Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Jalan Pulang


__ADS_3

Sementara Bayu masih menginap sementara di kediaman Wiriya, sembari sesekali merawat bocah itu.


Dia sudah jauh lebih baik, namun masih harus memulihkan stamina nya. Dia tidak menjawab apapun yang ditanyakan. Kejadian itu pasti membuatnya sangat terpukul.


Nirmala berpamitan pada semua, dia berencana untuk pulang lebih dulu, khawatir akan kakeknya yang tinggal sendiri. Kebetulan tuan pambudhi pun akan kembali ke Istana Mandalika, jalur yang searah.


Nirmala berpesan untuk tidak bertanya lebih jauh kepada bocah itu buatlah agar dia nyaman dan percaya padanya.


Nirmala dan Tuan Pambudhi pun pergi pulang.


Dhika dan Bayu mengunjungi bocah itu. Rumah nya sudah terlihat. Di pekarangan rumah, bocah itu berdiri menengadahkan kepalanya menghadap langit, wajahnya masih pucat. Dia merasakan sinar matahari pagi yang begitu hangat, matanya terpejam, setetes air bergulir di pipinya. Dia menghapusnya dengan cepat begitu menyadari ada orang lain datang.


Bayu "kau sudah baikan"


Dia mengangguk "terimakasih atas bantuannya selama ini. Aku tidak akan melupakan kalian"


Dhika "apa kau bisa menceritakan kejadian itu kepada kami?.


Dia mengangguk "hmm. Perempuan yang bersamamu kemarin, dia tidak datang?"


Bayu "dia sudah pulang, ayo. Kita bicara di dalam"


"Aku biasa berburu di hutan saat malam dengan Ayahku. Penglihatan kami lebih baik dari orang lain. Dan hewan hewan akan lebih mudah di tangkap di malam hari. Namun malam itu. Kami melihat sekelompok orang. Kupikir mereka orang jahat. Seorang diantaranya berbicara bahasa asing. Aku tidak mengerti. Karena aku Ayahku...." Dia menangis "semua salahku."


Bayu "Jangan bicara begitu, dia pasti sangat menyayangimu"


"Besok aku akan pergi meninggalkan rumah ini. Mencari keluargaku yang lain di perbatasan jawa. Tolong sampaikan rasa terimakasihku pada nona yang bersamamu kemarin."


Bayu "bisa kau beritahu kami siapa namamu?"


"Adrian"


Bayu dan Dhika pun tidak bisa berbuat banyak.


Hanya berpesan agar berhati hati.


Bayu dan Dhika pun kembali ke kediaman Wiriya.


Diperjalanan mereka melewati sebuah toko, menjual segala jenis barang yang tidak biasa. Bayu masuk ke toko itu, Dhika mengikuti.


beberapa barang membuatnya tertarik.


Dhika hanya memutar matanya.


Bayu menyarankan Dhika agar pulang duluan. Bayu masih tertarik di toko itu. Dhika pun kembali.


Sebuah kertas bertinta ungu, terselip di salah satu buku, dia mengenali isi buku itu, dan mengenali gambar di kertas itu. Rona wajahnya seakan menemukan sesuatu yang sangat penting. Dia membeli barang itu meski agak mahal. Tabungannya habis untuk membeli barang itu. Tapi dia tida menyesalinya.


------


Dalam perjalanan pulang, Nirmala dan tuan Budhi tiba tiba saja di hadang sekelompok orang, berpakaian serba hitam, wajahnya di tutupi kain hitam. Menghunuskan senjata, mengelilingi mereka berdua. Salah seorang mengeluarkan sebuah kertas bergambar, dan meniliknya lekat lekat. Benar dia orangnya ujarnya.


Tuan Budi berujar keras, "Apa mau kalian? Siapa yang memerintah kalian?"


"Kami harus membawa Gadis itu?"


Aku?, Kenapa, ada apa, Nirmala sangat kebingungan, mengapa dia berada dalam situasi seperti ini.


Tapi kelompok ini tidak menjawab apapun. Mereka hanya pembunuh bayaran yang di utus seseorang.


Tuan Budhi tau, jika ada hubungannya dengan kelompok seperti ini, kemungkinannya hanya dua. Dicari untuk di bunuh, atau untuk dijadikan budak.


Tuan budi menghunuskan pedangnya.


Mereka mulai menyerang, sepuluh lawan satu. Nirmala hanya bisa melihat tuan budhi berusaha melindunginya.


"Ketika ada kesempatan, lari lah sekuat tenaga, jangan menoleh dan jangan berhenti hingga bertemu dengan orang yang bisa membantu."


"Tapi, Tuan"


"Turuti saja"


Mustahil bisa lolos dari mereka. Jarak ke desa selanjutnya masih jauh, kembali pun sudah terlampau jauh.


Tuan Budhi beradu pedang dengan mereka, dia sangat hebat, bisa mengalahkan setengahnya.


"Lari!!!" Teriaknya, dan Nirmala pun bergegas lari dari sana.


Dua orang di hadang tuan budi, tiga orang mengejar.


Nirmala mendengarkan perkataan tuan Budhi, berlari sekuat tenaga, tanpa berhenti. Menerobos hutan, ilalang, bebatuan, Nirmala berlari jauh dari jalur. Sesekali tersandung hingga kakinya berdarah. Namun itu tidak dirasa. Dia tetap berlari.


-----


Bayu melihat Dhika berbicara dengan seseorang, dia terlihat sangat panik. bayu mendekat dan mendengarkan pembicaraan.


"Ada apa?"


"Seseorang terbunuh, pria tua di pondok tempat bocah itu dirawat, dia tewas. sekelompok orang datang, mencari seseorang. Mereka membawa sketsa gambar seseorang aku yakin gambar itu adalah orang yang bersama kalian kemarin"


"Nirmala?!"


"Bagaimana dengan bocah itu?"


"Dia pergi begitu kalian meninggalkan rumah itu."


Dhika dan Bayu saling bertatap berisyarat. Segera pergi menyusul Nirmala dan Tuan Budhi


Mereka menyusul menggunakan kuda tunggang, memacu kudanya hingga kecepatan paling tinggi. Dilihatnya Tuan Budhi sedang bertarung melawan seorang pembunuh bayaran itu.


Dhika melemparkan pedangnya dari kejauhan. Tepat mengenai jantung pembunuh itu dan mati seketika. Bayu terkesan melihatnya.


Tuan budi "tiga orang mengejar Nirmala, satu lagi baru saja menyusul mengejar"


Dua orang yang tadi menghadang sangatlah kuat membuat Tuan Budhi terluka.


Bayu memberikan kudanya, meminta Tuan Budhi segera pergi segera. Sementara Bayu dan Dhika akan mencari nirmala.


Bayu dan Dhika menyusuri jalan. Bayu menyadari satu hal. Jika nirmala berlari di jalan kosong, pasti akan cepat terkejar, kemungkinan dia berlari menembus hutan, mereka meninggalkan kudanya, mencari jejak kemana Nirmala pergi. Bayu cukup berpengalaman mengenai kondisi hutan, dengan cepat dia menemukan jejak jejak langkah Nirmala.


Nirmala terpojok, kini ada empat orang di hadapannya, menghunuskan pedang, dia sangat ketakutan hingga tak dapat mengeluarkan suara sedikitpun. Seseorang mencengkram kedua lengannya dari belakang, seorang lagi menutupi matanya dengan selembar kain, mengikat kedua tangannya ke belakang,


Tiba tiba terdengar suara yang familiar.


"Nirmala", suara itu memanggil.


itu suara Bayu.


Tanpa basa basi mereka menyerang Bayu dn Dhika. Empat lawan dua, suara benturan senjata seakan mengiris telinga. Nirmala sangat ketakutan.


Entah pertarunagn itu berlangsung berapa lama. Hingga seseorang membuka penutup matanya, Bayu dilihatnya tepat dihadapannya.


Dhika memotong tali di tangannya.


Dua orang tergeletak mati, dua orang lagi entah kemana.


Nirmala ambruk terduduk. Air matanya mengalir, masih tanpa suara. Bayu memeluknya dengan lembut, tangisan Nirmala menjadi semakin kuat. Kejadian seperti itu membuatnya sangat panik. Dan ketakutan


"tidak apa apa. aku disini."


Nirmala menangis di pelukan Bayu.


Dhika berdiri tenang,


-----


Bayu, Nirmala, Dhika berjalan menyusuri jalan menuju desa terdekat. Kuda mereka entah kemana perginya, mungkin kabur atau di curi orang. Tiba tiba Nirmala berhenti dari langkahnya.


"Ahh. aku lelah. berjalan dari jauh, berlari tanpa henti, rasanya kakiku mati rasa. Bisakah kita mencari kereta kuda, kuingin tidur"


"ahh, Nirmala kau tahan sedikit ya, aku juga sangat lelah. kakiku rasanya hampir patah mengejarmu. Tapi aku tidak punya cukup uang untuk menyewa kereta kuda, kau bertahanlah sedikit lagi ya."


Mereka memasang wajah memelas.


"Kalian tunggu lah d ujung jalan.


aku akan mencarikan kereta kuda."


Nirmala dan Bayu saling menatap dan tersenyum lebar seakan rencananya berhasil.


Sebuah kereta kuda tiba di ujung jalan. Hanya menunggu lima menit untuk menunggu itu datang. Nirmala terkesan, kereta kuda nya terlihat sangat elegan, dengan warna gading bercorak keemasan. Sperti untuk seorang bangsawan. Bayu dan Dhika memang dari keluarga bangsawan. Tidak seperti Nirmala yang entah dari mana.


Bayu menyodorkan tangannya, "silahkan tuan putri."


Nirmala tersenyum dan mengangkat dagu, menggenggam lengan bayu sebagai sandaran, "terimakasih"


"kau baik baik saja?" tanya dika


"aku baik baik saja. kenapa?"


"Setelah kejadian tadi kau benar benar baik baik saja?"


"hmm. tentu saja karena sudah ada kalian berdua bersamaku. aku sudah tidak takut."


Raut wajah ketakutan yang tadi di perlihatkan nya memang sudah sirna.


Dhika memberikan beberapa obat kepada Bayu "kakinya terluka, ini utnuk mengobatinya"


Bayu "kau sangat perhatian sekali"


Nirmala "Dhika, Bayu, apakah sistem informasi jaman ini sangat canggih ya, belum lewat dua hari aku memberitahu informasi itu. mereka langsung mencariku. bagaimana menurutmu?... Ahh. Sakit. Pelan pelan lahh.."


Bayu "tahan lah sedikit jika tidak kubersihkan lukanya akan membusuk"


Dhika "Dugaanku hanya satu, ada orang kita yang mengetahui ini dan membocorkannya."


Nirmala "ya. kupikir jg begitu. lalu apa menurutmu tujuan merrka sebenarnya?


kenpa mencariku. apa tujuannya, kau bisa menebaknya? ahh. terlalu bnyak misteri yang aku tidak mengerti."


Bayu masih membalut kaki nirmala yang terluka "kau yang terlalu misterius Nirmala"


Dhika "mungkin mereka ingin mengorek informasi darimu. wawasannmu lebih luas dari kebanyakan orang, meski tata bahasa mu sangat minim, tapi dalam hal lain kau sangat bisa digunakan."


Nirmala "digunakan? kau seolah melihatku seperti sebuah benda. hmm aku hanya bisa membaca huruf latin alfabet, sedikit huruf arab meski tidak mengerti artinya, dan aku buta huruf kawi."


Dhika membalas.


"kau lancar bahasa melayu, mengetahui hal yang belum ada di tanah ini, kau mengerti pergantian musim, kau mengerti bahan kain, kau mengerti mekanisme suatu benda, kau bisa berbahasa inggris, kau lancar dalam berhitung, bahkan kau mengerti ukuran panjang secara detail. dan terakhir kau mengetahui senjata baru hanya dengan melihat gambar sketsanya. Siapa yang tau mungkin kau juga mengetahui soal masa depan.


Nirmala "bukankah aku memang dari masa depan."


Dhika "aku rasa. mereka memang sudah menyelidikimu, dugaanku, mereka ingin menggunakan kemampuanmu."


Nirmala "tunggu, kau tau semua itu darimana?


kau juga mengawasiku?


Bayu, kau juga mengawasiku?"


"semua orang mengawasimu" ujar bayu. "mulai saat ini jangan tinjukan keahlianmu sedikitpun."


"ha? sejak kapan aku di awasi?"


Dhika "bukankah kau sudah menyadarinya ketika pergi ke gunung untuk mengambil herbal langka."


Nirmala "karena itu lah aku tidak diijinkan bertanya apapun?"


Dhika "benar, semakin kau banyak tau, semakin mereka akan mengetahui kemampuanmu."


Bayu "tunggu, ketika ke gunung putri pun ada mengawasi? Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali?"


Dhika "setelah keluar dari desa sunyi mereka mengikuti. Tapi mereka menghilang ketika di lembah"


Bayu "hoo begitu"

__ADS_1


Dhika "kami yakin kau bukan mata mata yang sering di bicarakan. keluarga besar Wijaya dan Wiriya memiliki alasan. Bahkan Tuan Budhi pun, melindungimu.


Jika kau mata mata, mereka tidak mungkin mengejarmu. Mata mata itu sepertinya ada di antara kita. Diantara orang penting"


Bayu meneruskan "Keluarga besar semakin yakin ketika kau membantuku menyelamatkan bocah itu Karena itu lah mereka bersedia mendengarkan informasi darimu."


Dhika "kali ini kau tidak perlu takut lagi. kau mendapat perlindungan dari semuanya."


Nirmala pun tersenyum.


****


Matahari sudah terbenam. Nirmala baru saja sampai d rumah.


Kake sapta menyambutnya dengan raut mukanya yang sangat khawatir. Memeluknya dengan perasaan lega.


Nirmala "ada apa kenapa semuanya terlihat pucat?"


Tiba tiba Kang Iwan datang melewati pintu. Disusul Paman Rai dan Paman Raka. Wajah mereka berubah dari cemas menjadi lega.


"kenapa semua tegang? ada apa?"


"duduk lah dulu."


Kake Sapta membawakan air teh hangat utk nirmala, melihat wajah Nirmala yang sedikit pucat.


Paman Rai "Nirmala, kamu baik baik saja?"


Nirmala "iya tentu saja paman, ada apa?"


Paman Rai " kami kira kamu tidak akan pulang. Tadi sekelompok orang datang mencari seseorang. Mereka menunjukan sketsa gambar, mirip sekali degan mu"


Nirmala "mencariku? siapa?"


Paman Rai "tidak tau, mereka berpakaian serba hitam, membawa senjata, semua nya menutupi wajah. kami tidak kenal sama sekali. Kami takut bahwa mereka orang jahat."


Nirmala "mereka mengatakan sesuatu?"


Paman Rai "ya, mereka bilang orang itu berbahaya, jika menemukannya segera serahkan atau bunuh saja. dia seorang mata mata yang berkhianat."


Paman Rai "nirmala kami menyayangimu seperti keluarga kami sendiri, setelah mengenal mu lebih banyak, kami yakin kau bukan orang seperti itu."


Kang Iwan " Nirmala, bisakah kau cerita kepada kami, ada apa sebenarnya. Karena mereka juga mengancam jika menyembunyikannya kami akan di bunuhnya."


Kake Sapta hanya menunjukan wajah cemasnya.


Melihat Kake yang sangat cemas Nirmala menggenggam kedua tangan Kake Sapta,


"Kake, Paman, Kakang, aku bersumpah aku bukanlah seperti yang mereka katakan. Aku bukan mata mata dan aku bukan orang yang ingin membahayakan orang lain."


Kang iwan "lalu apa yang mereka cari darimu."


Nirmala " itu...aku memiliki informasi, dan aku beritahukan semua kepada tuan Wiriya semua yang aku tau. Mengenai senjata baru buatan tentara Mongol."


Paman Rai "senjata?


Nirmala mengangguk. "Senjata untuk berperang mungkin untuk menaklukan tanah kita."


Kang Iwan "informasi itu sangat penting?"


Nirmala "Tentu saja. Sebuah senapan, seperti meriam dengan ukuran kecil, pelurunya bisa menembus tubuh seseorang, lebih mematikan dari busur panah. Namun mereka masih dalam tahap uji coba. Jika informasi dariku tepat, maka kita bisa bertahan dan mengendalikannya. Lagipula, aku tidak ingin negeri ini jatuh terjajah, jika dugaan ku benar. Saat ini mongol adalah negara terkuat, berhasil menaklukan banyak negara lain. Negeri kita adalah sasaran selanjutnya."


Paman Rai "bagaimana kau tau mengenai informasi itu, kau sebenarnya siapa?"


Nirmala terdiam sejenak "paman, aku ini cucu kake sapta kan?


aku ini keluarga kalian kan?


apa aku ini seperti orang asing?"


Kake Sapta mletakan tangannya di kedua pipi Nirmala. "Kau adalah cucu kake yang paling kake sayangi. Siapa pun kamu kemarin atau nanti, kau akan tetap menjadi cucu Kake.


Kake percaya kamu orang yang baik."


paman Rai "benar. Sejak kau bergabung dengan keluarga ini. kau adalah bagian dari keluarga ini"


----


Matahari sudah menjulang, baru saja nirmala melangkah keluar pintu, Tuan Budhi sudah berdiri di samping benteng batu, dia tidak terluka banyak akibat penyergapan kemarin. Dia meminta nirmala untuk pergi ke pondok pelatihan keluarga Wijaya. Ada yang harus di bicarakan. Nirmala mengiakan.


Kali ini Tuan Budhi membawa kereta Kuda, Nirmala menaiki itu menuju kediaman Wijaya untuk mempersingkat waktu dan tenaga. karena Tuan Budhi tau peristiwa kemarin pastilah tidak mudah dilupakan.


Mereka tiba di pondok pelatihan Wijaya.


Bayu dan Dhika sudah menunggu di gerbang, Nirmala turun dari kereta. Dan Tuan Budhi akan menyerahkan keretanya kepada pengurus disana.


"hei, aku lapar, bisakah aku mendapat makanan disini." Nirmala berbisik kepada bayu.


"Kebetulan sekali, aku juga ingin makan sesuatu, tapi ini bukan waktunya makan, kau tahan dulu saja ya."


"Tidak bisakah kita ke kedai sebelah sana. tadi aku melewatinya, wanginya sangat enak. membuat aku sangan kelaparan."


Dhika hanya menatap mereka berdua. Ekspresinya seakan tidak suka dengan yang dibicarakannya ini. Mereka selalu saja berkerjasama untuk mewujudkan keinginan mereka.


"Iya iya. baiklah, aku akan tahan sampai semua selesai."


"ha? kau bisa menahanya? aku bahkan tidak tau apakah aku bisa menahannya atau tidak"


Dhika menghela nafas, ayo, aku traktir kalian makan di kedai.


Bayu dan Nirmala saling menatap, lalu tersenyum licik. Berhasil lagi.


Nirmala makan dengan lahapnya, begitu juga Bayu, mereka makan sambil bercanda dan tertawa tawa


Sesekali Dhika memarahinya, tidak baik makan sambil tertawa tawa.


Nirmala "ah, aku penasaran. kenapa aku dipanggil kesini. oh. aku juga baru tau kalau keluarga Wijaya punya pondok pelatihan."


Bayu "Hampir semua keluarga besar memiliki pondoknya masing masing. Merekrut banyak orang untuk menjadi calon prajurit istana, Puragabaya, Basura, pendekar, atau apapun."


Nirmala "hmm. Baiklah"


Nirmala hampir menghabiskan makanannya. Bayu sudah menghabiskan makannya. Dhika hanya makan sedikit saja. Semua terdiam seketika mendengar seseorang di seberang mejanya sedang bergosip.


"Kau tau di wilayah kita ada seorang perempuan cantik namun juga seorang mata mata, juga seorang penghianat Sunda"


"Aku dengar itu. Katanya pembunuh bayaran sudah bergerak untuk mencarinya, jika ada yang menyembunyikannya pastilah mereka akan membunuhnya."


"Tapi di wilayah ini sepertinya blm ada tanda tanda dimna gadis itu berada."


apa mereka membicarakan aku atau ada orang lain yang seperti itu?


Dhika berdiri dari kursinya, ayo kembali.


Nirmala mengikutinya begtu jg Bayu.


****


Di pondok pelatihan beladiri keluarga Wijaya, di sebuah lapang terbuka di dalam benteng, berbaris puluhan orang dengan rapi, membuat gerakan yang sama, sambil menghentakan kaki dan suara hitungan.


Satu orang instruktur memperhatikan dari jauh, dan satu lagi berkeliling memastikan gerakan mereka tidak salah. Haris, dengan tegas menegur ketika ada yang salah atau membuat gerakan yang lemah.


"pakai tenagamu, jangan biarkan lemah."


"tegak lurus kedepan."


"kepalan tangan harus kuat."


"kuda kudamu tidak kokoh."


"ulang sekali lagi."


Para peserta itu seperti setengah kesal. Haris terus mengyuruh mereka mengulangi nya setiap kali ada gerakan yang keliru.


"Haris!!" nirmala memanggil.


Haris menghampiri.


"wah. aku tidak tau kau bisa jadi instruktur."


"apa itu instruktur.


"ah.. hmmm. Pelatih,, guru."


"hoo. aku diminta ayahku membimbing mereka. Saat ini mereka belum ckup kuat. ada apa kesini, mau ikut berlatih?"


"ah tidak. Aku diminta bertemu tuan Wijaya"


"ayahku? ada apa?"


"tidak tau."


Bayu menyela "Haris. kau sudah banyak kemajuan rupanya."


"tentu saja itu karena kau tidak ada kemajuan. Seharusnya kau membantuku melatih murid baru"


"kau kan sudah cukup"


"oh, ayahku ada di ruang rapat sebelah aula tengah."


"baiklah kami akan kesana."


"yang smangat ya.😊"


☺️☺️


Di sebuah ruang besar dengan meja bundar di tengahnya dan kursi kursi mengelilingi meja kayu itu. Benar benar seperti ruang rapat khusus. Mereka bertiga sudah ditunggu oleh semua peserta rapat. Namun Bayu memutuskan untuk tidak mengikutinya dengan alasan akan membantu Haris melatih peserta didik baru. Entah karena apa bayu tiba tiba keluar setelah menapakan kakinya selangkah d ruangan itu.


Sementara para petinggi duduk di tempatnya. Nirmala dan Dhika hanya berdiri di samping meja bundar itu. Memang tidak ada kursi kosong lagi untuk mereka. Lagipula mereka hanyalah seorang informan. Bukan untuk mengikuti keseluruhan rapat.


Tuan Wiriya berkata sudah menjelaskan situasi sebelumnya dan sudah menjelaskan mengenai senjata baru milik prajurit mongol. Namun tidak semua orang percaya.


Disana duduk 8 orang petinggi.


Tuan Wiriya dan adiknya Baskara Wiriya, Tuan Wijaya, Tuan Wilis, satu orang utusan istana Sunda, dan wakil dari tim penyelidik istana, dan Tuan Budhi.


Percakapan mereka begitu menegangkan.


4 dari 8 orang itu tidak percaya informasi dari Nirmala.


bahkan mereka meragukannya.


Mereka juga mencurigai Nirmala.


"Jika Kau memiliki informasi penting soal musuh. Maka bisa saja informasi mengenai Sunda dapat kamu bocorkan kepada musuh."


Mendengar itu, Dhika pun terkejut, Nirmala dengan tegas membantahnya "itu tidak benar. Aku tidak akan berkhianat."


Nirmala melihat Dhika yang mematung. Sorot keraguan terpancar dari matanya. Nirmala kecewa melihat itu.


Mereka mendesak Nirmala mengeluarkan semua informasi. Nirmala terdesak panik. Bukan karena tidak tau apa apa. Tapi karena situasi yang menekan itu membuat sorot matanya menjadi tidak seyakin sebelumnya.


Tuan Wilis seperti yang paling berkuasa pada rapat ini.


Dia gebrak meja itu, membuat Nirmala semakin panik hingga matanya berkaca kaca.


"siapa kau sebenarnya" tanya Tuan Wilis


Nirmala hanya diam. Perlahan menatap Dhika disampingnya.


Dia menggelengkan kepala, dan Nirmala mengerti untuk tidak memberitahukan dia berasal dari mana.


Pada akhirnya Nirmala hanya diam. Setetes air matanya mengalir turun .


Tuan Wijaya menanyakan beberapa hal. "Sejauh mana kau memiliki informasi mengenai musuh?"

__ADS_1


Nirmala diam lalu berkata. "Saya tidak akan berkata apapun yang tidak saya ketahui"


Karena sebelumnya Bayu berkata bahwa Nirmala memiliki kemampuan meramal atau disebut juga sebagai cenayang.


Tuan Wijaya bertanya "Bayu bilang kau seorang cenayang. Aku akan tanya beberapa hal. Apa yang akan terjadi dalam waktu dekat. apakah akan terjadi perang, dan dengan siapa? Kau mengetahui itu?"


Nirmala menjawab.


"Jika semua semaksa, maka akan saya jawab.


Pertama, saya tidak tau kapan perang itu benar benar terjadi, tapi memang akan ada perang, saya juga tidak tau apakah benar dari tentara mongol atau bukan. yang jelas, perawakan mereka yang menyerang memang seperti tentara Mongol, berkulit kuning, bermata sipit, mereka pandai dalan beladiri, baik memakai senjata ataupun tangan kosong, maka kalian harus berhati hati.


Selain itu, Sunda akan berperang dengan Mataram, tapi tentu saja. Saya juga tidak tau kapan itu terjadi, hanya saja, perang itu tidak dilakukan disini, tapi di area tanah jawa.


Selanjutnya, mungkin akan terjadi beberapa ratus tahun kedepan. aku yakin itu tidak perlu di ceritakan karena generasi sekarang pasti sudah mati.


Jika boleh saya memberi saran. untuk bekal generasi mendatang, dan untuk mencegah kekalahan dalam berperang, alangkah baiknya untuk tidak melewatkan informasi ini."


"Semua itu kau bilang tidak tau kapan, bagaimana bisa kami percaya."


"Akupun tidak bisa membuktikannya karena memang belum terjadi."


Tuan Wiriya bertanya, "apakah pada akhirnya semua bisa berdamai hidup dengan tenang?"


"Itu akan terjadi seribu tahun mendatang, semua berdamai, semua suku, etnis, ras,


kita berdamai dalam satu nama bangsa. Sesuai dengan sumpah dari Gajah Mada"


"bagaimana bisa kami mempercayaimu. kalau pun itu terjadi, mungkin kami memang sudah mati."


"Tidak perlu percaya tidak apa apa.


yang perlu kau percayai adalah, aku benar dengan memberikan informasi mengenai senapan itu. Beberapa tahun mendatang, banyak negara yang akan memakai itu utnuk perang, menakut makuti kita, menjajah kita, jika kau masih hidup di masa itu, kau akan merasa bersalah semumur hidupmu karena tidak mempercayai informasi ini."


"omongkosong, kita negeri merdeka, kita tidak akan dijajah oleh siapapun."


"ya. aku pun berharap seperti itu. tapi dunia selalu berubah, tidak mungkin akan selalu tetap sama."


Melihat Nirmala berbicara panjang lebar, dhika seakan tidak menyangka yang dikatakannya.


"Lalu apa jaminan bahwa kau tidak akan berhianat?"


Nirmala hanya terdiam, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Dia tidak tau apa yang harus dia katakan.


Tuan Wijaya bertanya.


"Menurutmu bagaimana keadaan tanah kita. Apakah sudah cukup siap untuk menghadapi perang."


Nirmala tertunduk.


"Tidak, kita tidak pernah siap. kita akan selalu kalah dan kita akan kehilangan tatanan kerajaan."


"ha?"


"kau.. terus saja bicara omong kosong.


lihat, dia bicara bahwa kita ini lemah, karena itu lah dia bisa membocorkan informasi kita kepada musuh. Mereka tinggal menunggu waktu yang tepat."


"Kenapa kau selalu melihat sisi negatif.


Semua informasi itu penting, tergantung bagaimana kau mengolahnya. Jika kau hanya melihat sisi negatif, maka Sunda tidak pernah akan punya harapan. Berusahalah yang terbaik. Meski selama seribu tahun kedepan mengalami perjalan yang menyedihkan.


tapi, suku sunda akan tetap ada sampai seribu tahun kedepan, mungkin hingga duaribu tahun kedepan. karena apa?


karena tatanan kehidupan yang kita tanamkan membuat kita selalu ada, kita orang orang pejuang, kita memiliki rasa kemanusiaan. Kita memiliki ketuhanan. Kita memiliki rasa keadilan. Kita pekerja keras. Kalau kau hanya melihat hitam. Maka kau adalah hitam."


Semua terdian mendengar nirmala berbicara. Sedikit motifasi terbentuk.


"Bayu bilang kau hilang ingatan ketika di temukan oleh kake mu. itu benar?"


"benar."


"apa sekarang masih?"


"sejak aku ditemukan. aku tidak tau masalaluku disini seperti apa. hingga saat ini. aku tidak tau."


"lalu bagaimana kau mengetahui semua itu? masa depan kau bisa tau. masa lalu kau tidak tau?"


Dhika menjawab, "ada yang bilang sebagian orang di anugrahkan kemampuan tidak terduga. Bisa melihat masalalu orang lain, bisa melihat masadepan, bisa menembus waktu, bisa melihat alam ghaib, bisa berpindah dengan singkat. Aku kira dia memiliki salahsatunya."


Nirmala lega mendengar itu dari Dhika. Dan semua orang terdiam tidak membantah apa yang di katakannya. Itu memang benar. Di dunia ini banyak orang yang memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki orang lain.


Tuan Wiriya berkata.


"kalian tunggu lah di luar, kami akan mendiskusikan hal ini."


Nirmala menendang sebuah kursi bambu, begitu keluar dari ruang itu.


air matanya masih basah dipipinya, kali ini bukan sedih karena ketakutan. Tapi karena sikap mereka yang seperti itu.


"Aku tidak percaya mereka seperti itu.


Seharusnya mereka mengolah informasi itu menjadi bermanfaat.


Malah mencurigaiku berkhianat.


ah. sial."


Dhika hanya mematung. Sorot matanya masih terasa sangat bimbang.


"Dhika...., kau juga meragukan aku?"


mereka saling menatap satu sama lain.


Bayu melihat dari kejauhan. lau mendekat, Haris pun ikut mendekat.


"hm.. tidak apa, lagipula apapun yang aku lakukan sampai kapanpun tidak akan pernah tercatat dalam sejarah."


"Nirmala, ada apa?"


Nirmala hanya menatap Bayu, "aku akan pulang."


Dhika menahan Bayu ketika Bayu akan mengejarnya.


"biarkan dia sendiri."


"ada apa?"


"akan kujelaskan, tenanglah." Dhika pun menjelaskan semuanya.


Dan Haris mendengarkan dengan seksama. Haris setuju dengan Tuan Wilis, tidak ada bukti apapun bisa terjadi, dan tidak ada jaminan dia bisa berhianat atau tidak.


Tapi Bayu tidak sependapat. Memang tidak ada bukti. Tapi kepercayaan bisa merubah semuanya. Bayu percaya semua itu benar dan Bayu percaya dia tidak akan berhianat.


Rapat berlangsung sangat lama. Namun belum ada keputusan apapun. Untuk saat ini hanya membiarkan semua berjalam seperti biasanya.


Sementara itu, Nirmala masih menahan amarahnya berjalan di pinggir sungai, bersampingan dengan jalan menuju pulang, sesekali menendang air, airnya sangat jernih, sangat luas. Namun sangat dangkal. Gemericik air dan dinginnya air dapat menyejukan suasana hati.


Beberapa ikan terlihat berkeliaran seiring dengan gemericik air yang di tendangnya.


Nirmala berguman sendirian.


Sialnya kadang dia pakai beberapa bahasa inggris untuk mengumpat.


"kau bicara apa."


seseorang berseru di belakangnya.


Dia seorang gadis yang pernah di temuinya.


"Dyah??"


"oh, Nirmala, senang bertemu lagi.


kau sedang apa disini."


"ah. haha haha. tidak ada hanya meluapkan kekesalan."


"Kesal terhadap apa sampai ikan ikan di sungai ketakutan."


"Hanya kesal karena tidak ada yang mempercayaiku. ah. sudah lah. aku sudah tidak peduli.


bagaimana denganmu? kenapa kau ada disini."


"Kebetulan lewat saja, aku sedang mencari tuan Wilis."


"kau bekerja untuk mereka?"


"benar, aku pelayan di istana Mandalika"


"oh, begitu. ah. dyah aku boleh bertanya sesuatu?"


"tentu."


"Ktika pertama kali bertmu denganmu.


Aku melihat sesuatu. sebuah kotak berbahasa inggris, itu benda apa?"


"ahm itu, aku juga tidak tau. semua milik Tuan Muda Willis."


"Tuan Muda?"


"Iya, putra Mandalika. Namanya Boris."


"oh. benda benda itu miliknya? "


"iya. benda benda itu milik mereka. aku hanya membawa nya saja. kau bisa membaca alfabet?"


"hehe, hanya tau beberapa huruf."


"tapi ku kira kau tau lebih banyak aku bahkan tidak tau kalau itu berbahasa inggris."


" oh. hahaha. aku hanya tau bahwa alfabet itu dari inggris. hehe."


"begitu."


"aku sedikit penasaran dan ingin mempelajari alfabet lebih dalam. haha, makanya aku tanya.haha"


"hmm. mungkin kau bisa bertanya langsung kepada Tuan Wilis,."


"oh. itu benda itu, berasal dari mana?"


"Seseorang mengirimnya, dari luar negri, tapi itu sudah lama sekali.


itu peninggalan keluarga."


"begitu, baiklah."


"Kenapa kau hanya penasaran dengan benda itu?"


"Hanya menarik perhatianku saja."


" hoo. oh. aku harus segera bertemu Tuan Wilis. Kau tau dimana dia ?"


"di pondok pelatihan keluarga Wijaya. Mereka sedang rapat penting."


"Baiklah. Terimakasih infonya. Sampai jumpa lagi."


"sampai jumpa lagi."


Nirmala menggaruk keningnya, berharap informasi itu didapat lebih banyak tapi ternyata sulit.


Semua hal yang berhubungan dengan dunia asing membuat nya dicurigai.


Sepertinya harus mencari informasi secara diam diam.

__ADS_1


__ADS_2