaya masih tidak meninggalkan pandangannya dari pedang itu. Tangannya terangkat ingin menyentuh pedang itu. Tapi Balapati itu langsung menurunkannya seakan tidak ingin di sentuh. Rinaya berbalik dan menatap wajah balapati itu. Dengan wajah cemberut dia menjawab "Tidak pernah, aku baru tiba hari ini" Rinaya pun melangkah pergi. Rinaya Bertanya tanya, mengapa Balapati itu membuat padangan aneh kepadanya, seakan dia pernah melihatnya atau mengenalnya di suatu tempat.


Balapati Pradhika Wiriya, meskipun dia mendapat gelar Balapati, namun dia sudah tidak ingin menggunakan nama itu, dia hanya ikut berpartisipasi pada beberapa kali peperangan sebelumnya, dia punya tujuannya sendiri, dan bukan untuk mengejar sebuah gelar, namun kemampuan dan kredibilitasnya sangat diakui semua orang, bisa di lihat dari reaksi seorang hakim dan para bawahannya terhadapnya, mereka seakan segan dan takut berurusan dengan nya.


Dalam pikirannya Dhika, ia melihat sesuatu yang tidak asing pada Rinaya, cara bicaranya, postur tubuhnya, suaranya, meski sedikit dibuat buat namun Dhika merasa sangat kenal dengan Rinaya. Karena itu lah dia bertanya padanya.


Rinaya berjalan menyusuri kampung itu, terlewatinya sebuah toko buku, dalam pikirannya, teringat beberapa orang yang mungkin dapat membantunya, saatnya mencari informasi, pikirnya, dia pun berhenti di lapak toko buku itu, dilihatnya ada sebuah peta, dan dia ambil. Seorang pria tua keluar dari dalam toko.


"Abah, kalau mau ke kota Parigi lewat mana ya ?" Rinaya tidak mengerti Bahasa yang di pakai, peta ini masih menggunakan huruf kawi kuno.


Pria tua itu mendekat dan memberikan informasi,"oh, ka palih dieu weh Jang, langkung caket, tur caang, upami ka jalur nu sanes bilih aya nanaon, teu acan aman,"


(oh, kesebelah sini saja nak, lebih dekat dan terang, kalau jalur lain takut ada apa apa, belum aman)


Rinaya sedikit mengerti dan mengangguk anggukan kepalanya. "Mung panginten kedah ti ayeuna keneh, rada nguliring jalan na, meh teu sonten dijalan." pria itu melanjutkan


( Cuman mungkin harus dari sekarang, jalannya cukup memutar, supaya tidak kesorean)


"Hoo" sepertinya perjalanannya ckup jauh.


"Jang, cenah mah dua dinten deui teh bade aya sukuran kitu, anu ka lima belas tahun."


(Dek, katanya dua hari lagi akan ada acara sukuran yang ke limabelas tahun)


"Acara naon Bah?"


(Acara apa Pak)


"Sukuran, salametan perang sareng du'a kanggo anu pupus,"


(Sukuran, selametan perang dan doa doa untuk yang sudah meninggal)


"Perang naon bah? Iraha?"


(Perang apa pak? kapan?)


"Cenah mah kapungkur aya perang ageung, seuseur nu pupus, perang sareng bandit gunung ongkoh, sareng siluman oge ongkoh"


(Katanya dulu ada perang besar, banyak yang meninggal, melibatkan Bandit Gunung juga Siluman)

__ADS_1


Isi kepala Rinaya seakan terhenti mendengar beberapa patah kata itu. Bandit Gunung?... Siluman? Rinaya tau betul apa yang dia maksudkan, hingga dia tidak bisa berkata kata apapun lagi


"oh, muhun atuh, haturnuhun Abdi bade teras mapah"


(oh, iya, Terimakasih saya akan lanjut jalan)


Dalam pikiran Rinaya bergemuruh pertanyaan pertanyaan. Gila, apa perang yang di maksud yang itu? Jika benar, sejak kejadian itu sudah lima belas tahun berlalu, dan pemerintah kota itu mengadakan pesta, kedengarannya seperti pesta selametan, tapi aku berpikir pesta karena aku mati,,,,,,,siluman , bukankah itu, piaraannya dia,... bukan bukan, pasti bukan seperti itu. Aku benar benar harus mencari tahu informasi lain.


Rinaya mempercepat langkahnya, entah sudah berapa ribu langkah dia hari ini, sesuai dengan petunjuk dari penjual buku itu. Memang jalurnya tidak terlalu sepi. Bahkan masih terbilang cukup ramai mengingat dia berjalan sudah cukup jauh meninggalkan kota itu.


Dia masih merasa lapar, dan lelah. Ada sebuah pondok di tengah perjalanan, sebuah rumah persinggahan, menjual makanan, dan minuman, sepertinya memang di bangun untuk orang orang dalam perjalanan. Rinaya pun duduk di salah satu bangku paling luar.


"Mau beli sesuatu den?" seorang pemilik warung itu bertanya, namun mau bagaimana lagi dia tidak punya uang sedikitpun. "Tidak pak, Cuma mau ikut duduk saja, hehe"


Rinaya hanya bisa duduk, sesekali badannya terkulai di atas meja, lelah rasanya, sesekali dia memejamkan matanya.


Pemilik Kedai datang dan menyimpan semangkuk bubur kacang Hijau"Den, ini makan saja buburnya"


"Saya kan tidak pesan pak"


"Tidak apa apa, Aden nya sepertinya perlu makan, di makan saja,"


Rinaya sumringah mendengarnya, makanan gratis, bisik dalam hatinya.


*Den/Aden/Raden \= panggilan untuk orang terpandang /kalangan bangsawan


Beberapa orang datang dan duduk memenuhi kursi kosong, dari seragam yang mereka pakai, sepertinya mereka seorang prajurit, atau semacamnya. Mereka memesan makanan dan sibuk bergosip. Rinaya yang berada disana seakan tidak tahan mendengarkannya. Rinaya bukan orang yang senang dengan gossip, di dunia ini, maupun di dunianya, gossip membuat citra orang lain menjadi buruk. Tapi gossip kali ini Rinaya seperti mengerti.


"Kalian tau, Patih Karna baru saja kembali dari Bintuni, di sebuah bangunan dia menyelidiki sebuah kasus dan banyak mayat bergelimpangan di ruangan ritual, katanya mereka mati karena memanggil siluman jahat, namun tidak berhasil,"


-Siluman?


"Ya, pemanggilan yang sempurna memerlukan bayaran yang mahal"


"Memangnya siapa yang mereka panggil"


"Putri Nirmala, Si Bandit Gunung"


-Uhuk,, Rinaya langsung tersedak mendengarnya,


"Kenapa ada yang ingin memanggil orang seperti dia. Apa mereka tidak takut bencana yang pernah terjadi."


-(Bencana?)


"Katanya mereka juga memanggil Bayu, si pemilik Siluman"


-(Bayu.) Rinaya ingat dengan nama itu, nama yang selalu dia sebut di masalalunya,


"Itu lebih parah lagi, padahal situasi tanah kita sedang kacau karena perang, bisa bisanya mereka memanggil arwah orang orang itu"


- (Perang?)


"Orang yang sudah mati memangnya bisa di panggil?"


- (Apa bayu sudah mati?)


"Mereka kan bukan orang"


"Benar juga, yang satu dewi perang, yang satu lagi pemimpin siluman, lagipula, sejak saat itu tidak ada yang tau apakah mereka benar benar mati atau tidak,"


"Tidak ada yang melihat jasadnya hingga saat ini"


"Mungkinkah mereka belum mati? "


- (Seharusnya Bayu selamat saat itu)


" Tapi selama lima belas tahun ini banyak yang ingin memanggil arwah mereka tidak ada yang berhasil satu pun. Malah mereka mati mengenaskan, sama seperti kejadian di Bintuni"


- (Lalu kenapa aku sekarang ada di sini? )


"Aku khawatir jika mereka benar benar bisa kembali, kejadian lima belas tahun lalu akan terulang lagi"


- (Aku juga tidak ingin itu terulang lagi) Rinaya memasang wajah sedih mengingat kejadian itu


"Atau mungkin mereka bisa membantu perang, haha"


"Lelucon mu sungguh tidak lucu"


"Jika mereka benar benar kembali ku rasa biro keamanan istana seharusnya bertindak untuk menangkapnya."


- (Ha?)


"Benar, kita tidak ingin bencana itu terjadi lagi"


- (Kau pikir itu salah kami?)


"Mungkin sebaiknya langsung di jatuhi hukuman mati saja, biar kita semua yakin kalau mereka memang sudah mati"


- (Sialan!)


"Juga segel jiwanya supaya tidak ada lagi yang bisa memanggil mereka"


- (Kenapa seakan semua salah kami?)


"Ya, gara gara mereka perang itu terjadi"


-(ha?)


"Banyak yang membenci mereka, bahkan sampai saat ini. Bahkan banyak yang bersumpah, jika mereka ditemukan, mereka tidak akan membuat kematiannya tenang"


-(Ya tuhan.. pasti ada yang salah)


"Kau tau katanya Balapati Dhika dulunya adalah kawan baik mereka"


-(Dhika? Balapati?)


"Untungnya dia tidak mengikuti jejak teman temannya."


"Tapi katanya dia selalu berkelana ke banyak tempat, bahkan dia menolak gelar Balapatinya,"


- (Apa dia baik baik saja?)


"Kurasa dia juga mencari mereka, mungkin sama seperti warga, bersumpah untuk membunuh mereka"


- (Aku tidak percaya)


Rinaya dengan Cepat menghabiskan makanannya, dia terlalu asik mendengarkan penggosip itu, dia bahkan tidak menyadari sejak awal dia sedang di perhatikan oleh seseorang. Seseorang yang duduk di paling pojok.


"Pak, ini benar saya gak perlu bayar?"


"Tidak apa apa Den"


Rinaya Terenyum sumringah, "Terimakasih ya Pak, Asalamualaikum" Rinaya pun pergi meninggalkan kedai itu.

__ADS_1


__ADS_2