Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Badai Musim Kemarau


__ADS_3

[Delapan Belas Tahun Lalu]


Pagi masih secerah biasanya. Bisa di bilang agak panas. Bulan ini masih masuk musim kemarau. Beberapa ladang sudah mengering. Peramal mengatakan musim hujan masih beberapa bulan lagi. Langit masih terlihat terik bahkan di pagi hari. Cuaca panas membuat semua orang menjadi cepat marah. Tidak biasanya musim ini terasa sangat panas. Bahkan para petani sudah mengeluh sejak minggu lalu. Mereka tidak mendapat air untuk memulai ladang kembali. Bahkan air sungai pun sudah mulai surut. Anehnya seseorang pernah berkata akan ada badai malam ini. Namun tidak ada yang percaya karena orang itu terlihat seperti orang gila. Hanya bisa keluyuran meminta makan dan bermain-main dengan anak kecil. Sungguh pria tua yang malang.


Terlihat Pradhika Wiriya di sebuah pasar di kota Parigi sedang mengamati seseorang. Dasar pencuri. Pikirnya. Ranggana Bayu sedang mengintip, mengintai sesuatu. Sasarannya mungkin. Dhika tidak salah memang Bayu selalu melakukan hal hal aneh. Entah mencuri atau hanya mengambil milik orang lain. Seperti ketika melewati lapak penjual buah, dengan gesit tangannya mengambil satu. Dan memakannya setelah lewat beberapa langkah dengan senyum bangganya. Bayu seorang bocah nakal. Berbeda dengan Dhika yang terdidik sangat keras. Hal seperti itu tidak mungkin dia lakukan meski sangat kelaparan. Tapi tentu tidak mungkin juga dia Sampai kelaparan. Dia adalah anak seorang bangsawan di kota sebelah. Kehidupannya sangat terjamin.


Bayu masih sibuk mengamati. Sesekali berjalan mengendap dan kembali bersembunyi. Dhika hanya melihat nya dari jauh. Alisnya mengkerut melihat bayu terus mengendap. Dhika tidak bisa membiarkannya kembali mencuri. Entah apa yang akan dia curi kali ini. Buah, kentang, atau makanan lain? Memang bukan benda berharga tapi tetap saja. Mengambil tanpa diketahui sama saja disebut mencuri. Dasar bocah nakal bisiknya.


Bayu tiba tiba saja berlari. Dhika yang sedari tadi mengamati serentak ikut berlari mengikutinya setelah ada seseorang berteriak "Maling!, Maling!"


Dhika mengejar Bayu yang berlari. Sangat sulit mengejar orang di keramaian seperti ini. Namun Dhika dengan mudah mengejar dan mencengkram lengan nya kuat kuat. Bayu hampir saja memukulnya namun terhenti ketika melihat siapa dia. "Dhika?"


"Apa yang kau lakukan?"


"Kenapa kau menghentikannaku. Aku hampir saja mendapatkannya. Ah, sekarang dia kabur. Padahal aku sudah mengamatinya cukup lama"


"....."


"Ah. Kau pasti mengira aku yang mencuri. Lihat-" Bayu memperlihatkan sebuah kalung emas di tangannya. "Aku berhasil merebut ini darinya. Tapi gara gara kau pencurinya kabur. Jangan salah paham padaku lagi"


"Kalau begitu kembalikan itu ke pemiliknya"


"Ya tentu saja"


Mereka berjalan bersama setelah memgembalikan kalung itu ke pemiliknya. "Tumben sekali kau ada di sini. Ada keperluan apa?"


"Menyampaikan pesan kepada istana keluarga Wilis"


"Ahh, pasti sangat penting hingga kau sendiri yang diminta untuk pergi"


"Mn" Dhika mengangguk


"Apa ada masalah serius?"


"Tidak tau"


"Ngomong ngomong. Bagaimana keadaan Ayahmu? Terakhir aku mengunjunginya, dia sangat marah karena kelakuanku, haha 🤣"


"Dia baik baik saja"


"Kau masih saja dingin"


"..."


"Aku mendapat informasi bahwa ada hal aneh terjadi di sekitar perbatasan kota, apa kau mendengarnya juga?"


"Sepertinya karena hal itu lah ayah mengutusku untuk menyampaikan suratnya"


"Apa yang terjadi?"


"Beberapa orang menghilang belakangan ini. Dan salah satunya di temukan membusuk. Aku tidak yakin. Informasinya masih sangat simpang siur"


"Ya aku juga mendengar itu"


"Kau berhati hati lah. Jika ada sesuatu yang aneh tolong beritahu padaku" Dhika pun pergi dan mereka berpisah di persimpangan jalan.


----


Bayu baru saja tiba di toko Herbal Sae. Sebuah toko penjual obat obatan herbal satu satunya terlengkap di kota itu. Dia menghabiskan hari harinya disana. Dia bertekad ingin menjadi seorang tabib yang hebat. Setahun terakhir dia tinggal di sana. Setelah lulus dari sekolah di ibukota. Keluarganya tidak keberatan dengan itu. Lagipula tekadnya sudah sangat bulat. Tidak ada yang bisa menahan keinginannya. Paman Arif selaku pemilik toko sudah menganggap Bayu seperti anaknya sendiri. Pria paruh baya itu sebatang kara. Hanya toko herbal itu saja yang dia miliki. Kehadiran bayu menjadi semangat baru baginya. Paman Arif dulu seorang asisten tabib keluarga Wijaya. Keluarga Bayu. Lebih tepatnya sebuah keluarga yang membesarkan Bayu. Bayu adalah anak angkat dari keluarga Wijaya. Mereka sangat baik dan menyayangi Bayu seperti keluarga sendiri.


Hujan sudah turun, langit pun sudah gelap. Peramal gila itu benar. Malam ini turun hujan. Bayu datang dan membantu paman Arif untuk menutup tokonya.


"Kenapa pulang larut sekali, apa terjadi sesuatu?" Tanya paman Arif


"Aku bertemu dengan Dhika tadi katanya ada hal serius jadi aku mendengarkannya terlebih dahulu"


Bayu memasang papan papan penutup toko satu persatu, sementara paman Arif membereskan herbal herbal yang tadi siang di jemur.


"Dhika?, putra tuan Wiriya?"


"Benar"


"Kau pasti senang bertemu lagi dengannya"


"Biasa saja"


"Dulu Kau selalu membicarakannya, kau bilang dia sangat dingin dan sulit bergaul. Tapi kau bilang juga dia sangat baik"


"Aku bilang begitu?"


"Ya, kalian berteman sangat baik, pertahankan itu, akan sulit mendapatkan teman yang saling mengerti"


"Paman pikir kami saling mengerti?"


"Ya aku pikir begitu"


"Kenyataanya adalah, dia tadi mengira aku akan mencuri lagi. Dan dia menghalangiku untuk mendapatkan pencuri yang sebenarnya. Heran, kenapa dia selalu menganggap aku anak yang nakal"


"Hahaha, ya begitulah. Kurasa dia khawatir kalau kau akan menjadi anak yang buruk, karena itu lah dia menghentikanmu"


"Ck"


Hujan kini turun sangat deras bahkan anginpun berhembus kencang.


"Tuan tuan tolong" seseorang berlari hingga ke toko herbal itu. Seorang paruh baya basah kuyup menerjang hujan yang kian lebat. Dia terpogoh berlari dan berhenti di ambang pintu yang masih sedikit terbuka.


"Ada apa kakek?" Tanya Bayu


"Nak. Tolong nak. Cucu saya sepertinya sakit. Dia tidak sadar dari beberapa waktu lalu. Dia seperti sudah terjatuh dari tempat tinggi, kepalanya berdarah. Tolong nak." Karena hujan yang cukup lebat, petir pun sesekali menyambar, di sepanjang jalan mungkin toko herbal lain sudah menutup tokonya. Meski dia menggedor setiap toko tapi tidak ada yang bisa menerjang hujan lebat ini. Lebih tepatnya seperti sedang ada badai. Semua orang takut dengan kondisi ini. Sangat berbahaya menerjang badai. Tapi pikiran bayu berbeda. Jika dia bertekat ingin menjadi tabib, maka dia tidak boleh melewatkan satu orang pun. Tabib adalah orang yang menyelamatkan.


"Kakek tunggu sebentar aku akan mengambil obat obatan yang di perlukan" bayu segera mencari barang yang dia perlukan dan memasukannya ke dalam sebuah kantung.


"Bayu, apa tidak apa apa pergi di tengah badai seperti ini?" Paman arif terdengar sangat khawatir


"Aku tidak apa apa. Jika terlalu lama mungkin dia bisa mati"..."paman aku pergi dulu, kakek ayo"


"Dia selalu saja bergerak semaunya tanpa memikirkan orang orang yang khawatir padanya"


Mereka berlari menembus badai. Tempat tinggal Kake itu sungguh sangat jauh. Bayu sudah terengah engah. Separuh badannya basah kuyup meski memakai payung. Badai yang sangat aneh pikirnya. Pasalnya tadi siang pun masih sangat cerah begitu menjelang malam badai mengerikan ini pun datang. Beberapa orang senang kekeringan bisa berakhir tapi kali ini masih belum musim penghujan apalagi terjadi badai di musim kemarau. Sungguh sangat aneh.


Mereka akhirnya tiba di rumah kakek itu. Ada beberapa orang juga yang berada di sana. Bayu masuk dan segera memeriksa gadis itu. Kakek itu terlihat sangat khawatir.


Suhu tubuh gadis itu sangat tinggi. Dahinya mengkerut, dia pasti sedang bermimpi buruk. Beberapa bagian tubuhnya terluka. Kepalanya sedikit berdarah. Tapi ternyata tidak terlalu parah. Jari jemarinya mengkerut seperti berada di air terlalu lama. Bayu menghela nafas lega, karena tidak ada yang membahayakan sama sekali.


Bayu bertanya "Kakek, apa yang terjadi padanya?"


"Aku sendiri tidak tau, aku menemukannya di pinggir sungai, ku kira dia bermain di sebuah tebing lalu terjatuh dan hanyut."


"Apa kau seorang tabib? Kau terlihat terlalu muda" tanya Yuli seorang perempuan yang juga berada di rumah itu.


"Nama saya Bayu. Saat ini saya hanya pelajar. Suatu saat nanti mungkin saya resmi menjadi tabib"

__ADS_1


"Kake sapta, harusnya kake membawa tabib sungguhan" bisiknya kepada kakek sapta.


"Aku tidak peduli asalkan dia selamat" jawab kakek sapta


"Kalau boleh tau. Siapa nama gadis ini. Dan usia berapa? Aku akan membuatkan resep untuknya"


"Bagaimana kami tau. Dia belum sadar ketika kami menem-"


"Ha?" Bayu terheran


Kakek Sapta memotong perkataan Yuli "Namanya Nirmala, usia 18 tahun"


Yuli dan Iwan yang mendengarkan itu berubah raut wajah. Mereka terheran mengapa kake sapta mengatakan itu. Tapi mereka tidak bisa berkata apapun lagi.


"Apakah saya boleh bermalam disini? Sepertinya badai tidak mudah mereda, aku juga akan membalut luka lukanya"


"Tentu saja nak. Terimakasih banyak. Kami sungguh sangat terbantu"


Bayu merawat gadis itu dengan telaten. Membersihkan dan membalut lukanya, sesekali mengganti kain kompresan di kening gadis itu hingga demamnya turun. Dia juga membuatkan sup herbal yang di bawanya. Sementara kakek sapta terlelap di sebuah kursi. Dia pasti sangat kelelahan pikirnya.


Badai sudah reda sejak subuh kake sapta masih tidur di kursinya.


Matahari sudah mulai mengintip di balik jendela kayu, samping tempat tidur Nirmala. Dia terduduk di ranjang nya. Memandangi ke arah jendela yang baru saja dia buka. Sesekali dia melihat sekeliling. Sangat asing. Pikirnya.


Bayu yang baru saja muncul dari dapur sedikit terkejut melihat Nirmala sudah bangun.


"Kau sudah bangun? Berbaringlah dulu, kau masih butuh istirahat" Bayu datang dengan nampan berisi sup herbal dan bubur. Lalu meletakan nya di meja.


"Ini dimana?" Tanya nirmala. Bayu pun sedikit heran dengan pertanyaan itu.


"Di rumah mu tentu saja. Memangnya kau dari mana sampai lupa tempat tinggalmu sendiri? Haha"


"Memangnya aku dari mana?"


"Apa kau tidak ingat kemarin kau pergi kemana?"


"Aku..., tidak tau"


"Baiklah tidak usah terlalu dipaksakan jika kau tidak ingat. Oh. Namaku Bayu. Jika kau perlu sesuatu kau bisa bicara padaku."


"Ah. Terimakasih. Namaku-.....aku siapa?"


"Kau tidak ingat namamu?"


"Aku ... Lupa"


"Apa kepalamu terbentur keras? Apa kau merasa pusing?"


Nirmala hanya menggelengkan kepala


"Aku baik baik saja"


"Semalam aku memeriksa semua lukamu, tidak ada yang parah, tapi kenapa kau bisa melupakan ini"


"Aku...lupa"


"Baiklah. Sekarang kau istirahat saja dlu. Minum bubur dan obatnya. Besok aku akan kembali dan memeriksamu lagi." Bayu memberikan sebuah kertas pada Nirmala "ini resep yang harus kau minum kau bisa menemukan nya di manapun. Kalau kau bingung datang saja ke toko ku."


Nirmala mengambil kertas itu dan membacanya..." Ini tulisan apa?"


"..... Itu resepmu"


"Kau tidak bisa membacanya?"


"Aku kira aku tidak bodoh. Tapi aku tidak mengerti huruf huruf ini"


"Tidak apa apa. Kau hanya perlu menunjukan itu kepada penjual obat."


"Terimakasih banyak"


"Sebaiknya kau istirahat. Aku akan kembali besok" Bayu pergi tanpa berpamitan dengan yang lain. Beberapa waktu berlalu Kakek Sapta terbangun. Dia sedikit terkejut melihat nirmala sudah terduduk memandang ke luar jendela.


"Nirmala, kau sudah bangun nak?"


Nirmala hanya memandangnya dan menundukan kepala hormat. Dengan sediki senyum. Kake sapta menghampirinya. "Kau sudah makan dan minum obat?" dilihatnya dua mangkuk kosong di depannya. Nirmala hanya mengangguk.


"Kakek, siapa?"


"Ini kakek mu nak. Kau cucu kakek. Kau tidak ingat? Kakek yang membawamu kemari. Kau hanyut di sungai dengan penuh luka, Nak Bayu kemana?"


"Sudah pulang, katanya besok akan kembali lagi, dia titip ini" Nirmala menyodorkan kertas resep itu pada kake sapta. Dia membuka kertas itu dan berlalu ke luar rumah. Beberapa menit kemudian dia kembali bersama Kang Iwan. Dia memintanya untuk membacakannya.


"Oh ini resep obat" kata Kang Iwan


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Kang iwan kepada Nirmala


"Bisa kah beritau aku, siapa aku dan dimana ini? Aku merasa sangat asing berada disini"


"Bukankah sudah Kake katakan kau adalah cucu Kake, nirmala"


"Sepertinya itu bukan namaku"


"Lalu siapa namamu?" Tanya kang Iwan


"...."


"Kalau begitu namamu Nirmala dan ini rumahmu, dan dia adalah kakekmu dan aku adalah tetanggamu. Jika kau perlu sesuatu kau bisa keluar dan menemuiku di sebelah." Kang iwan pun keluar.


"Nirmala istirahatlah dulu kake akan ke toko obat untuk menebus resepmu"


Seharian itu Nirmala hanya berbaring, tidur, makan, dan tidur lagi. Demamnya masih kadang terasa naik. Sesekali dia bermimpi. Tapi tidak mengerti mimpi apa itu. Sangat rumit hingga dia sendiri tidak bisa mengartikannya.


Ke esokan paginya Nirmala sudah pulih sepenuhnya. Kang Iwan datang dan meletkan beberapa potong pakaian. Dia bilang itu baju baju bibi Yuli ketika masih kecil. Hanya itu yang masih terlihat bagus. Kake Sapta tidak punya baju apapun kecuali yang sedang di pakainya dan yang sedang di jemur. Ya... Dia hanya punya dua potong pakaian. Kang Iwan bilang bibi yuli akan mengantar nya jika dia akan mandi. Tentu saja. Seharian kemarin hanya tidur membuatnya sangat gerah.


Nirmala sudah mulai mengenal mereka. Semalam, mereka bergantian mengunjunginya. Dan berkenalan dengannya. Mereka orang yang baik. Juga orang yang peduli sesama.


Di jaman ini, rumah dan tempat mandi sangat terpisah jauh. Tidak ada wc di dalam rumah. Pemandian ada di dekat sungai. Disana ada sebuah kamar berdinding bilik. Di dalamnya ada sebuah tempat penampungan air juga ada pancuran yang terus mengalir. Airnya sangat jernih dan sangat menyegarkan. Nirmala membersihkan diri disana. Dan memakai pakaian yang tadi di berikan Kang Iwan. Dia juga mencuci baju baju yang tadi di pakainya.


Rambutnya tergerai basah. Dan dia kembali. Menjemur pakaian itu dan masuk kedalam rumah.


Bajunya masih sangat kebesaran. Sebuah rok lipit berwarna abu. Dan atasan seperti model kebaya. Ah ini masih terlalu besar. Dia menyiasatinya hingga menurutnya pas. Roknya pun terlalu longgar untuk badannya. Sabuk Obinya pun begitu. Sangat tidak nyaman berpakaian yang tidak pas. Dia melihat sebuah selendang tipis berwarna hijau. Dia belitkan di atas obinya melingkar di perutnya. "Yap. Ini lumayan" dia lihat dirinya di balik cermin berbingkai kayu usang. Warna pada cermin itu pun sudah tidak cerah lagi. Namun dia masih bisa melihat pantulannya.


"Lebih terlihat seperti sedang memakai hanfu haha"


Dia menyisir rambut panjangnya yang tergerai. Dia seperti tidak terbiasa dengan rambut tergerai. Lalu dia mencari sesuatu. Karet. Atau tali atau apapun yang bisa mengikat rambutnya. Tapi dia tidak menemukannya. Lalu dia lihat sebatang tusuk konde terbuat dari kayu. Tersimpan apik di sebuah laci meja. Bahkan ukirannya pun masih sangat jelas. Cantik ujarnya dalam hati.


"Kakek, apa aku boleh memakai ini"


Dia bertanya pada kake sapta yang sedang membuat makanan di dapur.


Melihat tusuk itu kake sapta tersenyum. "Boleh sayang, pakai lah. Itu milikmu"

__ADS_1


Nirmala pun menggulung rambutnya dengan itu. Kini dia benar benar seperti gadis desa pada umumnya.


"Sampurasun" sebuah suara datang dari balik pintu. Nirmala membukanya. Seseorang berdiri disana. Bayu


"Kau sudah baikan?"


Nirmala mengangguk


"Seharusnya kau istirahat beberapa hari lagi."


"Aku baik baik saja. Silahkan masuk"


Dia berjala ke arah dapur dan bertanya " kake, apa dia minum obatnya?"


"Tentu saja, dia selalu menghabiskannya"


"Benar kah. Hebat. Sebagian besar perempuan tidak bisa meminum itu karena sangat pahit"


"Itu enak menurutku. Lagipula aku tidak ingin terus terusan di tempat tidur"


"Baguslah. Apa kau sudah ingat sesuatu?"


"Untuk apa di ingat lagi semua sudah jelas. Kake senang kau kembali nak"


Kalimat itu seakan menandakan bahwa Kake Sapta ingin Nirmala tetap bersamanya.


"Kurasa begitu" ujar nirmala "bisakah kita bicara di luar. Rasanya aku ingin berjalan jalan"


"Ya. Berjalan jalan akan membuatmu lebih sehat. Ayo Aku temani"


Mereka berdua berjalan pelan menyusuri jalan. Sesekali Nirmala tersenyum melihat pemandangan indah. Rumahnya di kaki bukit. Dan berjalan kaki seperti itu membuatnya merasa nyaman berada di dunia ini.


"Disini sangat indah"


"Jadi apa yang ingin kau katakan?"


"Ah, itu. Hmmm..."


"Kau ingat sesuatu?"


"Tidak sama sekali. Hanya saja aku yakin bahwa disni bukanlah tempatku"


"Tapi Kake sapta bilang..."


"Aku tau... Begini... Biar ku jelaskan. Aku tidak biasa di panggil Nirmala, itu berarti nirmala bukan lah namaku. Dan aku tidak terbiasa dengan sekelilingku yang sangat tradisional. Seperti baju ini. Seperti bukan gayaku. Juga rumah itu dan juga bahasa yang dipakai. Aku tidak terbiasa memakai bahasa sunda kuno"


"Aku sedikit tidak mengerti maksudmu, mungkinkah kau berasal dari kota lain atau negeri lain? "


"Aku juga tidak mengerti. Bahkan bahasa baku seperti ini, aku tidak biasa, bagaimana menurutmu?"


"Ha haha. .. aku yakin kau sudah gila"


"...."


"Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"...." Nirmala sejenak terdiam "Mungkin untuk sementara seperti ini saja dulu. Hingga aku benar benar ingat semuanya."


"Baiklah aku akan membantumu"


"Ah tidak perlu repot repot. Aku baik baik saja."


"Tidak apa apa. Lagi pula aku ingin menjadi tabib hebat. Kasus mu ini baru pertama kali aku temui. Jadi aku juga harus belajar darimu."


"Ini namanya amnesia. Orang seperti itu diakibatkan karena sesuatu tapi setiap kasus mungkin berbeda, dan mungkin bisa kembali ingat dengan singkat atau tidak sama sekali"


"Kau ingat hal seperti itu?"


"..... Aku tadi bilang apa?"


"Haha, sudah lah. Memang kepalamu sedang tidak beres"


Tiba tiba saja Nirmala berhenti dari langkahnya. Pandangannya tertuju pada satu buah pohon di sebuah padang rumput. "Itu pohon apa?? Besar sekali!" Tanya Nirmala


"Ngomong ngomong, Kau tertarik dengan mitos?"


"Apa ada hubungannya dengan pohon itu?"


"Benar, itu adalah pohong beringin keramat. Konon dulu ada sepasang kekasih yang bunuh diri disana. Menggantungkan lehernya. Pohon itu jadi berhantu. Tidak ada yang berani mendekati pohon itu"


"Seperti sebuah cerita bohong untuk kenakuti anak kecil"


"Kau begitu karena kau tidak tau kebenarannya...."


"Memang bagaimana kebenarannya?"


"......"


"Tidak tau??"


"Hahhaha. Aku ....lupa"


"Ck.... Dasar....." Tatapan tajam Nirmala kini terfokus ke pohon beringin itu.


Bayu "belakangan ini banyak kabar bahwa beberapa orang menghilang secara misterius. Katanya ada hubungannya dengan pohon itu, tapi kurasa mereka salah. Kau sebaiknya jangan pulang terlalu malam. Dan selalu berhati hati. Jangan dekat dekat dengan hal hal mistis. Terkadang mereka membawa kesesatan".


Nirmala "kau percaya hal seperti itu?"


Bayu "Dwipantara masih kental dengan ilmu mistis. Bahkan prajurit dari Mataram terkenal sakti karena ilmu ilmunya."


Nirmala "Mataram?"


Bayu "kau ingat sesuatu?"


Nirmala "mn. Seperti pernah baca di sebuah buku sejarah."


Bayu "apa mereka sekuat itu hingga terdapat dalam buku sejarah? Kita bahkan tidak memiliki banyak buku"


Nirmala "entahlah. Kepalaku rasanya pening"


Bayu "ayo, kuantar kau pulang"


Note :


Dwipantara adalah sebutan untuk wilayah Indonesia pada jaman dulu.


Setiap daerah memiliki pemerintahan masing masing (Kerajaan) dan memiliki bahasa daerah masing masing. Untuk kelancaran perdagangan dengan daerah lain maka semua wilayah Dwipantara memakai bahasa nasional yaitu bahasa Melayu (kalau sekarang sudah di perbaharui menjadi bahasa Indonesia)


Sama seperti saat ini. Bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional. Namun bahasa daerah masih tetap di pakai di berbagai penjuru negara Indonesia.


Karena latar dari cerita ini adalah tanah Pasundan (seluruh wilayah kerajaan Sunda) maka bahasa yang dipakai terpusat pada bahasa sunda dan Melayu sebagai bahasa Nasional. Namun. Karena keterbatasan ilmu pengetahuan penulis. Maka akan memakai bahasa Melayu lebih banyak.

__ADS_1


__ADS_2