Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Langit Malam


__ADS_3

Paman Arif menyuguhkan teh melati dan sepiring camilan.


Dengan serius tuan Budhi menceritakan detail setiap kasusnya. Sesungguhnya Nirmala tidak terlalu peduli dengan itu. Dia hanya sibuk makan camilan yang baru saja di suguhkan paman Arif.


Tuan Budhi "aku memang tidak banyak berharap pada bocah bocah seperti kalian. Hanya saja aku tidak punya pilihan lain. Terutama pada seseorang yang hanya makan dari tadi dan tidak mendengarkanku sama sekali."


Nirmala berhenti mengunyah dan langsung menelan makanan didalam mulutnya. Matanya berputar menatapnya. Dan kembali mengacuhkan nya.


Bayu tertertawa melihat itu "tidak apa apa, Nirmala kau boleh menghabiskan itu"


Nirmala tersenyum dan kembali mengambil camilan itu.


Dhika "apa yang harus kami lakukan Tuan?"


Tuan Budhi "cari info sebanyak banyak nya. Kalian tau kasus ini masih belum jelas. Apakah ada hubungan nya dengan ritual itu atau tidak."


Seseorang mengetuk dan masuk, menunduk hormat pada Tuan Budhi


"Jendral, ada informasi baru" dia berhenti bicara dan memandangi remaja remaja yang sedang duduk bersamanya. Dia khawatir informasi rahasia ini diketahui orang awam.


"Tidak perlu khawatir. Mereka kepercayaanku. Laporkan"


"Kami menemukan lagi 2 lokasi jejak adanya ritual. Di sebuah desa dekat perbatasan Mataram"


Dhika "menurut yang aku dengar. Bisa di simpulkan semua formasi itu berada di pingiran tanah Pasundan."


Tuan Budhi bertanya pada pengawal itu "apakah semua memiliki simbol yang sama?"


"Sudah dipastikan. Semua yang kita dapat adalah formasi yang sama"


Tuan Budhi "terimakasih atas laporannya. Kau boleh kembali"


Bayu "berarti kita hanya perlu mengetahui fungsi dan pelaku. Bagaimana kalau kita coba gambar ulang formasi itu?"


Dhika "lalu mencoba ritualnya?" Dhika menatap bayu dengan sinis


Nirmala "ide bagus"


Dhika beralih menatap tajam Nirmala


Nirmala "dari simbolnya saja mungkin kita akan tau itu formasi apa. Jika sudah tau itu barulah kita putuskan apakah harus mencobanya atau tidak"


Tuan Budhi "aku akan coba menyatukan petunjuk. Akan kuberitahu kalian jika sudah menemukan petunjuk lain. Bayu, coba lah mencari sebanyak banyaknya informasi mengenai hal hal seperti simbol, ajaran sesat, formasi pemanggilan, ritual atau semacamnya. Dhika mencari informasi mengenai hal mencurigakan di semua masyarakat, instansi atau semacamnya. Dan kau Nona Muda, apa yang bisa kau lakukan?"


Nirmala "tidak ada. Lakukan saja sendiri. Aku tidak ingin terlibat.....ah... Paman Arif terimakasih camilannya. Enak sekali..."


Tuan Budhi "apa dia selalu tidak tau malu seperti itu??"


Nirmala "memangnya apa yang bisa ku lakukan. Diri sendiri saja aku tidak tau"


Dhika "kau tau lebih banyak. Sesuatu yang belum kami pahami, kadang kau lebih dulu mengetahuinya."


Nirmala "haha terimakasih atas pujiannya. Tapi aku tidak ingin terlibat"


Tuan Budhi "kalau begitu aku hanya akan bertanya padamu. Kuharap kamu menjawabnya dengan benar"


Nirmala "baiklah. Aku jawab jika aku tau"


Tuan Budhi "mengenai racun itu, kau pernah melihat dimana? Bagaimana bentuknya, bagaimana cara pakainya?"


Nirmala "hmm. Tuan, kau tau aku tidak bisa ingat siapa diriku. Hal hal lainnya mungkin aku ingat mungkin juga tidak. Yang kau tanyakan ini seperti nya sulit aku jawab. Aku juga tidak yakin kapan aku melihat itu. Mungkin... Lebih baik kau tanya hal lain saja hehe"


Bayu "jawaban macam apa itu, sama sekali tidak membantu"


Nirmala "heee harusnya kamu yang lebih tau hal ini. Bukankah kau ingin jadi tabib terhebat. Kau harus pelajari itu."


Bayu "kau ini..." Dhika menyela ditengah kekesalan bayu.


Dhika "kurasa dia benar"


Bayu "apa??... Kenapa kau membela nya??


Tuan Budhi "baiklah aku mengerti. Aku akan bertanya hal lain"


Bayu mengerutkan bibirnya kesal.


Tuan Budhi "aku khawatir akan satu hal. Maka aku akan tanyakan ini. Kau, benar benar tidak ingat siapa dirimu?"


Nirmala "sampai saat ini aku tidak ingat apapun mengenai itu. Aku bahkan merasa asing dengan lingkungan disini. Aku....." Dia terhenti sejenak lalu melanjutkan dengan suara pelan dan ragu "aku seperti bukan dari jaman ini"


Semua orang terheran dengan hal gila yang dia katakan


Tuan Budhi "Dhika, sebaiknya kau awasi dia. Dia sangat aneh. Aku berharap tidak ada hal buruk yang berkaitan dengannya. Jika dia ingat siapa dirinya. Jika dia seorang penghianat atau seorang mata mata yang berbahaya, sebaiknya kau bunuh dia."


Nirmala terkejut mendengar ucapan itu. Dia serentak berdiri "A a apa aku tidak salah dengar?"


Tuan budhi berdiri dan lalu pergi tanpa menjawab itu.


Nirmala "Dhika??"


Bayu "Nirmala. Tidak perlu khawatir. Kamu bukan orang jahat. Tidak ada yang kan melukaimu." Bayu tersenyum


Baik Dhika dan Bayu, keduanya mengerti apa yang di khawatirkan oleh tuan Budhi. Hanya saja mereka tidak membesarkannya. Dhika hanya diam. Bayu mencoba menenangkan Nirmala. Kepanikan tidak akan menimbulkan hal baik. Bagi Dhika diam adalah hal yang tepat.


-----


Nirmala pulang tepat saat makan malam, seperti biasa makan malam yang sederhana. Tapi mereka tidak pernah kelaparan. Selalu bersyukur dengan apa yang mereka punya.


Nirmala duduk di bangku halaman depan. Seusai membereskan semua piring kotor. Memandangi langit yang bertabur bintang. "Benar benar indah" gumamnya.


Kang Iwan datang menghampiri dan duduk di sebelahnya. "Nirmala kau bahagia tinggal disini?"


"Tentu saja. Kenapa bertanya begitu?"


"Hanya penasaran"


Kang iwan mungkin berusia lima tahun di atas Nirmala tapi dia sangat terlihat dewasa. Dia selalu lebih mengerti keadaan keluarga ini. Ya.. para tetangga ini sudah seperti satu keluarga. Tidak terpisahkan.


"Apa yang tidak aku lewatkan disini? Semua sudah terpenuhi. Tidak pernah kelaparan meski hidup dikatakan miskin. Aku bisa makan apapun semauku. Buah, Ubi, singkong, ikan, ayam. Apa yang tidak bisa ku makan? Yang di dalam tanah, yang di air yang di atas tanah pun aku bisa makan sepuasku. Bagaimana bisa aku tidak bahagia?"


"....."


Nirmala menunjuk ke atas langit "lihat, setiap malam selalu ditemani bulan dan bintang, mereka selalu menerangi. Dengar!?. bahkan serangga malam pun nyaring bernyanyi untuk ku tidur. Setiap pagi ayam memanggilku untuk bangun. Bukankah ini sempurna?"


"....."


"Ketika siang hari pun bumi begitu indah, tanaman subur, air jernih, udara segar. Apa yang aku lewatkan? Aku punya teman yang baik, keluarga yang baik, semua menyayangiku. Bagaimana aku tidak bahagia?"


"Kau benar. Dulu aku pernah hidup di ibukota. Hidup disana lebih sulit. Selalu dituntut untuk memiliki uang. Utnuk makan pun sulit. Tidak sepwrti disini. Yang penting perut terpenuhi itu sudah cukup."


"Aku senang tinggal bersama keluarga ini"


"Ngomong ngomong Nirmala ku pikir kamu bukan dari tanah pasundan. Dilihat dari cara bicaramu, tingkah lakumu, ilmu pengetahuanmu. Mungkin kau berasal dari tanah jawa. Atau perbatasan Sunda - Mataram. Atau mungkin kmu berasal dari seberang pulau."


"Tapi aku mengerti bahasa sunda, dan aku tidak paham bahasa jawa, dan aku fasih bahasa melayu. Beberapa bahasa inggris. Dan aku juga bisa membaca bahasa arab. Dan sedikit mengerti bahasa jepang, korea, mandarin. Tentu saja ini membuatku bingung. Jika didasari dari bahasa. Aku cenderung termasuk orang sunda. Tapi sama sekali tidak bisa membaca huruf kawi. Tapi huruf alfabet aku mahir." Nirmala mengawang ngawang apalun yang dia bisa. Tapi Kang iwan seakan tidak mengerti yang dibicarakan Nirmala.


Kang Iwan "bicara apa kau. Aku tidak mengerti sama sekali"


Nirmala "Kang Iwan, menurutmu apakah bisa seseorang tersesat ke masa lalu atau masa depan? Atau hal hal semacam itu?"


Kang Iwan "entahlah. Jika memiliki ilmu tinggi mungkin saja bisa"


Nirmala "tapi sepertinya aku orang biasa."


Kang Iwan "sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?"


Nirmala merasa tidak ada gunanya bertanya lebih jauh "ah lupakan. Aku hanya asal bicara."


"Satu yang ku yakini, Aku tau kau bukan Nirmala. Siapapun kamu kami bahagia bersamamu. Tapi suatu saat nanti mungkin kau akan kembali ke tempat asalmu"


"Hmmm. Mungkin juga tidak. Aku tidak yakin soal itu"


"Lalu apa yang akan kamu lakukan jika sudah mengingat semuanya?"


"Entahlah. Kita tunggu saja sampai saat nya tiba. Akan kuputuskan jika aku sudah ingat semua. Lagipula, aku tidak ingin membuat Kake sedih"


"Hmm begitu"


"Aku senang kau disini, Nirmala" Kang iwan pun kembali ke rumahnya sementara Nirmala masih bergelut dengan pikiran pikiran kusut mengenai pembicaraan tadi siang.


Banyak hal yang membuat pikirannya semakin kusut. Terutama kilasan bayangan mimpinya, seakan dia berasal dari masa depan. Nirmala menghela nafas panjang "seribu tahun???" Tidak ada gunanya memikirkan hal yang belum pasti. Bisa saja itu hanya mimpi.


Nirmala membuatkan teh herbal yg tadi dibawanya dari Toko Herbal Sae. diberikannya kepada Kake Sapta yang sedang menutup lubang lubang di pakaiannya. "Sini ke, Biar aku saja yang jahit itu. Kake minum dulu teh nya."


Kake sapta menyeruput teh itu "Nirmala, tidak perlu khawatir, meski hanya sebentar, kake merasa bahagia kamu datang."


Nirmala "Nirmala cucu Kake, pasti Nirmala akan kembali sama Kake lagi" kalimat itu tentu punya dua arti. Yang manapun yang di yakini kake Sapta. Itu lah yang akan di yakini Nirmala


Kake Sapta "hiduplah dengan baik, jaga kesehatan, hidupmu masih sangat panjang"


Nirmala mengangguk "iya, Nirmala akan ingat semua nasehat kake"


Kake Sapta "kake sangat bangga padamu nak. Kake sangat sayang padamu" Nirmala tersenyum dan memeluk Kake Sapta "Nirmala juga sayang kake"

__ADS_1


Nirmala "Nirmala minta ijin, besok Nirmala ikut Kang iwan, bantu jualan di pasar."


Kake Sapta "tentu saja nak"


Semakin banyak pengalaman yang dia dapat mungkin semakin banyak juga kepingan puzzle yang bisa dia susun. Nirmala juga harus bisa hidup mandiri membantu Kake. Kake Sapta sudah terlalu tua untuk bekerja. Mungkin hanya ini hal yang bisa Nirmala lakukan untuk membalas semua kebaikan Kake Sapta.


Sementara itu, Bayu melamun masih di tempat yang sama sejak Dhika dan Nirmala pulang.


Paman Arif datang dan ikut duduk di seberang meja "kamu tu mikirin apa jang?? Serius sekali."


Bayu menghela nafas panjang "banyak hal paman. Bayu sekarang makin bingung"


"Karena Tuan Budhi? Karena Den Dhika? Ato karena si neng Nirmala?"


"Semuanya paman. Tuan Budhi terlalu kejam sampe bilang gitu sama Nirmala tadi"


"Tapi pasti ada alasannya kan, dia juga gak mungkin gegabah kalau memang si neng bukan orang jahat"


"Bayu juga ngerasa salah sama Dhika"


"Jang, Den Dhika itu peduli sama kamu. Jangan sampai pertemanan kalian berhenti karena kamu gak percaya sama dia"


"Bukan ga percaya, cuman Bayu sendiri juga bingung mau bilang apa. Bayu takut ngelakuin hal yang salah"


"Banyak berdoa ya jang, jangan sampai salah jalan "


"Iya paman"


-------


Kang iwan bekerja sebagai pedagang, beberapa barang dagangannya merupakan titipan Paman Rai dan Paman Raka. Mereka bekerja sama, Paman Rai dan Paman Raka mencari bahan jualan dan Kang Iwan yang menjualnya. Berhubung hanya Kang Iwan dan Bibi Yuli yang bisa berhitung maka mereka saling bantu membantu. Kali ini Nirmala ikut membantu.


Lapak Kang Iwan tidak terlalu kecil, cukup untuk menjajakan berbagai bahan. Kalau di lihat, jarak dari lapak Kang Iwan dan Toko Herbal Sae terasa cukup jauh. Tapi tidak apa apa. Nirmala bisa berkeliling sesekali jika dagangannya sudah ckup bnyak terjual.


Kali ini barang dagangannya adalah ikan sungai, ayam pegar, sayuran, dan banyak sekali umbi umbian. Nirmala membantu sebisanya.


Seseorang dengan pakaian bagus datang menghampiri, perempuan cantik nan anggun, memakai kebaya polos warna merah gelap, kain batik sebagai bawahannya yang dililit rapi, selop bordir ber sol kayu berukir, rambutnya tersanggul rapi, dan sedikit riasan wajah, amat sangat cantik. Seperti seorang wanita kaya.


"Permisi, bisakah beritahu saya dimana letak Toko Herbal Sae?"


Nirmala tertegun melihat perempuan cantik itu. "Ah.. itu di sebelah-"


"Bisa tolong antar saya kesana?"


Nirmala nenatap Kang Iwan dan dia mengangguk. Mengijinkan Nirmala pergi mengantarnya.


"Hmm. Toko Herbal Sae cukup terkenal disini, teteh pasti bisa mudah menemukan tempatnya"


"Nama saya Mariam Ayu, kamu... Nirmala kan?"


Nama yang cantik pikirnya "Ah... Iya teh"


Dia tersenyum "panggil ayu saja, sepertinya kita seumuran"


"Dari sekian banyak orang di pasar itu, kau sengaja bertanya padaku? Padahal kita tidak saling kenal."


"Aku pernah melihat kamu di sebuah toko kain. Kamu bersama dua orang lain yang aku kenal."


Nirmala teringat hal itu. satu satunya dia pernah ke toko kain adalah saat keributan itu terjadi.


Sesampainya di toko herbal. Ayu ternyata memang sengaja ingin bertemu dengan Bayu.


Bayu "Ayu, apa ada masalah? Kenapa kau datang sendiri kesini?" Nampan herbal yang sedang dia pilah, dia simpan di rak. Di tempatnya semula. "Duduklah, kubuatkan teh untukmu"


"Kau juga duduklah" Nirmala yang hendak melangkahkan kakinya untuk kembali, terhenti dengan perkataan Bayu. Nirmala pun ikut duduk bersama Ayu.


Bayu meletakan dua cangkir teh melati di meja. Dan ikut duduk di seberang meja.


"Ada apa Ayu? Tumben sekali kamu sendiri yang datang kesini? Tuan wilis butuh herbal lagi?"


Ayu tersenyum "benar dia menuliskan beberapa herbal yang di perlukan. Tapi seperti yang kau lihat. Semua tidak mudah di dapatkan" Ayu menyodorkan kertas berisi daftar tanaman Herbal. "Dan ini ada beberapa pesan dari ayah" memyodorkan surat beramplop keemasan.


Paman Arif ikut duduk "tidak biasanya mendadak seperti ini. Apa ada masalah?"


"Ayah bilang sebelum pergi temui dulu tuan Wiriya dan tuan Wijaya untuk memperjelas informasinya."


"Den Ayu, pekerja sebelumnya belum kembali dari pulang kampung, dan Bayu masih belajar jadi...."


"Karena itulah saya datang sendiri kesini. Bayu, kamu bisa bantu?... Tentu itu terserah kamu, jika berkenan, aku akan senang"


Paman Arif memandangi Bayu dengan Khawatir tapi Bayu Seakan tidak memikirkan hal apapun "tidak masalah"


Ayu tersenyum anggun "terimakasih, kalau begitu saya pamit pulang"


Nirmala "mau ku antar?"


Paman Arif "Bayu, kenapa di terima itu, herbal itu jauh dan jalurnya tidak aman"


Bayu "tidak masalah paman, aku ingin menjadi tabib hebat, aku harus banyak belajar. Ini kesempatan buatku."


Paman Arif "tapi kamu tau kan maksud dari ini semua?"


Bayu tersenyum "iya. Tidak apa apa paman. Besok aku akan menemui tuan Wiriya sebelum pulang."


Nirmala "aku tidak mengerti, aku akan kembali"


Bayu "ehh tunggu Nirmala, besok. Kau ikut juga ya?


Nirmala "ha?? Kenapa aku harus ikut?"


Bayu "kepalamu itu masi belum beres, aku tau tabib hebat mungkin bisa bantu kamu ingat lagi"


Nirmala "oh, baiklah"


Paman Arif menjadi lega mendengar Nirmala akan ikut. "Baiklah aku tidak khawatir lagi jika kalian berdua yang pergi."


Nirmala "hmm Bayu, tuan Wiriya itu siapa?"


Bayu "oh, kau tidak tau?" Bayu kembali mengambil nampan herbal dan memilah milahnya di atas meja "dia ayahnya Dhika"


"Ayahnya?? Kenapa kau harus menemui ayahnya Dhika dulu?"


"Entahlah. Kita akan tau setelah bertemu dengannya"


"Berarti kita pergi ke rumahnya ya?"


"Benar, kita akan berkunjung ke keluarga besar Wiriya"


"Lalu siapa Tuan Wijaya"


"Ayah angkatku"


Nirmala tersedak ketika meminum teh nya. Mendengar itu sedikit mengejutkan bagi Nirmala "Ayah angkatmu?"


"Benar. Sudah lama aku tidak pulang"


"Perempuan cantik tadi, itu siapa? Kenapa paman Arif sangat menaruh hormat padanya"


"Memang kepala mu masih tidak beres ya. Seharusnya hal seperti ini kamu sudah tau. Yang kau tanyakan itu semua nya orang orang terkenal, bagaimana kau tidak tau sama sekali"


"Ish.. mungkin memang aku tidak tinggal disini. Jawab saja yang ku tanyakan"


"Maryam Ayu, putri satu satunya Tuan Wilis. Dan Tuan Wilis adalah Mandalika di wilayah ini"


"Mandalika itu apa?"


"Itupun kau tak tau?"


"Mana aku tau"


"Mandalika itu semacam gelar untuk pemerintah daerah yang di tunjuk oleh kerajaan"


"Hooo rasanya benar benar sangat asing bagiku"


"Sudah.. pulanglah bersiap besok pagi berangkat"


"Hmm. Iya iya. Aku pulang "


-----


Nirmala dan Bayu pergi pagi pagi sekali menuju kediaman Wiriya. Memang jarak tempuh yang sangat jauh. Setidaknya bagi Nirmala kaki kaki mungilnya terasa lelah. Mungkin Bayu sudah terbiasa dengan ini.


"Kita sudah sampai?" Tanya Nirmala yang mengikuti langkah bayu memasuki sebuah gerbang besar.


"Mn. Kita sampai di kediaman keluarga Wiriya."


"Ah. Aku lelah, aku heran kenapa tidak menyewa kereta kuda saja. Ini jarak yang cukup jauh."


"Berhentilah mengeluh. Dan jaga sikapmu disini. Keluarga Wiriya Adalah sebuah keluarga besar, keluarga kaya, berwibawa, dan banyak dari mereka yang menjadi satuan pengurus kerajaan, atau mendapat jabatan penting."


"Benarkah??" Nirmala sangat terkesan, pantas saja dhika sangat terlihat berwibawa. "Lalu bangaimana denganmu? Keluargamu?"


"Aku hanya seorang anak angkat"

__ADS_1


Bayu memang dari keluarga terpandang juga, sama sepeeti keluarga Wiriya, namun Bayu tidak bisa menggantungkan hidupnya di bawah nama keluarga itu, dia sadar bahwa dia hanyalah anak angkat saja. Bahkan, Bayu berpikir harus berbakti kepada keluarga itu, karena mereka lah dia bisa hidup berkecukupan.


Seorang pekerja datang menghampiri dan menunduk hormat "tuan Bayu, ingin bertemu dengan tuan Dhika?"


Bayu mengangguk "bertemu dengan Tuan Wiriya juga"


"Mohon tunggu sebentar" pekerja itupun pergi. Nirmala dan Bayu menunggu di halaman depan yang luasnya bukan main.


"Kau dan Dhika sedekat apa?" Nirmala kembali bertanya.


"hmm. Kami adalah saingan yang tidak pernah bisa di tandingi. Selalu berimbang dalam hal apapun. Tapi setelah sekolahnya selesai. Kami memilih jalan masing masing. Aku ingin mendalami ilmu pengobatan, dan Dhika hanya ingin menjadi cendikiawan, ingin menjadi pengajar bagi generasi muda. Aku sedikit kasihan padanya, meski impiannya seperti itu tapi tuntutan keluarga Dhika adalah untuk menjadi pendekar atau pimpinan Puragabaya atau setidaknya bisa mengabdi pada istana. Sungguh jauh dari kemauannya.


"Apa karena itu dia selalu membawa pedang?"


"Benar seorang pendekar identik dengan senjata yang dia bawa"


Pekerja itu kembali datang "tuan, silahkan lewat sini"


Mereka mengikuti pelayan itu. Nirmala terpesona dengan betapa luasnya dan suasana yang tentram di sana. Memasuki sebuah gerbang besar, terdapat beberapa bangunan besar seperti terbuat dari kayu jati, interior dan exteriornya sangat elegan dengan nuansa natural. Melewati beberapa bangunan besar, melewati kolam ikan koi, sangat cantik dan sangat asri, Nirmala memutar mutar pandangannya melihat ke semua penjuru, wajahnya tersenyum sangat senang melihat cantiknya kediaman Wiriya.


Hingga sampai lah di sebuah bangunan, ada panel nama di atasnya 'cendana' tentu saja nirmala tidak bisa membacanya, Bayu lah yang memberitahu arti tulisan itu.


Nirmala dan bayu duduk di dalam ruangan cendana. Interior yang unik.


Suara begericik kolam air terdengar. Sesekali terdengar suara burung berkicau. Angin semilir mengelus dedaunan pun terdengar, sungguh suasana yang sangat tenang, memang kediaman yang pas untuk seorang Wiriya.


Dhika datang bersama seorang laki laki paruh baya, Pamannya Dhika. Baskara Wiriya. Perawakan yang tegap, tenang setenang air, namun tegas sekeras ombak. Pakaian dengan gaya yang mirip satu sama lain, namun dia terlihat lebih berwibawa. Tentu saja dia orang berpengaruh dalam wilayahnya, bahkan dia sering datang di panggil ke Istana Sunda. Benar benar keluarga yang hebat.


Namun garis wajahnya lebih tegas dibanding dengan Dhika yang sangat tenang.


Baskara "sudah lama tidak bertemu, terakhir aku masih ingat kau selalu mengacau di sekolah."


Nirmala terheran mendengar itu, tidak disangka Bayu dulu seperti itu.


Bayu "itu masa lalu"


Baskara "apa kali ini kau bisa berhasil mendapatkannya?"


Bayu "tentu saja itu tidak sulit"


Baskara "kau selalu seperti itu. Terlalu santai dan mengangap entang sesuatu"


Bayu "aihh bukan seperti itu, aku hanya menikmatinya saja, haha"


Baskara "Lalu siapa gadis cantik ini?"


Nirmala "nama saya Nirmala, tuan."


Baskara memandangi Dhika "oh, Nirmala, Dhika pernah menceritakan tentangmu."


Tidak setegas kelihatannya ternyata dia sangat ramah pada Nirmala, tapi agak sedikit keras pada Bayu. Melihat pembicaraan mereka ada sedikil hal yang tidak disukai tuan Baskara kepada Bayu, tentu saja Bayu selalu santai dan pecicilan, namun tetap saja banyak orang yang mengakui kemampuan Bayu, baik dari beladiri maupun ilmu pengobatannya sekarang.


Bayu "Tuan aku diminta untuk bertemu dengan Kepala Keluarga Wiriya untuk melengkapi informasi. Apa beliau sedang tidak di tempat?"


Baskara "beliau sedang di Ibukota. Biar aku yang melengkapi informasi untukmu. Apa dia ikut denganmu?"


Bayu "benar. Dia bersamaku"


Dhika "Nirmala, kita bicara diluar."


Dhika keluar dari ruangan itu dan Nirmala mengikutinya. Sebenarnya Dhika tidak apa untuk ikut mendengarkan, namun dia lebih memilih menemani Nirmala di luar.


Nirmala duduk di pinggir kolam ikan. Kedua tangannya menahan dagunya. Matanya asik mengikuti setiap gerakan ikan ikan di kolam itu.


Dhika bertanya "Kenapa kau ikut?"


"Tentu saja karena penasaran, dan tidak ada kerjaan. Ini bisa sedikit mengisi waktu luang ku"


"Kau... Sedekat apa hubungannya dengan Bayu"


"Tidak ada hubungan apapun, hanya kawan saja" lagipula, dipikirannya Nirmala merasa tidak akan lama berada di dunia itu, Nirmala harus pulang ke asalnya.


Nirmala bertanya balik.


"Dia.. pernah menyelamatkan hidupku beberapa kali. Namun bayu tidak pernah menyadarinya."


Itulah Bayu, dia hanya menolong saja, tidak ada pemikiran berhutang budi atau apapun. Pria tepat untuk menjadi seorang tabib.


Dhika melanjutkan "apapun yang bayu lalukan aku akan mendukungnya"


Dhika kawan yang baik pikir nirmala. dia bahkan merasa iri dengan pertemanannya.


Nirmala dan Bayu meninggalkan tempat itu dan bergegas pergi ke kediaman keluarga Wijaya. Tidak disangka Dhika pun ikut dalam perjalanan kali ini.


Perjalanan sangat jauh dan melelahkan. Hari mulai gelap saat tiba di kota tempat tinggal Bayu. Matahari sudah condong turun untuk bersembunyi.


Mereka berjalan melewati pusat kota, lebih ramai dari yang biasa di rasakan Nirmala, Mreka pun berhenti di sebuah kedai, karena tidak tahan dengan rengekan Nirmala yang terus saja membicarakan perut dan makanan. Mau bagaimana lagi. Sepanjang jalan memang tidak menemukan kedai, hanya ketika sampai di kota lah kedai banyak tersebar di setiap jalan.


Nirmala merasa tidak enak. Mreka berdua harus mentraktirnya makan kali ini dan untuk kedepannya tentusaja karena nirmala tidak membawa uang sedikitpun. Lagipula memang dia tidak punya uang sama sekali. Untungnya mreka tidak keberatan dan beruntungnya lagi semua dibayarkan oleh Dhika. sang tuan kaya Raya. Jika dilihat lagi, dhika sangat terlihat cantik, mungkin lebih cantik dari perempuan. Wajahnya yg putih bersih, matanya berbinar, bulumatanya panjang nan cantik, bibirnya merah muda, hidungnya panjang bertulang, kadang Nirmala merasa iri dengan paras cantiknya. Tentusaja mata tajamnya membuat semua orang menjadi segan dekat dengannya.


Hari itu ada festifal tahunan untuk melakukan ritual penyambutan hujan. Meski mereka tidak tau mengapa sampai saat ini belum juga turun hujan. Menurut penanggalan yang mereka yakini. Seharusnya hujan sudah mulai turun beberapa minggu lalu, tapi setelah badai itu tidak pernah terjadi hujan lagi.


Ladang sudah mulai semakin kering. Masyarakat mulai panik dan khawatir, tanda tanda hujan masih belum terlihat lagi. Maka festifal kali ini adalah untuk memohon hujan turun lebih cepat.


Nirmala "Dhika, terimakasih sudah membayar makanan ku. Kau tau, aku sama sekali tidak punya uang."


Bayu "kau memang tidak pernah punya uang"


Nirmala "ish. Memangnya kau punya?"


Dhika "kabarnya malam ini ada sebuah festifal memohon hujan."


Bayu "benar tapi menurutku itu sama sekali tidak berguna. Jika belum saatnya hujan ya tidak akan hujan. Ahli astronomi negeri ini masih terlalu bodoh."


Nirmala "kau bicara seolah kau tau segalanya"


Bayu "memang begitu keadaannya. Ayo taruhan denganku, Dhika kau juga boleh ikutan, hehe"


Nirmala "taruhan apa?"


Bayu "menurutmu kapan hujan pertama akan turun??, Kalian boleh berpikir terlebih dulu, besok malam kita buat taruhannya, ya?"


Nirmala "ah.. apa yang bisa ku pertaruhkan"


Dhika "ayo lanjut jalan."


Mereka menghabiskan makanannya dan melanjutkan perjalanan. Kali ini tidak terlalu jauh untuk sampai di kediaman keluarga Wijaya. Hanya tinggal melewati alun alun kota saja.


Nirmala senang melihat keramaian disana. Sesekali mereka terpisah jauh. Di keramaian suasana Festifal. Untuk berjalan saja agak susah. terlalu banyak orang hingga Nirmala kehilangan jejak mereka.


Kali ini nirmala menjadi anak hilang, Namun dia tidak panik. Mencari jalan menuju rumah Wijaya, tinggal tanya tanya saja. Nama keluarga besar seperti itu pasti banyak yang tau.


Tiba tiba saja nirmala bertubrukan dengan seorang laki laki dewasa, membawa batang bambu, berpakaian hijau biru, panjang seperti gamis, matanya ditutupi sehelai kain, punggungnya menyilangkan sebuah busur dan anak panah. Pinggangga menggantungkan sebilah pedang.


Nirmala merasa aneh dengan orang itu, dia buta, tapi membawa senjata seperti itu, sungguh tidak masuk akal. Tapi Nirmala tidak memerdulikannya.


Nirmala "Ah, tuan, saya minta maaf sungguh saya tidak sengaja." Dia berdiri dan membantu orang itu kembali berdiri.


"Tidak apa, aku baik baik saja"


"Hendak kemanakah tuan pergi? Hari sudah semakin gelap tuan"


"Benarkah?, kalau begitu aku akan mencari penginapan"


Di tempat ramai seperti ini pasti kesulitan untuk berjalan terutama untuk orng buta seperti dia.


"Biar saya antar tuan"


"Terimakasih"


Mereka berjalan perlahan. Namun mereka dihadang oleh preman setempat, tidak heran dimana pun selalu saja ada orang jahat semacam ini. Mereka memalak, mengancam, meminta semua barang berharga apapun yg dimiliki, untungnya nirmala tidak memiliki apapun. Begitu juga orang ini.


Preman "berikan semua yang kalian punya dan aku akan membiarkanmu lewat"


Nirmala "memangnya ini jalanan milikmu?"


Preman "benar, semua jalanan disini adalah miliku."


Nirmala "kau salah memilih target, orang miskin seperti kami mana punya uang."


Benar, orang miskin tidak lah memiliki apa yang mereka cari, tapi preman preman ini bukan orang dengan kemampuan beladiri tinggi. Kaum bangsawan sudah pasti sedikitnya memiliki pengawal pribadi atau memiliki ilmu beladiri. Tidak heran target preman kecil seperti mereka adalah orang kecil juga. Yang tidak bisa melawan. Hanya bisa memberikan semua yang mereka punya meskipun dinilai tidak berharga.


Pemalak itu nekat. Satu persatu melayangkan tinjunya. Perkelahian pun terjadi. Entah menangapa, gerak refleks Nirmala sangat baik. Dengan mudah menghindar bahkan dapat membalas serangan serangannya. Dia pinjam tongkat bambu pria itu dan menghajar sekitar 5 orang pemalak itu. Entah dari mana Nirmala dapat kekuatan seperti itu. Dia hanya asal mengayunkan sajaa tapi itu berhasil. Dan merekapun lari tunggang langgang.


Setelah menemukan penginapannya Nirmala berbincang sedikit dengannya.


Dia adalah seorang pengelana, namun tidak di sebutkan dalan pencarian apa.


Namanya "Wangsa" wajahnya pucat tanpa rona sedikitpun. Nirmala tidak bisa berlama disana. Harus segera mencari Bayu dan Dhika. Wangsa berpesan, dalam perjalanan kali ini, dia harus berhati hati, karena hutan adalah tempat yang tidak terduga. Kabut adalah tempat ilusi.


Aneh sekali. Nirmala tidak membicarakan apapun dengan nya. tapi dia tau bahwa dirinya akan pergi ke hutan.


Dia juga berpesan. Untuk berhati hati terhadap orang yang baru di temui. Tekadang seseorang bisa sangat baik, namun memiliki hati dan maksud yang jahat. Dia juga bilang bahwa mereka akan bertemu lagi lain waktu.

__ADS_1


Mungkin dia cenayang, pikir Nirmala.


Dia pun pergi.


__ADS_2