
"aku pernah baca ini dalam terjemahan bahasa asing."
Dalam penginapan Nirmala duduk bersila sesuai instruksi dari Bayu. Sementara Haris sudah terlelap dengan selimutnya.
"Dhika. Ayo temani aku" ujar Nirmala
Dhika hanya menghampiri dan memperhatikan saja.
Bayu "Nirmala dengar ya, ikuti gerak dari bandul ini. Dan dengarkan suaraku. Hanya suaraku dan bandul ini. Mengerti?"
Nirmala "sepertinya aku pernah melihat yang seperti ini kuyakin tidak akan berhasil."
Bayu "aihh dicoba dulu saja"
Nirmala "ya baiklah"
Bayu mulai menggoyang kan bandulnya. "Tatap setiap gerak dari bandul ini dan fokuskan pikiranmu. Dengarkan suaraku dan patuhi apa yang aku katakan. Kau akan semakin fokus dan semakin fokus. Kini hanya bandul ini dan suaraku saja yang ada di dalam pikiranmu. Terus fokus jangan lepaskan gerakannya. Kini kamu hanya mendengar suaraku. Pejamkan matamu ketika hitungan ke tiga. Satu. Dua. Tiga. Tutup matamu. Sekarang hanya ada kamu dan aku. Hanya ada suaraku. Semakin fokus semakin fokus. Patuhi perintahku dan jawab semua pertanyaanku. Ketika ku hitung sampai tiga dan ku jentikan jariku maka bangun lah dari tidur mu. Kau akan ingat semua yang aku tanyakan. Jawab dengan jujur. Satu dua tiga" dia menjentikan jarinya dan nirmala membuka matanya.
"Ini tidak berhasil dasar bodoh"
"Ah aku tidak percaya.. ku jentikan jariku dan kau akan tidur dan bermimpi indah. Satu dua tiga"
Nirmala memukul kepala bayu "sudah kubilang ini tidak akan berhasil"
Brukk!! Dhika terhuyung dari duduknya dan terjatuh. Dia tidur pulas.
"Apa dia terpengaruh hipnotismu??"
"Entahlah, kurasa begitu, tapi kenapa tidak berpengaruh padamu?"
"Entahlah. Sudah lah aku akan kembali ke kamarku dan tidur"
-------
Mereka melanjutkan perjalanan pulang. Tapi jalurnya berbeda dengan jalur ketika mereka pergi. Kali ini melewati sebuah lembah penuh dengan patok patok gundukan tanah dimana mana. Ada yang berpatok dan tidak. Ada juga yang terdapat tanaman di atasnya, atau pohon pohon kecil. Terlihat seperti kuburan. Sedikit menyeramkan tapi itu jalur yang aman menurut Bayu. Bayu sangat tenang melewati gundukan gundukan itu. Bahkan ada burung gagak bertengger di atasnya, sebagian patok itu di tutupi kain hitam. Entah apa maksudnya.
Terlihat sebuah pondok tua. Karena hari sudah mulai gelap mereka bermalam disana. Tidak ada siapa pun di pondok itu. Seperti hanya untuk tempat persinggahan saja. Beruntung masih belum ada tanda tanda hujan. Akan lebih menyeramkan jika terjebak disana berlama lama.
Ketika semua terlelap, Nirmala tiba tiba saja terjaga, sesuatu seperti membangunkannya. Bayu tidak ada di tempatnya. Nirmala mencoba mencari keluar pondok. Mengintip dibalik pintu. Bayu ada disana. Berdiri tegak membelakangi pondok. Sesuatu terlihat bersama nya. Entah mahluk apa itu, Hitam berbulu bermata merah menyala. Sangat mengerikan. Mereka seperti berbicara sesuatu. Nirmala tidak mengerti. Seperti bahasa jawa kuno. dia bisa bahasa jawa, pikirnya. Kemudian tiba tiba mahluk itu hilang entah kemana. Nirmala segera kembali ke tempatnya memejamkan mata. Bayu pun kembali dan tidur di tempat semula.
Nirmala penasaran tapi ini bukan hal tepat untuk membicarakannya. lagipula dia sudah berpesan apapun yang terjadi. Jangan tanyakan apapun sebelum perjalannan selesai. Atau setidak nya jika sudah tiba di ibukota. Nirmala menyimpan semua rasa penasarannya.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Nirmala bertanya kepada bayu.
"apakah masih belum boleh bertanya apapun." Bayu bilang "belum bisa. simpan semua ketika sudah selesai."
Akhirnya Mereka melewati sebuah desa dekat dengan ibukota. Tiba tiba saja mereka di hadang sekelompok prajurit Istana. Prajurit itu mengeliling mereka.
"Tuan Tuan, mohon maaf mengganggu perjalanan anda, tapi. Ini penting. Kami sedang mencari seseorang. Seorang mata mata. Seorang perempuan, fasih berbahasa sunda, dan bisa membaca huruf latin"
Mereka mencurigai Nirmala. "Informasi mengatakan bahwa, dia cocok dengan ciri ciri tersebut"
Semua terheran ketika orang itu menunjuk Nirmala.
Bayu. " Tapi dia tidak bisa membaca sama sekali."
"Mungkin bukan tidak bisa, tapi tidak menunjukannya kepada kalian. Mohon maaf atas kelancanganku. Tangkap dia!!!."
Nirmala "ttutu tunggu. Kau pasti salah orang. Lepaskan aku..Bayu,... Dhika...."
Tidak ada yang bisa berkutik. itu perintah langsung dari tim penyelidik istana. Mereka membawa nirmala sebagai tertuduh.
Bayu "jangan khawatir Nirmala aku akan mencari cara membawamu kembali. Bertahanlah."
Nirmala sangat panik dan ketakutan. .
di dunia yang asing ini dia seorang diri. Entah kemana mereka membawanya.
Sementara Nirmala di kurung oleh tim penyelidik. Bayu meminta Dhika untuk mencari pertolongan dengan nama keluaganya.
Bayu dan Haris pun menghubungi keluarganya untuk meminta bantuan.
Mereka berusaha mencari informasi di sekitar ibukota. Selama tidak ada tindakan mencurigakan Nirmala akan aman bersama tim penyelidik.
Namun jika mereka merasa yakin Nirmala adalah mata mata maka mereka akan melakukan segala cara untuk membuatnya mengaku.
Nirmala di interogasi, dia berlutut di sebuah ruangan dikelilingi para penyelidik. Mungkin ada hakim dan jaksa dan lainnya. Mereka bertanya banyak hal semakin lama semakin membuatnya terpojok, semakin sulit menjawab akan ada hantaman keras dari sebuah batang bambu.
Setelah beberapa hari nirmala di kurung. Keluarga Wijaya datang untuk menjemput, namun permintaan itu di tolak.
Tidak lama kemudian datang keluarga Wiriya, mereka menentang keras terhadap pengampunan atas penghianatan, dan kejahatan namun bukti belum sempurna untuk membuat vonis jatuh. Keluarga Wiriya tidak meminta utuk pembebasan Nirmala. Mereka hanya meminta untuk tidak memberikan hukuman apapun pada Nirmala. Jika belum ada bukti kuat. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Memang kedatangan Nirmala menjadi kecurigaan besar bagi semua pihak.
Tuan Budhi datang menemui Nirmala. Dilihatnya wajah gadis itu sudah sangat pucat, bekas luka di kedua tangannya masih berdarah. Robekan baju di punggungnya sedikit memperlihatkan luka akibat pukulan. Untungnya semua tidak separah yang seharusnya. Semua berkat dorongan dari keluarga besar Wijaya dan Wiriya. Meski tidak banyak. Nirmala merasa bersyukur tidak mendapat hukuman lebih parah dari ini.
Beberapa minggu kebelakang sejak awal Nirmala di temukan. Sebenarnya tuan Budhi sudah mengetahui kabar itu. secara diam diam dia mengawasi kediaman kakek Sapta, dan secara diam diam memantau nirmala, entah pada saat di pasar, di hutan, di ladang. Dia selalu ada. hanya mengamati dan menyakinkan dirinya bahwa nirmala benar benar kembali dan bukan halusinasi. Dia ingin sekali memeluk Nirmala saat itu. Tapi bagi nirmala dia masih orang asing.
Akhirnya hampir setiap hari dia mengunjungi Nirmala. berbincang untuk membuatnya menghilangkan rasa takutnya.
Keputusan pengadilanpun di keluarkan, belum cukup bukti untuk meyakinkan bahwa Nirmala adalah mata mata dan penghianat. Lagipula Nirmala memang tidak tau apa apa
Nirmala pulang ke rumahnya di antar oleh tuan Budhi.
Kabar itu segera terdengar oleh Dhika dan Bayu.
Bayu pun datang mengunjunginya keesokan harinya.
Nirmala sudah sangat pucat, dehidrasi dan kesakitan di seluruh tubuhnya. Terutama punggungnya meski tidak parah karena hanya menerima beberapa pukulan saja. Tapi tetap saja merasa sakit. Gadis mungil sepertinya siapapun yang melihatnya. Dia sangat terlihat seperti gadis lemah. Tidak ada yang bisa membayangkan apakah dia bisa menahan semua pukulan itu.
Kake Sapta menangis melihatnya. Begitu juga keluarganya yang lain. Tapi Nirmala masih bisa tersenyum dan berkata "aku tidak apa apa, tidak perlu khawatir"
Bayu seperti biasa membawa tanaman herbal dan membuatkannya untuk Nirmala.
Malam itu nirmala tertidur dengan berjuta pertanyaan.
Badannya demam, berkeringat sangat banyak. Kake Sapta senantiasa mengkompresnya dengan air dingin.
Nirmala gelisah dalam tidurnya.
Seketika mimpi nirmala berubah seakan nyata, semua yang dialaminya selama ini, kepingan kepingan memorinya mulai terlihat.
Nirmala / Rinaya Airy seorang mahasiswi juga seorang karyawati di sebuah toko kue. Juga senang dengan hobinya dalam bidang fashion.
Semua kegiatan itu, dilakukan untuk hidup yang lebih baik. Rinaya mendapat bullying keras di kampusnya, cibiran dari keluarga dan tetangga membuatnya sangat frustasi. Dia bukan dari keluarga kaya. Tapi bukan juga dari keluarga miskin.
Rasa stress yang dia dapatkan di kedua lingkungan itu membuatnya sangat lelah. Dia menjalani hobinya untuk menghilangkan pikiran pikiran buruk. Dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan perkuliahannya. Karena sejak kuliah dia membiayai semua nya sendiri. Lingkungan pekerjaan juga tidak selalu mulus. Beberapa kali mendapat cacian. Entah dari atasan atau dari customer yg datang. Rinaya merasa lelah. Dia bermaksud untuk sejenak pergi dari sana. Berlibur mungkin. Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk di ponselnya. Orang tuanya sudah memutuskan untuk berpisah. Rinaya diminta untuk bersama ibunya itu kata ayahnya. Dan sebaliknya dari ibunya. Tidak ada yang meraihnya membuatnya sangat sedih. Dia menunggu tanggal liburan itu tiba. Tapi kini tidak lagi. Semua sudah tidak ada gunanya.
Perjalanan pulang hari itupun berubah arah.
Dia naiki bis kearah sebaliknya. ke arah yang jauh.
Ke sebuah tempat wisata di ujung kota, namun hujan mulai deras. Matahari mulai tenggelam. Petir satu demi satu mulai bergelegar. Entah apa yang terjadi. Seketika saja.
bis yang di tumpanginya oleng. Menabrak sebuah tiang, dan terbalik. berguling menuruni bukit. . 6 orang penumpang tewas, 3 lainnya luka parah, termasuk Rinaya yang tidak sadarkan diri. Hingga dia terbangun di rumah Kakek Sapta.
Sungguh mimpi yang sangat menyedihkan. Airmata di pipi Nirmala seakan menjadi sungai. Kake Sapta di sampingnya sangat panik. Namun juga lega Nirmala sudah sadar.
"Nirmala sayang, sudah bangun nak? Kau sudah baikan?"
__ADS_1
Nirmala tersenyum. "Aku baik baik saja kake.... Tidak perlu khawatir"
"Sayang, bagaimana kake tidak khawatir, tiga hari kamu tidak bangun"
"Aku cuma lelah saja kake"
"Syukurlah kau sudah sadar nak. Biar kake buat kan obat dan bubur ya. Kau istirahat saja ya nak ya."
Nirmala tidak menceritakan mimpi itu kepada kake, dia pasti akan kecewa.
Seseorang mengetuk pintu, Kake Sapta membiarkannya masuk.
Dhika. Wajahnya tidak secerah sebelumnya, alis dan bibirnya turun.
"Aku minta maaf karena tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna saat itu."
Nirmala tersenyum. "Aku baik baik saja"
"....."
"Dhika sebagai seorang teman apakah kau mempercayai Bayu?"
"Kenapa bertanya begitu?"
"Setelah melewati ini bersama sama aku merasa pertemanan kita bertiga semakin kuat"
Namun dalam pikiran Nirmala, yang dia pikirkan adalah, ada bagian dari mimpi itu seperti belum pernah terjadi. Mimpi yang lebih menyedihkan dari kecelakan itu.
Tapi Nirmala percaya bahwa mereka akan tetap sama. Tidak akan berubah, selalu menjadi orang yang baik. Peduli terhadap teman dan keluarga, peduli terhadap kebenaran.
Nirmala berkata, "aku merasa di masa depan akan sangat banyak hal yang berubahan. Apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Jaga hatimu, jangan pernah berubah. bahkan harus semakin dalam." Nirmala tersenyum "katakan padanya aku baik baik saja tidak perlu khawatir."
----
Beberapa hari beristirahat membuatnya bosan hanya diam di rumah terus.
Nirmala meminta ijin kepada Kake Sapta untuk pergi ke pasar ikut membantu kang iwan berjualan. Sekalian membeli herbal di toko bayu.
Entah sejak kapan. Dhika jadi sering berkunjung. Dan karena Dhika ingin mengantar maka Kake Sapta mengijin kan.
Dalam perjalanan Nirmala bertanya. "apakah kau percaya ada seseorang yang datang dari masa depan?"
"tidak tau"
Tentu saja dia selalu berpikiran logis dan masuk akal.
"kenapa bertanya seperti itu?"
Nirmala tersenyum dan menatap wajah Dhika. "Kurasa aku berasal dari seribu tahun di masa depan." Nirmala mendekatkan telunjuknya di bibir.
"ssttt. jangan beritahu siapapun."
Dhika hanya menatap diam.
Nirmala tau Dhika saat ini belum percaya akan hal seperti itu. Biarkan saja.
Sementara Nirmala membantu Kang Iwan, Dhika pergi ke Toko Herbal Sae, Seperti banyak yang akan mereka bicarakan. Dan setelah selesai. Nirmala akan menyusul kesana.
Kebetulan sekali. Barang jualan Kang Iwan habis lebih cepat hari ini. Nirmala meminta ijin untuk pergi menemui Bayu.
Diperjalanan bertubrukan dengan seseorang,
"ah, maaf maaf saya tidak sengaja"
dia tersenyum menatap nirmala,
"ah, cantik sekali, kau pasti dari keluarga bangsawan, tolong maafkan saya. saya sedang terburu buru."
"ah tidak apa apa. saya baik baik saja."
Beberapa barang bawaannya berserakan, Nirmala ikut membantu membereskannya,
Dia mengangguk dan pergi dari sana.
"eh, tunggu teh" Nirmala memanggil
dia menoleh.
Nirmala menyodorkan tangannya,
Nama saya Nirmala, semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu
"ah iya, saya Dyah Ningsih"
dia tersenyum dengan sangat manis
Alasan nirmala berkenalan adalah. Karena melihat salah satu barangnya.
Sebuah kotak peti kecil warna coklat berukir motif matahari bertuliskan "Jade of Light Story"
-------
Seperti biasa Nirmala duduk di bangku dalam toko herbal Sae, Bayu menghidangkan teh jahe hangat di meja. Nirmala hanya menyentuhnya telinga cangkirnya dengan jari telunjuk dan memainkannya sementara tangan kirinya menopang dagu.
"Kau sudah sehat?" Tanya Bayu
"Mnn"
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Nirmala hanya diam
Dhika datang dari balik pintu.
dia baru saja tiba,
Nirmala heran kenapa Dhika baru datang bukannya dari tadi.
Nirmala "bukankah seharusnya kau sampai lebih dulu daripada aku?"
Dhika "tadi aku bertemu utusan dari ayahku, menyampaikan pesan."
Nirmala "apa katanya?"
Dhika "terjadi beberapa pembunuhan di sekitar desa sunyi, beberapa orang tewas. Mereka seperti perampok. Tapi sebagian lain seperti pengawal atau semacamnya.
Dia bilang, keadaan desa sunyi berubah. Ada sesuatu yang penting harus dibicarakan. Dia memanggil ku untuk pulang, juga kalian berdua untuk datang."
Bayu dan Nirmala tidak menyangka mereka akan dipanggil juga.
Keluarga Wiriya adalah orang berpengaruh bagi kerajaan Sunda.
Adanya panggilan dari mereka merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Namun itu juga masuk akal. Mengingat mereka bertiga pernah melewati desa itu dan memang ada hal terjadi disana.
Keesokan harinya Bayu dan Nirmala datang memenuhi panggilan dari tuan Wiriya,
__ADS_1
mereka berkumpul di salah satu ruangan tertutup, semua pintu dan jendela ditutup rapat, cahaya lilin remang menerangi ruangan yang sangat gelap.
Mereka duduk bersampingan, diseberang meja tuan Wiriya dengan tegap duduk dengan expresi tajam, bersama dua orang di sampingnya yang tak kalah menakutkan, termasuk tuan Baskara tidak satupun keluarga Wiriya yang berwajah jelek. Semua terlihat cantik, namun kali ini mereka bertiga memancarkan aura yang sangat menyeramkan. Padahal jika dilihat lagi mereka masih terlihat Rupawan. Mungkin karena suasananya seperti ini. Hingga membuat mereka tegang, namun Dhika sedikit tenang, mungkin dia sudah terbiasa.
Tuan Wiriya mulai pembicaraan.
"Ini akan seperti sebuah interogasi, jadi jawablah semua pertanyaan dengan jujur dan apa adanya. Ceritakan semua yang kalian alami di Desa Sunyi."
Dimulai dari Dhika menceritakan semua yang dialaminya. Mulai dari datang hingga pergi, tanpa ada yang terlewat satupun.
Kemudian Bayu, bercerita mengenai pertemuannya dengan seorang anak kecil.
Dan Nirmala bercerita mengenai sebuah gedung besar dan bertemu dengan perempuan yang cantik dan menceritakan tentang masalalu nya, hanya saja Nirmala tidak bicara mengenai giok itu. Nirmala hanya membuat mereka menyimpulkan bahwa arwah itu hanya ingin sekedar bercerita saja. karena memang banyak arwah yang hanya ingin di dengarkan kisahnya.
Tuan Wiriya terus bertanya, dan dua orang disebelahnya hanya menatap dengan serius. Sesekali bertanya hal yang tidak di mengerti dan sesekali bertanya tentang hal hal kecil yang tidak penting.
Mereka berusaha mengorek informasi dengan cara yang berbeda. Mengecoh dan menyatukan info meski sekecil semut.
Dhika juga bercerita mengenai seseorang yang menyerangnya, yang berusaha menyerang Nirmala, Morang.
Di bawah meja Nirmala menggenggam tangan Dhika, dia menatap Dhika memasang wajah cemas dan ketakutan.
Dhika tau ada sesuatu yang orang itu inginkan dari Nirmala, Dhika tersadar saat menatapnya, Dhika mengerti bahwa hal itu tidak ingin di ketahui orang lain lagi. Meski Dhika tidak tau apa itu.
Melihat Nirmala dan Dhika, Bayu pun berujar, "sepertinya Morang ingin bermain main dengan Nirmala dan Nirmala merasa ketakutan. Tuan tau, permainan yang selalu di ujarkan oleh Morang ketika menjadi peserta pelatihan? Kurasa dia tidak berubah. Permainan seperti mencongkel mata, atau memutus nadi, atau hal lain lagi"
Mendengar itu Nirmala balik menatapnya, memasang wajah cemas.
meski sebenarnya adalah. Nirmala baru kali pertama mendengar permainan mengerikan seperti itu.
Untungnya semua orang tertipu dengan itu.
Bayu bertanya "Tuan memangnya ada apa hingga kami bertiga ditanyai dengan serius."
Tuan Wiriya menjawab"ada sebuah pusaka di Desa Sunyi yang tidak akan pernah ditemukan oleh siapapun, pusaka itu di kutuk bersama pemiliknya. Hingga membuat pemiliknya menjadi arwah gentayangan selama lima ratus tahun kedepan. Waktu sudah berjalan seratus tahun lebih, jika kalian berbicara jujur maka pusaka itu pasti masih ada disana. Lain hal jika ada sesuatu yang lain terjadi."
"sesuatu seperti apa?" Dhika bertanya
Seluruh keturunan nya tewas dan pusaka itu hanya bisa di ambil oleh keturunan asli keluarga itu. Hingga saat ini tidak ada yang tau apakah ada keturunan yang tertinggal atau tidak.
"Itu sejenis pusaka seperti apa?" tanya Nirmala penasaran.
"pusaka cahaya, pusaka kehidupan, pusaka pelindung, itu adalah pusaka yang bisa memberikan kehidupan panjang, perlindungan, dan kekuatan.
jika jatuh ke tangan jahat maka akan banyak dampak yang buruk. Bayang kan saja seseorang bisa berumur panjang, memiliki kekuatan lebih dan perisai pelindung itu adalah pusaka yang sempurna."
"bukankah tidak ada yang sempurnna di duania ini. Jika sempurna mengapa pemiliknya bisa mati?" ujar nirmala.
"benar, itulah yang menjadi misteri hingga saat ini."
"banyak korban di sekitaran desa itu sejak kabut mulai menipis, mereka berbondong mencari pusaka itu, mereka bodoh. Datang tanpa tau apapun yang menanti mereka."
"jika disana berbahaya mengapa kita bisa selamat?" nirmala bertanya lagi.
Dalam pikiran tuan Wiriya, Nirmala terlalu banyak ingin tahu. Itu hal yang bagus tapi juga berbahaya. Namun tuan Wiriya menjawab semua pertanyaannya. Berharap mendapat informasi lebih banyak.
"Desa itu di selubungi kabut sihir, siapapun bertujuan jahat akan berdampak buruk bagi mereka, siapapun bertujuan baik maka tidak akan ada bahaya datang."
"Lalu kenapa kami tetap diserang?" Nirmala terus bertanya.
"Bukan karena pengaruh kabut itu, tapi arwah yang ada disana lah yang ingin bertemu dengan kalian, mitos beredar mengatakan bahwa, siapa yang kalian temui itu tujuan hidup kalian di masa depan.
Dhika ingin menjadi lebih kuat,
Bayu ingin hidup bahagia penuh tawa. Nirmala jujur saja aku tidak tau kenapa ceritamu seperti ini, aku kira karena kau ingin mendapat kepercayaan dari orang lain. meskipun kali ini kau sudah dipercaya oleh kedua orang ini."
Dalam hati Nirmala berpikir mungkin ini karena kehidupannya di masa depan, bukan disini.
"ah aku mengerti." Nirmala tertunduk.
Tuan Wiriya bertanya "kenapa kau berubah muram?. Itu sangat terlihat jelas dari raut wajahmu"
"Aku hanya berpikir bahwa, aku takut kehilangan kepercayaan, dan takut hidup sendirian."
Tuan Wiriya tersenyum "Hidup selalu berputar, jika kau terus berusaha hidupmu pasti akan berubah."
Mereka keluar dari ruangan itu dan mulai makan siang di sebuah ruangan kecil, hanya mereka bertiga,
Hidangan kali ini terlihat lezat. Nirmala dan Bayu tidak sabar untuk menghabiskannya.
Dhika belum menyentuh sendoknya, sementara Nirmala dan Bayu sudah berisik memperebutkan potongan ayam. Satu kata dari Dhika membuat semua berhenti.
"Pusaka itu, kau menemukannya?" Dhika menatap nirmala.
Nirmala menyimpan sendoknya, dan tersenyum, "Pusaka apa aku tidak tau. kenapa kau bertanya seperti itu.?"
Kini Bayu menyimpan sendoknya dan menatap Nirmala, "lalu kenapa kau berisyarat seperti itu? apa yang tidak ingin mereka ketahui tentangmu. apa yang kau ingin sembunyikan?"
"Banyak hal terjadi, aku bahkan tidak mengerti sama sekali dari awal aku datang kesini, sampai saat ini, aku tidak mengerti, aku ingin bicara, tapi aku sendiri tidak tau apa itu apa yang harus aku lakukan. Aku sendiri juga tidak tau"
Mereka diam dan sepertinya mereka mengerti.
"oh apakah aku sudah boleh bertanya?" Nirmala menatap bayu.
"bertanya apa?"
"Sebenarnya perjalanan kemarin itu tujuannya apa? aku yakin ada tujuan lain selain mencari herbal. Bukankah aku berhak tau?"
Mereka saling menatap satu sama lain.
Dhika menjawab.
"Berjanjilah kau tidak akan berbicara keada siapapun" dan nirmala mengiyakannya.
"Herbal itu seperti pesan tersembunyi untuk bertukar informasi dengan utusan pihak luar, sebuah pasukan elit tersembunyi, yang tidak diketahui identitasnya, mereka bekerja dibawah pimpinan langsung raja Sunda, bertugas di wilayah perbatasan, bisa dibilang mereka adalah mata mata sutnda yang tersebar di sepanjang wilayah perbatasan, pesan itu berisi, ada mata mata dari mongol yang sudah menerobos masuk wilayah tanah Sunda, dan Sebuah informasi telah bocor kepada pasukan mongol, informasinya adalah, peta wilayah Sunda Utara,"
"Sunda Utara, bukankah wilayah kita termasuk Utara?" tanya Nirmala.
"benar, jika info itu benar, maka mongol akan dengan mudah masuk wilayah kita dan menyerang"
"Hal sepenting itu kenapa kalian biarkan aku ikut?"
Bayu menjawab "itu untuk menyamarkan perjalanan kita, aku sebagai calon tabib membutuhkan herbal itu, dan kau sebagai bahan penelitianku untuk mengembalikan ingatanmu. Dhika mencari pengalaman untuk lebih kuat lagi.
semua sempurna."
"Kalau begitu, kenapa Haris tidak ikut di tanyai?"
"Sudah. bukankah kita bertiga terpisah dengan dia, dan baru bertemu saat diujung jalan. dia tidak bertemu siapa pun dia hanya mengikuti sebuah cahaya, menuntunnya ke ujung jalan. dia tidak tau apa yang kita alami."
"begitu, kalau begitu aku ada pertanyaan lain."
"Bayu, saat kita bermalam di tumpukan tugu itu, kau bertemu dengan siapa? malam itu aku melihatmu keluar, dan sayup mendengar kau bicara,
kau bertemu dengan seseorang?"
Bayu menjawab, "ah aku keluar untuk buang air, hahahaha."
"oh."
__ADS_1