Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Nirmala


__ADS_3

Bayu masih tidak mengerti mengapa tiba tiba nirmala menitipkan barang berharganya.


Namun bukan itu yang membuatnya gelisah. Perkataan mengenai bagaimana dia bisa kembali ke asalnya, membuat Bayu mengingat satu hal yang sempat dilupakannya.


Bayu bergegas berlari ke kamarnya, mengambil sebuah buku yang minggu lalu pernah dibelinya. Bodohnya dia hal sepenting itu bisa dia lupakan. Buku yang mahal itu bahkan masih belum di buka nya sama sekali.


Segera dia ambil dan baca buku itu dengan seksama. Untungnya buku itu bertuliskan bahasa jawa. Dia sedikit mengerti bahasa jawa. Hanya saja banyak kata yang sangat asing. Seperti buku itu ditulis dari sumber awal bahasa asing atau teejemahan dari bahasa asing.


apakah dari bahasa inggris, pikirnya.


Kemudian dia buka lipatan kertas bertinta ungu.


Benar benar seperti yang dia kenal.


Dia ambil secarik kertas lain di dalam sebuah buku. Diletakannya kedua kertas itu berdampingan. Gambar dan simbolnya sangat mirip. Beberapa memang berbeda, dan keterangan detail yang sedikit lebih lengkap di kertas miliknya namun tidak ada judul nya sama sekali. Berbeda dengan kertas yang satunya. Tidak ada detail keterangan namun di sana tertulis jelas apa gambar itu sebenarnya.


Jika diartikan judulnya adalah "simbol dan ritual pemanggilan setan"


"setan??"


dia menyadari sesuatu.


Beberapa bulan lalu dia mempraktekan ilmu ini di tengah hutan di samping tebing yang curam. disana ada sebuah pondok.


Saat itu dia hanya membawa secarik kertas itu. Penasaran dengan apa yang bisa di buatnya.


Sebuah simbol formasi dilukis di lantai dengan menggunakan darah ayam hitam, beberapa sesajian di letakan di tengahnya. dia mengganti beberapa simbol karena sudah tidak jelas tertulis dalam kertas itu.


Bayu orang yang cerdas, cepat memahami sesuatu. Apalagi hal yang membuatnya tertarik, dia selalu langsung mempraktekannya.


Hanya saja hal semacam ini entah apa yang ingin dia ketahui.


Dia merapal mantra yang setengah tertulis dalam kertas itu dan menambahkan sesuai dengan keinginannya. Tidak secara asal. Hanya saja dia sudah memikirkan sebelumnya yang sangat cocok dan tepat untuk mengganti mantra yang hilang itu.


Beberapa saat tidak terjadi apa apa, lalu kemudian dia seperti mendengar sesuatu, Menggema didalam ruangan itu menusuk ke telinganya. Isi kepalanya penuh dengan suara itu.


Suara seorang perempuan, menangis, marah, putus asa. Satu kata yang selalu dia ingat dari raungan itu "tolong, bawa aku pergi dari sini" kalimat itu membuatnya membuka mata, seketika dia berdiri dari tempatnya,engambil sebuah pisau yang sedari tadii tergeletak disampingnya. Naas. Dia tidak sengaja memegang mata pisaunya. Membuat tangannya meneteskan banyak darah. Situasi menjadi sangat hening. Namun setelah itu tidak terjadi apa apa lagi. Mungkin itu hanya halusinasinya pikirnya.


Tanpa sadar tagannya yg terluka meneteskan darah mengenai formasi itu. Simbolnya menjadi tidak sempurna karena darahnya.


Hari sudah petang. Karena tidak ada yang terjadi. Dia meninggalkan semua itu dan pergi pulang.


Melihat kedua kertas itu, membuatnya bertanya tanya. Apakah ada setan yang terpanggil. Atau ada hubungannya dengan banyaknya warga yang hilang?


Tapi saat itu tidak ada apapun terjadi. Hanya beberapa suara menggema d kepalanya.


Tapi dia masih penasaran. Jika pemanggilan nya berhasil, apakah dia bahkan yang memanggil Nirmala?


Waktunya sangat pas saat itu. begitu Bayu pulang, pada malam harinya kakek Sapta menemukan Nirmala. Apakah bukan kebetulan?


Tapi yang tertulis disana adalah pemanggilan setan. Apakah Nirmala termasuk golongan setan. Tapi selama mereka bersama. Nirmala adalah manusia biasa. Apakah ada pengaruh dari simbol dan mantra yang dia rubah?


bisa jadi seperti itu?


semua berputar di kepalanga menjadikannya memiliki berjuta pertanyaan yang masih misterius.


Bayu menatap kantung kecil itu lekat lekat. dan lalu mengalungkannya di lehernya dia sudah berjannji akan menjaganya.


[Hari kunjungan keluarga Wijaya menjenguk Ayu]


Bayu, Tuan Wijaya dan Haris datang mengunjungi Ayu, pemilik toko herbal memberikan cuma cuma semua herbalnya untuk di bawa kepada Ayu. Ayu akan sangat membutuhkannya.


Sesampainya di sana. Bayu, Haris dan Nirmala menemui Ayu. Sementara para orang dewasa berbincang pembicaraan yang serius.


Ayu terlihat sangat sakit.


Bayu mencoba untuk memeriksanya. Tapi memang gejala yang terlihat hanyalah seperti anemia biasa. Tidak ada yang lain. Dia tidak punya riwayat sakit apapun. Bayu dan Haris sangat khawatir.


Sementara Haris berbincang dengan Ayu. Bayu bertanya pada Nirmal beberapa hal. mereka berdiri di balik pintu.


Nirmala terlihat sangat gelisah dan sangat cemas. Tentu saja. Dia sudah dekat dengan Ayu.


Bayu "ada apa, kau terlihat gelisah"

__ADS_1


Nirmala hanya menggelang kepala. "Aku hanya khawatir. Aku merasa ada sesuatu yang salah"


Datang lah dyah dari arah lorong.enyapa Nirmala dan Bayu dengan senyum manisnya. Dyah sangat ceria meski bnyak hal buruk menimpanyam dia orang yang sangat positif.


Bayu "tidak perlu khawatir. Ayu memiliki orang yang sangat menyayanginya. Seperti Dyah dan kau"


Bayu memberikan bingkisan berisi herbal kepada Dyah dan dengan inisiatif Nirmala membantu Dyah menyiapkan herbal itu untuk di minum Ayu..


Setelah semua dirasa cukup. Mereka pun kembali pulang.


Sore hari seseorang datang. Utusan dari Istana Mandalika, mengabarkan bahwa Ayu kritis. Diracuni. oleh Nirmala.


kalimat itu berputar dalam pikiran bayu.


Dengan segera bayu meminta utusan itu untuk juga memberitau Haris dan Paman Wijaya. Tentu saja Bayu mengatakan padanya untuk hanya memberitahukan mengenai keadaan kritisnya saja mengenai racun dan Nirmala Jangn diberitahukan. Mereka pasti sangat cemas.


Seketika itu juga Bayu terlebih dahulu berlari menuju Istana. Toko Herbalnya jauh lebih dekat dari kediaman tuan Wilis sehingga bayu pastilah lebih dulu sampai.


Bayu terhenti di depan gerbang. Melihat Tuan Budhi barusaja kembali entah darimana. Membawa sepotong pakaian kotor dan compang camping. Penuh dengan darah dan tanah..


Dia mengenali pakaian itu. Baju berwarna merah muda bersulamkan bunga yang cantik di sekeliling kerahnya.


Itu milik Nirmala.


Bayu menghampiri dan bertanya pada tuan Budhi .


"Paman, ada apa dengan pakaian itu, itu milik Nirmala kan? Dimana dia?"


"Masuk lah. Bertanya lah kepada tuan Wilis.


Bayu memasuki ruang Aula bersama tuan Budhi. Tuan wilis duduk di kursinya. Raut wajahnya merah padam. Menahan emosi.


Tuan Budhi melapor. Meletakan pakaian kotor itu di hadapannya, berlutut, dengan mata berkaca, dia berkata, "Tuan anda tidak perlu khawatir semua sudah saya salesaikan."


Bayu "Paman Budhi ada apa?"


Tuan Budhi "tunggulah semua keluarga besar untuk datang berkumpul."


Akhirnya Tuan Wiriya, Tuan Wijaya Haris, juga Dhika akhirnya datang.


Tuan Budhi menjelaskan situasinya.


Perdebatan hampir saja pecah. Sebagian orang tidak percaya. Sebagian lagi hanya diam. Sedangkan Bayu dengan lantang menyanggah tuduhan itu.


"tidak mungkin nirmala melakukan itu. sangat tidak mungkin." tapi semua tidak bisa berbuat banyak. bubuk racun itu di temukan dalam bajunya.


Tuan Wilis "itu benar dan aku harap semua bisa menerimanya. Nirmala Tewas di Hutan. Biarkan hanya kabar itu saja yang terbang. Aku tidak ingin Ayu merasa sedih di khianati"


Namum Tuan Wilis juga meminta untuk tidak memberitahu siapapun mengenai racun itu. Itu akan membuat ayu merasa sedih. Untuk sementara berita mengenai Nirmala jika Ayu bertanya. Cerita akan di buat seakan dia sedang peegi ke suatu tempat dan seminggu kemudian tewas.


Skenario yang sangat apik. Dan semua orang jadi terlibat di dalamnya. Mereka harus mematuhi itu.


Bayu mendesak tuan Budhi "paman. Kemana paman membawa nya pergi?


Tuan Budhi "relakan dia Bayu. Dia sudah tiada. Nirmala mamg sudah tewas."


Melihat baju yang rusak itu semua orang pun percaya.


Bayu "paman katakan saja kemana kau membawa nirmala pergi."


Lalu dia menjawab. "Hutan pekat gunung Halimun"


Semua tercengang mendengar itu.


"itu memang pantas untuknya." kata Tuan Wilis.


Mendengar itu. Bayu melangkah mundur. dan berlari segera meninggalkan istana.


Memacu kudanya sekuat tenaga. Berharap Nirmala masih berada di tempatnya.


Kudanya melesat dengan cepat. Hujan mulai turun sejak dia meninggalkan istana. Baju nya semakin basah dia tidak peduli. Dia ingin segera mencari nirmala.


Hingga tiba beberapa langkah lagi memasuki hutan pekat, kuda yang di tungganginya berhenti enggan untuk masuk. Seakan ada hal yang ditakutkannya disana.

__ADS_1


bayu tidak peduli


Dia berlari memasuki hutan.


Dia menelusuri jejak jejak yang hampir menghilang terkena hujan.


kini hujan mulai berhenti. Jejak jejak itu seakan tinggal garis garis tak tentu.


Dilihatnya beberapa anak panah tertancap. beberapa di batang pohon. Beberapa tergeletak di tanah.


Salah satu anak panah itu berlumuran darah.


Dari tanah tak jauh dari sana, terlihat sedikit bekas genangan darah. Meski terguyur hujan namun masih terlihat jelas teta darah disana. Itu menandakan bahwa siapapun yg kehilangan darah ini. Dia sangat terluka parah.


Melihat itu air matanya tak henti lagi mengalir. Dia memutar matanya mencari tanda lain. Berlari mencari kesana kemari. Tak ada tanda yang dia temukan lagi


tak ada lagi jejak darah.


tak ada lagi jejak kaki


bahkan tubuhnya pun tak di temukan.


kemana dia.


Hari semakin gelap. Bayu putus asa. Satu satunya yang masuk akal adalah. Nirmala tewas dimangsa hewan buas.


Atau dibawa oleh bandit gunung.


Maka tidak ada harapan lagi baginya.


Melihat darah itu, membuatnya seakan tidak percaya. Tapi menguatkan dugaannya. nirmala pastilah terluka parah. Kalaupun selamat, mungkin tidak akan bertahan lama.


Bayu bersimpuh diatas genangan darah yang bercampur lumpur itu.


Kepalanya menunduk, air matanya mengalir.


Dia tidak mengerti mengapa semua terjadi.


Jika pemanggilan setan itu berhasil. Dan Nirmala adalah yang dia panggil. Maka semua yang menimpanya adalah tanggung jawabnya. Kesalahannya.


Dia tau rasa penasarannya membaut seseorang terluka.


Tapi di sisi lain dia juga ingin jawaban atas semua yang dia rasakan selama ini. Pemanggilan itu ia lakukan adalah karena ingin mengetahui bagaimana keluarganya bisa habis tak tersisa.


Berharap mendapat jawaban itu. Malah membawa masalah utk orng lain..


Dia genggam erat kantong kecil yang melingkari lehernya. Dalam hati dia berjanji dia akan terus mencari Nirmala. untuk mengembalikan benda berharganya ini.


Akhirnya bayu kembali tanpa membawa apapun. Dengan setengah hati dia berjalan kembali.


Kuda yang tadi dia tunggangi entah kemana pergi.


Hujan kali ini. Adalah seratus hari setelah taruhan dimulai. Nirmala menjawab dengan tepat. Bayu menengadahkan wajahnya ke langit "kau menang Nirmala, apa yang ingin aku janjikan padamu? Janji apa yang ingin aku pegang untukmu?, Kau belumenjawab itu kan?. Maka kembalilah."


Sebulan berlalu tanpa ada tanda tanda dari Nirmala.


Bayu amsih mencari keberadaannya.


Dia tidak mungkin pergi jauh.


Dia mencintai negeri ini,


Dyah sering mengunjungi bayu di toko, kadang bertemu, kadang juga tidak, keperluannya ktoko juga untuk membeli beberapa herbal untuk anggota keluarga Wilis . Bayu lebih sering berkeliaran mencari herbal, atau pergi ke ladang untuk merawat dan menanami herbal. waktunya dihabiskan di luar toko. Dia menyibukan dirinya.


Dyah pernah bertanya kepada Bayu, apakah Nirmala sangat berarti untuknya.


Bayu menjawab tentu saja. Dari pertama bertemu hingga terakhir dia menghilang, tidak ada satupun yang meragukannya. Baik sifat dan kebaikannya, bahkan kecerdasannya. Apapun yang dilakukan. Selalu di lakukannya dengan sepenuh hati.


Selain itu tentu saja karena Bayu merasa bertanggung jawab atasnya meski pemanggilan itu belum tentu benar adanya .


Kabar duka datang di bulan berikutnya. Maryam Ayu meninggal dunia. Sakitnya sejak saat itu tidak pernah sembuh. Semakin hari bahkan semakin parah. Hingga menghembuskan nafas terakhirnya.


Semua orang bersedih atas gadis malang itu. terutama Haris tunangannya. Gadis itu selalu meninggalkan kesan baik pada setiap orang. semua merasa kehilangan.

__ADS_1


__ADS_2