Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Kehilangan


__ADS_3

Masih di tempat yang sama. disamping sungai luas yang surut. Jika melangkah sampai ke tengah, kau tidak perlu khawatir akan tenggelam. Air sungai tidak sedalam kelihatannya, hanya sedikit di atas matakaki. Ikan ikan masih bisa berkeliaran. Jika dilihat dari tepian. Seharusnya sungai itu bisa sedalam perut orang dewasa. 


Sayup sayup suara warga terdengar. beberapa orang melewati tepian sungai itu. Membawa beberapa wadah, berbentuk seperti ember, tapi terbuat dari kayu. 


Mereka mengeluh karena air sungai tidak mengalir ke pemukiman mereka, bahkan ladang kecil mereka pun kian mengering. Sulit untuk bercocok tanam.


Mereka datang menghampiri.


"Punten neng, bade nyandak cai"


(Permisi Neng. Mau ambil air)


"Iya mangga pak."


(Iya silahkan pak)


"Nyalira wae neng?"


(Sendiri aja neng?)


"Muhun pa, nuju niis weh nyalira "


(Iya pak, lagi ngadem aja sendiri)


"Punten bilih kaganggu nya neng."


(Maaf jika keganggu ya neng)


"Teu sawios pa,"


(Tidak apa apa pak)


Tiba tiba saja mereka bercerita tentang sulitnya mendapatkan air. 


Begitulah orang sunda memang senang berbagi cerita, baik cerita senang maupun sedih. Itu lah salah satu kelebihan orang sunda, sehingga tidak ada yang memendam perasaan dalam hati mereka tidak seperti pada jaman sekarang, semua masalah di telan sendiri. Hingga hendak bunuh diri karena merasa tidak kuat memikulnya sendiri.


iNrmala bertanya mengapa tidak dialirkan, air masih mengalir banyak di sungai.


Mereka menjawab, Sudah dicoba tapi karena pemukiman mereka lebih tinggi dibanding aliran sungai, air sungai tidak dapat naik.


Mereka sudah putus asa. Terutama karena belum tau hujan kapan ajan turun.


Nirmala tiba tiba menatap langit seperti seakan sedang menghitung, melipat dan membuka jemarinya satu persatu.


"Sepertinya hujan baru akan turun dua bulan lagi" ujar nirmala.


Para warga itu kecewa mendengarnya. 


Mereka tidak akan dapat berladang untuk kehidupan mereka.


Tapi Nirmala pun tak bisa berbuat banyak.


Salah seorang warga sudah terlihat sangat tua dan kelelahan. Mengambil air bolak balik. Nirmala berinisiatip untuk membantunya. tentusaja awalnya dia menolak. Tapi nirmala memaksa dengan alasan "saya masih muda, masih memiliki tenaga yang cukup untuk membantu, lagipula sya penasaran sejauh apa desanya."


Akhirnya Nirmala membawa satu ember kayu besar berisi air penuh.


Rasanya menyenangkan bisa membantu sesama. Nirmala terlanjur jatuh cinta dengan tanah Sunda. semua orang ramaj dan baik pada sesama, tidak membedakan kasta, dan ras. Memang orang orang baik.


Dilihatnya sebuah sumur dangkal yang hanya berisi sedikit air. 


Sumur itu berfungsi sebagai penampung air ketika hujan. Pasalnya daerah mereka kesulitan dalam pengairan.


Ada sebuah bambu panjang, berfungsi untuk mengalirkan air, tapi saat itu tidak ada air mengalir sedikitpun, bahkan sangat kering, Nirmala penasaran dari mana asalnya. Dia mengikutinya sampai ke ujung. 


Dilihatnya sebuah telaga kecil, tapi tetap saja, tidak ada air di sana. 


padahal sungai sangat dekat,, bahkan lebih dekat, kenapa mereka hanya mengandalkan telaga dangkal. 


Nirmala mencari dimana tepian sungai itu. Dan denar saja, sungainya berada di bawah tebing. Tidak terlalu tinggi, tapi tetap saja sulit mengalirkan air dari bawah ke atas. 


Nirmala kembali ke pemukiman warga, kake yang tadi dia bantu sudah menunggunya di teras rumahnya, sebuah bangku panjang depan rumahnya,, sudah tertata rapi camilan tradisional khas mereka, adonan singkong, dan parutan kelapa disirami gula merah cair. Awug. Terlihat sangat enak. Nirmala tersenyum lebar melihat camilan itu 


"mangga neng di leueut"


"makasih aki."


Dengan senangnya dia lahap camilan itu, tiba tiba dari dalam rumah seorang Nenek keluar membawa satu cangkir minuman. 


Dia berterimakasih sudah membantu, hanya bisa menyuguhkan makanan alakadarnya. 


Memang sedikit melelahkan. Tapi hanya camilan seperti ini pun Nirmala sudah sangat senang.


Seseorang pemuda datang dari ujung jalan. menggendong beberapa kayu bakar. Wajahnya sangat manis dengan warna kulit kuning kecoklatan. 


Namanya Raka.


"Raka? berarti ada Rai?"


Semua tertawa, Nama lengkapnya Rakata, memang kata Raka berarti kakak, yang berarti ada kakak ada adik juga. 


yah. Nirmala kira sama seperti Paman Rai dan Paman Raka. Ternyata dia salah.


Raka bercerita "Aku Ingin melakukan sesuatu hingga setiap kemarau datang tidak perlu lagi bolak balik ke sungai. Sangat melelahkan. Tapi satu satunya air yang tak pernah habis hanya sungai di bawah sana."


Raka ingin membuat sesuatu agar air bisa naik. Tapi belum menemukan caranya.


"sudah buat kincir?"


"apa itu kincir?"


"ah....satu teknologi untuk membawa air ke atas."


"belum pernah dengar."


"Sebuah baling baling yang digerakan oleh air."


"oh. seperti itu" Dia menunjuk ke arah sebuah rumah yang lebih besar dan tinggi. sebuah baling baling berputar lambat.


"ya kurang lebih seperti itu."


"bagaimana caranya."


"hmm. jadi belum pernah buat untuk air?"


Semua hanya menatap satu sama lain.


hmmm seperti nya blm ada teknologi seperti itu di jaman ini.


"apa itu bisa berhasil?"


"ditempat lain itu sangat berhasil."


"kalau bgtu beritau aku caranya."


"hmm. aku tidak yakin."


Raka sudah terlanjur semangat ingin mengetahui itu...


Nirmala menjelaskan panjang lebar hingga dia lupa waktu. Waktu sudah petang, dia harus pulang. Jika terlalu lama dia bisa terlambat pulang, dia sudah berjanji pada kake sapta, tidak akan pulang terlalu larut 


Dan dia berjanji akan kembali lagi besok ke desa itu.


Nirmala menyusuri jalan, hari sudah semakin gelap, jarak tempuh masih sangat jauh. 

__ADS_1


Terlihat seseorang dari ujung jalan. Berlari menghampiri. 


"Tuan Budhi, ada apa berlari lari."


"Aku mencari mu, bayu dan dhika bilang kau meninggalkan pondok sejak siang, tapi aku bertemu kake sapta di jalan, dia khawatir kau dalam masalah lagi."


"Seharusnya kau sudah sampai sejak tadi. kenapa kau masih disini.Kau kemana saja."


"oh. maaf Tuan, aku tadi mampir sebentar di sebuah desa kecil di samping sungai. Hehe aku lupa waktu."


"Lain kali jangan seperti itu, kau membuat semua orang khawatir. Apa kau sudah lupa dengan apa yang kau alami kemarin" 


Memang benar. Nirmala tidak lupa dengan kejadian kemarin tapi dia tidak merasa takut. Dia merasa tidak memiliki kesalahan apapun. Dia dikelilingi orang yang menyanyanginya, yang melindunginya. 


Dhika dan Bayu menunggu di sebuah kedai dan Kake Sapta sudah kembali ke rumah sejak sore. Dia percayakan Nirmala kepada ketiga orang itu. 


"Kau sepertinya habis bersenang senang, sampai lupa waktu." ujar bayu. "Tidak bisa kah kau memberitau dulu sebelum kau pergi.?"


"bukankah tadi aku sudah bilang."


"kau bilang kau akan pulang, tapi lihat kau sekarang ada dimna. Padahal tadi kau kesal setengah mati. Pergi dengan muka merah. Sekarang kau seperti sudah berlibur.


"hehe. kau khawatir padaku?"


"Tidak, kau merepotkan." 


Dhika tersenyum.


"sudahlah. Kita makan dulu sebelum pulang. Aku traktir kalian bertiga"


"Haha, paman memang yang terbaik" ujar Bayu


"Siapa pamanmu? Kalian makan lah dulu, aku akn mencari kereta kuda" Tuan Budhi pergi meninggalkan kursinya.


"Hmmm... Bayu, Dhika. kalian tidak perlu khawatir. Aku tidak perlu selalu ditemani. Aku punya kegiatanku sendiri."


"Masih saja berlaga, apa kau tidak ingat kau menangis di hadapanku kemarin?"


"Apa kau tidak senang jika kami temani?"


"Ah. bukan begitu, hanya saja, aku tidak ingin membenani kalian. Aku tau kalian juga punya kesibukan sendiri, jadi aku tidak ingin membuat kalian merasa terbebani dengan adanya aku disini."


Sebuah hidangan datang disajikan oleh seorang pelayan.


Wajah Nirmala berubah merekah. Tidak ragu untuk menyantap hidangan itu. Hidangan sederhana, tapi selalu terasa nikmat. 


"Ah. aku akan merindukan masakan di jaman ini"


"Kau berencana untuk pergi?"


"Tidak hanya saja,,,aku yakin aku pasti akan kembali ke dunia ku, namun entah kapan itu. Kau tau kadang aku berpikir, jika sesuatu yang lebih buruk terjadi, dan aku berniat ingin kembali, cara apa yang aku bisa ku gunaka untuk kembali? 


Aku datang pun tidak tau bagaimana. Aku pulang, tidak tau juga harus bagaimana.


Aku penasaran, jika aku mati, apakah aku akan kembali, atau aku akan tetap mati".


Semua terdiam.


"haha. kenapa memakai mati untuk sesuatu yang belum kau pahami. Masih banyak waktu  setidaknya nikmatilah ketika kau berada disini."


"hmm. kau benar.. Oh. Dhika, apakah rapat itu sudah ada keputusan?"


"Tidak ada keputusan apapun."


"Mereka akan membiarkan hal apapun terjadi begitu saja."


"Tidak bertindak sedikitpun? Melakukan pencegahan? Memperkuat pertahanan?"


"Tidak semuanya."


"kau menerima keputusan itu?"


"terserah saja. Jika sudah begitu itu sudah bukan urusanku lagi."


"aku menyukaimu." 


Dhika menatap Bayu terheran dengan kalimat itu.


"ha?"


"kepandaianmu, cara berpikirmu, semuanya."


"ada apa dengan mu, tiba tiba bicara seperti itu."


"Benar, jika musuh mengenali mu lebih jauh aku yakin mereka pasti merasa terancam dengan adanya dirimu. Atau merasa tertarik untuk membuatmu dipihak mereka." 


"kau juga, kenapa tiba tiba sekali."


"aku kadang berpikir, apa yang akan terjadi jika mereka benar."


"ada apa denganmu?"


Tuan Budhi datang dan ikut duduk. 


"aku sudah menyiapkan keretanya, beritau jika kau sudah siap."


"Dhika, kau meragukan aku?"


"Dhika kau meragukannya?" Bayu pun terheran dengan pertanyaan Nirmala.


".... ada apa ini.?" Tuan Budhi merasa mereka sedang berselisih.


"Tidak bisakah kau percaya padaku?"


"Dhika, ada apa denganmu.?"


"Tuan Budhi sepertinya aku harus pulang sekarang, Kakek Sapta pasti sudah menunggu."


"Baiklah"


Nirmala dan Tuan Budhi pergi. Sementara Dhika dan bayu masih di tempatnya.


"Dhika kenapa kau sepeeti itu....Dhika jangan biarkan mereka meracuni piiranmu. Kau harus yakin dengan keputusanmu sendiri."


"Aku pulang duluan." Dhika pun beranjak dari tempatnya.


"Dhikaa..."


....


"semua membingungkan. Apa aku salah bicara tadi??"


----


Beberapa hari berlalu, tidak ada hal menakutkan terjadi, sesuai janji Nirmala membantu raka membuat kincir. Kincir raksasa setinggi 5-6 meter. Setiap baling balingnya memiliki ruang untuk membawa sedikit air, lalu setelah naik ditumpakannya air itu ke wadah yang sudah disiapkan. 


Disambungnya dengan pipa pipa dari bambu, menyusuri pipa itu dan berakhir di sebuah sumur yang baru aja mereka perluas. Kerja keras selama beberapa hari terbayar sudah. warga penuh tawa menerima keberhasilan ini. Akhirnya mereka tidak perlu turun ke sungai untuk menimba air. 


"Raka, selanjutnya aku serahkan padamu. Mulai besok mungkin aku tidak datang lagi kesini. Karena sebenarnya aku tidak boleh sering berkeliaran. Aku akan pulang sekarang, sudah petang, "


"Nirmala terimakasih banyak atas bantuannya. Ini hadiah kecil dari kami. bukalah ketika kau sudah sampai di rumah."


"Terimakasih. Aku pulang."

__ADS_1


Nirmala pulang dengan hati senang. baru kali ini Nirmala merasa sangat bahagia.


Ketika melewati jalan kota yang biasa dilalui, dia merasa aneh. Terlihat agak sepi dari biasanya.


Lalu tiba tiba saja seseorang menarik nya dari jalan utama. 


Bersembunyi di balik tumpukan kayu di gang sempit. Mulutnya di bungkam, 


Seseorang berbisik.


"tenanglah ini aku, Budhi"


dalam hati Nirmala. tuan budhi kenapa melakukan ini. Apa yang terjadi


"lihatlah, banyak orang mencurigakan. sepertinya mereka mencarimu."


Mereka memang terhlihat mencari seseorang. 


Mereka sepertinya sekelompok pemburu bayaran, lagi lagi. Mereka mencari Nirmala.


Seketika Nirmala ingat, waktu sebelumnya mereka mendatangi kake dan lainnya, mengancam mereka. Kini Nirmala merasa sangat khawatir.


"Tuan aku harus segera pulang."


"Tunggu hingga keadaan aman"


Setelah keadaan dirasa aman. Mereka pun segera berlalu pulang.


Namun apa yang mereka khawatirkan menjadi nyata. Dari kejauhan pemukiman rumah Nirmala mengepulkan asap hitam.  Membuat mereka semakin khawatir.


Dia percepat langkahnya menjadi setengah berlari. Semakin mendekat diapun berlari. Lalu terhenti dengan apa yang ada didepannya. Sesuatu yang sangat ditakutinya terjadi.


Sesuatu terjadi dengan pemukiman kecil itu. Semua rumah terbakar, tubuh tubuh bergelimpangan, Nirmala menghampirinya Satu persatu. "Paman Rai, Paman Raka, Kang Iwan, Zaki , Bibi" mereka meninggal


"Ada apa ini?"


"Apa yang terjadi"


"Siapa,,, siapa yang melakukan ini?"


Nirmala panik melihat keadaan mengerikan itu. Tuan Budhi mengelilingi pemukiman berharap masih ada yang bisa di selamatkan. Tapi tidak ada hasil. Seluruh rumah diisi dengan api. Melahapnya tanpa iba.


"kake sapta..." Nirmala memeluknya tak berdaya. Tak ada tanda kehidupan sedikitpun disana. Mata kake sapta terpejam untuk selamanya bersama orang orang tersayangnya. 


Nirmala meneteskan air matanya, mengalir bagai bendungan yang sudah rusak. Darah bercecer dimana mana. Tidak ada yang tersisa satupun.


Kebahagiaan yang barusaja di dapatkan. 


Keluarga yang sangat dia idamkan.


Semua sirna dalam semalam. 


Nirmala menangis sejadi jadinya. 


Kini dia tidak memiliki apapun lagi. 


seperti sebelumnya.


Tuan Budhi hanya bisa diam. Bahkan air matanya ikut mengalir. Dia pun merasakan kehilangan yang amat besar. 


Tapi dia mengerti, Nirmala lah yang sangat perpuruk saat ini.


Sebuah anak panah yang tettancap di tubuh kake sapta, Nirmala mencabutnya.  


Dilihatnya bulubulu anak panah itu. Seperti tidak asing baginya. Dimana dia pernah melihat bulu bulu seperti ini. 


Bulu angsa hitam legam.


Kesedihan itu tidak segera berakhir. Nirmala merasakan sakit hati yang luar biasa. Kehilangan seluruh keluarganya merupakan bencana baginya. 


haruskah aku balas semua ini, pikirnya dalam hati.


Berita ini cepat sekali menyebar, meski tak secepat jika ada ponsel. 


Bayu berlari terhuyung huyung. Dia terkejut melihat situasinya sudah seburuk ini. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Nirmala masih terduduk di tempatnya. Menangis. 


Dhika datang beberapa jam setelahnya. Memang tempat tinggalnya lebih jauh dari sana sedangkan bayu berlari dari toko herbal di pasar. Lebih dekat memang.


Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Satu satunya yang membuat Nirmala senang adalah Bayu dan Dhika ada di samping nya saat ini. Begitu juga tuan Budhi.


Minggu lalu mereka bertiga seperti bertengkar, namun kepedulian mereka tidaklah pudar. Nirmala bersyukur atas itu.


Matahari menyingsing, api sudah padam sejak sejam yang lalu. Hanya sisa sisa kepulan asap kecil mengelilingi, melahap sisa sisa pondasi rumah mereka. Tanah lapang pekarangan rumah kini berubah jadi makam. Beberapa gundukan tanah berisi mayat, mayat keluarga Nirmala. Nirmala menancapkan sebuah patok. Mereka berempat mengubur semua jasad jasad itu.


Lagi lagi Nirmala tumbang, bersimpuh di hadapan gundukan itu, memeluk patok yang barusaja dia tancapkan. 


Bayu memegang pundaknya seakan berkata relakan semua itu, masih ada aku disini. Nirmala menatapnya, Bayu pun berjongkok dihadapannya, 


Dengan reflek Nirmala memeluk pria itu. 


Ya. Saat ini dia butuh pelukan. Untuk menumpahkan segala perasaan nya. 


-----


Mereka semua meninggalkan tepat itu. Tempat penuh kenangan bagi Nirmala, sedikit kenangan juga sudah terpatri dalam hati Bayu dan Dhika. 


Nirmala menoleh setelah beberapa langkah pergi, "Selamat tinggal" ucapnya dengan lirih. 


Semua patok tidak memiliki ukiran nama. Hanya memiliki sebuah tanda. Sebuah benda yang selalu mereka bawa.  Biarlah hanya Nirmala yang tau.


Namum berbeda dengan milik Kakek Sapta. Dengan sebuah arang, disana tertulis sesuatu. Bukan sebuah nama. hanya beberapa kata.


Inalilahi wainailaihi rojiun. 


Terimakasih atas semua cinta yang kau berikan.


Jika aku kembali, aku akan menginjungimu lagi.


Tuan Budhi menawarkan nya utk tinggal bersamanya, di sebuah rumah di samping Istana Mandalika, tidak terlalu jauh dari pasar tempat toko bayu berada. Nirmala setuju saja. Tidak ada yang bisa dilakukannya lagi. Lagipula dia sendiri bingung akan tinggal dmna.


Bayu dan Dhika pergi setelah mengantar Nirmala ke rumah Tuan Budhi. 


Sepanjang jalan bayu bertanya tanya kepada Dhika. 


"kira kira siapa yang melakukan ini semua,"


dhika sedikit mengenal anak panah yang berserakan disana. "Anak panah itu...sepertinya aku pernah melihatnya"


Bayu "benarkah? Dimana? Siapa?"


Dhika "aku tidak yakin, tapi... Kau pernah dengar Bandit Gunung?"


Bayu "Bandit Gunung?"


Dhika "Tidak banyak informasi mengenai Bandit Gunung, jadi diapun tidak dapat berbicara banyak. Lagipula bandit gunung sangat berbahaya, namun jika tidak alasan jelas, mereka tidak akan melakukan sesuatu, apalagi hal tidak rapi seperti ini."


"benar" Bayu sependapat, "Namun tetap saja masih ada hal yang sangat janggal. seperti ada hal yang lebih besar di balik ini"


"..."


"Dhika, satu hal yang kutau, mereka selalu memakai busur panah sebagai senjata mereka. Apakah ada senjata lain yang mereka pakai? Karena, jasad mereka terlihat lebih dari sekedar luka panahan."


"Mungkinkah...."

__ADS_1


Mereka menatap satu sama lain. Seakan pikiran mereka sama. Namun hal itu haruslah mereka selidiki lebih lanjut.


__ADS_2