Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Kejutan


__ADS_3

Danu dan Rinaya disibukan dengan bermain panahan. Sesekali Rinaya meminta Danu menemaninya berlatih pedang. Tentu hanya dengan menggunakan pedang kayu saja. Danu dengan senang hati menuruti semua maunya hingga matahari condong ke barat.


"Kau sangat hebat. Benar benar murid Balapati Wiriya."


"Nona. Kurasa kau lebih hebat."


"Haha apa kata kata itu juga kau belajar darinya?"


"Tidak. Itu hanya dariku saja."


Seseorang berlari dari ujung jalan. Tergesa dan terengah seakan dikejar sesuatu yang sangat mengerikan. "Danu. Sesuatu terjadi di desa." Dia berteriak masih dalam pelariannya.


"Tio. Kenapa tergesa seperti itu. Terjadi apa?" tanya Danu Heran.


Tio "Aku diminta Balapati untuk memintamu mengantar temannya kesana dan melihat keadaan."


Rinaya "Ada apa?"


Tio "Sesuai arahan, kami memeriksa semua sumur. Kami menemukan sesuatu di dalamnya. Sebaiknya kalian langsung lihat saja kesana."


Belum selesai dia bicara Rinaya sudah berlari menuju tempat yang di maksud meninggalkan mereka berdua.


Tio "Danu apa dia sepenting itu untuk Balapati? Dia terlihat sama saja seperti kita."


"Kita tidak akan pernah tau apa yang Balapati pikirkan. Sudah lah. Ayo kesana." Jawab Danu


***


Pradhika Wiriya tengah bersama warga mengelilingi sebuah sumur. Tergeletak mayat terbujur kaku. Dengan ciri ciri yang tidak asing baginya. Haris pun menyaksikan itu. Begitu pula dengan tuan Baskara Wiriya. Dhika meniliknya lebih teliti. Mayat itu sudah tidak utuh. Terlihat sangat mengerikan. Bahkan berbau busuk menyengat disekitarnya. Tak lama Haris pergi dari sana. Tidak ingin melihatnya lagi. Hal mengerikan itu semua mungkin sudah menduganya.


"Ayo kita bicara kan dengan yang lain." Ujar tuan Baskara.


Tapi Dhika masih disana. Seseorang menembus kerumunan. "Permisi permisi. Tolong beri jalan."


Dhika mengenal suara itu. Rinaya.


"Apa yang terjadi. Balapati?" Tanya Rinaya setelah melihat sesuatu terbaring di sana.


"Seperti dugaanmu. Ada sesuatu di dalam sumur."


Bau menyengat itu masih mengitari mayat. Rinaya memperhatikannya. Kulit hitam. Mata merah. Ciri itu masih terlihat darinya. Meski beberapa bagian tubuh sudah menghilang darinya.


"Dhika, Ciri ciri ini.....??" Rinaya menatap Dhika yang mematung disana.


"Aku berharap semua dugaanmu kali ini adalah salah." Matanya bergetar. Dia menyadari sesuatu. Hal hal yang dia temui selama ini. Dan beberapa teori yang Rinaya pernah ucapkan membuatnya semakin yakin pada satu dugaan. Seseorang sedang membuka sebuah lubang yang telah terkubur berkali kali.


"Aku pun berharap begitu...." balas Rinaya


Danu baru saja tiba bersama Tio. Seketika Danu termenung melihat sesuatu yang mengerikan itu. Dia hanya diam tidak berani untuk bertanya.


"Aku akan membahas ini dengan yang lainnya. Danu, tetaplah temani dia."


Danu mengangguk. Keningnya masih berlipat. "Nona, apa yang terjadi?" Dia berbisik. Rinaya tidak menjawab itu. Dia masih memutar mata mencari sesuatu yang mungkin saja dia lewatkan.


Sebuah ember kayu berisi air sumur yang keruh. Dia mendekatinya melihat ember itu lekat lekat. Sesuatu masih berenang renang diantaranya. "Danu, kau sudah mempelajari ilmu kebatinan?"


Danu mengangguk "Sudah."


Rinaya "Kau bisa mengalirkan energimu di tanganmu?"


Danu mengangguk lagi. "Tentu saja bisa "


Tio "Pertanyaan macam itu. Tentu kami bisa melakukannya. Itu ilmu dasar yang harus di pelajari sejak awal masuk padepokan." Sistim pembelajaran di padepokan Wiriya ternyata sudah menerapkan hal itu sejak dini. Tidak heran orang orang padepokan ini menjadi orang orang yang hebat. Apalagi Dhika tau betul sejarah mengapa ilmu itu harus di pelajari.


"Danu, Berikan tanganmu" seru Rinaya.


Dia ambil ember itu dan menuangkannya ke tangan danu yang membentuk mangkuk. "Eeeeuuuhhhh....Apa aku harus melakukan ini."


Rinaya hanya terus mengamati air itu. "Cobalah alirkan energimu untuk air ini."


Danu melakukan semua perintahnya. Perlahan air keruh itu sedikit berubah warna. Belatung belatung hitam yang benerangpun kian lama kian menghilang. Melebur bersama air lalu lenyap.


Tio "Loh... Apa yang terjadi dengan airnya. Kenapa bisa seperti itu?" Dengan heran Tio menatap Rinaya yang masih seperti memikirkan sesuatu. Rinaya tidak menjawab itu.


Rinaya "Tio. Aku berikan tugas padamu. Anggap saja ini tugas dari balapati. Jadi kau harus melakukannya."


Tio "Ha??"


Rinaya "Periksa semua sumur di desa ini. Lakukan hal seperti tadi. Lihat apakah ada perbedaan atau tidak. Ya!!. Ku serahkan padamu." Dengan segera dan tanpa penjelasan. Rinaya pun pergi meninggalkan tempat itu.


Tio "heh kau mau kemana? Aku tidak mau melakukan itu. Itu sangat menjijikan." Dia berteriak seraya Rinaya berlari meninggalkan tempat itu


Danu "Tio. Sebaiknya ikuti saja perintahnya. Kurasa balapati mempercayainya karena itu." Tentu saja. Mereka pun melihatnya. Tanpa waktu lama Rinaya bisa menemukan sesuatu hal yang mungkin tidak di ketahui orang lain. Danu pun pergi menyusul Rinaya.


Rinaya berjalan cepat menuju lereng gunung. Dimana mata air mengalir. Meski cukup jauh. Dia harus kesana dan memastikan sendiri. Danu masih mengikuti dari belakang. "Nona. Apa yang kita cari disini?" Danu bertanya sesaat setelah sampai. Tapi Rinaya seperti tidak mendengar itu. Dia memutar kepalanya kesegala arah mencari sesuatu yang mungkin mencurigakan.


"Danu, apa kau melihat sesuatu yang aneh disini?" Tanya Rinaya masih menoleh kesana kemari.


"Tidak. Disini sangat bersih. Bahkan semut pun tidak terlihat."


"Ya, itu hal aneh menurutku."


Terlihat sesuatu berwarna kuning. Hanya sedikit saja. Sebuah kertas tertindih sebuah batu cukup besar. Rinaya penasaran dengan itu. Dia angkat batu itu. Sesuatu tertulis dalam kertas. Dia tidak mengenalinya. Tidak bisa membacanya. "Danu. Lihat ini. Kau tau tulisan apa ini?"


"Ini semacam kertas mantra. Tapi aku tidak tau apa isi mantra nya. Aku baru pertama kali melihatnya"


"Kertas mantra?" Rinaya terpikir beberapa hal. Dia pernah melihat yang mirip dengan ini. Seperti sesuatu yang menempel di pohon keramat. Dan salah satu yang pernah dibawa Bayu. "Bayu??"


Rinaya segera berlari kembali ke balai desa. Dengan cepat dia masuk ke ruang perawatan. Hanya ada pasien dan satu perawat yang mondar mandir dengan sibuknya.


Rinaya menghampiri salah satu pasien yang sedang tidur.


Danu "eemm.. sebenarnya apa yang sedang ada cari, Nona?"


Rinaya membuka lengan baju pasien itu. Memastikan sesuatu. Beberapa benjolan terlihat. Seperti terkena penyakit kulit. Dia juga memeriksa badannya, leher dan membuka matanya. Warna matanya tidak terlihat sehat. Memang wajar tapi sesuatu itu terasa aneh bagi Rinaya. Air mata pasien pun tidak sebening biasanya. Seharusnya itu tidak terpengaruh. Ini benar benar hal aneh. Rinaya semakin yakin dengan dugaannya.


"Danu, alirkan energimu ke pasien ini. Aku ingin lihat reaksinya."


Danu melakukan sesuai perintahnya. Memegang lengan pasien dan mengalirkan energi itu. Perlahan energi itu seperti merambat ke lengan pasien. Rinaya terus memperhatikan dengans eksama. Sesuatu terjadi. Bejolan di lengan pasien itu perlahan mengecil. Tapi tetap tidak hilang.


Rinaya berdiri dan memanggil seorang perawat. "Ah. Teteh, permisi."


Seorang perawat menoleh. Dia sedang menyuapi pasien lain. "Iya tuan?"


"Bisa saya minta tolong? Saya mau pinjam catatan kesehatan pasien. Mengenai gejala. Tanda fisik dan lain lain."


"Maaf tuan itu tidak di ijinkan untuk orang luar."


"Tapi ini perintah dari tuan tabib dan balapati. Mereka pasti sedang menungguku untuk catatan itu."


Danu mengerutkan keningnya. Dia tau Rinaya berbohong. Balapati tidak meminta itu. Dan tuan tabib. Bahkan dia belum menemuinya lagi. Tapi Danu hanya diam.


"Baik tuan. Saya ambilkan dulu."

__ADS_1


"Eh teh. Rinaya menarik lengan perawat itu. Dapurnya di sebelah mana? Saya mau periksa makanan dan air yang dipakai."


"Di sebelah kiri gerbang selatan tuan."


"Terimakasih. Antarkan catatan nya kesana ya. Aku menunggu disana."


"Baik tuan"


Segera Rinaya berlari ke dapur. Danu masih mengikuti. Rinaya memeriksa semua bahan makanan dan air di sana.


"Hmm... Nona. Sebenarnya apa yang kau cari. Dan... Kenapa tadi kau berbohong."


"Danu. Apa kau lihat sesuatu yang aneh disini? Bantu aku mencarinya."


Danu segera melakukan itu. Meski pertanyaannya tidak pernah dijawab. Dia hanya bisa percaya padanya.


"Nona! Disini. Ada kertas mantra lagi." Danu memiringkan sebuah kendi besar berisi sedikit air. Bagian bawah kendi itu menempel secarik kertas kuning bertuliskan sesuatu. Rinaya menghampirinya. Mengambil sedikit air itu "Berikan tanganmu" ujarnya pada Danu seperti sebelumnya. Rinaya menuangkan air itu ke tangan Danu. "Lakukan seperti tadi."


"Eh. Tidak ada yang terjadi. Airnya masih tetap sama. Bersih. Bahkan sangat bersih." Ujar Danu setelah melakukan perintahnya.


Seseorang masuk kedalam dapur. Rinaya masih mematung. Pikirannya masih mengawang. "Tuan" seru seorang perawat yang baru masuk. Seketika dia tersadar akan itu


"Ini catatan nya" dia menyerahkan sebuah buku pada Rinaya. Lalu pergi dari sana.


Rinaya membuka buku itu dan menghela nafas. "Aku tidak mengerti tulisannya"


"Hmm. Nona....? Apa kau tidak akan menjawab semua pertanyaanku?"


"Danu. Aku butuh bantuanmu. Ayo kita cari tempat yang nyaman. Kepalaku sedang bergejolak."


***


Rinaya dan Danu kembali ke tempat mereka semua tinggal di desa. Dylan terlihat di depan rumah. Duduk di sebuah bangku. Melipat tangannya. Menengadahkan kepalanya ke langit. Entah apa yang dia pikirkan.


Rinaya bergabung duduk disana. Begitu juga Danu.


Dylan "Darimana saja kau. Seperti hantu saja. Tiba tiba muncul tiba tiba hilang."


Rinaya "Aku memang hantu. Sedang apa kau? Desa sedang gempar kau malah melamun disini."


Dylan "ck. Kau pikir siapa yang menemukan itu sebelum mereka."


Rinaya "Entahlah. Aku tidak peduli."


Danu "Hmm Nona...."


"Aku belum yakin. Kau akan tau nanti. Aku yakin kau sudah mulai menduganya." Jawaban Rinaya pada Danu. Padahal Danu belum menyelesaikan kalimatnya.


Danu "Apakah ini sangat gawat?"


"Entahlah." Jawabnya enteng. "Tolong bacakan catatan itu." Lanjutnya pada Danu. "Cari tau asal muasal. Gejala awal. Gejala selanjutnya. Tindakan yang digunakan."


Danu mulai membuka dan membaca buku catatan itu. "Wabah penyakit di ketahui sejak sebulan lalu. Ketika salah satu sumur mulai terlihat keruh. Gejala pusing, mual, muntah."


Dylan "Ini seperti keracunan biasa."


Danu "seminggu kemudian terlihat ruam di seluruh tubuh. Dan benjolan yang ukurannya bervariasi. Terasa gatal dan panas."


Dylan "seperti penyakit kulit yang disebabkan kutu air atau semacamnya."


Danu "warga berhenti menggunakan air sumur dan mulai menggunakan air di mata air lereng."


Rinaya "Itu sesuai perintah Tuan Tabib."


Danu "apa menurutmu yang dilakukan tuan tabib ini, Nona?"


Rinaya "Ada hal yang aku tidak mengerti. Dugaanku langsung tertuju pada sesuatu. Tapi kenapa dia tidak menyadari hal ini?"


Dylan "bicara apa kau. Aku tidak mengerti."


Rinaya "apakah seseorang yang sudah ahli dalam ilmu kebathinan bisa dengan mudah menghilangkan kemampuan itu?"


Dylan "Tuan tabib itu apakah dia tidak memiliki ilmu ini?" Dylan tidak tau siapa dia. Baik Rinaya dan Dhika tidak ada yang memberitahunya. Mereka tetap bersandiwara dan menyebut bayu dengan  'tuan tabib'.


Danu "oh selama disini aku tidak pernah melihat siapa dia. Nona. Sebenarnya siapa dia?"


Rinaya "Jawab dulu pertanyaanku."


Danu "Secara teori itu mungkin saja terjadi tapi tidak mungkin hilang seluruhnya. Itu bisa dipelajari lagi meski dengan usaha yang lebih keras."


Rinaya "lalu kenapa dia hanya menggunakan kertas mantra. Dia bahkan seperti melewatkan hal satu ini."


Dylan "ck. Kau selalu bicara hal yang hanya bisa dimengerti dirimu sendiri."


Rinaya "Dylan aku tanya. Apa kau pernah menyelidiki kasus desa mati di perbatasan Sunda-Mataram. Kabarnya satu desa tewas karena wabah. Kurasa itu sekitar limapuluh tahun lalu."


Dylan "tentu ku tau. Aku pernah menyelidiki ini bersama Balapati."


Rinaya "Apa ada kesamaan? Dengan yang terjadi sekarang."


Dylan tiba tiba termenung. "Informasi mengenai itu sangat rahasia. Tidak banyak orang yang tau. Hanya aku dan Balapati yang berhasil mengetahuinya. Dan... Memang ada kesamaan."


Rinaya "seperti apa?"


Dylan "Air tercemar, keracunan, penyakit kulit. Dan ada sebuah catatan yang tidak aku mengerti. Tapi Balapati seperti tau isinya. Dia tidak pernah bicarakan itu dengan siapapun. Termasuk aku."


Dengan segera Rinaya berlari meninggalkan rumah itu. Sekuat tenaga. Jalanan desa cukup Ramai. Banyak orang yang datang dari desa lain untuk membantu. Tapi bukan itu yang membuat Rinaya terhenti dari langkahnya. Kepalanya seakan berputar. Suara sekitar semakin berisik mengusik pikirannya. Orang berlalu lalang semakin membuatnya pusing. Lagi lagi sesuatu memanggilnya. "Nirmala! Rinaya! Putri!" Semakin lama semakin nyaring dan semakin membuatnya tenggelam dalam keadaan. Dia memegang kepalanya dan menunduk. Terduduk disana. Suara suara itu masih tidak pergi. Dia tutup kedua telinganya. "Jangan ganggu aku!"


"Jangan ganggu aku!" Kegelisahan itu tidak juga pergi. Dia harus segera bertemu Balapati. Dia berdiri disana. Tidak memperdulikan semua itu. Mencoba untuk fokus. Tapi dia kehilangan arah. Semua orang terlihat menyeramkan dimatanya. Orang orang itu. Mereka yang telah mati. Seakan hadir dan menyalahkannya atas kematian mereka. Terlihat wajah wajah yang tidak asing. Mulai dari keluarganya. Kakek Sapta. Keluarga Wijaya. Kelompok Halimun dan, Tuan Budhi. Semua muncul dengan darah di tubuh mereka. Rinaya tau ini hanya ilusi. Tapi dia sulit untuk menghilangkannya. Air matanya mengalir. Dia hanya ingin menemui Dhika. Dia terus mencoba berlari.


Dhika muncul dihadapannya. Berdiri tanpa ekspresi. Dia merasa lega akhirnya bisa bertemu dengan Dhika.  Tapi Rinaya sejenak menyadari. Darah perlahan keluar dari mata Dhika. Bajunya perlahan berganti warna seperti aliran darah mengalir dari tubuhnya. Ini masih ilusi. Tapi ini hal paling mengerikan untuknya. Tidak bisa dia bayangkan Dhika akan mengalami itu. Dia tidak ingin Dhika mengalami itu. Dia takut sesuatu benar benar terjadi padanya. Pandangannya mulai memudar. Perlahan menjadi gelap. Penampakan terakhir itu membuatnya tak sadarkan diri. Rinaya terkulai lemas.


Danu yang mengejar sejak tadi segera menyangga tubuh Rinaya. Semua orang di jalan itu melihatnya dengan tatapan aneh. Seperti melihat seorang yang kehilangan akal sehatnya. Berteriak sendiri. Meracau sendiri. Menangis sendiri.


***


Di sebuah ruangan di balai desa. Pradhika Wiriya, Baskara Wiriya, Galih Wijaya, Haris Wijaya dan seorang kepala desa disana berdiskusi mengenai yang mereka temukan di sumur. Kepala desa tidak mengetahui itu. Bahkan dia merasa ketakutan mendengar itu. Pastilah ada yang disengaja.


Haris "Dari ciri yang kita lihat tidak salah lagi. Mereka ternyata masih ada. Tapi kenapa baru muncul sekarang sekarang ini ketika kita sudah di hebohkan dengan kehadiran gadis itu. Jangan jangan memang ini ada hubungannya.


Baskara "kita datang kesini untuk membantu warga. Masalh lain adalah prioritas selanjutnya."


Haris "Tentu saja. Itu adalah kata kata yang akan di setujui oleh Balapati Wiriya.  Tapi bagiku semua adalah prioritasku. Aku tidak mungkin membiarkan hal yang sama kembali terjadi.


Dhika hanya diam dan mendengarkan.


Kepala desa "Apa yang di maksud oleh tuan tuan ini saya tidak mengerti."


Dhika "Tuan Kepala desa saya mohon maaf, saya khawatir bahkan masalah ini jauh lebih besar lagi."


Kepala desa "Apa maksudnya?"


Dhika "Mengingat apa yang Tuan Wijaya katakan. Mungkin memang ada hubunganya dengan Nirmala tapi. Selama lima belas tahun kebelakang saya selalu menyelidiki kasus serupa seperti di desa ini. Negeri kita beberapa kali di landa wabah penyakit beberapa tidak bisa di sembuhkan. Pada akhirnya satu desa menjadi desa mati karenanya. Apakah kalian semua mengingat sesuatu? Ada satu desa di perbatasan yang mengalami hal yang sama?"

__ADS_1


Baskara "Dhika itu tidak mungkin......"


Dhika "Karena adanya mayat yang kita temukan. Sepertinya, kita harus menyelidiki ini lebih lanjut. Khawatir akan menjadi seperti desa sebelumnya.


Galih mengerutkan dahinya. Tidak biasanya Balapati bicara panjang lebar. Beberapa kali pertemuan dengannya sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Sesuatu yang berhubungan dengan Nirmala, dia selalu angkat suara dan bicara lebih terperinci.


Seseorang mengetuk pintu. Danu masuk dan menunduk hormat pada semuanya. Lalu berbisik di samping telinga sang Balapati. Raut wajah Dhika seketika berubah cemas. Tapi tentu hanya Tuan Baskara saja yang bisa melihat itu.


Dhika "Permisi." Tanpa mengatakan alasan. Dhika pergi begitu saja. Haris yang melihat itu semakin curiga. Bertanya tanya tentang apa yang sedang dia sembunyikan.


Hari sudah gelap. Rinaya masih terbaring di tempat tidur. Danu masih menemaninya, begitu juga dengan Dhika dan Dylan.


Dylan "Sebenarnya dia sakit apa?"


Dhika "Danu, apa yang terjadi dengannya tadi?"


Danu menggelengkan kepala "Aku juga tidak mengerti. Dia berlari. Tiba tiba berhenti. Dan melihat sekelilingnya. Raut wajahnya terlihat ketakutan. Lalu dia dia berteriak teriak seseorang menganggunya. Setelah itu dia tidak sadarkan diri."


Dylan "'penyakit orang gila' yang dia maksud adalah ini?"


Dhika "Danu buatkan teh hangat untuknya minum. Kurasa dia memang membutuhkan obat itu."


Dylan "hmm... Karena itulah  dia bersikeras ingin obatnya kembali?"


Perlahan Rinaya membuka matanya.


Dhika "Kau baik baik saja?"


Rinaya "Ruangan ini dipenuhi kunang kunang. Kepala ku terasa sangat berat."


Danu membawa nampan berisi teh hangat untuknya minum. Rinaya duduk d tempat tidurnya. Merogoh sesuatu dalam kantung bajunya. Meminum beberapa pil obat miliknya. Dan bersandar disana.


Dylan "kau menangis?"


"Ah. Kurasa aku bermimpi." Jawab Rinaya


Dhika "Bermimpi tentang apa?"


"Masa lalu."


Dhika "sejak kapan kau seperti ini?"


Rinaya "Seperti apa? Seperti orang gila? Haha"


Dylan "Semua orang mengkhawatirkanmu dan kau masih bisa tertawa."


Rinaya "ah. Aku baik baik saja. Tidak perlu khawatir."


Dhika "kau tidak ingin menjawab itu?"


Dhika dengan tajam menatap Rinaya. Membuatnya merasa tidak nyaman. "Sejak aku terbangun di rumah sakit. Kurasa tidak ada hubungannya dengan kalian. Tidak perlu khawatir. Aku memiliki dunia yang berbeda. Beberapa hal yang aku tidak bisa lupakan. Membuatku sedikit depresi."


Dhika "apa itu bisa di sembuhkan?"


Rinaya "Tentu saja. Waktu akan menjawab semua itu. Eh. Ba- kau melihat Tuan tabib dan Jaka?" Kemana mereka pergi?"


Dhika "mereka menghilang. Tidak ada dimanapun."


Rinaya cemberut "apa mereka tidak khawatir padaku? Menyebalkan."


Seseorang mengetuk pintu "Sampurasun" suara Tio terdengar dari balik pintu.


Dylan "masuklah."


Tio membuka pintu dan masuk. Terheran terlihat banyak orang di dalam sana. "Apa terjadi sesuatu disini? Kenapa ramai sekali?... Balapati" suaranya yang nyaring tiba tiba meredup seraya melihat sosok Balapati disana.


Dhika "Ada apa?"


Tio "Itu, tadi siang Dia memintaku untuk memastikan keadaan seluruh sumur di desa. Aku sudah melakukannya dan ingin membahas ini."


Rinaya "Kau menemukan sesuatu??"


Tio "Semua sama. Air dan reaksi yang terjadi. Tidak ada yang berbeda dari saat itu."


Dhika menatap Rinaya "Apa yang kau selidiki"


Rinaya "Seperti ada yang sengaja melakukan ini. Semua sumber air tercemar. Tapi satu hal yang kusadari. Mahluk itu ada di dalam air. "


Dhika "Mahluk itu?"


Rinaya mengangguk "Terlihat seperti belatung. Tapi ternyata bukan. Kau ingat kasus desa itu??"


Dhika mengangguk. Tentu saja. Baru saja tadi dia bicarakan itu dengan yang lainnya. Kini Rinaya membahasnya juga.


"Danu, berikan catatan itu padanya."


Danu mengambil catatan yang dipinjamnya dan memberikannya pada Dhika. Dhika membaca itu dengan seksama. "Dhika, Apakah ada kesamaan?"


Dhika mengangguk.


Rinaya "Apa ada hal lain yang kau ketahui?"


Dhika "Aku menemukan sebuah catatan dengan bahasa asing. Huruf yang kau gunakan. Isinya bahwa setelah mereka menyerah mengobati pasien. Beberapa hari kemudian pasien itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Tidak dijelaskan dengan rinci tapi dugaanku mungkin akan mengarah kesana."


Mata Rinaya mulai berputar. Mengingat semua hal yang dia lakukan seharian tadi. "Berapa lama waktu mereka berubah? Sebulan? Dua bulan?"


Dhika "Hanya dua minggu. Dari awal gejala terlihat."


Rinaya mulai berkaca kaca. "Dhika kita berada di dalam desa yang penuh dengan bahaya."


Dylan "Apa maksudnya itu?"


Dhika "Mungkin ini berbeda. Bukankah sudah lewat dari satu bulan tidak ada tanda seperti itu."


Rinaya "Itu karena dia sudah menduga ini."


Dylan "Dia?"


Rinaya "Tuan Tabib. Dia sudah tau air tidak bisa dipakai. Dia sudah tau ada sesuatu dengan penyakit ini. Dia sudah tau cara mengurangi gejala. Bahkan dia sudah tau bahwa sesuatu sudah masuk kedalam tubuh warga."


Dylan "Sesuatu?? Apa maksudmu?"


Rinaya "Aku tadi sempat memeriksa salah satu pasien. Yang berada dalam tubuh mereka bukanlah penyakit. Tapi mahluk itu. Belatung belatung hitam itu. Sudah bersarang di tubuh mereka."


Dhika "Tapi dia tidak mengatakan apapun."


Danu "Apakah ada hubungannya dengan pertanyaan tadi?"


Rinaya menganguk "Kurasa Dia tidak bisa memakai ilmu kebathinannya. Ku yakin terjadi sesuatu dengannya. Dia membuat semacam kertas mantra untuk mengurangi dampak gejala. Dia juga tau bahwa itu tidak bisa di sembuhkan tanpa ilmu itu."


Dhika "Tapi kenapa dia tidak memberitau kita?"


"Sesuatu pasti terjadi. Dia tidak ingin kita mengetahuinya."

__ADS_1


__ADS_2