KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG

KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG
Bab 13


__ADS_3

Pov Fatira


Siapa disini yang suka nungguin hari weekend?


Kalau ada kita sama sayang!


Sesuai janjiku ke Dio beberapa hari yang lalu, akhirnya hari ini kesampaian juga untuk memanjakan diri.


Hitung-hitung rileks sebelum perang dunia perkantoran part yang kesekian hehe.


" Mbak sutil ibu mana??" todong ibuku saat aku berjalan menuruni tangga.


" Hari ini sampai bu" jawabku.


'untung aja kemarin udah dapet' batinku lega.


Kemarin setelah pulang dari kantor Tian aku langsung melipir ke toko perabotan yang ada di daerah B, mungkin Allah kasihan sama diriku sehingga di permudahkan mencari sutil kesayangan ibuku, kalau nggak dapet auto di tendang dari KK nanti mengingat betapa memorialnya sutil itu.


" Sama kan kayak punya ibu?" tanya ibu memastikan.


" Sama bu, Warna bentuk ukuran sama persis, Bonus Ukiran nama ibu yang paling cantik" jelasku.


" Awas aja kalau nggak sama" ancam ibu.


Aku yang mendengar ancaman ibu pun hanya bisa meringis memamerkan gigiku sembari mendudukan pantatku ke kursi meja makan.


" Mbak,, anak bu Ana katanya mau kenalan sama kamu " Ucap Ibu.


" Lagi nggak buka jasa kenalan bu" jawabku malas.


" Mbak yang serius dong!" gemas ibu.


" Lagian mau ngapain kenalan sama mbak bu? Minta di cariin kerjaan?" kesalku.


Aku sudah bisa menduga kemana arah yang di bicarakan ibuku, apalagi kalau bukan Jodoh.


Ibu ku sama seperti ibu-ibu pada umumnya di indonesia, yang fikirannya masih terpatok dengan menikah paling lambat di umur Dua puluh lima tahun.


Lebih dari itu akan di panggil dengan sebutan perawan tua atau nggak laku dan sebagainya.


Lebih baik perawan tua ya khaaan, dari pada baru nikah Tiga Bulan langsung jadi janda!


Untung nggak Janda Bolong takutnya malah di perjual belikan sama emak-emak jaman Now nanti.


Padahal di korea aja umur tiga puluh lima tahun masih banyak yang single aja orang tuanya biasa aja.


' Fix kayaknya gue salah negara' batinku.


"Ya buat kenalan aja siapa tau jodoh" ucap ibu.


" Lagian bu Ana orangnya baik banget loh mbak contoh ibu-ibu solehah gitu, cocok deh kalau jadi mertua mbak " lanjut ibu masih promosi.


" Yang baik kan bu Ana bu bukan anaknya,, belum tentu juga anaknya sebaik ibunya" jelasku tak mau kalah dengan ibu.


" Husshh,, kamu itu kalau ngomong suka ngawur deh" ucap ibu di selingi cubitan kecil di pinggangku.

__ADS_1


" Lagian mbakkan juga udah punya calon imam bu" ucapku mengalihkan.


Ibu terlihat terkejut mendengar ucapanku barusan.


" Siapa mbak?? kok ibu belum di kenalin?" tanya ibu antusias.


" Dia kerja di Korea bu jadi belum sempat ke indonesia" dustaku.


" Siapa namanya? Di indonesia tinggal di mana?" Tanya Ibu semakin semangat.


" Emm,, Dia anak jakarta juga kok bu cuman keluarga dia udah lama pindah ke korea" jawabku masih berbohong.


" Gitu yaa...." gumam ibu.


" Orang nya gimana baik nggak sama kamu?" tanya ibu lagi.


" Baik banget malahan bu, udah baik ganteng manis macho lagi" jelasku menggebu-gebu.


" Oh ya siapa namanya??


Nanti biar ibu pamerin ke ibu-ibu komplek kalau perlu ibu minta fotonya, enak aja mereka ngatain anak ibu yang cantik ini nggak laku, Ibu nggak terima!".


Aku yang mendengar perkataan ibu pun langsung meringis.


" Namanya Taehyung bu, Ini fotonya" aku memperlihatkan foto selfie bias ku yang sedang berbaring di tempat tidur yang ku jadikan lockscreen hp.


" Tapi ibu jangan lihatin foto ini ke ibu-ibu lain ya, ibu kan tau kebanyakan ibu-ibu di komplek ini juga punya anak gadis,, Mbak nggak mau adanya bibit pelakor bu" jelasku beralibi.


" Ganteng banget ya mbak, pantes aja mbak gak mau kalau ibu kenalin sama laki-laki, lah wong pacar mbak aja ganteng nya kebangetan" ucap ibu.


" Nah itu ibu tau" jawabku bersyukur.


Sebelum suara menyebalkan mengganggu ketenangan sesaat ku.


"Sudahi Halu mu,, Terima kenyataan lebih baik" sela Fania sembari menirukan nada iklan Yakult yang ada di Tv-Tv.


Aku langsung memelototkan mata ku ke arah Fania.


Fania yang mendapat pelototan mata dari ku hanya tersenyum mengejek.


" Aduhh Mbak,, upik abu kayak kita mah gausah ngarepin laki-laki spek dewa kayak dia deh" cerocos Fania.


" Dihh kamu kali upik abu, aku mah spek Cinderella " sombongku.


" Sadar mbak,, segeralah engkau bangun dari tidur nyenyak mu wahai Mbak ku tersayang" oceh Fania sambil mencubit gemas kedua pipi ku.


" Maksud kamu gimana Fania, kenapa kamu bilang mbak mu Halu, terus kenapa kamu bawa-bawa Dewa??"


" Ooohh,, Apa nama pacar mbak mu namanya Dewa Taehyung? Wahh bagus banget ya namanya seganteng orangnya" puji Ibuku.


Aku yang mendengar ucapan polos Ibuku sebisa mungkin menahan tawa agar tak meledak saat itu juga.


" Bukan bu,, Yang tadi di tunjukin sama mbak itu bukan pacarnya tapi salah satu art,,, hempp"


Belum selesai Fania berucap aku langsung membekap mulut adik kesayangan ku itu supaya tidak membongkar rahasia yang baru saja ku deklarasikan.

__ADS_1


" Ih mbak tangannya bau terasi tau!!" kesal Fania.


" Sukurin kualatkan jadinya" ucapku tertawa terbahak-bahak sebelum kejadian naas menimpa diriku sendiri.


' Jedukk Byurrr'


" Aduhh basah " pekiku melihat tumpahan susu mengenai baju ku yang saat ini berwarna putih, akibat senggolan tangan ku sendiri.


Fania yang melihatku basah kuyup terkena tumpahan susu pun seketika tertawa ngakak sampai gelendotan ke kursi.


" KARMA DI BAYAR KONTAN YA MBAK" ledek Fania masih tertawa.


Aku yang mendengarnya pun seketika melotot ke arahnya.


" Makanya jangan coba-coba bohongin orang tua"


" Siapa yang bohongin or--"


" Ya ampun kalian !! baru ibu tinggal sebentar udah begini meja makan jadinya" omel Ibu yang telah kembali dari kamar mandi.


" Ibu nikahin kalian nanti baru tau yaa" gerutu ibu sembari membereskan kekacauan yang kami buat.


Aku melirik ke arah Fania menyuruhnya tutup mulut.


" Kalo nggak uang jajan gak bakalan masuk bulan ini" ucapku mengancam dengan berbisik.


" Iss pelit banget sih mbak"ucapnya sambil mencebikkan bibir.


" Bu, Mbak ganti baju dulu " pamitku .


" Terus yang bantuin ibu cuma aku gitu" omel fania.


" Uang jajan" ancamku.


Kulihat Fania langsung membrengut mendengar ancaman ku, aku yang melihat dia langsung kicep pun berusaha menahan tawa supaya tidak terdengar oleh ibu.


Sudah hal biasa bagi ibu melihat dua anak gadisnya saling menjahili seperti saat ini. Beliau tidak pernah komplain melihat kami sering membuat kerusuhan, seakan ibu sangat tau cara kami menunjukan kasih sayang terhadap satu sama lain.


Setelah aku mengganti baju aku langsung bergegas pamitan dengan ibu.


" Bu, mbak pergi dulu ya sama Dio" pamitku mencium tangan ibu.


" Hati-hati naik motornya, pulangnya nanti mampir ke toko ya" sahut Ibu.


" Siap Komandan" jawabku sembari mengecup ke dua pipinya.


" Ya elah mbak,, Jomlo weekend mau kemana sih nambah -nambahin macetnya jakarta aja" Celetuk Fania.


" Anak kecil diam aja ya dirumah main barbie sama masak-masakan aja" ledekku.


" Saya bukan anak kecil lagi Ukhti sudah Dua Puluh Dua Tahun" kesal Fania.


" Sudah berantemnya buruan berangkat sana" ucap ibu mengintrupsi.


" Bye Adeeek!! Doain ya semoga Mbak mu ini ketemu pangeran berkuda putih nanti" kelakarku.

__ADS_1


" Pangeran berkuda putih juga mikir-mikir kali mbak kalau ketemu yang modelannya kayak mbak!!" Seru adikku.


Aku yang mendengar seruannya pun langsung tertawa.


__ADS_2