KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG

KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG
Bab 23


__ADS_3

Wushhhh seketika hilang sudah virus baper yang sempat menggetarkan hati Fatira beserta pesonanya tadi.


'Aduh Ra-raa kayak elo tuh nggak tau aja sifat nyebelinnya si boss ngapain tadi sampe terpesona segala' kesalnya dalam hati. Entah lah yang jelas sekarang ia seperti di bawa terbang tinggi lalu di hempaskan ke tanah tanpa aba-aba, sakit euyy!


"Wahai Bapak Darren yang terhormat saya begini juga gara-gara anda ya, anda dengan enaknya memajukan jadwal keluar kota kali ini dan menghibahkan semua pekerjaan yang harusnya saya kerjakan beberapa hari kedepan selesai hari itu juga, belom lagi saya harus packing berhubung saya pulangnya tengah malem jadi saya nggak keburu lagi jadinya pagi-pagi buta saya harus packing, anda jangan amnesia dadakan gitu dong pak" omel Fatira sembari mengerucutkan bibirnya.


Darren yang mendapat omelan dari Sekretarisnya bukannya sakit hati ia malah tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah menggemaskan dari Fatiranya.


"Tuh kan Bapak emang paling seneng deh liat saya kelimpungan kayak gini, iya kan" tuduh Fatira.


"Aduhh aduhh sudah sudah saya nggak kuat" pinta Darren masih tertawa sembari memegang perutnya.


"Pak saya lagi nggak ngelucu loh" ambek Fatira mendelik judes.


"Tapi kamu lucu apalagi kalau lagi marah-marah kayak gini"


"Serah bapak ajalah" kesal Fatira.


Darren yang melihat Fatira kesal pun segera memutar otak dan gotcha ia sudah mendapatkan ide untuk mejahili fatira. Apalagi kalau bukan mengandalkan jabatan.


"Tapi setelah saya fikir-fikir kamu tadi lumayan kelewatan ya, mana ada sekretaris yang berani menceramahi atasannya" ucap Darren melipat tangannya memberikan tatapan intimidasi.


Jederrr!!


"Aduhh Pak.. bukan saya pak yang kelewatan tapi mulut saya nih" ucap Fatira sembari memukul bibirnya.


"Jangan dipukul" larang Darren dengan segera Darren meraih tangan Fatira dan menggengamnya lembut.


'Yang boleh mukul bibir mu cuma aku, tentu harus pake bibirku bukan tangan' lanjutnya dalam hati.


Eittss jangan tanyakan lagi bagaimana kuatnya hati Fatira ngereog kali ini efek tak pernah di sentuh oleh pria lain selain Tian dan Dio.


"Nanti kalau bibirmu bengkak di kira kita lagi ngapa-ngapain sama orang" jelas Darren.


"Emang orang kita ngapain pak, paling juga di kira orang kepentok meja" saut Fatira polos.


'Hadehh ternyata ni cewek bener-bener polos' batin Darren.

__ADS_1


"Oke balik ke topik awal! Saya sepertinya harus memberi pelajaran sama kamu" ujar Darren menakut-nakuti Fatira sembari menekan-nekan handphone-nya.


"Pak Bapak nelfon siapa?" tanyanya kalang kabut.


"Manajer Hrd.. Saya minta bonus kamu bulan ini di potong 50 persen" ucap Darren tak berdosa.


"Ampun pak maaf deh lain kali saya nggak bakal ngulangin lagi.. Saya janji Pak" pinta Fatira menampilkan puppy eyesnya berharap bossnya akan memaafkan dirinya dan tentunya membatalkan acara pangkas memangkas bonusnya karena ia sudah janji dengan Fania akan membelikan tiker konser Kpop kesukaan adiknya bulan ini.


'Alamat kapal kalo sampe gaji gue di potong, bisa ngereog sebulan si Fania kalo nontonnya sampe nggak jadi' keluh Fatira dalam hati.


"Tergantung kalau saya tertarik sama tawaranmu saya bakalan batalin" ucap Darren membawa sebuah angin segar untuk Fatira.


"Tawaran apa pak? Jangan uang ya pak, saya ini orang miskin pak nggak punya apa-apa" jawab Fatira masih mempertahankan wajah memelasnya.


"Nggak ada orang miskin yang punya toko roti sama rumah Fatira" gemas Darren tak habis fikir.


"Itu milik ibu saya pak bukan sayaaa, saya ini hanya sekedar numpang bahkan kadang saya juga merangkap jadi Art kasihanilah saya Pak" ujar Fatira hiperbola.


"Oh gitu" Darren mengangguk-anggukan kepala dan sesekali tangannya mengelus dagu


"Hehe.. Please pak ini nggak ada apa-apanya kalau di bandingin dengan uang bensin bapak selama sebulan" ujar Fatira memamerkan giginya.


"Ya memang nggak ada apa-apanya" ujar Darren menjeda.


"Lagian saya juga nggak butuh uang kamu, uang saya udah banyak" lanjut Darren menyombongkan diri.


'Alhamdulillah nggak jadi kere sebulan' batin Fatira lega.


"Nah kan Bapak aja sampe bingung kebanyakan uang lah saya? Saya butuh banget Pak uang" ujar Fatira.


"Ck ck.. Bagaimana kalau saya sangat butuh kamu" ucap Darren menatap lekat Fatira.


"Bapak butuh saya buat apa pak? Saya kalau di jual juga nggak laku daging saya pahit pak"


"Atau jangan-jangan Bapak butuh~ Huaaaa jangan pak saya masih ting-ting tolong jangan apa-apain saya" jerit Fatira sambil menutupi dadanya.


"Haisshh.. Kamu ini pikirannya! Saya nggak segila itu" kesal Darren menjitak kepala Fatira.

__ADS_1


"Lah Bapak ngomongnya jangan ambigu gitu dong makanya" saut Fatira sembari menggosok-gosok kepalanya.


"Kamu aja yang fikirannya kotor, Makanya kalau mandi berendam yang lama biar bersih sekalian otaknya"


'Nahkan si Bapak ngawur jangankan Bathtub lah orang kamar mandi gue aja masih pake gayung yang bentuknya lope-lope' jawab Fatira tentunya dalam hati.


"Atau jangan-jangan kamu yaa yang pengen di gituin sama saya" tuduh Darren sambil memperhatikan fatira intens dari atas ke bawah semabri menjilat bibirnya.


"Bapak jangan macem-macem ya! Saya salah satu pemegang sabuk hitam lohh saya bisa bikin bapak masuk rumah sakit dalam sekali gerakan" ancam Fatira disela ketakutannya.


"Hahaha.. Wahhh saya semakin tertantang nih" goda Darren menaik turunkan alisnya.


"Paakk please dehh" rengek Fatira.


"Makanya dengerin dan cerna dulu kalau saya lagi ngomong jangan main potong aja" ujar Darren mengacak-acak rambut Fatira.


'Ya elu makin kesini malah makin kesana ngomongnya kan gue jadi negatif duluan' batinnya mendumel sambil tangannya merapikan rambutnya lagi.


"Nanti malam jam 7 kita keluar pake pakaian biasa, saya mau kamu traktir saya selama 7 hari"


"Haa serius Pak? Oke saya terima tapi saya yang milih tempat ya pak" pintanya lagi.


"Ck..ck.. Kamu kapan sih nggak tawar menawar sama saya" omel Darren.


"Ya kalau Bapak yang pilih tempat dompet saya bakalan menjerit pak, jangan disamakan dong Pak Rakyat Jelata seperti saya dengan anda yang notabene-nya sultan sejak dini" jelas Fatira.


"Saya juga orang biasa kok, yang sultankan orang tua saya bukan saya" jawab Darren.


"Ck..ck.. Bapak ini merendah untuk meroket bukan meninggi lagi" cibir Fatira.


Darren hanya bisa tertawa mendengar cibiran dari Fatiranya.


Dan setelah itu mereka langsung fokus kembali ke pekerjaannya hingga waktu pulang tiba mereka hanya mendiskusikan tentang pekerjaan dan sesekali di selingi ceplosan Fatira yang membuat Darren tertawa.


Semua itu Fatira lakukan hanya sekedar untuk merilekskan wajah dari ketegangan yang mereka hadapi dan sedikit mengurangi stres akibat pekerjaan yang sangat memeras otak kali ini.


Dan tak terasa semuanya bisa terlewati begitu saja sampai mereka selesai membereskan masalah di perusahaan cabang dalam waktu satu hari. Fatira sungguh bangga karena ia yang sebagai sekretaris sekaligus partner Bossnya ia bisa mengimbangi ritme kerja sang Boss.

__ADS_1


__ADS_2