Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Desa Kabut


__ADS_3

Hari sudah petang, matahari sebentar lagi hilang. Nirmala menyusuri jalanan. Sesekali bertanya pada orang dijalan menuju kediaman Wijaya.  Dilihatnya diujung jalan dua orang sedang berbincang, lebih seperti bertengkar. Bayu dan Dhika mereka berdiri disana. Menunggu Nirmala mendekat. Hingga Nirmala tau apa yang mereka perdebatkan.


Bayu berkata untuk tidak perlu khawatir dan tunggu saja. Sedangkan  Dhika bersikeras untuk kembali mencari nya saja. Sepertinya Dhika mengalah dan menuruti perkataan Bayu untuk menunggu saja d ujung jalan.


Nirmala dan bayu bertengkar kecil. namun itu hal biasa. Mereka memang selalu seperti itu. Seperti sudah memahami satu sama lain.


Bayu "Darimana saja kau. Kau bukan anak kecil yang bisa terpisah dari orangtuanya"


Nirmala "kau menganggap dirimu orangtua?"


Bayu "aishh...seharusnya kau mengikuti kami"


Nirmala "ah, kalian jalan terlalu cepat. Aku sulit mengimbangi. Aku bahkan sampai bertabrakan dengan orang lain untuk mengejar kalian. Bahkan bertemu preman jalanan. Wilayahmu ini sungguh tidak aman."


Dhika "kau bertemu preman?"


Nirmala "benar mereka menyerangku, padahal sudah kukatakan aku tidak punya apapun"


Bayu "aku tidak percaya ceritamu. Lalu kenapa kau baik baik saja"


Nirmala "tentu saja karena aku lebih hebat, aku bisa menghajar mereka semua"


Bayu "gadis lemah sepertimu? Aku tidak percaya."


Melihat raut muka Dhika sepertinya dia iri terhadap kedekatan mereka. dan itu terlihat oleh Nirmala. Nirmala pun tersenyum kecil.


Tiba di kediaman Wijaya, beberapa penghuni menyambut mereka. terutama Bayu.


Lagi lagi Nirmala terpesona dengan interior dan eksterior kediaman keluarga Besar.


Tidak kalah luasnya dengan kediaman Wiriya, namun sensasi yang di rasakan adalah hangat, dengan lilin lilin yang sudah menyala pada lentera nya. Hari sudah gelap ketika tiba di sana. Tidak ada kolam ikan buatan di sana. Namun ada kolam besar dengan perahu dan gazebo di tengahnya. Seperti sebuah danau, tapi lebih kecil. Tentu saja ini hanya sebuah kolam yang lebih besar.


Sungguh suasana yang nyaman dimalam hari, terasa hangat.


Beberapa orang datang menyambut. dan meminta mereka segera masuk ke ruang keluarga, dan duduk di sana. Makan malam akan di sediakan di sana. Mereka sangat menyambut Bayu.  Nyonya rumah pun datang menyambut. Namanya Rindah. Istri dari kepala keluarga. Bisa di bilang ibu angkatnya Bayu. Dia datang bersama Haris Wijaya putra satu satunya. Mereka pun duduk bersama.


Haris "sudah begitu lama baru ingat pulang. Memangnya kau sesibuk apa disana?"


Bayu "ah. Sibuk sekali sampai aku tidak bisa mandi."


Nirmala terkekeh mendengar itu.


Haris "masih saja ngelantur. Kali ini kamu pulang karena apa? Kamu tidak akan pulang kalau tidak ada urusan mendesak"


Rindah "Haris jangan seperti itu, jaga sikapmu dia tidak datang sendiri. Perhatikan tata Krama mu"


Haris "iya."


Rindah "tumben sekali Dhika juga ikut. Apa ada hal penting?"


Bayu "tidak ada yang terlalu penting. Besok aku akan pergi ke Gunung Putri. Aku dapat pesan dari Mandalika. Ayu yang mengantar pesannya. Dan aku harus bertemu dulu dengan paman."


Rindah "ayahmu masih dalam perjalanan. Tunggu lah beberapa jam lagi. Kalian makan lah saja dulu. Akan ku beritahu jika Ayahmu sudah pulang."


Bayu "terimakasih Bibi."


Rindah pun pergi.


Nirmala "kau tidak memanggil mereka dengan ayah dan ibu? Bukankah kau anak angkatnya?"


Bayu hanya tersenyum


Haris "aku akan ikut besok. Jangan tinggalkan aku"


Bayu "kenapa ikut?"


Haris "beberapa hari lalu aku membahas ini dengan ayah, dan aku diminta untuk ikut."


Bayu "oh, baiklah. Jangan mengacau ya..."


Bayu dan Haris terlihat sangat dekat meski masing masing dari mereka selalu berkata kasar. Memang seperti benar benar sebuah keluarga. Bayu beruntung bisa di besarkan di keluarga yang baik. Nirmala sedikit iri namun juga senang.


Mereka sangat baik. Memperlakukan Dhika dan Nirmala tidak seperti orang asing. Tentu saja Dhika terkenal dari kalangan keluarga terpandang, sudah pasti mereka saling mengenal sebelumnya, tidak seperti Nirmala yang benar benar orang asing. Tapi mereka tetap memperlakukan nya dengan sangat baik.


Makan malam sudah lewat. Tuan Kesuma Wijaya, ayah angkat Bayu baru saja tiba. Tuan Kesuma langsung meminta mereka untuk membahas ini di ruang keluarga. Mereka pun berkumpul di sana.


Kesuma "Bayu kau yakin akan melakukan perjalanan ini?"


Bayu "tentu saja ini sudah biasa untukku. Tidak perlu khawatir." Sebenarnya ini bukan kali pertama Bayu pergi ke gunung. Sudah sering sekali, namun memang tidak sejauh sekarang ini.


Tuan Wijaya "aku yakin kau bisa menjaga diri, hanya saja keadaan tanah pasundan sedang tidak baik. Aku harap kau selalu berhati hati"


Dhika "apa sedang ada masalah juga di ibukota?"


Tuan Wijaya "benar. Banyak perampok yang sudah tidak takut dengan hukum istana. Beberapa dari mereka sudah di tangkap. Tapi masih banyak anggota mereka yang membuat masyarakat resah. Seperti tidak ada habisnya." Dia menghela nafas panjang, sesekali mengelus janggutnya dan melanjutkan bicara "belum lagi isu adanya bandit gunung katanya semakin nekat menampakan diri. Masalah internal belum padam. Sudah muncul desas desus tentara mongol hendak merebut wilayah Pasundan."


Nirmala "tentara mongol?" Nirmala seakan pernah mendengar atau membaca mengenai ini. Tapi samar samar. Tidak ingat dengan jelas.


Tuan Wijaya "jika mengalami kesulitan segeralah nyalakan suar. Aku akan datang secepat mungkin."


Bulan sudah sangat benderang, Bayu dan Haris terlihat sedang berbincang di sebuah gazebo di pinggir danau,


Haris meminta untuk membatalkan perjalanan khawatir terjadi sesuatu dengan Bayu. Bayu tidak khawatir sedikit pun lagi pula Dhika ikut dalam perjalanan itu dan Bayu tau kalau Nirmala juga bukan gadis lemah.


Sementara Dhika berbincang dengan Nirmala di sebuah taman bunga, taman kecil terdapat patung di tengahnya, nirmala memandangi langit penuh bintang, bulan pun benderang sangat indah. "Seperti di dalam drama" ujarnya. Dhika tidak mengerti apa itu drama tapi dia hanya diam tanpa bertanya.


Dhika "apa yang sedang kau pikirkan?"


Nirmala "tadi saat terpisah di alun alun, aku bertemu seorang pemuda yang aneh. Dia nampak sehat tapi sangat pucat, Matanya ditutupi kain, mungkin dia buta. Tapi dia  membawa busur panah. Dia juga membawa tongkat bambu tapi dia  berjalan seperti tanpa ada hambatan sama sekali."


Dhika hanya diam.


Dhika memang tidak banyak bicara. kecuali bersama Bayu, dia lebih komunikatif dan lebih ekspresif.


Nirmala "bisakah kau mengajariku sedikit beladiri?"


Dhika "kenapa?"


Nirmala " Entahlah aku hanya khawatir mengenai pembicaraan dengan tuan Kesuma tadi. Mungkin aku juga harus bisa melindungi diri."


Dhika "baiklah"


****


Mereka berempat berangkat pagi pagi sekali, perjalanan cukup jauh. Tidak ada yang menghalangi sedikitpun. Hingga mereka tiba di sebuah desa berkabut.


Sangat aneh, desa itu masih di dataran rendah, tapi kabut sangat tebal Dan desa itu satu satunya jalur menuju tujuan mereka, Nirmala dan Bayu merasakan sesuatu yg tidak biasa. Haris berbisik "aku tidak ingat ada desa di jalur ini"


Sangat sepi, seperti tidak ada kehidupan sama sekali. Seperti kota mati. Semakin lama semakin jauh masuk ke dalam desa, semakin memberi perasaan ngeri, "apakah ada hantu" ujar Nirmala. Mereka tidak percaya adanya hantu. Dan Bayu membantah itu "tidak ada yang namanya hantu"

__ADS_1


Nirmala dan Bayu mendengar suara suara kecil, bisikan bisikan yang entah darimana. Tapi hanya mereka berdua saja yang mendengarkannya. sungguh aneh.


Nirmala "kalian dengar itu?"


Haris "dengar apa?"


Bayu "mereka seperti seorang"


Dhika "kalian fokus lah. Jangan sampai terpancing."


Sesekali mereka menoleh kesana-kemari. Mengikuti suara langkah kaki yang tiba tiba muncul tiba tiba hilang,


Sementara Dhika dan Haris mengikuti mereka, Nirmala terkadang hilang dari pandangan, mengejar dan mengikuti langkah langkah kaki itu.


Semakin fokus dengan keanehan semakin membuatnya tidak menyadari, bahwa mereka berempat secara perlahan terpisah. Begitu suara suara itu hilang barulah mereka tersadar. Mereka hanya berjalan sendiri sendiri.


Mereka mencoba berteriak memanggil satu sama lain. Tapi tidak ada respon sedikitpun.


Dhika bertemu dengan seseorang, mengenakan pakaian serba hitam, dia menyerangnya, entah dengan alasan apa. Tidak ada sepatah katapun dari orang itu, hanya menyerang dan bertarung dengan Dhika.


Haris mengikuti sebuah cahaya. Dia terus berlari. Cahaya itu semakin lama semakin jauh.


Sementara Bayu, bertemu dengan seorang anak kecil, dia seperti mengajaknya bermain main. Kesana-kemari bersembunyi dan tertawa. Semua disibukan oleh ilusi masing masing.


Sementara Nirmala jauh masuk kedalam kabut, dan berakhir di sebuah bangunan tua, sangat kotor, sangat terlihat bahwa bangunan itu ditinggalkan seperti lebih dari seratus tahun.


Bangunannya kokoh dindingnya bertembok batu, atapnya genting tanah liat. Dibanding dengan rumah di sekitarnya. Rumah ini terlihat paling mewah. Terlihat pintunya sedikit terbuka, semakin lama Nirmala semakin penasaran, apa yang membuatnya dituntun kesini. Dia masuk melewati pintu itu. Sedikit kaget, seseorang sedang berdiri di sana. Perempuan bergaun merah dengan rambut terurai. Apa itu kuntilanak pikirnya.


Masuklah, aku tau siapa kau.


Leganya, ternyata bukan kuntilanak. Diapun masuk semakin dalam.


Dia menatap Nirmala. Lalu melangkah. Tatapan itu seperti memintanya untuk mengikutinya. Nirmala pun mengikut langkahnya, hingga tiba di suatu ruangan yang cukup besar. Pintu yang baru saja di lalui nya, tiba tiba tertutup dengan keras, membuat nya kaget setengah mati. Perempuan itu hanya berdiri, di depan sebuah lukisan dinding yang amat besar, hampir setinggi dinding besar di sana. Tiba tiba suasananya berubah dari gelap dan kotor. Menjadi terang dan sedikit demi sedikit terlihat sangat bersih, apakah dia hantu, atau penyihir pikirnya. . Ruangan yang sangat indah, dia masih berdiri di sana. Cahaya matahari menembus melalui sela sela jendela, interior terbuat dari kayu berkualitas tinggi, berukir sangat apik dan artistik, benar-benar rumah orang kaya.


Nirmala bertanya "apa yang kau inginkan?" .... "mengapa kau mbawaku masuk?"


Dia pun berbicara, "biar aku tunjukan padamu"


Sekelebat memori muncul satu persatu di hadapannya. Menjadikan sebuah kejadian sebelum kota itu mati. Nirmala menyaksikan apa yang terjadi pada kota itu.


Lebih dari seratus tahun lalu. Warga kota mati satu persatu karena wabah. Seseorang mengalirkan virus penyakit ke semua sumber air. Warga tewas sudah tak terhitung jumlahnya. Hanya keluarga terpandang yang masih luput dari wabah. Mereka mampu membeli air bersih dari wilayah lain. Sementara warga miskin menemui ajalnya dengan cepat. Suatu malam perampok datang. Jumlahnya tidak sedikit. Mereka memenuhi isi kota. Berseragam hitam hitam. Menutup wajahnya dengan kain hitam. Membunuh siapapun yang masih bernyawa. Jerit tangis warga mengisi setiap penjuru kota. Sungguh malang. Laras, Perempuan bergaun merah tiba tiba terjaga dari tempat tidurnya. Di gusur paksa di bawa ke ruang tengah bersama anggota keluarga lainnya. Mereka menanyakan keberadaan sebuah batu giok. Tidak ada yang menjawab satupun. Hingga perampok itu geram dan menggorok leher semua orang.


Laras menangis menyaksikan itu semua. Salah satu perampok itu tau. Bahwa Laras memiliki informasi. Tapi Laras memutuskan hal lain. Bukan membocorkan letak giok itu. Tapi dia menusuk tubuhnya sendiri hingga tewas.


Sebelumnya dia membuat sumpah hingga menangis darah.


"aku akan melindungi kota ku. Siapapun yang memiliki pikiran kejam tidak akan ku biarkan keluar dari kota ku. Aku bersumpah. Aku sembunyikan kotaku untuk menjebak kalian semua. Hingga mati bersama ku."


Semua memori itu berkelebatan di hadapannya, seperti sedang menonton sebuah drama empat dimensi. Nirmala terengah-engah melihat kengerian itu.


"Itu.. itu.. kenapa... Bagaimana..."


"Aku tau siapa kau. Aku ingin meminta pertolonganmu"


"Aku?.. siapa aku?..."


"Tolong ambilah. Karena giok itu lah aku terjebak disini. Aku ingin berkumpul bersama keluargaku. Mereka menungguku"


"Ttapi. Bagaimana?"


Dia menunjuk dada kirinya. "Disini. Tolong keluarkan giok itu dari dalam tubuhku. Di Jantungku."


"Giok ini menerima sumpah dari pemiliknya. Dia akan terus berada disana untuk melindungiku dari orang orang yang ingin melukaiku. Giok itu tidak akan lepas sampai aku melepasnya sendiri atau sampai lima ratus tahun kedepan. Tapi aku sudah mati. Aku tidak bisa melepasnya hingga waktu yang ditentukan.  Tapi kau bisa melakukannya. Karena itu lah. Aku menuntunmu datang"


"Apa aku bisa?"


Tangan Nirmala terangkat, mencoba meraih sesuatu di tempat yang tunjuk oleh perempuan itu. Perlahan tangannya masuk menembus tubuh perempuan itu, di dalam jantungnya, tiba tiba saja sesuatu terasa di genggamannya. Dia mengambilnya. Sebuah batu giok lonjong berwarna biru berukir bulan, bintang dan matahari. Perempuan itu tersenyum.


"Giok itu milikmu sekarang. Pergunakan lah dengan bijak. Kau bisa gunakan itu untuk menolong orang yang paling berharga. Mereka pantas mendapatkan kasih sayangmu. Terimakasih Rinaya"


Dengan sekejap keadaan ruangan itu menjadi seperti semula. Kotor, lembab dan berdebu.


Perlahan kabut mulai menipis tapi tetap tidak hilang. Dhika yang sedari bertarung, tiba tiba lawannya menghilang, begitu juga anak kecil yang berlarian bermain dengan Bayu. Mereka menghilang. Cahaya yang dikejar haris entah pergi kemana. Akhirnya merekapun berlari mencari satu sama lain. Dan bertemu di persimpangan. tapi hanya mereka ber tiga. Tanpa Nirmala. Mereka menatap satu sama lain "Nirmala dimana?" Ujar Dhika.


Nirmala bergegas keluar dari bangunan itu, berlari mencari teman temannya, seseorang berdiri di ujung jalan. Menggunakan pakaian serba hitam namun sepertinya dia bukan dari golongan para perampok itu. Dari yang terlihat dia sepertinya lebih muda dari Haris dan Bayu. Bibirnya tersenyum ramah, matanya berbinar, alisnya tajam, wajahnya sangat cantik, tapi dia laki laki. Dia perlahan mendekat, tidak disangka paras cantiknya tidak sesuai dengan perangainya.


"Berikan itu padaku"


"Berikan apa?"


Dia meminta sesuatu yg baru saja di dapatkannya, batu giok Cahaya, tentu saja Nirmala tidak ingin menyerahkannya. Karena giok ini lah seisi kota menjadi korban.


Dia terkekeh dan bermain main dengan pisau kecil yang sedari tadi dia bawa.


"Aku bisa saja membunuhmu dengan mudah. Jadi serahkan itu padaku. Aku yakin kau mengerti maksudku."


Orang ini selalu memperhatikan mereka ketika baru tiba di desa kabut itu. Dia tidak menyangka seorang gadis bisa mendapatkan sesuatu yg selalu dia inginkan. Nirmala tetap pada pendiriannya.


"Aku tidak mengerti maksudmu"


Tidak segan dia langsung melemparkan beberapa jarum, pisau atau apapun senjata tajam kecil yang dia punya.


Untungnya gerak reflek Nirmala sangat bagus, dia bisa menghindar meski sangat sulit.


Nirmala panik. Dia berlari menghindari orang gila itu. Orang itu terus tersenyum dan tertawa, berbicara seperti bocah. Mengajaknya bermain dan bermain.


"Kalau begitu kita bermain saja, bagaimana. Yang kalah harus menyerahkan itu."


Dia benar benar gila pikir Nirmala.


Dia terus melemparkan benda benda tajam ke arah Nirmala seakan tidak ada habisnya. Secepat apapun Nirmala menghindar dan berlari, dia bisa dengan mudah mengejar dan menghadangnya. Nirmala sudah mulai lelah. Dan orang itu bahkan semakin gesit. Nirmala terus berlari. Namun kini dia menghadangnya dengan sebuah pedang tepat di hadapannya. Nirmala tidak bisa berkutik. Pedang itu hanya berjarak dua puluh centimeter di depan wajahnya. Kapanpun dia siap, dia akan menghujam nya ke tubuh mungil gadis itu.


Dia mengayunkan pedangnya. Sekali hentakan saja. Kepala Nirmala pasti terpisah dari badannya.


Untungnya, kilatan cahaya ke emasan milik Dhika berhasil menghalaunya.


Nirmala tertegun, Dhika menghampiri. Melompat entah dari mana.


Nirmala bersembunyi di punggungnya.


Dia menyerang Dhika. Namun dia sadar tidak akan menang melawannya. Bayu dan Haris muncul dari ujung jalan.


Tidak di sangka, Dhika mengenal orang itu, Bayu pun sama meski sedikit lupa.  Dia adalah junior pada saat pelatihan sekolah dulu. Dia menghilang sebelum pelatihan usai. tak di sangka mereka bertemu di sana.


Dia tau tidak mungkin menandingi Dhika, apalagi ada Bayu dan Haris. Dia pun menghilang pergi.


Kabut sudah sangat tipis. Kondisi desa pun sudah mulai terlihat jelas. sangat kotor, sangat tua, sangat tertinggal. Sisa sisa kehidupan di sana hanyalah bangunan tua berlumut hitam dengan beberapa potong tulang belulang yang sudah kering, puing puing hampir semua ambruk.


Matahari mulai hangat terasa, mereka melanjutkan perjalanan masih sangat jauh menuju tempat tujuan. Sebaiknya mereka segera meninggalkan kota mati itu.

__ADS_1


Mereka bermalam di pinggir sungai, membuat api unggun. Membakar ikan yang baru saja di tangkap dari sungai.


Haris " yang tadi kita temui itu.... Morang? Kenapa dia ada disana?"


Dhika "....."


Bayu "dia terlalu misterius. Aku tidak mengerti dia"


Nirmala "siapa dia?"


Dhika "dia junior peserta pelatihan ketika sekolah di Ibukota. Dia sangat berbakat. Dia menjadi pusat perhatian semua orang. Tapi dia menyalahgunakan bakatnya. Dia mengancam dan melukai banyak peserta lainnya. Beberapa hukuman tidak pernah membuatnya jera. Hingga akhirnya dia menghilang. Dan tidak pernah kembali."


Nirmala "menghilang? Kenapa?"


Bayu " tidak ada yang tau dia pergi kemana. Yang pasti dia bukan hilang diculik atau semacamnya. Dia pergi, dan tidak pernah muncul lagi."


Haris "aku heran kenapa dia tiba tiba muncul disana?"


Dhika "Nirmala, apa dia bicara sesuatu padamu? Mengapa dia menyerangmu?"


Nirmala "kupikir dia orang gila. Dia ingin bermain denganku. Jadi aku hiraukan dia. Tapi malah dia menyerangku. Benar benar gila."


Bayu "ngomong ngomol soal permainan. Bukankah kita akan bertaruh?. Nirmala kau sudah punya jawaban?"


Nirmala "kapan akan hujan ya? Hmmm biar ku lihat" dia melihat bintang dan menghitungnya dengan jari. Seakan dapat memgetahui dari itu


Bayu "Dhika bagaimana denganmu? Apa jawabannmu?"


Haris "kau melakukannya lagi? Kali ini apa yang di pertaruhkan?"


Bayu "oh kau mau ikutan? Kau boleh ikutan tentusaja. Hmmm. Taruhannya apapun boleh asal masuk akal. Tidak semua orang punya uang maka aku tidak keberatan mempertaruhkan yang lain, seperti hidupmu misalnya hehe."


Haris "ha? Tidak tidak. Hidupku terlalu berharga hanya untuk permainan recehmu"


Bayu "hmm Baiklah, apa yang aku pertaruhkan ya..."


Nirmala "aku sudah dapat jawabannya tapi. Aku tidak punya apapun. Dan hidupku aku dedikasikan untuk keluargaku jadi aku tidak bisa mempertaruhkan itu. Bagaimana kalau aku menjanjikan satu hal. Jika aku kalah kau boleh mengajukanny padaku"


Dhika "baiklah aku ikut"


Bayu "hahah wah wah, apa yang ingin  kau pegang Dhika? Janji siapa yang ingin kau pegang hah... Haha."


Nirmala "jawabanku, dimulai dari hari ini. Kemungkinan sekitar 100 hari kedepan hujan baru akan turun."


Bayu "kau terlihat yakin sekali"


Tentu saja Nirmala hanya asal menebak.


Dhika "jawabanku. 60 hari kedepan"


Bayu "Haris kau juga ikut ayo. Siapa tau kau menang. Taruhannya juga tidak berat"


Haris "akut tidak bisa menghitung bintang atau arah mata angin. Perkiraanku mungkin, semoga saja bulan depan sudah mulai hujan."


Bayu "Nirmala 100 hari, Dhika 60 Hari, Haris 30 Hari, kalau begitu aku 90 hari"


Nirmala "hanya selisih sepuluh hari denganku. Aku yakin kau hanya asal menebaknya saja."


Bayu. "Memang, jawaban siapapun nanti yang menang aku hanya ingin tau perhitungan siapa yang tepat"


Nirmala "aish. Ternyata tidak ada gunanya. Hanya memanfaatkan perhitunganku saja"


Bayu "memangnya kau benar benar menghitung?"


Nirmala "memangnya kau pikir aku bisa menghitung itu, haha"


Haris "ya ampun, satu Bayu saja sudah cukup pusing. Kali ini dia seperti memiliki teman saja"


-----


Matahari sudah cukup tinggi utk bangun dari tidur.


Bayu pertama bangun, juga Nirmala.


Nirmala meminta bayu utk mengajarinya menangkap ikan.


Mereka berdua sudah berada di tengah sungai. Haris menghampiri, melihat mereka dari pinggir sungai.


Lama mereka di dalam air. Haris sudah bosan melihat mereka pada akhirnya hanya bermain air. Bayu dan Nirmala bersekongkol utk membuat garis ikut dalam permainannya. Bayu dan Nirmala mengayunkan tangannya membuat cipratan air. Mengarah ke Haris yang terduduk dipinggir sungai. Hingga Haris pun ikut basah. Tawa berisik mereka membuat Dhika menghampiri. "Berhentilah bermain main"


Nirmala beranjak ke tepi sungai. Hendak mengambil tusuk rambut yang dia simpan di atas batu tepi sungai. Rambutnya yang tergerai dia gulung kembali.


Tidak disangka dia terpeleset dan menyandung Dhika hingga Dhika terjun ke dalam air sungai.


Sontak semua orang tertawa melihatnya nya tercebur basah kuyup.


Momen yang sangat langka di tengah perjalanan. Tapi Dhika tidak heran. Hal seperti ini akan selalu ada. Selama ada Bayu pasti akan terasa ceria, ditambah sekarang ada Nirmala yang seakan mendukung setiap permainannya.


Dengan baju setengah basah. Mreka melanjutkan perjalanan. Melalui jalan setapak. Sedikit terjal namun mereka menikmatinya. Menikmati keindahan pemandangan di atas bukit.


Tiba tiba saja Nirmala bertanya, "apakah ada tujuan lain selain mencari tanaman herbal."


Semua terdiam, seakan memang mengetahui sesuatu.


Bayu menjawabnya "apapun yang terjadi, nirmala, tolong jangan tanya apapun sebelum semua selesai."


Nirmala mengerti dan tidak banayk bicara lagi.


Mereka berjalan menyusuri anak tangga menuju puncak bukit, terdapat sebuan rumah, dengan meja meja terhampar tanaman herbal yang dikeringkan. Seseorang sedang membalik balikan tanaman itu supaya terjemur rata.


Bayu, Haris dan Dhika berbincang dengan pemilik rumah. Sedangkan Nirmala tidak di perbolehkan ikut pembicaraan. Nirmala hanya menunggu di luar. Sesaat kemudian dua orang memasuki ruangan itu, mereka tampak sangat rapi, seperti orang bangsawan atau semacamnya


Nirmala berjalan jalan sekitaran halaman itu. Rasa ingin tahunya terlalu tinggi. Dia menciumi herbal herbal yang di jemur itu. Tidak ada yang dikenal nya. Membuka tutup kendi yang berjejer di sepanjang pojok halaman. Mencolek isinya mencium baunya mencicipi rasanya. Sangat tidak enak. Fermentasi kedelai.


Nirmala seakan tiba-tiba merasa seperti sedang di awasi. Di sela sela pepohonan di seberang jalan. Nirmala merasa gelisah.


Dan segera kembali mendekati ruangan tempat mereka bicara.


Sejam kemudian mereka keluar. Pemilik rumah itu membungkus beberapa tanaman herbal dan memberikan nya kepada bayu.


Mereka berpamitan dan pulang.


Nirmala masih merasa resah. sepanjang perjalanan dia terus saja memutar mata, seakam memang benar benar ada yang mengikuti. Nirmala berbisik "Dhika, apa kau..."


Dhika mengangguk "tetaplah tenang"


Sementara Haris dan Bayu seperti tidak menyadari sama sekali. Hingga mereka tiba di desa terdekat, mereka bermalam di sebuah penginapan kecil. Seperti biasa. Nirmala selalu berkeliaran sendirian saat malam. Namun kali ini tidak jauh dari tempatnya berada dia langsung kembali lagi. Dia masih merasa ada yang mengawasi.


Bayu datang menghampirnya di halaman penginapan itu."Nirmala  kurasa aku punya cara untuk mengembalikan ingatan yang hilang."

__ADS_1


Nirmala tersenyum "benarkah? Bagaimana?"


__ADS_2