Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Monster


__ADS_3

Satu tahun berlalu, 


Banyak hal telah berubah. 


Bayu belajar dengan giat mengenai tanaman herbal. Bahkan dia mempelajari mengenai racun. Segala jenis racun. Bayu juga melatih kembali ilmu beladirinya, baik dengan pedang ataupun tangan kosong.


Dhika harapan dan penerus keluarga Wiriya, mempelajari berbagai bahasa, dan berlatih untuk menjadi lebih kuat lagi. Dhika ingin menjadi lebih kuat untuk bisa melindungi oran lain. 


Haris semakin mantap dengan ilmu beladirinya, tapi tetap saja belum bisa mengalahkan Bayu, dari segala hal. 


Sepeninggal Ayu, Dyah kini di akui sebagai putri tuan Wilis. Sang Mandalika.


Namun semua orang tau dia tidak bisa menggantikan Ayu.


Beberapa waktu terdapat kabar burung bahwa mata mata Mongol kembali beraksi. Tuan Wilis sebagai Mandalika tidak ingin kembali lalai. Namun jalan yang dia pakai tidaklah sejalan dengan prinsip para keluarga besar. 


Dia menghukum dengan kejam siapapun yang ada hubungannya dengan mata mata Mongol dan Bandit Gunung, dia selalu mencurigai siapapun yang memiliki hubungan dengan itu. Dan menghukumnya dengan kejam. Bahkan membunuh mereka. 


Tuan Wiriya nampak geram melihat situasi itu. Dia telah jauh dari prinsip tatanan Sunda. 


Suatu hari sesuatu terjadi, ketika Bayu, Dhika dan Haris kembali ke gunung putri untuk mengambil herbal langka. ya, tujuannya bukan untuk herbal tapi sebuah informasi. Tidak ada siapapun di rumah herbal itu. Semua sudah berantakan seperti tengah dirampok, bencana atau sacamnya. Tidak tau apa yang terjadi. Mungkin saja, tentara mongol sudah mengetahui bahwa gunung itu adalah perdagangan informasi, hingga mreka melenyapkannya. Titik temu memang bukan hanya di rumah itu saja. Tapi tetap saja, tidak ada yang tersisa disana. Gunung putri kini seperti gunung kosong biasa tanpa kehidupan.


Dhika "Seperti info yang kita terima. Tempat ini sudah hancur."


Haris "Tidak ada yang bisa kita dapatkan disini


Bayu "Kabarnya titik pertukaran bukan hanya disini tapi tidak ada tanda apapun dimana itu dilakukan."


Haris "Tidak ada gunanya kita tetap disini. Kita kembali saja"


Dhika "Apa kita harus melewati jalur lembah lagi?


Bayu "Seperti nya berbahaya, misteri orang hilang masih belum terpecahkan. Kurasa jalur desa sunyi masih lebih aman"


Haris "Ngomong ngomong tahun lalu, tadi kita lewati desa itu dia tidak nampak."


Bayu "Mungkin kali ini dia akan muncul."


Bayu, Dhika dan Haris pulang dengan tangan kosong.


Sepulang dari sana diperjalanan bertemu dengan Boris, putra dari adik Mandalika. Tidak jauh berbeda dari tuan Wilis dan ayahnya. Dia pun berprilaku sangat buruk. 


Mereka bertemu di desa Sunyi, Desa yang penuh Kabut. Setahun berlalu Kabut masih sangat tebal meskipun tidak se tebal ketika mereka datang bersama Nirmala. Sepertinya masih ada sesuatu yang menjadi misteri dari desa itu. Hanya saja kali ini lebih baik, tidak ada lagi ilusi ilusi yang menyesatkan. 


Boris "wah wah lihat siapa yang kita temui, tiga pemuda terkenal dari keluarga besar."


Bayu "jangan hiraukan dia aku punya firasat buruk tentangnya" 


Bayu mencoba melewati Boris dan kelompoknya tanpa menghiraukan apapun yang dikatakan. Tapi tentu saja ada hal yang membuat Boris harus mencegah mereka beranjak lebih jauh. Kelompok Boris menghadangnya hingga tidak ada jalan untuk terus maju.


Boris "bukankah tahun lalu kau juga melewati jalur ini untuk ke Gunung Putri? Biar kutanya satu hal. Apa kalian menemukan sesuatu disini?"


Bayu menjawab dengan enteng "tidak"


Boris "kau tau, setelah kalian datang, ilusi dari kabut ini pun ikut lenyap bersamaan dengan kepergian kalian. Apa ada hal yang terjadi disini?"


Bayu "entahlah"


Boris "sebaiknya kau tau jawabannya karena aku tidak segan untuk membuatmu bicara"


Bayu "kau mengancamku? Itu tidak akan berpengaruh padaku"


Boris tertawa "kau mengingatkanku pada seseorang. Meski dipukulin hingga mati dia tetap tidak bicara. Kau ingat siapa itu?"


Tentu saja. Siapapun yang menceritakan itu akan selalu diingat oleh Bayu. Nirmala adalah orang berharga baginya. 


Sorot mata Bayu berubah merah. Boris berusaha memprovokasinya. Tapi dia tidak tau jika itu benar benar tidak ada gunanya. Kemarahan Bayu tidak akan membuat informasi bocor. Lagipula Mereka bertiga memang tidak tau apapun. 


Dhika "Bayu tenanglah jangan terpancing."


Haris "Boris sebenarnya apa yang kau inginkan?"


Boris "tidak ada"


Sebuah tawa tiba tiba saja menggema di keheningan. Morang dia duduk di atas atap sebuah rumah tidak jauh dari mereka berdiri. Dia tertawa seakan melihat tontonan yang lucu. Semua beralih pandang ke arah sumber tawa itu. Dia seperti hantu muncul tiba tiba. 


Morang "kau mencari sesuatu? sepertinya kau tidak akan menemukannya karena sesuatu yang ada disini semua adalah miliku. Termasuk kau" dia mengarahkan matanya menunjuk ke arah Bayu.


Bayu "apa maksudnya?"


Boris berpikiran sempit "kalau begitu serahkan semuanya hingga kau tidak akan aku bunuh."


Tapi morang hanya tertawa "Aku hanyalah roh tanpa jasad disini bagaimana bisa kau akan membunuhku. Haha."


Tentu saja mereka tidak percaya.


Boris "kau tau yang aku cari hanya satu benda kecil. jika kau memilikinya maka serahkan padaku sekarang juga."


Morang "hmmm. ya memang saat ini benda itu memang ada disini. tapi seperti yang kau tau, kau tidak akan mendapatkan apapun disini."


Boris "kalau begitu jangan salahkan aku jika kau mati disini."


Morang "maaf saja aku sedang tidak ingin berurusan denganmu." Morang menjentikan jarinya, kemudian muncul beberapa bayangan hitam mengelilingi mereka, bayangan itu menyerang mereka. termasuk Bayu, Dhika dan Haris.


Semua di sibukan dengan bayangan bayangan itu. Tiba tiba saja Morang datang di hadapan Bayu, dan menyerangnya, hingga terpisah dari yang lain., Dia muncul dan menghilang dengan sekejap. Dia bagai Hantu. Sebuah tangan muncul di hadapannya mencoba mengambil sesuatu yg tergantung di lehernya. Tapi tidak berhasil.


Bayu bertanya tanya, mengapa dia mengincar ini. Benda berharga peninggalan Nirmala. 


Morang muncul lagi beberapa meter di hadapannya. Muncul dari kegelapan kabut. "berikan itu padaku"


Bayu menggenggam itu dan memasukannya lagi kedalan bajunya. 


"apa kau tidak tau apa yang ada di dalamnya ? bahkan aku tau itu apa." 


Bayu hanya diam.


"Baguslah kalau kau tidak tau. Itu tidak cocok untukmu, serahkan itu."


"Tidak akan pernah."


"apa aku harus merebutnya dengan paksa?"


"tidak akan ku biarkan"


"Beritau aku, kenapa gadis itu memberikannya padamu, apakah dia sudah mati?"


Mendengar itu dia tersulut emosi. Namun dia masih diam mengendalikan diri. Dia penasaran. Mengapa morang tau bahwa Nirmala yg memberikan ini.


Apa yang dia tau tentang Nirmala. 


"seharusnya dia bisa menggunakannya dengan baik, dia tidak akan mati kalau dia menggunakannya. Sayang sekali. Ternyata dia terlalu bodoh."


Apa yang sebenarnya terjadi Bayu sangat kebingungan. Apa hubungannya benda ini dengan Nirmala, dan dengan Morang. 


Boris berteriak entah darimana. Dia terluka.


Haris memanggil mencari Bayu.


Keadaan semakin buruk. Mereka harus segera keluar dari sana. 


Menghadapi bayangan bayangan itu mereka terpojok ke sebuah rumah besar terbuat dari bebatuan. Masih sangat kokoh dan masih terlihat mewah. Ukiran emas di setiap tiangnya masih menempel indah. 


Bayangan itu terus menyerang hingga memasuki bangunan. Mereka masuk jauh kedalam bangunan itu berharap menemukan sesuatu untuk menghadapi bayangan bayangan milik Morang.


Haris, Dhika, Bayu, Boris, dan beberapa orang pengikutnya kini terpojok bersama di bangunan itu. Beberapa pengikut lain entah tersesat kemana.


Suasana mencekam, dingin, hening dan hampa. Bangunan itu penuh dengan mistis. Semua orang tau apa bangunan itu. karena kejadian masalalu tempat itu lebih dikenal dengan tempat keramat yang berhantu. 


Mereka masih terus di sibukan dengan bayangan bayangan itu. Tapi Morang entah pergi kemana. Tiba tiba semua terhenti ketika sesuatu menggema di semua penjuru bangunan itu. 


Angin dingin berhembus entar darimana. Mengelilingi seisi bangunan itu. 


Siapa itu?


Suara seorang perempuan menggema. lembut namun membuat bulu kuduk merinding seketika. 


Bayangan bayangan itu seketika menghilang.

__ADS_1


Seorang perempuan datang menembus tembok. Sangat cantik, tapi entah mengapa mereka semua sangat takut. 


Seorang arwah perempuan. Putih pucat melayang di udara. 


Perlahan turun menyentuh lantai, tapi, semakin dilihat semakin mereka yakin bawa arwah itu benar benar tembus pandang.


Semua orang hanya terdiam tak berkutik.


Apa yang kalian semua lakukan disini. mengganggu arwah arwah peenghuni desa ini.


Semua masih terdiam.


Kau, mencari sesuatu? matanya melirik tajam kearah boris.


"Kk k au putri desa ini, Laras, benar kan,? kau pemilik giok cahaya."


Giok cahaya, sepertinya Bayu dan Dhika pernah mendengar soal ini, ini sempat di bahas ketika bertemu dengan Tuan Wiriya


Benar. Aku pemilik sebelumnya.


"Kalau begitu kau bisa menyerahkannya padaku. Kabarnya kau dikutuk oleh benda itu."


Laras tersenyum Anda salah tuan. aku bukan di kutuk. Tapi giok itu memiliki perintah yang mutlak tidak seorang pun bisa mematahkannya.


Dhika meneruskan "kabarnya seorang putri desa ini meninggal karena pembantaian. Seisi desa mati terbunuh. Giok itu tidak bisa melindungi jasadnya, karena sang putri yang memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri. Giok itu tidak melindungi nya karena itu keputusannya sendiri akhirnya jasadnya mati. Tapi arwahnya tetap hidup hingga saat ini. Apa itu benar?"


Laras hanya tersenyum


Boris "Cerita yang bagus, apakah arwah bisa mati? karena jika kau tidak menyerahkannya mungkin aku bisa membuatmu mati keduakalinya."


Arwah itu melotot dan tertawa lebar. kemudian terdiam lagi


Manusia memang seperti itu, selalu mengancam dan serakah. Aku bersyukur bukan lagi seorang manusia.


Boris "cukup basa-basi nya."


Bayu menyela, "hei tuan muda Wilis. kenapa kau sangat menginginkan itu"


Boris "Bukan urusanmu."


Padahal Bayu dan Dhika tau fungsi giok itu. Jika bnar bnar jatuh ke tangannya maka akan berbahaya. Keluarga wilis kali ini benr benar kejam. Bisa saja mereka mnggunakannya untuk hal yang lebih mengerikan.


*Benda itu sudah tidak ada padaku. 


kalian sia sia jika mencarinya disini*.


Dhika, "Bukankah giok itu tidak bisa lepas sebelum 500thn? bagaimna bisa?"


Arwah itu tersenyum. "Jikapun masih ada padaku. Kalian tetap tidak akan bisa mengambilnya. Benda itu tersembunyi sampai limaratus tahun. Tidak akan pernah dtemukan."


Boris "lalu bagaimna bisa tidak ada padamu."


seseorang mengambilnya dariku. dengan sangat mudah. pergilah aku sudah berjanji untuk tidak membicarakannya.


Bayu bertanya. "Kapan itu terjadi?"


Satu tahun yang lalu.


Bayu dan Dhika saling bertatapan. 


"Nirmala??"


Haris dan Boris terkejut mendengar itu. 


Haris bertanya "kenapa nirmala?? Ada apa dengannya? Bukankah dia sudah mati."


Boris melemparkan pedangnya ke arah arwah itu. Tentu saja itu tidak akan berguna pedang itu menembusnya dengan mudah.


Bayu "apa dia bodoh."


siapapun dia, aku berterimakasih padanya.


Dia menatap bayu lekat lekat, "jika kau bertemu dengannya lagi, sampaikan salamku padanya, mungkin lima belas tahun lagi kita akan bertemu kembali."


Arwah itu pun kembali melayang menembus tembok


Di hadapan penerus keluarga besar, semua akhirnya terungkap.


"Sial." teriak Boris mengumpat keras keras. 


Tentu saja dia kesal, susah payah dia ke desa kabut, benda yang dicarinya bahkan hilang bersama orang mati. Akan lebih sulit lagi untuk mencarinya karena semua orang tau Nirmala dibuang ke sebuah gunung misterius.


Bayu, Haris, dan Dhika melaporkan semua itu kepada tuan Wiriya.


Tuan Wiriya sangat kecewa, mengapa Nirmala waktu itu tidak mengatakannya. Semua bertanya tanya sumpah limaratus tahun bisa dengan mudah dia patahkan. Padahal semua orang tidak mungkin bisa menemukan Giok itu.


Dalam hati Bayu dan Dhika, ckup mngerti, Nirmala berasal dari seribu tahun di masa depan, sangat masuk akal jika dia bisa mematahkan Sumpah giok itu. 


Namun yang jadi permasalahan kali ini Nirmala hilang entah dimana. Mungkin juga sudah mati. Haris menunjukan emosinya. Dipikirannya, betapa kejamnya Nirmala, setelah mencuri Giok itu, juga berusaha membunuh Ayu, tunangannya. Tapi tidak ada yang percaya Nirmala melakukan itu. Dalam hati Haris pun masih stengah hati mempercayainya. Pasalnya Haris juga tau bahwa mereka sangat dekat, bahkan seperti saling menyayangi, bukan perasaan yang mudah patah karena emosi. 


Sungguh semua tidak masuk akal baginya.


Berita mengenai Giok itu tersebar luas. Ketiga kekuarga besar mulai menelusurinya kembali. Takut giok itu digunakan untuk hal yang mengerikan.


Kesokan harinya, tuan wilis mengadakan perjamuan di Istananya, dan di datangi oleh seluruh keluarga keluarga besar ternama. itu untuk merayakan ulang tahun putrinya Dyah. yang sudah dia akui sejak setahun lalu.


Dyah menjadi sangat cantik. Sangat anggun, dan tetap memiliki raut wajah yang ceria berseri. Semua orang menyukainya.


Hampir tiga ratus orang datang dalam perjamuan itu, Delapan keluarga besar memiliki mejanya masing masing, mereka lebih di spesialkan. Tentu saja mereka memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan tanah Sunda. Bahkan utusan raja pun datang sebagai wakilnya.


Di tengah perjamuan entah apa yang direncanakannya. Boris mengungkit soal Nirmala dan Giok Cahaya. 


Boris "tuan tuan, taukah mengenai Giok Cahaya? Setelah perjalananku mencari info mengenai ilusi Desa Sunyi. Sebuah info lain aku dapatkan."


"Giok Cahaya? Gosip beredar mengenai itu. Aku tidak tau kalau itu benar."


Boris "itu memang benar"


"Gadis yang berusaha membunuh putri tuan Wilis katanya dia terlibat. Apa itu juga benar?"


Boris "itu juga benar dia mencuri Giok itu. Dia juga berusaha membunuh sepupu ku."


"Bukankah dia sudah mati setahun lalu?"


Boris "dia tewas di serang hewan buas ketika kami berusaha membuangnya di hutan"


"Dia tewas bersama Giok itu?"


Boris "itulah yang ingin aku cari tau, aku akan mencarinya. Jika Giok itu berada di tangan yang salah entah apa yang terjadi"


"Bagaimana jika Gadis itu masih hidup?"


Boris "maka itu akan lebih mudah"


Tuan Wilis yang mendengar percakapan itu pun mengumumkan sesuatu.


Tuan Wilis "kita tau kabar burung beredar terlalu cepat, maka kali ini akan aku umumkan. Bagi siapapun yang menemukan informasi kehadiran dari Nirmala harus segera beritahu pada ku. Juga, untuk keamanan tanah kita yang sedang genting, maka bagi siapapun yang menemukan Giok itu haruslah di serahkan kepadaku. Aku akan membawanya kepada istana Ibukota. Untuk menghindari hal hal yang tidak kita inginkan."


Bayu tersenyum pahit. Lalu pergi keluar meninggalkan ruang perjamuan. Dia berdiri di balik pagar, memandangi matahari yang sudah condong ke barat. Sangat hangat. 


Dhika datang menghampiri.


"apa yang kau pikirkan."


"Menurutmu kmna dia menyimpan giok itu?"


"menurutmu bagaimana?"


"Kenapa malah bertanya balik?"


"Tuan Budhi sudah memastikan saat itu Nirmala tidak membawa apapun. Sebelum dia dibawa pergi pun, para pengawal sudah mnggledahnya, tidak ada apapun. Hanya menemukan secarik bubuk racun."


"Satu hal yang aneh. Menurutmu mengapa dia hanya membawa bubuk racun. Apa dia tidak punya benda penting sama sekali?"


"aku mengira bahwa bubuk racun itu sengaja di temukan dalam pakaiannya"


"ha?"

__ADS_1


"lupakan"


"..."


"jika aku berpikiran sama maka, seseorang membuatnya menjadi kambing hitam."


"...."


"aku yakin dia tau bahwa giok itu tidak boleh ditemukan oleh siapapun. Keadaan akan kacau jika ada orang yang memilikinya lagi. Sepwrti desa Sunyi. Arwah Laras dan Nirmala mungkin tengah berjanji sesuatu."


"Saat itu arwah Laras berkata sudah berjanji untuk merahasiakannya. Mungkin kah ini? dan mungkinkah Nirmala berjanji untuk tetap menyembunyikan Giok itu. bahkan kepada kita pun dia tidak menceritakannya."


"mungkin saja."


"lalu kemana dia menyembunyikan itu?"


"aku berharap dia tetap membawanya."


"ya, itu lebih baik."


"oh ya dhika. kau ingat yang dikatakan arwah itu. dia bilang mungkin akan bertemu lagi lima belas tahun mendatang. bagaimana menurutmu."


"nirmala masih hidup?"


"ku pikir juga begitu."


"tapi bisa saja mereka akan bertemu di kehidupan lain, bukan disini."


"bnar juga. Kau tau apa yang kupikirkan. kurasa jika giok itu bersamanya bisa saja dia memang masih hidup. giok itu bersifat melindungi pemiliknya."


"perlukah kita mencarinya?"


Bayu mengehela nafas, 


"Tidak. jJka dia memang masih hidup. dia pasti memiliki alasan mengapa tidak pernah menemuiku."


"...."


"tuan, bolehkan aku bertanya, seseorang berdiri di belakangnya. seperti seorang pelayan, atau utusan seseorang."


"ada apa."


"Apakah yang mereka katakan itu benar?"


"apanya?"


"Nirmala. aku dengar tuan adalah kawan baiknya. Jadi aku ingin bertanya."


"??"


"apakah benar nirmala sudah meningal?"


"kau... kenal dia??"


"dia membantu desa kami membuat kincir air dan mengalirkan nya ke desa kami, saat kemarau panjang tiba. Aku kira aku bisa menemuinya disini. Aku ingin bertemu dan berterimakasih lagi padanya.... Sebelumnya aku mencarinya ke desa Mada tempat tinggalnya. Tapi aku tidak menemukan apapun. Hanya gundukan tanah seperti makam.


"kincir air?"


"iya. setiap kemarau datang kami kesulitan memperoleh air. Tapi berkatnya. Kemarau tahun ini pun kami tidak perlu khawatir lagi. Tapi mendengar pembicaraan mereka aku, aku."


"Nirmala melakukan itu?"


"hmm. dia membantu kami selama satu minggu penuh seluruh warga sangat berterimakasih."


"kenapa dia melakukan itu."


"Saat itu dia seperti memperkirakan bahwa hujan baru akan turun dua bulan lagi, sedangkan kami sudah sangat lelah menuruni bukit untuk mengambil air disungai. Entah mengapa dia memberika ide itu. Dan dua bulan mendatang hujan benar benar turun. Aku mengira dia adalah dewi yang turun dari lagit."


Bayu dan Dhika tertunduk sedih. Mereka semakin yakin racun itu bukanlah perbuatannya.


"ya dia memang seorang dewi."


"..."


"yang dikatakan mereka itu benar. Nirmala dibuang di hutan, pakaiannya robek dan banyak darah."


"kau percaya kalau dia mati?? apakah jasadnya ditemukan?"


"tidak, hingga saat ini kami tidak menemukan apapun."


"aku harap dia baik baik saja. saya permisi tuan."


Dia pun pergi.


"Dhika, dimana ada seorang dewi yang bisa mati?"


"......."


Satu minggu setelah perjamuan itu berakhir terjadi sesuatu yang membuat semua orang gempar.


Beberpa orang menghilang secara misterius, semua terjadi di wilayah tanah sunda utara. tidak tau apakah jawa pun demikian atau tidak. Anehnya tidak ada jejak hewan buas atau semacamnya. Mereka seperti lenyap begitu saja. Kabar burung berhembus dengan cepat. Sesaat sbelum mereka hilang mereka seperti bertemu dengan sebuah bayangan hitam,. Bayangan itu seperti melahap mereka. Kabar lain berkata mereka yang hilang adalah terkena sihir. Mereka kerasukan hingga tanpa sadar pergi entah kemana.


Setelah dinyatakan hilang beberapa hari kemudian jasadnya barulah ditemukan, dengan kulit menghitam, mengkerut seakan seisi tubuhnya di sedot keluar, menyisakan tulang dan kulit.


Tidak ada yang mempelajari ilmu itu di tanah sunda tapi siapa yang menjamin.


Tuan Wilis tiba tiba saja menuding ini ulah bandit gunung. 


Dipercaya mereka selalu mempelajari ilmu ilmu yang berseberangan dengan ilmu putih beladiri. Tapi itu pun tidak ada yang menjaminnya.


Bandit Gunung tidak pernah meninggalkan gunungnya.. tidak ada yang tau. 


Pada akhirnya semua sependapat dengan tudingan tlTuan Wilis.


Bayu semakin kesal dengan tudingan asal seperti itu. Sungguh tidak berpikir panjang .


Bayu pulang dari perkebunan cukup larut kali ini. Situasi kota sangat kacau, permintaan herbal meningkat, mau tidak mau dia beberapa kali pulang larut malam.


Sialnya di perjalanan pulang dia mengalami apa yang kabar burung itu beredar. 


Sesuatu bergerak gerak di balik semak semak. Bayu seketika terdiam mengamati apa itu. Sangat sial. Dalam keadaan seperti ini dia tidak membawa pedangnya. Membawa sekarung herbal ini saja sudah merepotkan. 


Sesuatu terbentuk dari semak semak itu. 


Sebuah bayangan hitam muncul, semakin lama semakin besar. 


Tidak berbentuk. Seperti halnya jely dia meliuk liuk. Bayu tertegun melihat itu.


Perlahan sesuatu terbentuk dari tubuhnya, seperti mulut, memiliki gigi diantara lubang itu seperti cacing. Lidah berduri keluar dari mulut itu. Mengerikan. Dan menakutkan.


Beladiri tangan kosong mungkin tidak akan menguntungkannya. 


Dia harus menjauh dari mahluk itu segera. Dia harus berlari menjauh dari sana. 


Tapi bayangan lain muncul di belakangnya. Tunggu, satu lagi muncul tak jauh dari itu.


Beberapa muncul lagi entah dari mana mreka berasal.


"astaga...."


Bayu dikelilingi mahluk itu. "Pantas saja semua yg berhadapan bisa mati sekejap. mereka muncul bersamaan melawan seorang diri. hebat sekali."


Sebuah lidah terjulur seketika seperti cambuk. Menghantamnya. Bayu berhasil menghindar, cambukan itu datang lagi di arah lain. Mengenai karung herbal hingga terberai berserakan. 


"sial. mereka sangat cepat.."


Pandangan malam sangat menguntungkan mereka. Sebaliknya dengan manusia yang panca indra matanya terbatas.


Satu cambukan datang, "sial!!" kali ini bayu tidak akan bisa menghindarinya, yang bisa dia lakukan hanyalah menahannya dengan kedua tangannya. Berharap tidak ada bagian tubuh vital yang terluka.


Tapi dewi fortuna masih bersamanya. Cambukan lidah itu terpanah oleh sesuatu. anak panah bercahaya biru pucat.


"Anak panah?!"


"Tidak itu bukan anak panah." memang bentuknya seperti itu tapi itu adalah sebuah energi. Energi yang dilemparkan entah dari mana.


Beberapa detik panah itu menghilang bagai udara. Beberapa anak panah datang lagi. Mengenai mulut mahluk mahluk itu. Hingga mereka mati, seperti air. Mahluk itu mengalir lalu menguap bersama udara. 

__ADS_1


Bayu bertanya tanya siapa itu.


Dia memutar matanya  kesegala arah. Tapi tidak menemukan apapun.


__ADS_2