
Brakk!!
Tuan Wilis dengan keras menggebrak meja. Merasa kesal dengan yang sudah dia dengar dari ketiga prajuritnya yang baru saja melapor.
"Setelah dia mempermalukan ku dalam perjamuan. Kini dia dengan terang terangan menentangku. Panggilkan Boriss!!"
Tidak lama Boris datang menghadapnya. Boris adalah keponakannya yang patuh. Ayahnya tewas dalam perang belasan tahun lalu. Kini dia sangat menghormati pamannya itu.
"Paman" dia menunduk hormat.
"Pergilah ke kediaman Wijaya. Beri mereka pelajaran atas penghinaan yang dilakukan anak angkatnya"
"Baik paman"
Perselisihan antara Wijaya dan Wilis semakin memanas. Tuan Wilis merasa bahwa Bayu tidak menghargainya. Menghalang halanginya berbuat sesuatu. Terutama mengenai Nirmala. Mereka memiliki sudut pandang yang jauh berbeda seperti dua ujung magnet yang saling bertabrakan.
Mendengar laporan dari prajurit itu bahwa Nirmala menjadi semakin kuat. Membuatnya berasumsi bahwa Nirmala menjadi Kuat karena memiliki Giok itu. Hingga Tuan Wilis semakin membulatkan tekad untuk mengambil giok itu.
Boris segera melakukan perintah dari Tuan Wilis. Mendatangi Keluarga Wijaya. Ditemani dengan satu pleton pasukannya. Memaksa masuk. Mendobrak Pintu. Memukuli penjaga dan pelayan. Menghancurkan barang barang. Semua orang dibuatnya panik.
Haris "Apa yang kau lakukan, datang tanpa sopan santun. Kau ingin mengebarkan bendera perang?"
Boris "Perang? Benar. Tapi kali ini Aku datang karena ingin memberi keluarga ini pelajaran."
Tuan Wijaya "Apa maksudmu?"
Boris "Tuan kau tidak tau putramu ada dimana?"
Tuan Wijaya "Maksudmu Bayu?"
Boris "Benar. Dia mehancurkan rencana kami untuk menangkap Nirmala. Dia bersekongkol dengan seorang pembunuh. Tentu tuan masih ingat dengan gadis pembunuh ini kan?"
Tuan Wijaya "Nirmala masih hidup?"
Boris "Sudah cukup basa basinya. Kali ini aku akan menahan diri. Sebaiknya tuan menghukumnya dengan keras, karena jika tidak. Aku juga mungkin tidak bisa menahan amarah paman ku"
Mereka pun pergi.
Haris mengerutkan dahinya "Kali ini apa lagi yang dia perbuat"
Tuan Wijaya "Jika dia pulang, beritau untuk langsung menemuiku"
Beberapa saat kemudian seorang utusan memberinya sepucuk surat. Dari Tuan Wiriya.
Dalam suratnya tertulis bahwa Tuan Wilis memang secara diam diam mengirim satu kelompok untuk mencari Nirmala. Dan Bayu mengikutinya. Tujuan dari pencarian itu tidak lain tidak bukan ialah untuk mencari Giok Cahaya.
Mendengar itu Tuan Wijaya geram. Jelas maksud tuan wilis mencari giok itu secara diam diam untuk dirinya sendiri dan Bayu secara naluri melindungi temannya. Tidak ada yang salah dengan Bayu. Tuan Wilis memang sedikit keterlaluan.
Smentara itu di gunung Halimun, Nirmala masih terbaring di tempat tidurnya. Tama menemaninya di samping tempat tidur. Tama terlelap lelah menunggu Nirmala bangun.
Tama merasa bersalah karena melanggar aturan ketua, tidak boleh keluar melebihi pagar energi. Tama selalu melanggarnya, kali ini dia harus menerima hukumannya. Tapi apapun yang terjadi Tama tidak pernah menerima hukuman dari ketua. Itu membuat seisi kelompok menjadi iri, dan merasa tidak adil.
Nirmala perlahan membuka kan matanya, melihat Tama ada disampingnya, dia meletakan tangannya di atas kepala Tama, mengelusnya lembut. Perlahan Tama pun terbangun.
"Putri sudah bangun."
"Hmm. kKnapa kamu tidur disini."
"Aku mencemaskanmu."
"Benarkah."
"Tentusaja. Kau hampir mati gara gara aku."
"Kau menyesal?"
"Hmm. Sedikit."
"Kenapa hanya sedikit"
"Maafkan aku."
"Hmm tidak apa apa, maaf aku tidak datang tepat waktu."
"Itu salahku."
Tama mulai mengalirkan air matanya. Dia menggenggam tangan Nirmala dan meletakannya di pipinya.
"Aku menyayangimu, aku tidak igin kaku terluka lagi."
"Aku baik baik saja, hanya sedikit kelelahan."
"Lukamu sangat banyak."
"Ini tidak seberapa."
"Aku harus berterimakasih pada temanmu. aku belum sempat mengatakannya."
"Kenapa?"
"Saat kami datang kau tiba tiba pingsan. Ketua membawamu pulang segera, tidak membiarkan temanmu unutk ikut. Ketua memintanya untuk tidak kembali lagi."
Nirmala bangun dan berusaha duduk di tempat tidurnya.
"Ketua turun gunung?"
"Hmm."
"Apa dia memarahimu?"
"Tidak, dia bahkan tidak bicara padaku sma sekali."
"Aku akan bicara padanya."
"Tidak tidak. Untuk saat ini istirahat lah dulu. kau terluka sangat banyak."
"Baiklah, tapi kau berjanjilah jangan pergi kemanapun tanpa memberitahuku."
"Hmm. Baiklah."
Ketua datang dari balik pintu, seakan mendengar semua yang mereka bicarakan.
"Bukankah sudah seharusnya seperti itu sejak dulu."
"Aku menyesal." Tama menunduk seakan menyesali segalanya.
"Ketua."
"tidak tidak, tidak perlu bangun. Tetaplah di tempat tidur."
"Ketua, tolong jangan marah padanya,"
"Kau lihat? Dia hampir mati karena mu. dan dia masih saja membelamu." Ketua berbicara keras kepada Tama. Membuat bocah itu semakin menangis.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang"
"Dia sudah menyesalinya ketua tolong maafkan dia."
"Hmmmh... Tama tolong panggilkan Jaka kemari. Kami harus membicarakan hal penting."
Tama mengangguk dan meninggalkan ruangan itu.
"Putri dengar, keadaan akan semakin rumit karena mereka telah mengetahui bahwa kau masih hidup. Mereka pasti akan terus mencarimu. Mulai sekarang, bisakah kau untuk tidak terlibat dengan mereka?"
"Ketua aku harus bagaimana lagi, aku tau ini akan semakin rumit, tapi jika aku terus berada disini, maka keluarga kita juga akan terancam. Aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi."
"Kau tidak harus pergi. Kami akan melindungimu. Semua menyayangimu."
"Ketua, ditinggalkan seorang diri adalah hal paling menyakitkan. Anda tau itu. Aku hanya tidak ingin hal itu terjadi lagi. Melihat keluargaku mati tak bersisa ðŸ˜"
"...."
"Aku ingin semua yang ada disini tetap aman, sehingga aku bisa berkali kali mengunjungi kalian."
"Bagaimana dengan kami, bagaimana dengan Tama. Tidak kah kami memikirkan hal yang sama?"
"..."
"Kami tidak ingin melihat kau menderita di luar sana. Kami tidak ingin melihat kau mati tanpa perlindungan diluar sana."
"Lalu apa yang harus ku lakukan."
"Tetap lah disini."
Nirmala menghala nafas panjang. Dia bimbang dengan sesuatu yang harus dia putuskan.
"Ketua bisakah aku pergi ke kota, ada yang ingin aku cari."
"Mencari temanmu?"
"Mmm sebagian benar, tapi tujuanku kesana bukanlah itu. Aku ingin mencari informasi mengenai Giok Cahaya."
"Giok Cahaya...aku jadi teringat satu hal, saat aku menemukanmu bersama tuan muda itu, dia bertanya mengapa Giok itu tidak melindungimu. Karena seharusnya giok itu bersifat melindungi pemiliknya. Tapi aku tidak menjawabnya. Aku pun tersadar bahwa, sebenarnya kau tidak memiliki giok itu kan? Atau kau tidak membawanya, bahkan ketika setahun ini, kau sama sekali tidak membawa benda itu bersamamu. Apa aku Benar?
mereka tidak tau itu kan? mereka masih mengira kau masih memilikinya."
"...."
"Putri mungkin sudah saatnya kau memberitahu mereka bahwa kau sama sekali tidak memilikinya, bukankah itu akan membuatmu aman?"
"Lalu kemana mereka akan mencari?
Mereka tau bahwa giok itu tidak bisa dimiliki siapapun didunia ini sebelum pemilik sebelumnya mati, atau sebelum waktu perintahnya habis.
Mereka hanya tau aku yang mengambilnya. Selain itu mereka tidak akan punya petunjuk, jikapun aku mengatakan itu pada mereka, mereka tidak akan percaya.
Mereka pasti akan terus mencariku.
Mereka juga tidak akan percaya jika aku berasal dari seribu tahun di masa depan. Semua adalah jalan buntu bagiku. Sampai aku mati dihadapan mereka, mereka tidak akan berhenti."
Suara ketukan terdengar. Jaka datang dari balik pintu.
__ADS_1
"Ketua memanggilku?"
"Jaka, perintahkan anak buahmu untuk mengawasi Tama, jangan biarkan dia meninggalkan benteng."
"Baik."
"Kau sudah mengetahui asal usul mahluk itu."
"Aku punya dugaan, tapi masih belum terbukti benar."
"Apa itu"
"Di gunung kulon, ada pusara energi negatif, samar samar, tapi kurasa ada hubungannya dengan ini. Aku masih belum menyelidikinya sampai sana."
"Apa jalur kesana berbahaya?"
"Kami hanya bisa mengamati dari jauh. Pernah terlihat seseorang masuk kedalam hutan. dan belum terlihat kembali keluar. Mungkin tersesat atau semacamnya."
"Hanya satu orang?"
"Beberapa kali, mungkin sudah lima orang masuk kesana. Bisa jadi teman temannya mencari atau semacamnya. Kami tidak berani mendekat."
"Begitu."
"Hanya saja, ada yang sedikit aneh."
"Terkadang setiap malam banyak kelelawar keluar dari sana, aku khawatir mereka menebar virus atau semacamnya. atau juga kelelawar itu lah mahluk bayangan itu."
"Hah?"
"Bukankah mahluk bayangan itu bersifat seperti air?"
"Aku tidak yakin. Aku masih mencaritahu secara detail."
"Baiklah, lanjutkan saja dulu."
"Baik,.oh putri, ada seseorang menembakan panah ke tempatmu berjaga, ada pesan bersamanya, kurasa ini memang untukmu,"
Jaka memberikan secarik kertas itu.
"Oh, sebelumnya aku membuka surat itu tapi aku tidak bisa membacanya, jadi kuserahkan padamu langsung."
"heii, jika ini untukku maka jangan buka sembarangan."
"Aku takut itu ancaman yg melukaimu, atau ada semacam racum didalamnya. Aku kan harus periksa itu, bagaimana jika melukai seisi desa."
"ish. alasan saja."
Nirmala membukanya dan membacanya dalam hati. Sedikit kaget dengan apa yang tertulis disana. Nirmala belum bisa lancar membaca huruf kawi. Tapi dia bisa sedikit mengerti. Namun dalam surat ini. Memakai huruf alfabet dengan bahasa melayu.
Ketua bertanya "Bisakah kau memberitahu apa yang tertulis di dalamnya."
"Seseorang ingin bertemu denganku."
"Apa dia seorang teman?"
"Ya, dia temanku. Tiga hari lagi aku harus bertemu dengannya, ketua tolong ijinkan aku pergi ya."
"Baiklah. Tapi kau harus ditemani. Jaka ikutlah dengannya."
"Baik."
"Ha? Aku sendiri saja sudah cukup."
"Kalau begitu kau tidak boleh pergi."
"Ah, baiklah."
"Putri maaf aku sedikit penasaran, bahasa apa yang dia gunakan itu?"
"Bahasa melayu tentu saja. Sepanjang hidupku di negeri ini hanya menggunakan melayu untuk berkomunikasi."
"Tapi aku tidak mengenal hurufnya."
"Ah. itu, dia menggunakan alfabet, huruf dari bahasa Inggris, bisa disebut juga sebagai huruf latin. hmm tulisannya cukup bagus untuk seorang pelajar."
"Dia bisa membaca huruf latin?"
"Ya, aku pernah dengar dia memperlajari beberapa bahasa luar. Dan dia tau aku hanya mengerti huruf ini"
"Apakah tidak berbahaya jika dia menggunakan huruf ini. Bisa saja dia dicap sebagai mata mata"
"haha, aku rasa tidak mungkin, dia bahkan seorang calon puragabaya, dan keturunan dari keluarga terpandang, mungkin akan sebaliknya, dia akan di anggap berguna bagi negeri."
"Ppuragabaya??"
"Mn. Dia akan jadi orang hebat"
Ketua berpesan "Apapun yang terjadi berhati hatilah."
"Tidak perlu khawatir ketua. Aku baik baik saja."
Tiga hari berlalu, Nirmala dan Jaka pergi ke tempat pertemuanya dengan seseorang. Dhika. Di sebuah jembatan kayu yang memotong sungai yang luas, dekat dengan air terjun. Dhika menatap air terjun itu di tengah jembatan. Ada pelangi besar yang indah diantaranya.
Dhika melihat dari kejauhan ketika mereka berjalan mendekatinya.
Untuk pertama kalinya setelah setahun berlalu, mereka kembali bertemu.
Dhika terlihat sangat gagah, dan semakin dewasa, mata Nirmala mulai berair.
"Nirmala.."
Nirmala tersenyum, kemudian tertawa, air mata mengalir di pipinya.
"Aku senang melihatmu kembali Dhika."
Dhika memeluknya lembut.
"Aku dengar kau masih hidup, dan Bayu bercerita selalu tentangmu, bagaimana kabarmu? Apa kau hidup sehat, apa tidurmu nyenyak? kau makan teratur?"
Dhika seperti kakak tertua antara mereka bertiga. Dia paling dewasa dan selalu bisa menjaga sikap. Dihadapan Bayu dan Nirmala dia paling tidak bisa menolak permintaannya, bahkan setiap kali mereka ingin makan enak, ataupun lelah berjalan kaki, keluhan mereka selalu diturutinya. Itu hal yang paling diingat Nirmala. Seperti seorang kakak yang menjaga adik adiknya.
"Aku baik baik saja Dhika. Sungguh."
"Maafkan aku,"
"Soal apa?"
"Aku tidak bisa melindungimu, aku tidak bisa menyelamatkanmu. aku..."
"aku baik baik saja sungguh. jangan menyalahkan dirimu, ini semua adalah takdir dari tuhan."
"aku sangat menyesal ...
seandainya aku tau bahwa.."
"Dhika sudah lah, kita bicarakan hal lain sjaa ya..."
"hm."
"Jadi ada hal apa yang ingin kau bicarakan."
"itu."
"Ah, putri, bisakah kita mencari tempat dimana tidak ada seorangpun yang bisa melihat kita bicara."
"Kalian ikutlah denganku."
Di sebuah pondok kecil di pinggir sungai, jauh dari pemukiman warga. Pondok itu biasa digunakan keluarga Wiriya untuk menenangkan diri dari segala hiruk pikuk kehidupan. Tempat yang nyaman dan indah.
Di Sebuah ruangan di pondok kecil itu, mereka duduk, suara burung seakan selalu mengiringi, gemericik air menjernihkan pikiran. Benar benar tempat yang nyaman.
Nirmala dan Jaka menunggu di ruang tamu,
Dhika datang dan meletakan dua piring camilan lalu kembali membawa dua gelas minuman.
"Kau masih suka camilan manis, aku menyiapkannya untukmu."
Nirmala tersenyum, "kau memang terbaik Dhika, terimakasih."
Jaka yang melihat itu seakan mengerti betapa dekatnya mereka.
"Kenapa Bayu tidak bersamamu, kemana dia?"
"dia tidak diperbolehkan keluar oleh tuan Wijaya. "
"Ah? Ada masalah apa?"
"Tuan Wilis marah dan mengancam mereka,"
"Jika aku pikir pikir, Tuan Wilis semakin lama semakin berkelakuan buruk. Ada apa dengannya, apa dia kerasukan atau semacamnya?"
Mendengar itu Dhika seperti teringat sesuatu.
"Oh, mengenai itu, apa selama ini kau memperhatikan kami?"
"ha?"
"Aku, Bayu, Tuan Wilis. Prajurit itu, bagaimana kau tahu semua itu?"
Nirmala bertanya kepada jaka.
"Apa aku boleh memberitahukan ini padanya?"
"Tidak". Jawab tegas Jaka padanya.
"hmm. kau benar, aku selalu memperhatikan kalian selama setahun ini."
"hey bukankah ku bilang tidak", sahut jaka.
Nirmala hanya tersenyum.
__ADS_1
"kami tidak pernah melihat mu dimanapun, tidak ada tanda apapun darimu. Bagaimana cara nya kau mengetahui semua informasi itu."
"hmm aku hanya mengamati dari jauh. Kau tau, mereka jauh lebih hebat dalam mencari informasi. (menunjuk jaka dengan jempolnya) dibanding denganku, aku tidak diijinkan pergi jauh dari gunung."
Dhika hanya mengerutkan dahi seperti tidak mengerti.
"Ah sudahlah.
selama ini dia tidak mempelajari bahasa dan huruf lain. Jadi pasti darimu."
"Kau tau aku mempelajari ini."
"Tentu saja,"
"Putri "
"hmm. apa?"
"Boleh aku bicara?"
"Ya silahkan."
"Begini tuan muda, selama setahun kebelakang dia selalu memperhatikan mu dan temanmu, terkadang dia tersenyum sendiri, terkadang, dia merasa khawatir, terkadang dia merasa sedih.
Aku tidak tau sebenarnya siapa yg dia perhatikan karena jarak pandangku tidak sejauh miliknya, jadi, ketika kau berada di jarak pandangnya, sudah pasti dia melihat apapun yang kau lakukan.
Apa itu menjawab semua pertanyaanmu?"
"Hey kenapa malah kau yang memberitahunya?"
"....."
"kenapa kau tidak menemui kami?
kami mencarimu selama ini, kami merindukanmu kau tau itu?"
Jaka meenjawab nya
"Kurasa dia juga merindukan kalian.
melihat nya sedekat ini padamu, aku jadi mengerti bahwa ikatan kalian lebih erat dari yang terlihat."
"Bayu tidak tau mengenai ini?"
"Aku tidak memberitahunya, tapi dia menyadari itu."
"Tentusaja."
"Nirmala mengenai giok cahaya... "
"Dhika tolong jangan tanyakan dimana itu berada."
"mereka mencarinya. dan mereka akan mencari itu."
"Hmm. bisa kau membantuku?"
"Apa?"
"katakan lah bahwa aku sudah pergi dari gunung Halimun, jadi percuma jika mereka mencarinya disana."
"Katakanlah bahwa aku pergi ke hutan kulon."
"Putri !!" Jaka menyela dengan heran. Entah apa yang Nirmala rencanakan.
"Tidak apa apa jaka, tidak perlu khawatir."
"Ada apa disana?"
"Dhika tolong beritahu seperti itu saja jika mereka masih tetap mencariku. ya. Sebarkan rumor seperti itu. Aku tidak ingin membahayakan keluargaku."
"Baiklah. oh, ini." Dhika menyimpan sebuah buku di atas meja. Buku yang pernah dimiliki ayu..
"....??"
"Ketika ayu masih hidup, dia sangat sedih mendengar info bahwa kau meninggal. Dia semakin lama kesehatannya tidak membaik. Bahkan semakin buruk.
Sebulan sebelum dia wafat, dia memberikan ini padaku. Dia penasaran kenapa saat itu kau seperti mengerti isi dari buku ini. Kau seperti penasaran dengan isinya. Kau seperti ingin membacanya lebih jauh. Dia memintaku untuk menyimpan ini."
"Ayu...." Nirmala memandangi buku itu dan lalu mengambilnya. Membukanya perlahan lembar demi lembar.
"Selama setahun ini, aku mempelajari nya, hurufnya, bahasanya, apapun yang ada disini. Tapi aku tidak mengerti apakah kau tertarik dengan buku ini karena kau bisa membacanya atau, karena apa yang dibahas disini. Aku mengira buku ini ada hubungannya dengan mu dari masa depan. Setalah setahun memperlajari berbagai bahasa akhirnya aku mengerti. Tapi aku belum tau hingga kami kembali ke desa berkabut. Arwah itu, memberikan petunjuk."
"Apa Bayu tau soal buku ini."
"Tidak. Aku tidak pernah memberitahu hal semacam ini padanya. Aku tidak ingin dia terlibat lagi dalam hal hal mistis."
"Dhika tolong jangan bahas ini dengan siapapun lagi ya. Lagipula isi dari buku ini tidak berguna sama sekali. Biarkan itu menjadi sebuah mitos."
"Putri. itu buku apa? Boleh ku lihat?"
"Lihatlah" Nirmala memberikan buku itu pada Jaka
"ha? Huruf yang digunakan sama dengan pesan itu."
"Mn memanglah huruf ini."
"Oh, ada gambar nya, ini,, Giok Cahaya??
"Itu juga yang ingin ku tanyakan padamu. apa itu giok cahaya?"
"Entahlah. Bentuknya tidak seperti itu. aku tidak tau. Hanya saja bentuknya berbeda dengan miliku."
"Apakah sifat dan fungsi kekuatannya sama?"
"Tidak tau, aku tidak pernah menggunakannya. Tapi jika menurut arwah itu benar, maka memang lah sama."
"Atau ada giok lain yang fungsinya sama.?
"Bisa jadi. Dunia ini sangat luas, hal seperti itu banyak dimana mana."
"Benarkah?" Jaka bertanya heran.
"Ya, yang seperti itu ada banyak, hanya saja pemiliknya bukan lagi manusia. Aku sebagai orang awam hanya percaya bahwa itu hanya benda biasa. Hanya orang tertentu yang bisa mengetahuinya"
"Apa dimasa depan ada yang seperti ini?"
"Hanya orang orang hebat yang memilikinya. Yang memiliki kemampuan di atas rata rata. Kuyakin di jaman ini bahkan ada lebih banyak lagi."
"Lebih banyak? kenapa.?"
"Ku dengar orang di jaman ini semua sakti. Ya itu sudah terbukti sih"
"Sakti? Seperti apa?"
"Seperti yang bisa kau lakukan sekarang, ilmu beladiri dengan menggunakan kebathinan, di jamanku sudah tidak ada yang seperti itu. Jadi itu sangat tidak biasa."
Jaka terdengar sangat penasaran. Sementara Dhika hanya menyimak semua pembicaraan.
"Lalu kehebatan apa yang ada dijamanmu."
"Teknologi tentunya. Manusia jaman ku lebih banyak menggunakan kepintaran dibandingkan kekuatan. Mereka pandai menciptakan barang barang. Seperti alat mengirim pesan dalam waktu satu detik."
"Satu detik. ?"
"Ya, namanya ponsel. Ssudahlah. kuceritakan itu ketika pulang ya... jadi Dhika, sampai dimana kita tadi?"
"Kemungkinan gioknya ada dua?"
"Kita simpan itu sebagai jawaban kedua."
Camilan di piring hanya sisa beberapa buah saja. Nirmala tidak henti berbicara sambil mengunyah camila itu. Biasanya Dhika akan marah. Namun saat ini dia seperti membiarkan semua mengalir.
"Kau masih lapar? Apa yang kau ingin kan? aku akan membawakannya?"
"hmmm. Untuk kali ini kurasa cukup."
"Bagaimana jika lain waktu bertemu lagi. Aku akan menyiapkannya untukmu. apa yang kau inginkan?"
"Bagaimana kalau kau buatkan aku martabak manis."
"Baiklah aku akan membuatkannya."
"Hm sebenarnya ada banyak dijual di jamanku. Hanya saja sudah lama aku tidak makan itu, dan aku belm pernah makan itu disini. Bahkan itu dijual sangat mahal disini."
"Kalau mahal kenapa kau minta itu, kau tidak tau jika dia keberatan."
"Itu sangat murah di jamanku, aku bisa makan itu setiap hari. Lagipula, dia orang kaya, mana mungkin harga nya terasa mahal."
"Apa kau tidak tau malu meminta makanan mahal pada temanmu."
"Ah, kau benar, dulu aku selalu mengeluh ingin makan makanan mahal padanya. ini pertama kalinya sejak berpisah setahun lamanya."
"ish..."
Dhika tersenyum dan melanjutkan pembicaraan yang tadi terputus.
"Nirmala mereka berpikir bahwa kau kini lebih kuat karena memiliki giok itu. Jika kau tidak menggunakannya maka perkiraan mereka semua itu salah."
"hm. Mereka memang salah. Aku lebih kuat karena aku berlatih. Jangan percaya dengan hal seperti itu. Kekuatan yang didapat dengan bantuan suatu benda tidak akan bertahan lama."
"Kudengar kau pingsan ketika mereka berusaha menyerangmu. Kau baik baik saja?"
"Hmm. Aku hanya kelelahan."
"Bayu menghawatirkan mu."
"Katakan padanya aku baik baik saja."
"Berjanjilah padaku, kau tidak akan memaksakan dirimu. Kau tidak perlu selalu terlihat kuat. Kau manusia, kau juga perempuan."
"Terimakasih."
__ADS_1
Note :
Sebenarnya aku gak tau makanan khas saat itu apa, tapi aku sebut makanan khas pada saat ini saja, temen temen pasti tau makanan yang tadi aku sebut diatas.