
"Putri!!" Jaka memanggil dari ujung jalan. Dia datang bersama sekelompok anggota Halimun.
Nirmala "Jaka? Apa yang terjadi?"
Jaka menggelngkan kepala "Aku tidak tau bagaimana tapi. Ketika aku menerawang mereka tiba tiba terlihat di perbatasan. Berbondong menuju kota. Aku melihatmu juga. Karena itu lah aku datang. Aku juga tidak tau darimana mereka berasal"
Nirmala "Kita bahas itu nanti. Seisi kota dalam bahaya. Ayo!"
Situasi kota sudah kacau. Banyak dari mahluk itu sudah merasuki manusia. Belum tau apa tujuan dari semua ini. Mahluk itu mungkin bukan hanya mencari mangsa. Seperti dugaan sebelumnya bahwa mahluk ini pastilah ada yang mengendalikan. Selama pengendalinya tidak di temukan. Mereka akan terus berkembang biak. Meneror seisi kota.
Teriakan terdengar dimana mana menghiasi mencekamnya malam penghujan ini. Seluruh sudut di penuhi tangis. Dibanjiri darah. Mereka membunuh semua yang bernyawa. Beberapa merasuki manusia. Terus seperti itu hingga jumlah mereka semakin banyak.
Seorang ibu memeluk anaknya. Terpojok, panik, menangis berharap mimpi buruk ini segera berakhir. Berdiri di depannya manusia terasuki bersiap untuk memisahkan nyawa mereka. Terlambat satu detik saja nyawa mereka akan melayang di hantam cambuknya. Beruntung anak panah Jaka segera menghentikannya. Anak panah itu menembus kepala mahluk itu.
Jaka "Mahluk mahluk ini sudah berevolusi. Kita harus membereskan mereka dengan cepat. Jangan sampai mereka berpindah dan merasuki lagi."
Nirmala "Apa Ketua memberi informasi lain?"
Jaka mengangguk "Tapi tidak banyak. Dia bilang kasus sekarang mereka jauh lebih kuat dan lebih banyak. Bahkan sebagian besar berevolusi seperti itu.
Nirmala "Aku mengerti. Misi kali ini. Bunuh semua mahluk itu lindungi warga. Pastikan mereka tidak lolos satupun."
Jaka mengangguk lalu berlari menyebar bersama anggota Halimun lainnya.
Bayu "Ini akan seru"
Dhika "Kalian berhati hatilah"
Semua orang bertarung sekuat tenaga. Melindungi warga. Membunuh mahluk itu. Hujan masih mengguyur tapi tidak mempengaruhi semangat mereka.
Mahluk itu lebih sedikit. Tapi sebanyak apapun prajurit yang bertarung. Akan sedikit sulit menghadapi mereka. Kekuatan mereka jauh lebih kuat karena adanya mahluk itu yang merasuki. Meski pasukan Haris dan Dhika datang tepat waktu untuk membantu. Tetap saja. Masih dirasa sulit.
Bayu "Haris, haha. Untung lah kau tepat waktu. Kurasa kita sedikit kesulitan sekarang."
Haris "Kau masih sempat tertawa? Dasar gila"
Mereka masih bertarung. Dan melindungi satu sama lain. Anak panah Nirmala sudah habis. Dia sudah lelah. Pasukan Boris datang membantu. Nirmala mengambil busur dan anak panah milik seseorang yang tewas dan kembali melemparkan anak panah itu.
Lama mereka bertarung. Tidak banyak kemajuan. Memang lebih sulit dari biasanya. mereka bisa menghindar dan menangkis serangan. Semua sudah mencapai batasnya. banyak dari mereka yang tewas sebelum semua selesai.
Dhika sudah mulai lelah. Begitu juga Nirmala. semua orang terpojok. Tapi Bayu masih memiliki rencana. Dia melompat ke atas atap bangunan yang kokoh. Melihat sekeliling. Memastikan keadaan bisa terselesaikan dengan cepat. Semua orang di buatnya bingung. Entah apa yang akan dia lakukan kali ini. Dia selalu melakukan hal yang diluar dugaan. Selalu seperti itu. Bayu mengubah Keris pendek di tangannya menjadi sebuah peluit angin. Peluit Perak ber ukir bunga seukuran genggaman tangannya memiliki gantungan rumbai berwarna hitam. sama seperti keris yang sebelumnya. dia meniup peluit itu. sayup sayup suaranya terdengar. lembut namun terasa aneh. semua yang mendengarnya merasa merinding. Seakan dia sedang memanggil sesuatu dari dunia lain.
Semakin lama semakin membuat ngeri. Sesuatu mulai terlihat dari kejauhan. Kepulan asap hitam. Semakin lama semakin mendekat. Semakin lama semakin cepat.
Nirmala bergumam "Bayu. Kenapa kau lakukan itu sekarang?"
Dhika yang melihat itu mengerut kan dahinya dia marah dan kecewa. Seperti sebelumnya. Tidak seharusnya Bayu memanggil mahluk dari dunia lain. Pikiran buruk pasti akan datang dari mulut mulut penggosip.
Kepulan asap itu kini terlihat. Entah berapa banyak mereka. Berlari dengan wajah liar. bersosok Anjing besar. Bertaring panjang bermata tajam. Dengan liar mereka menyerang mahluk mahluk itu. Menembus merasuki raga yang sama. Keluar dengan menggigit mahluk parasit itu dan mencabiknya hingga mati.
Semua orang menyaksikannya dengan penuh kengerian anjing anjing itu terlihat sangat liar dan menyeramkan. Mereka beruntung anjing anjing itu bisa menghabiskan mereka dengan cepat tapi disisi lain. mereka juga khawatir jika Bayu tidak dapat mengendalikan anjing anjing itu hingga membuat hal yang tak terduga.
****
Hujan masih mengguyur tapi tidak sederas sebelumnya. Semua orang selamat berkumpul di sebuah aula besar di alun alun kota. Aula itu biasa dipakai untuk rapat besar bersama warga. Bayu dengan telaten merawat yang terluka begitu juga Nirmala dan Dhika. Hingga pagi menjelang semua masih bisa terkendali.
Matahari sudah menghangatkan bumi. cahayanya mengintip di sela sela jendela. Bayu terlelap bersandar di dinding. Nirmala bersandar pada bahu Bayu. Dhika terjaga sepanjang malam. Entah apa yang dia pikirkan.
Jaka menghampiri Nirmala yang masih terlelap. Semua orang merasa lelah saat itu. tapi Jaka harus membangunkanya. Mereka tidak di ijinkan berada si kota berlama lama. Itu perintah dari ketua.
Jaka "Putri, bangun lah ketua mencari mu kita harus kembali"
"hmm.... baiklah..."
Nirmala segera beranjak pergi tanpa berucap apapun pada teman teman nya.
"Putri, sesuai permintaanmu aku sudah mempelajari semua jasad. Setelah aku selidiki. Mereka benar benar berevolusi. struktur tubuh manusia menjadi sedikit berubah terutama di beberapa bagian. mereka seakan merubah manusia seperti kehendaknya."
"Aku ingin lihat. Dimana kau pengumpulkan mereka?"
"Di luar gerbang pemukiman"
"Baiklah kita lihat dulu seberapa mengerikannya mereka."
Nirmala dan Jaka berkeliling di jejeran mayat mayat yang sudah tergeletak rapi. Semua mayat hitam mengkerut seperti kasus kasus sebelumnya. Namun setengah dari mereka sangat berbeda. Mahluk itu berevolusi. Bukan hanya merasuki tapi juga menggunakan seluruh tubuh untuk berkembang. Sebagian memiliki lidah yang panjang. Sebagian memiliki tangan tangan yang keras. Sekali hantaman pasti akan mati di buatnya. Tapi manusia tetaplah manusia. Jika fungsi otak sudah berhenti mereka tidak dapat mengendalikan si mayat dengan bebas.
"Kasihan sekali... semoga arwah arwahnya tenang diterima disisi-Nya."
"Putri kau berdoa untuk mereka?"
"Hmm. Ada yang salah?"
"Mereka tidak layak di doakan."
"Kenapa bicara begitu?"
"Kau tidak ingat? Sebagian dari mereka mencelamu. Mencela kita, bahkan bergosip yang tidak benar."
"Ah, Sudahlah."
"Kau selalu seperti itu."
"Jangan di perpanjang jaka. Jangan racuni pikiran mu dengan hal negatif."
__ADS_1
Jaka membuang muka seolah tidak setuju dengannya.
"Sudah dapat petunjuk mengenai lokasi pemanggilan?"
"Tidak ada sama sekali. Sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah."
"Tidak ada petunjuk mengenai pelaku?"
"Nihil"
"Ah. Sulit sekali memecahkan sebuah kasus. Jaka kau pulanglah duluan. Beritau semua informasi ini kepada ketua. Ada hal yang harus aku cari tau dulu mengenai ini."
"Ketua mencarimu. Seharusnya kau kembali bersamaku."
"Aku akan kembali nanti siang. Tidak perlu khawatir"
"Baiklah"
Jaka kembali ke gunung sedangkan Nirmala kembali menyusuri jejak mahluk itu berasal. Nirmala kembali ke Pamunjungan tempat pertama dia melihat para mahluk itu. Menyusuri setiap jejak dan lokasi disana.
Nirmala tidak bisa selalu menggunakan kemampuannya tidak seperti jaka yang bisa lebih sering menggunakannya. Kemampuan Nirmala sangat terbatas. Kali ini tanpa kemampuan itu dia tetap mencari asal muasal mahluk itu berada disana.
Matahari sudah di puncak. Dia ingat janjinya akan pulang segera. Pencariannya tidak ada hasil seolah semua sudah dibereskan dengan sangat rapi. Sedikit putus asa memang. Dia memutuskan untuk melanjutkannya nanti. Dia harus segera kembali.
Boris dan kawanannya menghadang ketika dia berjalan menuju gunung. Tanpa kata kata mereka menyerang dan melumpuhkannya. Membawanya paksa.
Bruk!! "Ah"
Nirmala di jatuhkan ke lantai. Kedua tangannya terikat kuat. Kedua matanya tertutup kain. Dia tidak sempat melawan apalagi melarikan diri. Rasa lelah pertempuran kemarin masih menjalar di seluruh tubuhnya.
Seseorang membuka penutup matanya dn ikatan tangannya Perlahan dia membuka mata dan melihat sekelilingnya. Dia berada di situasi yang tidak baik. Dilihatnya dia berada di hadapan Mandalika Wilis, Boris berdiri di sampignya. Tuan Wiria dan adiknya pun ada di sana. Dhika berdiri di belakang mereka. Haris masih menunjukan tatapan kebenciannya. Dan beberapa orang yang tidak dia kenal. Bayu tidak terlihat dimanapun. Dia tidak terlalu suka dengan rapat seperti ini. Nirmala tersenyum dan bergumam dalam hati.
Jika tuan Wijaya masih hidup kuyakin dia ada disini juga.
Boris "Sepertinya kau merindukan suasana seperti ini"
Nirmala bangkit dan berdiri di tempatnya.
Nirmala "Aku ingat satu masalalu yang tidak pernah hilang."
Boris "Kuyakin semua orang sudah tau tentang hal itu"
Nirmala "Benar. Tapi hanya beberpa orang yang tau kebenarannya. Jadi kali ini apa yang akan kau tuduhkan padaku?"
Tuan Wilis tertawa mendengar itu "Kau sangat percaya diri."
Boris "kau penyebab kekacauan saat ini. kau juga penyebab kekacauan ketika di hutan kulon. Kau juga membunuh banyak dari anak buahku. Kau jangan lupa, kau pula yang meracuni Ayu"
Nirmala tertawa terbahak mendengar semua itu "Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa semua itu benar ulahku. Kalian memilih target yang salah. Dulu aku sangat bodoh bisa teejebak dengan hal picik seperti itu, tapi kali ini, aku tidak akan diam."
Tuan Wiriya "Nirmala sebaiknya kau jaga ucapanmu."
Nirmala "Tuan Wiriya bukankah anda tau aku seperti apa? Aku bukan orang yang senang dengan perselisihian. Mengingat siapa yang ada di hadapanku kali ini, bagaimana aku bisa berani berkata buruk. Aku hanya sedang berhati hati."
Tuan Wiriya "Sikap mu akan membuatmu semakin terpojok. Kau tau itu."
Nirmala "Sikap apa? Sikap yang mana? yang dengan sengaja membunuh satu keluarga di depan anak anak nya? Atau sikap yang tidak segan untuk menghancurkan keluarga lainnya karena alasan pribadi?"
Tuan Wilis menggebrak mejanya "Cukup. bersiaplah menemui ajalmu. Seharusnya aku membunuhmu sejak lama"
Nirmala "Hahahahaha sepertinya sudah ada jawaban atas itu. Dengar ya... aku mungkin akan bersikap tidak sopan kali ini. Tuan Ingat, aku sudah mati lebih dari setahun lalu. Dan Anda yang membunuhku. Lalu kau mencari cari aku lagi untuk mendapatkan giok itu. Sekarang masih berharap aku mati? Sebenarnya apa yang kau harapkan? Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau mau?"
Semua orang ikut bertanya tanya mengenai itu.
Nirmala "Boleh aku bertanya? tuduhan kali ini. Kau sudah punya buktinya? atau kau hanya menjadikanku kambing hitam?"
Dhika "Benar. Boris merampasnya paksa ketika di gua kulon. Bukankah Tuan Wilis takut dia menyalahgunakan giok itu? Sekarang giok nya sudah di tanganmu. Anda tidak perlu khawatir lagi."
Tuan Wilis "Aku harus memastikan dia mati segingga aku yakin dia tidak akan merebutnya lagi"
"hahahha" Nirmala semakin tertawa keras. membuat semua orang yang melihatnya mengerutkan dahi. Seperti kehilangan akal sehat setetes air matanya mengintip di pelupuk mata. "Memang anda orang yang ahli menutupi sesuatu. Memutar balikan keadaan yang sebenarnya. Tidak perlu takut Tuan, memangnya aku bisa melakukan apa dengan fisik lemah ku ini."
Memang benar. Semua orang tau Nirmala seorang perempuan bertubuh mungil. Bagaimanapun juga kekuatan laki laki pasti bisa mengalahkannya. Nirmala hanya memiliki kecerdasan untuk bersiasat. Sedikit kekuatannya pun tidak dapat melawan semua orang.
Boris "Bukankah semua orang tau kau seorang pemimpin bandit bengis yang dapat membunuh tanpa pandang bulu."
Nirmala "Lalu mengapa harus repot repot mengurusi wargamu? Aku bisa saja membiarkan kalian semua mati oleh mahluk mahluk itu. Seharusnya aku tidak perlu peduli" dia tersenyum sinis.
Nirmala "Dengarkan aku." dia menunjuk Tuan Wilis dengan jarinya. "Kau, tidak akan mendapatkan apapun dengan cara kotor. Kau akan berakhir dengan kegilaan egoismu. Kau akan menderita seumur hidupmu."
"Cukup" Boris melemparkan pisau tangan miliknya. Mengambilnya dari kantung yang terikat di pinggangnya. Pisau itu melesat sangat cepat. Nirmala menahan pisau itu dengan tangan kirinya. hampir saja pisau itu menembus kepalanya. Jika dia tidak tepat waktu maka saat itu juga Nirmala akan mati di hadapan semua orang. Gerak refleksnya memang sangat baik. Tapi tetap saja. Pisau itu menembus tangan Nirmala.
Kesal dibuatnya hingga dia melemparkan balik pisau itu dengan tangan kanannya. Melesat dengan lebih cepat. Menancap pada dinding kayu di belakang Boris dan Tuan Wilis. Semua orang terkesima dengan itu. Bergeser beberapa centi saja pisau itu pasti menembus kepala Boris.
Momen mengejutkan itu membuat seisi ruangan panik. Prajurit yang berada disana langsung mengelilinginya dan menghunuskan senjata. Kini tangan kiri Nirmala terluka, dia juga tidak punya senjata. Semua sudah dilucuti ketika mereka menculiknya. Raut wajah panik tergambar. tentu dia tidak siap dengan itu.
"Bunuh dia" teriak Tuan Wilis.
Lima orang prajuritnya bersiap menyerang. Trang!! Benturan pedang terdengar menggema. Dhika menghadang beberapa serangan. Sungguh Nirmala memang sedang tidak siap dan dia lega Dhika masih bersamanya.
Dhika "Tuan tolong hentikan ini, bukankah pertemuan kali ini adalah untuk mengorek informasi? Anda terlalu jauh Tuan."
Informasi? Informasi mengenai apa?
__ADS_1
Nirmala "Dhika menyingkirlah biarkan mereka berbuat semaunya."
Dhika "Diamlah. Kau sedang tidak dalam situasi untuk bisa menyombongkan diri."
Tuan Wiriya "Pradhika, apa yang kau lakukan? kembali ke tempatmu. Ini bukan tempatmu untuk berbuat seenaknya."
Dhika "Ini sudah sangat berlebihan Ayah"
Boris "Bunuh dia!! Tunggu apa lagi"
Seketika prajurit itu menyerang mereka berdua. Gerak langkah Nirmala tidak secepat sebelumnya. Kekuatannya tidak seperti malam tadi. Dhika merasa ada yang tidak beres. Beberapa kali hampir saja terluka.
"Ada apa denganmu? Kau terluka?"
Nirmala "Aku baik baik saja"
Tapi pernyataan itu tidak sesuai dengan keadaannya. Sesuatu pasti terjadi dengan Nirmala. Dia sangat lemah. Semakin lama wajahnya semakin memudar. Tiba tiba saja dia terhenti dari gerakannya. Untuk menahan serangan pun dia tidak sanggup. Pikiran untuk menyerah selalu datang. Tapi dewi fortuna masih selalu bersamanya. Di tengah kepungan serangan itu, kepulan asap tiba tiba muncul. Mendorong prajurit prajurit itu hingga terlempar jauh. Hembusan angin menerpa semua yang ada disana hingga terhenyak dengan apa yang mereka lihat. Kepulan asap itu perlahan berubah menjadi satu sosok. Hewan liar dari dunia lain berbentuk seekor anjing. Tidak... ini berbeda. Hewan ini bukanlah anjing yang kemaein mereka lihat. Ini adalah seekor serigala. Menunjukkan taringnya yang panjang. Mendengus keras hingga semua orang dibuatnya ngeri. Matanya merah menyala menyiratkan kebencian.
Namun bukan hanya itu saja yang membuat mereka tertegun. Di ambang pintu berdiri seorang pria rupawan berbaju hitam. Menatap penuh kebencian. Mengendalikan sang serigala. Bayu.
Bayu berjalan memasuki aula "Haris sepertinya kau salah jika tidak mengajaku kali ini."
Semua orang dibuat takut dengan munculnya mahluk itu. Pikiran semua orang kini berputar saling menatap satu sama lain. Mahluk dari dunia lain tidaklah mungkin bisa tiba tiba muncul dipanggil seseorang. Dia pastilah telah mempelajari ilmu ilmu hitam.
Haris "Bayu, jangan berbuat seenaknya"
Bayu "Bukankah wajar jika aku ingin melawan seseorang yang ada disini? Seseorang yang menginginkan lenyapnya keluarga kita."
Haris menahan emosinya sejak awal. Kebenciannya terhadap keluarga Wilis lebih besar dari membenci Nirmala. Meski dimatanya mereka sama sama seorang pembunuh. Tapi pikiranya masih berjalan. Saat ini bukan waktunya untuk membahas mengenai balas dendam. Tuan Wilis punya kekuasaan besar dan sulit untuk di jatuhkan. Haris harus menunggu saat yang tepat. Mencari cara lain yang bisa dengan mudah menjatuhkan keluarga kejam itu.
Nirmala berbisik "Kalian menyingkirlah. Tidak perlu terlibat dengan masalah kali ini."
Dhika hanya diam dan Bayu hanya mengukir senyum.
Seketika prajurit itu kembali menyerang. Bayu pun segera menggenggam tangan Nirmala dan membawanya pergi dari sana. Dhika mengikuti dari belakang. Sementara serigala itu menghadang mereka semua. Semua dibuat sibuk karenanya. Tapi serigala itu tidak menyakiti yang lain apalagi membunuh. Dia hanya melawan orang orang yang hendak menyusul. Menghadang mereka dan menggigit mereka. Dia hanya mengulur waktu, lalu kembali menjadi kepulan asap hitam dan menghilang.
Riuh semua orang membicarakan itu di seluruh penjuru aula. Kini topik pembicaraan bukan lah lagi si bandit. Tapi juga Bayu dan Dhika. Semua orang menunjuk nunjuk Tuan Wiriya karena putra nya berteman dengan orang orang jahat. Menyarankan untuk segera mengukumnya. Tapi Tuan Wiriya tidak bergeming. Dia akan menghukum Dhika tapi bukan karena usulan mereka. Dia punya alasannya sendiri.
Haris merasa semakin kesal dengan keadaan ini. Bayu lebih memilih untuk bersama Nirmala. Dia tidak pernah mendengarkan Haris. Itu yang selalu membuat Haris kesal. Dia selalu berbuat semaunya. Haris ingin nama keluarganya naik lagi. Tapi dengan keadaan barusan entah apa yang akan terjadi.
Bayu masih menggenggam lengan Nirmala berjalan menjauhi kota. Nirmala tau mungkin dirinya akan menjadi penyebab masalah lagi, seperti sebelumnya. Dia menghentikan langkahnya dan termenung. Bayu berbalik dan menatap wajah pucat itu. Gerimis mulai turun. Dhika masih mengikuti di belakang. Semua termenung dengan pikirannya masing masing.
Nirmala "Kembali lah. Aku akan pulang. Jangan libatkan lagi diri kalian denganku. Mungkin akan berdampak masalah yang lebih besar." Nirmala melepaskan genggaman Bayu.
Dhika "Bayu, kenapa kau lakukan itu?"
Nirmala semakin tertegun kala kalimat itu muncul.
Bayu "Melakukan apa? Membawanya pergi, menentang semua orang, memperlihatkan mahluk ghaib?"
Dhika "Kenapa?? Apa yang membuatmu memilih jalan itu?"
Bayu tersenyum pahit "Dhika kau tidak tidak tau apapun dan kau tidak akan mengerti. Menjauhlah dari urusanku."
Dhika "Tidak kah kau sadar bahwa itu dilarang? Membantu Nirmala aku bisa mengerti. Akupun begitu. Tapi untuk bersekutu dengan mahluk lain? Kau sudah sangat di luar batas. Kau tau ada bayaran atas itu. Kau tidak lihat bagaimana mereka menatapmu?"
Bayu "Aku tidak tau kau sangat memperhatikan hal itu. Bagaimanapun juga aku tidak sama seperti mereka."
Dhika "Berhentilah mempertahankan kepala batumu. Kenapa kau tidak pernah mendengarkan."
Bayu "Sudah ku bilang ini urusanku berhentilah selalu ikut campur. Kau...tidak akan pernah mengerti."
Dhika "Ranggana!!!" Dhika menatapnya tajam. tidak pernah dia terlihat semarah ini. bahkan dia menyebut nama besarnya.
Bayu "Pradhika!! Apa yang akan kau lakukan jika aku memilih jalan ini? kau akan membunuhku juga?"
Nirmala berada di situasi yang tidak tepat. Sakit rasanya melihat persahabatan yang sudah mulai koyak oleh ketidak percayaan.
Nirmala "Kumohon berhentilah berselisih"
Bulir airmata Nirmala menyatu dengan air hujan yang terus mengguyur.
Dhika berbalik menahan emosi yang menggebu. Begitupun dengan Bayu. Mereka berjalan berlawanan arah. Menyimpan kemarahan di hati masing masing. Nirmala mengejar Dhika yang sudah melangkahkan kakinya. Menggenggam lengannya. menahannya pergi dengan berjuta kesalahpahaman.
Bayu menunduk sedih terus melangkah. melihat Nirmala mengejar Dhika. Dipikiran Bayu, mungkin Nirmala akan berpihak pada Dhika. Dia pun tetap melangkah.
"Dhika. kumohon jangan marah"
"Ku kecewa. Dia berjanji untuk menjauhi hal semacam itu. Dia berubah."
"Aku yakin ada kesalah pahaman"
"Kau tidak lihat yang sudah dia lakukan?. Dia menunjukan ke sesatannya dihadapan semua orang."
"Dia pasti punya alasan. Dhika kau harus saling percaya."
Dhika hanya menunduk dan melangkah lagi.
"Dhika!!" Nirmala berteriak memanggilnya. "Ingatlah apa yang kau janjikan untuku saat itu! Aku percaya padamu!"
Jaga hatimu, jangan pernah berubah. bahkan harus semakin dalam.
Hujan masih mengguyur semakin deras. Bayu masih berjalan dengan keyakinannya. Nirmala mengikuti beberaoa meter di belakangnya tanpa Bayu sadari. Dalam hati Bayu dia ingin bersama keduanya. Dalam hati Bayu dia bertanya tanya kemana Nirmala akan memihak. Dirinya atau Dhika, atau bahkan tidak memihak siapapun. Bayu tersenyum mengingat karakter Nirmala. Pastilah dia tidak akan memihak siapapun.
__ADS_1
Bayu berbalik menoleh kebelakang untuk memastikan. Nirmala benar benar ada dibelakangnya beberapa meter. Wajah pucatnya kian memudar. Lengan kirinya diwarnai darah. Bukan hanya itu, pinggangnya pun samar terlihat berdarah.