
"Datang tak di jemput. Pulang tak di antar.
Seperti Jelangkung saja. Kali ini siapa yang memanggilku datang?"
Rinaya menghela nafas pendek dan bergumam "Lima belas tahun?"
Gemericik air hujan bersahutan. Rinaya menjulurkan tangannya dari balik jendela. Merasakan titik titik air hujan yang sedingin es. Dalam tidurnya tadi seakan mengingatkannya akan semua hal yang di alaminya saat itu. Bulu matanya menurun. Raut wajahnya meredup. "Menyedihkan! Kenangan yang buruk. Kenapa aku harus kembali?"
Seseorang masuk dari balik pintu tanpa mengetuk. Tidak ada yang sangat tidak sopan kepadanya kecuali Ratih-sahabatnya. Lagipula itu kamar tidur perempuan. Itu membuat Rinaya terkejut dan sedikit marah. Tapi tidak lama ekspresi itu berubah drastis ketika melihat seseorang berdiri di ambang pintu. Begitu juga dengannya yang mematung seolah waktu sedang berhenti. Pradhika Wiriya sangat terlihat gagah dan berwibawa. Dia bukan lagi anak remaja yang di kelimuti kebimbangan. Sorot matanya semakin terlihat meyakinkan bahwa dia seorang yang berkarakter.
Rinaya turun dari ranjangnya berlari dan memeluk pria itu penuh Rindu. Dhika melingkarkan tangannya diantara tubuh mungil itu. Tersenyum penuh haru dan rasa syukur. "Selamat datang kembali!" ucapnya pelan.
Rinaya masih tenggelam di tubuh atletis itu. masih melingkarkan tangannya erat. "Aku tidak percaya aku masih bisa hidup. Aku tidak percaya ternyata semua bukanlah mimpi. Aku tidak percaya bisa kembali bertemu denganmu lagi."
"Aku sudah berjanji" ujarnya pelan. Rinaya menengadahkan wajahnya menatap pria cantik itu "Janji?" Tapi Dhika tidak menjawab apapun. Hanya tersenyum tipis.
"oh Kau sudah bangun" Dylan datang membawa nampan berisi makanan dan menaruhnya di meja. Dia duduk bergabung dengan yang lainnya.
"Aku baru akan membahas sesuatu yang penting dengannya. Bisakah kau tidak di sekitar sini dulu?" dengan sinis Rinaya menatap mata Dylan.
"Tidak bisa. Kau adalah Tahananku. Aku tidak akan membiarkanmu bersamanya. Kau mungkin akan kabur dengan dia?"
"Sejak kapan aku jadi tahananmu. Aku bahkan tidak melakukan kesalahan apapun!"
"Sekarang memang tidak. Tapi lima belas tahun lalu kau memang melakukan sesuatu."
Rinaya terdiam mendengar itu. Bagaimana dia tau tentang dirinya. "A- Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!"
Dylan tersenyum pahit. "Setelah yang kau lakukan di depan semua orang. Kau kira tidak ada yang tau kau itu siapa?"
"Ha? Apa yang aku lakukan?"
"Memang kau sangat bodoh." Dylan membuang muka. Sebal.
Dhika menjawab itu dengan datar "Anak panahmu yang terpecah menjadi beberapa. hingga saat ini belum ada yang bisa melakukan itu."
Rinaya memutar matanya. "...... aaaaaa... benarkah?"
"Balapati! Apa kita tidak salah orang? Dia lebih bodoh dari cerita orang orang."
"Tidak. Memang dia orangnya." lagi lagi menjawab dengan nada datar.
"Hmm...Apa yang dikatakan orang-orang tentangku?"
Dhika "Jangan dengarkan cerita orang. Mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi."
"Ya. Baiklah. Lagipula aku sudah terbiasa dengan omongan orang. Eh, Ini kue apa? Enak sekali." salah satu kebiasaan Rinaya yang sangat di ingat oleh Dhika.
Rinaya "Kenapa menatapku seperti itu. kalau kau mau ambil saja."
Dylan "Siapa yang -"
Dhika "Sudah sudah. Tidak perlu bertengkar. Kau bilang akan membahas sesuatu yang penting denganku. Ada apa?"
"oh" Rinaya minum teh yang tersedia di meja. Menelan semua makanan di mulutnya. "Bayu ada dimana?"
"....." Dhika hanya diam tidak menjawab itu. Begitu pula dengan Dylan.
Rinaya "Apa yang terjadi padanya? aku mendengar sesuatu yang buruk tentangnya. Aku tidak percaya. Jadi aku ingin tanyakan langsung padamu." Wajahnya memuram tertunduk. "Apa dia benar benar sudah meninggal?"
Dhika "Tidak ada Jasad. Tidak ada Kehidupan. Dia lenyap seperti halnya dirimu."
Rinaya "Setelah terjatuh dari tebing. Aku bangun di ranjang rumah sakit. Dokter bilang aku mengalami koma selama beberapa bulan. Setelah itu aku harus pemulihan enam bulan kedepan karena aku kengalami sedikit kelumpuhan. Siapa sangka aku bisa kembali lagi kesini. Tapi..... Bayu ..... Rasa rasanya tidak mungkin."
Dhika "Apa yang kau pikirkan?"
Rinaya "Ketika dia hilang memasuki lembah Jiwa aku sangat yakin dia baik baik saja. Jika tidak ada jasad,... mungkin saja dia masih hidup."
Dhika "Semua orang menyaksikannya. Dia lenyap bersama Serigala serigala itu."
Rinaya menahan nafas seakan ingin menahan kata kata di tenggorokannya. "Aku akan mencarinya."
Dylan "Kenapa harus mencarinya?"
Rinaya "Sebelum itu. Aku ingin bertanya. Kira kira siapa yang memanggilku datang kesini?"
Dylan "Apa ada hubungannya dengan itu?"
Rinaya "Mungkin saja. Jangan banyak bertanya jawab saja pertanyaanku."
"....."
__ADS_1
Rinaya "Aku dengar seorang Patih Sedang menyelidiki kasus di Bintuni. Disana aku pertama kali muncul. Haha. Kurasa mereka akan mencari aku secepatnya."
Dylan "Mereka sudah menemukannya"
"Ha?"
Dhika "Adrian Dylan adalah salah satu anggota penyelidik Istana di Ibukota. Dibawah komando langsung dari Paduka Raja."
Rinaya terbelalak mendengarnya. Tetap saja itu membuat Rinaya sedikit ngeri. "ha ha h.. Jadi karena itu kau menangkapku? Hebat sekali."
Dhika "Tidak ada yang tau mengenai identitasnya. Identitas Penyelidik khusus sangat di rahasiakan. Dia akan memakai identitas lain untuk menyelidiki kasus. Bahkan tidak diketahui jumlah dan kemampuan setiap anggotanya."
Rinaya tersenyum kagum "Wah. kau sangat hebat ternyata. Lalu kenapa Dhika tau mengenai ini?"
Dylan "Dia yang merekomendasikan aku. hanya dia yang tau. Tapi dia selalu acuh padaku meski sudah lama saling kenal. Eh Aku yakin kau tidak ingat padaku."
"Aku?" Rinaya memutar matanya. "Memangnya kita pernah bertemu?"
Dylan "Balapati. Aku tidak percaya penyelamatku ternyata seorang yang sangat bodoh."
"Seenaknya saja" Rinaya berguman tidak terima dengan ucapan itu. "eh tunggu. Penyelamatmu? Aku?"
Dhika "Kau tidak ingat? Seorang bocah terkena tembakan. Kau dan Bayu merawatnya."
"Hooo!!!" Rinaya berdiri senang. Tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan bocah itu. Tentu saja dia tidak mengenalinya. Bocah itu sudah lima belas tahun lebih besar. Rinaya menepuk pundaknya dengan kuat. "Kenapa tidak bilang dari awal. Malah membuatku bingung. Hahaha. Aku senang bertemu denganmu lagi. Kau terlihat sangat tampan dan keren."
Dhika hanya menghela nafas dan memutar matanya.
Dylan "Kau sama sekali tidak berubah."
Rinaya "Jadi. Apa kau akan menangkapku? dengan alasan karena aku mungkin seorang mata mata? atau karena aku seorang Bandit Halimun. Atau karena-..."
Dylan "Jangan samakan aku dengan Biro keamanan lainnya. Aku tidak seperti itu."
Rinaya "Lalu apa tujuanmu?"
Dylan "Kau salah satu kunci untuk memecahkan beberapa kasus. Tentu aku harus mendapatkanmu."
Rinaya "Untuk kali ini bisakah kalian tidak melibatkanku. Dalam permasalahan apapun. Sungguh aku sudah sangat lelah."
Dylan "Itu tidak mungkin. Kau sendiri tau bagaimana mereka mengejarmu. Dan justru malah kau tokoh utama yang mereka cari."
Dhika "Aku sedikit mempelajari mengenai ritual pemanggilan seperti itu. Aku belum yakin apapun soal itu. Jika Bayu disini mungkin dia bisa memberi jawaban."
"Bayu......"
Tidak banyak pembicaraan yang berlangsung. Semua masih menjadi misteri bagi Rinaya. Terutama mengenai Bayu. Rinaya ingat Bayu belum melepas giok itu. Tapi mungkin sesuatu telah terjadi. Jika Bayu melepas itu. Maka, kemana giok itu sekarang?
Menurut cerita dari Dhika yang tadi dia dengar. Serigala miliknya Menyerang tuannya. Itu tidak mungkin. Secara Naluri Hewan hewan itu akan melindungi tuannya. Atau mengikuti sang Alpha. Jika Bayu di hianati. maka ada Alpha lain yang mendominasi. Merebut kepemimpiannya diantara kelompok serigala itu.
***
Malam sedikit dingin, gemericik air turun dari lagit, gerimis kecil tidak membuatnya berhenti berjalan. Lagipula pikirannya malah masih Berkelit memikirkan Bayu. "Ah.. semua ini membuatku pening" Gumamnya sebal. Dia berjalan melewati sebuah kedai, tengah terjadi keributan disana. Seseorang terlempar hingga keluar melewati pintu, Rinaya terhenyak.
Seketika berinisiatif untuk membantunya berdiri. "Anda tidak apa apa tuan?"
Seseorang entah siapa muncul melewati pintu, bersama dua orang di belakangnya.
Dia terlihat marah, dia berkata "Untuk siapapun yang membicarakan Putri Bandit Gunung dan pengendali siluman itu maka Aku akan menghajarnya."
Rinaya berdegup dengan cepat. Bertanya tanya ada masalah apa.
Orang itu menarik baju pria tadi dan meninjunya hingga tersungkur. Rinaya menahannya ketika dia melayangkan tinjuan ke dua. "Tuan Muda Tolong hentikan ini." tapi dia hanya membuang muka. Tidak ada niatan untuk berdamai sedikitpun.
Dia seorang remaja berusia belasan tahun. Keluarganya tewas limabelas tahun lalu, menyisakan dia dan kakaknya. Sinar matanya mengalirkan kebencian yang amat sangat.
Tidak lama kemudian seseorang datang dari ujung jalan. Seseorang yang sangat dia kenali, Haris. Rinaya tertunduk, tidak ingin di kenali, namun sepertinya dia memang tidak mengenali Rinaya saat ini.
Mereka berdua kakak beradik yang sangat kompak. Keduanya membenci Putri nirmala-putri bandit gunung, dan juga membenci Bayu saudaranya sendiri.
Kedatangannya malah memperparah perdebatan. "Galih Apa dia mengejekmu?"
Galih? Adiknya Haris?
"Dia membuatku marah! Dia bicara membela putri bandit dan si pemilik ilmu sesat."
Pria itu mengibaskan tangannya.. "Ah tidak tuan. Bukan itu maksud saya."
Rinaya "Tuan. apapun yang dibicarakan bukankah tidak perlu memakai kekerasan"
Galih "Kau tidak tau apa apa kenapa membelanya."
__ADS_1
"Tuan Muda. Saya cuma bilang. Jangan dulu percaya apa kata orang. Siapa tau itu tidak benar. Bukan bermaksud membela siapa siapa."
Galih berteriak "Itu sama saja dengan membelanya"
Rinaya "Kau sangat tidak sopan. Kau akan menyesal jika kau terus seperti itu."
Galih "Memangnya kenapa? kau akan mengutuku?"
Rinaya "Baik. Aku akan mengutukmu menyesali semua ucapanmu hingga kau menangis di hadapanku."
Galih "Kau..." Dia marah. Dia mengeluarkan pedang dari sarungnya dan menghunuskannya.
Rinaya sedikit merasa takut dengannya tapi juga merasa marah, "Mengapa orang orang sekarang sangat mudah mengeluarkan pedang, dan sangat mudah untuk menumpahkan darah."
Tentu saja kata kata itu merupakan kartu bunuh diri bagi Rinaya, bocah itu terus membalas ocehanya, "Bukankah Nirmala dan Bayu adalah orang yang paling sering bertarung saat itu."
Kata kata itu membuatnya terdiam.
Bocah itu mengayunkan pedangnya, berniat untuk sedikit mencederai Rinaya. Untungnya Dhika datang tepat waktu, seorang Balapati sangat bisa diandalkan dalam keadaan seperti ini. Sebuah kilatan cahaya berhasil menangkis serangan itu seriring hadirnya sang Balapati.
Dhika Berdiri di hadapan Rinaya. Tanpa menatapnya dia bicara "Tuan Wijaya. Tidak baik membiarkan Adikmu bertarung tanpa alasan. Apalagi lawannya tidak bersenjata."
Haris tersenyum pahit. "Dia muridmu? Tolong ajari dia untuk menjaga kata katanya."
Rinaya mengira bahwa hubungan Haris dan Dhika adalah baik. Ternyata mereka seperti terpisah dinding yang besar, seperti tidak pernah mengenal satu sama lain.
Itu membuat Rinaya merasa sedih karena duku mereka bahkan terasa sangat dekat.
Dhika bukan orang yang senang berdebat, dari pada itu dia memilih diam, mendengarkan segala ocehan Haris.
Haris "Tuan Wiriya. Anda harus memberitahunya apa yang terjadi pada keluarga ku dan apa yang terjadi lima belas tahun lalu. Bukankah semua orang tau sebesar apa mereka melakukan kesalahan. Bahkan kau selalu bersama mereka. Seharusnya kau bersyukur tidak terlibat terlalu jauh."
Perkataannya yang tajam membuat Rinaya tertunduk menatap tanah.
Dhika menggengam tangan Rinaya dan membawanya pergi dari sana. Berjalan dengan cepat meninggalkan kegaduhan itu. "Berhentilah selalu berkeliaran sendiri." Salah satu kebiasaan Rinaya sejak dulu. Bahkan Dhika masih bisa mengingatnya. "Tadi itu. hanya kebetulan saja bertemu mereka"
Di sebuah jembatan kayu, Rinaya berdiri memandangi langit. Gerimis sudah tidak terasa lagi, Rinaya bertanya pada Dhika "Mengapa semua menjadi seperti ini."
"..."
"Semua berubah. Aku ingin merubahnya kembali seperti semula?"
"Tidak ada yang bisa mengubah hati seseorang selama dia masih teguh dengan keyakinannya"
"Benar. Kau benar."
"Masa lalu tidak akan pernah berubah. Kita hanya bisa belajar untuk masa depan."
"Ya... Itu juga benar."
"berjanjilah untuk tidak berkeliaran sendiri."
"Aku baik baik saja. Aku tidak perlu selalu di temani. Tidak perlu khawatir."
"kau juga mengucapkan itu lima belas tahun lalu. Dan sesuatu selalu terjadi padamu."
Rinaya menyadari itu dan tersenyum. "Baiklah kali ini aku akan menuruti perkataanmu."
Lagipula Rinaya merasa tidak bisa melakukan apapun. Bahkan dia seakan lupa dengan semua kemampuan yang telah di pelajarinya.
***
Suara ketukan terdengar di pintu kamar Rinaya. Sebuah penginapan kecil di perbatasan ibukota Rinaya terlelap disana. Entah pukul berapa saat itu. Rinaya mengambil Ponselnya di meja dan melihat waktu disana. Satu kebiasaan yang di bawanya dari masa depan. 06:38 . Dia terperanjat bangun seketika melihat jam di ponselnya. "Astaga. Kesiangan lagi" Segera dia melompat dari tempat tidurnya. lalu mematung dan melamun. Matanya memutar sekeliling ruangan itu. Lalu tersenyum malu. "Kesiangan apanya. Mana ada kampus disini." Suara ketukan itu terdengar lagi "Permisi. Nona, Anda sudah bangun"
"Iya. Siapa? Ada perlu apa?"
"Saya murid Balapati Wiriya ingin menyampaikan pesan dari beliau"
Rinaya membuka pintu. Seseorang berdiri dengan senyum tipis yang manis.Rinaya bertanya "Ada apa?"
"Selamat pagi Nona. Saya membawakan pakaian seragam untuk di pakai. Balapati Wiriya juga berpesan Dia akan pergi ke suatu tempat di pusat kota dan akan kembali nanti sore."
"hah? Dia meninggalkan aku??"
Senyum manis itu masih terukir di bibirnya "Saya yang akan menggantikan beliau untuk menjaga Nona. Jadi tolong beritahu saya jika Nona membutuhkan sesuatu."
Rinaya mengambil pakaian itu. "Ah.. aku tidak perlu penjagaan. Jangan khawatir. kau fokus saja dengan pekerjaanmu. heheh"
Dia masih tersenyum "Saya akan kembali mengambilkan sarapan."
"Terimakasih bnyak" Rinaya tertawa senang. Dia memang sedang merasa lapar. Dhika tau cara melayaninya. Dia benar benar sangat paham.
__ADS_1