
Nirmala dalam bahasa sansekerta berarti bersih, bebas dari ketidakmurnian. Dulu Kake sapta memberi cucunya nama itu agar dia selalu terhindar dari hal hal negatif. Dan berharap cucunya selalu memiliki hati yang bersih.
Nirmala, hilang saat banjir bandang di desanya terjadi, rumahnya dulu memang di tepi sungai. Itu sudah lima tahun lalu, ketika wabah menyerang desanya. Seluruh anggota keluarganya meninggal karena wabah itu. Kini dia hidup seorang diri. Semua musibah yang menimpanya tidak menjadikannya seorang pendendam atau pembenci. Tidak juga meratapi nasibnya yang malang. Tidak pernah mengeluh dengan keadaan. Juga tidak sedikitpun menyalahkan tuhan. Semua itu sudah takdirnya. Itu yang dia percaya. Satu harapan datang ketika dia menemukan gadis itu raut wajahnya berubah cerah. Begitulah para tetangga bercerita. Kake Sapta yakin kalau gadis itu adalah Nirmala, cucunya yang hilang terhanyut banjir bandang. Sementara Nirmala sendiri tidak mengingat apapun.
Untuk saat ini dia memutuskan untuk sementara hidup disana, bersama Kake Sapta, membantunya bekerja, dan menemaninya kemanapun dia pergi, setidaknya itulah yang bisa dia lakukan untuk membalas kebaikannya yang telah menyelamatkan hidupnya.
Nirmala ikut pergi berladang dan sedikit membantunya, tangan halusnya membuktikan bahwa dia tidak terbiasa dengan hal hal pekerjaan kasar, namun dia tidak mengeluh dan terus melakukannya, ya, dia berpikir untuk sedikit belajar dari pengalaman ini. Nirmala tidak tega melihat Kake sapta yang sudah tua masih saja terus bekerja. Apapun yang bisa Nirmala lakukan maka akan dia lakukan untuk membantu Kake Sapta.
Kake Sapta adalah seorang buruh tani, setiap hari ke ladang untuk merawat perkebunan milik orang lain, sesekali membawa umbi-umbian atau sayur-sayuran untuk makan sehari hari, atau pergi ke sungai dan menangkap ikan, atau ke hutan menangkap burung atau ayam hutan. karena dia hidup sendiri, makan apapun tidak jadi masalah untuknya.
Kini Kake Sapta hidup berdua dengan cucunya Nirmala, para tetangga bilang, dia jauh lebih terlihat segar dan bahagia, tidak seperti sebelumnya, selalu dingin dan hampa. Seperti pria tua malang yang sangat kesepian meski sebenarnya Kake sapta tidak menunjukan itu. Para tetangga sudah paham betul dengan keadaannya. Para tetangga senang dengan keadaan itu.
Kake Sapta memiliki tetangga yang sangat baik. Mereka seperti sebuah keluarga. Sesekali mereka memberikan camilan dan makanan untuk kake sapta. Ketika sakit mereka merawatnya dengan sepenuh hati. Kini kake sapta terlihat bahagia, mereka pun ikut senang melihatnya. Meski mereka tidak yakin siapa Nirmala ini sebenarnya.
Sesekali kake sapta membawanya turun untuk pergi ke pasar, membeli sesuatu yang tidak bisa di dapatkan dari ladang, seperti herbal dan rempah untuk memasak. Atau ketika membutuhkan baju tambahan ketika baju yang dipakainya sudah tidak layak lagi.
Nirmala masih belum mengingat apapun. Tapi dia menikmati hidup bersama Kake Sapta.
Di pasar Nirmala melewati lapak penjual buku, dipikirannya buku buku itu terlihat sangat kuno, sebagian besar terbuat dari kertas berbahan daun lontar, rautan bambu, kulit pohon, oh ada satu buku yang menurut dia sangat familiar. Buku bertumpuk dengan jilid kayu warna coklat, judul nya tidak bisa dia mengerti, tapi dia tau itu huruf mandarin, isinya pun, semua huruf mandarin, ada buku lain yang serupa, dengan judul dari huruf arab gundul, dia mencoba untuk mengejanya, 'i-q-ro'. Isinya pun semua huruf arab, dan ada lagi buku serupa, namun jilidnya terbuat dari serat kayu, huruf alfabet, akhirnya ada yang bisa ku mengerti pikirnya. Dari judulnya dia eja satu persatu, dan dia sambungkan, "pagelaran gamelan sunda wiwitan", lalu salah satu buku paling menarik perhatiannya, berhuruf yang sama berbahasa Inggris "history of egypt" dia tersenyum pahit, dari sekian banyak bacaan hanya satu buku ini yang sangat lancar dia baca.
Seorang pria paruh baya sedari tadi mengamati dengan heran, dia bertanya nirmala berasal dari mana. 90% bacaan yang dia jajakan merupakan bahasa dan tulisan sehari hari bahasa Sunda kuno, dengan huruf kawi, tidak banyak orang yang tertarik dengan buku asing, karena mreka tidak mengeri huruf hurufnya. Bahkan Nirmala adalah kebalikannya. Itu membuat pejual buku terheran. Beberapa orang lewat sejenak berhenti, entah kagum, atau heran. Karena perempuan pada jaman ini tidak ada yang bersekolah. Sekolah hanya untuk laki laki. Itupun untuk keluarga bangsawan.
Nirmala bertanya kepada pemilik lapak,
"Pak apa ada buku lain yang seperti ini? Bahasa dan huruf yang serupa." Menunjukan buku story of egypt.
"Tidak ada neng, itu satu satunya"
Sejenak Nirmala teringat sekelebat mimpi semalam. Dia berada di sebuah ruangan berpencahayaan baik, di sebuah meja terdapat kalender duduk dia melingkari salah satu tanggal di kalender itu. Tapi masih belum terlalu jelas. Hanya sebuah mimpi buram.
"Pak, sekarang tanggal berapa ya?"
"Tanggal empat belas Kartika Neng"
"Dalam penanggalan masehi?"
"Aduh neng kalau masehi jarang ada yang tau neng, di tanah sunda belum pakai itu."
Tanah sunda? Sebelah mana pulau jawa? Disini sangat tradisional. Pakaian nya, rumahnya, bahasanya.
Nirmala tidak ambil pusing mengenai itu mungkin memang dia tersesat di satu wilayah pedalaman.
Sementara Kake Sapta berkeliling berbelanja, Nirmala pun berkeliling ke area lain. Nirmala melihat Bayu sedang keluar masuk membawa nampan berisi herbal, dijemur di atas tatanan kayu di atas atap, terus naik turun untuk menukar nampan itu, Nirmala memanggil nya, "Bayu!!"
Nirmala melihat papan kayu bertuliskan huruf kawi. Nirmala tidak bisa membaca nama toko itu.
"Nirmala!! Kau sudah baikan?"
"Tentu saja. Semua karena obat darimu. Ini tokomu?"
Bayu tersenyum "aku bekerja disini"
"Apa nama tokonya? Aku tidak bisa membaca itu"
"Toko Herbal Sae"
"Sae? Artinya bagus??"
"Benar. Masuk lah kita bicara di dalam"
"Aku Tidak akan lama, Kake Sapta sedang berbelanja rempah."
Seseorang paruh baya keluar dengan membawa sebuah nampan berisi herbal. Untuk di jemur. "Bayu ini juga di jemur...." Dia sejenak berhenti dan memandang Nirmala "Ini teman mu??"
"Iya, yang kemarin aku ceritakan"
"Neng sudah baikan?"
"Alhamdulilah pak sudah lebih baik"
Mereka terdiam mendengar jawaban Nirmala. "Nirmala kau...??"
"Ada apa?"
Bayu dan Paman Arif saling tatap heran.
"Ayo. Ku temani berkeliling daerah ini" ujar bayu mengalihkan pembicaraan.
"Apa kau penganut suatu agama?"
"Apa aku tadi salah bicara?"
"Saat ini seperti nya Dwipantara sedang gempar dengan masuknya suatu ajaran keagamaan. Untuk saat ini mungkin sebaiknya kamu tidak mengatakan apapun mengenai suatu ajaran manapun. Kurasa ada hubungannya dengan orang orang yang menghilang"
"Memangnya ada apa?"
"Banyak kabar bahwa beberapa ajaran bersifat menyesatkan. Tapi belum tau ajaran mana itu. Di daerah lain ada kerusuhan karena masuknya ajaran asing. Jadi untuk berjaga jaga sebaiknya kamu tidak memperlihatkan ajaran manapun."
"Aku mengerti" tapi Nirmala merasa sedikit aneh. Dia seperti sudah terbiasa dengan hal hal seperti itu. Sepertinya memang Nirmala bukan berasal dari daerah itu.
"Bayu, apa disini ada toko buku yang lengkap? Aku sedang mencari sesuatu"
"Ada, tidak jauh dari sini. Mau ku antar? "
Nirmala mengangguk senang.
"Tidak banyak perempuan yang tertarik dengan buku. Lagipula hanya perempuan kaum bangsawan yang dapat sekolah."
"Oh. Perempuan tidak bersekolah? Kenapa?"
"Mereka lebih di bekali dengan keahlian berumah tangga."
"Hmm..Membosankan...."
"Kenapa bicara seperti itu. Kamu juga perempuan seharusnya memang lebih mengutamakan keahlian berumah tangga."
"......" Nirmala tidak menjawab perkataan Bayu. Hal seperti ini sangat dibencinya. Seakan hak perempuan dibatasi hanya sekedar itu. Bagi Nirmala ruang sempit bukanlah tempat untuk mengembangkan bakat.
Sesampainya di toko buku Nirmala merasa takjub, berbagai jenis buku banyak sekali disana, dengan bahan media, huruf dan bahasa yang berbeda beda. Nirmala menyusuri toko buku itu, dan berhenti di kumpulan buku asing. Ada sebuah kalender. Penanggalan Masehi. Huruf dan tahun yang tertera sangat terlihat kuno seperti peninggalan beratus tahun lalu.
__ADS_1
"Bayu, menurutmu sekarang tanggal berapa di kalender ini?"
"Masehi? Kita tidak pakai penanggalan itu disini perhitungannya sedikit berbeda dengan disini. Dan belum ada yang mempelajari ini dengan detail. Cendikiawan harus belajar langsung dari sumbernya. Lagipula sepertinya penanggalan ini sudah lewat beberapa tahun."
"Hmmm" Nirmala kecewa dengan jawaban itu.
"Kalau tanggal dan bulan mungkin aku belum paham tapi kalau tahunnya, mungkin sekarang sekitar 900-1000 Masehi."
Sekelebat bayangan ingatannya bermunculan. Mimpi buram semalam, kini dia mulai ingat itu seperti bukan mimpi, tapi dari sebuah potongan ingatan yang pernah dialami Nirmala. Tahun yang seharusnya dia berada angka angka itu terlalu jauh. Dia mengingat menandai sebuah kalender, ditulisnya sebuah hari penting , 'Liburan' tanggal 4, bulan April, tahun 2032.
Salah satu potongan puzle ditemukan. Jika dugaannya benar maka itu membuktikan bahwa dia tidak berasal dari tahun ini. Tapi seribu tahun mendatang.
"Seribu tahun?"
Nirmala terdiam mendengar itu. Rasanya tidak mungkin hal seperti ini terjadi. Ini seperti mimpi. Atau memang mimpi. Tapi ini sangat terasa nyata.
"Nirmala....Nirmala"
Nirmala kembali tersadar dari lamunannya. Seakan tidak percaya dengan dugaan dugaannya. Tapi memang sangat masuk akal dengan keadaan desa yang sangat tradisional ini. Jika dugaan nya salah, yang masuk akal hanyalah, dunia yang ditinggalinya ini adalah kota ghaib atau semacamnya. Nirmala mengesampingkan semua dugaannya. Mencari informasi lain mungkin akan lebih membantunya.
"Bayu, kenapa berteriak padaku..." Jawabnya kesal
"Aku panggil berkali kali malah melamun. Ada apa??"
Nirmala menghela nafas panjang " aku seperti bermimpi pergi ke masa depan"
"Ha??"
"Bayu selain disini, dimana lagi aku bisa menemukan toko buku atau perpustakaan yang lebih besar dan lebih lengkap?"
"Kalau sekitar sini kurasa tidak ada lagi. Mungkin temanku Dhika tau lebih banyak. Dia lebih akrab dengan buku buku. Keluarganya punya perpustakaan sendiri. Katanya dia ingin menjadi cendikiawan atau pengajar"
"Apa aku bisa bertanya padanya? Dimana dia sekarang"?
"Kurasa di rumahnya. Cukup jauh dari sini. Di kota sebelah."
"Oh. Kau tidak tertarik dengan buku? Bukankah kau bilang ingin menjadi tabib yang hebat."
"Belum banyak buku mengenai pengobatan. Jadi percuma saja. Aku lebih suka belajar langsung pada sumbernya. Kau sendiri, apa impianmu?"
"Hmm... Entahlah.. mungkin aku ingin pulang saja ke masa aku berasal"
"Ha?...."
"Ayo pulang"
------
Kake sapta terlihat berbincang dengan tetangganya, tidak banyak tetangga disana hanya ada 5 rumah salah satunya milik Kake Sapta. Jika di hitung, jumlah kepala tidak lebih dari dua puluh orang, tapi mereka terlihat bahagia tanpa beban. Mereka bergotong royong membuat tepung beras, menjemur bibit jagung, memilah sayuran, dan lain sebagainya. Terkadang mereka makan malam bersama di tengah api unggun di halaman mereka, Nirmala merasa hangat dan betah dengan kekeluargaan ini, seakan belum pernah merasakannya.
Dengan waktu singkat nirmala merasa mereka adalah keluarganya. Mereka menyayangi satu sama lain.
Sesekali nirmala bermain bersama anak lelaki 8 tahun disana. Bernama Zaki. Entah main petak umpet, atau permainan apapun yang dimiliki bocah itu, terkadang mengajarkannya berhitung. Hanya beberapa orang yang bisa berhitung. Itupun perhitungan sederhana seperti tambah kurang kali bagi yang biasa di pakai ketika transaksi perdagangan. Bahkan semua orang disana tidak bisa membaca dan menulis. Tapi itu tidak terlalu buruk. Mereka bahagia itu sudah cukup.
Mereka senang Nirmala bisa berhitung lebih baik. Meski tidak bisa menulis dan membaca, tentu saja jika memakai huruf alfabet mungkin dia bisa. Mereka bisa mengandalkan Nirmala di beberapa hal.
Misal jika menjual atau membeli barang supaya tidak mudah ditipu orang lain.
Kondisi keuangan disini sedang tidak baik, kemarau masih belum berganti, badai kemarin adalah salah satu rahmat tapi hanya sekali itu saja tanah pasundan diguyur hujan. Sisanya kering melanda lagi.
Mereka harus menghemat keuangan. Tahun ini mereka belum membeli baju untuk musim penghujan mendatang, baju mereka hanya tinggal satu atau dua potong. Jika musim hujan datang, Baju-baju akan sulit kering, tapi membeli baju baru sangat mahal harganya. Terkadang mereka membeli bahan kain saja. Namun beberapa kali mereka ditipu penjual kain. Diminta 3 meter untuk sepasang baju, mreka hanya mendapat 1-2 meter saja. Mau bagaimana lagi. Mereka tidak tau satu meter itu sepanjang apa.
Bibi Yuli "Zaki... Jangan maen tanah terus. Bajumu habis nak."
Kang Iwan "Bukankah bajunya cukup banyak?"
Bibi Yuli "dia hanya punya tiga pasang dan setiap hari terus bermain lumpur."
Nirmala "oh benar juga, aku juga hanya punya dua pasang baju. Kake Sapta juga. Kalau turun hujan seharian. Bisa bisa aku gak ganti baju haha 😅"
Bibi Yuli "ahh.. menyedihkan. Sepotong pakaian harganya sangat mahal. Jika musim hujan datang. Pakaian tidak akan cepat kering...."
Nirmala "semahal itu? Memang berapa harganya?"
Bibi Yuli "hampir seharga sekarung beras. Yah lebih baik membeli beras saja"
Nirmala "kalau begitu bikin sendiri saja. Tinggal beli kainnya saja..."
Kang Iwan "kami sudah lelah ditipu. Karena kami tidak mengerti ukuran. Terkadang malah jauh lebih mahal beli bahan mentah"
Nirmala "bukankah seharusnya bisa memangkas separuh harga?"
Bibi Yuli "ah kamu pasti tidak mengerti. Begini...." Dia mulai menjelaskan secara detail "kita pergi ke toko kain dan berniat membeli untuk sepasang pakaian. Harganya memang separuh lebih murah. Tapi ketika mulai memotong pola, bahan itu sangat tidak cukup. Bahkan mungkin hanya cukup untuk satu potong. Celana saja. Setelah di hitung ternyata harganya bahkan bisa lebih mahal dari pakaian jadi."
Kang Iwan "pedagang curang seperti itu memang banyak dimana mana. Kalau kita tidak pandai. Kita pasti selalu kena tipu"
Nirmala "biar ku bantu. Kurasa aku sedikit mengerti mengenai ukuran kain"
Nirmala pergi ke pasar bersama dua orang tetangga, kake sapta kali ini tidak ikut turun. Hanya Nirmala, Kang Iwan dan Paman Rai.
Begitu masuk ke toko kain. Sekelebat bayangan ingatan muncul lagi di pikiran Nirmala. Dalam bayangan itu, dia terbiasa dengan bahan kain, mesin jahit, dan jarum. Tentu saja bayangan itu menguatkan dugaannya sebelumnya. Dia memang bukan berasal dari jaman ini, mesin jahit itu sangat modern, di jaman ini bahkan belum ada mesin jahit.
Paman Rai memesan beberapa potong kain untuk sepasang pakaian dewasa.
"Paman kami minta kain ini untuk sepasang pakaian seukuran kami"
Penjual "baik tuan, biar saya potongkan"
Nirmala "kira kira berapa meter untuk dapat sepasang pakaian?"
Penjual "Untuk ukuran dewasa 4 meter jika seukuranmu mungkin 3 meter cukup"
Nirmala "kalau begitu tolong potong 5 meter untuk kain warna ini ya pak"
Penjual "baik neng"
Penjual itu memotong kain yang telah mereka pilih. Ada 3 warna masing masing dipotong 5 meter
Kang Iwan "apa tidak terlalu banyak?"
__ADS_1
Nirmala "seharusnya cukup dengan harga segitu. Kita bisa dapat 5 pasang pakaian."
Kang Iwan "lima pasang. Ku rasa mungkin hanya 3 pasang, ini harganya terlalu mahal hanya untuk sepotong kain"
Nirmala "jika ukurannya benar seharusnya cukup"
Setelah penjual itu selesai memotong kain yang diminta. Nirmala dengan teliti menghitung kembali hasil potongan itu. Dahinya mulai berkerut setelah meninjau sepotong kain warna abu. Dia lalu meninjau potongan kain lainnya. Kini garis bibirnya menurun. Dan satu potong terakhir dia tinjau, dia menghela nafas panjang. Benar saja, dia berusaha menipu kami orang orang miskin, Nirmala meminta kain 5 meter, dia hanya potong 3 meter. Dia merugikan pembeli. Hal seperti ini membuat Nirmala geram. Nirmala melempar potongan kain itu ke atas meja.
Nirmala "pak. Saya minta masing masing potong 5 meter. Ini hanya 3 meter. Tolong potong ulang dengan benar."
Penjual "ini potongan 5 meter neng. 3meter tidak mungkin sepanjang ini."
Nirmala "5 meter tidak mungkin sependek ini, jangan membodohi kami"
Keduanya keras kepala, jika bukan Nirmala yang bodoh maka penjual kain itu yang bodoh. Mereka terus beradu mulut tidak ada yang mau mengalah. Keributan itu terdengar hingga keluar toko. Jika penjual toko mengalah dia akan ketauhan bahwa selama ini dia sudah menipu banyak orang. Nirmala bersikeras ukuran itu salah. Hingga berdebat pula dengan pemilik toko yang datang karena keributan itu. Tapi pemilik toko pun berkata sama. Nirmala pun tidak mau mengalah. Dia sampai menerangkan berapa centi untuk lima meter, dan berapa mili untuk satu centi. Pedagang itu malah kebingungan.
Nirmala tidak bisa lagi menahan emosinya, semua orang mengintip dari luar penasaran dengan keributan apa yang terjadi disana. Hingga seseorang datang dari balik pintu. "Ada apa ini?" Tanya dia.
Pradhika Wiriya lelaki rupawan itu menarik perhatian semua orang. wajah datarnya tetap terlihat mempesona. Nirmala menatapnya lekat lekat, seperti melihat seorang aktor dari drama korea, diiringi dengan gerak slow motion ala roman picisan atau kisah kisah romantis lainnya.
Semua yang ikut ribut disana mendadak terhenti melihatnya datang. Dia orang berpendidikan dia pasti mengerti apa yang terjadi dan Nirmala menjelaskan permasalahannya. Pemilik toko nampak panik dengan kedatangannya. Rupanya pemilik toko itu mengenali siapa Pradhika Wiriya. Dia cukup terkenal. Rupawan, berpendidikan, jujur, terutama dia adalah putra dari keluarga Wiriya. Keluarga terpandang. Ayahnya orang berpengaruh di pemerintahan.
Dhika "paman Dia benar. Potongan kain ini hanya 3 meter" ujarnya setelah meninjau potongan kain itu
Penjual "apa yang kau tau, aku sudah bekerja bertahun tahun disini. Ini potongan 5 meter"
Nirmala "kau merugikan pembeli. Ini penipuan namanya"
Dhika "paman kalau terus seperti ini saya terpaksa memberitahu biro kemanan Mandalika."
Pemilik toko "eeh eh..... tidak tuan... Tuan Wiriya tidak perlu melakukan itu. Ini kesalahan kami. Kami akan buatkan potongan baru."
Penjual itu rupanya adalah pekerja disana. Raut wajahnya berubah heran ketika tuannya berkata seperti itu. Nirmala menyadari satu hal. Penjual itu mungkin tidak tau ukuran yang sebenarnya. Dia juga di bodohi oleh pemilik toko untuk meraup untung besar.
Bayu datang menerobos kerumunan.
"Nirmala?... Ternyata kau yang membuat keributan haha..."
Jika dilihat lebih dekat, Bayu juga terlihat rupawan, hanya saja berbeda dengan Dhika, Bayu selalu mengenakan pakaian sederhana terutama jika dia sedang berada di toko herbal.
Nirmala "kenapa bicara begitu, aku hampir ditipu penjual. Untung saja aku cukup pandai haha"
Bayu "oh, Dhika kau juga ada disini...?"
Dhika mengangguk "hmm. Kebetulan sedang lewat sini"
Nirmala "Dhika? Oh. Teman yang kau ceritakan itu?hehe. Kebetulan sekali" dia senyum berseri seri. Senang bertemu dengan Dhika. Sementara Bayu terlihat mengerutkan bibirnya kesal.
Masalah dengan penjual kain selesai dengan cepat berkat kehadiran Dhika dan Bayu. Nirmala baru menyadari bahwa ternyata dua orang ini cukup berpengaruh di kota ini. Terutama dari latar belakang keluarga mereka.
Paman Rai dan Kang Iwan pulang dengan membawa kain kain itu. Sementara Nirmala bersama dengan Bayu dan Dhika hendak membicarakan sesuatu.
Untuk pertama kalinya Nirmala, Dhika, Bayu berkumpul bertemu satu sama lain. Bayu pernah menceritakan soal Dhika sebelumnya ketika di toko buku. Menurutnya keluarga Wiriya memiliki perpustakaan sendiri lebih lengkap dari toko buku kota. Hal itu lah yang menjadi alasan Nirmala untuk bertemu dengan Dhika.
Mereka duduk bersama di dalam Toko Herbal Sae tempat bayu tinggal, tidak jauh dari toko kain tadi. Tidak disangka kedatangan Dhika kali ini adalah untuk mencari informasi.
Dhika di minta pamannya mencari informasi. Dhika memang sengaja ingin bertemu dengan Bayu mengenai hal ini.
Bayu "apa kali ini masih mencari informasi mengenai masalah waktu itu?" Sambil menyimpan gelas gelas di atas meja untuk Nirmala, Dhika dan dirinya sendiri.
Dhika "berbeda. Tapi mungkin ada hubungannya"
Nirmala "masalah apa?"
Dhika menatap bayu seakan bertanya apakah tidak apa apa jika orang lain juga mengetahui ini. Bayu seakan mengerti maksud Dhika
Bayu "tidak apa-apa, kurasa dia bisa membantu. Dia cukup pintar dalam beberapa hal. Kau juga seharusnya tau melihat kondisi tadi di toko kain itu"
Nirmala "ah, jika memang sangat rahasia tidak perlu diberitahu padaku"
Dhika "bukan rahasia hanya saja jika terlalu banyak orang tau khawaatir menimbulkan kepanikan di masyarakat"
Bayu "jadi, kali ini ada masalah apa?"
Dhika "sebelumnya banyak kasus orang hilang di sekitar perbatasan, kali ini ada info seseorang menemukan sebuah simbol ritual pemanggilan arwah di suatu tempat. Khawatir ini ada hubungannya dengan kasus sebelumnya. Aku diminta untuk mencari informasi sebanyak mungkin"
Nirmala "ritual? Arwah? Aku tidak tau kalau disini masih kental dengan hal hal mistis"
Dhika "memangnya kau berasal darimana?"
Nirmala "ahhhh......lalu apalagi?" Nirmala mengalihkan pembicaraanya
Bayu "beberapa ritual ditujukan untuk sesuatu, penghormatan, pensyukuran, pamanggilan hujan, atau aliran sesat yang bertujuan untuk persekutuan dengan mahluk ghaib atau setan."
Nirmala "sepertinya aku tidak terbiasa dengan hal hal mistis. Ini sedikit membuatku takut" Nirmala menyeruput minumannya "uhukkk.. pahit sekali, air apa ini?"
Bayu "oh, kudengar semalam kau mimpi buruk lagi. Jadi kubuatkan itu khusus untukmu supaya kau bisa tidur nyenyak malam ini, hehe"
Nirmala hanya tertawa pahit.
Dhika "informasi lain juga mengatakan ada sebuah rumah di tepi sungai yang memiliki simbol pemanggilan di lantainya. Tapi tidak bisa di kenali apa itu. Karena rumahnya sudah hancur terkena badai."
Wajah Bayu kini terlihat resah mendengar itu.
Dhika "Bayu kau yang paling tertarik dengan hal mistis semacam ini. Jika menemukan sesuatu yang mencurigakan tolong segera kabari aku."
Bayu "haha, ya baiklah. Kau tenang saja"
Dhika menyadari ada yang di sembunyaikan Bayu dengan ekspresi seperti itu. Mereka benar benar mengerti satu sama lain tanpa berbicara. "Ada yang membuatmu tidak nyaman?"
Bayu "hmm... Tidak ada.. kenapa? Haha"
Nirmala hanya menyimak yang mereka bicarakan
Dhika "apa yang kamu sembunyikan?"
Bayu "tidak ada. Kenapa bertanya begitu"
Dhika "....."
__ADS_1
Nirmala merasa suasana jadi sedikit tegang. Namun dia tidak mengerti apa yang terjadi.
-------------------------