
Pagi ini Fatira bangun jam setengah 4 pagi guna mempersiapkan baju yang ia pakai selama perjalanan bisnis kali ini. Karena ini adalah kali pertama Fatira melakukan pekerjaan di luar kantor dan berlangsung sekitar sepekan ia sempat di buat bingung karena sudah lama ia tak pernah keluar kota semenjak ia menetap di Jakarta.
Kalian pasti bingungkan kenapa Fatira packing bajunya mendadak sebelum berangkat pagi ini?
Jawabannya adalah ia tadi malam pulang sekitar pukul 11 malam karena pekerjaan yang sangat menumpuk dan ia sedari dulu paling pantang pulang sebelum pekerjaannya selesai. Karena kebiasaan itulah dahulu Fatira sering di juluki Miss Perfect oleh teman-teman satu divisinya dulu.
Sekitar 30 menit berkemas, ia telah siap meyelesaikan semua keperluan yang akan ia bawa untuk pergi.
'Huftt semoga aja nggak ada yang ketinggalan'batinnya.
"Mbak Tira mana yang katanya mau di bantuin bawa" tanya Fania.
"Ini ini sama ini" tunjuk Fatira.
"Mbak? Mbak mau pergi kerja apa pindah rumah banyak amat dah" omel adiknya.
"Biasa aja kali namanya juga seminggu mana mbak nggak pernah kerja keluar kota lagi, mana ngerti apa yang mau di bawa" Jawab Fatira.
"Ngapa nggak sekalian bawa lemari biar nggak bingung" Fatira langsung menghela nafas mendengar ucapan adiknya.
Sebenarnya barang bawaan Fatira hanya dua koper beserta Tas punggung satu untuk laptop dan berkas-berkas penting lainnya.
Koper yang besar berisi pakaian kerja dan pakaian harian untuk seminggu, sedangkan koper yang sedang berisi tas, sepatu, underwear, skincare, catok, hairdryer dan kawan-kawan lainnya.
Semua itu tidak berlebihan mengingat lamanya ia berada di luar kota, tapi karena adiknya yang bernama Fania ini termasuk salah satu spesies simpel atau bisa dibilang tomboi yang kesehariannya hanya mengenakan Jeans dan kaos oblong sehari-hari ya menurutnya semua ini terlalu berlebihan.
"Udah gausah banyak komplen,, masih mau nggak tiket konser bebeb kesayangan lu?"
"Wihhh ini ciyuss enelan?" tanya Fania menggunakan mode manja nan imut-imut.
"Hemmmm..." jawab Fatira malas.
"Ya mau dong, sekalian duit jajannya ya Mbak ku yang paling cantik" ucap Fania gelendotan ke tangan Fatira.
"Iya asal jaga ibunya yang bener selama Mbak tinggal"
__ADS_1
"Siaaap!!" ucapnya sambil berjalan mengangkat koper keluar.
...****************...
Saat ini Fatira sedang berada dalam perjalanan menuju bandara bersama Darren dan sopir keluarga Wijaya.
"Bapak sudah sarapan?" tanya Fatira setelah 30 menit mobil berjalan dan di jawab gelengan oleh Darren.
"Mau sambil sarapan?" ulang Fatira kepada Darren yang tengah sibuk dengan berkas-berkas di tangannya.
"Tangan saya lagi sibuk" jawab Darren cuek masih sedikit kesal kepada Fatira karena ia tadi tak di izinkan masuk bahkan hanya sekedar pamit oleh ibunya.
Kenapa tidak memaksa?
Bagaimana Darren mau memaksa kalau baru saja ia sampai di depan rumah Fatira sang sekretaris langsung buru-buru masuk seperti orang kesetanan dan memaksa langsung minta jalan. Mengingat tingkah Fatira yang seakan tak mengijinkan Darren untuk bertegur sapa dengan ibunya membuat Darren diliputi kesal setengah mati.
'Bukan Darren namanya kalau langsung mengalah sebelum berperang liat aja nanti' batin Darren menyeringai.
"Kenapa kamu nggak suapin saya aja"
"Eh tapi Pak-"
Fatira gelagapan mendengar perintah Darren ia melirik ke arah sopir yang terlihat senyum-senyum menahan tawa. Sungguh Ia malu setengah mati kalau harus melakukan suap-menyuap di mobil apalagi ada orang lain selain Dia dan bosnya. Bukan berarti Fatira sangat senang jikalau hanya berdua dengan bosnya ya. Kalau yang di kantor kemarin karena keadaan si Bos benar-benar sangat mengkhawatirkan lah kalau sekarang? Fatira benar-benar tidak tahu kenapa bosnya menjadi sangat menyebalkan pagi hari ini.
'Eh tapi kan setiap hari emang nyebelin suka ngasih kerjaan yang bikin otak gue ngebul seharian' pikirnya.
Fatira hanya mendesah pasrah sambil terus melirik ke arah sopir yang masih senyum-senyum tidak jelas dan kembali melihat ke arah bosnya yang sedang memasang wajah pongah.
Ingin sekali fatira menabok mulut Daren menggunakan satu Tupperware makanannya supaya bosnya bersikap menyebalkan tapi ia tak mempunyai keberanian yang seekstrem itu.
'Iyalah sekretaris mana yang berani se bar-bar itu coba?'
'Udahlah maklumin aja punya bos yang masih setengah Bocil kek gini' batinnya.
'Oke Ra! Ingat lebih merdu suara mesin ATM yang ngeluarin duit daripada omelan si Bos ini sebagian dari job desk lo jadi nggak usah malu semangat!' teriak fatira dalam hati.
__ADS_1
Dengan gerakan tangan yang masih ragu-ragu dan sesekali melirik ke arah sopir ia mencoba membuka kotak bekalnya.
Daren yang melihat keraguan yang terpancar dari wajah fatira karena ulah sopirnya ia pun langsung memberi tatapan maut kepada sang sopir.
'Berani gangguin acara saya, saya nggak akan segan-segan potong gaji bapak bulan ini' ucap Deren tanpa bersuara sungguh sadis sekali.
Sang sopir yang mendapatkan pelototan setajam Samurai dan ancaman dari anak majikannya pun langsung bergidik ngeri tanpa ba bi bu ia langsung diam seribu bahasa tanpa berani melirik ke arah bosnya lagi sungguh ia masih menyayangi nyawa dan uangnya.
"Aaaaa" Darren membuka mulutnya persis seperti bayi yang sedang di suapi ibunya.
"Gue jadi ragu deh lama-lama gue beneran sekretaris apa baby sitter sih sebenernya" gerutu fatira tak bersuara tetapi tangannya masih tetap terampil menyuapi bosnya satu persatu hingga makanan yang ada di Tupperwarenya tandas tak tersisa.
Sesampainya di Bandara Darren menyuruh Fatira untuk melakukan Boarding terlebih dahulu dan langsung di turuti Fatira.
Darren melihat ke arah sang sopir yang masih menurunkan barang ia langsung bergegas mendekati dan berbisik
"Anggap aja Bapak nggak melihat sesuatu hari ini dan jangan melaporkan apapun kepada kakek saya atau saya dengan senang hati mencabut semua beasiswa yang telah Wijaya grup berikan kepada anak bapak' ancamnya.
Sang sopir langsung tegang mendengar ancaman dari anak majikannya.
"Saya anggap diamnya bapak pertanda bahwa Bapak setuju" ucapnya sambil menepuk bahu sang sopir.
"Ba-baik den" ucap sopir dengan suara tercekat.
Darren lalu berlalu sembari mendorong koper kecilnya.
Sang sopir hanya bisa memandang anak majikannya yang pergi menjauh hingga hilang di balik pintu.
'Memang kalo buah itu jatuh pasti tak jauh dari pohonnya arogannya nak Darren sama persis sama papanya sewaktu muda' batin sang sopir sebelum melenggang pergi menuju Mansion keluarga Wijaya.
Kalian bingung nggak?
Kenapa bukan Fatira yang bawa koper Si boss? Entahlah sepertinya Fatira sedang lupa perannya menjadi sekretaris pagi ini namun Darren tak mempermasalahkan dan tentu saja ia tak ingin wanitanya keberatan membawa barangnya.
Tolong dukung terus Author yaaa
__ADS_1
Jujur saya masih belum percaya diri karena baru pertama kali jadi penulis.
Semoga aja cerita ini sampe di hati para pembaca sekalian.