Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Bandit


__ADS_3

Nirmala membawanya ke sebuah pemukiman di atas gunung. Melewati sebuah gerbang besar dari susunan kayu. Tidak banyak orang disana. Mereka menatap tajam begitu Nirmala datang bersama orang asing. Menatap penuh benci seakan sedang melihat seorang penjahat. Beberapa orang sedang membuat busur panah. Beberapa menajamkan senjata. Seperti sebuah pedang tapi lebih pendek. Sebagian lagi berlatih menembak dengan busur panah. Sebagian lagi membuat pelindung badan. 


Bayu, Nirmala dan Tama berjalan melewati mereka. 


Bayu "Kenapa tatapan mereka seperti itu?"


Tama "Jangan hiraukan mereka kau aman bersamaku"


Bayu "Memangnya kau siapa?"


Tama "Hanya seorang bocah hahaha"


Nirmala "Mereka akan menangkap siapapun yang berada di wilayah gunung. Kau mungkin sudah dengar gosip yang beredar. Bahwa Bandit Gunung adalah orang yang kejam dan barbar"


Bayu "Apa itu benar?"


Nirmala "Mungkin benar. Tapi mereka tidak akan melakukan apapun jika mereka tidak terdesak. Mereka merasa terancam dengan kehadiran orang asing sepertimu."


Nirmala membawanya masuk kedalam gua. Memiliki pintu besar berukir. Tidak seperti gua biasanya. Di dalam lebih terlihat seperti sebuah rumah.


Sangat tertata rapi, dengan meja dan kursi. ada beberapa sekat berisi tempat tidur. Lalu ada sebuah Aula besar. Mereka akan menggunakan gua ini jika terjadi badai.


Nirmala "Duduklah dulu, aku akan segera kembali."


Bayu duduk di sebuah kursi pendek di dalam aula. Tama ikut duduk bersamanya.


"Apa dia orang kau cari?"


"hmm." Bayu mengangguk.


"Ada apa mencarinya?"


"Bukan urusanmu"


"Kau tau mungkin dia tidak akan di ijinkan  untuk pergi dari sini."


"Kenapa?"


"Karena dia pemimpin disini."


"Pemimpin?"


"Ya."


"Bukankah ada ketua yang memimpin."


"Iyaa, ketua ya ketua. dan dia khusus memimpin pasukan."


"Pasukan? Apa disini banyak orang?"


"Hmm yang kau lihat disini hanya sebagiannya saja."


"Semua menyebar di sekeliling gunung, menjaga area ini "


"Menjaga? Dari apa?"


"Dari orang orang jahat sepertimu."


"Ha? Kenapa kau bilang aku jahat?"


"Kau pikir kenapa putri bisa ada Disini?


"Ah. Karena....."


"jika kalian tidak jahat tidak mungkin melakukan itu padannya."


"Tama aku boleh bertanya?. apa yang terjadi saat pertama kali dia ditemukan?"


"itu aku tidak tau. Aku juga tidak tau kenapa ketua membawanya kesini. Dia terluka parah, ketua menyembuhkannya dan membiarkannya tinggal disini. Biasanya ketua hanya akan membawa laki laki. Kau tau Perempuan sangat merepotkan"


"Kenapa begitu"


"Ketua bilang. Hati perempuan tidak pernah teguh. Mudah dirayu dan bodohi. Suatu saat mereka akan berkhianat karena tergoda rayuan atau iming iming belaka."


"..."


"Entah kenapa ketua sangat baik padanya. biasanya dia akan tegas terhadap orang baru."


"Lalu"


"kau tau, waktu itu seminggu dia tidak sadarkan diri. Tapi setelah sadar dia malah seperti orang gila. Hanya menangis dan menangis. Aku kasihan melihatnya."


"kau tau alasan kenapa dia menangis?"


"bukankah kau temannya seharusnya kau lebih tau kenapa dia menangis saat itu."


"Setelah dia sembuh, kenapa dia tidak kembali dan mencariku?"


"kau bercanda?? kupikir kau sama sekali tidak mengerti dia."


"??"


"aku tidak tau detailnya tapi. Keluarganya mati dibantai perampok atau pembunuh bayaran, sahabatnya sakit parah, dan dia dituduh meracuninya, Ayah angkatnya membuangnya, dan tidak ada satupun teman yg mencarinya."


....


"tidak ada yang peecaya padanya, dan dia di tinggalkan di bawah gunung."


"Itu....aku...."


"kau pikir kenapa dia harus kembali?"


"..."


"kalau untuk balas dendam mungkin ya dia akan kembali."


"tapi dia bukan orang pendendam."


"benar, karena itu lah dia tetap disini."


"Kenapa kau memanggilnya putri?"


"Kami tidak tau namanya. Dia tidak pernah memberitahukannya"


Nirmala datang dari sebuah ruangan. Ruangan ketua.


"kena marah lagi? tanya bocah itu."


"crewet."


bayu berdiri, "nirmala..." sejuta pertanyaan muncul di kepalanya.


"Kita bicara diluar."


"jangan mengikuti" seru nirmala kepada bocah itu.


Nirmala berhenti di sebuah tebing bebatuan di atas gunung, dan duduk disana. Menggantungnya kedua kakinya. Sedikit menyeramkan. Sekali terpeleset mungkin kau akan mati tergelincir. Bebatuan dibawahnya pasti mengkmhancurkan seluruh tubuh.


"Nirmala..."


"Duduklah.."


Nirmala yang selalu ceria seperti tertinggal di masalalu. Dia lebih tenang dan lebih berpikir kritis.


Bayu pun duduk di sampingnya, menyilangkan kedua kakinya. 


"Nirmala, aku..."


"Sudah setahun berlalu, bagaimana kabarmu selama ini?"


"..."


"Bagaimana kabar Dhika, Haris, Tuan Wiriya, Tuan Wijaya, bagaimana mereka?."


"bagaimana keadaan Tuan Budhi?"


Nirmala menghela nafas panjang. Menengadahkan wajahklnya ke langit


"Bagaimana kabarmu Nirmala?"


"menurutmu?"


"kau tidak akan kembali?"


"kembali kemana? ke kota parigi? atau ke seribu tahun mendatang?"


Bayu tertegun mendengar itu. 


"Aku rindu semua yang ada dikota, setiap hari aku rindu, kicau burung, semilir angin, riuh pasar, wewangian di tokomu."


Air matanya mulai mengalir.


"Rindu Kake Sapta, Kang Iwan, Paman dan Bibi, Ayu...."


"aku merindukanmu." ujar bayu pelan.


"bayu, aku merindukan semuanya, tapi aku tidak bisa kembali. aku adalah hantu disana, seseorang yang sudah lama mati."


"kalaupun aku hidup, aku hanya seorang pembunuh disana."


"Tapi kau bukan pembunuh. aku tau itu."


"itu tidak akan merubah apapun Bayu, faktanya sudah seperti itu, dibuat seperti itu."


Nirmala menghapus air matanya


"jadi kenapa kau kesini?"


"aku yakin bukan karena kau mencari penyelamatmu kan. haha kau bukan orang seperti itu."


"benar. memang ada alasan lain."


"Pasti bukan karena aku menyelamatkan orang kan? haha."


"Berhenti bercanda"


"hmmm baiklah katakan padaku." Nirmala mengubah posisi duduknya. Menyilangkan kaki dan bergeser menghadap Bayu, segaris senyum terpahat di bibirnya, sangat manis. sudah lama senyum itu telah hilang.


"Ngomogn ngomong kau terlihat berbeda"


"Benarkah? Apa yang berbeda?


"Kau terlihat lebih cantik"


"Kau bercanda?"


Bayu tersenyum "penampilanmu kau lebih terlihat keren. Sejak kapan kau tidak mengenakan rok?"


"Semua orang disini adalah pria. Tidak ada rok disini"


"Kau tidak takut tinggal disini. Di tengah para pria."


Nirmala tersenyum "aku yang terkuat disini. Kau mungkin tidak akan percaya"


"Sudah cukup basa basinya jadi apa yang membuatmu datang kesini? Kau tidak percaya jika aku sudah mati?"


"Benar baru kali ini aku sangat yakin. Dan semua orang mungkin kini percaya kau masih hidup. Aku yakin semua akan mencarimu kelak. makanya aku terlebih dahulu mencarimu."


"oh. kenapa?"


"Mereka mengira kau yang memanggil mahluk mahluk itu."


"Ha?"


"orang yang kau selamatkan, salah mengira seperti itu. dan kabar miring itu segera menyebar."


"salahku. seharusnya aku tidak terlambat. Lalu"


"mengenai giok cahaya.."


"ha? apa?" Nirmala terheran mendengar kalimat itu.


"Giok Cahaya, semua orang sudah tau bahwa giok itu ada padamu."


"kenapa bisa?"


"Arwah Laras memberi petunjuk dan kami tidak sengaja menyebut namamu."


Nirmala dan Laras berjanji akan menutupi hal ini. Akan ada hal yang berbahaya jika banyak orang mengetahuinya. Orang orang akan memperebutkannya. Hal ini bukan sesuatu yang baik. Meski Giok Cahaya memberikan manfaat. Tapi kekuatan besarnya akan membuat keserakahan semua orang bermunculan. Entah berapa banyak lagi darah yang mengalir demi mendapatkan Giok itu.


"Mereka bilang Giok itu Dikutuk bersama Laras. Tidak akan ada yang bisa menemukannya selama limaratus tahun tahun. Aku mengerti jika memang benar kau berasal dari seribu tahun mendatang tapi. tapi aku tidak tau, bagaimana bisa kau mengambilnya?"

__ADS_1


"kau ingin tau?"


Sebuah anak panah menancap di dinding batu, berisi secarik kertas terlipat. Nirmala mengambilnya dan membacanya.


Tanpa banyak bicara, Nirmala menitikan pandangan kesebuah tempat, sesuai dengan petunjuk dari kertas itu.


Nirmala mengambil busur dan panah miliknya. menargetkannya ke suatu tempat itu. Anak panah itu perlahan bercahaya kebiruan, sebuah energi yang dia alirkan. Dia lepaskan anak panah itu melesat melalui pepohonan di bawahnya jauh beratus meter kedepan.


Nirmala kembali ke posisinya duduk. "Sampai dimna kita tadi?"


"kau, bagaimana bisa mengambil benda itu?"


"hmm. seperti ini."


Dia mempraktekannya kepada Bayu.


"hanya tinggal mengambilnya saja. itu mudah"


"Tapi siapapun tidak akan bisa mengambil itu."


"kau pikir siapa aku?"


"aku bukan siapapun di dunia ini. Tapi aku seseorang dari dunia lain. tentu aku bisa."


"..."


"Lagipula. Bukan aku yang mencarinya. Laras yang menuntunku padanya."


"kau benar benar menyimpannya? giok itu."


Nirmala tersenyum.


"Bayu, mereka sudah tau semua itu, biarkan mereka tau, aku memang yang mengambil giok itu, kau tidak perlu memikirkan hal lain, ya.."


"tapi mereka akan mencarimu kelak, mungkin akan merebut itu darimu"


"mereka harus yakin terlebih dahulu bahwa aku tidak mati."


"..."


"kau pikir siapa yang ingin membuangku dulu. Sekarang malah mencari cari aku"


"Biarkan saja, pada saatnya tiba, mereka akan tau kebenarannya."


"aku khawatir jika giok itu mereka dapatkan maka"


"tenang saja, kau percayalah padaku. Seperti aku percaya padamu."


bayu tersenyum. "ngomong ngomong, dari mana asalnya mahluk mahluk itu"


"Entahlah pasti ada seseorang yang memanggilnya, tapi aku tidak tau siapa itu."


"apa ada hubunganya dengan prajurit mongol?" 


"mungkin saja."


"Apa ada hubungannya dengan formasi pemanggilan yang di selidiki Tuan Budhi?"


"Kurasa memang berhubungan. Aku juga masih menyelidiki itu."


"oh. pedagang herbal di atas gunung menghilang, aku khawatir ada hubungannya."


"tidak. aku rasa. orang yg memanggil mahluk itu adalah orang kita, mereka berbeda."


"Kau pikir begitu?"


Seketika Nirmala teringat akan satu hal. 


"Bayu jika dugaanku tidak salah....."


Nirmala terhenti dari kalimatnya. Merasa resah dan tidak yakin.


"Ada apa?"


"Aku khawatir ada orang kita yang bekerja sama dengan prajurit mongol dan menggunakam mahluk mahluk itu"


"Ha?"


"bayu bisakah kau menyampaikan informasi kepada tuan Wiriya?"


"ada apa?"


"Tidak perlu khawatir mengenai mahluk ini, mereka masih bisa kami tahan. Hanya saja, aku rasa 7 hari kedpan prajurit Mongol akan datang menyerang."


"Apa? Kau tidak salah bicara?"


"Tadinya aku tidak akan mencapuri ini. Tapi, aku takut ada hal lain setelah ini."


"Kau bicara apa?"


"aku mendapat informasi, mereka sudah berlabuh, dan secara diam diam mendekat."


Bayu menyimak semua yang dibicarakan


"Dengan kecepatan seperi ini, mreka pasti tiba dalam waktu 7 hari kedepan."


"Bagaimana bisa."


"ada penghianat diantara kita kau menyadari itu kan."


"Mereka lah yang menjual informasi kita. Lokasi dan tempat tempat yang luput dari patroli kita."


"Hanya saja. Medan yg mereka tempuh, mereka tidak biasa dengan perang gerilya. mereka lebih lambat dari dugaanku."


"perang gerilya itu apa?"


"seperti penyergapan, atau semacamnya."


"Berarti mereka kemungkinan muncul malam hari."


"buatlah strategi dalam empat hari, kita tidak tau darimana mereka akan datang."


"Mn. aku mengerti"


"Tidak perlu khawatir mengenai mahluk itu. kami yang akan megurusnya.


kau tinggal bilang saja, bahwa mahluk itu sebenarnya lemah. selama mereka tidak memakan korban mereka adalah mahluk lemah."


"hmm."


"Nirmala, aku ingin mengembalikan ini" Bayu mengeluarkan kantung kecil yang pernah dititipkan nya.


"itu milikmu sekarang, kau benar benar hrus menjaganya. Aku percayakan pdamu. Sekarang pulang lah. Jangan berlama lama disini.


Jika ada sesuatu, lemparkan panah saja kesini. aku akan datang tapi kau jangan kesini lagi ya."


"hmm."


Bayu bergegas menuruni gunung. Untuk menyampaikan semua pesan itu. Dia harus bertemu dengan Dhika terlebih dahulu. Menceritakan semua yang di alaminya. Dhika adalah orang yang selalu dia percaya. Hanya kepadanya Bayu menceritakan mengenai Nirmala. 


Bayu juga menceritakan mengenai prajurit Mongol kepadanya dan kepada tuan Wiriya. 


Tuan Wiriya penasaran darimana dia mendapat info itu. Tapi dia sudah berjanji bahwa tidak akan memberitahukan soal ini kepada siapapun. Dia hanya menebak dan memprediksi dengan bukti bukti yang ada. Seperti yang di bicarakan Nirmala. Untungnya dia dapat membuat semua orang yakin dan percaya. 


Tuan Wirya selaku orang paling berpengaruh di kota Parigi juga termasuk salah satu anggota pemerintahan pusat. Pastilah bisa menuntun semua orang untuk melakukan persiapan. Atau setidaknya pencegahan. 


-----


Bayu Mengunjungi Tuan Budhi di tempat pelatihan dekat dengan istana bupati. Dia ingin berbicara empat mata.


Tuan Budhi seperti biasa sedang membina prajurit istana Mandalika. Mreka berbaris dan mengikuti semua arahan instruktur. Tuan Budhi mengamati dari luar lapang. 


"Paman ada yang ingin aku bicarakan."


"Bicaralah"


"Aku yakin kau tidak ingin orang lain mendengar ini." 


Tuan Budhi mengerti maksudnya. Pastilah ada hal penting atau hal yang rahasia. "Baiklah kita bicara di dalam"


Mereka duduk di sebuah ruang rapat kecil. Tuan Budhi memainkan cerutu di tangannya, entah sejak kapan dia berhenti menghisap cerutu itu. Hanya mengeluakannya. Memainkannya di tangan. Lalu memasukan lagi kedalam kantungnya.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"


"apa paman senang jika Nirmala masih hidup?"


Tangannya terhenti memutar cerutu itu. Raut wajahnya seakan tak menyangka setelah setahun lamanya Bayu tidak pernah menanyakan itu.


"kenapa kau bicara begitu?"


"sebenarnya kemana paman membawanya?"


darah dari baju itu, bukan darah nya kan?


Paman sengaja membawanya kesana, tapi dia hanya ditinggalkan, iya kan? 


dengan harapan dia akan tetap hidup.


Ketika Pak Tono bilang melihatnya, kau senang iya kan?"


"...."


"jika aku bilang aku melihatnya, apa kau akan tetap diam?"


Tuan Budhi menatapnya heran. Matanya mulai berair.


"jangan katakan apapun Bayu."


"Paman adalah orang yang baik aku yakin itu . karena itulah paman membohongi kami semua."


"Apa yang ingin kau ketahui?"


"Tidak ada. Dia bilang dia tidak akan kembali.


Dia akan tetap menjadi hantu bagi kota ini."


"jika dia lebih aman disana, maka lebih baik jangan kembali."


"Paman tau, semua informasi yang aku dapat, itu dari dia."


"kau mempercayainya.?"


"selama yang sudah kami lalui, bagaimana bisa aku tidak percaya padanya. Bbahkan seseorang datang bertanya padaku apakah dia benar benar mati. Banyak orang yang sudah dia bantu bahkan ketika tidak bersama kami. Aku bangga padanya.


Paman jika sesuatu terjadi lagi padanya aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan tetap bersamanya"


"Aku senang dia memiliki seseorang sepertimu. Aku menyesal tidak bisa melindunginya lebih lama. Aku sangat menyesal."


"Jangan menyalahkan diri paman. Sesungguhnya dia pun tau kebaikan hati paman"


Nirmala selalu memberitahu Bayu mengenai info terbaru prajurit mongol. Dia menembakan anak panah kepada Bayu dengan menyelipkan secarik kertas. Hanya selalu Nirmala yang memberi informasi. Tanpa bisa di balas oleh Bayu. Pasalnya. Nirmala selalu menembakan anak panah itu dimana pun Bayu berada. Sedangkan Bayu tidak tau dimana Nirmala berada untuk membalas pesannya. 


Tujuh hari berlalu prajurit Mongol benar benar datang. Menyergap secara tiba tiba. Untungnya pasukan dari istana sudah mempersiapkan diri hingga tidak banyak korban jatuh. Pasukan Mongol pulang dengan membawa kekalahan.


Saat itu Dhika ikut dalam perang gerilya. dia bergabung dengan prajurit istana, tentu saja itu semua permintan dari ayahnya. Meski dia tidak ingin melakukannya tapi dia tetap menuruti perintah ayahnya. Tanpa membuatnya kecewa.


Pernyergapan pertama berhasil di hadang, tapi bagaimana seterusnya. Kali ini beruntung karena mendapat bantuan dari Nirmala. Entah bagaimana dengan selanjutnya.


Kemenangan perang saat itu membuat tuan Wilis besar kepala. Para menteri dan utusan dari kerajaan bersahutan memuji dirinya. Yang mereka tau, informasi dan strategi perang saat itu adalah idenya. Dia bahkan tidak menyebutkan Bayu dan para kepala keluarga besar yang ikut andil. Bahkan Dhika yang ikut andil ke lapang perang itu pun seakan tidak terlihat, padahal sebagian besar dari prajurit mongol di kalahkan olehnya.


Melihat itu tidak ada yang menentangnya, Bagaimanapun Tuan Wilis lah yang di tunjuk untuk memimpin perang saat itu. 


Dalam hati Dhika bergumam, tapi dia harus menelan itu bulat bulat untuk tidak mempermalukan keluarganya.


Perjamuan diadakan lagi untuk merayakan kesuksesan tuan Wilis dalam perang, masih di tempat yang sama. Istana kediaman tuan Wilis.


Seperti biasa seluruh petinggi dan keluarga besar di undang untuk merayakannya, juga untuk menyombongkan diri, dia memajang piagam penghargaan emas pemberian raja, dan dengan bangga memamerkannya kesetiap orang disana. 


Bayu mengerutkan bibirnya dan bergumam tidak karuan.


Tidak rela prestasi itu di ambil alih olehnya, orang sombong yang tidak punya perasaan. 


Dyah menghampiri Bayu, dengan kebaya panjang yang dikenakannya dia sangat terlihat manis. Tapi tentu saja  sama sekali tidak dapat menyentuh hati Bayu. 


Bayu yang memisahkan diri dari ramainya perjamuan hanya berdiri di samping jendela. 


"Kau tidak ikut bergabung dengan yang lain?"


"Aku sedang tidak ingin di keramaian saat ini."


"Seseorang pernah melihat Nirmala, bagaimana perasaanmu?"

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya padaku?"


"ku kira kau akan senang."


"entahlah. Apapun yang terjadi aku hanya berharap dia bahagia. Tidak menderita lagi."


"apakah jika dia mati maka dia bahagia?."


"entahlah. Jika kau berharap dia hidup hanya untuk menderita, maka aku akan berharap sebaliknya."


Terdengar keributan di tengah keramaian. 


Seseorang berseru "aku benar benar pernah melihat Nirmala ketika pergi berburu di hutan berdekatan dengan hutan pekat, aku yakin itu dia"


"dia seakan mengendalikan sebuah mahluk seperti bayangan"


Raut muka Bayu tiba tiba saja berubah seakan ingin mengungkapkan sesuatu.


"Apa kau pikir itu benar" tanya dyah.


"entah."


Ditengah keramaian itu, semua salah paham itu menjadi semakin rumit.


Bayu menghampiri "tidak bisakah kalian menghargai orang yang sudah meninggal? tidak bisakah kalian membiarkannya dengan tenang?"


"Apa maksudmu, bukah seharusnya kau senang karena temanmu masih hidup.?"


"Tentu saja aku akan senang, tapi aku tidak senang dengan cerita kalian semua. Ayu sudah meninggal dan sudah tidak ada gunanya merahasiakan ini, bukankah semua orang tau mengapa dia bisa mati,"


"Tentu saja karena hukuman telah memberikan racun kepada Ayu."


"Tapi ayu tetap mati meski tidak ada Nirmala. karena bukan Nirmala yang meracuninya."


"Itu tidak terbukti sama sekali. Ayu meninggal karena efek racunnya masih tertinggal."


" Setahun ini aku mempelajari mengenai racun itu. itu bukan racun yang bisa membuat seseorang mati dengan sekali teguk, racun itu melemahkan semua organ vital hingga terlihat seperti anemia biasa. beberapa hari pengaruh racun itu akan hilang, tapi itu bertahan hingga tiga bulan, yang berarti ayu masih meminum racun itu secara rutin.


apa tidak ada yang memikirkan hal ini?"


Semakin lama Bayu semakin emosi. Semua orang tertuju pada perselisihan itu. Bayu teguh pada pendiriannya.


"Itu sudah lama berlalu dan tidak ada yang bisa membuktikannya."


"benar. Nirmala sudah lama mati dan biarkan tetap seperti itu, karena itu sudah lama berlalu."


"Giok cahaya ada di tangannya bagaimana jika ada prajurit Mongol mendapatkan itu." Tiba tiba tuan Wilis bergabung dengan pembicaraan


"Jadi itu tujuan anda? Mencari giok cahaya?"


Bayu tersenyum pahit dan melanjutkan kalimatnya.


"aku rasa bukan karena takut di ambil Mongol, mungkin mereka bahkan tidak tau mengenai itu"


"apa maksudmu?"


Bayu tersenyum pahit lalu pergi meninggalkan aula perjamuan. 


------


Lentera malam sudah menghiasi seisi rumah. Mereka akan menjadi saksi ketika kisah malam terurai. Terkadang hanya mereka lah yang menemani dikala gelap menyelimuti. 


Rumah keluarga Wijaya selalu di penuhi tawa. Tiada kisah sedih di setiao sudutnya. Mungkin itu yang orang orang pikirkan. Tidak ada yang bisa membaca isi hati seseorang. Begitu juga lentera lentera itu.


Beberapa tahun terakhir tidak terdengar lagi tawa yang mengitari rumah. Anak anak yang selalu bersenang senang kini sudah tumbuh dewasa. Begitu juga dengan Haris dan Bayu. Mereka tumbuh bersama dalam satu atap. Bersama orang orang yang menyayangi mereka. Tapi tentu saja perselisihan kadang terjadi. Namun itu bukan hal yang besar. Seperti memecahkan kendi kendi mahal atau melepaskan hewan langka yang sengaja di bawa tuan Wijaya untuk di pelihara. Anak anak dengan kepolosannya. Tapi Tuan Wijaya tidak pernah menganggap itu dengan serius.


Bayu lagi lagi berbuat onar. Padahal beberapa tahun terakhir tidak ada kenakalan lagi yang di buatnya. Bahkan dia membantu penyelidikan dengan Tuan Budhi, atau hal lainnya yang patut di acungi jempol. Perselisihan di perjamuan Tuan Wilis membuat Tuan Wijaya geram. 


Haris dan Bayu terlihat beradu mulut di ruang keluarga. Bertengkar. Sikap Bayu saat di perjamuan benar benar mempermalukan nama keluarga Wijaya. 


Haris "tidak bisakah kau jaga ucapanmu? Apa kau lupa kau berada dimana?"


Bayu "apa kau tidak dengar apa yang mereka bicarakan."


Haris "semua tidak ada hubungannya dengan kita. Sebaiknya kau tidak ikut campur lagi masalah ini."


Bayu "tidak bisa begitu"


Tuan Wijaya datang dengan muka merah. Berjalan dengan cepat memasuki ruang keluarga. Istrinya mengikuti di belakangnya.


Tuan Wijaya menahan amarahnya, tapi tentu saja karena dia mengerti dulu Bayu sangat kehilangan Nirmala, Kini setelah setahun berlalu dia merasa marah karena seseorang akan mengusik ketenangan kawan dekatnya.


Tuan Wijaya Bayu, Paman mengerti perasaanmu, tapi kau berada di tempat yang salah untuk bicara"


Bayu "paman.aku..."


Tuan Wijaya "Bayu tahan amarahmu, kau tau situasi kali ini seperti apa. Tuan Wilis semakin kejam dia bahkan tidak segan melukai warganya sendiri. Jangan sampai amarah kita berakhir dengan hal yang lebih buruk lagi."


Bayu tau itu. Dan dia mengerti. "aku minta maaf Paman, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu."


Rindah "Sudahlah, jangan dipermasalahkan lagi. kita semua tau bagaimana keadaanya, lagipula Bayu sudah menyadari itu."


Nyonya Wijaya orang yang baik, mereka memperlakukan Bayu sebagai anaknya sendiri. Bayu sangat menyayangi keluarga ini.


Bayu kembali ke kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya. Menyilangkan kedua tangannya menjadi bantalan kepalanya. Salah satu kakinya menumpang di kakinya yang lain.


Haris datang membawa  dua cangkir teh. Untuknya dan untuk Bayu. "Merasa bersalah?"


"Tentu tidak. Aku puas sudah meluapkan semuanya"


"Cih. Kau tidak pernah berubah"


Bayu menghela nafas panjang "tiba tiba aku teringat ketika pertama kali aku di bawa kesini."


"Ada apa dengan itu?"


"Kau pikir paman memungutku darimana?"


"Bahasamu kasar sekali. Kau pikir kau itu kucing?"


"Anggap saja begitu"


"Ayah tidak suka kucing jadi pasti kau di tendangnya"


"Kejam sekali aku suka kucing."


"Ah kau bicara omongkosong lagi. Kau membuatku pusing"


"Bagaimana kabar adikmu?"


"Sedang tidur"


"Kau tau, aku tidak ingat bagaimana ayah dan ibuku. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya hanya saja terkadang aku sedikit penasaran"


"Penasaran terhadap apa?"


"Bagaimana mereka tewas."


"Jangan bicarakan itu. Kau akan sedih. Lebih baik bicarakan sesuatu yang menyenangkan. Lagipula bukan hanya kau yang kehilangan orang tua. Ibuku juga meninggal ketika aku kecil."


"Benar. Apa kau rindu ibumu?


"Terkadang. Tapi ibu tiriku juga sangat baik. Aku tidak khawatir. Kau juga jangan khawatirkan apapun. Kau memiliki kami"


"Kau benar"


Rindah adalah Istri kedua bagi Tuan Wijaya. Mereka menikah sepuluh tahun lalu. Tapi baru di karuniai seorang keturunan. Rindah baru saja melahirkan putra pertamanya. Diberinama Galih Surya Wijaya. Nama yang indah untuk bayi laki laki.


----


Tanah Sunda sedang genting. Seluruh pondok pelatihan beladiri meningkatkan jadwal pelatihannya. Sesuai instruksi dari Istana Ibukota. Mereka harus bersiap terhadap perang. Musuh bukan hanya dari wilayah Dwipantara saja. Tapi juga dari luar, seperti Mongol yang saat itu berhasil menaklukan setengah Asia. Bisa saja dari Ras lain pun mengingeinkan tanah ini. Negeri yang kaya akan rempah. Tanah yang subur dan pusat lintas dua benua besar. Akan sangat cocok untuk pusat lintas perdagangan. Tidak ada yang tidak tergiur dengan tanah ini. Karena itulah pemerintahan pusat menghimbau kepada seluruh kepala daerah untuk meningkatkan kualitas. Merekrut pemuda, melatih mereka menjadi prajurit. Entah untuk menjadi prajurit biasa, menjadi puragabaya, menjadi Basura atau yang lainnya.


Dhika menerima arahan itu untuk menjadi semakin kuat, dia pun telah melatih ilmu kebatinannya kalau sekarang disebut ilmu kanuragan. 


Begitu pula dengan Bayu. Mereka tumbuh menjadi lebih kuat. Mereka harus bisa mengalahkan monster monster itu. Sedikit info dari Nirmala merubah segalanya. Semua pondok pelatihan lebih fokus pada ilmu kebathinan. Itu akan sangat berguna.


Tuan Wilis masih berusaha untuk mendapatkan Giok itu. Dia diam diam memerintahkan pasukan kecilnya untuk mencari Nirmala. Bayu yang mengetahui itu diam diam mengikuti mereka. Bayu selalu mengawasi setiap gerakan Tuan Wilis. Bayu memang sudah Curiga bahwa Tuan Wilis pasti akan mencari Nirmala. 


Pagi pagi sekali sekelompok anak buah tuan Wilis meninggalkan Istana. Bayu curiga kemana mereka akan pergi. Benar saja mereka benar benar menuju hutan pekat. Dimulai dari tempat Nirmala pertama kali di tinggalkan. Seharian itu bayu mengikutinya. Membuntuti mereka secara diam diam. Hingga jauh masuk kedalam hutan.


Hingha mereka bertemu dengan Tama tanpa sengaja. Bocah itu lagi lagi bermain sendiri, berkeliaran di luar pagar pembatas.


"Siapa kalian? Kenapa ada disini?"


Semua prajurit itu terheran mengapa ada anak kecil di hutan pekat, salah satu dari mereka berseru "dia mungkin keturunan bandit gunung."


"kalau begitu kita tangkap dia sebagai hadiah untuk Tuan Wilis. Dia pasti sangat berguna"


Mendengar itu Tama yang mematung di hadapan mereka segera berlari, 


Bayu yang masih mengamati dari jauh merasa sesak ingin sekali membantunya.


Tama berlali menjauhi prajurit itu, tapi mereka lebih cepat dari bocah itu. semakin lama semakin dekat. 


"putri tolong aku", dengan sekuat tenaga dia berteriak.


Nirmala yang mendengar itu langsung berlari mendekat. Dia memang sedang mencarinya, Tama anak yang cerdas dalam bersembunyi hingga sulit untuk di temukan. Begitu mendengar teriakannya Nirmala langsung berlari mencarinya. Tama tersungkur jatuh dalam larinya. Dia terpojok. Nirmala berlari dan meraihnya. Kelompok itu mengelilingi mereka berdua. Sialnya dia tidak membawa busur dan anak panahnya. Mau tak mau, dia harus menggunakan kedua tangannya dan pedang pendeknya.


"Putri aku takut!"


"Tetap di belakangku"


"Aku mengenalimu, kau.....sering bersama nona Ayu"


"Nirmala??"


"Benar, aku ingat dia. Dia benar benar Nirmala"


Nirmala menghununskan pedangnya pendeknya "jangan mendekat!"


Tama yang berdiri dibelakangnya seperti ketakutan setengah mati.


"Tama, lari sekuat tenaga, jangan pernah berhenti, 


"Bagaimana denganmu?"


"aku tidak akan membiarkan mereka maju lebih dekat. Juga tidak akan membiarkan mereka keluar dari hutan ini. Lari, carilah bantuan secepat mungkin. Kau mengerti?"


Nirmala mengayunkan pedangnya. Membuat celah untuk Tama berlari dari sana.


"Lari!!"


Tama pun berlali sekuat tenaga sesuai yang di instruksikan Nirmala.


Kini hanya tinggal Nirmala dan 20 orang anak buah Tuan Wilis.


Nirmala berteriak "apapun yang terjadi jangan pernah keluar dari tempatmu"


Bayu mendengar itu seakan mengerti bahwa pesan itu untuknya. 


Karena jika mereka lolos, dan melihat Bayu maka semuanya akan lebih kacau lagi.


Mereka mulai menyerang, untungnya Nirmala kini lebih kuat, berkat ilmubela diri yang diajarkan ketua padanya, dia bisa melawan mereka. tapi tentu saja. Satu melawan duapuluh orang itu keterlaluan. bagaimanapun juga Nirmala adalah perempuan.


Beberapa kali pedang prajurit itu berhasil melukainya, pertarungan ini tidak akan cepat selesai. Nirmala sudah merasa lelah, seorang prajurit melayangnya pedangnya, Nirmala benar benar tidak siap.


Bayu berguman dalam hati. Memangnya siapa kau, mengapa memerintahku seenaknya. bukankah aku sudah berjanji akan melindungimu.


Bayu menangkis pedang itu utuk Nirmala, melihat Bayu ada di pihaknya, prajurit itu merasa kesal kepada Bayu. 


"Ranggana Bayu! Apa yang kau lakukan?"


"Memangnya apa?"


"seorang dari keluarga terpandang tidak seharusnya melindungi seorang pembunuh."


"Ah. Aku sudah muak dengan ini semua"


Pertarungan berlanjut dengan sengit. Nnirmala sudah merasa pada batasnya. Ini harus segera di akhiri.


Bantuan dari gunung belum juga tiba. Beberapa kali Bayu terkena serangan. Nirmala berlari menjauhi lokasi. Beberapa orang mengejar namun tidak dia hiraukan. Untuk membuat tembakannya tepat dia harus berada dalam jarak yang pas. Dia terhenti dari langkahnya seketika berbalik


Nirmala mencoba memusatkan energi spiritual di kedua tangannya.


Dengan konsentrasi tinggi, sebuah gelombang energi terbentuk. 


Di tangan kirinya energi itu membentuk sebuah busur, dia menarik senarnya seketika terbentuk anak panah dengan cahaya biru. Dia melepaskan anak panah itu, melesat menembus dedaunan, anak panah itu terbagi menjadi sepuluh, melesat mengenai musuh musuh yang sedang melawan bayu. tepat di kepala mereka. Tewas seketika. Sisa tiga orang prajurit mematung melihat itu. Mereka berbalik lari tunggang langgang. Anak panah yang tadi menenancap itu hilang bagai udara, Nirmala merasa sangat lelah. Kekuatan itu menguras energinya.


Sial sekali. Bantuan dari gunung baru datang setelah semua selesai, Nirmala terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Bayu menyangganya hingga dia tak terjatuh menyentuh tanah.


Catatan :

__ADS_1


Puragabaya adalah sebutan untuk satuan prajurit Istana yang khusus melindungi anggota kerajaan. Mereka tidak membawa senjata. Mereka lihai dengan ilmu kebatinan. Bertarung tangan kosong. Namun mereka selalu membawa senjata pusaka seperti keris, kujang atau semacamnya. Senjata pusaka tersebut bukan untuk bertarung. Namun sebagai bentuk identitas.


Bassura adalah satuan khusus pemanah profesional. Kemampuan penglihatan, jangkauan tembak dan ketepatan pembidikan menjadi modal utama para ahli ini. Dalam perang Gerilya mereka sangat berperan penting. Terutama untuk melindungi pasukan di garis depan.


__ADS_2