Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Mengubah Kebiasaan


__ADS_3

Ayam berkokok. Matahari mulai menampakan diri. Terdengar suara riuh gaduh di sekitar rumah. Beberapa orang berbondong entah pergi kemana. Rinaya mengintip dari jendela. Terlihat Dylan sudah berada di luar melihat keadaan sekitar. Rinaya pergi menghampirinya. "Dylan. Apa terjadi sesuatu?"


"Tadi aku sudah bertanya pada seseorang"


"Lalu"


"Kurasa kau tidak ingin mendengarnya"


"Mendengar apa?"


"Seseorang datang. Untuk membantu desa"


"Kenapa bicaramu sepotong sepotong? Bikin kesal saja."


"Kau yang tidak sabaran. Pondok Wijaya mengirimkan beberapa orang untuk membantu. Ku yakin kau tau siapa yang akan ku sebut."


"Ooh. Hanya itu." Jawab Rinaya tenang.


"Kenapa hanya Ohh?"


"Tidak apa apa."


"Pondok Wiriya juga mengirimkan beberapa orang. Mereka datang bersamaan. Kau mungkin tau siapa yang datang."


"Oh." Rinaya memutar matanya lalu mengalihkan pembicaraan "kau lihat Balapati? Aku tidak melihatnya pagi ini."


Rinaya tidak ingin lagi mendengar itu. Dia sudah tau yang akan disebutkan oleh Dylan itu siapa. Haris dan Tuan Wiriya. Ia tidak khawatir dengan adanya Haris. Bagaimanapun dulu mereka berteman dekat. Meski beberapa hal membuat Haris salah paham. Rinaya lebih merendahkan hatinya pada Haris. Dia merasa kejadiaan naas yang dialami keluarga Wijaya adalah salahnya. Bagaimanapun juga keluarga Wijaya selalu baik padanya. Sudah sewajarnya Rinaya berbuat baik pada mereka.


Namun kehadiran Tuan Wiriya-Pamannya Dhika sedikit membuat Rinaya takut. Segan untuk bertemu. Berpapasanpun enggan rasanya. Memang dia memperlakukan Rinaya dengan baik tapi. Sorot matanya membuat Rinaya bergetar takut. Begitu pula dengan Dhika. Namun dia sudah terbiasa. Bahkan dia lebih dekat dengan Pamannya ini dibanding dengan keluarga lain. Tuan Wiriya sangat mengerti Dhika. Dhika pun sangat menaruh hormat padanya.


"Kurasa sudah pergi ke balai desa." Jawab Dylan


"Terimakasih" Rinaya pun pergi.


***


Rinaya pergi ke balai desa. Namun langkahnya terhenti beberapa meter dari gerbang balai desa itu. Terlihat Pradhika Wiriya dan Pamannya-Baskara Wiriya sedang berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan. Rinaya tidak ingin bertemu dengannya. Sosok pria paruh baya berjanggut tipis itu. Rinaya hanya bisa menunggu di balik bilik rumah dekat gerbang balai desa. Mengintip. Sesekali memicingkan matanya penasaran apa yang mereka bicarakan.


"Sedang apa kau? Mau mencuri ya?" Suara seseorang mengaburkan pandangannya. Seketika itu juga dia berbalik dan melihat siapa sosok itu.


"Kau...." Tatapnya heran. Seorang remaja lakilaki berdiri dihadapanya. Pakaiannya sangat rapi memiliki sulaman di setiap ujung bajunya.


"Ternyata kau." Ujar nya sinis. Mereka pernah bertemu sebelumnya. Perselisihan yang membuatnya dipertemukan dengan Haris pada malam itu.


"Galih?"


"Benar. Itu aku. Sedang apa kau mengintip seperti itu. Apa yang ingin kau curi?"


"Ha? Curi?? Tidak. Aku tidak-"


"Lalu apa?" Galih melirikan matanya ke arah yang dilihat Rinaya tadi. Terlihat Tuan Wiriya dan Balapati sedang berbincang. Tak lama dia mencengkram lengan Rinaya.


"Eh. Apa yang kau lakukan. Kau sangat tidak sopan." Ujar Rinaya sedikit menaikan nada.


Galih membawanya ke depan Balapati dan Tuan Wiriya. Dengan heran mereka pun bertanya tanya.


"Tuan Wiriya. Bukankah dia muridmu? Dia mengendap endap dan mengintip. Aku membawanya padamu. Aku khawatir dia akan mencuri sesuatu."


"Apa? Hei bocah jaga bicaramu. Siapa yang akan mencuri." Teriak Rinaya.


"Tentu saja kau. Kau berperilaku aneh." Jawab Galih dengan tenang.


Tuan Wiriya "Tuan muda mungkin ada sedikit kesalah pahaman."


Seseorang datang dari ujung jalan suaranya sangat tidak asing. "Kesalahpahaman apa yang dibuat olehnya tuan?"


Sial sial. Aku tidak ingin bertemu dengan keduanya. Kini mereka malah hadir tepat di depan hidungku. Gumamnya dalam hati. Rinaya menunduk tidak ingin memperlihatkan wajahnya.


Galih "Tidak ada kesalahpahaman. Aku melihatnya mengendap endap mungkin dia ingin mencuri sesuatu. Atau kabur dari sesuatu."


Tuan Wiriya "Benarkah itu?"


"Tuan... Bertanya padaku?" Tanya Rinaya heran. Raut wajahnya terlalu biasa. Rinaya tidak tau apakah tuan Wiriya mengenalinya atau tidak. Ini kali pertama dia bertemu lagi dengannya.


Haris tersenyum sinis "Balapati Wiriya. Bukankah ini salah satu muridmu yang mengacau saat itu? Kau sudah mendisiplinkannya?"


"Tuan kenapa anda bicara seperti itu. Aku tidak mengacau saat itu. Justru dia yang mengacau" dengan nada tinggi Rinaya menunjuk Galih sebagai pelaku. "Kali ini pun aku tidak ada niat mencuri. Apa yang bisa di curi dari sini?"


Haris kembali dengan senyum pahitnya. "Tuan Wiriya. Anda benar benar harus mendisiplinkannya. Dia sangat tidak sopan"


Dhika "Mohon maaf atas semua kekacauan yang dibuatnya. Dia adalah tanggungjawabku."


Tuan Wiriya lekat menatap keponakannya itu. Tidak pernah dia seperti itu sebelumnya. Sejalan kemudian dia menatap Rinaya. Sontak Rinaya langsung menundukan kepala.


Tuan Wiriya tersenyum seakan menyadari sesuatu. "Tuan Wijaya tolong jangan di ambil hati. Kami akan mendisiplinkannya setelah ini."


Haris pergi diakhiri dengan tatapan yang sangat menyakitkan. Begitu juga dengan Galih. Sementara Tuan Wiriya merekahkan senyuman untuk Rinaya.

__ADS_1


Lengan Rinaya di tarik Dhika dengan kuatnya. Membawanya meninggalkan tempat itu. "Balapati. Kau tidak harus meminta maaf padanya. Yang aku katakan itu memang benar."


Dhika "Aku tau. Ini bukan saat yang tepat untuk berdebat. Lebih baik kita memikirkan bagaimana menyembuhkan seluruh desa."


"Ah. Kalau begitu Ayo bertemu dengan Bayu." Ujar Rinaya.


"Tentu saja. Aku sedang menuju kesana." Dhika berjalan meninggalkan Balai desa.


"Bukankah dia ada disana?" Tanya Rinaya kebingunagan. "Kenapa lewat sini?"


"Dia tidak ada disana. Ikuti saja aku."


***


Mereka tiba di sebuah pondok jauh dari desa. Sedikit terletak di dataran tinggi. Rumah kecil terdapat salah satu ayunan yang menggantung di salah satu batang pohon. Semilir angin sejuk membelai dedaunan. Sesekali terdengar kicauan burung bernyanyi saling bersahutan.


Terlihat jaka sedang berdiri seakan memandangi pemandangan. Matanya masih terbalut perban. Rinaya melihatnya. Apa yang dia lihat? Bisiknya dalam hati. Sesekali Rinaya teringat seseorang yang tidak asing. Beberapa kali bertemu. Tapi dia memiliki ciri khas yang tidak bisa Rinaya lupakan. Seseorang berbaju putih dengan penutup mata. Tapi tentu saja mungkin tidak akan bertemu dia lagi. Lima belas tahun telah berlalu tidak ada yang tau bagaimana kabarnya saat ini.


"Balapati! Kenapa ada Jaka juga disini?" Tanya Rinaya.


Dhika pun menjawab "Kau bisa tanyakan langsung padanya." Seseorang berdiri di ambang pintu. Tersenyum manis seperti dulu.


"Akhirnya kalian datang" Ujar Bayu.


Jaka, Bayu, Dhika dan Rinaya duduk di dalam rumah itu. Beberapa cangkir teh telah disiapkan. Masih sangat panas. Uap nya pun masih terlihat jelas.


Bayu "pasti banyak sekali pertanyaan yang ada dikepalamu."


Rinaya "hmm. Ada milyaran pertanyaan untukmu. Beberapa sudah ku temukan jawabannya. Beberapa harus kutanyakan padamu."


Dhika "mengenai wabah ini... Bagaimana menurutmu?"


Bayu "aku sudah sebulan berada di desa. Mereka hanya sakit biasa. Tidak parah. Tapi daya tahan tubuh mereka sangat lemah. Kurang gizi. Kelaparan. Lebih seperti gejala keracunan makanan. Setelah berhenti mengambil air di sumur mereka lebih baik. Tapi tetap saja beberapa penyakit menular ke yang lainnya. Jadi ini kasus yang tidak biasa."


Dhika "kalau hanya keracunan makanan tidak mungkin menular bukan?"


Bayu "benar. Tapi ini menular. Menurutmu dimana sumbernya?? Juga... Selain seperti keracunan. Gejala mereka seperti terkena penyakit kulit.."


"Lingkungan seperti itu pasti banyak penyakit. Tidak heran." Ujarnya sambil menyantap beberapa camilan.


Bayu tersenyum. "Haha. Kau sama sekali tidak berubah."


"Aku berubah..... Jadi sangat lemah" ujarnya kesal.


Bayu "kau benar soal lingkungan ini. Sejak aku datang. Memang keadaan tidak bersih. Jauh dari kata sehat. Tapi juga tidak mungkin semua orang bisa terjangkit."


"Karena itu lah kita harusnya membersihkan seluruh desa. Mau tidak mau. Kalau mau sehat yaaa lingkungan harus bersih." Ucap Rinaya dengan enteng masih dengan setumpuk makanan di mulutnya.


Dhika mengerutkan dahinya. "Kenapa seperti itu?"


Bayu "kita bisa mengatasinya hari ini. Bagaimana dengan bulan depan. Atau tahun depan. Jika mereka yang tidak ada keinginan sendiri. Maka mereka hanya akan membuat diri mereka sendiri kesakitan. Mereka semua tidak ada yang sadar akan hal itu."


"Pantas saja" celetuk Rinaya.


"Jaka dari tadi kau hanya diam. Ayo ikut makan ini." Sambungnya.


"Aku tidak perlu itu putri." Jawabnya.


"Oh bayu. Aku mau tanya bagaimana bisa dia menjadi seperti ini? Kau tau. Morang sengaja bermain denganku. Bahkan dia membuat mayat hidup. Katanya dia meniru seseorang. Aku langsung terfikir bahwa itu kamu."


"Apa ini salah satu pertanyaan yang harus aku jawab" ujar Bayu.


"Tentu saja. Kau harus menjawab milyaran pertanyaanku." Jawab Rinaya enteng.


"Kenapa ada banyak sekali?" Tanya Bayu kecewa.


Rinaya "Setelah aku kembali dan sembuh. Aku menceritakan semua ini pada temanku. Dia menuliskan nya menjadi sebuah Novel. Setelah ini pun aku juga akan bercerita padanya mungkin akan menjadi sebuah drama. Haha" Rinaya menelan makanannya dan melanjutkan ceritanya. "Jadi kau harus menjawab semua rasa penasaranku. Semua misteri harus terpecahkan. Pembacaku pasti penasaran sekarang."


"Kau tidak bertanya padaku?" Ujar Dhika.


Rinaya "banyak hal yang tidak ingin kau bicarakan. Kau mungkin tidak akan menjawab semua rasa penasaranku. Aku sangat mengerti dirimu."


"Putri apa aku juga ada dalam tulisanmu?" Tanya Jaka.


Rinaya "tentu saja. Kau tokoh yang hebat. Semua orang akan suka padamu."


Bayu "jadi pertemuan kali ini hanya akan membahas mengenai tulisanmu?"


Rinaya "hehehe. Tidak tidak. Silahkan lanjutkan saja."


Bayu "Kita harus melakukan sesuatu untuk desa ini. Aku khawatir akan menjangkiti desa lain."


Rinaya "seperti bersih bersih?"


Bayu "sebelum itu harus memberi pengarahan kepada warga. Supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama."


Dhika "aku akan bantu"

__ADS_1


Bayu "kudengar pondok Wijaya dan Pondok Wiriya datang. Jadi aku tidak akan datang dulu ke desa. Begitu juga dengan Jaka. Mereka pasti akan mengenali kami."


Rinaya "kurasa mereka juga akan mengenaliku segera. Oh Dhika. Apa kau sudah bicara dengan pamanmu mengenai aku? Sepertinya dia mengenaliku tadi."


Dhika "Semua orang memang curiga dengan itu tapi Aku tidak bicarakan dengan siapapun."


Jaka "kurasa dia memang sudah tau."


Bayu "tidak perlu khawatir. Memangnya apa yang mereka bisa lakukan jika sudah tau. Yang kau perlu cemaskan adalah Boris dan mungkin pihak lain diluar itu."


Rinaya "pihak lain?"


Bayu "Mn." Dia mengangguk sambil mengunyah camilannya. "Jika tidak, kau mungkin tidak akan di dampingi bocah berambut ikal itu."


"Bocah berambut ikal? Maksudnya Dylan?" Tanya Rinaya.


Bayu "Dia orang pemerintahan kan? Kurasa kau membawa masalah serius."


Entah Bayu menebak atau memang sudah tau hal itu. Mereka tidak ada yang memberitahunya soal ini sebelumnya. Padahal identitas dan lainya hanya Dhika yang tau. Tapi Bayu seperti sudah mengetahui itu sebelumnya.


"Aaahhh. Aku tidak mengerti. Mengapa aku selalu jadi sumber masalah di dunia ini" Rinaya menelungkup kan badan. Menenggelamkan kepalanya diantara lipatan tangannya diatas meja.


Dhika "Mereka mungkin tidak tau apa apa."


"Kita juga tidak tau apa apa." Balas Rinya enteng.


Bayu "Oh. Aku sudah meminta petugas di Balai desa untuk merawat semua pasien. Sementara waktu aku tidak akan kesana. Sebaiknya kalian juga tidak berkeliaran disana."


Rinaya "Kau takut bertemu dengan mereka?"


Bayu "Bagaimana menurutmu? Seseorang yang diyakini sudah mati tiba tiba saja terlihat kembali hidup."


Rinaya "ya.. dunia pasti akan gempar. Tapi sepertinya seseorang memang sengaja untuk memancing kita keluar. Ditambah jika mereka melihat keadaan jaka saat ini."


Bayu "Kuharap kini dunia berpihak pada kita."


***


Hari berganti lagi. Seluruh warga desa yang sehat beramai ramai membersihkan setiap penjuru desa. Membebaskannya dari kata kumuh dan kotor. Mereka harus bisa melepaskan diri dari berbagai penyakit itu. Kehadiran Tokoh besar dari pondok Wiriya dan Pondok Wijaya membuat warga melakukan semua yang di arahkan. Terlebih dengan adanya sang Balapati yang memang sudah sangat terkenal. Bangkai hewan dikumpulkan dan di kubur. Sumur sumur mulai di lakukan pengecekan apakah ada sesuatu atau tidak. Semua sampah di bakar. Benar benar harus melakukan perubahan besar untuk seluruh desa.


Sementara di sebuah pondok di tepian desa Rinaya hanya berguling guling kebosanan. Tidak ada yang dapat dilakukannya. Dhika membantu di desa. Dan Bayu pergi ke hutan mencari tanaman herbal. Sayup sayup terdengar suara seseorang bermain panahan. Rinaya beranjak dan melihat itu. Jaka dengan penutup matanya membidikan anak panah ke sebuah target yang di pasang di batang pohon sangat jauh dari tempatnya berada. Secepat kilat anak panah itu melesat tepat mengenai target.


"Wah. Kau masih sangat hebat meski dengan penutup mata." Rinaya terkesan. Memang bukan kali pertama melihat Jaka menembakan anak panah. Bahkan dulu dia mengajari Rinaya mengenai itu.


"Bukankah dulu kau lebih hebat dariku?"


Jawab Jaka.


"Ya itu dulu."


"Ini." Jaka menyodorkan busur panahnya. "Kau cobalah."


Rinaya mengambil busur itu. Menarik pegasnya dan membidik papan target. "Apa ini tidak terlalu jauh?" Tanya Rinaya sambil memicingkan mata.


"Dulu kau bisa sepuluh kali lebih jauh dari ini. Kau yang terbaik diantara seluruh anggota."


"Kini aku tidak yakin." Rinaya melepaskan pegasnya. Melesatkan anak panah itu.


"Tidak apa apa hanya sedikit meleset. Berlatih sebentar akan membuatmu kembali hebat." Anak panah itu memang mengenai target. Tapi hanya di bagian lingkaran terluar saja. Jika dalam sebuah perlombaan. Dia pasti akan di tertawakan.


"Jaka jangan terlalu memujiku. Ini suatu kemunduran yang membuatku malu. Perbedaan yang sangat jauh."


"Ada yang datang" Seseorang berjalan dari ujung jalan. Masih belum nampak siapa orangnya tapi langkahnya sudah terdengar.


"Siapa?" Sejenak Rinaya memalingkan wajah mencari seseorang itu. Tiba tiba saja Jaka menghilang entah kemana. "Kenapa akhir akhir ini Jaka selalu tiba tiba menghilang."


"Selamat siang Nona" seseorang menyapanya dari ujung jalan.


"Oh. Danu. Kenapa kesini?" Tanya Rinaya heran. Mereka tinggal di sana karena menghindari semua orang di desa tapi Danu malah menemuinya terang terangan.


"Aku diminta Balapati untuk menemanimu."


"Menemaniku? Aku rasa itu tidak perlu. Ada ja....-" kalimatnya terpotong. Dia ingat Jaka adalah seseorang yang lain saat ini. "Kenapa dia memintamu seperti itu."


"Balapati berpesan apapun yang Nona butuhkan aku harus memenuhinya. Karena Nona tidak diijinkan untuk meninggalkan tempat ini."


Rinaya menghela nafas. "Lagi lagi seperti itu. Yasudah lah. Terserah saja.


Ayo temani aku berlatih panahan." Rinaya kembali menarik pegas dan memicingkan mata.


"Aku tidak terbiasa dengan panahan. Lebih sering menggunakan pedang. Dan sedikit belajar tangan kosong."


"Hmm seperti Balapati. Apa dia yang mengajarkanmu?" Tanya Rinaya. Sambil lemepaskan anak panahnya.


"Benar Nona."


"Jangan memanggilku begitu. Kau tau aku saat ini sedang menggunakan seragam laki laki. Akan sangat aneh jika memanggilku nona. Panggil Rina saja."

__ADS_1


"Tapi Nona lebih senior"


"Baiklah terserah kau saja. tapi Jangan panggil aku Nona didepan orang banyak. Mereka akan curiga nanti. Lagipula kita memakai seragam yang sama."


__ADS_2