Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Pertemanan


__ADS_3

Dhika terlihat tidak senang, Bayu membuang muka, ada sesuatu diantara mereka. Nirmala hanya bisa menebak nebak saja. Mereka berpisah dengan hati yang resah. Dhika pergi dari toko herbal dengan wajah masam. Nirmala berjalan di belakangnya. Mereka berjalan ke arah yang sama.


Dhika tau, Bayu menyembunyikan sesuatu, dan dia tidak senang. Sejauh mereka berteman hal hal seperti ini yang selalu membuat mereka berselisih. Hal-hal mengenai pentagram, pemanggilan, hantu, magis dan semacamnya. Dhika khawatir bayu akan mencoba sesuatu yang dilarang. Namun hingga saat ini Dhika masih percaya Bayu tidak akan melakukan apapun yang salah.


"Dhika kau baik-baik saja?


"......"


"Jika sekiranya ada yang bisa ku lakukan. Aku akan bantu"


"Tidak perlu khawatir"


"Kau mengkhawatirkan Bayu?"


"Tidak"


"Hmm..baiklah aku tidak akan bertanya lagi."


"...."


"Aku ingin bertanya hal lain"


"....."


"Menurutmu, sekarang tanggal berapa dalam penanggalan Masehi"


"Belum ada yang mempelajari itu dengan detail. Kenapa menanyakan itu?"


"Hanya ingin tau saja. Menurutmu tahun berapa sekarang?"


"Kurasa sekitar tahun 900 atau tahun 1000 sekian."


"Hmm. Begitu" menunduk kecewa. Dia berharap tahun ini adalah tahun 2000an. Hingga tidak akan terlalu sulit mencari tahu lagi siapa dirinya, mengingatkan sekelebat mimpi itu tertera tahun sekian. Jika mundur seribu tahun ke belakang, hanya keajaiban yang bisa membuatnya ingat.


Dhika masih asing dimata Nirmala, tidak banyak hal yang dia bisa bicarakan. Dia juga segan untuk bertanya lebih jauh.


Dhika melanjutkan perjalanannya menuju istana Mandalika dan Nirmala memutuskan kembali ke toko herbal dan berbicara lagi dengan bayu.


"Nirmala, ada apa kembali kesini"


"Hanya penasaran. Jika menurutmu dan Dhika bahwa sekarang antara tahun 900-1000 masehi. Apakah ada kemungkinan aku pernah hidup di tahun 2000 masehi?"


"Ha? Kau ini bicara apa?"


"Aku seperti bermimpi pernah hidup di jaman itu"


"Itu mustahil sepertinya. Entahlah. Aku belum pernah mendengar hal seperti ini."


"Jadi, apa yang sedang kau sembunyikan dari Dhika?"


"Ha?. Ah.. haha... Tidak ada... Memangnya ada apa?" Benar saja bayu menyembunyikan sesuatu dari Dhika. Tapi dia juga tidak mengatakan apapun pada Nirmala. Bayu hanya yakin dia tidak melakukan kesalahan apapun.


"Apapun yang kau sembunyikan. Aku harap bukan sesuatu yang salah. Kau tau, Dhika sepertinya Khawatir padamu. Jangan sampai, hal kecil menjadi sesuatu yang membuat kalian berpisah....... Aku pulang...."


"...."


***


Nirmala baru saja sampai. Dia tersenyum kecil melihat keluarganya tertawa senang. Kain yang mereka beli bisa mencukupi untuk semua anggota. Masing masing 1 pasang baju baru, mereka sudah mulai menjahit satu persatu potongan potongan kain. mereka jahit dengan jarum dan benang, menggunakan tangan-tangan mereka. Tidak terlalu buruk. Mereka cukup terampil dalam hal menjahit dan menyulam. Terutama para perempuan. Bahkan mereka membuatkan hiasan sulaman untuk Nirmala.


"Oh. Nirmala kau sudah pulang.. kenapa sore sekali. Lihat kami sudah mulai membuat baju. Setelah di potong. Ternyata cukup untuk semua orang, haha " Paman Rai amat senang dengan hasilnya.


Teteh Sekar " Nirmala lihatlah aku membuat ini untukmu. Bibi Yuli yang membuat pakaiannya. Dan aku yang memberi sulaman nya. Cantik kan? "


Nirmala "waahh.... Cantik sekali...."


Teteh Sekar "tapi ini belum selesai. Sedikit lagi."


Nirmala "Oh..segini sudah bagus menurutku.... Ah.. kenapa hanya baju ku yang selesai duluan?"


Zaki "zaki pun sudah selesai yeeeeee... Baju baruu yeeee"


Bibi Yuli "oh, lihat bocah itu selalu berlari lari kegirangan"


Kang Iwan "kami sengaja membuat baju untukmu terlebih dahulu. Kami berterimakasih untuk semua ini."


Nirmala "kenapa repot-repot sepertinya aku bisa buat sendiri."


Teteh Sekar "tidak apa-apa kali ini biar kami membuat sesuatu untukmu. Kamu sudah banyak membantu kami"


Nirmala "......" (Membantu apa?)


Nirmala tidak sadar kehadirannya membuat banyak perubahan pada keluarga ini. Selain memberi kebahagiaan kepada Kake Sapta. Dia juga melakukannya banyak hal yang orang lain tidak bisa lakukan. Atau dia melakukan sesuatu yang bahkan orang lain belum pernah lakukan. Seperti membuat sebuah mainan untuk Zaki, membuat kincir air untuk membuat penggiling. Atau membuat semacam pengungkit untuk menarik air dari dalam sumur. Nirmala juga membuat semacam pengukur berat dan pengukur volume. Menurut Nirmala itu hal yang tidak terlalu sulit. Nirmala seperti pernah melihat benda benda seperti itu, namun bagi kaum bawah seperti mereka hal seperti itu tidak diketahui mereka. Mengingat tidak ada satupun dari mereka yang bersekolah. Bahkan Nirmala mengajari Zaki berhitung dengan tingkat yang lebih tinggi seperti menghitung dalam jumlah banyak sekaligus. Dan mengajari menghitung ukuran.


Teteh Sekar "Nirmala, lihat ini sudah selesai." Teteh sekar memberikan baju itu setelah sejam mengerjalannya. Baju yang cantik berwarna merah muda dengan sulaman bunga anggrek dan bunga melati di sepanjang kerah baju. Bahkan membuatkan sabuk obi bersulam dedaunan. Nirmala merasa malu tidak ikut membantu.


Nirmala "yatuhan, cantik sekali, aku bahkan tidak melakukan apa apa..."


Tapi para tetangga memang sangat baik. Nirmala mencoba bajunya beserta rok lipit berwarna abu cerah, sabuk obi berwarna putih gading, ukurannya sangat pas. Nirmala terlihat sangat mungil. Sepasang baju ini terasa seperti hadiah terindah untuk Nirmala. Dia terharu mendapat kebaikan sebanyak ini, seakan tidak pernah didapatkan sebelumnya.


Kakek Sapta "Kake ikut senang melihat kamu tersenyum nak. Maaf Kake tidak bisa membelikanmu baju Kebaya."


Satu pasang kebaya masih terasa mahal bagi warga miskin seperti Kake Sapta. Sebenarnya bisa saja mereka membuat kebaya, namun mereka tidak punya ilmu pengetahuan untuk membuatnya, pola baju sederhana ini pun hanya lurus lurus saja. Membuat kebaya masih dirasa sulit bagi mereka. Lagipula kain yang di pakai untuk kebaya pun berbeda dengan kain biasanya. Kebaya yang dipakai dapat membentuk lekukan badan. Bagi perempuan yang memakainya memiliki nilai keindahan lebih. Tapi nirmala tidak memerdulikan itu. hal seperti ini pun sudah membuatnya bahagia setengah mati.


Nirmala "ini sudah cukup ko"


Zaki, bocah itu berlari keliling keliling memamerkan baju baru nya. Dia nampak senang, baju usang miliknya dilempar berserakan dimana mana. Sudah usang dan beberapa bagian berlubang.


Semua terkekeh geli melihatnya pamer namun juga senang.


Zaki menghampiri Nirmala menyombongkan sulaman di kerah dadanya. Nirmala membalas tidak mau kalah. Malam itu seluruh penjuru diisi dengan tawa bahagia..


-----


Entah ada angin apa semalam. Bayu datang mengunjungi Nirmala sore ini dengan membawa bingkisan berisi camilan dan obat herbal. Seharuanya nirmala banyak berterima kasih padanya karena dia telah merawatnya saat itu. Namun bayu bukan orang yang perhitungan, menolong ya berarti menolong tidak ada hubungannya dengan berhutang atau balas budi. Memang orang yang baik.


"Apa yang kau bawa, Bayu?"


"Sesuatu yang mungkin kau tidak suka" Bayu memberikan bingkisan itu. Dan Nirmala menerimanya.


"Wah.. camilan... Sejak kapan aku tidak suka." Nirmala buru buru membawa piring dan meletakan camilan camilan itu. Meletakannya di bangku halaman depan dan mereka duduk disana. Zaki melihat dari kejauhan dan berlari menghampiri.


Nirmala " ehh. Ini bukan untukmu. Semua miliku"


Zaki "oh. Pelitnya...." Tetap saja Zaki tidak memerdulikan itu. Dia ambil beberapa buah camilan dengan kedua tangannya. Dan berlari pergi. Tentu saja Nirmala hanya bercanda. Zaki pun tau itu.


Bayu hanya tertawa melihat itu.


"Ini herbal apa?"


"Untuk memulihkan stamina dan menenangkan pikiran. Kukira kau masih butuh itu. Kau masih belum ingat siapa dirimu?"


"Belum. Biar saja. Aku tidak buru-buru." Nirmala sesekali memakan camilan itu.


Paman Raka sesekali keluar memeriksa jemuran padinya. Padi padi itu dia dapatkan dari upah nya menjadi buruh di peternakan.


Sedangkan Bibi Yuli sedang membersihkan sayuran untuk makan malam nanti.


Kake Sapta keluar dan bergabung duduk bersama Nirmala dan Bayu.


"Nirmala malam ini kamu ingin makan apa?"


"Hmm... Aku bosan makan sayur dan singkong. Ingin makan ayam atau ikan. Tapi makan apapun aku tidak masalah."


Paman Rai tiba tiba keluar dari rumahnya "kau mau ikan? Kalau begitu aku akan mencarinya untukmu"


"Benarkah??.. kalau begitu aku ingin ikan bakar dengan bumbu pedas manis, hehe"


"Zaki juga mau ikan bakar" teriaknya di seberang rumah


"Tidak bisa. Semua miliku wleee" Zaki hanya cemberut kesal


Bibi Yuli " yasudah malam ini kita semua makan ikan bakar saja"


Paman Raka "aku akan siapkan peralatannya"


Bayu hanya terdiam. Dengan keinginan satu gadis saja bisa menggerakan mereka semua untuk mengabulkan keinginannya.


"Aku heran padamu, sebegitu mereka menyayangimu hingga mereka semua mengabulkan keinginanmu. Apa yang sudah kamu berikan pada mereka?" Bayu bertanya dengan sedikit guyon khasnya.


"Hmmm... Kasih sayang...haha" menjawabnya dengan canda


Semua orang tertawa mendengar itu. di hadapan bayu Nirmala tidak malu memperlihatkan sifat manjanya..

__ADS_1


Paman Raka dan Paman Rai mengajaknya menangkap ikan di sungai. Air sungai sedang surut, tidak akan terlalu sulit menangkapnya.


Sebenarnya Paman Rai dan Raka bukan lah nama sebenarnya, mereka terbiasa memanggilnya seperti itu, mereka kakak beradik yang selalu rukun. Sungguh keluarga yang harmonis.


Nirmala dan Bayu ikut ke sungai. Menyusuri jalan setapak yang di pagari dengan bunga bunga liar


Sesekali Bayu memperhatikan setiap gerak Nirmala. Entah sejak kapan, bayu seperti menaruh perhatian kepadanya. Nirmala merasa memiliki seorang kakak yang selalu melindunginya.


Paman Rai dan Paman Raka turun memasuki sungai, cukup dangkal untuk mereka tapi cukup dalam untuk nirmala.


Nirmala berpikir orang orang di wilayah ini sepertinya memiliki tinggi badan yang baik, atau dia sendiri yang bertubuh pendek. Benar benar seperti bocah.


Paman Rai sedikit humoris dibanding Paman Raka yang sedikit pendiam


"Nirmala kau akan tenggelam jika air sungai kembali normal. Kaki mu terlalu pendek, haha"


Bayu pun ikut turun ke dalam air. "Ini tidak terlalu tinggi, tapi memang kaki mu terlalu pendek Nirmala haha "


Nirmala "uh.. kenapa kau ikut ikutan meledeku.... "


Karena airnya dangkal, permukaan berbatu sungai itu pun sangat terlihat, air yang sangat jernih, bahkan ikan ikannya sampai terlihat.


Paman Rai dan Paman Raka hanya menggunakan kedua tangannya untuk menangkap ikan. Mereka mendapat banyak ikan. Bayu pun dapat menangkap ikan beberapa.


Sedangkan Nirmala berapakali pun mencoba nirmala tidak dapat satupun ikan. Paman paman itu hampir menangkap sepuluh ikan.


' mereka bukan manusia' pikirnya dalam hati.


Nirmala. "Setelah ku pikir pikir, apa kalian berguru pada beruang? Mudah sekali menangkap ikan tanpa alat bantu."


Paman Rai " karena kami sudah biasa"


Bayu " haha itu karena kau terlalu payah."


Nirmala "aku juga heran kenapa orang orang di kota ini begitu tinggi"


Bayu " sudah jelas. Karena kau punya kaki yang pendek haha"


Semua orang tertawa mendengarnya. Sementara Nirmala cemberut. Bakhan Paman Raka pun ikut tertawa karenanya. Tinggi Bayu dan Nirmala tidak terlalu jauh hanya terpaut 10-15cm. Tapi mereka masih dalam masa pertumbuhan, mungkin akan lebih tinggi beberapa tahun lagi. Sedangkan Paman Rai dan Paman Raka memang sangat tinggi. Jika mereka ikut ujian untuk prajurit istana mungkin mereka bisa dengan mudah lolos dengan postur badan itu.


Banyak sekali ikan yang di tangkap, cukup untuk seluruh keluarga.


Akhirnya Nirmala hanya cemberut tidak berhasil menangkap ikan satupun Bayu menghiburnya dan malah bermain air, sesekali menjahili paman paman itu, mereka tertawa bersama, meski basah kuyup tapi mereka terlihat bahagia.


Makan malam kali ini sedikit spesial. semua orang bahu membahu membuat tungku pembakaran.


Bayu yang ikut membantu tiba tiba terhenti.


Dilihatnya dhika berdiri di balik pagar bambu.


Nirmala merasa mereka masih belum berbaikan. Nirmala menghampirinya


"Dhika, tumben sekali..ayo ikut makan, bicaranya nanti saja setelah makan" ujarnya.


Kang Iwan "makan malam kali ini spesial. ikan bakar dengan saus kedelai hitam."


'bukankah ini kecap' pikir nirmala


Nirmala asik kejar kejaran dengan zaki, beberapa membakar ikan, beberapa membuat lalapan, beberapa lagi bermalas malasan, Bayu dan Dhika hanya duduk dan saling diam. Itu berlangsung hingga makan malam selesai.


Dhika datang karena ingin membahas sesuatu dengan nirmala, tapi kebetulan ada bayu juga disana. Jika pertemanan mereka ckup dekat, tidak ada yang perlu mereka sembunyikan satu sama lain.


Sebelumnya nirmala meminta dhika untuk beberapa informasi.


Nirmala "kamu dapat informasi?"


Dhika hanya menjawab "tidak mungkin. Memang tidak ada teknologi semacam itu saat ini,


namun, jika memanggil orang mati, mungkin bisa, tapi hanya arwahnya saja, itupun dari masa lalu, ke masa sekarang, bukan sebaliknya. Kurasa jika kau bertanya pada Bayu mungkin akan lebih dapat informasi lebih"


Bayu "bertanya apa?....Nirmala?"


Nirmala "Aku bertanya apakah bisa, seorang dari masa depan tersesat di masa lalu?


bagai mana prosesnya, dan bagai mana cara mengembalikannya?" Nirmala terhenti sejenak. Ragu apakah akan melanjutkan pertanyaan atau tidak. Hal sepeeti memang tidak masuk akal "kau punya informasi yang berkaitan dengan ini?"


Bayu "........ akan ku cari tau nanti" Bayu menatap Dhika lekat lekat "Dhika yang kau katakan tadi, bagaimana prosesnya?"


Dhika "bukankah kau lebih memahami ini?"


Dhika "kau tidak akan bicara apapun?"


Bayu "apa yang harus aku bicarakan?"


Dhika "yang sedang kau sembunyikan"


Nirmala merasa seperti seekor nyamuk malam itu diantara mereka. Entah sampai kapan perselisihan mereka berakhir. "Tolong berhentilah berselisih"


Dhika "besok aku akan datang lagi. Aku pamit"


-----


Dhika membawa Nirmala ke suatu tempat. Sebuah puing rumah di tepi sungai. Tidak disangka bayu ada di tempat itu, dia berdiri entah memandangi apa.


Nirmala dan Dhika berjalan mendekatinya.


Bayu "Dulu tempat itu adalah sebuah rumah, penghuninya di bunuh oleh perampok ketika tidur, tidak ada yang tersisa disana."


Nirmala "perampok?? Apa yang mereka ambil?"


Bayu "kabarnya tidak ada benda berharga yang hilang. Mungkin bukan harta yang mereka cari."


Dhika "kabarnya seorang anak laki laki dari keluarga itu yang hilang. Warga mencarinya berhari hari tapi tidak ada jejak sama sekali."


Nirmala "kapan itu terjadi?"


Bayu "tiga belas tahun lalu"


Nirmala "itu sudah sangat lama, lalu apa hubungannya denganku? Kenapa kau membawaku kesini?"


Dhika "lihat bekas goresan itu?" Dia menunjuk ke lantai yang tergores tinta merah. Seperti memang ada orang yang sengaja melukis sesuatu di atasnya.


Nirmala mendekati goresan itu dan menyentuhnya dengan telunjuk "tinta merah?? Kira kira apa yang tergambar disini" lantai itu terbelah menjadi berkeping keping. Terkena reruntuhan dinding dan atap yang terbuat dari bebatuan berukir. Sebagian reruntuhan itu hanyut terbawa arus banjir bandang.


Dhika "info yang kudapat, sehari sebelum badai itu, keadaan lantai masih bersih. Seorang warga sempat membersihkan tempat ini. Namun sehari setelah badai, lantai itu sudah seperti itu"


Nirmala "jadi, itu coretan apa sebenarnya??"


Dhika "formasi pemanggilan"


Entah kenapa sedari tadi Bayu hanya diam mendengarkan. Sesekali memalingkan wajah. Sesekali merunduk. Entah apa yang dia pikirkan


Nirmala "pemanggilan apa",


Dhika " formasi seperti ini aku baru pertama kali melihatnya. Biasanya hanya formasi sederhana untuk memanggil arwah leluhur, atau formasi untuk pesugihan. Hampir semua coretan itu, aku baru melihat yang sepeeti ini." Dhika menghela nafas panjang "aku khawatir jika sesuatu yang terpanggil adalah mahluk jahat"


satu kalimat nirmala membuat semua terheran "kenapa bisa kebetulan, di hari yang sama, ada ritual pemanggilan. dan entah darimana tiba tiba aku muncul di jaman ini"


nirmala tertegun melihat ekspresi mereka berdua.


Nirmala "Bayu, kenapa diam saja? Kau tau sesuatu tentang ini?"


Dhika "bicaralah"


Bayu "itu..... formasi untuk ritual memanggil sesuatu untuk kembali hidup di dunia ini. Tapi, semua belum ada yang bisa membuktikannya"


Nirmala "maksudmu seperti memanggil orang mati untuk kembali hidup?"


Bayu "semacam itu"


Nirmala berbisik "kenapa kebetulan sekali"


Dhika dan Bayu mendengar bisik itu namun tidak ada yamg mempertanyakan. Jawaban atas pertanyaan itu ada di pikiran masing masing. Hanya saja tidak ada yang berani mengunggkapkannya.


------


Mereka kembali ke pasar dan mampir di toko herbal, Bayu membungkus beberapa herbal untuk Kake Sapta, belakangan ini dia sering mengeluh sendi sendinya terasa pegal.


Bayu "aku titip herbal untuk Kake Sapta ya dan teh herbal untuk semua keluarga"


Nirmala "eh. Tapi aku tidak bawa uang sepeserpun"


Bayu "tidak apa apa, ini untuk terimakasih ku untuk makan malam kemarin"

__ADS_1


Nirmala "terimakasih 😊"


Dhika "Bayu aku tanyakan ini langsung padamu. Kau, tidak ada hubungannya dengan ritual itu kan?"


Bayu diam dan menghela nafas. Dia terhenti dari kegiatan membungkus herbal nya "kenapa masih membahas itu? Kau tidak percaya padaku?"


Dhika "....."


Nirmala hanya terdiam merasa situasi malah memanas


Bayu "aku tidak melakukan sesuatu yang jahat. Aku tidak melakukan sesuatu yang sesat. Apa itu cukup?"


"......"


Jawaban itu bukan yang ingin Dhika dengar. Tapi itu sudah cukup. Selanjutnya Dhika hanya perlu percaya padanya.


Tiba tiba seseorang mengetuk dengan tergesa. Perempuan paruh baya mendatangi toko herbal Sae dengan air mata mengalir "siapapun tolong, seseorang terluka. Tolong bantu kami" dengan terengah dia berusaha untuk datang secepat mungkin. Tidak banyak tabib di wilayah itu, ilmu pengobatan masih sangat kurang, siapapun yang mengerti berkewajiban untuk membantu, begitu juga Bayu.


Mereka bertiga pergi bersama perempuan itu, dia menangis suaminya sakit parah.


Sesampainya di lokasi. Seseorang pria terkapar lemas di lantai, di kelilingi orang sekitar yang tidak mengerti harus berbuat apa. Mulutnya berbusa. Bayu dengan segera memeriksanya dengan teliti. Nadinya sama sekali tidak terasa. Nafasnya sama sekali tidak berhembus. Matanya tertutup rapat. "Dia sudah meninggal" dengan berat hati Bayu mengatakannya.


Perempuan itu histeris menangis mendengarnya. Dia memeluk dan menggerakan badan suaminya berharap dia bisa bangun kembali.


Orang sekeliling mulai ribut membicarakan kematiannya seseorang berbisik "kurasa itu sebuah kutukan" dan orang sebelahnya menimpali "sepertinya begitu kematiannya terlalu mendadak dan misterius."


Nirmala yang berdiri disamping orang itu tak sengaja mendengar.


Seseorang menerangkan "tadi sebelum meninggal dia bertingkah aneh dan berbicara lantur. Kurasa ada hantu yang mencabut nyawanya saat itu. Itu kutukan"


Dhika "kutukan? Tolong jelaskan"


Warga "info yang ku dengar dia adalah seorang yang ikut dalam rituan pemanggilan. Ritual sesat."


Istri korban membantah dengan tangis "itu tidak benar. Suamiku hanya seorang prajurit istana. Dia tidak pernah melakukan hal sesat"


Warga "lalu bagaimana menjelaskan kematian yang misterius ini. Ini jelas kutukan. Sebelumnya juga ada kasus seperti ini. Sampai sekarang tidak ditemukan penyebabnya"


Nirmala muak mendengar hal mistis seperti ini "aih,, kutukan darimana itu jelas racun. Dia mati keracunan"


Semua orang terhenti mendengar itu. Tidak ada yang dapat menjelaskan kasus ini sebelumnya.


Suami korban "racun!! Siapa yang tega meracuni suamiku?" Tangisnya kembali pecah.


Seseorang datang dari kerumunan. "Apa yang membuatmu yakin kalau dia keracunan?"


Dia memakai pakaian seorang prajurit dengan ikat kepala berwarna merah berlambang emas gambar kepala harimau. Sangat gagah dengan balutan pelindung di kedua lengan nya. Membawa sebuah pedang berukir perak di sarungnya.


Nirmala "Tingkahnya aneh mungkin efek dari racunnya sedang bekerja Bicaranya melantur itu pasti karena halusinasi dari efeknya juga., mulutnya berbusa itu tanda kalau lambungnya sudah rusak. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan mistis."


Bayu "racun yang biasanya dipakai disini tidak memiliki efek seperti ini. Umumnya jika diminum langsung, korban akan muntah darah karena organ dalam yang rusak. Kurasa ini racun jenis baru."


Dhika menunduk hormat "Tuan Budhi apakah dia....."


"Benar dia bawahanku ketika aku bertugas di ibukota." Dia menghela nafas "sepertinya kasus ini lebih rumit dari yang kita duga"


Dia memeriksa kembali jasad itu. Nirmala mendekati Dhika. "Dhika, siapa dia??"


Dhika "kepala keamanan di kota ini dia bertugas di istana Mandalika. Dua tahun lalu dia bertugas di ibukota tepatnya di Istana Sunda."


Nirmala berbisik "pantas saja, dia terlihat sangat gagah"


Bayu pun berbisik pada Nirmala "kurasa dia tidak cocok untukmu, dia terlalu tua dan kau terlalu muda "


Nirmala mencubit Bayu "ishh kamu ngelantur"


Dhika hanya menatap mereka yang saling berbisik dan tertawa.


"Nona muda, sepertinya dugaanmu benar. Ini racun. Aku akan menyelidikinya lebih lanjut di istana."


Dia mengeluarkan cerutu dari dalam kantungnya dan menyalakannya dengan lilin yang terletak di meja. "Ngomong ngomong Dhika, apa dia temanmu?"


Dhika hanya menganggukan kepalanya tanpa bicara.


"Perkenalkan, Bagus Pambudhi. Aku bekerja di Istana Mandalika. Siapa namamu nona muda?"


"N... Nirmala,, Salam kenal Tuan"


Tuan Budhi menghela nafas panjang menghembuskan asap dari cerutu yang dia hisap "Dhika, kita bicarakan ini di tempat lain. Bayu dan.... Nirmala, ikutlah"


Jasad prajurit itu di bawa ke tim penyelidik istana Mandalika untuk di selidiki lebih lanjut.


Tuan Budhi, Bayu, Dhika dan Nirmala berkumpul dan duduk di toko herbal Sae.


Nirmala "hmmmm.. kenapa kita berkumpul disini?"


Bayu "paman, apakah kasus ini rahasia?"


Dhika hanya diam seperti sudah tau semuanya.


Tuan budhi mengambil lagi cerutu baru dari kantongnya. Dia memainkannya dengan kedua jari tangan kanannya. "Seperti yang kau tau sebelum ini juga ada kasus serupa. Kalian sudah dengar gosipnya kan.. mereka dikutuk karena terlibat dengan pemanggilan dari aliran sesat.. tapi aku tidak percaya itu sebuah kutukan. Hingga tadi aku mendengar penjelasan singkatmu" dia menunjuk Nirmala dengan cerutu nya. "Memang saat ini kami belum menemukan racun jenis ini. Dan belum tau cara kerja racunnya. Aku juga tidak tau berapa lama efek yang ditimbulkan hingga korban menjemput ajalnya."


Dhika "Nirmala darimana kau tau mengenai racun ini?"


Nirmala "sepertinya aku pernah melihat yang seperti itu. Seakan sudah tidak asing untuku."


Bayu "Nirmala kau bisa mengingat hal seperti itu?"


Nirmala "aku juga tidak tau kenapa tapi sampai saat ini aku masih tidak ingat siapa diriku."


Dhika "kau... Tidak tau siapa dirimu?"


Nirmala mengangguk "aku tidak tau siapa namaku dan darimana asalku. Tapi hal hal yang biasa terjadi padaku aku sepertinya bisa ingat walaupun sekarang terasa sangat asing."


Tuan Budhi heran mendengar itu "lalu siapa kau?"


Nirmala "aku tinggal dengan Kake sapta di atas bukit, Kake bilang bahwa aku adalah cucunya yang hilang sepuluh tahun lalu. Aku tidak tau itu benar atau tidak. Aku sendiri tidak ingat semua itu."


Tuan Budhi "Kake Sapta??. Bayu kenapa tidak kau beritau aku soal ini?"


Bayu "memangnya ada apa?"


Tuan Budhi "kau tau, Kake Sapta adalah ayah dari teman dekatku. Mereka meninggal karena wabah. Dan Nirmala putrinya satu satunya hilang. Kake Sapta amat terpukul kehilangan semua keluarganya. Aku sebagai sahabatnya sudah menganggap Kake Sapta sebagai ayahku sendiri. Bertahun tahun aku mencari keberadaan Nirmala. Tidak ada jejak sama sekali. Seperti dia hilang di telan bumi. Dan tiba tiba saja Kau muncul dengan identitas itu. Entah aku harus senang atau sedih"


Nirmala "ahh... Aku mengerti"


Tuan Budhi "aku senang Nirmala ditemukan kembali, tapi aku juga sedih jika kau bukan dia"


Dhika "Kake Sapta senang dengan kehadirannya, begitu juga keluarga yang lain. Tidak ada satupun yang tidak berhagia. Ketika aku berkunjung mereka seperti keluarga yang utuh."


Bayu "aku pernah berkunjung kesana sekali ketika ada pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Mereka tidak sebahagia sekarang. Kurasa ini lebih baik dari sebelumnya."


Tuan Budhi "mereka tau bahwa mungkin saja dia bukan Nirmala yang sebenarnya?"


Bayu "mereka sudah meyakini Nirmala meninggal sejak lama. Mereka tau bisa saja dia bukan Nirmala. Tapi Nirmala yang sekarang bisa membuat semua keluarga bahagia, itu sudah cukup untuk mereka."


Tuan Budhi "begitu rupanya. Kalau begitu akupun akan mendukung keyakinan mereka. Nirmala sampaikan salam ku pada mereka"


Tuan Budhi menyimpan kembali cerutu miliknya "mengenai kasus yang akan aku bahas adalah. Aku menerima perintah rahasia dari tim penyelidik Istana pusat untuk menangani kasus ini secara rahasia"


Dhika "karena itu lah Tuan membiarkan gosip beredar?"


Nirmala "apakah gosip itu dibuat secara sengaja ?"


Tuan Budhi menatap Nirmala dan mencondongkan badannya menatap lekat lekat gadis itu. "Kau, cukup pandai untuk seukuran bocah"


Nirmala "bocah??"


Tuan Budhi "untuk mengurangi kecurigaan pihak tidak dikenal aku mengumpulkan bocah bocah sepertimu untuk bekerjasama"


Nirmala mengerut kan kesal disebut sebagai Bocah. Nirmala merasa di usianya sekarang sudah tidak cocok di sebut bocah. Bahkan Nirmala merasa sudah cukup dewasa.


Tuan budhi melanjutkan "aku senang menemukan bocah yang cukup pandai seperti mu."


Nirmala "oh. Apakah Bayu dan Dhika juga termasuk bocah pilihanmu?"


Tuan Budhi "benar" nirmala pun tersenyum geli mendengar itu.


Note : Istana Sunda adalah istana pusat yang memerintah di negeri ini.


Wilayah seluas jawa barat dan perbatasan di jawa tengah. Ibukota Bertempat di Pakuan (Jawa Barat)


Setiap Pemerintahan memiliki Divisi keamanan dan tim penyelidikan masing masing. Tim penyelidik bekerja terpisah dengan keamanan istana. Tapi terkadang Paduka Raja dapat menginstruksikan secara langsung.

__ADS_1


Sedangkan Istana Mandalika adalah pemerintah daerah di satu wilayah kecil. Biasanya terdapat beberapa kota kecil di dalamnya.


Mandalika \= gelar/jabatan setingkat dengan walikota


__ADS_2