
Sudah lebih dari seminggu Nirmala tinggal di rumah Tuan Budhi.
Dia menganggap Nirmala seperti putrinya sendiri.
Sesekali Nirmala melihat Ayu, di balik benteng istana Mandalika. dan sesekali melihat Dyah.
Pertemuan pertama dengan Ayu adalah saat di toko herbal Sae, dia meminta Bayu mengambil herbal langka di gunung entah apa Nirmala lupa namanya.
Ayu adalah putri Satu satunya dari keluarga Wilis. Dia sangat ramah tidak seperti anggota keluarga lain yang kadang sangat arogan dan kadang bisa berbuat kejam. Semua orang menyayangi Ayu. Termasuk Dyah. Dyah adalah orang yang paling dekat dengannya.
Kabar burung mengatakan kalau Dyah adalah anak tidak sah dari Tuan Wilis. Atau bisa di bilang bahwa Dyah dan Ayu adalah bersaudara beda ibu, tapi tidak ada yang membenarkan kabar burung itu. Semua orang menutup diri akan hal itu.
Suatu hari Nirmala berpapasan dengan Dyah yang hendak pergi kepasar. Membeli herbal, dia bilng Ayu sedang tidak enak badan. Kebetulan Nirmala pun akan ke toko Herbal bertemu dengan Bayu dan mereka pergi bersama.
Sesampainya di toko herbal, Bayu sedang tidak ada toko. Akhirnya nirmala hanya mengantar kan dan menemani Dyah saja.
Mereka berbincang panjang lebar, mereka pun semakin dekat, Nirmala sangat senang, dapat teman perempuan seusianya.
Herbal yang dibelinya ternyata cukup banyak.
Nirmala membantu membawakan sebagiannya. Hingga masuk ke dalam Istana.
Begitu memasuki gerbang, Nirmala memutar matanya melihat sekeliling, begitu mewah dan indah, bahkan ada taman bunga yang luas di dalam nya.
"Wah.. pantas saja di sebut istana, memang semegah istana"
Terlihat seperti istana hanya saja tidak sebesar itu. Mungkin karena itulah di sebut istana Mandalika, meski sebenarnya istana ini adalah milik pribadi keluarga Wilis.
Dyah bilang sedang kekurangan tenaga, karena beberapa pelayan sedang cuti pulang kampung, jadi segala hal dilakukan oleh Dyah seorang diri. Khususnya untuk mememnuhi kebutuhan Ayu.
"Nirmala maaf merepotkanmu. Sebenarnya kami memang kekurangan tenaga. Sebagian besar pelayan yang melayani Ayu sedang cuti dan pulang kampung, jadi aku sedikit harus bekerja keras"
"Aku bisa bantu jika memang dibutuhkan"
"Benarkah? Wah aku merasa sangat terbantu"
"Mungkin sebenarnya tidak banyak yang bisa aku lakukan. Tapi kurasa lebih baik daripada hanya dilakukan seorang diri."
"Kau benar. Terimakasih banyak"
Mereka membuat sesuatu di dapur. Memasak untuk makan malam, membuat ramuan herbal untuk anggota keluarga wilis.
Mereka tidak sakit tapi mereka sangat menjaga jesehatan dengan meminum ramuan herbal.
Di balik pintu dapur seseorang mengintip. kepalanya condong ke dalam. sambil tersenyum, dia memanggil "Dyah!!" Rambutnya yang terurai begitu rapi dan berkilau, setengah rambutnya tersanggul di kepalanya, berhiaskan bross bunga melati terbuat dari perak.
Mata nya yang bulat seakan tenggelam ketika dia tersenyum, lesung pipi itu terpatri amat jelas di sebelah pipinya.
Sangat manis pikir nirmala. Siapa pun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta. Begitupun dengan dia, hanya terdiam menatapnya. Bahkan Nirmala masih mematung ketika Ayu sudah tepat hanya satu meter di hadapannya
"Nirmala??"
"ah. iya."
Suara lembut itu seakan membuyarkan lamunannya. Dia berbeda sekali ketika pertama kali bertemu di Toko Herbal Sae.
Dia penasaran apakah Bayu tidak tertarik dengan gadis ini, dia bahkan tidak pernah membicarakannya keculai memang perlu.
"oh, teh ayu? ..."
"kenapa bengong. oh kamu sama Dyah sudah saling kenal ternyata, sejak kapan?"
"sudah cukup lama teh"
Dyah mencubit lengan baju nirmala, "kamu juga sudha kenal sama teh putri?"
"ah, iya pernah sekali bertemu di toko herbal sae, tapi waktu itu aku belum tau kalau dia seorang putri kekuarga Wilis. Hingga aku tanya langsung pada Bayu llagipula penampilannya waktu itu sangat berbeda, memang terlihat anggun dan cantik tapi tidak seelegan sekarang. aku sampai terpesona melihatnya.
Ayu ter senyum kecil mendengarnya.
"Terimakasih. Aku sangat senang mendengarnya"
"oh. kalau kau sudah selesai, temani aku ya, banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu."
"aku?"
"hmm"
"oh. baiklah"
Semua pekerjaan sudah di selesaikan. Nirmala membawa nampan gelas kecil berisi herbal. Memasuki sebuah ruangan yang tak kalah mewahnya. Terlihat ayu memandang ke luar jendela, tirai tirai di sampingnya melambai tertiup angin.
"Teh, obatnya sudah siap" seketika Ayu buyar dari lamunannya dan lalu menghampiri.
Nirmala bertanya sedang apa yang dia pikirkan hingga tidak menyadari dia datang.
"Panggil Ayu saja. Kita seumuran."
"Dyah memanggilmu dengan putri?"
"Iya, semua pelayan memanggilku begitu. Dia tidak mau memanggil namaku"
Ayu bercerita panjang lebar, seakan baru saja memiliki seorang teman.
Bahkan dia bercerita bahwa Dia dan Haris sudah dijodohkan sejak beberapa tahun lalu.
Nirmala sedikit kaget mendengarnya. Keputusan itu sudah di buat antara dua keluarga. Tidak ada yang menolak antara Haris dan Ayu. Hanya saja dia seakan tidak memiliki kebebasan dalam memilih pasangan, meskipun Haris memang tidak lah buruk. Sangat bagus bahkan. Tidak ada gadia yang akan menolak haris mungkin. Seorang rupawan keluarga terpandang. Anak tunggal dari keluarga Wijaya dan dia memiliki segala yang orang lain impikan. Tapi Ayu sedikit ragu akan keputusan itu. Tapi juga tidak terlalu keberatan. Dalam hatinya dia masih sangat abu abu.
"Ayu kau sangat dekat dengan Dyah?"
"Tentu saja" jawab ayu, "hanya saja Ayahku meminta untuk tidak terlalu dekat dengannya"
"Kenapa?
"Tidak tau. Mungkin ada hubungannya dengan kabar burung itu"
Mungkin juga dia akan melarangnya terlalu dekat dengan ku, aku hanyalah orang asing tanpa status. Pikirannya mulai berputar.
Tapi Nirmala sedikit berbeda, dia mendapat pengakuan dan perlindungan dari dua keluarga besar, bahkan dari Tuan Budhi. yang bisa diartikan bahwa Nirmala bukanlah orang biasa. Sedangkan Dyah di anggapnya sebagai pelayan, atau orang dengan status rendah. tidak cocok bergaul dengan Putri keluarga besar.
Nirmala kesal dengan pengkastaan seperti itu.
Mereka berbincang panjang lebar, tertawa membahas yang tidak perlu. Tapi ayu terlihat sangat senang.
Dibalik pintu, Dyah mengintip dan mendengarkan mereka berbicara, namun tidak pernah masuk untuk bergabung. Matanya layu, dan lalu pergi.
---------
Beberapa kali Nirmala datang berkunjung, dan mereka semakin dekat,
Seperti biasa Nirmala datang membawakan ramuan herbal yang sudah di seduh.
Namum kali ini Nirmala merasa sedih. Ayu nampak sangat pucat, dia tidak sehat. Nirmala merasa heran apakah herbalnya tidak berkhasiat, atau Ayu terlalu sakit hingga tidak ada efek dari herbal yang setiap hari diminumnya.
Dengan wajah pucat itu Ayu masih bisa tersenyum. Dia merasa senang dengan kedatangan Nirmala.
Ujung pandangan Nirmala terpaku melihat sesuatu yang tidak asing. Sebuah buku terbuka lebar, salah satu halamannya bergambar sebuah benda. Giok berukir bulan dan matahari. Nirmala dengan penasaran melihat isi buku itu.
"Kau tertarik dengan itu?"
"Ini buku apa?"
"Entahlah. Itu hanya mitos. Lagipula aku tidak mengerti tulisannya."
Nirmala tau itu. Bahkan dia mengerti apa yang tertulis disana.
__ADS_1
Dengan seksama dia baca satu persatu lembar buku itu, dibacanya dalam hati.
Buku itu berisi, keunikan Giok Cahaya dan kekuatan yang ada di dalamnya.
Informasi di dalamnya pun tidak banyak, sama seperti yang dikatakan arwah Laras itu beritahukan. Giok itu memiliki kekuatan perlindungan dan kehidupan dan ada keunikan dalam giok itu yang tidak pernah terpecahkan. Setiap pemilik memiliki kekuatannya sendiri.
Dalam halaman terakhir tertulis giok itu hilang ketika pelayaran ke daratan Sunda, dua ratus tahun lalu. Sedangkan buku itu sendiri di tulis seratus tahun setelahnya menurut cerita turun temurun.
"Ayu. Kau dapat ini darimana?"
"ayahku tertarik dengan itu dan ingin mencari giok itu. tapi aku rasa itu hanya sebuah buku dongeng semata."
"Ayu aku tidak akan berlama disini. Kau harus beristirahat"
"Berjanjilah kau akan datang lebih sering"
"Mn. Baiklah"
Nirmala menemui Bayu d toko, dan menceritakan soal ayu.
"Bayu, kurasa Ayu sedang sakit. Dia terlihat pucat dan lemas. Aku khawatir dengannya"
"Kau semakin dekat dengannya?"
"Dia mengingatkanku pada temanku. Aku jadi lebih memperhatikannya. Kurasa Haris harus diberitau tentang Ayu. Sesekali Dia harus menjenguknya"
"Baiklah aku akan beritau Haris"
Tiba tiba saja datang beberapa orang utusan dari tim penyelidik istana menyebar kertas pengumuman. Lagi lagi mengenai ada nya mata mata pasukan mongol.
Kabarnya, mata mata itu memiliki kemampuan berbahasa asing.
Bayu yang sedang asik menggelar herbal untuk di jemur, tiba tiba terhenti melihat utusan itu datang dan memberinya secarik kertas.
"Kebetulan sekali, setelah aku melihat buku bahasa inggris kemarin tiba tiba saja sekarang ada berita semacam ini, seperti benar benar sedang memojokan aku."
Seketika Nirmala berpikir keras. jika memang sepeti itu maka mereka memang berencana seperti itu. Dan sepertinya mereka juga curiga bahwa Nirmala memiliki giok itu. pasalnya desa Sunyi yang selalu berkabut berubah setelah Nirmala dan yang lainnya melewati desa itu. Satu satunya orang yang mencurigakan adalah Nirmala.
"Kau bisa bahasa Inggris?" tanya bayu.
Nirmala hanya diam lalu meminum secangkir teh di atas meja.
"Inggris sangat jauh dari sini perlu berbulan bulan untuk mencapai daratan itu. Eh, Nirmala, apa ada orang lain yang tau?"
"Aku hanya melihatnya. Aku tidak membacanya dengan lantang."
Nirmala merasa gelisah dengan semua ini
Nirmala mengeluarkan sebuah kantung kecil. hanya berukuran sekitar diameter 5cm memiliki tali melingkar terbuat dari kulit pohon yang kuat, sesuatu terbungkus dalam kantong kecil itu, bergambar wajah senyum, tentu saja itu gambar yang dibuat Nirmala.
"Bayu, bisakah aku meminta tolong padamu."
"ada apa?"
Nirmala memberikan kantung itu. "Aku ingin kau menjaga ini untuku. Pakailah ini dimanapun kamu berada. Jangan sampai dilepaskan. Ini sesuatu yang berharga untuku. Bisakah kau selalu membawanya?"
"Kalau berharga kenapa memberikannya padaku?"
"kau tau. Mungkin mereka akan menangkapku sebentar lagi. aku tidak ingin benda itu hancur bersamaku."
"Kenapa kau bicara seperti itu. Tidak akan ada lagi yang bisa menangkapmu. Dua keluarga sudah menjamin itu."
"Akan selalu ada orang jahat dimana pun kita berada. kali ini, disini, dimanapaun aku berada aku merasa tidak aman. Aku merasa selalu di awasi. Jadi.. kumohon jaga ini dengan baik. Jika sesuatu terjadi padaku, benda ini adalah milikmu. Kau harus terus menjaganya. Lagipula mungkin saja aku akan kembali ke asalku secara tiba tiba, kita tidak tau kan?."
"aku akan menjaganya, aku juga akan menjagamu, tidak akan ku biarkan sesuatu terjadi padamu."
Nirmala tersenyum.
"oh. jangan pernah buka kantong itu ya..."
Keputusan Nirmala kali ini sudah bulat.
Ke esokan harinya, Haris dan Tuan Wijaya datang mengunjungi Istana. Menjenguk Ayu yang kian lama kian memburuk keadaannya. Tentu saja Bayu juga ikut, membawa obat herbal untuk membantu kesehatannya.
Nirmala sedih melihat keadaanya. Dia tidak tau apa sakit yang di deritanya, terlihat seperti anemia akut. Bahkan tabib istana pun tidak mengetahui dengan pasti apa penyakitnya. Semua orang mulai berpikir ulah mistis atau sihir jahat. Itu lebih tidak masuk akal. Lebih sulit untuk dibuktikan.
Kedua keluarga berbincang di ruang tamu entah apa yang mereka bicarakan. Dan anak anak berbincang di ruangan ayu. Semua bertemu dengan Ayu. Melihat wajah pucatnya yang kian lama kian sepeeti mayat. Sungguh sedih melihatnya. Semua orang merasa Ayu terlalu tegar, dalam kondisi ini dia masih bisa tetap tersenyum.
Semua berharap Ayu segera pulih. Sangat sedih melihat gadis cantik berlesung pipi ini terbaring lemas.
Setelah semua pulang. Dyah meminta Nirmala untuk membantunya. Kali ini Nirmala berinisiatip membuatkan sup herbal untuk Ayu. Pemberian dari Bayu.
Dengan telaten Nirmala membuatnya, menyeduhnya dan menghidangkannya kepada Ayu.
Hari itu Nirmala sangat gundah, merasa tidak tenang hati. Keringat berbutir di keningnya,
Nirmala membawa secangkir Herbal itu dan menyuapinya sedikit demi sedikit.
Ayu selalu ingin bersama Nirmala, Ayu selalu ingin di rawat oleh Nirmala. Ayu tidak punya lagi seorang ibu, dan dia mereasa kesepian. Meski Nirmala tidak lebih tua darinya. Tapi dia merasa Nirmala lebih dewasa, bersama Nirmala dia merasakan kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan.
Ketika dengan hati hati Nirmala menyuapinya, ayu berkata " aku sangat senang dan bersyukur bisa mengenalmu" Ayu memeluk Nirmala, sebulir airmata mengalir di pipi Ayu. Begitu juga Nirmala. Ayu merasa benar benar bahagia, Meski tengah sakit, Nirmala selalu ada untuknya.
Dyah datang dan membawakan air putih untuknya. Ayu harus banyak minum agar tidak dehidrasi.
Namum rasa gundah Nirmala kali ini terjawab. Tiba tiba saja Ayu terbatuk dan muntah, darah segar keluar dari mulutnya, semua orang kaget tidak percaya, pelayan yang mendampinginya pun ikut panik. Ayu terkulai lemas di tempat tidurnya memejamkan matanya erat. Sinar wajahnya semakin memudar. Nirmala tidak sadar meneteskan airmatanya lagi.
Semua orang panik dan datang ke ruangan itu. Termasuk tabib dan tuan Wilis.
Tabib itu segera memeriksanya.
Ayu sangat kritis. Nirmala hanya diam menunggu tabib itu bicara. Mereka semua tidak mengerti sebenarnya ayu sakit apa.
Tabib itu mengerut kan dahi. Sementara dua jari nya memeriksa nadi d tangannya.
Seketika dia memeriksa cangkir herbal yang ada di atas meja.
Sengan nada tinggi namun pelan, dia bertanya "siapa yang menghidangkannya"
Dyah sontak menjawab "Nirmala yang membuat dan menghidangkan itu, bahkan menyuapinya. Hampir setiap kali nirmala datang selalu melakukan itu."
Bagai petir disiang bolong, tabib berkata "herbal itu beracun."
Nirmala mengelak. "Tidak mungkin. Herbal itu selalu di bawa dari toko Herbal Sae, tidak mungkin itu beracun" memang, tidak masuk akal jika Bayu calon kaka ipar Ayu memberikan herbal beracun.
Tabib itu berkata "lalu bagaimana bisa ada racun di dalam gelasnya.?"
"tidak mungkin tidak ada apapun yang di masukan kedalamnya. tidak mungkin" semua orang memeriksa herbal yang masih ada di dapur dan memang benar herbalnya tidak ada masalah sama sekali. Bahkan itu herbal terbaik di kota itu.
Tuan Wilis yang sedari tadi panik, semakin memuncak.
Kali ini Nirmala tidak bisa berbuat apa apa. dia sadar ada yang salah dengan situasi ini.
Ada yang salah. Apakah aku dijebak? atau ada hal yang salah dengan cara penyajiannnya? Atau ada hal lain yang tidak ku pahami. Pikirannya mulai bertanya tanya
Tuan Wilis "tahan dia" perintah tuan wilis untuk menahan Nirmala
Dua orang memegang tangan Nirmala dengan kuat "sakit" dia benar benar tidak akan bisa lepas dari dua orang ini
"Geledah dia, cari apakah dia menyimpan sesuatu!"
Mereka mencari pembuktian apakah dia membawa racun atau tidak. Jika di temukan maka tamat sudah. Tidak ada jalan untuk bisa tetap hidup.
Tuan Wilis dikenal sebagai seorang yang keras. Tidak segan menghukum dan sangat kejam. Apalagi Ayu anak perempuan satu satunya, kesayangannya. Pastilah kali ini Nirmala tidak akan bebas begitu saja.
Seorang pelayan berteriak "saya menemukannya tuan!"
__ADS_1
Seorang pelayan menemukan sesuatu di sela sabuk obi Nirmala, sebuah kertas berisi serbuk berwarna hitam.
Semua orang terkaget. Seluruh pikiran menuding bahwa itu adalah racun. Tabib itu memeriksanya. Alisnya mengkerut dia menganggukan kepala.
"Tttidak mungkin. Tuan aku bersumpah aku tidak tau apa itu...
"Pukul dia dengan kayu hingga mengaku"
Beberapa pukulan dia terima, mereka terhenti ketika Tuan Budhi datang, meminta penjelasan.
"Tuan apa yang terjadi?"
"Lihat apa yang anakmu lakukan pada Ayu. Dia mencoba meracuni Ayu"
"Apa? tidak mungkin, dia menyayangi Ayu. Saya tau itu"
"Bukti dan saksi sudah jelas. Dia tidak bisa mengelak"
Tuan Wilis memberi tanda untuk melanjutkan hukuman.
"Tuan berapa pukulan yang harus dia terima untuk ini?" Tuan Budhi khawatir Nirmala tidak dapat menahannya.
"tiga ratus pukulan. Atau hingga dia mengaku"
Tuan Budhi tau Nirmala tidak akan mengakui sesuatu yang bukan salahnya. Tiga ratus pukulan bagi gadis mungil seperti dia, seratus pukulan pun mungkin dia tidak bisa menahannya. Tuan Budhi berpikir keras bagaimana cara menyelamatkannya.
Airmata Nirmala mengalir bagai sungai, Tangisnya tidak bersuara sedikitpun. Dia tidak bisa membela diri.
ini tidak adil. Ujian apalagi ini.
Tuan budhi memohon untuk menghentikan ini. "Tuan, mohon ampuni dia tuan. Dia tidak akan bisa menahannya. Tuan saya mohon"
"Kalau begitu dia bisa mati sebagai hukumannya"
Dengan memutar kata dia membujuk tuan Wilis untuk mengampuninyam tapi itu tidak mungkin.
Tabib itu datang lagi setelah kembali memeriksa keadaan Ayu.
Ayu siuman. Namun benar benar sangat lemah. Semua orang tau Ayu menyayangi Nirmala. Bagaimanapun Ayu akan sedih jika mendengar semua ini. Apalagi jika dia mendengar Nirmala mati karena ayahnya. Tuan Wilis sadar betul itu namun kemarahan seakan tidak akan hilang begitu saja. Dia tidak ingin lagi melihat Nirmala. Bahkan jika dia mati itu adalah hal baik baginya
"Aku menghargaimu karena Ayu menyayangimu. Tapi aku tidak ingin melihatmu lagi. Menghilanglah dari muka bumi ini."
Kalimat itu seakan memberikan kesempatan untuk Tuan budhi. Dia menyarankan sesuatu. "Tuan biar dia serahkan padaku, aku akan menanganinya. Akan aku memastikan Nirmala tidak akan berada disini. Aku akan membawanya jauh"
Dyah tiba tiba berujar, "bagaimana jika dia suatu saat kembali. Tuan bukankah itu hanya menunda kematian Ayu. Mungkin saja dia akan kembali melakukan ini lagi"
Raut wajah Tuan Wilis memerah seakan emosinya sudah sangat memuncak. Dia terpancing dengan ucapan seorang pelayan.
Nirmala menatap Dyah lekat lekat, seakan beribu tanya terpancar darinya.
"Bawa dia jauh dari kota. Kedalam hutan dan bunuh dia. Bawakan bajunya sebagai bukti dia di bunuh bandit gunung atau hewan buas"
Nirmala terbaring dilantai menahan segala rasa di tubuhnya. Tulangnya seakan remuk bagai serpihan. Hatinya teriris lebih sakit lagi, mengapa Dyah berbicara seperti itu. mengapa Tuan Budhi berbicara seperti itu. Namun tiada suara dari mulutnya.
Sebuah kain hitam menutupi kepalanya membuatnya tidak bisa melihat apapun.
Ini terlalu cepat. Dia tidak bisa mencerna semuanya dalam sekejap.
Bayu, dimana dia.
Dhika, tolong aku.
Ada apa sebenarnya.
Semua bergejolak dalam pikirannya.
Brukk!!
Nirmala dijatuhkan diatas kuda.
Terbaring diatas tanah yang sedikit basah, entah dimana ini. Tidak ada rumah, tidak ada jalan, tidak ada jejak kehidupan sangat terlihat seperti ditengah tengah hutan. Pohon berdiri menjulang saling berdekatan. Semua terlihat ketika kain penutup itu di lepasnya.
Dua kuda berdiri di hadapannya. Tuan Budhi turun dari kudanya, dan menghampiri.
"Kau pergilah duluan. Aku akan mengurus ini sendiri."
"Tuan, anda baik baik saja? Dia sudah seperti putri bagimu."
"Karena itulah aku akan menyelesaikan ini. Kau pergilah"
Dia meminta pengawal itu untuk pergi terlebih dahulu, dia tidak ingin prajurit baru seperti dia melihat hal yang belum dia terbiasa.
Air mata Nirmala benar benar sudah membasahi kedua pipinya.
Dia menatap tuan Budhi lekat lekat. Nirmala yang bersimpuh dihadapannya. Dia membuka pedangnya, memotong tali yang mengikat pergelangan tangannya.
Bekas tali itu tergambar merah dengan sedikit darah. perih.
"Tuan Budhi, aku tidak melakukannya. pasti ada yang salah tuan."
Tuan Budhi menghunuskan pedangnya tepat di depan wajahnya. Membuatnya merasa seakan sakit hatinya semakin mengiris.
"Perintah Tuan Wilis adalah membunuhmu, aku menyayangimu seperti purtiku sendiri. aku tidak rela jika kau mati di tangannya. Namun aku juga tidak ingin membunuhmu dengan tanganku. Mmaafkan aku Nirmala." dia menurunkan arah pedangnya
Nirmala meraih kakinya dan memeluk kaki itu ketika dia melangkah pergi.
"Tuan aku mohon jangan tinggalkan aku. Tuan aku mohon jangan buang aku. Tuan aku mohon bawa aku kembali, pasti ada sesuatu untuk menjelaskan ini. Aku tidak bersalah tuan."
"Aku ingin percaya padamu. Tapi semua sudah terjadi, aku tidak punya kuasa."
Tuan Budhi melangkah. Menaiki kudanya dan berbalik pergi. Nirmala tertatih tatih mengejar, menangis dan berteriak memohon kepada tuan budhi.
"Tuan, jangan tinggalkan aku tuan. Aku tidak punya siapapun lagi"
"Tuan kemana aku harus pergi"
"Tuan jangan buang aku. Aku mohon.
"Akan aku lakukan apapun untukmu. Tolong jangan pergi tuan"
Dia tersungkur dan mencoba bangkit. Disaat seperti ini, satu satunya yang dia pikirkan hanyalah Bayu, dan Dhika.
Dia sudah tidak sanggup berlari. Entah dimana ini. Dia hanya bisa menangis. Tangisannya seakan memecah keheningan di hutan itu. Hutan yang sungguh menakutkan.
Sesuatu muncul dari pepohonan. Monster? Sesuatu yang bukan mahluk hidup. Bukan juga mahluk dari bumi. Entah apa itu. Dia besar dan mengerikan. Mulutnya terbuka memperlihatkan gigi gigi tajam yang tidak beraturan. Mahluk itu membuatnya semakin takut. Dia berlari. Mahluk itu pasti berbahaya.
Sesuatu mengagetkannya. Sebuah anak panah berbulu hitam menghentikan langkahnya. Satu lagi mesesat hampir mengenai tubuhnya.
Tenaganya hampir habis. Bernafas pun seperti sudah tidak sanggup.
Tapi dia tetap mencoba berlari, satu anak panah datang lagi entah darimana. Membuatnya menyerah untuk bergerak.
Apakah kali ini aku akan mati?
Apakah dengan mati disini aku akan pulang?
Apakah aku bisa kembali?
Pikiran itu seketika memudar. Sebuah anak panah melintas melesat menembus tubuhnya. Bahu sebelah kiri, darah menembus pakaiannya. Rasanya sangat sakit. Dia terkulai lemas. Jatuh terbaring di rerumputan. Matanya masih terbuka. nafasnya masih berhembus. Jantungnya lemah masih berdetak.
Seseorang melangkah datang, entah siapa. seperti di film yang pernah dia tonton.
Suku Indian? atau suku kanibal? Atau monster yang tadi?
ah aku tidak peduli. aku sudah lelah.
__ADS_1
Pandangannya kabur, dan lalu gelap.
Nirmala tidak pernah ditemukan sejak saat itu.