
Pagi ini Mood Darren lebih bagus dari pada kemarin. Kemarin setelah ia pusing akibat masalah Pak Wira yang membuatnya pusing tujuh keliling serta masalah-masalah mengenai proyek yang mengalami kendala dan langsung dibuat senyum lagi oleh sekretaris sekaligus Pujaan hatinya.
Pagi ini Darren datang dengan senyum cerah secerah pelangi sampai menyilaukan mata Sang sopir.
Ia tadi pagi-pagi buta sudah sibuk menelfon papanya hanya untuk meminjam sopir keluarga yang sudah lama mengabdi di keluarga Wijaya.
Darren tak begitu peduli dengan gerutuan serta misuh-misuh papanya karena telah mengganggu acara serangan pagi yang biasanya papa dan bundanya lakukan.
Bagaimana tidak misuh-misuh?
Darren dengan sejuta kegilaan-nya menelfon papanya pada jam 3 dini hari hanya untuk meminta sopir pribadi, di jam segitu kalian pasti taukan apa yang dilakukan pasangan suami istri ?
Nah iya itu !
Padahal kalau bisa berfikir realistis Darren bisa saja menelfon kepala pelayan yang siap sedia 24 jam nonstop untuk melayani keluarga Wijaya.
Ingin sekali papanya mengutuknya menjadi batu seperti Malin Kundang tetapi Papa-nya masih sadar dan waras karena anak lelakinya hanya Darren satu-satunya penerus keluarga Wijaya selanjutnya, karena 2 Adiknya Darren semuanya Perempuan yang sudah di pastikan tak bisa meneruskan usaha keluarga karena dua-duanya sudah memilih tujuan hidup masing-masing.
Sopirnya yang awalnya mengantuk langsung segar karena mendapat pancaran silauan mata dari Tuan Mudanya, melihat Mood Tuan Mudanya sedang cerah membuat sang sopir tak ingin membuat kesalahan sedikitpun karena sangat jarang sekali Tuan Mudanya bisa tersenyum semenjak kejadian perginya Mantan Nyonya keluarga Wijaya karena keserakahan sang Mantan Nyonya tersebut.
...****************...
Sesampainya di Kantor Wijaya Group jam sudah menunjukan 07.05 pagi, senyum Darren yang sudah di Setting dari Apartemen langsung luntur seketika saat melihat sekretaris sekaligus Pujaan hatinya sedang bercengkrama ria dengan seorang lelaki yang jikalau dilihat dari belakang postur tubuhnya tak kalah macho dari Darren.
Darren sendiri jadi ingat kata-kata Fatira tempo hari yang lalu.
'Menurut saya definisi ganteng itu berbeda-beda ya pak, Kalau menurut saya sih orang ganteng itu yang baik perilakunya, macho dan sedikit misterius'.
Saat Fatira mengatakan Definisi pria ganteng, Darren kala itu melihat betapa bahagianya raut wajah fatira mengatakan definisi ganteng atau mungkin juga lelaki idamannya dengan tatapan mata yang sangat berbinar-binar.
Setelah mengingat itu semua Darren langsung mengetatkan rahangnya apalagi saat ia melihat tangan lelaki itu merengkuh pinggang mungil fatira serta tangannya sesekali mengacak-ngacak rambut fatira. Mata Darren langsung memerah menahan amarah yang menggebu-gebu.
__ADS_1
Ingin sekali Darren datang dan melepas rangkulan tangan lelaki itu dari tubuh Fatira, tapi ia langsung ingat untuk tak bergerak secara gegabah mengingat saat ini ia hanya atasan di kantor ini bukan pemilik hati ataupun pacar Fatira.
Sadar akan posisinya saat ini dalam hidup Fatira lagi-lagi membuat Emosi Darren memuncak sambil mengepalkan tangannya erat ia mencoba menahan diri untuk tidak menonjok wajah lelaki yang sudah seenak jidatnya memeluk dan menyentuh Fatiranya.
Iya Fatiranya!
Saat ini juga Darren sudah mengklaim Fatira adalah miliknya.
'Gue gak mau tau dia udah punya pacar ato belum mulai detik ini dia harus jadi milik gue!'batinya.
Brakk!!!
Darren menutup pintu mobilnya dengan sangat kencang sampai membuat sopirnya berjingkat kaget. Dengan menggunakan seribu langkah dan seribu bayangan ia sudah sampai di belakang Fatira dan Dio.
Ya Dio! Lelaki yang sedari tadi bercanda ria dengan Fatira yaitu Dio. Silelaki lemah gemulai teman akrab Fatira. Memang jika di lihat dari luar Dio tampak seperti lelaki tulen bertulang keras pada umumnya, tetapi jika sudah kenal dekat dengannya ia tak segan-segan akan mengeluarkan Khodam reognya.
'Segitu senangnya kamu bareng sama dia sampai kedatangan ku aja kamu nggak sadar' gerutu Darren dalam hati. Tak tahan lagi dengan adegan di depan matanya akhirnya ia berdehem keras supaya mereka sadar.
"Ehemm" Darren berdehem.
"Selamat pagi pak" sapa Fatira sedikit membungkukkan Badan.
"Pagi" balas singkat Darren, walaupun saat ini Darren masih marah dengan kejadian sentuh-menyentuh tadi, tapi Darren masih mau membalas sapaan Fatira walaupun hanya secara singkat bahkan terdengar sedikit ketus.
"Saya tunggu kamu di ruangan" perintah Darren kepada Fatira. Tak lupa menatap tajam tangan Dio yang bertengger di pundak Fatira.
Fatira yang mendengar perintah dengan nada ketus dari atasannya pun hanya bisa mengangguk.
" Wuahh si Boss kalo di liat dari deket gantengnya nggak ada obat ya Ra" heboh Dio.
" Ck..ck.. Biasa aja kali" balas Fatira dengan nada datar.
__ADS_1
" Fiksss.. Lu pulang dari ngantor wajib banget periksa mata deh, sapa tau lu minus plus silinder makanya gak bisa bedain yang mana ganteng yang mana burem" gemas Dio.
" Lu nggak usah ngadi-ngadi jadi orang, mata gue masih normal senormal-normalnya tau nggak lu" ujar Fatira memukul lengan Dio.
" Normal kata lo? Punya atasan seganteng itu bisa-bisanya lo bilang biasa aja? Coba lo jembreng mata lo lebar-lebar ya Fatira Ayunda lo tuh sekarang punya atasan yang sekelas wajahnya ama Song kang malahan yang ini tuh bisa di bilang KW Duanya yang lebih melokal. Kayak gitu lo bilang biasa ajahhh? astaga kayaknya gue harus banget ini panggil ustadz kemari ntar" cerocos Dio.
" Terus kalo gue punya atasan ganteng emang kenapa? Gue disini kerja nyari duit bukan kayak elo kerja cuman cari santapan mata doang!" cibir Fatira.
" Ya setidaknya lo kan-" belum sempat Dio melanjutkan ucapanya tetapi langsung di potong oleh Fatira.
" Lagian nih ya gue kasih tau lagi.. Ganteng doang gak bakalan bikin hati gue senang dan perut gue kenyang, noh lu liat Boss yang lu bilang ganteng tiap hari ngasih kerjaan se abrek sama gue" tunjuk Fatira memperlihatkan Tasnya.
" Dah lah gue cabut dulu, gue udah di tungguin lu liat kan Si Boss lagi mode singa tadi"
" Tapi lo nanti makan siang barengkan kita harus ngrumpi masalah Pak Wira nanti" ujar Dio sembari membuntuti langkah Fatira.
" Nggak janji tapi gue usahain, liat aja ntar moodnya Si Boss"
" Oke pokoknya gue tunggu, Semangat kerja bestie" teriak Dio karena Fatira sudah melipir ke arah lift yang di khususkan para eksekutif berhubung Fatira bekerja sebagai sekretaris yang berarti salah satu orang Darren ia di beri akses menggunakan lift tersebut supaya tak berdesak-desakkan dengan karyawan lain di saat genting seperti ini.
"Kok gue tadi Feeling Pak Darren nggak suka sama gue ya" gumam Dio sambil berjalan memasuki lift bergabung dengan karyawan lain.
" Apa Outfit gue ada yang salah?" tanyanya lagi pada diri sendiri.
" Tapi tatapannya kayak nggak suka gitu ke gue apalagi pas tangan gue megang pundak- "
" Astaga Naga Fatira lo bodoh banget sih bestieeeee" histeris Dio dan langsung mendapatkan tatapan mengerikan dari karyawan lain yang terganggu oleh suara melengkingnya.
" Hehe sorry sorry gaess gue lagi dapet jackpot soalnya" cengir Dio.
" Heran punya bestie kok bodoh bin oon banget sih, nggak ngerti kode banget jadi anak" Batin Dio geregetan.
__ADS_1
" Emang dia nggak ngerasa deg-deg Serrr gitu kalo bareng ama Si Boss"
" Gue yakin banget dugaan gue ini Seratus persen akurat, Liat aja ntar" gumam Dio tersenyum Smirk.