Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Kilas Balik


__ADS_3

"Aku akan menemanimu. Aku akan membantumu. Aku akan melindungimu. Jika kau ingin mencari Bayu. Dengan satu syarat."


"Syarat? Kenapa pakai syarat segala. Kau tidak ingin menemukan sahabatmu sendiri?"


"Pikirkan situasimu saat ini. Aku yakin kau tidak punya ruang untuk bergerak. Bukan hanya Boris yang mencarimu. Tapi juga Penyelidik Istana. Kau pikir mereka tidak bisa bergerak dengan cepat?"


Satu hal terpikir oleh Rinaya. Barang Barang yang dia sembunyikan begitu apik tanpa jejak sedikitpun bahkan mereka bisa menemukannya. Maka tidak akan sulit juga bagi mereka untuk segera menemukan dirinya. Satu satunya yang membuatnya aman adalah keberadaan sang Balapati. Dia tidak punya pilihan.


"Baiklah apa syaratnya?"


"Kau harus mengikuti semua perkataanku. Tidak ada Rahasia apapun diantara kita."


"Hanya itu? Baiklah"


Rinaya mengerti itu Dhika berusaha untuk melindunginya. Meski hanya sepatah kata dari Dhika tapi Rinaya mengerti maksud dan tujuannya. Dalam drama ini Dia dan Bayu adalah seorang antagonis. Orang yang Berkhianat. Orang yang di benci semua orang. Orang orang yang kematiannya sangat diinginkan semua orang. Rinaya seakan menyadari sesuatu tentangnya "Dhika. Apa kau menyesali sesuatu? Di masa itu. Apa kau merasa bersalah?"


"..." Dhika hanya tertunduk seakan pertanyaan itu benar adanya.


"Aku seperti orang gila ketika aku sadar di rumah sakit. Itu sangat berat untuku. Dalam hati aku merasa marah. Merasa menyesal. Merasa tidak berdaya. Semua yang aku lakukan hanya membawaku kepada kematian. Aku ingin semua seperti semula. Tawa ceria menangkap ikan bersama. Berjualan Sayuran Di pasar. Bercengkrama di toko Herbal Sae. Membakar ikan bersama. Aku hampir lupa masih memiliki kenangan yang indah. Karena kenangan indah itu lah aku bisa sembuh. kenangan yang bertahan hingga seribu tahun"


"Kau istirahatlah. Kita akan berangkat besok." Dhika beranjak lalu meninggalkan ruangan itu.


Sebuah padang rumput hijau terhampar luas begitu indahnya. Sebuah Pohon berdiri diantaranya. Semilir angin meniup dedaunan hingga seakan berbisik bersahutan. Seseorang sedang berdiri di bawah pohon itu. Menangisi sesuatu. Sebuah jasad hewan kecil terbujur kaku disana. Di sebuah lubang yang sudah siap untuk di tutup. Dia seorang Bocah yang pernah dilihat Rinaya. Dia masih ingat itu. Bocah itu menghapus air matanya lalu menutup lubang berisi jasad hewan itu. Hewan berbulu Hitam-Abu. Rinaya berdiri beberapa meter di belakang bocah itu. Bocah itu perlahan membalikan badannya menatap rinaya. Dia tersenyum "Selamat datang kembali" ucapnya dengan suara hampir tak terdengar. Lebih seperti suara bisikan. Sapuan angin berhembus kencang mengaburkan pandangannya. Bocah itu tidak lagi disana. posisinya seakan berganti. Sesuatu masih menatapnya. Sepasang mata hijau tak melepaskan pandangannya. "seekor anjing? Husky? Serigala?" Sejenak Rinaya teringat bahwa Bayu memiliki teman ghaib seperti ini.


Rinaya terhenyak mundur ketika serigala itu berlari. Lalu dengan cepat menerjangnya. "Aaahhh." Teriakan yang cukup keras untuk membuat siapapun mendengarnya.


Brukk!! Rinaya terjatuh dari ranjangnya. Menggeliat sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Ini sudah kesekian kalinya hingga membuatnya sudah terbiasa.


Tok tok tok "Nona. Anda baik baik saja?" Suara Danu dari balik pintu membuat pikirannya kembali.


"Ah. Aku baik baik saja. Jangan Khawatirkan aku."


Dhika dan yang lainnya menunggu di lobi penginapan. Waktu baru menunjukan pukul delapan pagi di ponsel Rinaya. Dia menuruni tangga bergabung dengan yang lainnya.


"Kalian menungguku?" Ujarnya yang baru saja tiba.


Dylan "Hampir kering kami menunggumu."


Dhika "Danu. Kau dan yang lainnya kembali ke pondok. Misi kalian sudah selesai."


Danu menggangguk dan pergi dari sana. Kembali ke pondok pelatihan keluarga Wiriya bersama murid murid lainnya.


Dhika "Kali ini apa rencanamu?"


Rinaya "Hmm. Entahlah aku bingung harus memulai dari mana."


Dylan "Aku mendapat pesan. Aku akan kembali ke ibukota. Balapati. Tolong awasi dia."


"Ck. Memangnya aku tahanan. Mesti di awasi segala."


Dylan "Aku memang ditugaskan untuk menangkapmu. Hanya saja kali ini ku percayakan kepada Balapati Wiriya. Aku yakin kau tidak akan bisa kabur darinya."


Rinaya "Memangnya siapa yang akan kabur"


"Eh eh Dylan. tunggu" Rinaya menarik tangan Dylan menahannya pergi" Bisakah kau membantuku untuk mengambil kembali barang barangku. heheh"


"Itu bukan urusanku. itu bukan tugasku. jika aku mencampuri mereka aku bisa kena masalah yang rumit."


Rinaya cemberut mendengar itu dan melepaskan pegangannya.


"Apa dia selalu menyebalkan seperti itu? Kau bisa bisanya tahan dengan orang seperti itu."


Pertanyaan itu sedikit agak aneh. kebanyakan orang mungkin akan menanyakan hal yang sama kepada Dylan tentang Dhika yang sangat kaku.


"Ayo Jalan." Dhika berbalik dan melangkah pergi.


Rinaya berjalan mengimbangi langkahnya. "Eh Dhika. Kemana kita pergi??"


"Kediaman Keluarga Wilis"


"Ha?" Tenggorokan Rinaya seakan tersangkut sesuatu. Menahan kata kata yang selalu dia tahan. "Kenapa kesana?"


"Ada pertemuan yang harus aku hadiri."


"Pertemuan? membahas mengenai apa?"


"Kita akan tau jika sudah sampai?


"Ah Dhika. Bisakah aku tidak ikut kali ini? Hmm. Aku akan berkeliling kota. Kau bisa lakukan urusanmu tanpaku. hehe"


Dhika berhenti dan berbalik "Kau mengkhawatirkan sesuatu?"


"oh. Itu... Aku....karena"


"Apa kau takut?"

__ADS_1


Rinaya tertunduk.


"Baiklah nanti kau tunggu sjaa di penginapan. Tidak di ijinkan berkeliaran"


Berkeliaran? dia benar benar memperlakukan aku seperti keledai.


"Heheh. Baiklah. Aku mengerti.


Sebenarnya Dhika memang tidak berniat untuk membawa Rinaya ke pertemuan. Dhika sudah tau bahwa pertemuan itu pastilah akan membahas mengenai perlawanannya terhadap Boris tempo hari. Sejak saat itulah semua orang tau Bahwa bocah yang di bawa Dylan adalah Nirmala si Bandit Gunung. Jika Rinaya di bawa ke pertemuan itu pastilah akan terjadi perselisihan kembali. Mengingat semua orang menginginkan kematiannya.


Sebuah aula besar berjejer meja meja dengan sangat rapi dan simetris menghadap satu sama lain. Semua orang duduk di kursinya masing masing termasuk Dhika dan tokoh tokoh penting. Boris sebagai penerus Mandalika sebelumnya memimpin pertemuan. Membahas tindakan Dhika yang sangat tidak di sukai oleh Boris.


Boris menuang teh nya kedalam gelas."Aku tidak menyangka kau akan menghadiri pertemuan ini. Apa kau ingin mengakui sesuatu? Balapati Wiriya?"


Dhika hanya diam.


Tuan Baskara hadir dalam pertemuan itu. sangat tenang dan berwajah damai seakan tidak mengkhawatirkan sesuatu apapun. "Pertemuan ini akan membahas mengenai apa Tuan Wilis?"


Boris "Sebelum itu aku akan bercerita mengenai sesuatu yang aku temukan. Kalian semua boleh terkejut mendengarnya."


Semua orang saling bertatap heran. Menerka nerka apa yang akan Boris katakan.


"Tiga hari yang lalu aku membawa serta pasukanku untuk mencari seseorang. Tentu dengan keahlian pasukanku aku dapat menemukannya dengan mudah. Kalian semua bisa menebaknya?"


Semua orang berbisik di mejanya mencoba menebak sesuatu yang mungkin saja terjadi.


Boris mengeluarkan selembar kertas bergambar sketsa wajah. "Nirmala. Aku menemukannya."


Semua terheran dengan satu kalimat terakhir itu. semua orang bertanya tanya.


"Bukankah dia sudah mati?"


"Tuan Wilis mengapa anda begitu yakin dengan itu? Lima belas tahun lalu dia jatuh di tebing itu dan anda sendiri yang menyaksikan itu."


"Bukankah selama ini banyak yang mencoba memanggil arwahnya? tidak ada yang berhasil. apakah karena dia masih hidup?


"Pasti karena dia lenyap langsung menuju neraka. seperti halnya Bayu."


Ramai nan berisik di ruangan itu. Tapi Boris seakan menikmati semua kemungkinan yang mereka ributkan. Sesekali tersenyum seakan ada hal lucu di antara kata kata mereka.


Boris "Saat itu aku tidak yakin dia adalah Nirmala tapi ketika seseorang datang, Dia menunjukan sendiri identitasnya."


"Seseorang? Siapa yang kau maksud?"


"Balapati Wiriya? Pradhika Wiriya?"


Tidak ada hentinya mereka meributkan hal itu. Mereka kembali berbisik diantaranya. Kali ini mereka mengatakan kemungkinan kemungkinan yang masuk akal. Lalu Boris melanjutkan "Kalau tidak salah sebelum kau datang. Seseorang sudah terlebih dahulu menangkapnya. Aku tidak mengenalnya tapi sepertinya dia seorang pedagang budak. Aku yakin kau juga mengenalnya."


Dhika tidak merubah ekspresi apapun masih tetap diam tak bersuara.


Boris "Kau tak membawanya bersamamu itu berarti dia bersama orang itu?"


Dhika "Apa yang akan kau lakukan jika kau menemukannya? Bukankah dia sudah menyerahkan semua yang kau inginkan? Bahkan dia menyerahkan nyawanya. Kau masih ingin mengganggunya?"


Boris terbahak "Hahahahah. Kau mengakui bahwa dia memang kembali?"


Dhika "Dia kembali atau tidak. aku hanya tidak tahan kau terus saja mengganggunya. Lima belas tahun. Apa kau tidak lelah?" Dhika mengutip kata kata itu dari Rinaya. Semua orang terdiam mendengar kata kata sang Balapati. Tidak biasanya dia berbicara panjang lebar. Apalagi membela seseorang yang diyakini semua orang Bersalah. "Lagipula Semua orang sudah tau bahwa aku pernah berteman dekat dengannya. Tidak ada yang tidak menyangka jika aku akan membantunya."


Benar. Tepat sekali. Satu kalimat yang selalu ada di pikiran semua orang. Semua tau bahwa Dhika adalah temannya. Bahkan mereka cukup dekat satu sama lain. Tidak akan mengherankan jika Dhika mungkin akan membantunya. Hanya saja semua orang tidak pernah tau seberapa besar perasaan yang selalu Dhika sembunyikan. Dia selalu menyibukan dirinya sendiri hingga semua orang lupa sebesar apa perasaan yang dia kubur bersama kematian teman temannya.


Tuan Baskara "Tuan Muda Wilis. Dari cerita yang kudengar mungkin bisa saja orang itu memang mempelajari ilmu itu. Seseorang yang mirip dengannya mungkin ada banyak. Alangkah lebih baik jika Tuan Muda Wilis tidak tergesa mengambil kesimpulan."


Boris "Benar. Kau sangat benar mengenai itu. Hanya saja sangat kebetulan ciri dan kemampuannya sama persis. Bahkan Balapati Wiriya pun datang untuknya. Bukankah ini satu kebetulan yang amat luarbiasa."


Tuan Baskara "Tuan Muda Wilis. Seperti yang anda tau bahwa keponakan ku ini memang berteman dekat dengannya. Ku rasa karena kemiripan itulah dia pun menganggap dia orang yang sama."


Haris "Tak ku sangka. Perjalananmu ke beberapa kota hanya untuk mencari seorang penjahat. Kau bahkan berusaha melindungi orang yang mirip dengannya. ku rasa kau memang benar benar sudah gila."


Dhika "Jaga bicaramu. Kau mungkin akan menyesal."


Pembicaraan sangat menegangkan di ruang aula itu. Berbeda halnya dengan di sebuah penginapan tak jauh dari sana. Rinaya berguling giling di ranjangnya "Bosaannn" Entah sudah berapa puluh kali kata itu di ucapkannya.


Brakk!! Sesuatu terdengar dari luar. Rinaya mengintip dari jendela kamarnya. Sesuatu terjadi. Keributan itu membuat gaduh dan ramai. Rinaya melompat dari tempat tidurnya menuju kerumunan itu. Salah satu alasan yang tepat untuk meninggalkan ruangan kecil itu. Seseorang menangis. Yang lainnya berkumpul. Sebagian menenangkan. Sebagian lagi sibuk bergunjing. Rinaya berjalan menembus kerumunan. Penasaran dengan apa yang akan terjadi. Seorang perempuan menangis. Melemparkan kendi yang di bawanya hingga pecah. Seorang anak perempuan memeluknya erat dengan tangisan yang sama. Dari pembicaraan yang terdengar. Dia di datangi penagih hutang. Entah berapa besar yang dia pinjam hingga bisa sehisteris itu menangisinya.


Beberapa orang menenangkannya. Dia masih terisak. Begitu juga putrinya. Setelah menyimak lebih lama ternyata mereka bukan menangisi jumlah bunga yang melambung tapi karena dia harus menyerahkan putrinya untuk dijadikan budak. Dengan cara itu hutangnya bisa di anggap lunas "Ternyata yang seperti ini sudah berlangsung sejak dulu."


Seorang prajurit datang dan membubarkan kerumunan. Semua orang berpencar seperti semut kehilangan porosnya. Begitupula Rinaya yang pergi menjauh dari kerumunan itu.


Seseorang menarik lengannya dengan kuat. Merangkulnya dan membuatnya membelakangi jalanan. Salah satu tangannya memegang pundaknya. Kini mereka menghadap ke sebuah pedagang mainan. Beberapa saat kemudian rombongan prajurit datang melewati tempat itu. Sebagian menunggangi kuda. Sebagian lagi berjalan kaki. Lengkap dengan senjata masing masing.


Rinaya tidak mengerti mengapa dia melakukan itu padanya. Dia menengadahkan wajahnya melihat siapa orang ini. Seorang pria tinggi dengan sedikit rambut di dagunya. "Apa saya mengenal anda?"


Pria itu tersenyum lalu bertanya kepada pedagang itu "Ini berapa harganya?" Sandiwara yang bagus untuk seorang yang tidak dia kenali. Lalu dia berbisik. "Tunggu hingga mereka lewat."


Mendengar itu Rinaya terpikirkan satu hal. Dia mungkin mengenali Rinaya. Atau mungkin dia hanya orang cabul. Rinaya melepaskan tangannya yang menempel di pundaknya. Beberapa meter setelah prajurit itu lewat Rinaya kembali bertanya "Siapa anda Tuan?"

__ADS_1


Pria itu tersenyum. Sangat manis. Rinaya seakan pernah melihat senyum itu di suatu tempat. "Kau benar benar tidak mengenaliku? Ayo ku traktir kau makan."


Di sebuah kedai tak jauh dari penginapan mereka duduk ujung ruangan. Pria itu menuangkan minuman di kedua cangkir di atas meja. "Kau tidak berubah sama sekali"


"Kau mengenalku?"


Dia tersenyum. Salah satu giginya terlihat lebih jelas. Gingsul itu membuatnya terlihat sangat manis. "Kau sangat keterlaluan. Lebih dari lima belas tahun ini kau pergi kemana? Semua orang sibuk mencarimu."


"Ahhh aku....tidak mengerti."


"Kau sudah bertemu dengan adikmu?"


"Ah.. adiku?"


"Itu pun kau tidak ingat? Kau benar benar keterlaluan. Tapi Aku tidak menyalahkanmu. Mungkin sesuatu terjadi padamu dan memang Sesuatu selalu terjadi padamu."


"????"


"Lima belas tahun lalu. Seorang bocah mendatangiku. Dia bilang dia adikmu. Dia membawa sebuah bros bunga yang pernah aku hadiahkan padamu. Aku mempercayainya. Aku pikir kau pasti mengirimnya padaku karena kau ingin aku menjaganya. Dia bilang kau akan menjemputnya."


Rinaya tanpa berkedip mendengarkan semua cerita itu. "Kau? Rakha?" Rinaya mengingat itu. Seseorang yang memberinya bross bunga sebagai hadiah. Ada secarik kertas di dalam sebuah kotak hadiah itu. Itu sangat dia ingat.


"Akhirnya kau ingat itu. Kau tidak rindu padanya? Adikmu? Dia selalu menunggumu untuk menjemputnya. Bertahun tahun dia menunggumu. Bahkan terdengar kabar beredar bahwa kau telah mati. Dia masih percaya kau akan menjemputnya. Dia tidak menghiraukan kabar kabar itu. Dia tau kabar angin belum tentu selalu benar. Dia bahkan menghiraukan berita tentang semua orang yang menyudutkanmu. Begitu juga tentang berita bahwa semua orang mencoba memanggil arwahmu. Dia sangat bersedih. Tapi dia masih percaya kau akan datang."


Mendengar cerita itu dia seakan melihat kilasan bayangan bayangan masalalunya. Masa-masa yang selalu ingin dia lupakan. Bahkan dia melupakan janji yang dibuatnya dengan Tama. Setitik air mata mengalir dipipinya.


"Tama? Dia bersamamu?"


"Namanya tama? Dia tidak pernah menyebutkan itu. Kami memanggilnya Rai. Ku anggap dia sebagai adiku sendiri."


"Dimana dia sekarang?"


"Lima tahun lalu dia memutuskan untuk pergi. Aku tak kuasa menahannya. Dia memiliki alasannya sendiri. Ku kira dia pergi ke kota atau semacamnya untuk mencari pekerjaan atau apapun. Tapi dia tidak pernah kembali. Dua tahun lalu aku mencarinya ke setiap kota terdekat. Berharap bisa menemukannya. Aku berpikir bahwa jika aku bertemu denganmu suatu saat nanti. Aku pasti merasa bersalah tidak bisa menjaganya. Tuhan memang tidak buta. Dia mempertemukan aku denganmu. Aku ingin meminta maaf karena membiarkannya pergi."


"Itu bukan salahmu. Sesuatu terjadi padaku. Akupun tidak mengerti."


"Sesuatu selalu terjadi padamu. Tapi yang ku tau. Kau tidak pernah menyerah. Seperti halnya ketika kita membuat kincir air bersama. Meski sulit. Kau tidak pernah menyerah."


Rinaya hanya tersenyum. "Semua itu tidak semudah membuat kincir. Apa yang terjadi pada Tama mungkin hal yang tidak bisa dia lupakan seumur hidupnya."


Rinaya mengingat Tama. Dia selalu bersamanya. Dia bermain dan belajar bersamanya. Dia lebih dari seorang teman. Dia menyayangi tama seperti bagian dari kehidupannya.


"Aku sudah mencarinya kemana mana. Aku tidak menemukannya. Kurasa dia kembali ke tempat asalnya."


"Terimakasih sudah menjaganya. Aku akan mencarinya."


"Aku senang kau kembali. Secara fisik. Kau tidak berubah sama sekali. Aku bisa mengenalmu dengan mudah."


"Benarkah? Apa sangat terlihat?"


"Tidak. Aku hanya mengamati beberapa kali. Ketika Balapati Wiriya menggenggam lengan seorang muridnya. Semua orang tau dia tidak akan melakukan itu. Aku memperhatikan dari jauh. Ketika kalian berbincang di depan penginapan itu. Saat itu lah aku sadar bahwa itu kau. Dan aku bertekad memastikannya tadi di kerumunan. Aku benar benar tidak menyangka. Kau seperti hanya bertambah setahun saja."


"Jadi karena itu kau mengenaliku."


"Berhati hatilah. Semua orang mencarimu."


"Tidak perlu khawatir. Aku tidak sendiri."


***


Sebuah keributan terjadi di sebuah penginapan. Boris meminta anak buahnya untuk mencari seseorang di dalam penginapan. Dhika, Haris, Boris dan tuan Baskara berdiri di depan penginapan itu. Dhika masih berwajah tenang. Tidak terlihat gelisah sedikitpun. Seorang prajurit datang menghampiri Boris "Tuan. Menurut info dari pemilik penginapan, Tuan Muda Wiriya memesan satu kamar. Dan tidak melihat dia membawa siapapun."


Boris. "Begitu. Lalu kemana dia pergi. Kira kira dimana dia bersembunyi."


Tuan Baskara mengamati Dhika dengan seksama. Dia tau Dhika sedang gelisah


"Tuan muda Wilis. Seperti yang kau sebutkan tadi bahwa seseorang telah lebih dulu menangkapnya. Mungkin saja dia sedang bersamanya sekarang. Karena bagaimanapun juga Keponakanku ini tidak mungkin menyembunyikannya hanya karena ciri mereka mirip dengannya."


Boris. "Untuk kali ini aku akan mencari dimana dia berada. Jangan harap kalian bisa menghalangiku." Tujuannya gagal. Apa yang dia cari tidak dia dapatkan. Boris sangat yakin bahwa Nirmala pasti akan selalu bersamanya. Tapi dia tidak mendapatkan apapun kali ini.


Boris pergi bersma pengawalnya. Begitu juga Haris.


Tuan Baskara masuk kedalam penginapan dan menemui pemilik penginapan. Memberinya sekantung uang lalu duduk di kursi tunggu. Dhika turut duduk di depannya.


"Apa yang paman lakukan dengannya?"


"Aku hanya memberi pemilik penginapan itu sekantung uang."


"Kenapa?"


"Meski dia tidak ada disini. Aku yakin kau memang bersamanya."


"Kenapa paman lakukan itu?"


"Kau terlihat sangat gelisah. Aku menghargai keputusanmu. Jika ayahmu masih ada mungkin dia akan menentangmu dengan keras. Kau tidak pernah berhenti percaya padanya. Kau pasti memiliki alasan sendiri. Kali ini Jangan buat kesalahan."

__ADS_1


__ADS_2