KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG

KEPENTOK CINTA CEO BRONDONG
Bab 29


__ADS_3

Seperti biasa di pagi yang cerah selalu Fatira awali dengan memilih outfit yang sesuai dengan cuaca hari ini, berhubung cuaca di Kota tempat ia bekerja saat ini sedang cerah menuju ke panas panasnya.


Fatira tak mau ambil risiko kegerahan saat bekerja nanti, jadinya di pagi ini ia mengenakan blouse berwarna cream di padupadankan dengan bawahan Mini skirt ala-ala Park Min Young si sekretaris Kim role modelnya.


Setelah mendapat panggilan dari room service ia lalu keluar guna mengantarkan sendiri breakfast untuk Darren, karena ia lupa tadi malam menanyakan menu sarapan apa yang di inginkan oleh Darren pagi ini jadi ia berinisiatif sendiri memilih menu sarapan yang menjurus ke arah tebak jinggo itu dengan menu yang aman untuk lambung orang kaya bin sultan seperti Darren.


Dan karena ia telah menyadari akan sikap kelancangannya malam tadi jadilah ia sendiri yang mengantarkan breakfast ke kamar Darren guna memastikan kalau Darren tak akan memecat dirinya karena kelancangan dirinya semalam syukur-syukur malah naik gaji.


Absurd memang otak Fatira tapi itulah adanya, jika orang lain membuat masalah pasti sudah takut dan pesimis untuk naik gaji atau mungkin mereka sudah berfikiran akan menyebar CV ke perusahaan lain, lain hal dengan Fatira ia malah optimis naik gaji karena sudah lancang dengan Bossnya masalah pecat memecat ia pikir belakangan.


Tok tok tok!


"Pak ini saya Fatira" ucapnya.


Fatira mendengar ada langkah kaki yang mendekat ia pun berinisiatif mundur sebelum terdorong pintu dan berakhir nyungsep kalau itu terjadi bisa dia pastikan jidat glowingnya yang ia rawat selama ini bisa nyungsep kena lantai marmer.


Ceklek!. Suara pintu terbuka


"Iya masuk aja raa" ucap Darren, setelah membuka pintu masih mengenakan bathrobe dan sesekali mengusap rambutnya yang basah.


Fatira meneguk ludahnya kasar gugup melihat penampilan bosnya yang membuat otak perawannya ber-travelling ria.


"Lah saya ikut masuk Pak?" tanyanya sanksi, ia sanksi kalau nanti sudah di dalam ada setan yang berbisik menggoda dirinya untuk menggerayangi para jejeran roti sobek yang terpampang di depan mata-kan bisa berabe! Maklum jomlowati seperti Fatira-kan memang jarang bisa melihat siaran langsung seperti ini.


'Selama ini gue ngeliat-nya cuman oppa-oppa yang ada di Tipi-tipi cuy! Tapi kok deg-deg serr jadi pengen megang ya apa rasanya bakalan seindah bentuknya?'


'Astagfirullah maapkan otak hayati yang sudah ternodai ya allah' teriak batinnya tersadar.


"Iya sekalian saya juga mau minta tolong" modus Darren. Darren yang tahu kalau Fatira sedang gugup dan dengan jahilnya ia mempunyai rencana untuk menggoda Fatira.

__ADS_1


"Minta tolong apa Pak kan tangan Bapak dua-duanya lagi nganggur" celetuknya tanpa takut karena Fatira sudah yakin Darren tak mempermasalahkan sikap lancangnya tadi malam.


'Haruskah gue bersyukur karena si boss nggak marah perkara semalem ditambah di kasih pemandangan roti koyak kek gini?' pikir Fatira.


"Masalahnya tangan saya nggak akan bisa ngelakuin makanya saya butuh bantuan kamu"


'ah gelap-gelap nasib perawan gini amat ya' melasnya dalam hati.


Fatira mau tak mau mengikuti langkah Darren memasuki kamar tempat Darren menginap.


"Jadi hal apa yang bisa saya tolong Pak" tanyanya usai meletakkan makanan di meja. Fatira melihat Darren melangkah menuju lemari dan membuka lemarinya lebar-lebar.


"Pilihin saya baju" perintah Darren, Fatira melongo kemudian berdecak kesal melihat tingkah bosnya.


Melihat ekspresi kesal Fatira, Darren pun tak kehabisan akal ia kembali melontarkan pernyataan untuk memperkuat modusnya.


Fatira memicingkan matanya agak heran mendengar perkataan Darren yang tak masuk akal.


Gimana mau masuk akal? Fatira yang notabene-nya sebagai sahabat dari Dio dan Shella yang keturunan orang kaya pun sedikit banyaknya tau kalau baju-baju orang kaya itu kainnya tak akan sama seperti punya dirinya yang harganya Seratus Ribu dapat Tiga belinya di Tanah Abang, beda sama punya orang kaya yang bahannya kebanyakan berasal dari bulu domba asli dengan designer asli Prancis, yang ibaratnya para baju orang kaya seperti ada Ac di dalam bajunya jadi agak mustahil kalau Darren sampai kegerahan apalagi di ruangan yang ber-Ac, walaupun Ac-nya biasa tapikan tetep aja ruangan ber-Ac yang pasti dingin.


Agak lebay memang penjabaran Fatira, tapi ya sudahlah.


Tak mau lagi mengulur waktu karena waktu sudah mepet Fatira akhirnya memilihkan baju kemeja navy dengan celana abu-abu tua yang sedari awal memang sudah jatuh cinta dengan warna itu ketika Darren membukakan lemari.


"Ini Pak, Nggak usah pake jas cuaca disini panas banget soalnya"


Darren menerima setelannya lalu bergegas ke kamar mandi untuk memakai baju. Tidak mungkinkan Darren ganti baju disitu juga? Bisa menang banyak Fatira.


......................

__ADS_1


Hari ini tepat hari ke empat Darren dan Fatira berada di kota yang di kenal sebagai Bumi Sukowati tersebut. Tak banyak kegiatan yang bisa mereka habiskan diluar jam kerja, karena memang banyaknya pekerjaan yang harus mereka kerjakan dan benahi, sekaligus memecat dan memenjarakan serta memiskinkan beberapa orang yang berani menusuk Wijaya Group dari belakang. Untuk tugas yang satu itu Fatira langsung yang meminta ke Darren supaya ia sendiri yang turun tangan dan Darren dengan senang hati menyetujui tetapi dengan syarat 'harus hati-hati'.


Karena kesibukan yang memang tak bisa di ganggu gugat yang akhirnya membuat Darren tak bisa melakukan aksi PDKT-nya dengan Fatira alhasil setelah tiga hari berturut-turut mereka bekerja lembur tanpa kenal lelah akhirnya hari ini ada jadwal longgar yang hanya terisi untuk survey lokasi proyek pembangunan jalan tol yang baru berjalan kemarin setelah dua bulan mangkrak karena ulah tikus kekurangan pengerat uang.


"Kamu pake setelan itu" tanya Darren ketika berjumpa dengan Fatira di depan kamar hotel.


"Iya Pak, emang salah ya" ucap Fatira sambil meneliti pakaiannya.


Darren terheran-heran melihat Fatira tidak konek seperti hari-hari biasa, yang biasanya kecepatan koneksi Fatira sekitar 40 Mbps sekarang langsung menurun drastis menjadi 6,7 Mbps jauh sekali bukan, hal itulah yang membuat Darren terheran-heran.


"Kamu mau lihat proyek dimana pake setelan kayak gitu? di Dubai?" tanya Darren menahan tawa.


"Hah- maksudnya Pak?" Fatira bingung.


"Kalo kamu pakai High heels terus rok kayak gitu kamu yakin bisa jalan di proyek yg notabene-nya persawahan? Kecuali kalau memang kamu udah ada Planning sendiri mau nyemplung ke persawahan" jelas Darren terkekeh geli membayangkan ekspresi Fatira nyemplung ke sawah.


Fatira lalu menepuk keningnya kesal dengan otaknya yang tak mengingat baik-baik agenda hari ini.


'Bisa-bisanya gue lupa agenda hari ini, jatuh sudah martabat gue sebagai sekertaris paling handal di depan Boss' omel Fatira kepada dirinya sendiri.


"Yaudah,, Bapak duluan aja ke loby saya mau ganti baju sama sepatu dulu Lima menit dari sekarang"


"Ehh gausah ganti baju, nanti disana biar kamu saya gendong aja biar kalau nyemplung sawah kita bareng-bareng" ucap Darren tertawa, tawa yang sangat jarang ia tunjukan ke publik maupun keluarganya.


Fatira mendelikan matanya mendengar lelucon Darren yang jelas-jelas menggoda ke arah dirinya.


Ia langsung berbalik ke arah pintu hotelnya sembari misuh-misuh kepada Boss-nya yang sialnya tawanya membuat hatinya saat ini menghangat.


"Dasar Boss B*ngke" umpatnya pelan, bukan berasal dari lubuk hatinya.

__ADS_1


__ADS_2