Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Siasat


__ADS_3

Nirmala dan Bayu berteduh di sebuah pondok. Menghangatkan diri dan mengeringkan tubuh mereka yang basah diguyur hujan. Bayu mengeluarkan semua obat-obatan yang dia punya. Nirmala duduk di sebuah bangku mengeringkan badannya dengan handuk dan membersihkan darah di lengannya.


"Lepaskan pakaianmu."


"Ha?"


"Aku akan mengobati lukamu" Bayu menunjuk pinggang kirinya yang berdarah."


"Tidak, tidak perlu. Aku bisa sendiri"


"Aku adalah tabib kau ingat? tidak perlu khawatir"


"bukan begitu tapi.." wajahnya yang pucat seketika memerah.


Bayu tersenyum geli melihat itu. "Aku mengerti perasaanmu. Kau perempuan. Tapi kau juga seorang pasienku. Tidak perlu malu. Aku tidak akan berpikir macam macam"


Tepat sekali, memang itu yang sedang dipikirkan Nirmala. Bayu seolah bisa membaca pikirannya. Tapi Bagaimanapun juga Nirmala memang perlu pengobatan. Bayu melihat luka di pinggang nirmala cukup besar. 


"Separah ini kau tidak memberitahukan padaku?"


"Aku baik baik saja"


"Kau sudah sepucat mayat masih bilang baik baik saja? Dasar keras kepala"


"Terimakasih"


"Untuk pengobatan ini?"


"Untuk Segalanya"


"Berhenti Bicara seperti itu, kau seperti akan mati saja."


Nirmala tersenyum "Mulai saat ini panggil aku Rinnaya"


"Rinnaya? itu namamu?"


Rinnaya Mengangguk. "Nama Nirmala Terlalu Murni untuk dipakai seorang Bandit"


"Kau Bukan bagian dari mereka."


"Kenapa bicara begitu?"


"Entahlah. Hanya firasat. Boleh kutanya sesuatu?"


"Mn, tanya apa?"


"Benda berharga milikmu. Apa isinya?"


"Semua yang aku miliki, ah,, sakit, bisakah kau lebih lembut sedikit,?


"Mengapa aku hanya melihat sebuah batu tidak berharga?"


"Ha?"


Bayu mengeluarkan kantung kecil yang pernah Rinaya titipkan padanya dan menatap mata Rinaya lekat lekat. "Aku melihat isi nya. Aku tidak mengerti apa yang berharga dari sebuah batu."


"Bukankah sudah aku bilang untuk tidak membukanya?"


"Itu sudah terbuka sendiri. Aku yakin kau sendiri yang membukanya. Ketika terjebak di gua kulon. Iya kan?"


"....."


"Ada sesuatu yang aneh terjadi padaku, saat itulah aku tau bahwa seseorang telah melakukan sesuatu padaku"


"Apa Maksudmu?"


"Ketika kita berdua tejebak di gua Kulon, apa yang kau lakukan padaku?"


"A..apa yang aku lakukan?"


"Aku yakin ada hubungannya dengan batu ini. Rinnaya, kau selalu menjadi sosok yang misterius bagiku. Meskipun banyak hal kau terbuka padaku. Tapi aku selalu merasa kau itu misterius. Terlebih lagi jika disangkut pautkan dengan Giok Cahaya. Rinnaya, apakah giok itu ada padamu? Ataukah ada padaku? Atau sudah di tangan tuan Wilis?"


"...aku..."


"Rinnaya aku menyayangimu. Aku juga juga yakin kau menyayangiku. Terbukalah padaku. Karena aku tidak ingin merasa menyesal"


Rinnaya menunduk pasrah dan tersenyum "Kapan kau menyadari itu?"


"Tiga hari setelah penyerangan keluarga Wijaya"


Rinnaya teringat saat itu. Ketika Bayu terhuyung huyung dekat dengan Lembah Jiwa. Dia di kelilingi mahluk berbentuk anjing. Seakan ingin mwnerkamnya. Beberapa anak panah dilesatkannya untuk membantu Bayu. Saat itu Rinaya melihatnya dari atas tebing. Namun dia kehilangan jejaknya. Seakan Bayu lenyap di twlan bumi.


"Tolong jangan marah padaku Bayu."


"...."


"Maafkan aku. Tanpa seijinmu aku melakukan sesuatu padamu. Saat itu aku ingin kau selamat. Lukamu sangat parah. Benda itu menembus jantungmu. Jika jantung berhenti. Maka kau akan mati. Aku tidak ingin itu terjadi. Laras memberikan Giok itu padaku dia berpesan untuk menggunakannya kepada orang yang paling berarti. Aku menggunakan itu untuk menyembuhkan lukamu."


"Karena itu lah selama aku tidak sadar dua minggu kau masih menunggu?"


Rinnaya menganguk "aku ingin memastikan Giok itu benar benar bekerja. Aku menunggu hingga kau benar benar sadar. Tolong jangan marah padaku."


Bulir air mata mengalir di pipi Bayu. Bagaimana bisa dia marah ketika nyawanya terselamatkan. Jika bukan karena dia mungkin Bayu sudah mati.


"Apakah Giok itu benar benar berguna untukmu Bayu? Aku tidak bisa menarik perintah. Karena Giok itu sekarang milikmu. Hanya kau yang bisa melepasnya."


"Apa yang kau perintahkan padanya"


"Lindungi tubuh ini, sembuhkan setiap luka, hingga orang ini yang melepasnya sendiri. Kini kau adalah miliknya. Patuhi perintahku hingga dia sendiri yang melepasmu"


Bayu memeluk Rinnaya dengan linangan air mata. "Aku bersyukur bertemu denganmu. Terimakasih."


Bayu melepas pelukannya dan mengggenggam lengannya. Dengan heran Rinaya bertanya "Kau tidak marah kan?"


"Kau menyelamatkan aku bagaimana bisa aku marah? Situasi saat itu kau pun terluka parah tapi kau memilih menyelamatkan orang lain."


"Apakah Giok itu ada hubungannya dengan Serigala itu?"


Bayu tersenyum "Tidak ada. Jika bukan karena Giok itu mungkin mereka sudah menelanku"


Matahari bersinar cerah. Secerah senyum Rinnaya. Bayu masuk tanpa mengetuk pintu lagi. Seakan sudah tau apa yang sedang dilakukan Rinnaya. Jendela yang baru saja Rinnaya buka meniupkan helaian rambutnya yang tergerai rapi. bayu tertegun melihatnya melirikan mata. Rinnaya terlihat sangat cantik. Bayu menyimpan nampan yang dibawanya.  "O-obat untukmu. Minumlah sebelum pergi."


Rinaya melihat isi nampan itu. Herbal yang sudah di seduh, dan sepiring camilan. Seketika dia tersenyum senang "ooh, camilan!!" Tidak lama dia pun memakan camilan itu. Dan menghabiskan obatnya. Bayu duduk di kursi seberang mejanya. Dan tersenyum.


"Bayu. Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"


"Entahlah. Yang pasti aku akan menjaga sisa keluargaku. Aku tidak ingin menjadi orang lemah."


"Aku jadi teringat satu hal. Kemarin itu... Apakah Tuan Wiriya baik baik saja? Dia bahkan ituk rapat bersama tuan Wilis seolah tidak pernah terjadi apapun pada keluarga mereka. Haris pun ikut bergabung disana. Apa ada yang aku lewatkan?"


"Keluarga Wilis memiliki kekuasaan hingga Ibukota. Sulit untuk menjatuhkannya. Kalaupun diadakan penyerangan, tetaplah kami yang akan disalahkan karena penentangan. Tapi sebaliknya, penyerangan terhadap dua keluarga merupakan hukuman bagi Mandalika."


"Bukankah itu sangat tidak adil. Apa tanggapan dari Istana Ibukota?."


"Tidak ada"


"Aneh sekali. Pemerintahan macam apa itu. Sepertinya ada perang besar disini pun mereka tidak akan bergerak."


"Kurasa itulah yang di selidiki tuan Budhi."


"Ha?"


"Dia kembali ke ibukota. Dia bilang keadaan Ibukota pun sedang kacau. Tapi tentu saja. Masalah besar seperti kemarin seharusnya ibukota mengambil tindakan."


"Bukan hanya kemarin. Tapi sebelum sebelumnya pun sama. Padahal ini masalah yang sangat serius. Apa mungkin ....."


"Ada apa?"

__ADS_1


Rinnaya menggelengkan kepalanya "ah tidak bukan apa apa"


***


Rinnaya berjalan sendiri menyusuri jalan. Melewati kembali sebuah jembatan kayu di samping air terjun. Entah mengapa dia ingin mampir sebentar melihat pelangi yang selalu hadir. Rinnaya tertegun melihat pemuda rupawan berdiri memandangi air terjun itu. Rinnaya tersenyum dan menghampirinya


"Menunggu seseorang?" Tanya dia kepada pemuda itu, Dhika.


"Menunggumu. Berharap kau akan melewati jembatan ini lagi."


"Menungguku? Ada apa?"


"Apakah kau baik baik saja?"


"...."


"Apakah dia baik baik saja?"


"Apa yang ingin kau ketahui?"


"Semuanya"


"Tentang bayu?"


"Mn"


"Akan ku beritahu. Mengenai apa?"


"Serigala itu...."


"Jika itu, aku tidak tau. Hanya saja aku melakukan kesalahan padanya. Aku hanya ingin dia tetap hidup."


"Mengapa dia memilih jalan itu?"


"Aku tidak tau. Ku yakin ada alasannya. Aku percaya padanya."


"Bagaimana caranya aku bisa menyembunyikannya?"


"...."


"Melindunginya dari dunia."


"Dhika...."


Dhika terlihat sangat khawatir. Tapi apa yang bisa dia lakukan.


"Aku senang dia memiliki teman sepertimu."


"Nirmala...!"


"Panggil aku Rinnaya. Itu Namaku"


"Kau akan pergi? Kau belum menceritakan semuanya."


"Kau akan tau segera. Tunggulah. Aku akan kembali."


Bagi Dhika Rinaya adalah sosok misterius. Sekian lama mereka bersama Rinaya masih terasa misterius baginya. Tidak banyak yang dia tau tentangnya. 


Rinaya kembali ke pemukiman kelompok Halimun di hutan pekat. Semua orang terlihat nampak sibuk. Mempersiapkan persenjataan dan lain sebagainya. Jaka mondar mandir dan berteriak menginstruksikan sesuatu kepada rekan nya. 


"Jaka? Kenapa semua orang sangat sibuk. Ada apa?"


"Kemana saja kau. Kau tidak lihat situasi sedang sangat genting?"


"Apa maksudmu?"


"Bukankah kau bilang akan kembali kemarin siang? Seharunya kau menepatinya."


"Ada hal tak terduga jadi..."


"Kau selalu seperti itu. Jika menyangkut mereka berdua kau selalu mengutamakan mereka. Kau bagian dari kelompok ini cobalah untuk lebih peduli."


"Pasukan Mongol sudah dekat. Kita harus bersiap menghadang mereka. Jika tidak. Mereka akan segera sampai di kota."


"Pasukan Mongol? Jadi, mahluk mahluk itu hanya pengalih perhatian? Dari arah mana mereka berasal?"


"Dari utara. Ketua memerintahkan kita bersiap untuk perang besar. Mereka lebih dari tiga ribu orang."


"Tapi jumlah kita terbatas. Bagaimana bisa kita menghadapi jumlah itu?"


"Karena itu lah kau seharusnya pulang sejak kemarin."


"Dimana ketua?"


"Sejak pagi dia pergi. Kini keputusan ada di tanganmu."


"Ha?"


"...."


"Melindunginya dari dunia."


"Dhika...."


Dhika terlihat sangat khawatir. Tapi apa yang bisa dia lakukan.


"Aku senang dia memiliki teman sepertimu."


"Nirmala...!"


"Panggil aku Rinnaya. Itu Namaku"


"Kau akan pergi? Kau belum menceritakan semuanya."


"Kau akan tau segera. Tunggulah. Aku akan kembali."


Bagi Dhika Rinaya adalah sosok misterius. Sekian lama mereka bersama Rinaya masih terasa misterius baginya. Tidak banyak yang dia tau tentangnya. 


Rinaya kembali ke pemukiman kelompok Halimun di hutan pekat. Semua orang terlihat nampak sibuk. Mempersiapkan persenjataan dan lain sebagainya. Jaka mondar mandir dan berteriak menginstruksikan sesuatu kepada rekan nya. 


"Jaka? Kenapa semua orang sangat sibuk. Ada apa?"


"Kemana saja kau. Kau tidak lihat situasi sedang sangat genting?"


"Apa maksudmu?"


"Bukankah kau bilang akan kembali kemarin siang? Seharusnya kau menepatinya."


"Ada hal tak terduga jadi..."


"Kau selalu seperti itu. Jika mengangkut dua orang itu kau selalu mengutamakanya. Tidak memperdulikan yang lain. Putri, kau adalah bagian dari kelompok ini. Tidak bisakah kau lebih peduli?"


"Ada sebenarnya?"


"Pasukan Mongol sudah berlabuh. Sebentar lagi pasti mereka akan sampai di tempat ini."


"Apa? Mongol? Kenapa tiba tiba sekali. Tunggu, itu berarti peristiwa kemarin itu hanya pengalih perhatian?" Rinaya memutar otaknya lebih cepat dari biasanya. Sesuatu tak terduga ini benar benar masalah besar.


"Jaka dimana ketua?"


"Sudah pergi sejak pagi. Dia memintaku untuk bersiap terhadap perang besar."


"Perang besar?"


"Mereka mungkin membawa lebih dari tiga ribu pasukan. Semua orang harus bersiap."


"Kemana ketua pergi?"

__ADS_1


Jaka menggelengkan kepala "Dia hanya bilang akan mencari bala bantuan. Dia berpesan tidak akan kembali. Dan menyerahkan kelompok ini padamu."


"Apa? Tapi..."


"Dia memberi mu pilihan. Tidak perlu mencampuri pertempuran mereka maka kita semua akan selamat. Atau ikut serta bertarung tapi kita semua tamat."


"......" Rinnaya sedikit terkejut dengan kepergian ketua yang sangat tiba tiba. Dalam satu detik saja seluruh kehidupan kelompok itu ada di tangannya. Entah apa keputusan yang akan dia ambil.


"Semua ada di tanganmu."


"Jaka, aku bukan orang yang kompeten untuk menentukan nyawa orang lain. Aku... Aku.."


"Tidak perlu khawatir. Kami semua sudah berdiskusi."


Seluruh anggota yang tadinya sibuk, perlahan mendekat mengelilingi mereka berdua. Pancaran semangat di mata mereka seakan membara bagai kobaran api. 


"Sebagian yang akan tinggal maka mereka akan tinggal. Sebagian lainnya akan ikut dalam pertempuran. Demi kemanusiaan. Demi tanah Pasundan. Kita berada di tanah yang sama. Kini kami hanya menunggu keputusanmu."


Mendengar kalimat dari Jaka menyadarkannya akan satu hal. Bhineka Tunggal Ika. Berbeda tapi tetap satu. Itulah semboyan yang selalu tertanam sejak jaman nenek moyang. Kita berada di tanah yang sama. Tidak akan menjamin kita akan tetap hidup jika kalah atau menang dalam perang. Satu yang pasti mereka tidak ingin mati tanpa perlawanan.


"Berkumpul di aula!!" Satu kalimat perintah dari Rinaya. Menggerakan semua orang. Untuk berdiskusi. Untuk bersiasat. Merencanakan semua secara matang. Sebagian orang sudah berpencar menyebarkan berita ke semua pihak dan pondok pelatihan. Juga ke Istana Mandalika. Entah mereka percaya atau tidak. Mereka harus bersiap siap sejak saat ini. Jika terlambat mungkin tidak akan ada kesempatan bagi mereka untuk melawan. 


Seluruh informasi telah disebarkan. Dengan sepucuk surat yang di lemparkan bersama anak panah. Dhika menerima surat khusus dengan tulisan yang biasa Rinaya pakai. Untuk meyakinkannya jika berita itu memang benar. Sehingga dia bisa meyakinkan yang lainnya untuk bersiap.


Keesokan harinya mereka berkumpul di padang rumput perbatasan kota. Sebelum mencapai kota, tentara mongol pastilah melewati padang itu. Rinaya, Jaka dan dua rekannya mendatangi kamp mereka untuk membicarakan strategi daln lain sebagainya.


Dhika sudah menunggunya pinggiran kamp. 


"Rinaya kau yakin dengan informasi ini?"


Riinaya menganguk "aku harus membicaarakan ini dengan yang lainny. Tolong antarkan aku kepada mereka"


Dhika mengangguk dan berbalik jalan. Rinaya dan Jaka mengikuti dari belakang. Mereka memasuki salah satu tenda terbesar yang berdiri disana. Terlihat berjejer orang orang penting sedang membicarakan sesuatu. Dengan papan informasi di antara mereka. Sebuah peta terbuka rapi. Bertanda beberapa poin. Tapi mereka belum memulai rapatnya. Mereka menunggu. Rinaya.


Dhika menunduk hormat begitu juga Jaka dan Rinaya. Lagi lagi hanya ada beberapa kepala keluarga besar dan pemimpin pondok. Mandalika atau wakilnya tidak ada di ruangan itu. 


Rinaya "Mandalika tidak ikut andil? Aku tidak melihat satupun pasukannya."


Haris tersenyum sinis "Mungkin dia melarikan diri."


Tuan Baskara " Mungkin masih dalam perjalanan."


Jaka "Jika hanya ini pasukan kita aku yakin kita akan kalah."


Tuan Wiriya "Sebaiknya kita mulai pada rencana"


Beberapa orang yang hadir disana menyaksikan dan membantu. Mereka juga memiliki pondok pelatihan sendiri. Tidak kalah besar dengan pondok pelatihan Keluarga Wiriya. Mereka memperkenalkan diri. 


"Saya akan ikut membantu dalam perang ini. Perkenalkan saya Kanta dari pondok Pelatihan Kurnia."


"Saya Bagas dari pondok pelatihan Samurni"


"Saya Gugun dari pondok pelatihan Pancaru"


Rinaya "Apak kita pernah bertemu sebelumnya? wajah tuan tuan nampak tidak asing bagiku."


Bagas "Mungkin saja, Kota ini tidak terlalu luas kita pasti pernah berpapasan sebelumnya. Hanya saja mungkin tidak sempat mengenal satu sama lain."


Rinaya "benar juga"


Rinaya "Jaka akan menjelaskan situasinya. Siapa yang memimpin?"


"Aku" Seseorang melangkah maju. Berpakaian lengkap dengan armor di tangan dan bahunya. Tuan Baskara. Adik dari kepala keluarga Wiriya. Dia terlihat sangat gagah. 


Jaka melangkah kedepan "Ijinkan aku menjelaskan situasinya." 


Jaka dengan jelas memberitahu semua orang mengenai detailnya. Dia memang seperti intel hebat yang selalu bisa mengumpulkan informasi secara detail. 


"Mereka datang dari atah utara. Kabarnya pelabuhan dan sekitarnya sudah dibawah kendali mereka. Jumlah pasukan diperkirakan 3000 orang. Lengkap dengan senjata panahan, pedang, dan senapan. Jika perhitunganku benar maka, Mereka akan melewati jalur ini. Kemungkinan mereka sampai adalah besok sore atau mungkin mereka akan menunggu hingga malam."


Jaka menjelaskan dengan sangat rinci. Menujuk beberapa lokasi pada peta yang terpampang di papan informasi. 


"Kita hanya perlu mengetahui kelemahan dan kelebihan mereka agar kita bisa memperhitungkan seberapa besar kita bisa menang. Terutama jika jumlah pasukan kita hanya seperti ini. Siasat dan taktik kita harus benar benar matang."


"Apa pasukanku tidak dihitung?" Seseorang berujar di ambang pintu. Bayu. Bersender pada lawang yang terbuat dari bambu. Sambil mengunyah buah sawo yang entah dari mana dia dapatkan.


Semua membatu mendengar itu. Semua orang takut. Mahluk yang dia jadikan sekutu bukanlah mahluk yamg mudah di kendalikan. Tentu semua orang khawatir jika mereka akan berbalik menyerang.


Tuan Wiriya "kau yakin bisa mengendalikannya?"


Bayu "bukankah kalian sudah melihatnya tempo hari?"


Bayu tersenyum "maafkan kelancanganku saat itu. Kali ini aku akan membantu."


Jaka menghela nafas "kita memang butuh banyak pasukan. Gunakan itu jika situasi sudah sangat genting 


Bayu "ah baiklah. Aku mengerti perkataanmu."


Rinaya "aku punya firasat buruk tentang perang ini."


Jaka "jangan katakan itu Putri."


Tuan Wiriya " firasat buruk? Seperti apa?"


Rinaya "penyerangan tempo hari mungkin hanya pengalih perhatian hingga kita tidak tau apa rencana mereka sebenarnya. Entah mengapa aku ragu jumlah pasukan mereka hanya tigaribu. Ku merasa akan lebih dari itu."


Jaka merasa resah mendengar itu "kita benar benar harus menambah pasukan"


Tuan Wiriya "Apa ada hal serius tentang itu? Bukankah otu hanya sebuah firasat."


Jaka "Anda mungkin tidak tau tuan. Jika dia sudah merasa seperti itu maka memang akan seperti itu. Terutama jika dia sudah berbicara."


Tuan Wiriya "Kau benar benar seorang cenayang?"


Rinaya "Terkadang kita tidak bisa mengabaikan firasat. Itu akan menuntun kita pada sesuatu. Hanya saja mungkin kau tidak pernah menyadarinya."


Bayu "mungkin sebaiknya kau tidak membicarakan itum kau membuat mereka takut."


Rinaya "apa tidak ada lagi yang bisa bergabung membantu kita?"


Tuan Baskara "Kami masih meyakinkan ibukota untuk mengirim bantuan."


Rinaya "aku tidak mengerti. situasi seperti ini mereka sulit mengirim bantuan? Apa ibukota benar benar sedang genting?"


"Memang sedang genting tapi tidak separah disini. Biar aku dan pasukanku yang bergabung. Bagaimanapun juga ibukota belum bisa memberi perintah itu." Seseorang datang tiba tiba dari arah luar menyambung pembicaraan mereka. 


Rinaya "tuan Budhi!"


Tuan Budhi "jadi informasi apa yang kita mikki tentang mereka?"


Jaka "mereka menggunakan senjata baru. Senapan."


Tuan Budhi megenai itu sepertinya kita sudah bisa memperkirakan. Lalu apa kelemahan mereka?"


Jaka "sistem perang gerilya adalah kelebihan kita. Kita bisa memanfaatkan itu." 


Tuan Budhi "kurasa itu keahlian pasukanmu. Lalu tuan Baskara strategi apa yang akan kita gunakan?"


Tuan Baskara adalah ahlinya mengenai strategi perang. Hanya saja dia lebih memilih bekerja di pemerintahan daripada terlibat langsung dalam peperangan. Namun kali ini situasinya berbeda. Semua orang seakan dipaksa untuk bekerja sama. Peprangan yang akan terjadi kali ini adalah hal yang paling mereka semua takutkan.


Jaka dan para bandit lainnya berperan sebagaimana seorang bandit. Mengendap, mengintai dan menyerang secara sunyi. Salah satu saran dari Bayu. Bahwa mereka harus menjatuhkan mental lawan untuk bisa menang lebih mudah. Cara yang licik tapi efektif untuk hal semacam ini. Tentara mongol tidak tau medan yang mereka tempuh. Bandit gunung adalah ahlinya. Menyebar jauh hingga mendekati tentara mongol. Membuat teror dan hal mistis lainnya. Keresahan adalah kelemahan. Begitulah mereka akan menyerang. 


Bandit bandit itu membuat kepulan asap bergabung dengan kabut. Medan pegunungan seperti itu tidak akan membuat mereka menyadari adanya racun dalam tetesan kabut itu. Mengaburkan penglihatan menjadi sebuah ilusi. Menakuti semua orang dengan ketakutan mereka sendiri. Malam menjelang. Saatnya para bandit untuk beraksi. Sebisa mungkin lakukan dengan sangat tenang dan sunyi. Mereka yang terpengaruh halusinasi tidak akan memiliki kesiapan untuk serangan mendadak. Tapi taktik mereka bukan lah penyerangan.


Para bandit menarik satu persatu prajurit keluar dari jarak aman mereka. Berusaha untuk mengurangi jumlah sebanyak mungkin. Itu akan membuat mereka yang tidak terhipnotis menjadi gusar dan merasa tidak aman. 


Binatang binatang malam mulai bersuara. Tentu mereka juga yang menyiasati itu. Untuk meyakinkan musuh bahwa mereka memasuki kawasan yang tidak aman bagi manusia. Sebisa mungkin untuk tidak membuat korban jatuh. Karena pertempuran sebenarnya mungkin masih panjang.

__ADS_1


Matahari menyingsing tinggi tentara mongol tetap melanjutkan perjalanan dengan tenang. Untuk sebagian orang, banyak nya prajurit yang hilang adalah sebuah peringatan. Memang jumlahnya tidak terbanyak tapi itu cukup untuk menjatuhkan mental musuh. 


Tahap pertama sudah selesai. Tahap kedua pun tidak jauh berbeda. Para bandit sebelumnya dengan cepat membuat banyak jebakan jebakan. Dengan tujuan yang sama mengurangi jumlah musuh dan menjatuhkan mental lawan. Semua dilakukan supaya tidaka ada korban jatuh di pihak mereka. Itu cara yang efektif. Dengan begitu mereka semakin yakin bahwa kawasan yang mereka masuki memanglah tidak aman. Tapi jumlah tiga ribu pasukan memang tidak sedikit. Proses eliminasi itu akan membawa mereka yang tersisa pada pertempuran secara langsung. Pada tahap inilah kekuatan seluruh prajurit dikerahkan. 


__ADS_2