
Sekitar pukul 09.00 pagi Fatira dan Darren menghadiri meeting yang dipimpin langsung oleh Darren selaku CEO, karena memang sudah ada masalah sebelumnya tentang jumlah aliran biaya yang tak sesuai dan pembangunan beberapa proyek yang sedang berlangsung masih banyak mengalami problem.
Meeting berjalan sangat alot karena memang seserius itu masalah tentang proyek yang mangkrak.
Sebenarnya masalah sudah mendapatkan solusi tetapi karena ada antek-antek si tikus seakan mereka takut rencananya terbongkar padahal memang sudah terbongkar tinggal menunggu waktu beberapa jam saja.
Sekitar pukul 11.45 meeting baru selesai. Fatira menghela nafas lega pertanda ia memang selelah itu dengan drama yang diciptakan oleh antek-antek Pak Wira.
"Bapak mau makan siang di sini aja atau di luar" tanya fatira setelah selesai meeting.
"Disini saja,, kamu pesen dua porsi"perintah Darren.
"Bapak lagi ada tamu?"tanya Fatira bingung.
"Atau masih ada jadwal lain yang saya tidak tau" ucap Fatira membuka ulang schedule yang ada di Tab-nya.
"Enggak" singkat Darren
"Terus,, kenapa Bapak pesan 2 porsi?" tanyanya bingung.
"Saya mau makan sama kamu emang nggak boleh?" Darren berdecak kesal karena lagi-lagi sekretaris sekaligus pujaan hatinya ini sangat tak peka.
"E-eh,, Nggak usah Pak saya bisa makan di kantin?" tolak fatira.
Darren yang mendengar menolakkan dari sekretarisnya pun semakin sebal karena niat baik sekaligus modusnya selalu mental di fatira.
"Saya nggak ada maksud apa-apa fatira kalau kita makan bareng akan sangat menghemat waktu banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan"
"Dan satu lagi dua hari lagi kita bakalan dinas ke luar kota, saya hanya mau memastikan kalau kamu makan dengan baik dan nggak akan tumbang saat waktu keberangkatan nanti dengan alasan Asam lambung naik atau lain sebagainya" alibi Darren.
'Idihh gue nggak selelemah itu kali' cibir Fatira dalam hati.
Setelah mendengar penjelasan dari Boss-nya pun mau tak mau mengikuti perintah, walaupun ia sangat tak nyaman dan sedikit menggerutu tapi ia bisa apa .
'Nasip-nasip gini amat jadi karyawan'keluhnya dalam hati.
Niat hati ingin segera me-refresh otaknya karena stres dan tekanan saat meeting tadi di kantin dan bertemu dengan Sohibnya malah ia harus terjebak makan berdua dengan Big Boss.
Walaupun ia keberatan dengan acara makan berdua dengan sang Boss tapi kalau urusan makan memakan apalagi gratis ia sungguh tak keberatan.
Kalau bicara soal Gengsi? Fatira sama sekali tak memiliki Gengsi apalagi terhadap makanan, karena menurutnya Gengsi tak membuat lambungnya bekerja dan kalau ia mengedepankan Gengsi perutnya tak akan kenyang secara tiba-tiba.
Menurutnya kalau masih berkelakuan sopan semua tak akan menjadi masalah.
Ia lalu langsung mengorder makanan di salah satu restoran yang lumayan terkenal di daerah pusat ibukota, karena perintah dari Big Boss ia juga disuruh order makanannya sendiri.
"Untung di bayar perusahaan coba kalau bayar sendiri kayaknya ginjalku bakalan tercubit deh liat harganya" gumam Fatira.
Bagaimana tidak? kalau harga satu menu saja seharga Skincare fatira yang bisa di pakai satu bulan.
Itu baru satu kalau Dua bayangin saja deh.
Setelah menyelesaikan tugas order meng-order ia langsung fokus ke komputernya untuk meringkas hasil meeting tadi.
Tiga Puluh menit pun berlalu.
Tok! Tok! Tok!!
"Pak makan siang dulu" ucap fatira membawa nampan.
"Hem,, Tolong taruh di meja saja langsung" ucap Deren masih fokus dengan laptopnya sesekali jari-jarinya lincah mengetik.
"Punya kamu mana?" tanya Darren melihat hanya satu porsi makanan yang ada di atas meja.
" Di meja saya pak" jawab Fatira, seketika langsung mendapat tatapan dingin dari Darren yang membuatnya sedikit panas dingin.
"Nggak bisa ya Pak saya makannya di meja saya aja" pinta fatira mengiba.
"Nggak bisa, saya nggak bisa makan sendiri"
Fatira sedikit mengerutkan kening mendengar ucapan yang barusan Bossnya bilang.
'Nggak bisa makan sendiri?'
"Maksud Bapak saya suruh nyuapin Bapak gitu?"
"Bukan gitu saya lagi nggak mau makan dalam suasana hening aja sekarang"
__ADS_1
"Apa perlu saya putarkan musik Rock sekarang Pak biar rame" solusi Fatira.
Darren yang mendengar solusi Fatira langsung memijit kepala pusing dengan sekretaris sekaligus pujaan hatinya itu.
'Dia itu pinter tapi untuk level kepeka-annya terlalu nol persen' batin Darren frustasi.
" Kenapa nggak sekalian kamu undang seluruh divisi biar rame sekalian" sinisnya.
" Bapak mau? Eh- tapi kayaknya mereka sekarang udah makan di kantin deh pak"
" Sudahlah kamu cepat suapin saya aja"
'Lahhh'
" Tapikan tadi Bapak bilangnya-"
" Kamu saya ajak makan bareng nggak mau, ya kalau nggak mau makan bareng ya sudah suapin saya saja" potong Darren pertanda tak mau di bantah sama sekali.
" Pak! alangkah lebih baik kalau bapak makan sendiri aja deh" jawab Fatira, Ia sangat canggung kalau harus melakukan pekerjaan se ekstrim itu.
Kenapa Ekstrim? Karena hampir 27 tahun hidup bisa di bilang pengalaman kontak fisik Fatira dengan laki-laki hanya dengan Dio dan Tian saja.
Makanya bestie!
Kalau sekarang ia disuruh menyuapi Boss-nya walaupun ia Penganut Sekte Anti Nikah, Tapi kalau setiap hari berkontak fisik seintens itu dengan Bossnya yang sebelas dua belas mirip Song Kang hati Fatira bisa KEDER juga bestiee.
" Pak di jobdesk saya memang ada perintah untuk menyiapkan semua keperluan bapak, tapi Pak nggak sampai menyuapi juga pak"
"Lagian pekerjaan saya masih banyak loh pak di depan, bapak makan sendiri aja ya" Fatira menampilkan wajah memelas berharap belas kasihan dari sang Boss.
"Kamu masih ingat kan yang di kantor ini Bosnya siapa?"ucap Darren menekan kata Boss.
" Dan kamu juga bisa lihat" tunjuk Darren ke arah meja dan komputer yang masih menyala.
" Pekerjaan saya juga sangat banyak Fatira bahkan menumpuk sekarang" ucap Darren datar.
" Tapi Pak-" belum selesai Fatira berucap langsung di potong lagi oleh Darren.
" Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau, tapi kamu juga lihat sendirikan pekerjaan saya menumpuk kemungkinan saya juga nggak bakalan sempat makan"
"Jadi kalau saya kenapa-napa kamu yang harus tanggung jawab masalah perusahaan" tekan Darren dengan dingin.
Kadang Fatira kesal dengan diri sendiri yang takut jikalau sang Boss satu ini sudah memasang mode serius, menurut Fatira dua kali lebih menyeramkan dari pada Harimau Sumatra yang ada di Taman Safari Bogor.
Bagaimana ya?
Walaupun Darren terlihat santai ketika bersama Fatira tapi kalau Ia sudah memasang mode serius ia bisa lebih menyeramkan daripada biasanya. Walaupun usianya masih terbilang masih muda yaitu 25 tahun, tapi ia memilik aura intimidasi yang sangat kuat yang mampu membuat lawanya keringat dingin.
"Bapak Bosnya jadi saya harus menuruti perintah Boss" ucap Fatira tersenyum sambil mengeratkan giginya.
"Hemm,, Pinter kalau kamu sudah tahu jadi tunggu apa lagi "
"Aaaaaak"
Walau sedikit deg-degan Fatira berhasil memasukan suapan pertamanya kepada Darren .
'Jadi harus di paksa dulu ya baru jinak dasar kucing'
'Kalau kayak gini pengen langsung gue halalin terus gue teriakin kalau dia cuman milik gue biar semua orang tahu'batin Darren senyam senyum.
"Enak" komentar Darren.
" Saya order di restoran yang banyak direkomendasiin Mbah google pak, kalau bapak suka besok saya akan order lagi"
" Hemm,, Tapi lebih enak masakan kamu sih" ucap Darren tersenyum tipis.
Fatira mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Boss-nya yang mengandung niat terselubung itu.
" Pak kerjaan saya lagi banyak-banyaknya loh,, saya nggak akan ada waktu buat masak bekal apalagi di tambah makan siang" jengkel Fatira.
Darren mengangkat satu alisnya mendengar keluh kesah Fatira.
" Saya kan nggak minta di bawain makan siang,, tadi saya cuma bilang kalau masakan ini kalah enak sama masakan kamu"
" Pak kalau mau muji kira-kira dong,, Saya nggak bodoh-bodoh banget buat bedain mana yang enak level biasa ajah versus enak level bintang lima"
" Kan saya yang rasain .. lidahkan lidah saya, mulut mulut saya, kalau memurut saya lebih enak masakan kamu ya enakan masakan kamu"
__ADS_1
" Pak! Indra Pengecap Bapak nggak papa kan? "
" Ck Ck.. Kamu meragukan indra pengecap saya!" jengkel Darren menoleh ke arah Fatira.
"Bu-bukan begitu Pak" fatira gelagapan.
" Kamu itu aneh disaat orang lain di puji senang kamu malah ngatain indra pengecap saya bermasalah" Ucap Darren tak habis pikir.
"Ya bapak bandinginnya sama restoran Bintang lima,, Saya kan lebih ke sadar diri pak dari pada nggak tau diri" jawab Fatira mengerucutkan Bibir.
" Tapi kalau saya bilang enak ya enak !"
" Saya kan nggak tau bapak ikhlas atau enggak mujinya"
" Bener bener ya!! Kamu itu negatif thinking terus kalau sama saya" Darren menjentikkan jarinya di kening Fatira.
"Aduhhh,, Pak sakit!" protes Fatira menggosok-gosok keningnya.
" Saya bantu kamu geserin otak biar nggak negatif terus sama saya "
" Otak saya sudah berada di posisi sempurna pak" saut Fatira tak terima.
Darren hanya mengedikan bahu cuek sembari terus mengetik di laptopnya sesekali membuka mulut menerima suapan dari Fatira hingga makananya habis.
" Pak minumnya" ucap Fatira menyodorkan air putih ke arah bossnya.
Bukannya mengambil gelas yang di sodorkan Fatira, Darren malah mengarahkan tangan Fatira kearah bibirnya.
Fatira yang kaget pun langsung menoleh ke arah bossnya dan sialnya ia malah salah fokus ke arah Jakun sang boss yang sedang naik turun menengguk air minum.
'Ya allah seksi banget itu jakun' batin fatira terpesona
' Ehhh Astagfirullah Dasar setan jangan pengaruhi pikiranku yang masih polos dengan kemesuman mu' gerutu Fatira sambil memukul kepalanya sendiri.
Darren yang melihat Fatira memukuli kepalanya sendiri pun, berusaha menghentikan dengan cara memegang tangan Fatira sekaligus modus supaya bisa memegang tangan lembut dengan jari jari yang lentik itu.
" Kamu kenapa mukulin kepala?"
" Oh-Ehh itu pak anu-" Fatira gelagapan.
" Itu anu kenapa?" Darren menatap mata Fatira dengan tatapan menyelidik.
" Itu pak saya tadi kelupaan ini saya lagi berusaha mengingat-ingat sambil mukulin kepala udah jadi kebiasaan soalnya,, Iya itu pak" kilah Fatira beralasan.
'Huftt semoga aja si boss percaya'
' Dasar setan sialan' maki Fatira dalam hati, karena ia tadi sempat tergoda dengan adegan naik turun jakun.
" Lain kali jangan suka mukulin kepala sendiri nggak baik"
" Nanti kalau kenapa-napa bagaimana" lanjut Darren menasehati.
" Oh iya pak " jawab Fatira kikuk.
" Yasudah kamu makan siang dulu sana, jangan sampai telat"
" Baik pak " Fatira langsung membawa nampan yang kosong ke luar.
Belum sempat Fatira beranjak dari tempat duduknya Darren lmemanggilnya lagi.
"Fatira"
"Iya pak?"
" Makasih yaa" ucap Darren di sertai senyum manis tak lupa tangan Darren mengacak-acak rambut Fatira.
"I-iya pak" ucap Fatira langsung berjalan keluar secepat kilat.
' YA ALLAH cobaan apalagi ini yang di usap rambut hamba kenapa yang porak-poranda HATI SAYA' Raung fatira dalam hati.
Fatira mencoba menenangkan jantungnya yang lagi disco ria di dalam dada.
"Kalem jantung kalem " Fatira frustasi karena bukannya berhenti malah mertambag pula debaran di dada.
Sedangkan di dalam ruangan Darren yang melihat tingkah Fatira langsung ngibrit keluar ruangan setelah adegan usap-usapan tadi tak henti-hentinya terkekeh.
"Ya ampun kalo lagi salah tingkah kenapa imut banget sih" gumam darren gemas.
__ADS_1
" Haahhh Sebentar lagi Fatira, sebentar lagi akan ku buat kamu mencintaiku dan kita akan hidup bahagia" lirih Darren menatap langit-langit ruangannya seakan disana ada bayangan Fatira yang sedang tersenyum.