Kenangan Seribu Tahun

Kenangan Seribu Tahun
Jalan Buntu


__ADS_3

Baru sejenak warga merasa tenang dengan kasus orang hilang. Kini berita itu muncul kembali. Kabar burung beredar dengan sangat cepat. Beberapa warga menghilang, dan ditemukan di sekitar hutan Kulon.


Menurut saksi mata. Orang orang itu seperti kerasukan. Tanpa sadar berjalan memasuki hutan Kulon namun tidak kembali. Beberapa di temukan mati mengkerut, seperti korban korban sebelumnya. Semua orang gempar mendengar berita itu.


Namun semua orang juga terlanjur mendengar kabar bahwa Nirmala juga pergi kesana, hingga semua orang membuat dugaan bahwa semua ulah Nirmala juga.


Warga mulai panik dibuatnya.


"Berarti selama ini adalah ulahnya juga? Ya tuhan tolong lindungilah kami"


"Tapi apa yang membuatnya seperti itu? Kami tidak melakukan kesalahan apapun padanya."


"Kurasa dia benar benar dikutuk. Kita jadi menerima imbasnya"


Terlihat Bayu dan Dhika berbicara di depan gerbang kediaman keluarga Wijaya. Hukuman Bayu masih belum selesai hingga beberapa hari kedepan. Dia tidak di ijinkan meninggalkan rumah. Namun situasi ini dirasa sangat darurat hingga Dhika nekat untuk datang langsung.


"Dhika, Nirmala benar benar bicara seperti itu?"


"Mm, dia bilang untuk mengatakan itu, dia pergi ke hutan Kulon."


"Apa dia sengaja?"


"Sepertinya memang sengaja."


"Apa dia sudah tau mengenai hal ini?"


"Sepertinya memang sudah tau. Hanya saja aku juga tidak menyangka akan separah ini. Kurasa Dia seperti punya satu rencana."


"Dia sengaja membahayakan dirinya. Aku akan pergi."


Dengan segera Bayu pergi tanpa menghiraukan peringatan dari tuan wijaya.


"Berhenti disana." Haris menghalangi jalannya.


"Haris, jangan halangi aku."


"Kau akan mengecewakan ayahku lagi?"


"Aku sudah kehilangannya sekali. Sekarang dia dalam bahaya, aku tidak ingin melewatkan kesalahan ini lagi. Aku mohon."


"Kalau begitu aku akan ikut."


"Tidak. Jika terjadi sesuatu padamu paman akan sangat bersedih."


"Jika terjadi sesuatu padamu keluarga kita akan sangat dalam bahaya. pokonya aku ikut."


"Baiklah."


Matahari sudah tinggi. Entah yang ke berapa kalinya Bayu melanggar hukuman dari Tuan Wijaya. Meski ini adalah keputusannya. Namun hatinya masih berat untuk melanggarnya. Situasinya sudah sangat kacau. Dia harus bisa berfikir lebih cepat meski dia juga tau keputusan kali ini akan berdampak besar.


Di padang rumput perbatasan hutan Kulon. Boris dan pasukannya tengah bersiap untuk memasuki hutan. Kali ini Boris membawa seratus orang bawahannya. Mendengar desas desus beredar, mereka pun melengkapi diri seperti hendak berperang. Pasalnya. Melihat mayat mayat itupun mereka sudah cukup dibuatnya takut. Belum lagi Nirmala bersama dengan Bandit Gunung yang belum banyak informasi tentang mereka. Mereka tidak banyak tau mengenai bandit gunung baik jumlahnya atau keahliannya. Mereka hanya tau bahwa bandit gunung selalu memakai panahan sebagai senjatanya. Namun Bandit gunung memang terkenal menakutkan. Tidak ada yang ingin berurusan dengan mereka.


"Persenjatai dirimu kita akan menghadapi sesuatu yang belum pernah kita hadapi. Dia sudah terlalu sesat hingga berani menggunakan mahluk seperti itu. Tangkap dia hidup hidup."


Boris berseru kepada prajuritnya. Sementara Haris, Bayu dan Dhika mengendap dari kejauhan. Sesekali mengamati pasukan itu. Mereka berencana melewatinya dan mendahului mereka untuk bertemu Nirmala.


Seseorang mengetahui keberadaan mereka bertiga. Dan membekuknya. Membawanya kehadapan Boris


"Wah wah, sepertinya ada yang mencari gadis itu selain aku." ujar Boris dari kejauhan. berjalan mendekati mereka bertiga.


"Tak apa, kita bisa pergi bersama."


Prajurit melucuti semua senjatanya. Sesuai perintah dari Boris. Kini seorang tanpa senjata melawan beberapa prajurit kuat sangatlah tidak mungkin untuk menang. Mereka hanya bisa menurutinya untuk sementara.


Mereka perlahan berjalan memasuki hutan. Tidak ada perlakuan kasar yang mereka bertiga dapatkan dari Boris. Namun mereka juga menyadari pikiran licik Boris.


"Hei Boris. Aku tau kau belum dapat informasi apapun kan? Apa kau tidak takut ada hal menyeramkan disini?"


"Satu satunya hal menyeramkan di dunia ini adalah paman ku."


"Wah. Kau pikir dia hantu? Sejak kapan, kenapa aku tidak tau."


Boris dibuat kesal olehnya. Mereka tau Bayu mencoba untuk membuatnya kesal dengan sengaja.


"Terserah saja aku tidak akan mendengarkanmu"


"Kau tau, aku benar benar pernah menghadapi mahluk itu. Benar benar sangat mengerikan."


"...." Boris tidak menghiraukannya. Namun prajurit lain seakan menyimak dan mulai tertarik mendengarkan.


"Mereka tidak bisa di tebas, mereka tidak bisa di tembak. Mereka bisa membelah diri menjadi ribuan. Kau tau apa yang paling menyeramkan?"


Boris "Jangan hiraukan dia mungkin dia berbohong"


"Aku benar benar pernah berhadapan dengannya. Beruntung kalian semua pergi bersama sama. Mahluk itu muncul tidak sendiri. Sekali muncul ada tiga hingga lima. Kau tidak bisa lolos darinya."


Terlihat semua orang sudah mulai terpengaruh dengan ceritanya.


"Dan yang membuatku takut setengah mati adalah. Ketika dia membuka mulutnya, gigi gigi tajam mengelilingi seluruh lubang mulutnya. Kau tau seperti cacing lintah atau semacamnya"


"Apa kau berkata jujur?" Seorang prajurit mulai merasa ketakutan.


"Tentu saja. Makanya aku tau detailnya. Kau tau apa yang kurasakan. Aku membeku tidak bergerak ketika dia menjulurkan lidahnya. Lidahnya bagai cambuk yang bisa seketika membelah belah tubuhmu. Itu sangat mengerikan"


"Jika begitu kita pasti mati" prajurit lain pun mulai ketakutan.


Boris memotong "Jika begitu kenapa kau masih berdiri disini. Seharusnya kau langsung mati saat itu juga"


"Itu karena dewi pelindung masih bersamaku. Maaf saja jika dia benar benar muncul aku tidak menjamin keselamatan kalian. Karena itu jaga diri kalian baik baik ya."


Dhika hanya tersenyum mendengar itu. Dia tidak terpengaruh sama sekali dengan ceritanya. Sementara haris bertanya tanya apakah itu benar ataukah itu bohong. Haris tau jika Bayu sering berbicara seperti itu untuk menjatuhkan mental lawan entah cerita nya benar atau tidak.


Jauh masuk kedalam hutan belum ada apapun yang terjadi. Nirmala menunggu dan mengamati dari atas pohon. Hutan Kulon sering disebut hutan keramat. Berbagai macam hal mistis terdengar bersumber dari sana. Pohon pohon menjulang lebih tinggi dibanding di hutan hutan lain. Ini sedikit memudahkan Nirmala untuk mengawasi dari atas.


"Putri, bukankah itu temanmu, mengapa datang kesini juga? Mereka seperti di tangkap oleh prajurit itu. Apa mereka di pihak yang sama?"


"..." Nirmala mengerutkan dahinya seakan kecewa dengan apa yang dia lihat.


"Putri?"


Nirmala mulai mengendap berjalan dari dahan ke dahan lain. Jaka menggenggam tangannya.


"Putri kau sudah berjanji tidak akan masuk lebih dalam."


"Jaka pulanglah. Rencana ku seperti nya tidak akan berhasil. Aku tidak ingin membiarkan mereka dalam bahaya."


"Tidak putri, aku sudah berjanji kepada ketua untuk mendampingimu."

__ADS_1


"Begini saja. Jika selama tiga hari aku tidak keluar, kau panggil bantuan dan cari aku, ya."


Nirmala pun bergegas mengikuti kelompok itu. Jaka hanya mengikuti perintahnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan jika Nirmala sudah bertekad seperti itu. Semua yang di rencanakannya mungkin memang tidak akan berhasil.


"Boris, kenapa kau memperlakukan kami sebagai tahanan? Kau tidak perlu mengikat kedua tangan kami."


Bayu memprotes hal itu. Dia merasa diperlakukan tidak baik.


"Kau akan membuatku repot jika tidak seperti ini."


"Kau merasa terganggu dengan kami? Memangnya apa yang kami lakukan."


"Bukan kalian, tapi kau." Dia menunjuk bayu dengan jari nya.


"Semua orang tau kau selalu bersamanya. jika ku lakukan sesuatu paadanya kau pasti tidak akan diam."


Bayu tersenyum pahit "Aku penasaran. Kenapa kau yakin kalau dia ada dihutan ini."


"Bukankah sudah jelas. Karena ada kau"


"Tuan aku melihat sesuatu" seorang prajurit berteriak sedikit merasa takut.


Sebuah mahluk bayangan muncul di depannya, sontak semua orang bersiap dan memasang kuda kuda. Menghunuskan senjata. Namun dengan melihatnya saja mahluk itu membuat mereka takut. Dia terlihat lebih besar dan lebih menyeramkan dari cerita yang barusaja mereka dengar. Memiliki mata merah, dan mulut penuh dengan taring, lidahnya terjulur panjang menjuntai ke bawah.


Dia bersiap untuk mencambuk mereka semua. Dengan sekejap melayangkan cambuknya.


Semua orang berhasil menghindar.


"Haris, sembunyi." teriak Bayu.


Haris dan Bayu berlari. Bersembunyi di balik pohon besar. Dhika pun mengikuti instruksinya. Bersembunyi di balik bebatuan.


Sementara prajurit itu bergantian menyerang. Berusaha mengalahkan mahluk itu.


Boris sesekali ikut menyerang, tapi semua serangannya tidak ada yang berpengaruh banyak.


Seorang master menggunakan pedang pusakanya untuk membelah mahluk itu, tapi yang terjadi hanyalah kekacauan. Makhluk itu bahkan dapat membelah diri.


Bayu teringat mngenai perkataan Tama.


"Itu percuma saja kau harus mengalirkan energi mu pada senjatanya."


"Energi?"


"Tenaga dalam?"


Mereka semua mencoba itu, namun sayang nya mereka adalah prajurit pemula yang belum mempelajari ilmu beladiri hingga tahapan itu. Energi yang mengalir bahkan tidak berguna sama sekali.


Seorang master yang bersamanya bahkan tidak mempelajari itu sama sekali. Dia hanya memiliki kekuatan nyata. Memang jika melawan berpuluh orang mukin dia bisa menang tapi beda hal jika lawannya adalah dari mahluk ghaib.


"Sial." Nirmala berlari mengikuti mereka hingga dia melihat yang terjadi.


Dhika sedang berusaha menahan lidah cambuk mahluk itu dengan sebatang kayu, Haris entah memegang pedang siapa, berusaha menyerangnya. Sedangkan bayu membuat tali tali dari energinya untuk menahan geraknya.


Hal lucu terlihat di sudut lain. Beberapa prajurit lari tunggang langgang, Boris hanya menonton dari kejauhan. Mayat beberapa prajurit bergelimpangan.


Nirmala segera menembakan panahnya tepat di kedua mata mahluk itu. Mahluk yang sedang menyerang prajurit Boris. Kini hanya satu tembakan lagi dia lemparkan tepat di kedua matanya lagi. Jika sedikit terlambat. Mungkin teman teman Nirmala akan habis di ***** mahluk itu. Segera dia tembakan dua anak panahnya sekali tembak. Tepat mengenai mata mahluk itu.


Semua orang terpana dengan kejadian itu. Begitu cepat dan tepat. Mahluk itu pun menguap bagai udara.


Nirmala berdiri di sebuah dahan pohon besar, tangan kirinya masih memegang sebuah busur.


Tiba tiba saja sebuah jarum sumpit menembus leher Nirmala.


"Nirmala, aku kali ini tidak bisa membiarkanmu lepas." Seseorang bersama boris sedang memegang sumpit angin. Dia menembakannya tepat sasaran.


"Apa yang kau lakukan padanya Boris." Bayu berteriak.


Nirmala merasa lemas dan pandangannya memudar


Dia terjatuh terjun dari atas dahan pohon di ketinggian lebih dari sepuluh meter.


Dhika yang lebih dulu menyadari itu, segera berlari, menangkapnya dari bawah hingga Nirmala tidak terluka karena jatuh. Akan berbahaya jika jatuh di ketinggian itu.


Bayu segera mendekat menghampiri. memeriksa keadaannya dengan teliti.


"Tidak apa apa, ini tidak berbahaya."


Nirmala masih sadar hanya seakan lumpuh oleh pengaruh racunnya.


Untuk sementara waktu dia tidak bisa bergerak sama sekali.


Boris terkaget melihat Nirmala masih tersadar, seharusnya dia bahkan tidak akan sadar dalam waktu tiga hari. Bahkan Nirmala masih bisa berbicara.


"Pergi dari sini. Berbahaya. Cepat." Dengan lirih dia mengucapkan kata kata itu.


"Bayu, biarkan saja dia, bukankah dia memang seharusnya sudah mati." Haris dengan mudahnya berkata seakan dia menyimpan sejuta kemarahan.


"Haris?"


"Kau seorang pembunuh, Nirmala!, Aku tidak pernah lupa dengan apa yang kau lakukan kelada Ayu."


"Haris aku tidak pernah melakukan itu."


"Wah, aku tidak menyangka kau masih bisa bicara di bawah pengaruh racunku." Boris serasa bangga dengan apa yang telah dia lakukan. "Yah tidak heran, kau kan memiliki pelindung."


Boris terus saja berbicara. Semakin lama semakin terlihat besar kepala.


"Nirmala kau tau, mereka bertiga sekarang tidak berdaya di bawahku. Jika kau ingin mereka pergi dari sini, kau tinggal serahkan itu padaku"


Prajurit nya yang selamat kini mengelilingi mereka berempat. Menghunuskan senjata.


"Itu?"


"Ya. Benda itu."


Tiba tiba sesuatu muncul di belakang Boris, mahluk bayangan itu kembali muncul, semakin besar dan menyeramkan.


"Sial,"


Kini semua orang beralih menghunuskan senjata pada mahluk itu.


Dhika menggendong Nirmala dan lari dari tempat itu. Untunglah, Nirmala sangat ringan, hingga tidak menyulitkan nya bergerak.


Gerak mahluk itu semakin cepat, cambuknya beberapa kali dia lemparkan, mengenai beberapa prajurit dengan sekali tebas. Mereka tewas seketika.


Tidak ada yang bisa melawannya, akhirnya semua orang memutuskan untuk lari dari sana.

__ADS_1


Mereka masuk kedalam sebuah gua besar, berharap bisa sementara sembunyi dari mahluk itu. Dia dua kali lebih besar dari yang sebelumnya.


"Hei bocah, bukankah kau yang mengendalikan mahluk itu, apa kau berencana untuk bunuh diri.ha?" Boris sudah berada di puncak amarahnya.


Bayu "Setelah semua ini kau masih tidak mengerti?, itu karena bukan dia yang memanggil mahluk mahluk itu."


"Cepat serahkan benda itu. Aku tidak akan mengganggumu jika kau menyerahkannya."


"Tidak akan pernah."


"Baik, kalau begitu biar aku bawa kau. Kepada pamanku."


"Boris kau keterlaluan."


"Memang sudah seharusnya seperti itu"


Mahluk bayangan kini memasuki goa. Semua baru saja merasa aman. Kini semua Orang terkejut dengan satu cambukan yang bisa membelah tanah. Mahluk itu kini berada di mulut goa.


Boris memerintahkan untuk menyerang.


Tapi itu percuma saja. Mereka adalah prajurit tunas, mereka belum ckup latihan untuk mengalahkan mahluk seperti itu.


Perlahan satu persatu prajurit itu dilahapnya. Semua orang ketakutan. Hingga terus mundur. Mereka terpojok.


Mahluk itu setengah menutupi mulut goa.


"Bayu kita harus menjauh dari mahluk itu. Kita tidak memiliki apapun untuk melawan"


Nirmala terus di papah mundur memasuki goa. Semakin dalam semakin gelap. Sementara Para prajurit itu masih berhadapan dengan mahluk itu.


Haris menyalakan sebuah obor,


Dan beberapa prajurit juga menyalakan sebuah obor. Mereka memutuskan untuk masuk kedalam goa hingga situasi aman. Mahluk itu terlalu besar untuk memasuki mulut goa yang semakin kecil.


"Aneh" ujar bayu.


"Dia tidak bisa masuk padahal sifat tubuh nya seperti air. Seharusnya dia bisa dengan mudah mengubah bentuk tubuhnya."


Dhika "Mungkin karena sudah memakan korban."


Bayu "Benar juga, dia bisa berubah menjadi manusia yang di makannya."


Nirmala "Itu jauh lebih berbahaya. Kita harus cepat pergi dari sini."


Tidak ada tanda mahluk itu memasuki goa namun. Kemudian seseorang datang dari mulut goa. Orang itu perlahan muncul, matanya merah, kulitnya hitam. Itu orang yang tadi di lahapnya.


Dia datang seketika menyerang beberapa prajurit itu. Dengan tangan kosong.


Mahluk itu melipat gandakan kekuatan orang yg di lahapnya.


Nirmala "Bayu lakukan sesuatu. Mereka bisa mati."


Bayu mengambil pedang yang sedari tadi di pegang Haris. Memusatkan kosentrasinya.


Sembirat cahaya berkumpul pada pedang yang di pegangnya. Seketika itu juga ia berlari mengayunkannya ke arah mahluk itu.


"Penggal" teriak Nirmala.


Bayu seketika mengayunkannya ke leher mahluk itu. Seketika itu pula kepalanya terjatuh, lepas dari tubuhnnya


Semua orang akhirnya bisa bernafas lega. Prajurit yang dimiliki Boris kini hanya kurang dari duapuluh orang. Boris memerintahkan dua anak buahnya untuk membawa Nirmala kehadapannya.


Bayu baru saja selesai memberikan obat yang di bawanya. Setidaknya itu bisa membantunya untuk segera pulih dari kelumpuhan efek dari racun.


Prajurit itu membawanya paksa. Prajurit lain menghadang Bayu dan Dhika di tempatnya. Tidak ada yang bisa mereka lakukan.


Boris "Geledah dia"


Bayu "Boris kau keterlaluan"


Boris. "Kenapa? Kau keberatan? Keberatan dengan giok itu atau keberatan karena dia di gledah?"


Semua orang tau mereka dekat dengan Nirmala. Dan Nirmala adalah perempuan. Sementara semua orang disana adalah laki laki. Penggeledahan berarti beberapa orang akan merapa tubuhnya memastikan tidak ada suatu benda yang di sembunyikan.


Prajurit itu sangat kasar. Nirmala tidak terima dengan perlakuan seperti ini. Bahkan ketika peristiwa herbal racun itu, dia merasa terhina. Meski yang menggledahnya waktu itu adalah pelayan perempuan. Namun saat ini........


Bayu berontak ingin menghampiri namun tiada daya. Ketika pakaian Nirmala hampir saja terbuka karena penggeldahan itu.


Sesuatu terjatuh dari baju Nirmala. Sesuatu terbungkus dengan kain. Kantung kecil biasa dipakai untuk uang atau semacamnya. Namun dari suaranya itu jelas bukan lah uang. Boris mengambil kantung itu. Sesuatu mengejutkannya. Sebuah giok berwarna hijau berukir bulan dan matahari. Nampak cantik dan berkilau. Boris mengambil secarik kertas dari bajunya. Mengamatinya, memastikannya bahwa benda itulah yang dia cari. Dia tersenyum dan memasukan keduanya kedalam kantung bajunya lagi.


"Ternyata sangat mudah. Kali ini apa yang harus ku lakukan?... Ah. Aku harus membunuhmu"


Boris mengeluarkan pedangnya dari sarungnya.


Bayu "Boris apa yang kau lakukan."


Dhika menyerang penjaga yang menahannya. Dan bergegas berlari menuju Nirmala. Boris sudah mengacungkan pedangnya.


Dhika lagi lagi terhalang oleh prajurit lainya.


Tiba tiba tanah bergetar. Gemuruhnya mengisi seluruh sudut goa. Seakan hendak runtuh.


Boris "Semua keluar dari goa"


Merekapun berlari menuju mulut goa.


Namun sesuatu terjadi. Kejadian itu begitu cepat. Tanah bergetar hebat. Retakan mulai terbentuk. Saat itu juga tanah ambruk turun jauh ke dalam goa. Mulut goa pun setengah runtuh. Boris dan pasukannya yang sudah berada diluar goa pun langsung bertindak cepat.


"Ledakan goa nya kita hanya perlu menunggu gadis itu untuk mati."


Beberapa orang prajurit yang membawa bahan peledak segera menuruti perintahnya.


Goa itu pun hancur. Tidak ada jalan untuk masuk ataupun keluar.


----


Nirmala tau hari seperti ini akan tiba, ketua memerintahkannya untuk menunggu, jangan melakukan apapun jika mereka tidak menyerang, biarkan mereka tersesat di dalam hutan dan kembali dengan tngn kosong. Amati saja dari kejauhan dan jangan tunjukan diri sama sekali.


Perintah ketua pasti ada alasanya. Prinsip ini memang sudah ada sejak dulu, tapi meski begitu tetap saja bandit gunung selalu di kambing hitamkan. Seperti halnya pembantaian kekuarga Nirmala. Semua orang mengira ulah bandit gunung. Tapi nyatanya adalah mereka justru berniat menolong.


Saat itu monster bayangan muncul ketika pemburu datang ke kediaman kake Sapta, pemburu itu beberapa tewas dilahap mahluk bayangan, kekacauan sudah terjadi, pemburu itu melukai semua orang, bandit gunung berada tidak jauh dari sana, tapi mereka terlambat, keluarga Nirmala sudah habis, dan mahluk bayangan sudah melahap pemburu itu. Bandit gunung hanya di perintahkan ketua mereka untuk membunuh mahluk bayangan dan yang lainnya di biarkan saja. Karena memang bukan urusan mereka. Mereka akan menolong jika memang perlu. Tapi saat itu semua sudah terlambat. Pada akhirnya rumor salah tetap beredar luas.


Saat itu pun Nirmala tidak langsung menyimpulkan bahwa bandit gunung lah pelakunya meski anak panah mereka menjadi bukti kesalahan. Tiada dendam di hati Nirmala hingga mengetahui kebenarannya. Kini semua sudah terungkap. Bahkan bandit gununglah yang kini menampung hidupnya. Bahkan mereka melatih Nirmala untuk menjadi lebih kuat lagi.


Sebagai balasan kebaikan mereka. Kini Nirmala akan melindungi mereka. Orang orang yang penting baginya, keluarga baru nya.


Sebagai pimpinan pajurit bandit gunung, dia tidak boleh bertindak gegabah. Ketua tau semua rahasianya, dan ketua tau masalalunya. Bahkan ketua tau Nirmala berasal bukan dari jaman ini.

__ADS_1


Kini Nirmala adalah seorang Bassura terhebat dari semua anggota basura bandit gunung. Dia bahkan bisa menggunakan energinya menjadi senjata. Tingkatan itu tidak mudah dicapai bagi seusianya. Namun ketua tidak sembarangan menjadikannya pemimpin. Pola pikir Nirmala yang cerdas dan dewasa membuatnya lebih unggul. Tentu saja di sana Nirmala dianggap berusia 18th sedangkan di dunianya Nirmala adalah seorang karyawan juga seorang mahasiswa tingkat akhir berusia 24th. Serta ilmu pengetahuan yang dibawanya dari masa depan menjadikannya menjadi seorang yang mengetahui banyak hal.


__ADS_2