
Hari sudah malam, Nirmala dan Bayu bermalam di kediaman Wiriya,
seperti biasa Nirmala berkeliaran sendirian, masih di pekarangan kediaman Wiriya, Nirmala melihat seseorang di ujung lorong.
Dia nampak seperti orang besar, pakaiannya sangat mewah dan elegan, di belakangnya seorang laki laki dan perempuan membawa beberapa barang.
Setelah dilihat lebih jelas, pria itu adalah seorang Mandalika wilayah ini Tuan Wilis. Dan yang mengikutinya salah satunya dia mengenali wajah itu Seseorang yang baru baru ini di lihatnya, Dyah.
Dyah adalah seorang pelayan keluarga Wilis, sebuah keluarga besar yang juga seorang keturunan pimpinan wilayah ini, seorang Mandalika"
Rasa penasaran tinggi membuatnya bertindak tanpa pikir panjang. Nirmala mengikuti mereka, dan mengintip mereka dari balik pintu Mereka membicarakan sesuatu yang penting bersama Tuan Wiriya, tidak terdengar jelas, tapi sayup sayup Nirmala mendengar kata giok, pecahan, kekuatan gelap, apa maksudnya.
Nirmala segera pergi dari sana karena tidak ada gunanya hanya mendengar secara berpotongan, bisa bisa arti dan maksudnya malah jadi berbeda.
Menyusuri lorong, dia berpapasan dengan pengawal istana Mandalika, tuan Pambudhi.
Mereka saling bersalam sapa,
"Tuan Budhi. Terimakasih atas bantuan nya saat itu. Aku merasa sangat bersyukur"
"Kau sudah baikan?"
"Ya tentu saja, hehe. Tuan ada apa datang kesini?"
"Aku datang memenuhi panggilan dari Tuan Wiriya. Mengenai adanya info mata mata Mongol. Nirmala, aku sudah berjanji padamu sebelumnya. Aku akan menyelidiki ini. Aku merasa menyesal tidak banyak membantumu saat itu. Kau tidak seharusnya mendapat hukuman itu"
"Ah tuan aku tidak apa apa . Aku baik baik saja. Jangan merasa bersalah karena itu"
Dia menjanjikan kepada nirmala bahwa akan menyelidiki dengan baik dan menangkap mata mata yang sebenarnya, dia merasa bersalah karena nirmala mendapat perlakuan itu. "
"Hmm. Tuan Budhi bisa aku bertanya satu hal?"
"Katakan saja"
"Apakah Tuan Budhi tau info mengenai giok cahaya?"
"Aku hanya tau sedikit dan aku akan membahas ini dengan tuan Wiriya"
"Hooo." Nirmala mengangguk ngangguk tidak puas dengan jawaban itu dan kembali bertanya "Mengenai kasus rahasia itu. Apakah ada informasi lagi?"
"Tidak ada informasi apapun saat ini. Ini semakin sulit. Kenapa kau bertanya begitu?"
"Ah tidak apa apa"
Tuan Budhi, bergabung dengan rapat tertutup bersama Tuan Wiriya. Dhika pun dipanggil untuk mengikuti rapat
Entah apa yang mereka bahas pastilah tidak akan dengan waktu singkat.
Suasana membosankan membuat Bayu gerah dan ingin bergerak, dilihatnya Nirmala sedang berjalan di lorong meninggalkan Tuan Pambudhi, Bayu memanggil Nirmala di persimpangan,
Mereka sama sama merasa bosan.
mereka sepakat untuk berkeliling kota malam itu. Kabarnya akan ada perayaan tahunan, berdoa kepada sang pemilik alam untuk segala sesuatunya dimudahkan. Malam ini pasti sudah mulai ramai meski perayaan baru akan di mulai 5 hari kedepan.
Mata nirmala berbinar, selama tinggal disana belum pernah melihat pusat kota yang sangat ramai dan terang, penuh dengan lentera, berwarna warni. Banyak pedagang yang beraneka ragam dagangan.
Mereka berdua seperti kakak beradik yang baru keluar dari kurungan berlari kesana kemari, mencoba segala macam dan melihat beragam benda unik. Mereka terlihat bahagia.
Hingga tiba tiba saja laju nirmala terhenti, menabrak seseorang di depannya. Dia pernah bertemu orang itu. Seorang pengembara buta, kebetulan sekali, baru saja Nirmala terlintas memikirkannya, dia kini berada di depan matanya. Mereka membantunya berdiri.
"Terimakasih"
"Tuan, masih ingat dengan ku? Tempo hari bertemu dan aku mengantar tuan ke penginapan."
"Ya, aku ingat. Aku bahkan belum sempat bertetimakasih padamu"
Mereka bertiga duduk di sebuah kedai kecil. Berbicara panjang lebar mengapa dia ada di sana. Dia masih belum menemukan orang yang dicarinya. Dia bercerita mengenai kisahnya yang membuat bayu terkesima dengan kisah itu.
Awalnya dia sama sekali tidak buta, dia seorang yang ahli dalam beladiri, dengan menggunakan senjata pedang. Kebutaan itu sudah berlangsung selama tiga tahun lalu. Saat itu dia sedang berada di sebuah desa kecil bernama desa Pande. Kebetulan malam harinya desa itu di datangi perampok, entah apa yang mereka cari seakan tidak pernah puas
Mereka mengambil harta benda, membunuh banyak orang, bermain dengan wanita, melecehkan mereka. Dia yang hanya pendatang hanya membantu sebisanya, mereka tidak punya pendekar atau siapapun yang memiliki ilmu bela diri. Mereka hanya bisa berjuang sebisanya, mengayun kan apapun yang ada di tangannya. Seseorang perampok itu sangat ahli beladiri. Dia bertarung mati matian dengan mereka namun orang itu sangat sulit di hadapi. Memang mereka berhasil selamat, tapi hanya separuh penduduknya saja, sayangnya seseorang perampok itu memiliki satu serbuk racun. Membuat matanya menjadi buta.
Seorang pemuda disana menolong dan merawatnya, namanya Asta, orang orang memanggilnya begitu.
Dia merasa sangat berterimakasih dan merasa bersalah karena seorang pendatang menjadi korban. Selang dua minggu berlalu, dia bilang akan pergi mencari seseorang untuk menyembuhkan matanya, namun sampai sekarang tidak juga kembali Dia mencarinya hingga saat ini.
Bayu dan Nirmala belum pernah mendengar nama itu, .
Namun Bayu tidak menyangka, Wangsa bernasib seperti ini. Nama Wangsa sangat terkenal, keahlian berpedang nya sangat diakui di dunia persilatan.
Sebenarnya sejak pertama bertemu dengan Wangsa, Bayu sudah mengenalinya. Dengan Pedang yang di bawanya, siapa yang tidak akan mengenalinya. Dia seorang yang hebat namun tetap rendah hati. Mungkin dia sendiri tidak menyadari betapa terkenalnya dia.
Bagaimana cara mencari seseorang dengan tanpa melihat. Pasti sangat sulit. Tapi dia tidak menyerah setelah tiga tahun berjalan. Wangsa tidak berharap untuk sembuh, hanya berharap dapat menemukan Asta. Ada satu hal yang ingin dia pastikan kepada Asta.
Bayu "seperti apa ciri-cirinya? tinggi badan bentuk muka, suara, pakaian yang selalu dipakai, dan lain lain?
Wangsa menjawab, "menurut warga dia berusia sekitar 20-25th, tidak ada yang tau percis, lebih sering berpakaian hitam, dia seakan selalu berkabung di seluruh kehidupannya, wajahnya penuh tawa dan sangat ceria membawa tawa di setiap orang yang bersamanya, jenaka, namun terkadang sangat nakal. Wajahnya cantik untuk seorang laki laki, matanya selalu penuh energi, seakan tujuannya harus selalu dia capai, rambutnya terikat urai di belakang, berponi belah tengah. Tingginya hanya sedikit lebih rendah dariku , hanya beda 4-5cm. Aku hanya mendengar suaranya. Dan cukup familiar."
"Dia Cukup tinggi" ujar bayu.
"Setinggi dirimu ku kira" ujar nirmala kepada bayu.
"apa aku tinggi?"
"ya, seperti tiang,"
"ha?"
Wangsa tersenyum mendengar candaan garing itu.
Mereka berpisah di kedai itu melanjutkan tujuannya masing masing. Berpamitan dan lalu pergi,.
Namun Nirmala berjanji jika suatu hari bertemu dengan Asta dia akan memberitahukannya.
Bayu dan Nirmala kembali ke kediaman wiriya.
"sepertinya rapatnya sudah selesai."
Bayu dan Nirmala berpapasan dengan Dhika di pekarangan.
"Masuklah kita bicara di dalam"
"Ada lagi yang harus di bicarakan?"
Mereka duduk bersama di sebuah ruangan yang sebelumnya mereka pakai berdiskusi.
Hasil rapat itu sebenarnya tidak boleh di beritahukan kepada orang lain. Namun Dhika memiliki pilihannya sendiri. Karena keadaan yang sangat kebetulan ini lah membuatnya bicara.
Dan Dhika teringat dengan perkataan Nirmala mengenai dari mana dia berasal.
"aku berasal dari seribu tahun di masa depan. Kau bilang begitu sebelumnya" ujar Dhika mengingatkan tentang apa yang di dengarnya. Meski saat itu dia tidak terlalu mengerti dan menganggap itu hanya candaan.
"Tidak masuk akal" ujar bayu. "Itu tidak mungkin."
"benar, memang tidak mungkin. tapi semua kebetulan itu sangat masuk akal. Terutama mengenai identitas si mata mata. Seorang prajurit Istana dari tim penyelidik melihat seseorang perempuan mencurigakan, bertemu dengan seseorang misterius, saling bertukar pesan, salah satu pesan nya di tulis dalam sebuah kertas, mereka kehilangan jejak si perempuan, tapi bisa menangkap si pria. Pesan itu tidak bisa kami baca. Semua ditulis dalam huruf latin, dalam bahasa lain. Ciri ciri nya mirip dengan mu, dan beberapa orang melihat mu bisa membaca huruf latin."
"Jika perkataan mu benar dari seribu tahun mendatang, apakah menurutmu dia juga sama?"
"Aku tidak tau. mungkin saja dia orang yang cerdas bisa mempelajari bahasa lain. huruf alfabet itu sangat mudah di pelajari. yang sulit adalah mwmpelajari bahasa nya. kau punya salinan pesannya?"
"Tunggu tunggu, kau bilang apa tadi? kau benar benar berasal dari masa depan?"
"Entahlah. Kurasa begitu. Hanya itu yang menurutku masuk akal"
"Lalu bagaimana bisa kau terdampar disini?"
"Aku juga tidak tau, itulah yang ingin aku selidiki"
"Eh. kau sudah ingat siapa dirimu?"
"ya. sejak beberapa hari lalu."
"Apa ada hubungannya dengan pemanggilan itu?"
"Satu hal yang menurutku masuk akal ya hanya itu. Sisanya aku tidak tau. aku juga tidak mengerti kenapa ada disini. Tuhan mengirimku kesini pasti ada tujuannya." Sejenak nirmala teringat dengan perkataan arwah Laras saat itu. Mungkin juga itu adalah salah satu tujuan nirmala datang kesini.
"Kenapa kau tidak bialng padaku. setelah kau ingat itu, kenapa kau tidak langsung bilang."
"Kau pikir itu masuk akal?
aku bahkan tidak tau aku harus percaya itu atau tidak. aku sendiri tidak yakin. Apa kau akan percaya jika aku bilang? dia sendiri hanya bengong seakan aku bicara omong kosong." Nirmala menunjuk Dhika
Dhika diam menatap meja.
Bayu memutar matanya seakan ada beribu kebingungan di pikirannya.
"kau tau, aku tidak tau apakah aku yang disana adalah mimpi, atau aku yang disini adalah mimpi. Semua terasa nyata. Kehidupanku disana aku tidak ingin kembali,"
"Kenapa? ada apa di kehidupanmu disana?"
Nirmala berusaha tersenyum, "Memang tidak ada peperangan, tapi hidup disana seperti selalu ingin mati. sangat putus asa, dan selalu merasa sakit," Nirmala menempelkan tangannya di dada. "Aku hanya berharap kehidupanku sekarang aku bisa merubahnya menjadi lebih baik, kali ini, aku tidak akan menyerah pada apapun."
"Oh. Dhika, apa karena info itu kemarin aku di tangakap? lalu kenapa aku di bebaskan? bukankah info itu sangat cocok untuku?"
"Ayahku, Tuan Wijaya, dan Tuan Pambudhi menjamin pembebasanmu. Lagipula mungkin saja memang ada orang lain yang seperti dirimu. Mereka bertiga menjamin karena sudah mengamatimu sejak lama,
__ADS_1
dimanapun kau berada, tidak menunjukan suatu kecurigaan lain, "
"Mereka mengawasiku?"
"Tetaplah bersikap seperti ini, mereka tidak akan melakukan apapun padamu saat ini."
"Tidak perlu khawatirkan aku, aku memang bukan mata mata."
"Aku akan meminta salinan pesannya dan menunjukannya padamu."
------
Sebuah keluarga kecil bertempat tinggal di pinggiran desa, lebih dekat dengan hutan. Seorang bocah dan Ayahnya mengendap endap di antara semak dan pepohonan, mereka sorang pemburu. **** hutan biasanya akan muncul di jam jam seperti ini, tengah malam, dan waktu yang tepat untuk berburu rusa. Mereka akan mudah di buru di malam hari, namun bukan **** atau rusa yang mereka lihat, sekelompok orang berbaju hitam, memakai penutup wajah, seperti sedang bertransaksi. Satu kelompok memegang sebuah benda seperti senjata, kelompok lain membawa sebuah peti berisi emas,
Saat itu si pemburu kebetulan menjadi sebuah saksi hidup. Mereka mengamati dengan seksama. Bocah berusia 14 tahun itu mengikuti setiap gerak langkah ayahnya.
Namun semua pandangan tiba tiba tertuju pada mereka, bocah itu tidak sengaja menggelindingkan bebatuan kecil. Hingga peesembunyian mereka terlihat. Mereka bergegas pergi dari tempat itu, berlari sekuat tenaga.
Dor!! suara itu sangat keras menggema di penjuru hutan.
sang ayah terhenti dari pelariannya, menyadari hal yang tidak beres, dia menyuruh anaknya untuk segera pergi meninggalkannya.
Dor!!, pundak bocah itu berlubang, darah pun mengalir deras, namun dia tidak berhenti berlari.
Sementara ayahnya tertinggal, Dor!! Suara itu menggema lagi. Menyadari apa yang terjadi pada bocah itu.
Dia tersadar, bahwa suara ketiga itu adalah untuk ayahnya.
Malam sudah sangat larut, mungkin lebih dari tengah malam. Tapi suasana kota masih terlihat ramai, tentu saja. Semua larut dalam perayaan.
Nirmala sudah terlelap di ruangannya. Sementara Dhika dan Bayu pergi ke suatu tempat, bersama Tuan Wiriya.
Keluarga Wiriya memang sangat diandalkan oleh warga sekitar, mereka seakan menggantungkan semua keputusan kepada keluarga itu. Pemikiran yang tajam dan kebijakan mereka telah diakui. Seseorang datang dengan tergesa, meminta bantuan dari tabib keluarga tuan Wiriya. Keluarga Wiriya memiliki tabib yang handal dan dia juga meminta tuan Wiriya untuk datang secara langsung karena peristiwa ini masih terdengar aneh di mata orang awam.
Tuan Wiriya, Tuan tabib, Dhika, dan Bayu mendarangi rumah itu. Sebuah rumah di pinggiran desa, rumah kecil yang hanya di tinggali beberapa orang saja. Disana terbaring seorang bocah, tidak ada yang mengenalnya, karena dia jarang berada di desa. Seorang penyendiri di hutan yang jauh.
Matanya terpejam, keringat dingin, nafasnya pendek terengah, alisnya berkedut menahan sakit. Dadanya terbalut perban. Seorang yang merawatnya berkata, dia terluka, tapi entah karena apa, tidak seperti luka dari pedang, tombak, ataupun anak panah. Bahu belakangnya berlubang dan terus mengeluarkan darah. Mereka berusaha menghentikan pendarahannya, jika tidak, dia bisa mati kehabisan darah.
Ini hal yang baru pertama kali mereka lihat, sebuah lubang di tubuh sebesar tusukan anak panah, namun tidak ada panah yang menancap sama sekali. Mereka semua kebingungan.
Mereka hanya bisa berusaha sebaik mungkin.
Mereka semua kembali, namun Bayu masih tetap di rumah itu, meresa kasihan dengan bocah itu, rasa penasaran bayu memuncak, hal seperti ini dalam pikirnya haruslah bisa dia selesaikan. Jika dia ingin menjadi tabib terhebat, maka hal seperti ini dia harus bisa menolongnya.
Pagi menjelang, Nirmala tidur nyenyak, dan menghirup udara pagi yang sejuk. Dhika datang menemuinya, menyampaikan pesan bahwa Bayu tidak akan pulang dalam beberapa hari. Dhika menceritakan tentang bocah itu. Nirmala meminta Dhika untuk mengantarnya kesana.
Dilihatnya Bayu tengah mengganti handuk kompres di kening bocah itu.
"ada apa dengannya?" Tanya Nirmala
"menurutmu, apakah bisa sesuatu masuk kedalam tubuh, begitu dalam, tanpa busur dan anak panah? setauku hanya anak panah yang bisa menembus tubuh dengan begitu dalam"
"maksudmu, seperti sebuah peluru?"
"peluru? Apa itu?"
"hmm kau sedang membicarakan luka anak itu?"
"kau tau sesuatu?"
"Jadi di jaman ini belum ada senapan ya?"
"apa itu senapan?"
Nirmala dan Bayu saling bertukar tanya, sementara Dhika entah pergi kemana.
"aku dengar dari Dhika lukanya cukup aneh. Memiliki luka berlubang namun tidak ada anak panah."
"ya itu benar. Menurutku mungkin besi anak panahnya tertinggal didalam, tapi ini ukurannya lebih kecil dari besi anak panah, bgaimana menurutmu?"
"mungkin itu peluru?"
"kau menyebutkan itu lagi, jadi apa itu peluru?"
"di jaman ku, banyak orang memakai senjata seperti ini, seperti sebuah busur, mereka menembakan sesuatu, tapi bukan anak panah, dan jangkauan serta kualitasnya lebih mematikan. Kujelaskan nanti, kau harus cepat, jika tidak dia bisa mati."
"Apa yang harus ku lalukan?"
"kau harus mengambil peluru nya, tapi pastikan dia tidak merasakan sakit, akan sangat sulit mengambil benda kecil dalam tubuh seseorang, coba kulihat lukanya."
Nirmala melihat lukanya. Sebuah luka kecil seukuran lebih kecil dari kelereng. Darahnya sudah berhenti tapi sepertinya pelurunya masih tertinggal di dalam.
"Seperti nya tidak terlalu dalam, letaknya pun tidak terlalu fatal, jika lebih ke tengah organ tubuhnya mungkin kena. Kau akan melakukan hal hebat kali ini. Aku akan membantumu. Aku sedikit mengerti mengenai hal ini."
"Kau pasang jarum akupuntur mu, pastikan dia tidak merasakan sakit.
Siapkan pisau yang sangat tajam dan sebuah penjepit yang sangat steril, siapkan jarum dan benangnya untuk menjahit lukanya. Juga siapkan air yang sangat dingin untuk menahan darahnya."
Bayu segera melakukan apa yang diminta.
"Bayu sesungguhnya aku tidak tahan melihat darah, jadi aku hanya bisa membantu sebisaku."
"Tidak apa apa, kita harus menolong bocah ini."
"Peluru itu sangat kecil, akan sulit untuk mengambilnya, jadi kau harus membuat lubang itu sedikit lebih lebar, gunakan pisau mu, jika kau sudah merasakan keberadaan pelurunya, kau ambil dengan penjepit, berhati hatilah jangan sampai pelurunya bertambah dalam."
Bayu melakukan semua yang di sampaikan nirmala. "Jika pelurunya sudah kau ambil, jahitlah luka itu dengan baik, jangan sampai pendarahannya berlebih, kau harus lakukan secepat mungkin."
Beberapa menit berlalu dan Bayu sudah melakukan semuanya.
Bayu merasa lega dan dia benar benar tidak percaya ada sesuatu dalam tubuh bocah itu, sebuah besi kecil menembus tubuhnya.
"Dia kehilangan banyak darah, jika ada obat penambah darah atau semacamnya berikanlah, dia juga perlu obat penahan sakit, dan antibiotik"
"Apa itu antibiotik?"
"obat untuk membuat lukanya tidak infeksi (Nirmala juga sebenranya tidak yakin mengenai. Dia hanya asal menebak karena setiap sakit selalu di beri antibiotik) dan dia juga perlu obat untuk mempercepat penyembuhan lukanya."
"ah. kalau itu aku tau. baiklah aku akan ambilkan semua obatnya"
"oh. dan juga obat demam. Dia juga perlu banyak makan untuk memulihkan energi dan darahnya."
"tentu saja. kau tunggu lah disini aku akan segera kembali."
Nirmala merawat anak itu, membersihkan darahnya, mengganti bajunya, dan mengganti handuknya.
Mata bocah itu terbuka. Menatap wajah Nirmala yang didekatnya.
"Bagaimana perasaanmu?
kau akan baik baik saja, tidak perlu khawatir"
Seorang pria paruh baya masuk membawakan makanan. dua mangkuk bubur.
"Neng, dimakan dulu buburnya, satu buat si neng satu buat si ujang, simbah mau ke kota dulu, titip si ujang sbentar ya."
"iya mbah."
Nirmala akan menyuapi bocah itu tapi dia terpejam lagi.
Bayu datang dengan sekantong herbal, mereka membuatkan obat itu segera.
Nirmala memaksa nya bangun dan makan, meski hanya sedikit, dia harus makan.
Untung nya kondisi bocah itu tidak terlalu parah.
Seharian penuh mereka mertawatnya. hingga malam tiba.
"Sepertinya kau memang bukan berasal dari jaman ini, banyak sekali yang kau ketahui."
"Sebenarnya tidak banyak. ini adalah hal yang sudah biasa disana.
oh. Simbah sudah pulang, kita juga sebaiknya pulang. biar simbah yang merawatnya."
"Apa tidak apa meninggalkannya sekarang?"
"hei. kau adalah tabib, kau harusnya lebih tau keadaan dia. lihat dia, sudah bisa makan dua mangkuk bubur."
Mereka melirik melihat bocah itu makan dengan lahap di temani simbah.
"benar, sepertinya sudah tidak apa apa."
"kurasa kita harus beritau hal ini kepada tuan Wiriya. Mereka pasti ingin informasi kan?"
"benar juga, kalau ini ulah tentara mongol maka semua akan gawat."
"mbah, untuk sementara rahasiakan semua mengenai bocah ini ya. anggap saja dia sudah mati."
"kenapa begitu neng,"
Bayu berpikir.
"Benar, dan kau bocah, jangan pernah keluar dari rumah ini, jika mereka tau kau masih hidup, mungkin kau dalam bahaya."
"bahaya?"
__ADS_1
"hmm, kau melihat apa waktu itu sampai seperti ini.?"
"aku.."
"eh tunggu, tidak perlu kau jawab, apa kau kendengar suara yang sangat keras? seperti, dor!! begitu."
Dia mulai menangis "iya, ayahku, apa dia sudah meninggal?"
"Kita akan mencarinya nanti,"
"ada yang perlu kami lakukan.
jadi kau tidak boleh kemana mana."
"Tidak perlu khawatir, dan tidak perlu kabur, kami bukan orang jahat, kami akan membantumu."
Dia tersenyum. "aku tau anda orang baik."
"ayo," ujar bayu. "mbah titip ya"
Bayu dan Nirmala pun meninggal kan rumah itu.
"eh, Nirmala, kenapa kau bertanya padanya tapi tidak membiarkannya menjawab?"
"disaat seperti ini jangan percaya siapapun."
Mereka berpapasan dengan Dhika. Dia bersama 2 orang pengawal.
"bagaimana keadaannya?"
"dia baik baik saja." ujar bayu.
"kau mau kesana?" tanya nirmala.
"Ayah ku menyuruh mereka untuk mengawasi nya."
"Ayahmu sangat cerdas."
Nirmala sedikit berbisik pada Dhika
"ah Dhika kalau boleh aku memberi saran, gantilah pakaian mereka dengan baju seperti petani atau semacamnya. berpura puralah menjadi kenalan bocah itu. aku merasa mereka terlalu mencolok dengan pakaian seragam seperti ini,
kau tau, aku merasa tidak bisa mempercayai sisapapun saat ini. situasi saat ini sepertinya sangat rumit."
"aku mengerti."
"oh. aku ingin segera menemui tuan Wiriya, ada hal yang harus aku tanyakan."
"dia sedang ada tamu tadi, sepertinya tamu penting dan tidak bisa di ganggu, mungkin besok kau baru bisa bertemu."
"kalau begitu aku akan menunggu."
Mereka bertiga kembali ke kediaman Wiriya. Ketika mereka tiba di depan pintu, Pintu tertutup rapat. Memang sedang membicarakan hal penting.
Tuan Wiriya sedang bersama dengan penjual informasi. Mereka sedang membicarakan sebuah pertukaran. Informasi mengenai senjata apa yang sedang di ujicoba oleh tentara mongol. Dhika masuk tanpa tanda. berbisik kepada Ayahnya,
lalu tuan Wiriya pamit untuk meninggalkan ruang rapat beberapa saat.
Tuan Wiriya, Dhika, Nirmala, dan Bayu pergi ke ruangan lain untuk membahas suatu hal.
Bayu menceritakan semua tentang bocah itu. Terluka karena senjata tembak. Kebetulan sekali, tamu itu juga menjual informasi tentang senjata yang dipakai tentara Mongol.
Harga informasinya sangat mahal.
Nirmala "Tuan, aku sedikit tau mengenai senjata ini. Jika orang itu berniat baik di tanah ini, seharusnya dia tidak jadikan hal ini sebagai bisnis"
Tuan Wiriya "aku pikir juga begitu, namun informasi darinya selalu tepat"
Nirmala "Tuan untuk saat ini, jangan mudah percaya kepada orang lain. Jika dia bisa menjual informasi mengenai musuh, bukankah dia juga bisa melakukan sebaliknya, menjual informasi kita kepada musuh.?"
Bayu "benar juga, kalau begitu kita bisa percaya pada siapa?"
Nirmala "semua terserah tuan, aku hanya ingin menyapaikan apa yang terpikir."
Tuan Wiriya "apa kau bisa dipercaya?"
Nirmala tersenyum. "bayu bagaimana menurutmu, apa aku bisa dipercaya?"
Bayu "karena informasi dari mu aku bisa menolong bocah itu, dan dia jauh lebih baik sekarang."
Nirmala "Bagaimana denganmu Dhika, apa menurutmu aku bisa di percaya?"
Dhika "mengenalmu selama ini, tidak ada satupun yang meragukan ku."
Nirmala tersenyum. "Tuan Wiriya, jika kau tidak percaya padaku, apakah kau tetap menjamin kebebasanku?... Semua terserah padamu Tuan. jika anda ingin membeli informasi itu, silahkan saja, aku tetap akan membertitahumu semua yang kutau."
Pada akhirnya Tuan Wiriya tetap membeli informasi itu. dengan harga yang mahal, hanya beberapa kata saja yang bisa di dapatkan. bahkan tanpa bukti jelas. hanya secarik kertas bergambar.
Tuan Wiriya menyimpan kertas bergambar itu di meja. Diperlihatkan kepada semua orang. Dhika, Bayu, Nirmala dan Tuan Pambudhi.
Sebuah gambar senapan laras panjang, gambar itu terlalu sederhana, bahkan bagian bagiannya tidak digambar dengan mendetail.
"bagaimana menurutmu?" tanya Tuan Wiriya kepada Nirmala
"Apa itu sebuah senjata?" ujar bayu.
Dhika hanya mendengarkan dengan seksama.
"Itu memang senjata" ujar nirmala. "tapi itu tidak lengkap."
"MMaksudnya" tanya Tuan Wiriya.
"ah, sebnarnya ada banyak jenis senjata seperti itu, ada yang laras pendek dan laras panjang, itu berfungsi melontarkan sebuah besi, dia meluncur dari lubang ini, menggunakan bubuk mesiu, (nirmala menunjuk bagian bagian yang di yakininya) pemantiknya yang ini, mesiu itu akan menghasilkan dorongan yg sangat kuat, melemparkan batu besi itu dengan sangat cepat, tapi kurasa senjata yang sekarang ini jarak jangkau nya tidak terlalu jauh."
"Sebenarnya kau itu siapa?" tanya Tuan Wiriya. "Dia bilang ini adalah senjata yang baru di buat dan dalam tahap uji coba. Kenapa kau tau sampai mendetail?"
" ah. hmm. hehe, bisa dibilang kalau aku itu,...."
"Cenayang" ujar bayu.
Dhika menatapnya, begitupula Nirmala satu kata yang tidak pernah terfikir oleh mereka berdua.
"begitu, pantas saja kau tau banyak. mengatakan hal ini, kau tidak takut ? jika mereka tau mungkin kau akan berada dalam bahaya."
"benar juga" ujar nirmala.
"tidak perlu khawatir, aku akan melindungimu" ujar Dhika.
"ya, aku juga." ujar Bayu
"Tuan kau liat itu, sepertinya aku tidak perlu khawatir." tersenyum
" Lalu bagaimana cara mengatasinya?"
"senjata ini sepertinya memiliki kelemahan, kau bilang ini masih ujicoba? berarti mereka tidak punya banyak senjata seperti ini. Dilihat dari pengaturannya, sepertinya, dia tidak bisa menembak dalam waktu jeda yang singkat. Dia harus memasukan pelurunya, memasang mesiunya, dan membuat pemantiknya panas. sama seperti meriam. kau tidak perlu khawatir kan itu. hehe."
"bagaimana jika mereka punya banyak?" Tanya Tuan Budhi
"Beberapa info yang aku dapat, sudah ada delapan orang mati dengan luka seperti bocah itu."
"hmmm...
Tuan, jika kau ingin tahan terhadap tembakannya kau perlu baju besi untuk melindungi tubuhmu,
jika kau ingin menghindari tembakannya, percaya lah senjata seperti ini, jika kau berhadapan muka secara langsung, kau hanya perlu menghindari moncongnya, sama seperti panahan. Jangan sampai mengenai tubuh bagian vital.
dan jika kau ingin tau apa yang bisa mengalahkannya, kukira, bubuk mesiu tidak akan bertahan jika terkena air."
"kenapa air?"
"arang basah tidak akan mengeluarkan api meski dibakar langsung dengan api. kurang lebih begitu. Bayangkan saja. jika ada orang memegang senjata ini di bawah hujan dengan berhadapan langsung. Maka dia orang yang bodoh.haha "
"Kenapa begitu" tanya bayu.
" ah. berpikirlah sedikit"
"Mesiu basah tidak dapat menembak, jika masih bisa menembak kau hanya perlu menghindari moncongnya saja. hindari itu ketika dia menarik tuasnya." Jawab Dhika
"haha. memang dhika sangat pandai"
"ah Tuan Wiriya. informasi ini tolong jangan bilang kalau aku yang memberitahumu ya."
"Aku mengerti. Tidak perlu khawatir. Aku akan menyampaikan informasi ini kepada serikat. Apa bocah itu baik baik saja? " tanya Tuan Budhi kepada Bayu. "Aku akan mengirim tabib pribadi kesana."
"Sudah jauh lebih baik, informasi dari nirmala sangat membantu"
"sepertinya kami juga memerlukan info ini tolong beritau aku bagaimana kalian mengatasinya,"
Bayu menceritakan semua pengalamannya.
"Bagaimana jika jauh dari keramaian?" tidak ada yang bisa menolong.
"Hentikan pendarahannya" Bayu dan Nirmala menjawab serentak.
Nirmala melanjutkan "jika tidak mengenai bagian vital seharusnya bisa di atasi"
__ADS_1