
Jalanan kian lama kian ramai, pertanda sudah mendekati pemukiman, desa, atau mungkin sebuah kota. Akhirnya kota tujuan Rinaya sudah semakin dekat. Penjual buku itu berkata, jalur ini memang lebih cukup jauh tapi sedikit ramai, sedikit keramaian menandakan adanya keamanan pula.
Sebuah rombongan kecil terlihat dari arah berlawanan. Mereka seperti seorang prajurit atau semacamnya, hanya saja berbeda dengan orang orang yang dia temui di kedai tadi, dari seragam yang dipakainya pun berbeda, bahkan aura mereka pun memancarkan hal yang berbeda. Mereka lebih terlihat misterius dengan wajah wajah yang datar namun tatapan mata yang tajam. Itu mengingatkannya kepada balapati yang ditemuinya beberapa waktu lalu. Perlahan serombongan itu melewati Rinaya. Dia mematung ketika mereka melewatinya. Sesuatu sangat mengganggu pikirannya.
Rombongan itu membawa serta kereta kurungan terbuat dari batang batang kayu. Seseorang terkurung di dalamnya. Ini sudah biasa dia lihat lima belas tahun lalu, namun yang mengganggunya ialah seseorang yang dibawanya. Apa dia seorang syekh? Wali? Pemuka agama? Siapa dia?
Seorang pria berjanggut tebal bergamis putih, terduduk di kurungan itu, dengan tangan dan kaki di pasung.
"Assalamualaikum" dia menatap Rinaya sambil tersenyum.
"Wa-" mulutnya seketika tertutup ketika hendak menjawab salam itu. Sekejap salam yang dia ucapkan membuatnya terhentak. Seorang prajurit di belakangnya memukulkan pedangnya ke kurungan itu dan berteriak "Berhentilah mengucap itu kepada semua orang atau aku akan membuatmu bisu selamanya"
Tapi tawanan itu hanya tertawa terbahak layaknya orang gila.
Melihat sekejap pemandangan itu dia pun teringat satu kalimat yang dia ucapkan tadi di kedai. Dia berpikir apakah dia benar benar mengatakan itu? Apakah dia akan baik baik saja?
Apakah prajurit itu menyadarinya?
Tanpa pikir panjang lagi, Rinaya berlari sekuat tenaga menuju kota tujuannya. Semakin ramai semakin baik untuk bersembunyi.
Tapi sayangnya mereka lebih cepat menyadari hal itu. Serombongan prajurit itu berlari mengejar. Rinaya terus berlari menuju kota.
Tenang, mereka masih jauh, teruslah berlari lalu sembunyi.
Kalimat itu terus terulang di kepalanya.
Kota sudah sangat dekat, pemukiman pun sudah terlihat. Rinaya harus segera sembunyi. Tapi mereka mengejar sangat cepat. Dalam waktu singkat mereka sudah dekat. Tentu saja, jika berlomba pasti Rinaya kalah. Langkah kaki pendeknya tidak sebanding dengan mereka yang sudah terlatih. Apapun yang terjadi Rinaya harus terus berlari.
Seseorang menarik lengannya, lalu bersembunyi di balik dinding, dia menutup mulut Rinaya dengan lengannya. Siapapun dia, kali ini mungkin Rinaya selamat dari kejaran prajurit itu. Dia menutupi dirinya dan Rinaya dengan sebuah kain goni bersama dengan gundukan karung karung di sampingnya. Tentu saja, trik yang cukup cerdas.
Rinaya terus berdebar, akan kah orang ini menolongnya atau sebaliknya?, Tapi siapa dia?
Beberapa menit berlalu tidak ada langkah kaki atau teriakan dari prajurit itu. Mereka masih menunggu, memastikan keadaan aman untuk keluar dari persembunyian.
Perlahan pria itu membuka kain goni, memutar kepalanya memastikan keadaan sudah benar benar aman. Rinaya masih terduduk di tempatnya.
"Keluarlah, sudah aman"
"Anda siapa?"
"Hmm... Penyelamatmu?" Dia tersenyum kecil
"Ah, terimakasih atas bantuannya tuan, tapi bolehkah saya tau siapa anda?" Rinaya terlalu berbahasa Formal kepada seseorang yang tidak terlihat seperti bangsawan. Tentu dia lakukan itu untuk mencari aman, kali ini dia harus bersikap baik.
"Pertanyaan itu tidak tepat. Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?"
"Aku, Aku- "
Dia bersandar di dinding dan kembali bertanya "apa kau pencuri? Atau seorang mata mata? Atau seorang utusan?"
Rinaya mengerutkan dahinya "Pencuri? Mata mata?, Tidak, bukan ketiganya"
"Lalu kenapa kau dikejar oleh mereka?"
"Haha- sepertinya ada kesalahpahaman tadi karena itu-"
"Katakan saja siapa kau? Tidak perlu berbelit aku akan mengampunimu"
Kata kata itu sedikit membuat Rinaya takut. Dia melanjutkan "melihatmu jelas kau tidak memiliki pengalaman beladiri, kau tidak memiliki pengetahuan tentang tanah ini, kau bahkan tidak tau jalan dan tujuanmu, jadi ku yakin kau bukan pengantar pesan, kau juga bukan pejuang, kemungkinan terdekat adalah kau seorang gelandangan atau pencuri atau seseorang yang kabur dari tahanan"
"Kau mengikutiku?"
"Tentu saja, kau mencurigakan. Setelah melihatmu di kedai ku kira kau hanya seorang malang. Katakan padaku, kau berasal dari mana? Kenapa kau tau kalimat salam itu?"
"Aku.. Apa itu dilarang disini?"
"Dari mana asalmu?"
"Tidak tau, aku tersesat"
"Kau tidak tersesat, kau menuju ke suatu tempat"
"Kau sudah tau untuk apa lagi bertanya?" Rinaya beranjak beberpa langkah pergi, tapi pria itu segera menghalanginya "sebenarnya apa maumu?"
"Ohoo, dimana kata kata formal yang tadi terucap."
"Dengar ya, aku sangat berterimakasih kau sudah menolongku, kali ini aku sedang terburu buru, aku tidak bisa bermain dengan mu, jadi, permisi"
Dia mencengkram lengan Rinaya ketika dia hendak pergi, lagi lagi dia menahannya
"Ah, sakit, sebenarnya apa maumu?"
Nada keras itu menyadarkan pria itu. Dia tersenyum pahit.
"Ah~ aku jadi teringat sesuatu. Satu pertanyaan lagi. Kenapa kau berpenampilan seperti laki laki?"
Rinaya terkejut mendengar itu, apakah penyamarannya sangat terlihat?
Dia pun melanjutkan "kau sangat misterius itu membuatku semakin penasaran"
"Aku tidak punya waktu bermain dengan mu, sebaiknya kau lepaskan tanganmu agar aku bisa pergi"
"Kau pikir bisa semudah itu? Kau bahkan tidak tau siapa aku. Apa kau kira aku tidak lebih berbahaya dari prajurit itu?"
Rinaya menyingkap lengannya hingga cengkraman pria itu terlepas.
"Dari yang kulihat, kau bukan seorang bangsawan, bukan pedagang budak, bukan prajurit, bukan cendikiawan... Biar ku tebak, apa kau seorang Bounty hunter?"
"Apa itu Bounty hunter?"
Astaga aku lupa malah memakai bahasa asing. "Hmm istilah lain semacam orang yang bekerja untuk mencari sesuatu atau seseorang dan ditukar dengan uang yang banyak"
"Hahaha" dia tertawa seakan tebakan Rinaya tepat.
"Tebakanku tepat bukan? Jadi, siapa yang memintamu menangkapku?" Nada bicara Rinaya seakan sudah mengetahui semua "biar ku tebak lagi, hmm...tidak ada, ya kan? Tidak ada seorangpun yang memintamu menangkapku. Kau ingin tau yang ku pikirkan?"
"Haha, kau semakin menarik"
"Aku baru tiba hari ini, aku bahkan tidak tau ini dimana, aku tidak kenal siapapun dan tidak ada seorang pun yang mengenaliku sebelumnya, jadi bagaimana mungkin ada yang ingin menangkapku" rinaya tersenyum seakan semua pikirannya telah dikeluarkan. "Permisi"
Pria itu tersenyum tanpa mengejar kepergian Rinaya. Sorot matanya seakan tidak rela membiarkan nya pergi. "Ada hal yang membuatku tertarik padamu, bukan karena penyamaranmu, bukan juga karena ucapan salam itu, tapi seperti ada hal besar yang kau miliki"
-------
__ADS_1
"Adrian Dylan?"
Seseorang memanggil namanya ketika pria itu berjalan di keramaian desa.
Dia menoleh ke sumber suara itu "..." Seseorang berdiri di sana dengan sebuah kertas di genggamannya
"Nama Saya Kardi, utusan dari tim penyelidik istana. Saya membawa ini untuk tuan Adrian." Dia menyodorkan kertas itu. Sebuah amplop berstample khas milik tim penyelidik istana.
"Tumben sekali, tim penyelidik istana memberiku surat resmi" Dylan menerima dengan satu tangannya.
"Saya hanya menyampaikan ini, untuk selebihnya mungkin akan di jelaskan di dalam surat itu, saya permisi"
Dylan duduk di salah satu kursi di sebuah kedai tidak jauh dari tempatnya berdiri. Perlahan membuka amplop dan mengeluarkan isinya. Sebuah sketsa gambar wajah seseorang terpampang disana. Dia tersenyum pahit melihat gambar itu.
"Kenapa tim penyelidik istana mencari orang ini? ... Ah mereka sangat lambat. Hal seperti ini pun harus aku yang melakukannya sendiri"
Dia termenung sejenak lalu mengeluarkan kertas lain di dalam saku nya. Dia membandingkan kedua kertas itu. "Apa dia orang yang sama?" Dia dengan teliti melihat seluruh goresan tinta di kertas itu. Salah satu bergambar sketsa wajah, satu nya lagi tulisan berisi ciri ciri orang yang harus dia cari. Hanya saja ini perintah dari dua orang yang berbeda.
"Dia benar benar orang yang menarik"
--------
Rinaya melanjutkan perjalannya, pemukiman yang dia lewati ini ternyata bukan kota tujuanya, kota itu masih cukup jauh, pemukiman ini hanya desa kecil biasanya di pakai untuk persinggahan atau untuk bermalam. Dilihat dari banyaknya rumah rumah yang menjadi tempat penginapan. Tidak se ramai di kampung kulon tapi ini lebih baik daripada jalanan yang sepi.
Rinaya terus barjalan meninggalkan pemukiman itu, entah apa nama desa kecil itu semua masih memakai huruf kawi. Meskipun Rinaya pernah belajar huruf huruf itu, tapi entah mengapa kali ini dia seperti melupakan nya. Dia hanya bisa mengenali beberapa huruf saja. Dia merasa kemampuannya lima belas tahun lalu pun seperti menghilang. Kali ini Rinaya memang kembali menjadi orang biasa lagi.
Rinaya tidak menyadari sama sekali sedari tadi, ada orang yang mengikutinya. Ya, dia laki laki yang tadi menolognnya.
"Dasar bodoh, aku mengikutinya sangat dekat pun bahkan dia tidak menyadari sama sekali. Padahal tadi dia berlaga sangat hebat"
Rinaya berdiri di tengah sebuah jembatan besar. Jembatan yang menghubungkan dua daratan yang terpisah oleh sungai yang lebar. Salah satu sisinya nampak air terjun mengalir deras. Pantulan pelangi terlihat diantaranya. "Aku rindu suasana ini" ujar Rinaya melihat pelangi itu. Pemandangan yang indah. Tempat ini cukup ramai. Terutama oleh muda mudi yang terikat asmara. Mereka seakan di pertemukan di jembatan ini.
"Menunggu seseorang?" Suara seorang pria bertanya di belakangnya. Rinaya sangat menikmati pemandangan itu hingga tidak menyadari ada orang yang berdiri di dekatnya.
Segera Rinaya menoleh. Tidak menyangka dengan siapa yang ada di sana. "Kau masih mengikutiku?"
"Tidak, kau yang terlalu bodoh hingga tidak menyadari aku di belakangmu sejak tadi"
"Sebaiknya kau-"
Dylan meraih pundak Rinaya dan membalikan badannya ke arah air terjun "Diam lah. Mereka masih terus mencarimu" dia bicara seperti berbisik
Dua orang prajurit tadi seperti memberi laporan kepada pimpinannya. Dia di beri komando, mengangguk, lalu kembali pergi. Tapi pimpinannya itu tidak beranjak dari tempatnya. Dia bicara pada seseorang yang sedari tadi mendampinginya, mengarahkan pandangannya kepada Rinaya dan Dylan. Seseorang itu pun datang menghampiri mereka
"Sepertinya kita ketahuan" ujar Rinaya
Dylan memutar lengan rinaya dan menjatuhkannya ke bawah. Tangannya terpelintir ke belakang. Dylan menekannya hingga Rinaya tidak dapat bergerak sama sekali
"Sialan, apa kau lakukan" teriak Rinaya
"Ya ya terus saja berteriak itu tidak akan ada gunanya kau sudah tertangkap basah" Rinaya tau bahwa Dylan sedang berakting.
"Siapa dia?" Tanya seorang yang baru saja menghampirinya.
"Dia bukan siapa siapa. Dia hanya pencuri yang sudah lama aku cari"
Dia berjongkok dan melihat wajah Rinaya lekat lekat. Rinaya hanya bisa mengalihkan pandangannya "Sepertinya aku mengenalnya. Aku akan membawanya kepada tuan ku."
"Apa yang kau lakukan kenapa kau mengikatku" Rinaya terus berteriak tidak rela di perlakukan seperti itu.
"Begini, aku mendapat informasi bahwa ada mata mata yang bekerja sama dengan negeri timur tengah. Dan ciri cirinya percis seperti ini. Jika kau tidak keberatan menyerahkannya maka kami akan menghadiahkanmu uang yang sangat banyak. Lagipula ini demi tanah kita. Jika kau bekerja sama kau seperti seorang pahlawan bukan?"
"Maaf tuan sepertinya anda salah paham aku yakin dia hanya bocah bodoh dia bahkan buta huruf tidak mungkin seorang mata mata, lagipula aku sudah mencarinya sekian lama"
"Begitu rupanya, kau sungguh yakin soal itu"
"Tentu saja"
"Baiklah kalau begitu aku tidak akan memaksa lagi, permisi" dia pergi menemui pimpinannya lagi. Tidak ada ekspresi yang signifikan.
"Sialan kenapa kau harus mengikatku segala, lepaskan aku"
"Tidak bisa nona, aku melakukan ini juga ada alasannya. Dan aku memang ingin menangkapmu"
Semua orang yang tiba tiba memperhatikan kini kembali bubar. Satu hal yang di sadari Rinaya ketika bangkit dan berdiri. Seseorang yang tadi di temuinya. "Balapati" Dylan pun menoleh ke arah yang sama.
Seorang rupawan dengan tubuh tegapnya, warna kulit yang sedikit pucat dan alis yang sedikit tajam. Raut wajah dingin itu di pertemukan lagi dengan Rinaya. Balapati itu berjalan bersama rombongannya.
Seragam itu sepertinya aku pernah melihatnya pikirnya.
Rinaya tersenyum. Senang melihat dia lagi. Begitu rombongan itu mendekat Rinaya pun bersuara "Tuan! Tuan Balapati"
Balapati itu berhenti dan menatap Rinaya. Tapi tidak bersuara sedikitpun.
"Untuk pertolongan anda saat itu, saya ucapkan terimakasih banyak" Rinaya menundukan kepalanya dengan sopan dan tersenyum. Tapi balapati itu hanya menatapnya seakan heran.
"Kau tertangkap lagi?" Tanya nya dingin
"Ah tidak. Aku hanya-"
"Hey bocah sebaik kau menutup mulutmu. Kita harus segera pergi. Ayo" Dylan merogoh pundak bajunya dan menggusurnya paksa.
"Berhenti melakukan ini padaku, kau sangat kasar"
Mereka berjalan menjauh dari jembatan itu. Begitu pula dengan balapati itu.
Hanya selang sepuluh menit. Prajurit itu kembali mengejar. Namun kali ini mereka tidak bisa berbuat banyak. Prajurit itu lebih banyak dan segera mengepung tempatnya berdiri. Mereka mengelilinya tanpa celah.
"Yatuhan, aku muak dengan keadaan seperti ini"
"Kau memang orang yang menarik. Tidak heran mereka sangat giat mencarimu" ujar Dylan.
"Memangnya apa salahku?"
"Kau akan segera tau kita tanya saja kepada mereka"
Seorang pemimpin mereka muncul dari balik lingkaran manusia.
"Kau yakin dia orangnya?" Dia bertanya pada salah satu anak buahnya dan anak buahnya menjawab dengan yakin.
"Tuan, apa ada masalah? Mengapa kami dikepung?" Tanya Dylan
"Maaf membuatmu tidak nyaman tapi kami benar benar harus membawanya" dia menunjuk kepada Rinaya
__ADS_1
"Hey, siapa dia?" Bisik Rinaya kepada Dylan
"Dia putra keluarga besar Wilis. Keluarga yang sangat berpengaruh di seluruh tanah sunda, bahkan sejak beberapa tahun kebelakang dia sudah sangat berpengaruh terhadap istana Sunda."
"Wilis? . Apakah dia Boris?"
Seketika Dylan menatap Rinaya "kau mengenalnya?"
Rinaya perlahan bergeser ke belakang Dylan seakan tidak ingin bertemu atau bahkan tidak ingin berurusan dengannya. Raut wajahnya memucat. Ketakutan terpancar darinya.
"Ada apa denganmu?" Tanya dylan
"Siapapun kau, Aku mohon padamu jangan biarkan mereka membawaku."
Dylan menjawab perkataan Boris " maafkan saya tuan saya juga seorang utusan yang harus melakukan tugas. Saya mohon tuan untuk tidak membuatku kesulitan."
"Lalu siapa yang menugaskanmu hingga bisa menolak permintaanku"
"Untuk detailnya saya juga tidak yakin siapa tapi, ini perintah dari istana." Dylan mengeluarkan amplop ber stempel kerajaan. Itu cukup untuk meyakinkanya. Tidak sembarang orang bisa menerima surat berstample resmi.
Boris berbalik. Dan pergi dari lingkaran itu.
Namun tidak bagi prajuritnya. Mereka bahkan menghunuskan senjatanya.
"Sepertinya mereka lebih nekat. Bahkan setelah memperlihatkan surat resmi"
"Dengan jumlah sebanyak ini apa kau bisa lolos?. Hey Tolong lepaskan ikatanku."
"Kau sebaiknya diam saja"
Serentak mereka menyerang. Sepertinya perintah dari boris adalah benar benar menangkap Rinaya dan membunuh Dylan. Akan sangat berbahaya bagi boris jika Dylan masih hidup setelah kejadian ini.
Dylan benar benar memiliki surat resmi dari istana. Maka perbuatan Boris kali ini adalah satu bentuk penghianatan terhadap istana.
Dylan cukup hebat, menghadapi prajurit itu. Sangat lihai meski dia belum menggunakan senjata. Padahal pedangnya masih tergantung di sabuk pinggangnya. Dia menggunakan pedang itu jika dia merasa sudah tidak sanggup bertarung tangan kosong. Beruntung Rinaya tidak di serang sama sekali. Hanya saja mereka selalu mencoba menangkapnya. Beberapa kali mereka mencengkram lengannya dan menjauhkannya dari Dylan. Dylan berhasil membunuh mereka separuhnya. Tentu saja jumlah mereka terlalu banyak. Hingga Dylan harus menggunakan pedangnya. Beberapa kali prajurit itu berhasil melukai Dylan "sial" umpat Dylan.
Kini mereka terpojok. Jumlah prajurit itu masih cukup banyak. Kondisi Dylan sudah buruk. Luka dimana mana. "Buka ikatanku. Setidaknya aku bisa sedikit membantumu"
"Selama aku belum yakin membunuh mereka semua aku tidak bisa melepasmu. Mereka akan tau jika kita hanya berpura pura."
"Nyawa kita dalam bahaya tidak kah kau memikirkan dirimu sendiri?"
"Tidak. Perintah adalah yang utama"
"Dasar kepala batu"
Prajurit itu kembali menyerang Dylan, dia bergeser menghindar namun dia tidak sadar telah membuka jalan bagi prajurit itu menusukan pedangnya ke arah Rinaya.
Di tengah keadaan genting itu. Beberapa centi saja pedang itu hampir menembus tubuh Rinaya. Semburat cahaya biru menangkisnya. Semua orang terkejut dengan itu. Seseorang berjalan dengan gagahnya bersama kelompoknya.
"Balapati" ujar Dylan "kenapa dia kembali lagi?" Dylan menatap Rinnaya yang mematung melihatnya datang. "Hh. Sebenarnya siapa kau?"
"Ha?"
Dylan tersenyum pahit. "Kau membuatnya kembali kesini. Dan kau juga membuat mereka kembali kesini. Aku tidak akan melepaskanmu"
"Bbalapati"
"Bagaimana ini, balapati datang"
"Apa yang harus kita lakukan"
Prajurit itu berubah ketika Balapati itu datang. Mereka seakan takut dengan kehadirannya.
"Jangan gentar tetap teguh kepada misi kita"
Prajurit itu kembali menyerang Dylan. Dan Balapati beserta kelompoknya dengan sigap menghadang. Kini Rinaya di kelilingi dua lingkaran dan dia berada di porosnya. Ikatannya terlepas. Meski tidak berdampak banyak. Tapi setidaknya dia bisa melindungi diri.
Tidak lama pasukan boris datang lagi dengan jumlah yang lebih banyak. Boris menyadari bahwa ini misi yang tidak akan mudah. Karena itu lah dia menambah pasukannya. Kini pasukan boris lebih kuat. Tidak sepwrti sebelumnya yang hanya prajurit tingkat ketiga. Kali ini dia mendatangkan prajurit tingkat pertama. Beruntungnya kali ini Dylan di bantu oleh seorang Balapati. Tidak ada yang tidak mengakui kemampuannya. Bahkan anak buahnyapun bukan orang orang yang bisa di sepelekan.
Rinaya menarik lengan baju Dylan yang berdiri di depannya dan berbisik. "Balapati ini sebenarnya siapa?"
"Namanya Pradhika Wiriya. Penerus keluarga Wiriya yang juga sangat berpengaruh di kerajaan. Bisa di bilang kita sedang beruntung dia berada di pihak kita."
"Pradhika Wiriya?" Tentu saja Rinaya mengenal nama itu. Lima belas tahun lalu.
"Balapati Wiriya, ada urusan apa hingga kau berani mencampuri urusanku?"
"Lalu apa urusanmu hingga bisa mengganggunya melakukan perintah resmi dari istana?"
"Karena aku punya tujuanku sendiri. Dan aku tidak percaya padanya. Bisa saja itu surat palsu. Bagaimana denganmu?"
"Jika tujuanmu adalah bocah itu. Maka kau sebaiknya pulang saja. Karena dia miliku."
Semua orang terkejut mendengar itu. Kali pertama seorang Balapati Wiriya mengatakan itu. Dia tidak pernah terlalu peduli dengan hal yang bukan urusannya. Bahkan semua orang tau bahwa dia adalah Balapati yang berhati dingin. Tidak segan untuk menangkap. Membunuh atau apapun itu. Namun satu yang pasti. Dia tidak akan melukai siapapun yang sama sekali tidak bersalah. Karena itu lah semua orang menaruh hormat padanya.
"Milikmu? hh.. Kalau begitu aku akan merebutnya darimu"
Prajurit itu kembali menyerang meski jumlah mereka lebih banyak. Tapi balapati dan pasukannya tidak gentar. Bahkan ekspresi wajahnya benar benar teguh. Kali ini 50 orang melawan hanya 9 orang saja. Tapi Rinaya tidak khawatir sama sekali. Dia tau kemampuan Dhika ketika lima belas tahun lalu dan tentu dia pasti lebih kuat saat ini. Tapi tentu saja mereka harus tetap waspada karena jumlah mereka lebih banyak.
Pertarungan sangat sengit. Beberapa anak buah Balapati terluka.
"Balapati, kami tidak bisa lagi menahan mereka. Jumlah mereka terlalu banyak."
Begitu juga dengan Dhika yang hampir saja terluka. Memang kemampuannya berkembang sangat pesat. Namun tetap saja menghadapi jumlah sebanyak itu. Diapun bisa kewalahan. Boris membidik Dhika dengan panah beracun nya. Rinaya tau bahwa Boris orang yang mengerikan. Dia akan melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya.
Rinaya berpikir apa yang bisa dia lakukan untuknya. Setidaknya dia harus bisa membuat kesempatan untuk mereka melarikan diri. Rinaya terus berpikir. Semakin lama mereka semakin terpojok. Seketika Rinaya teringat dulu dia adalah seorang pemanah yang hebat. Tentu saja dia juga ragu apakah kemampuannya sekarang masih ada atau malah sudah lenyap. Tapi berpikir terlalu lama tidak akan membuahkan hasil yang baik juga.
Rinaya harus mencobanya. Sayangnya tidak ada satupun yang membawa busur panah disana. Maka satu satunya cara ialah membuatnya.
Keadaan benar benar sudah sangat genting. Rinaya berusaha mengumpulkan energinya. Dia mengingat kembali ke masa masa lima belas tahun lalu. Ketika dia dengan mudah melakukannya.
Perlahan energi itu membentuk sesuatu. Sebuah cahaya energi berwarna biru kekuningan membentuk sebuah busur di tangannya. Dia membidik ke satu arah. Boris. Dia menarik pegasnya, seiring dengan itu anak panah pun terbentuk diantaranya. Dhika dan Dylan tertegun melihat nya menarik pegas itu. Seketika anak panah itu melayang melesat kearah yang di tujunya. Anak panah itu terbelah menjadi enam yang keseluruhannya berhasil menembus target. Boris dan lima pengikutnya. Hanya saja. Sebuah jarum sumpit entah darimana mendarat di leher Rinnaya sehingga Bidikan Rinnaya pun meleset. Biasanya dia bisa langsung membidik jantungnya namun kali ini meleset sekitar sepuluh centi. Boris hanya tergores sedikit di bagian lengannya.
Semua orang di buat takjub dengan pemandangan itu. Semua orang terhenti tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Rinaya satu satu nya orang yang bisa melakukan itu. Melesatkan anak panah menembus lebih dari lima orang. Bahkan dulu Rinaya bisa menembak sepuluh target dalam sekali tembakan.
"Itu... Putri... Nirmala?"
"Tapi dia anak laki laki"
"Hanya Nirmala yang bisa melakukan itu"
Di tengah itu Dhika memandang Rinaya khawatir. Rinaya mencabut jarum sumpit yang menusuk lehernya. Dia memandangi jarum itu lekat lekat. Dia seakan pernah melihat itu sebelumnya. Dilihatnya Dhika berlari menghampiri Rinaya. Pandandangan Rinaya mulai pudar. Ada racun di jarum itu. Rinaya berusaha melangkahkan kakinya mendekati Dhika namun efek racun di jarum itu sangat lah cepat. Hanya beberapa langkah saja pandangan Rinnaya menjadi gelap. Dia terkulai jatuh di tempat itu. Beruntung Dhika sampai padanya lebih cepat sehingga Rinaya sampai di pangkuannya sebelum menyentuh tanah.
__ADS_1