Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Kenangan Perih


__ADS_3

Pradhika Wiriya membuka kamar dengan segera. Tidak ada siapapun disana. Dia mengamati setiap sudut dan setiap tempat yang mungkin saja bisa dijadikan tempat bersembunyi. Tidak ada siapapun. "Kemana kau pergi?"


Dhika berjalan di sekitar wilayah penginapan itu mencari satu sosok yang selalu hilang entah kemana. Memutar mata dan kepalanya. Menelisik setiap sudut. Dia tidak ada dimana pun. Itu sudah biasa. Rinaya memang selalu seperti itu. Tapi kali ini Dhika terlihat sangat khawatir. Dia duduk di sebuah kedai kecil penjual Tuak. Udara dingin menyertai gerimis yang perlahan turun. Hari pun sudah semakin gelap. Dia tuangkan secangkir tuak kedalam gelas lalu meminumnya. Menghela nafas panjang. Lalu meminumnya kembali. Terus saja seperti itu. Sekelumit pikiran tak juga pergi. Tidak ada yang tau apa yang dipikirkannya. Entah sudah berapa gelas dia minum.


Rinaya melihatnya dari ujung jalan. Terheran melihat Dhika di tempat itu. Terlihat sangat kacau. Dia menghampiri "Dhik...Balapati? Apa yang kau lakukan disini?" Rinaya harus membiasakan diri memanggilnya dengan sebutan itu. Dia sedang berseragam seorang murid pondok Wiriya. Terlihat tidak sopan jika seorang murid memanggil seniornya dengan nama kecilnya.


Dia tidak menjawab. Dia terus menuangkan minuman itu kedalam cangkirnya. "Sejak kapan kau minum seperti ini? Ayo pulang." Rinaya menarik tangannya.


"Jang. Ini minumannya tolong di bayar dulu" ujar pemilik kedai.


Rinaya tidak punya uang sedikitpun. Mau tidak mau dia harus mengambil uang milik Dhika. "Balapati. Aku pakai uangmu ya." Dia mengambil kantung uang di dalam bajunya dan memberikan seharga minuman itu kepada pedagang. "Ini pak. Terimakasih. Balapati. Ayo."


Dhika tidak seperti orang mabuk yang terhuyung ketika berdiri. Dia masih bisa berdiri tegak. Hanya saja pikirannya seperti teraduk hingga dia tidak merespon apapun yang di katakan Rinaya. Tidak mudah menuntun pria besar dengan tubuh mungilnya itu tapi juga tidak terlalu sulit seperti kebanyakan orang mabuk. Rinaya membawanya kembali ke penginapan. Mereka duduk di sana. Rinaya mulai khawatir dengan Dhika yang terus saja membisu.


"Dhika... Kau dengar aku? Balapati??... Tuan muda Wiriya?" Rinaya menjentikan jarinya. Tidak ada respon sedikitpun.


"Ada apa denganmu. Kenapa kau mabuk seperti ini. Aku tidak pernah melihatmu seperti ini. Hei!! Pradhika Wiriya!! Kau dengar aku??"


Rinaya mengehla nafas.


"Maafkan aku!" Satu kata dari Dhika akhirnya terucap. Dia pun mengalirkan airmata. "Maafkan aku" dia terus mengulangi kata itu.


"Dhika??" Rinaya menatapnya erat.


"Aku mencarimu kemana mana."


"Aku tidak pernah menemukanmu"


"Kau selalu mendapat masalah"


"Aku tidak pernah bisa membantumu"


"Aku tidak bisa melindungi orang yang kau sayangi."


"Aku tidak pernah berada di pihakmu."


Rinaya bertanya "Dhika?? Selama ini kau terus mencarinya??"


Dhika menatap Rinaya dan menyentuh pipinya. "Sekuat apapun aku mencarimu.  Aku tidak akan pernah menemukanmu. Aku berharap bisa menemukannya juga. Tapi itupun aku tidak bisa." Rinaya sangat mengerti. Bagaimanapun juga dia tau bahwa kematiannya bukan seperti orang biasa. Dia kembali ke asalnya. Lenyap dari dunia ini. Tapi Bayu mungkin bisa dia temukan. Dia berharap itu.


"Aku disini. Aku kembali untukmu. Jangan pernah menyerah. Kita akan mencarinya bersama. Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam perasaan ini. Ya!"


"Jangan pergi lagi."


Pagi yang cerah menyinari. Cahaya matahari mengintip di sela sela jendela. Rinaya membuka jendela itu dan berdiri disana. Melihat keadaan diluar sambil merasakan hangatnya mentari yang membelai tubuhnya.


Dhika tersadar dari mimpinya. Masih terlentang di atas tempat tidur. Dia memutar matanya mengamati sekeliling. Terlihat sosok mungil itu di depan jendela. Membelakanginya. "Rinaya?"


Rinaya pun menoleh. Rambutnya masih tergerai rapi. Cahaya matahari membuatnya terlihat berbinar sangat cantik. Dia tersenyum. "Selamat pagi"


Dhika bangkit dari tempat tidurnya. "Kau tidur dimana semalam?" Pertanyaan bodoh dari seorang Balapati. Tapi itu wajar. Dia mabuk pasti tidak ingat semua yang di alami malam itu. Dia memang hanya memesan satu kamar dengan satu tempat tidur. Rencananya dia akan memesan kamar lain. Tapi karena mabuk. Dia bahkan tidak ingat itu sama sekali.


"Disini. Bersamamu." Dia menjawab dengan begitu enteng lalu tersenyum geli seakan sedang membodohi orang ini.


"Apa?"


"Kau tidak ingat?"


"Apa aku melakukan sesuatu?"


"Sebaiknya kau tidak mabuk lain kali. Mungkin kau akan membuat masalah dengan orang lain."


"Apa semalam terjadi sesuatu?"


Rinaya mengangguk. "Kau memeluku. Memintaku jangan pergi. Dan melakukan...."


"Haah?"


Rinaya tidak kuasa menahan tawanya. "Hahaha. Tidak perlu khawatir. Kau baik baik saja semalam. Cepatlah mandi. Aku ingin keluar dan makan."


Rinaya dan Dhika berjalan meninggalkan penginapan. Rinaya cemberut dan merengek di sepanjang jalan. "Kita hanya makan itu saja? Tidak akan makan lagi? Perutku bahkan masih kosong. Kau pelit sekali."


"Itu salahmu. Kau membayar tuak kemarin terlalu banyak."


"Mana ku tau harganya begitu mahal. Pedagang itu pun tidak berkata apa apa."


Rinaya saat itu keliru memberikan uang kepada pemilik kedai tuak. Rinaya memang tidak tau mata uang disana. Dia memberikannya begitu saja. Pemilik kedai pasti mengira kelebihan uangnya adalah tip untuknya. Dia merasa di untungkan dengan itu.


"Oh Balapati. Selagi kita di sini. Ada hal yang ingin aku pastikan. Aku ingin berkunjung ke satu tempat."


"Kemana?"


"Hmm. Kau ingat sebuah pohon dekat desa Mada? Pohon di tengah padang rumput."

__ADS_1


"Pohon?" Dhika terhenti secara tiba tiba. Rinaya yang di belakangnya pun mendadak menabraknya.


"Kenapa tiba tiba berhenti?"


Dhika berbalik dan mengerutkan dahinya. "Kenapa kesana?"


"Tidak ada alasan khusus. Aku mendapat sebuah mimpi aneh. ku harap itu sebuah petunjuk."


"...."


"Tidak ada salahnya menelusuri apa yang aku alami."


"Kurasa kau hanya rindu desa itu."


"Itu juga benar."


Rinaya dan Dhika tiba di sebuah padang rumput hijau. Ada sebuah pohon berdiri tegak diantaranya. Namun kali ini keadaannya sangat berbeda. Pohon itu kini hanya menjadi sebuah tunggul tanpa dahan. Hitam legam menjadi arang. Bebatuan di bawahnya berserakan. "Apa yang terjadi?"


"Sejak saat itu aku tidak sering datang ke kota ini. Aku tidak tau apa yang terjadi sebenarnya hanya saja.... Aku memang mendengar rumor bahwa Warga membakar Pohon ini."


"Kenapa di bakar?"


"Saat aku masih kecil pernah bertemu dengan seorang anak sebaya denganku. Dia memiliki seekor anjing. Anak anjing yang cukup besar. Entah kenapa dia mati. Baru belakangan ini aku menyadari bahwa anak itu adalah Bayu. Anjing miliknya katanya adalah jelmaan siluman. Warga khawatir. Mereka membunuh anjing itu. Menurut cerita. Anjing itu di kubur di bawah pohon ini oleh Bayu."


Rinaya bergumam "Jadi yang kulihat saat itu adalah kilas balik." Rinaya beralih memutar matanya menatap Dhika "Lalu siapa Pria yang ku temui saat itu?"


"Pria?"


Rinaya mengangguk dan mengarahkan telunjuknya pada sebuah titik dimana Pria itu berdiri. "Dia berdiri disana. Memberitahuku bahwa sesuatu akan terjadi. Dia juga tau siapa aku. Dia juga tau aku tidak berasal dari sini. Dia bahkan menyuruhku untuk kembali."


Dhika memutar matanya seakan teringat sesuatu "Jauh sebelum Rumor Anjing Siluman itu muncul Aku mendengar satu rumor lain. Aku yakin kau sudah mendengarnya dari Bayu dia selalu menceritakan hal itu pada orang yang baru di temuinya."


"Tentang sepasang kekasih yang mati disana?"


"Benar. Tapi itu hanya rumor."


"Kapan itu terjadi?"


"Saat itu aku masih kecil jadi aku tidak tau pasti. Setau yang ku ingat mereka mengatakan sekitar lebih dari dua puluh tahun lalu."


Alisnya mengkerut, bibirnya bergumam, jari jarinya bergerak seakan sedang menghitung sesuatu. "Mungkinkah itu terjadi ketika makhluk itu pertama kali muncul?"


"Tapi apa hubungannya dengan itu?"


"Kau benar!"


Rinaya terperanjak mundur mendengar ada yang menjawab pernyataannya. Dhika pun terheran dengan itu. Tapi tidak banyak reaksi yang di buatnya. Seseorang Muncul dari batang pohon yang menghitam itu. Wajah pucat senyum tipis terukir di bibirnya.


"Selamat datang kembali. Rinaya."


Entah harus senang atau tidak dengan salam dari seorang arwah. Pertemuan sebelumnya bahkan dia memintaku untuk kembali pulang. Tapi kini dia bahkan menyelamatiku.


"Ahahahah. Kau membuatku kaget."


Dia menatap Dhika lekat lekat "Aku Tau siapa kau"


Dhika "Apa itu? Sesuatu yang besar yang terjadi padamu?"


"Akan ku tunjukan"


Pemandangan sekejap berubah. Seperti berganti dinding. Mereka tidak lagi berada di sebuah padang rumput. Entah mereka mundur berapa tahun. Perlahan semua terlihat jelas. Mereka berada di sebuah desa. Entah dimana itu. Sebuah rumah di kelilingi warga. Berkumpul menonton sesuatu yang aneh disana. Seseorang berteriak. Berguling guling menangis dan kembali berteriak. Dhika dan Rinaya mengamati seiring berjalannya memori itu. Seperti sedang menonton film empat dimensi. Mereka hanya bisa melihat.


Pria itu masih terbaring di lantai kayu. Masih berguling guling. Sesuatu membuatnya kesakitan.


Seorang perempuan datang menembus kerumunan itu. Wajahnya panik. Segera dia memeriksa keadaan pria itu. Air matanya mengalir. Kepanikan itu membuatnya tidak bisa berfikir jernih.


Dia kembali memeriksanya dengan seksama. Sebuah benjolan kian membesar di tengkuk lehernya. Beberapa luka sayatan pun terlihat. Sebagian sudah mengering. Sebagian masih berdarah. Seseorang mencoba mengeluarkan benda itu. Sesuatu yang terjebak di bawah kulit pria itu.


Rinaya mengingat kejadian ini mirip dengan yang Jaka alami. Dia terus memperhatikan mereka. Perempuan itu melakukan sesuatu padanya. Sama halnya ketika Bayu melakukan sesuatu terhadap jaka. Mengalirkan energinya ke telapak tangan. Membunuh mahluk itu di tempatnya. Pria itu berhenti berteriak. Semakin lama semakin tenang. Lalu seseorang datang menembus kerumunan. Seseorang yang Rinaya kenal. Orang itu melepaskan pedangnya dari sarungnya. Menikam pria itus secepat kilat. Semua orang membatu melihat kejadian itu. "Tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Relakan dia."


Satu kalimat terucap. Dan lalu dia pergi. Perempuan yang tadi bersamanya kini terisak menangisinya. Dia menaruh hati pada pria itu. Berharap bisa menolongnya. Tapi takdir berkata lain.


"Dhika!! Yang tadi itu...!"


Pemandangan berganti lagi. Kali ini mereka berada di sebuah padang rumput. Sebuah pohon besar berdiri diantara nya. Seorang perempuan berdiri disana. Memandangi sebuah batu bertuliskan nama pria itu. Air matanya sudah mengering. Hatinya sudah hampa. Satu satunya belahan jiwanya pun telah tiada. Pada akhirnya dia mengakhiri hidupnya di pohon tua itu. Lebih dari dua puluh tahun berlalu. Pohon itu adalah salah satu kenangan yang dia punya. "Arwah yang malang"


Pemandangan kini kembali lagi seperti semula. Di tempat dia berdiri sebelumnya. Bahkan tidak bergerak sedikitpun. Arwah itu pun masih disana.


"Apa kau memendam dendam pada orang itu?" Tanya Rinaya lirih.


"Tidak. Aku sudah memperingatkanmu. Aku ada. Karena kau datang."


"Kenapa kau tetap disini?"

__ADS_1


"Karena dia membutuhkanmu" Dia pun lenyap. Menembus batang pohon.


Dhika terdiam mencoba mencerna semuanya. "Aku tidak mengerti"


"Masalah kita ternyata memang tidak sederhana. Berawal dari tigapuluh enam tahun lalu. Hingga saat ini. Semua masih memerlukan benang merah sebagai penghubung."


"..?"


"Bisakah kita makan sekarang? Aku benar benar kelaparan."


***


Sebuah kedai dekat dengan Toko Herbal Sae mereka duduk dan mendiskusikan hal yang baru saja mereka alami.


"Aaahhh akhirnya aku bisa makan banyak. Heheh. Terimakasih. Ngomong ngomong tadi kita lewat Toko Herbal Sae. Sepertinya tidak ada yang berubah."


"Benar. Tapi Pemiliknya sudah berganti."


"Benar kah? Lalu kemana paman Arif pergi?"


"Entahlah. Tidak ada yang tau. Mungkin dia menemui kerabatnya yang lain."


"Hoo. Semoga dia baik baik saja."


"Jadi apa kau sudah dapat petunjuk?"


"Petunjuk yang lain mungkin. Tapi tidak ada petunjuk dimana Bayu berada."


"Apa yang kau dapatkan?"


"Hmmm... Itu... Seseorang yang membunuh pria itu.... Kau mengenalnya?"


Dhika menggelengkan kepala. Mungkin dia belum pernah bertemu dengannya.


"Itu Ketua. Pemimpin Kelompok Halimun. Ketua dari Bandit Gunung."


"Ha??"


"Saat itu ketua pergi. Lalu menghilang entah kemana. Dia tidak pernah kembali. Aku tau dia ada hubungannya dengan kasus itu. Tidak ku sangka dia bertindak senekad itu. Eh tunggu jika kita hitung. Berarti waktu itu adalah sekitar lima puluh tahun lalu. Bukankah itu waktu yang sangat lama?"


Dhika mengangguk.


"Keadaan pria itu juga sama seperti Jaka. Bayu bertindak sama seperti perempuan itu. Jaka berangsur pulih. Tapi malang masih menyelimuti. Jaka tewas melindungiku."


"....."


"Masih ada hal yang aku tidak mengerti. Bagaimana menurutmu?"


"Perkataan arwah itu. Untuk siapa? Dari siapa?"


"Benar. Mungkin ada hubunganya Bayu? Bukankah anjing milik Bayu dipercaya adalah siluman?" Rinaya menghela nafas panjang. "Pikiranku sudah sangat tumpul. Lalu siapa yang membutuhkanku? Benar benar membingungkan."


Sayup sayup terdengar sekelompok orang bertukar informasi. Rinaya dan Dhika langsung menyimak itu dengan tidak mengubah ekspresi apapun. Dhika dengan tenang minum dari cangkirnya. rinaya dengan senyum menyantap makanannya. Telinga mereka dibuka lebar mendengarkan semua pembicaraan. Sebuah kedai memang tempat yang cocok untuk mencaei informasi.


Di seberang mejanya sekelompok irang sibuk dengan pembicaraannya. Hal ini membuat Rinaya semakin penasaran. Mereka membicarakan dirinya. Dan kejadian lima belas tahun lalu.


"Dunia memang sudah sangat kacau. Tuan Muda Wilis benar benar memanggil Putri Nirmala."


"Itu berhasil?"


"Sesuatu terjadi di Bintuni. Beberapa hari kemudian seisi kota di hebohkan dengan itu. Tuan Boris mencarinya kemana mana. Dia melarikan diri."


"Kenapa dia memanggil orang itu?"


"Kalian tau Giok Cahaya? Ku yakin karena ingin mengambil itu darinya. Keluarga wilis sekaramg ini dikenal sebagai keluarga yang ditakuti. Semua yang menjadi keinginannya harus mereka dapatkan."


"Aku juga mendengar itu. Kabarnya Keluarga itu mencari Giok itu sejak Putri bandit masih hidup."


"Benar dia yang memiliki Giok itu?"


"Entah lah kabar lain mengatakan bahwa Putri itu memberikan Giok palsu pada Tuan Boris. Hingga Tuan Wilis meninggal akhirnya baru ketahuan."


"Ngomong ngomong soal Putri Bandit. Aku dengar kabar ada yang melihat Bayu di sebuah kota."


Rinaya dan Dhika seketika mematung mendengar itu.


"Bayu? Yang memimpin pasukan Serigala?"


"Benar. Di sebuah kota dekat dengan desa sunyi. Kau tau mereka pernah pergi kesana. Dan menemukan Giok itu disana."


"Seharusnya mereka tidak memanggil kembali orang mati. Kau tau. Jika kematian terusik biasanya terjadi hal yang menyeramkan."


Rinaya menelan makanannya dengan cepat "Dhika!! Ayo!!"

__ADS_1


Dhika mengangguk dan mereka pergi meninggalkan kedai itu.


__ADS_2