Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Reruntuhan


__ADS_3

*Papah.....


Mamah....


Tidak kah rindu padaku*?


Rinaya terbaring di ranjang rumah sakit. Matanya terpejam untuk waktu yang lama. Tidak ada yang berharap dia untuk bangun. Tidak ada juga yang berharap dia mati. Ratih menunggunya siang malam kecuali ketika dia kerja. Sesekali meneteskan air matanya. Iba melihat tubuh Rinnaya dipenuhi alat medis. Orang tuanya hanya sesekali datang beberapa menit lalu pergi lagi.


Hati Ratih selalu tersentuh ketika mata Rinaya mengalirkan airmata.


"Kita sama sama sebatangkara di dunia ini. Berusahalah untuk kembali. Aku akan selalu bersamamu"


Entah Rinaya mendengarnya atau tidak. Ratih tetap setia menemani. Terkadang berbicara seolah Rinaya bisa mendengarkannya.


Dokter dan suster datang dan memeriksa keadaannya


"Dokter, kira kira kapan dia akan bangun?"


"Itu tidak bisa di prediksi. Memang masa kritisnya sudah lewat tapi jika tuhan berkehendak lain kita tidak bisa berbuat banyak. Teruslah berdoa."


"Aku merindukannya"


"Ratih, kau teman yang sangat baik. Aku salut. Ketika kedua orangtuanya bahkan sulit untuk di hubungi. Kau masih disini. Aku tidak tau apa ini akan berhasil tapi.....


Ku dengar tentang kehidupannya dan aku juga merasa kasihan padanya, dia seperti tidak ingin kembali. Tidak ada hasrat untuk dia harus kembali. Karena itu, teruslah semangati dia. Dia pasti akan mendengarmu."


------


Nirmala terbaring di dasar Goa. Setengah badannya terkubur bebatuan dan tanah. Tidak sadarkan diri. Sekelebat memori muncul dalam mimpinya. Kenangan kenangan masa kecilnya. Bahagia bersama orangtuanya. Tertawa tanpa adanya raut kesedihan. Dia merindukan itu. Merindukan momen momen yang penuh tawa itu.


Sementara Dhika dan Haris berada disisi lain. Berusaha keluar dari reruntuhan.


"Haris kau baik baik saja?"


"Ya, aku baik." Dia berdiri dari tempatnya. "Dimana ini?"


Sebuah ruangan besar dengan beberapa peti di dalamnya. Mereka mengamati sekeliling.


"Kita terjatuh dari atas. Tidak bisa kembali ke atas. Terlalu jauh. Kita harus mencari jalan lain. Kita cari Bayu dan Nirmala."


"Dhika, kau lihat itu?"


"...."


"Peti peti itu. Apa ini sebuah makam?"


Dhika menyalakan obor yang berada di ruangan itu. Dengan menggesekan bebatuan yang sudah tersedia di sana. Api yang menyala langsung menjalar ke seluruh titik titik penerangan. Mekanisme yang canggih untuk jaman yang kuno.


Mereka melihat sekeliling. Mengamati dengan seksama. "Ini memang sebuah makam" ujar Dhika. "Tapi Makam siapa ini?"


"Haris!! Dhika!! Nirmala!! Kalian dimana??" Seseorang berteriak. Entah darimana asalnya. Seperti berada di balik dinding.


"Itu Bayu?"


"Bayu??? Kau dimana??"


"Haris kau baik baik saja?"


"Ya aku tidak apa apa. Aku bersama Dhika"


"Nirmala tidak bersamamu?"


"Tidak. Kalian carilah jalan keluar aku akan mencari Nirmala"


"Kau juga cari jalan"


"Ya tentu saja"


Mereka menghela nafas. Mereka kebingungan dengan apa yang mereka alami.


"Ini ruang tertutup bagaimana kita bisa mencari jalan keluar?"


"Orang yang membuat makam ini pasti membuat pintu masuk terlebih dahulu. Kita harus mencarinya"


Mereka mencari di setiap sudut ruangan mencari sesuatu yang mungkin saja bisa menjadi sebuah pintu. Atau seperti tuas atau tombol yang mungkin saja menunjukan sebuah mekanisme lain.


Sementara Bayu ada di ruangan lain. Bernasib sama. Sendirian. Terpisah di tempat keramat seperti ini. Berbeda dengan Dhika dan Haris. Bayu terjebak di dalam ruangan yang lebih mengerikan. Dimana mistis lebih terasa. Tengkorak berserakan dimana mana. Namun yang membuat ngeri bukan hanya itu. Tengkorak tengkorak itu seakan mengalami hal yang paling buruk di dunia. Sebagian berada di dalam kurungan sempit. Sebagian di kursi pasung. Sebagian di gantung di langit langit sebagian berbaring. Bukan hanya itu. Mereka seakan tewas tersiksa.


Namun anehnya lagi. Berpuluh tengkorak berlimpangan dimana mana. Bayu bertanya tanya ada apa semasa mereka hidup. Pemandangan itu membuatnya sedikit ngeri.


Hanya satu obor tersedia disana. Dengan batu pemantik di sampingnya. Bayu mengelilingi tempat itu dengan teliti. Mencoba mencari jalan untuk menemukan yang lainnya.


Sayup sayup terdengar suara. Semakin lama semakin berisik. Suara itu berdengung di kepalanya. Berteriak. Tertawa marah. Sedih. Sakit hati. Seakan semua tercurah disana. Semua itu masuk ke dalam pikirannya.


Bayu mencoba memfokuskan pikirannya. Sebuah tuas dia raih. Seketika sebuah pintu terbuka. Dia harus segera pergi dari ruangan itu. Sebelumnya dia membuat sebuah obor dengan menggunakan kain dari sebagian kecil bajunya yang dia robek.


Bayu berlari meninggalkan ruangan itu menyusuri lorong. Hingga berpapasan dengan Haris dan Dhika.


Bayu "Dimana Nirmala?"


Dhika menggelengkan kepala.


Bayu "Kita harus mencarinya"


Mereka berjalan menelusuri lorong goa.


Haris "Ini tempat apa. Banyak hal aneh"


Dhika "Mungkin ini sebuah makam"


Bayu "Atau penjara."


Dhika "Fokuskan pikiranmu"


Bayu "Ya tentu saja"


Dua cahaya obor menerangi perjalanan mereka. Entah dimana mereka berada. Mereka merasa seperti sedang dalam bahaya. Suara suara itu tidak juga meninggalkan Bayu meski sudah jauh meninggalkan ruangan menyeramkan tadi.


Haris "Sebenarnya ini goa apa?"


Berjuta pertanyaan pun muncul di pikiran Dhika dan Bayu. Sejenak setelah keluar dari lorong. Sebuah ruangan yang amat besar. Terdapat sebuah reruntuhan didalamnya. Sama seperti ketika Bayu dan Dhika terjatuh dari atas. Sesuatu terbaring disana. Setengah terkubur.


"Nirmala!!" Sejenak Bayu berlari menghampiri.


Benar itu Nirmala tergeletak tak sadarkan diri. Bayu mencoba segala cara untuk membuatnya bangun.


Dhika "Apa dia baik baik saja?"


Bayu "Hanya pingsan. Kuharap dia tidak terluka parah."


Nirmala perlahan membuka matanya.


"Bayu...ah..kakiku..."


Bayu segera mengeluarkannya dari reruntuhan. "Biar ku lihat"


"Sakit sekali" sebuah luka goresan yang cukup besar. Pasti terjadi akibat reruntuhan tadi.


Bayu mengeluarkan semua obat obatan yang dia bawa. Dan melakukan sesuatu dengan kakinya. Membalutnya dengan kain.


Dhika "Kau menangis?"


Nirmala menghapus airmata dari pipinya.


"Oh kurasa tadi aku bermimpi"


Terdengar sesuatu keluar dari reruntuhan yang sama. Beberapa orang prajurit ternyata bernasib sama.

__ADS_1


"Dimana ini?"


"Apa itu?"


Prajurit itu terlihat panik dengan apa yang dilihatnya.


Haris menyalakan salah satu penerangan. Seketika penerangan lain menyala. Dengan mekanisme yang sama dengan di ruang makam tadi.


Semua orang terbelalak melihat hal yang mengerikan. Firasat akan adanya bahaya ternyata memang tepat adanya.


Mahluk bayangan itu ada banyak. Beberapa sudah berwujud manusia. Beberapa masih dalam bentuk aslinya. Dikelilingi mayat mayat yang sudah mati mengkerut bagai mumi.


Semua orang terpaku.


Perlahan mata mereka bergetar. Selangkah berjalan mundur berharap mahluk itu tidak terbangun.


Nirmala "Astaga. Bayu, Dhika, Haris kita harus pergi dari sini."


Mereka berlari mengitari mahluk mahluk itu dengan tanpa suara. Berharap ada jalan keluar lain yang bisa di lewati. Sebuah pintu besar dari batu sedikit terbuka. Cukup untuk dilewati. Prajurit yang tertinggal itu juga mengikuti mereka. Berusaha menyelamatkan diri.


Nirmala berlari tertatih paling belakang. Dia tidak dapat berlari cepat karena cedera nya. Dia terjatuh. Suara suara berisik mereka membuat mahluk mahluk itu bangun.


Bayu yang membantunya berdiri perlahan memutar pandangannya ke arah mahluk itu.


Satu cambukan hampir saja mengenai mereka.


Haris "Cepat cepat. Kami akan menutup pintunya"


Bayu membantu Nirmala untuk berlari lebih cepat. Beberapa cambukan lain benar benar hampir melukai mereka.


Semua orang menutup pintu besar itu begitu Bayu dan Nirmala melewati pintu. Bayu dan Nirmala terengah di depan pintu.


Dhika "Kalian baik baik saja?"


Bayu dan Nirmala mengangguk.


"Hei kau" Seorang prajurit berbicara pada Nirmala. "Semua orang bilang jika kau yang memanggil mahluk itu. Cepat kembalikan mereka ke asalnya. Kau harus bertanggung jawab terhadap seluruh nyawa."


Suaranya bergetar ketakutan. Mental nya pasti terguncang. Namun Nirmala tidak menghiraukan itu. Kepanikan memang selalu membuat keributan lebih parah.


Prajurit lain menghunuskan pedangnya.


Dhika "Turunkan senjatamu. Bukan saatnya untuk berselisih"


"Dia benar. Semua ulahmu. Jika kau mati mungkin saja mereka akan pergi."


Selama mereka bersitegang. Bayu melihat ke sekeliling. Berbeda dengan ruangan tadi. Disana terasa lebih tenang. Bayu tidak mengkhawatirkan prajurit itu. Rasa takut mereka tidak akan bisa melukai siapapun.


Bayu "Kalian diam lah. Lihat kita berada dimana."


Sebuah ruang besar berdinding batu berdiri tegak pilar pilar batu berukir. Kolam besar di tengahnya terlihat cukup dalam. Namun airnya sangat hitam. Seperti terdapat sesuatu disana.


Bayu mendekati kolam itu. Sambil berkata "Kalian carilah pintu keluar dari sini. Aku merasa semakin tidak aman."


Namun semua orang masih mematung.


Brak!!


Sesuatu terdengar dari balik pintu batu yang tadi di tutup. Sontak membuat panik semua orang. Mereka berlari tunggang langgang mencari sebuah celah untuk meninggalkan goa itu.


Perlahan Bayu mundur dari tempatnya. Melihat sesuatu sedikit demi sedikit muncul di permukaan air. "Astaga apa itu"


Nirmala "Bayu menjauh dari sana"


Bayu berlari menghampiri Nirmala.


"Aku menemukan jalan" seseorang berteriak.


"Lari cepat lari"


Nirmala yang tertinggal di belakang bersama bayu merasa tidak aman. Mereka berdua terus menatap ke belakang takut sesuatu datang tiba tiba. Haris berada paling depan mencoba segala cara untuk membuka jalur, tapi semua seakan siasia.


Haris "Percuma saja. Tidak ada jalan."


"Kita akan mati, kita akan mati" mereka semakin panik.


Nirmala "Dhika bagaimana menurutmu?"


Dhika "Di kolam mungkin saja ada jalan"


"Kau bercanda? Jika kita kembali kesana kita pasti akan mati"


Nirmala "Aku butuh senjata"


Bayu "Apa yang kau rencanakan?"


Nirmala "Akan ku habisi mereka"


Dhika berujar pada salah satu prajurit "Berikan pedangmu"


Prajurit itu malah menghunushakn pedangnya. Diikuti prajurit yang lain. Mereka tau Dhika sangat kuat. Dan mereka tau Dhika di pihak Nirmala.


Mereka mengira Dhika akan mengeksekusi mereka di tempat itu. Kepanikan mereka membuat jalan pikirannya menjadi buntu.


Tak pikir panjang Dhika merebut salah satu pedang yang di pegangnya. Dan berjalan ke depan Nirmala.


Dhika "Aku akan mengawalmu"


Nirmala "Dhika ingatlah ini mungkin tidak terasa mudah tapi selalu alirkan energi spiritualmu. Mereka tidak akan terpengaruh jika dengan senjata biasa."


Dhika "Aku mengerti"


Bayu berinisiatif dan merebut pedang salah seorang prajurit. "Kau tidak bisa melakukannya kan? Biar aku yang menghadapi mahluk itu. Berdirilah di belakang kami."


Begitu juga dengan Haris yang mengikuti gerak mereka. Namun Haris tetap memilih di belakang barisan.


Dhika "Apa rencanamu?


Nirmala "Menurutmu mana yang lebih berbahaya? Mahluk dalam kolam. Atau mahluk di dalam sana?"


Dhika "Entahlah tapi kurasa mungkin kita bisa menghadapi manusia di dalam ruangan itu. Lagipula aku tidak tau seberapa bahayanya mahluk di kolam."


Bayu "Jika kulihat, mahluk itu bereaksi terhadap suara. Aku akan melihat dulu. Kalian tunggu lah disini."


Beberapa saat Bayu pergi ke ujung lorong melihat keadaan di kolam. Dengan sangat tenang dan hati hati. Lalu kembali.


Dhika "Bagaimana?"


Bayu "Tidak ada. Kurasa dia kembali ke air. Tapi ada yang aneh." Bayu melihat keadaan kaki nirmal yang terluka. Sepanjang jalan meneteskan darah. Tidak sedikit. Sejak keluar dari pintu hingga kini. Darah masih terus mengalir. Dia mengganti balutan di kaki Nirmala. Merobek sebagian bajunya. Membalutkan lagi di kakinya. "Kau lihat, darah menetes dimana mana. Tapi tidak ada di sekitar kolam. Kurasa dia membersihkan darah itu. Tapi dia tidak bisa menjauh dari air."


Nirmala "Kalau begitu aku kan ke ruangan itu."


Dhika "Jika mereka sebanyak itu ku yakin kita tidak akan menang"


Bayu "Kurasa kita harus memikirkan suatu trik untuk membunuh mereka semua."


Nirmala "Sesungguhnya aku punya ide, tapi aku merasa tidak memiliki kekuatan. Mungkin aku hanya bisa melakukannya beberapa kali saja."


Bayu "Melakukan apa"


Nirmala "Kau akan tau nanti. Di dalam sana banyak senjata. Aku membutuhkannya untuk keluar dari sini. Diluar sana mungkin masih ada mahluk mahluk itu."


Dhika "Beritau aku rencana mu"


Sejenak Nirmala termenung. Menoleh ke arah prajurit tunas itu. Mereka tidak akan bisa melakukan apa apa. "Kalian tunggulah disini. Kalian hanya akan merepotkan ku nanti. Tetap diam dan jangan bersuara."


Nirmala "Bayu kau melihat simbol formasi di lantai sana?"

__ADS_1


Bayu "Iya memang ada."


Nirmala "Tunjukan keahlianmu"


Bayu "Ha?"


Nirmala memutar matanya. Seakan ide yang baru saja muncul seketika dia hapus kembali.


Nirmala "Hmm. Kalian buatlah mereka tetap di dalam simbol formasi itu. Aku akan menghancurkan nya."


Dhika "Beritau secara detail"


Nirmala "Formasi itu masih utuh, aku akan menembakan anak panahku kesana. Semua mahluk yang berada di atasnya. Akan ku kembalikan ke asalnya. Secara paksa."


Dhika "Aku pernah mendengar itu. Tapi apa kau bisa melakukannya?"


Bayu "Apakah sama seperti formasi pengikat?"


Nirmala "Kurang lebih begitu. Bisa dibilang, aku hanya mensabotase itu menjadi sebuah ledakan yang dapat mengembalikan mereka ke asalnya."


Dhika "Portal penghubung?"


Nirmala mengangguk.


Dhika "Baiklah aku mengerti"


Bayu "Kau benar benar bisa melakukannya?"


Nirmala "Aku pernah melakukannya, secara tidak sengaja. Ayo kita lakukan. Ini.. pertaruhan kita."


Bayu tersenyum. "Taruhan nyawa? Baiklah. Lebih baik daripada hanya diam dan lalu mati"


Haris "Semudah itu kau mempertaruhkan nyawa? Apa kau gila?"


Bayu "Kau boleh menunggu disini bersama mereka"


Tentu saja Haris menolak berdiam diri. Jujur saja Haris tidak mengerti apa yang mereka bicarakan tadi. Yang pasti satu yang dia mengerti. Pancing mahluk itu tetap di dalam formasi.


Mereka mengendap agak jauh dari tepian kolam. Khawatir mahluk itu muncul kembali. Bayu memimpin dan Dhika melindungi dari belakang.


Perlahan bayu mulai mendorong pintu batu itu. Berat. Sangat berat. Haris membantu mendorongnya. Perlahan mulai terbuka. Sedikit demi sedikit. Bayu mengintip dari celahnya.


Bayu "Nampak berbahaya"


Nirmala "Kau takut?"


Bayu "Tidak akan pernah"


Dhika "Bergeraklah sesuai rencana"


Mereka memasuki ruangan satu persatu bergerak menyebar sesuai rencana. Mahluk itu masih belum menunjukan reaksi apapun. Diam berdiri mematung seperti manekin.


Mereka masuk satu persatu. Berpencar ke segala arah. Nirmala menunggu di depan pintu.


Brakk!!


"Aaaah" sebuah cambukan menggores lengan Haris. Untung lah tidak parah. Dia berhasil menghindar.


Tapi suara itu membangunkan semuanya.


Semua berlari menyerang Haris.


Nirmala mengambil pisau kecil d pingangnya dan melemparnya ke arah mahluk yang paling depan dengan Haris. Tepat mengenai kepalanya. Mahluk itu pun terjatuh.


"Serang!!" Nirmala berteriak.


Sontak semua orang ikut menyerang. Pasalnya jika yang lain tidak bergerak. Maka Haris akan mati di kroyok manusia manusia kerasukan itu.


Karena teriakan Nirmala mahluk itu bereaksi dan berbalik menyerangnya.


Seketika dia berlari mengambil sebilah pedang dari seorang mayat yang tergeletak disana. Mengayunkannya menyerang mahluk mahluk itu. Begitu juga dengan Bayu dan Dhika.


Mahluk bayangan itu berbahaya. Namun mereka memiliki kelemahan. Jika mereka masih dalam bentuk asli. Mereka tidak dapat bergerak cepat. Hanya saja. Cambukan lidahnya benar benar mematikan.


Jika sudah berwujud manusia, tidak ada lagi cambukan. Namun kekuatan mereka menjadi berlipat ganda. Mereka bisa sepandai manusia yang di rasukinya. Satu satu nya kelemahan adalah kau harus menebas kepalanya. Jika fungsi otak sudah mati. Mereka pun mati.


Semua bertarung sekuat tenaga. Dari sekian banyaknya. Mereka benar benar kewalahan.


Nirmala mulai ragu. Apakah bisa, ataukah tidak. Semua bergantung padanya.


Namun dia segera menepis pikiran itu, 'yang penting berusaha terlebih dahulu', itu pikirnya.


Nirmala memfokuskan pikirannya. Energinya mulai dia alirkan ke kedua tangannya. Dia mulai membidik ke arah tegah simbol formasi. Sebilah anah panah muncul diantara busur energinya. Menunggu saat yang tepat untuk di tembakan.


Bayu, Dhika dan Haris merasa takjub. Ditengah pertarungan mereka bisa merasakan kekuatan baru milik Nirmala.


Dia bergumam seolah membaca mantra, melepaskan anak panahnya melesat melewati semua yang di depannya. Tepat menuju tengah formasi.


Sesuatu bereaksi dengan simbol itu. Bercahaya. Dengan secepat kilat mahluk mahluk itu tersedok kedalamnya. Menyisakan tubuh tubuh yang sudah tak bernyawa.


Hanya tersisa 2 mahluk di luar formasi. Mereka harus membunuhnya sendiri.


Nirmala terengah engah. Keringat berbulir di keningnya. Wajahnya pucat. Bayu segera menghampiri ketika semua selesai. Nirmala terduduk di tempatnya.


Bayu "Kau baik baik saja"


Nirmala mengangguk.


Menggunakan energi spiritual untuk membentuk suatu benda itu sangat sulit. Apalagi keadaannya yang masih belum terlalu pulih dari racun. Juga menahan rasa sakit di kakinya.


Baru saja sejenak bernafas lega. Sesuatu tiba tiba membelit Nirmala. Dia terlalu dekat dengan pintu. Mahluk dalam air mendengar keributan. Dan melihat Nirmala di balik pintu. Nirmala terpental jauh ke tengah kolam.


Sontak semua orang berlari. Juga prajurit yang tadi bersembunyi di lorong.


Dhika melemparkan pedangnya. Memotong sesuatu yang membelit Nirmala. Teelihat seperti lidah cambuk mahluk bayangan.


Nirmala jatuh masuk kedalam kolam. Kolam yang sangat dalam.


Warna hitam itu ternyata adalah bagian dari tubuhnya.


Lidah cambuknya seketika terbentuk kembali. Kembali menyerang. Kini prajurit itu di lilitnya. Mulutnya mulai terbuka lebar. Mahluk itu melemparkan korbannya kedalam mulutnya. Semua orang tidak bisa berkutik. Dia begitu besar.


Bayu berteriak "Menjauh dari kolam"


Nirmala muncul di permukaan air. Menuju ketepian. Mahluk itu tidak menyadarinya. Mahluk itu bergerak berdasarkan gerakan. Dan dia tidak bisa meninggalkan air.


Nirmala masih di tepian. Mematung diam. Berharap mahluk itu benar benar tak menyadarinya. Bayu dan yang lainnya pun terdiam. Nirmala mulai membentuk sebuah energi di tangannya. Dia akan melakukannya lagi. Namun sebuah cambukan berhasil mengenainya. Dia terlempar tidak jauh dari posisi Dhika berdiri. Dengan refleks Dhika meraihnya. Membawanya kembali kedalam ruangan. Dan menutup pintunya.


Nirmala terbatuk. Benturannya pastilah sangat kuat. Hingga darah menetes dari mulutnya.


Nirmala "Di dalam kolam. Ada lubang besar. Kurasa itu terhubung ke luar. Uhukk uhuk..!!"


Haris "Tapi bagaimana kita melewati mahluk itu.


Dhika "Kurasa kita bisa membakarnya. Dia tidak meninggalkan air itu berarti sumber kehidupannya. Jika kita membakarnya dia akan melemah."


Bayu "Haris, kau perenang yang handal. Aku akan mengalihkan mahluk itu kau segera lah keluar minta bantuan. Bawalah senjata terbaik dari dalam. Juga bawa prajurit yang tersisa."


Haris "Bagaimana denganmu?"


Bayu "Aku dan Dhika akan menghadapinya. Setidaknya salah satu dari kita harus berhasil keluar. Aku akan menyusul jika berhasil. Jika sulit. Aku menunggu kau kembali."


Bayu "Aku mengandalkanmu."


Haris merasa keberatan tapi tidak ada jalan lain. Nirmala pasti tidak bisa bergerak lagi. Dan menghadapi mahluk itu tidak mungkin bisa sendiri.


Haris "Baiklah. Pastikan kau bertahan hingga aku kembali"

__ADS_1


__ADS_2